Duet With The Northern Sky

29809478_640 (1)

by

Junghaha

Main cast(s): AOA Seolhyun & VIXX Sanghyuk || Genre: fluff || Duration: Vignette || Rate: Teen.

“I see a candle, it’s in my window. I’m gonna show you, I’ll see you soon…”

 

.

.

.

.

November, 2012.

 

“Perth?”

Seolhyun menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Ya.”

“Tetapi kenapa? Tidak bisakah tetap tinggal disini?”

“Pastikan aku terlebih dahulu.”

“Akan?”

Mata keduanya bersirobok ditengah-tengah temaram lampu taman, sementara beberapa bintang yang tengah berkedip-kedip seadanya memperhatikan mereka dengan harap-harap cemas. Sanghyuk menghela napasnya begitu Seolhyun memutuskan untuk kembali menunduk, melerai kontak mata yang dahulu biasa mereka lakukan sembari bersenandung lagu-lagu—klasik. Klise. Sanghyuk tahu betul, tetapi kini dia sungguh membutuhkan kenangan itu kembali, membawa Seolhyun yang dulu untuk tetap berada di sisinya sepanjang waktu, tidak dengan Seolhyun di hadapannya sekarang yang terlihat biru dan putus asa.

“Bawakan padaku Silene Tomentosa.”

Sanghyuk menjengitkan alis, tadi itu Seolhyun yang unjuk bicara.

“Mereka sudah dinyatakan punah pada tahun 1994, Kim Seolhyun.”

“Aku tidak peduli,” lanjut Seolhyun. “Aku menginginkannya.”

“Tapi—“

“Dan… boneka jahe cokelatku yang hilang…”

“Ken sudah meneguknya bulat-bulat.”

“Ken baru berusia satu tahun kala itu!”

“Seolhyun, Ken itu anjing!”

Seolhyun cepat-cepat menampik telapak tangan Sanghyuk selepas perdebatan singkat tadi, lantas mengimbuhkan, “Kalau begitu, tidak ada alasan bagiku untuk tetap disini.”

“Tidak, Seolhyun, Astaga,” Sanghyuk mengangkat kedua tangannya, menatap Seolhyun tepat di mata. “Oke, oke, aku akan mendengarkan,” Sanghyuk melanjutkan. “Bagaimana dengan permintaan terakhir?”

“Pesawat surat.”

“Milikku?”

“Ya, yang tersangkut di atas pohon.”

“Seolhyun-a…”

Seolhyun mendengus keras. “Ini kau yang sebenarnya, Han Sanghyuk.”

“Tidak, Seolhyun, dengarkan aku.”

“Kau tidak ingin, kau tidak ingin dan aku selalu mengetahuinya, aku sudah mengetahuinya—“

Sanghyuk, dengan keberanian sekerdil kecambah jambu, lekas menarik Seolhyun kedalam sebuah pelukan, membuatnya bungkam, kemudian memejamkan mata dan berbisik, “Jangan pergi.”

“Apa ini tidak cukup jelas?” Seolhyun kembali membiarkan senyap mengambil alih sejenak. Diperkuatnya dengan kongkrit hingga tak satupun gumpalan air tersebut dapat menyembul ke luar pelupuk mata; kau benar-benar sukses, Kim Seolhyun. Emosinya sangat terkendali hingga guratan-guratan kesedihan itu bahkan terlihat samar dan nyaris tenggelam.

“Kau selalu menahanku untuk tidak pergi, sementara kau sendiri yang tidak memiliki tujuan pasti untuk membuatku tetap berada bersamamu.”

Sanghyuk menelan segala frasa yang berada di ujung lidahnya—merasa sangat terisolasi begitu Seolhyun meregangkan pelukan lantas kembali menatapnya terang-terangan, membuat lampu-lampu taman kota kala itu berubah menjadi padam total dan segalanya seketika saja berubah menjadi kelabu. Tidak jelas. Buram. Sama halnya dengan perasaan Sanghyuk kini yang sedang terombang-ambing di samudera antah berantah.

Tersesat.

“Aku pergi.” Seolhyun memutar kursi rodanya kemudian melambaikan tangan tanpa berbalik, “Aku berharap bisa bertemu denganmu kembali…”

Lalu pecah.

Seolhyun menangis sejadi-jadinya.

.

.

.

I see a candle

 it’s in my window

I’m gonna show you

 I’ll see you soon

Our sun

Will shine

In the northern sky

And our moon

Will rise

In the candlelight

.

.

November, 2013.

Lepas pagi ketika Seolhyun baru saja membungkuk ke arah kulkas untuk melakukan terapi mata sehatnya, pintu rumah terketuk sebanyak tiga kali jika gadis itu tidak salah menghitung. Kedua orangtuanya baru saja pergi ke distrik sebelah untuk belanja keperluan rutin, menyisakan adik laki-laki Seolhyun yang masih terlelap dan anjing jantannya —Ken—yang berusia tiga tahun dan lamban. Awalnya dia menerka jika yang berada di seberang sana adalah sang ayah dan ibu, dan kadang pula, yang dia terka—setiap kali pintu terketuk—adalah Han Sanghyuk, meskipun setelahnya Seolhyun cepat-cepat menggelengkan kepala, dan menghapus segala kenangan yang tiba-tiba saja melongok keluar dari jendela-jendela di otak kecilnya.

Seolhyun menerawang ke luar jendela yang dikerumuni embun pagi, mendapati refleksi wajah lelaki dengan kacamata melorot yang membuatnya tiba-tiba saja merasa terpuruk berada di bayang-bayang. Jatuh tepat ke lapisan terdalam kepedihan, menjadi sangat setara dengan tanah yang dipijakinya sekarang. Seolhyun meremas kedua tangannya gusar, segera menghapus kedua cucuran air matanya begitu pintu kembali terketuk sehingga Seolhyun memutuskan untuk menutup kulkas dan menyeret kursi rodanya menuju pintu. Ketika dinginnya udara Perth pagi itu berhasil menyeruak masuk ke dalam rumah, Seolhyun terbelalak kaget begitu menemui seseorang yang tidak dapat dia prediksikan berada tepat di hadapannya.

Sanghyuk. Beserta dua kotak berukuran sedang dan pesawat surat berwarna biru lusuh, menyapa Seolhyun kala itu dengan senyum terbaiknya.

“Aku menuntaskan permintaan terakhirmu,” Sanghyuk mengulurkan ketiga benda tersebut pada Seolhyun yang kepalang tidak dapat mengejar degupan jantungnya lebih betul lagi. “Dan, nyatanya, disini kita dapat dipertemukan kembali.”

“Sanghyuk-a…

“Maaf sudah membuat pesawatnya terjebak dan membiarkanmu mengambilnya hingga terjatuh saat itu.”

Seolhyun membungkam mulutnya dengan kedua tangan, kemudian mulai menangis dan dengan napas terengah-engah berkata, “Tidak, seharusnya aku sempat berterimakasih karena sudah mengajakku untuk bermain pesawat terbang saat itu. Dan… untuk semua ini…,”

“Aku membawakannya untukmu.”

Seolhyun memperhatikan ketiga benda direngkuhan tangannya satu-persatu, kemudian menengok ke wajah Sanghyuk yang dirindukannya lama-lamat dalam hati. “Sanghyuk-a…”

Sanghyuk terkekeh ringan. “Kau senang memanggil namaku?”

.

.

“Surat ini…”

“Tidak apa-apa, Seolhyun,”

“Sanghyuk, ya Tuhan,” Seolhyun menyentuh pelipis dan kedua pipi Sanghyuk yang membengkak, kemudian menggigit bibir bawahnya penuh rasa bersalah. “Aku tidak dapat memperkirakan sebelumnya jika kau akan melakukan ini. Maksudku, kau memilih untuk memanjat, lalu terjatuh, dan—dan,”

Sanghyuk menempatkan sebelah telunjuknya di permukaan bibir Seolhyun, kemudian tersenyum kecil dan berkata, “Buka saja kotak selanjutnya.”

Seolhyun mengikuti intruksi dengan membuka kotak yang kedua, meskipun dengan berat hati, dan seketika saja terkejut begitu menemui origami berbentuk setangkai bunga Silene Tomentosa yang kemudian Sanghyuk perjelas, “Kau tidak mengatakannya jika itu harus berbentuk nyata atau tidak.”

“Han Sanghyuk, ini benar-benar…,” Seolhyun menarik napasnya dalam haru, tidak tahu bagaimana seharusnya dia bertindak. “Indah.”

Sanghyuk membelai pipi Seolhyun penuh kehati-hatian—ringkih, dia teramat sangat merindukan kedua pipi sahabat kecilnya kini yang terlihat lebih tirus. “Seperti katamu, kala itu Ken hanya berusia satu tahun…”

Seolhyun membuka penutup kotak yang ketiga. Tergeletak boneka berwarna cokelat tua yang berbentuk seperti kue jahe dan sedang tersenyum kepada siapapun yang menaruh perhatian untuk meliriknya. Seolhyun tidak berinisiatif untuk mengusap air matanya yang tidak kunjung reda, dia lebih berpreferensi untuk memeluk erat boneka tersebut dengan perasaan yang membuncah.

“Aku tidak tahu jika kau bisa menjahit.”

Konsentrasi Sanghyuk tertuju ke arah manik mata Seolhyun yang kini tidak akan berlari darinya lagi, maksudku, untuk selamanya.

“Kau memberiku waktu satu tahun untuk belajar. Seolhyun…,”

.

.

.

14 Desember 2006

Untuk Kim Seolhyun

.

.

.

“Ya?”

.

.

.

Apa aku salah jika memutuskan untuk menyukaimu?

.

.

.

“Berjanjilah.”

.

.

.

Kim Seolhyun, sekarang katakan padaku…

.

.

.

“Untuk?”

.

.

.

Karena tampaknya, aku benar-benar menyukaimu.

 

-S-

.

.

.

Sanghyuk meregas seluruh puncuk keraguan yang selama ini dia bangun jauh-jauh tahun, disertai dengan sayup suara kokok ayam dan desikan daun buluh, Seolhyun memandangnya dalam diam. Lelaki itu kembali mengulang kalimatnya, “Untuk tidak meninggalkanku lagi.”

Seolhyun menyerah.

Dia tidak dapat mengubur perasaannya jauh lebih dalam, tentu saja. Seolhyun barangkali pandai dalam menyembunyikan ekspresi juga emosinya seorang diri, tetapi Sanghyuk yang kini hadir benar-benar berbeda. Dia bukan lagi Han Sanghyuk yang tidak ingin mengalah dan memakai kawat gigi berwarna-warni, melainkan Han Sanghyuk yang berdiri layaknya seorang pria dan secara harfiah dicintainya.

Tidak ada yang tahu tepatnya kapan orang terakhir unjuk bicara, tetapi kemudian Seolhyun dengan seringai khasnya berkata,

“Bagaimana bagiku untuk meninggalkanmu, Han Sanghyuk?”

.

.

.

Embrace this dark place

Where I stand and sing

Oh sing into me

And I’ll live another day

.

.

.

a/n:

Asel nggak nyangka punya kepercayaan diri buat nge post ini. Intinya, mohon maaf untuk segala typo, alur kecepatan, dan kawan kawan 😉 segala bentuk review akan Asel antisipasi dengan besar, terimakasih sebelumnya ya 😀

Special thanks buat kak Sasphire & Hanseora yang sudah berbagi ilmu tentang soundcloud, dan kak Ivannanuneo, Quiterie, tsukiyamarisa, & thelittlerin yang ficnya bikin Asel jadi melek mata sama pasangan Seolhyun-Sanghyuk HIHIHI, Asel sayang kaliaaan {{}} ❤

One thought on “Duet With The Northern Sky

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s