[FF Freelance] Rock To Diamond (Chapter 1)

RTD-new

Judul     : Rock-To-Diamond

Author  : salicelee

Rating   : Teen

Length  : Chaptered

Genre   : AU, Romance, Friendship, School-Life, Family

Main Cast :

–          Lee Jieun/IU

–          Kim Taeyeon of SNSD

–          Kim Myungsoo of INFINITE

–          Cho Kyuhyun of Super Junior

–          Kangjun of C-Clown

Support Cast :

–          Lee Donghae of Super Junior

–          Im Yoona of SNSD as Lee Yoona

–          Lee Sungyeol of INFINITE

Previous: Prolog,

Disclaimer :

I, salicelee, 100% own this fiction’s plot. Please don’t plagiarize it. Thanks for the admin[s] who has[ve] posted this. Have been posted in my blog: http://leehaeyeonff.wordpress.com/ and IFK: http://indofanfictkpop.wordpress.com/ before

Please enjoy! O u O

 

 

 

 

R O C K – T O – D I A M O N D

VOLUME—1

 

Betis gemuk.

Paha lembek penuh lemak dan besar.

Perut buncit dengan anak-anak lipatannya.

Wajah sedikit berminyak dan bau badan yang tak karuan.

Hidung pesek dan pipi tembam.

Rambut lepek dan bercabang.

 

Kira-kira seperti itulah aku yang dulu. Dulu? Iya dulu. Dulu sebelum bertemu dengan Taeyeon eonni. Dia yang mengajarkanku cara berdiet dan berdandan. Kalian bayangkan 4 bulan aku turun 42 kg. Diet bersama Taeyeon eonni benar-benar menyiksa dan berat. Apa yang terus ku lakukan? Makan sedikit. Kerja terus dan bahkan si Taeyeon eonni gila itu sengaja membuatku stress dan depresi supaya berat badanku cepat turun. Dan nyatanya memang seperti itu. 1 minggu aku depresi, langsung turun 8 kg. Ide gila Taeyeon eonni memang hebat. Aku akui itu.

Musim semi bulan Mei. Okay this is my senior high school. My new school. Hongchae.

Aku sudah membuang jauh-jauh kenangan di masa SMPku, SMP Chanso. Kenangan menyedihkan sekaligus memalukan sebagai ‘gadis babi’ bernama Lee Jieun. Kini saatnya aku mulai hidup sebagai Lee Jieun yang baru! Bertemu dengan teman-teman baru dan pacar pertamaku pastinya. Huwaah.. Entah seperti apa rupanya nanti, yang pasti ia haruslah tampan, memiliki senyum ramah dan seperti Lee Donghae! Aktor baik hati yang terkenal, selalu memainkan peran protagonis yang keren dan aku kagumi. DanOuch! Sebuah telapak tangan melayang di keningku.

Ya! Kau berkhayal lagi!” ujar Taeyeon eonni sambil berkacak pinggang. Sedangkan aku mengusap dahiku perlahan. Tidak sakit sih… hanya saja, aku kaget.

“Ah—“

“Hei, entah apa yang kau pikirkan, sana cepat masuk kelas! Katanya tidak sabar melihat reaksi orang-orang?” Taeyeon eonni menunjuk ruang kelasku dengan dagunya. Aku mengangguk semangat dan memeluknya.

Eonni..” ucapku manja.

Dia melirik kelasku dan kembali menunjuk dengan dagunya. “Apa lagi? Sudah cepat masuk!” katanya sambil menepuk bahuku.

Saranghae..” godaku. Taeyeon eonni langsung memasang tampang jijik yang dibuat dan mengangguk cepat. “Yah yah… nado nado..” jawabnya agak malas.

Aku langsung berlari ke kelas dan duduk disalah satu kursi kosong yang ada didalam kelas. Aku menggaruk tengkukku sambil memperhatikan orang-orang disekitarku. Tiba-tiba seorang anak perempuan berambut lurus dan panjang didepanku datang sambil memukul meja sontak membuatku sedikit kaget.

“K-kenapa…?” tanyaku agak takut-takut.

“Uhmm, kau lucu kenapa bertanya kenapa?”

“Hah?” aku sedikit ternganga.

“Eish kau ini, cantik cantik buka mulut lebar-lebar…” ujarnya. Wow, ini pertama kalinya aku dibilang cantik. Biasanya anak kelasku… “lalat masuk tuh, mulut bau berwajah babi…” Gila. SMPku yang lama benar-benar tidak realistis. Bagaimana mungkin mereka berani memperlakukanku seperti itu. Tapi itulah kenyataannya.

“Yaah.. kau malah bengong… Aku Jiyeon..” katanya sambil melambai-lambaikan tangannya tepat di depan wajahku.

“O-o…oh.. Hai Jiyeon…” jawabku seadanya. Aku tidak memiliki teman sejak 4SD. Aku tidak begitu mengerti bagaimana cara menyapa orang.

“Kau kaku sekali….” Katanya sambil memiringkan kepalanya. “Sebutkan kembali namamu.. dasar aneh..” kata Jiyeon tersenyum kecil.

“Namaku?” aku bertanya agak bingung dan menepuk dahiku. “Ah iya benar, maafkan aku memang aneh…”

“Tuh kan kau lucu” Jiyeon tertawa lepas dan melihat bukuku. “Oeum… Lee Ji..eun?”

“Iya, aku Jieun… annyeong…”

**

Ya, Myungsoo.. Ku dengar kau keluar dari Chanso? Kenapa tidak sekolah disana lagi?” tanya Sungyeol pada Myungsoo.

“Kau sendiri saja tidak sekolah di Chanso..” jawab Myungsoo menatap Sungyeol dengan pandangan aneh.

“Errr, yaah… Woohyun kan tetap di Chanso,” balas Sungyeol.

“Lalu?”

“Harrgghh, kau ini..” Sungyeol mendesah kesal. Kemudian keduanya berjalan beriringan dengan suasana hening.

“Hei, Sungyeol..” panggil Myungsoo pelan. Sungyeol menoleh ke arah Myungsoo.

“Kenapa kau ingin berteman denganku?” tanya Myungsoo.

“Eh? Kenapa tiba-tiba menanyakan hal aneh seperti itu..”  Sungyeol memandang Myungsoo dengan bingung. Myungsoo menggeleng pelan.

“Jawab. Cepat.”

“Hmm, aku tidak tahu, aku tidak punya alasan untuk itu, aku suka padamu. Itu saja,”

“Ish… Kau homo…” ujar Myungsoo sambil berlari meninggalkan Sungyeol.

“YAH!! Enak saja kau!!! Bukan itu maksudku, woi!! Eishh kau!! KIM MYUNGSOO!! Kalau malu-malu begitu nggak usah lari dong!!” teriak Sungyeol sambil berlari mengejar Myungsoo.

“Siapa yang malu!!” teriak Myungsoo berlarian di koridor sekolah barunya sambil menoleh kebelakang.

“Woi woi Myungsoo! Berhenti! Ada orang di depan!!” teriak Sungyeol dan… bruakh.. Sepertinya peringatan yang diberikan Sungyeol terlambat datangnya.

**

“Haaahh… WC mana WC…. Aduh aku bodoh sekali, bukannya minta ditemani Jiyeon tadi atau siapapun..” gumamku.

Aku melihat sekeliling koridor dari kiri kanan sampai atap koridor sekolah. Tidak ada tanda petunjuk menuju toilet. Aku berjalan belok menuju koridor yang agak berisik sembari mencari petunjuk menuju toilet. Kenapa semua pintu disini sama semu–bruakh..

Seseorang menabrakku lagi, sepertinya dimana-mana aku selalu ditabrak….

“Oh, Kim Myungsoo!! Waahh kau ini…. Aduh maaf ya maaf.. dia memang seperti anak kecil suka be—AUCH!! Hei, kenapa aku dipukul….“ ujar pria jangkung bernametag Lee Sungyeol. Sungyeol mengelus kepalanya sambil menatap temannya dengan kesal.

Sungyeol?! Kenapa dia ada di sini? Dan..

Apa? Kim Myungsoo? Ah tidak mungkin si evil guy itu. Anak laki-laki yang berseragam sama denganku bangun sambil membersihkan celananya. Aku tidak dapat melihat wajahnya. Gila semoga saja bukan si Myungsoo tukang bully nan gila itu.

Sampai akhirnya dia mengangkat wajahnya dan…. Jeng jeng, matilah aku. Dia Kim Myungsoo si gila itu. Si tukang bully tanpa perasaan.

“Ah umm… ah… Maaf…Maaf….” Ucapku terus menunduk. Kulihat Sungyeol kebingungan melihatku. Jangan sampai si Myungsoo mengenaliku.

“Siapa namamu?” tanya Myungsoo dengan tatapan menyelidik. Ini jelas bukan mengajak kenalan. Tatapan yang sama ketika menatap aku yang dulu. Tapi, kali ini sangatlah dingin. Maksudku, dia memang dingin, tapi kali ini benar-benar dingin.

“Lee….Lee…Ji—“

“Lee ji apa?” potongnya dengan suara yang agak kencang.

“Myungsoo! Kau gila! Kau yang menabraknya kenapa kau memarahinya…” Sungyeol menepuk pundak Myungsoo agak kencang. Myungsoo menggerakkan bahunya dengan maksud agar tangan Sungyeol menyingkir dari pundaknya.

“Kutanya satu kali lagi. Siapa namamu..”

“Ah.. um…” aku bingung harus menjawab apa, apa aku harus bohong? Tapi nanti jika ketahuan malah dia curiga kan? Apa aku jujur saja? Lee jieun? Ah nama Lee Jieun kan banyak.. tak mungkin dia tahu aku ini Jieun yang dulu.

“Lee Jieun?” tanyanya.

Heck! Jangan bilang kalau ia mengenaliku!! Kenapa bisa menebak namaku? Bisa saja Lee Jiyoung, Lee Jiae, atau apapun itu kenapa Jieun!!!!???

Aku memiringkan kepala dan mengangguk ragu.

Tsk, jawab saja susah..” ia berjalan meninggalkanku. Sungyeol tidak mengikutinya dan membantuku berdiri.

“Maafkan dia, sepertinya dia sedang tidak dalam mood yang baik. Maaf ya.” Ucap Sungyeol sambil membersihkan rok depanku.

“Tidak usah, aku bisa membersihkannya sendiri kok, terimakasih, ya. Tidak apa-apa, jangan dipikirkan.. aku sudah biasa melihatnya begitu..” kataku cepat.

“Apa? Sudah biasa? Melihatnya? Begitu…?” tanya Sungyeol dengan nada aneh.

“Ah, maksudku, aku sudah biasa melihat orang yang begitu…” elakku cepat. Sungyeol hanya manggut-manggut dan pergi meninggalkanku mengejar Myungsoo yang meneriakinya.

Ya Tuhan…. Kenapa kau buat aku satu sekolah dengan Kim Myungsoo!!!? Pikirku hampir berteriak. Oh… Aku lupa kalau tadi aku kebelet…. TOILET MANA?!?!

**

“Kenapa kau bisa menebaknya Lee Jieun? Kau ingat si Jieun Chanso ya?” tanya Sungyeol.

“Iya..” Myungsoo menjawab sambil menerawang. Myungsoo sendiri tidak mengerti kenapa ia menyebutkan nama itu secara spontan. Jelas-jelas gadis itu sangat jauh dengan Jieun dari Chanso.

“Sepertinya, kau selalu ingat dengan si Jieun itu..”

“Sembarangan!” dengus Myungsoo. Ia menghela nafas, “Tapi, reaksinya tadi mirip sekali dengan Jieun yang sedang ketakutan kan?” sambungnya.

“Kurasa semua orang akan bereaksi seperti itu jika melihat wajah bengismu..”

“Terserah apa katamu, aku ini tidak bengis.”

“Kau gila Myung!! Baru masuk sekolah aja sudah begitu dengan anak baru..” ujar Sungyeol pada Myungsoo yang hanya mengangguk-angguk pelan. “Baiklah aku minta maaf. Terima kasih sudah menyampaikan maafku untuknya.” Kata Myungsoo.

“Myung, mungkin maksudmu aku menggantikanmu meminta maaf padanya. Setahuku kau tidak menitipkan permintaan maaf kepadanya…”

“Aku meminta maaf dalam hati.” Ucap Myungsoo asal.

“Manusia aneh….”

“Apa kau bilang?”

“Tidak, tidak. Aku hanya bilang kau itu manusia aneh.. Eh…..” ujar Sungyeol yang baru saja sadar bahwa ia kelepasan bicara. Myungsoo mendengus kesal.

“Cari kelas yuk, dimana kelas kita…” kata Sungyeol mengalihkan pembicaraan. Myungsoo mengangguk mengikuti Sungyeol. “Ah mungkin disana?” Sungyeol sembarangan masuk tanpa melihat petunjuk yang ada di atas ruangan itu

“Oi, yeol itu—“  “AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!”

“toilet….wa…ni…ta……” sambung Myungsoo sendiri ketika mendengar jeritan perempuan dari dalam toilet.

“SEKOLAH INI GILA! BAGAIMANA MUNGKIN PINTU KELAS DAN WC SAMA!!!!!!” teriak sungyeol frustasi dengan wajah memerah.

“Apa yang kau lihat?” tanya Myungsoo.

“APANYA YANG KULIHAT?! YA NGGAK ADA LAH!!!”

Myungsoo tertawa memandang Sungyeol yang malu berat.

“Bayangkan saja Myung kalau misalnya besok wajahku terpampang di Mading…dengan tag ‘pengintip’.. Tsk…”

“Tidak akan, kau jangan berlebihan, deh. Ayo cari kelas…” ujar Myungsoo berbalik badan dan mendapatkan Jieun yang juga kaget.

“Ngapain kau disini?” tanya Myungsoo.

“Aku, aku… ini kan toilet perempuan….” tanya Jieun bingung.

“Uhhm, ah… uhm… kami hanya lewat!” ujar Sungyeol berlangsung pergi menarik Myungsoo yang melirik Jieun diam-diam. Jieun hanya menatap mereka dengan tatapan aneh dan langsung masuk ke dalam toilet.

“Myung… kamu terus memperhatikan dia…” kata Sungyeol duduk di lantai sambil bersender di dinding sekolah. “Su…ka?” tanya Sungyeol takut-takut.

“Tidak.. hanya saja, dia mirip dengan…”

“Jieun dari Chanso?” Myungsoo mengangguk. “Kau suka Jieun Hongchae atau Jieun Chanso?” tambah Sungyeol.

“Yeol.. tolonglah, kau jangan yang aneh, aneh. Masa aku suka sama si babi itu, dan apa? Jieun Hongchae? Yang benar saja, kenal aja tidak.. tapi sikapnya memang benar-benar mirip Jieun Chanso. Apa mereka orang yang sama, ya?”

“Yaah.. bisa saja, kau hanya banyak bicara jika kubawa hal mengenai Jieun Chanso kan? Hahaha. Akui itu. Yah, aku juga merasa begitu, sih. Tapi coba kau pikir mereka sangat jauh berbeda. Jieun Chanso kan..uhm, yah kau tahu sendiri. Lalu… Jieun Hongchae, Jieun yang manis..” kata Sungyeol sambil tersenyum, sesekali.

“Tidak mungkin, bodoh. Aku benci Jieun Chanso, makanya aku membullynya. Tak mungkin aku membully orang yang kusukai, ya kan? Gunakan logikamu. Aku sangat benci Jieun Chanso.. dan aku tak peduli siapapun yang cantik atau manis, bukan urusanku..”

Sungyeol hanya mengangguk. “Yah, itu memang sifatmu… Kau tidak kasihan ya setiap kali membullynya? Aku saja kadang tidak tega…”

“Dia yang jahat padaku…” ujar Myungsoo menatap langit-langit sekolah.

“Kau gila, Myung… dia saja tidak pernah macam-macam padamu..” kata Sungyeol sambil merangkul Myungsoo yang menggeleng perlahan.

Mereka berdua terdiam, terlarut dalam pikiran masing-masing. Lalu sebuah suara membangunkan mereka dari lamunan. “Tidak ke kelas, m—?“ tanya Jieun yang hampir kelepasan menyebutkan nama Myungsoo. “Tidak ke kelas?” ulang Jieun.

“Kami tidak tahu dimana letak kelas B.” jawab Sungyeol sambil berdiri sambil menggaruk tengguknya.

“Oh? Kalian kelas B juga, ya?” tanya Jieun agak kaget. “S-sini.. aku tahu tempatnya…”

Mereka bertigapun berjalan menuju kelas 10-B dipandu oleh Jieun yang agak takut dan mungkin risih dengan Myungsoo yang terus memandangnya dengan pandangan menusuk.

**

Kantin Hongchae

“Jiyeon-a? tidak makan sayurnya?” tanyaku sambil memperhatikan Jiyeon yang sedang menikmati Ramyeon cuminya.

“Aku tidak suka, oh ya Jieun-ah! Kenalkan sahabatku sejak SMP! Yoo! Ji! Ae!” kata Jiyeon heboh sambil tersenyum lebar.

“Kau selalu bersikap berlebihan, yeonnie..” kata Jiae sambil melirik Jiyeon sekilas lalu tersenyum padaku. Jiyeon hanya menanggapi Jiae dengan cekikikkan kecil.

Aku mengalihkan pandangan mencari Myungsoo dan Sungyeol di sekitar mejaku. Nihil. Aku tidak menemukan mereka.

“Oh, ya! Kau tahu siswa baru yang tadi? Lim Byungsoo?” tanya Jiyeon.

“Kim Myungsoo, bodoh…” ralat Jiae.

“Kau selalu mengataiku bodoh….” ujar Jiyeon sambil mencibir dan membuat ekspresi imut. Aku tertawa kecil karena belum begitu akrab dengan mereka aku tidak begitu berani ikut-ikutan ‘nimbrung’.

“Kenapa dengan Myungsoo?” tanya Jiae.

“Dia tampan! Iya, kan?!” tanya Jiyeon sambil menunjuk-nunjuk Jiae dan aku secara bergantian.

“Yah.. bolehlah..” Jiae mengangguk-angguk sambil menggigit roti coklatnya.

“Ya kan Jieun?” tanya Jiyeon sambil menyenggolku dan tersenyum lebar.

“Uhm.. iya.. kau suka padanya?”

“Sepertinya iya.. dia terlihat keren kan?! Mirip peran utama di komik-komik.. aduh aku suka sekali..” Jiyeon tersenyum-senyum sendiri sampai tangan Jiae menepuk kepalanya dengan pelan dan senyum itu berganti dengan ocehan.

“Jiae-ya! Kau menganggu imajinasiku!!”

“Siapa suruh kau tidak bersikap realistis..”

Aku terkekeh kecil, memang begini ya adanya sahabat. Tidak seperti di cerita-cerita bahwa sahabat selalu bersikap baik. Justru memang sahabat tahu sisi terburuk kita dan kadang memperlakukan kita dengan konyol.

“Eh, Jieun kau berasal dari SMP mana?” tanya Jiae.

“Aku dari..”

Aku terdiam sesaat. Matilah.. aku harus menjawab apa.. Mengaku dari Chanso? Atau.. uhm.. kalau bohong juga endingnya bakal ketahuan. Tapi, jika jujur sekarang.. apa mereka akan menerima masa laluku? Dan.. bagaimana jika Evil Guy itu mengetahui bahwa aku korban bulanannya?! Kenapa aku bisa satu sekolah dengan dia lagi sih..

“Jieun?” panggil Jiae.

“A..aku dari SMP..”

Tap.

Seseorang menepuk pundakku, “Chanso ya?” tanya orang tersebut.

Aku berbalik belakang dan mendapati Myungsoo dan Sungyeol sedang berdiri di belakangku. Damn man. Aku terkejut, “B-bukan! Dari Hwamok kok!” kataku spontan.

Aduh, aku berbohong….

Bagaimana ini, di data siswa kan juga tertulis dari Chanso..

“Oh Jieunnie kau dari Hwamok?! Wah.. itu sekolah elit kan?” tanya Jiyeon sambil tersenyum lagi.

“Oh, kau dari Hwamok ya..” Myungsoo berjalan menjauhi meja kami.

Aku hanya tersenyum canggung menghadapi Jiyeon. Aku bingung. Aku sudah berbohong mengenai hal yang sangat mudah ketahuan.

Harus bagaimana..

 

* * *

T O   B E   C O N T I N U E

Check here!

And DROP COMMENT after reading ^^

http://leehaeyeonff.wordpress.com/

 

Advertisements

3 thoughts on “[FF Freelance] Rock To Diamond (Chapter 1)

  1. Coment prolog + chapter 1 aku gabung disini ne…. Kerennnn… Taeyeon hebat bisa buat jieun diet dg drastis.dilanjut dong smoga disini ada moment kyutae nya… Hehhehe karena aku kyutae shipper.lanjut dong

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s