THE SILENT LOVER(S)

the-silent-lovers1

Author: Anditia Nurul||Rating: PG-13||Length: Oneshot||Genre: Romance, Friendship, lil’ bit Marriage Life||Main Characters: (Miss A) Suzy & (Infinite) Myungsoo||Additional Characters: (KARA)Jiyoung, (B1A4) Jinyoung, (Infinite) Woohyun, (SNSD) Seohyun & (Actor) Kim Soohyun Disclaimer: Ini adalah sebuah cerita fiksi. Jika ada kesamaan nama/judul/karakter/tempat/adegan dengan FF lain, hal itu tidak disengaja. The plot is purely mine. The character(s) belong to God, himself/herself, his/her parents and his/her agency ||Warning: FF ini sudah diedit, tapi mungkin masih ada typo(s) yang nyempil. (Mungkin) Ada karakter yang OOC. Mohon maaf jika alurnya tidak jelas dan ceritanya membosankan. Don’t like the pairing? Don’t read! Don’t like the plot? Just stop reading and please don’t leave a bashing!||

HAPPY READING \(^O^)/

 

Pernahkah kau jatuh cinta pada seseorang yang jarang atau mungkin belum pernah berbicara denganmu?

 

Pernahkah kau jatuh cinta pada seseorang yang hanya bisa kau pandangi dari jarak jauh karena kau takut untuk mendekatinya?

 

Pernahkah kau jatuh cinta pada seseorang yang namanya selalu memenuhi buku diary-mu?

 

Pernahkah kau jatuh cinta pada seseorang yang fotonya menghiasi wallpaper handphone dan desktop laptopmu?

 

Pernahkah kau jatuh cinta pada seseorang yang tidak tahu apapun tentangmu, tapi kau mengetahui semua tentang dirinya?

 

Pernahkah kau jatuh cinta… diam-diam?

 

Kalau aku… IYA!

Aku pernah jatuh cinta diam-diam.

Dan, aku yakin kau pun pernah mengalami hal yang sama bukan!?

Suatu perasaan dimana kau mencintai seseorang, namun hanya dengan memandang orang itu dari kejauhan, kau sudah merasa bahagia.

Suatu perasaan yang membuat seorang biasa menjadi seorang stalker handal hanya untuk mendapatkan banyak informasi mengenai orang yang dicintai.

Suatu perasaan yang membuat buku diary-mu penuh dengan namanya.

Suatu perasaan yang membuatmu menjadi seorang pengecut di depan teman-temanmu karena kau tidak berani mengungkapkan perasaanmu.

Jatuh cinta diam-diam pada lelaki itu adalah sebuah kisah istimewa yang pernah terjadi di dalam hidupku. Sebuah kisah yang terjadi 10 tahun yang lalu. Kisah yang akan aku ceritakan padamu. Dan, kisah itu berawal dari suatu hari yang cerah saat jam istirahat di Bundang High School.

@@@@@

Aku duduk di dalam perpustakaan sekolah saat jam istirahat sedang berlangsung. Kedua tanganku memegang sebuah buku paket fisika kelas 1 yang terbuka, menampilkan halaman 34 dan 35. Hah! Tolong jangan berpikir kalau aku berada di perpustakaan untuk membaca buku fisika! Aku hanya menggunakan buku ini sebagai ‘tameng’. Ya, tameng yang membuatku tidak ketahuan kalau… sebenarnya aku berada di tempat ini karena… ingin memandang seseorang.

Ya, seperti yang dilakukan oleh orang yang jatuh cinta diam-diam, aku sering memandangi lelaki itu dari kejauhan.

Lelaki yang membuatku rela menghabiskan setengah dari jam istirahat hanya untuk duduk di dalam perpustakaan bersama dengan para kutu buku. Seorang lelaki berwajah tampan dengan sorot mata yang tajam. Siswa kelas 1.1 yang pintar. Baru 6 bulan sekolah di sini, ia sudah menyumbangkan piala dari lomba matematika, biologi dan menyanyi yang diikutinya.

He is almost perfect!

Aku sudah menyukai lelaki itu sejak 6 bulan yang lalu. Tepatnya, saat pertama kali kami masuk sekolah. Dia orang yang berhasil membuatku tidak sengaja menabrakkan motorku dengan sebatang pohon yang berada di halaman parkir sekolah karena terpesona padanya. Bahkan, pernah satu kali aku nyaris terjatuh di got karena… ia tersenyum padaku di saat kami berpapasan di sebuah jalan di dekat sekolah.

“Aw!” Aku meringis kesakitan begitu seseorang tiba-tiba mencubit pipiku yang—menurut teman-temanku—chubby. Kualihkan pandanganku kepada orang tersebut, mendapati seorang gadis dengan rambut yang dikuncir menyerupai ekor kuda tengah menatapku.

“Ah! Ternyata kau!” ucapku sedikit kesal.

Gadis itu, Jiyoung, mendengus. “Aku mencarimu kemana-mana, ternyata kau ada di sini.”

“Memangnya kau ada perlu apa?”

Gadis itu menggeleng. “Tidak. Aku hanya mencarimu saja!”

Aish! Gadis ini membuatku kesal saja!

Kembali aku mengalihkan pandangan ke arah lelaki yang sejak tadi masih setia duduk di tempatnya sembari membaca sebuah buku bersampul hijau. Aku tidak bisa membaca tulisan yang tertera di sampul buku tersebut karena tulisannya terlihat kecil dari tempatku duduk.

“Hei! Bae Suzy, aku heran, kenapa kau sering datang ke tempat ini, hm?”

Kubiarkan pertanyaan Jiyoung tidak terjawab. Tetap asik memandangi lelaki yang saat ini sedang menutup buku yang dibacanya. Ia terlihat bersiap untuk beranjak dari perpustakaan karena adegan selanjutnya, ia berdiri dari duduknya, lantas menyelipkan buku bersampul hijau itu ke salah satu rak yang berada di dekatnya.

“Aku bosan di sini, Suzy. Lebih baik kita ke kantin atau ke taman di samping sekolah.”

Dan sekarang, lelaki itu berjalan menuju pintu, keluar dari ruangan ini. Sedetik kemudian, aku menoleh ke arah Jiyoung yang sejak tadi mengajakku berbicara, meskipun aku tidak menanggapinya.

“Tadi kau bilang apa?” tanyaku tanpa rasa bersalah.

Jiyoung menggembungkan pipinya. “Jadi, sejak tadi kau tidak mendengar apa yang aku katakan? Memangnya kau sedang melihat siapa!?” Jiyoung sedikit berteriak. Sangat berhasil membuat beberapa siswa dan juga pegawai perpustakaan melihat ke arahnya. Sedetik kemudian, ia menyadari hal itu. “Ayo, ke kantin,” ucapnya menahan malu.

Aku terkekeh pelan.

Di saat aku terpaksa harus menemani Jiyoung memakan ramyeon di kantin, aku melihat lelaki itu sedang duduk di kursi yang berada di sudut kiri depan. Mungkin ini yang disebut jodoh. Aku bisa melihatnya lagi. Ia tengah asik meminum bubble tea bersama dengan seorang temannya.

“Jadi, yang pendek atau yang tinggi?” celetuk Jiyoung tiba-tiba.

“Apa maksudmu?” tanyaku seraya menoleh ke arahnya. Menatap gadis yang terlihat kepedasan itu penuh tanda tanya.

“Mereka,” jawab Jiyoung sambil melirikkan kedua mata bulatnya ke arah meja lelaki tersebut dan temannya.

Aku mendengus. “Tidak ada satu pun,” elakku.

“Jangan berbohong, Bae Suzy! Aku tahu kau menyukai salah satu di antara mereka. Jadi, siapa orang yang beruntung itu, hm?”

Aku terdiam. Sebenarnya mudah saja menjawab pertanyaan Jiyoung. Aku tinggal menyebut nama lelaki itu. Tapi, aku tidak bisa langsung menjawab. Bagaimana kalau nanti Jiyoung menceritakan hal tersebut kepada orang-orang?! Bukannya aku tidak percaya sahabatku, hanya saja… ya, untuk beberapa hal pribadi, aku harus memastikan dia bisa menjaga mulut.

Kuhela nafas panjang. “Baiklah, kau benar. Aku memang menyukai salah satu di antara mereka.”

“Lalu, siapa? Myungsoo? Woohyun?” tanyanya antusias dengan menyebut nama kedua lelaki yang menjadi topik pembicaraan kami.

“Sebelum aku memberitahukan hal itu padamu, aku mau kau berjanji satu hal padaku.”

“Apa itu?”

“Kau tidak akan menceritakan hal ini pada siapa pun. Siapa pun! Hanya kau, aku dan Tuhan yang tahu hal ini. Bagaimana? Bisa?”

Gadis itu mengangguk mantap, lalu menggerakkan tangan kanannya seolah-olah ia menarik zipper dari ujung kiri ke ujung kanan bibirnya. Sebuah isyarat bahwa ia tidak akan menjaga rahasia tersebut.

“Ehm, jadi… orangnya adalah… Kim Myungsoo!”

@@@@@

Rahasia yang telah kujaga selama 6 bulan itu akhirnya diketahui oleh teman sebangkuku, Jiyoung. Sisi baik dari hal ini, aku memiliki seseorang yang bisa kujadikan sebagai tempat curhat mengenai perasaanku kepada lelaki itu. Sisi buruknya, Jiyoung juga merangkap sebagai orang yang membuatku tertekan. Iya! Tertekan! Karena setiap kali aku selesai curhat, ia akan mengeluarkan seribu kata yang membuatku merasa seperti seorang pengecut karena tidak berani mengungkapkan perasaanku.

“Apa karena kau perempuan, jadi kau tidak mau mengungkapkan perasaanmu, hm?” tanya Jiyoung di suatu siang, ketika aku memutuskan untuk pergi ke rumahnya karena aku tidak tahu harus melakukan apa di tanggal merah ini.

Di dalam kamar yang dindingnya berwarna biru muda, Jiyoung duduk di kursi putarnya yang berada di dekat meja belajar. Sedangkan aku duduk di tepi tempat tidurnya yang dialasi sprei putih dengan motif buah stroberi. Laptop 12 inch milik Jiyoung kini berada di pangkuanku.

“Kira-kira seperti itu,” jawabku ragu.

Jangankan mengungkapkan perasaanku padanya, sekedar mengucapkan kata ‘hai’ kepada Myungsoo saja, aku tidak berani. Bagi sebagian orang, hal itu cukup mudah. Apalagi, Myungsoo (mungkin) mengenalku karena kami mengikuti klub yang sama, klub vocal. Tapi, aku tetap saja tidak berani menyapanya duluan.

Kudengar Jiyoung mendengus. “Kalau begitu, coba sesekali kau me-mention di twitter-nya,” usulnya.

Ya, perkara ‘menyapa-Myungsoo’ harusnya menjadi semakin mudah dilakukan. Terlebih sekarang, orang-orang pintar di muka bumi berlomba-lomba membuat jejaring sosial. Sesuatu yang bisa mempermudah komunikasi.

Sayangnya, aku juga tidak berani melakukan hal yang diusulkan Jiyoung.

Aku tidak berani me-mention atau mengirimkan direct message kepada Myungsoo. Yang aku lakukan setiap kali log in di akun twitter-ku adalah membaca satu per satu tweet-an Myungsoo, mem-follow orang-orang yang sering kali mention-mention-an bersama Myungsoo dan… men-download foto-foto Myungsoo yang ia upload di twitter-nya.

Lagi-lagi yang aku lakukan adalah hal yang memang sering dilakukan oleh orang yang jatuh cinta diam-diam. Mendadak menjadi seorang stalker untuk mendapatkan informasi apapun mengenai orang yang dicintai.

Aku tahu warna favorit Myungsoo adalah hitam. Aku tahu Myungsoo bergolongan darah O. Aku tahu dia bisa memasak. Aku tahu dia tidak suka asap rokok. Aku tahu dia suka membaca buku, jogging dan masih banyak lagi yang aku tahu.

Orang yang jatuh cinta diam-diam di zaman sekarang pun seharusnya berterima kasih kepada Mark Zuckerberg, Jack Dorsey dan para penemu jejaring sosial lainnya. Berkat penemuan mereka, kegiatan stalking menjadi lebih mudah.

Persis dengan apa yang sedang aku lakukan di rumah Jiyoung saat ini. Log in twitter di laptop Jiyoung.

“Ya, kalau aku sudah memiliki cukup keberanian,” balasku.

“Lantas, kapan? Besok? Minggu depan? Bulan depan?” Jiyoung menghampiriku yang sejak tadi duduk sambil memandangi layar laptop. Gadis itu menyodorkan segelas sirup yang sejak tadi belum aku minum sedikit pun.

Aku mengambil minuman itu dari tangan Jiyoung, lantas berkata, “Entahlah.”

Dan segelas sirup berwarna merah itu menjadi saksi dari ucapan Jiyoung yang membuatku—sejujurnya sangat—ingin menangis.

“Payah!”

@@@@@

Keesokan harinya, setelah mata pelajaran terakhir usai, aku tidak langsung pulang ke rumah. Entah apa yang ingin disampaikan oleh Jinyoung Sunbae, ketua klub seni, sehingga ia tiba-tiba meminta kami—para anggota klub—untuk berkumpul di ruang kesenian saat pulang sekolah. Karena penyampaian yang tiba-tiba ini, aku terpaksa menolak ajakan Jiyoung, si bendahara kelas 1.3, yang ingin mentraktir aku es krim. Namun, di sisi lain, dengan adanya penyampaian ini, aku bisa duduk satu ruangan dengan… ya, kau tahu.

“Sampai jumpa besok, Suzy-ya!” Jiyoung melambaikan tangannya padaku ketika kami berpisah di pertigaan koridor di dekat ruang guru. Gadis itu berjalan lurus ke arah gerbang, sementara aku berbelok ke kenan, menyusuri koridor kelas 2 menuju tangga yang berada di ujung lain koridor.

Satu per satu aku menapaki tangga yang menghubungkan lantai 1 dengan lantai 2. Suasananya agak sepi mengingat di lantai 2 memang hanya terdapat ruangan khusus untuk kegiatan klub. Ruangan klub seni, ruangan klub jurnalistik, ruangan klub ekonomi dan ruangan klub akuntansi berada di lantai itu.

Tiba di lantai 2, aku masih berjalan menyusuri koridor menuju ruang klub seni yang berada di ujung. Sambil berjalan, aku melihat ke arah lapangan basket yang berada di bawah. Pemandangan siswa-siswi yang melintas lengkap dengan tas masing-masing, tergambar jelas di depan mataku. Hah, sungguh enak bisa pulang lebih cepat.

Pintu ruangan klub seni yang aku tuju telah terlihat di depan mata. Dari pintunya yang terbuka, bisa kupastikan sudah ada anggota klub yang berada di dalam. Kupercepat langkahku menuju ruangan itu, namun… begitu aku masuk, hanya ada 1 orang di dalam. Dan lagi, orang itu bukan Jinyoung Sunbae—orang yang memegang kunci pintu ruangan, tetapi… Kim Myungsoo!

Lelaki itu sempat menatapku kira-kira kurang dari 2 detik ketika aku melangkah masuk dan mendapatinya duduk di bangku depan di dekat pintu. Lantas, ia mengalihkan tatapannya kepada sebuah benda persegi panjang yang dipegangnya. Sebuah tablet dengan casing berwarna hitam, warna kesukaannya.

Aku berjalan melewati lelaki itu menuju deretan bangku yang merapat dengan dinding belakang. Duduk di salah satu bangku tersebut, kemudian… melihat ke arah Myungsoo yang nampak asik dengan tablet-nya. Susunan bangku berbentuk huruf U sangat memudahkanku untuk langsung melihat ke arahnya tanpa ada penghalang sedikit pun.

Betapa beruntungnya aku hari ini bisa berduaan dengan Kim Myungsoo. Hehehe.

Sedetik kemudian, aku menyadari apa yang barusan terlintas di pikiranku. Aku berduaan dengan Kim Myungsoo? BERDUAAN DENGAN KIM MYUNGSOO? Oke, ini adalah kejadian yang sangat langka. Bahkan, ini pertama kalinya terjadi.

Tapi, apa yang harus aku lakukan?

From: Jiyoung.

“Bodoh! Kau tunggu apa lagi? Lekas sapa dia! Ini kesempatan yang bagus!”

Begitu bunyi pesan dari Jiyoung ketika aku memberitahukan hal ini padanya.

Aku menghela nafas, lantas mengalihkan pandanganku dari handphone ke arah Myungsoo yang masih saja asik sendiri dengan tablet-nya. Aish! Bagaimana aku menyapanya?

“Myungsoo-ssi, sedang apa?”

Kedengarannya sok akrab sekali.

Annyeonghaseyo, Myungsoo-ssi. Bagaimana kabarmu? Kau sehat, kan?”

Yang ini sok perhatian sekali.

“Yo~ Myungie-ya, what’s up?”

Myungsoo akan berpikir kalau aku adalah rapper tersesat jika aku menggunakan kalimat itu untuk menyapanya. Astaga! Hanya ingin menyapa Myungsoo saja rasanya seperti sedang mengerjakan soal ujian matematika. SUSAH SEKALI!

From: Jiyoung.

“Aish! Kenapa kau begitu bodoh? Cukup katakan ‘Annyeong, Myungsoo-ssi. Sedang apa?’ Gampang, kan?”

                To: Jiyoung.

                “Tapi, apa kalimat itu tidak terdengar sok akrab sekali? Kau tahu kan aku dan Myungsoo tidak akrab?”

                From: Jiyoung.

                “Kalimat itu kalimat sederhana yang terdengar biasa, Bae Suzy. Sudah! Sekarang lekas sapa dia!”

                Jika Jiyoung berada di ruangan ini bersamaku, bisa kupastikan dia sudah menggigitku hidup-hidup. Paling tidak, dia akan mencubit pipiku seperti apa yang biasa ia lakukan saking kesalnya. Hmph~, baiklah. Aku akan menyapa Myungsoo mumpung kami masih berdua di ruangan ini.

Setelah menghela nafas sebanyak 3 kali, aku mulai beranjak dari bangkuku. Berjalan ke arah Myungsoo yang saat ini melihat ke arah pintu. Sepertinya bosan menunggu anggota lain yang entah kenapa belum muncul. Sepertinya, Tuhan benar-benar sedang memberiku kesempatan untuk aku berbicara dengan Myungsoo.

Oke! Aku akan menggunakan kesempatan itu!

“A—” Baru satu huruf yang keluar dari mulutku, namun Jinyoung Sunbae dan dua anggota klub lainnya memasuki ruangan.

SIAL!

“Uh? Suzy-ya, Myungsoo-ya, kalian sudah ada di ruangan ini ternyata,” katanya santai. Sangat tidak tahu bahwa ada seseorang yang sangat kecewa di ruangan ini karena kemunculannya yang sangat tidak tepat. Aku terpaksa mengurungkan niatku menyapa Myungsoo.

“Aku pikir sunbae berada di ruangan ini karena aku lihat pintunya terbuka, ternyata… yang ada hanya tasmu!” ujar Myungsoo sembari menunjuk ke arah sebuah bangku yang berada di depan. Di bangku itu terdapat sebuah tas ransel. Aku baru menyadari keberadaan tas Jinyoung Sunbae di bangku itu karena sejak tadi aku hanya fokus pada Myungsoo.

“Ah, ya. Aku lebih dulu ke sini untuk membuka pintu ruangan, sekalian menunggu kalian berkumpul. Tapi, ada sesuatu yang harus membuatku ke toilet, jadi… aku tinggal saja tasku di ruangan ini,” jelas Jinyoung Sunbae. “Oh, ya, kau mau kemana, Suzy-ya?” tanyanya kemudian. Menyadari aku berdiri dan terlihat hendak menuju pintu. Padahal…, aku kan mau…

“I-itu…, aku mau ke toilet,” jawabku bohong.

“Oh,” balasnya. “Kalau kau bertemu dengan anggota klub yang lain, suruh mereka bergegas ke ruangan ini, oke!?”

Aku mengangguk pelan, lalu beranjak keluar dari ruangan.

AARRRGH! JIYOUNG-AH, AKU TERLAMBAT! AKU MEMBUANG KESEMPATAN LANGKA ITU! HUWAAA!!!

@@@@@

Keesokan harinya, aku menceritakan apa yang terjadi kemarin pada Jiyoung. Mulai dari hanya aku dengan Myungsoo berdua di ruangan, aku yang menghampiri Myungsoo dan berniat untuk menyapanya, sampai… Jinyoung Sunbae yang tiba-tiba masuk ke dalam kelas sehingga rencana-menyapa-Myungsoo totally failed.

“Itu karena kau menunda-nunda. Akhirnya, banyak waktu yang terbuang, kan!? Coba kalau kau lebih cepat, setidaknya kau bisa mengucapkan 2-3 kalimat kepada Myungsoo sebelum Jinyoung Sunbae datang,” ujar Jiyoung memojokkanku.

“Aku kan gugup, Jiyoung-ah,” balasku membela diri.

“Aish! Kalau aku jadi kau, mungkin hari ini aku sudah duduk di kantin bersama Myungsoo.”

Aku mendengus. Sedikit kesal mendengar ucapan Jiyoung. Bagaimana bisa ia terus memojokkan seperti itu, eoh? Sebagai sahabatku, seharusnya ia memberikan nasehat mengenai apa yang sebaiknya aku lakukan untuk bisa berbicara dengan Myungsoo. Atau setidaknya, cukup ia menghiburku, bukannya sewot seperti gadis yang sedang mengalami PMS (bisa jadi saat ini dia benar-benar sedang mengalami PMS).

“Ya, ya. Maaf,” kataku untuk meredakan kekesalannya, walau aku sendiri bingung, kenapa aku minta maaf padanya? Aku kan tidak salah apa-apa. Ck!

Jiyoung mulai membuka mulut, hendak memojokkanku sekali lagi, tapi untungnya… bel tanda pelajaran pertama akan dimulai, berbunyi. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, bunyi bel itu terdengar seperti bunyi dari surga. Aku selamat dari ucapan Jiyoung.

Selama mata pelajaran matematika berlangsung, kedua mataku menatap lekat ke arah angka-angka yang tertera di papan tulis, tapi… pikiranku melayang kemana-mana. Aku tidak fokus mengikuti pelajaran ini, hanya berpura-pura fokus. Kejadian kemarin cukup menyita pikiranku. Kesempatan berduaan dengan Myungsoo tanpa ada seorang pun di antara kami mungkin tidak akan terjadi lagi ke depannya.

Lantas, apa yang harus aku lakukan?

Aku benar-benar ingin berbicara dengan lelaki itu. Berdua. Tapi, aku sungguh tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Tepatnya, aku takut melakukan apa yang harus aku lakukan sehingga aku hanya bisa pura-pura tidak tahu.

“Ehm,” Jiyoung berdehem pelan sembari menggeser selembar kertas kecil ke arahku dengan mata yang melihat ke arah papan tulis. Kuperhatikan gadis itu sejenak dan sejurus kemudian, aku membaca tulisan di kertas yang ia sodorkan.

Ya! Bagaimana kalau hari ini kau menginap di rumahku? Nanti malam kita bersenang-senang. Nonton film di kamarku atau kau bisa men-stalking timeline Myungsoo sepuasmu. Mumpung besok hari Minggu. Cheer up!

Kalau tidak ingat saat ini adalah mata pelajaran yang dibawakan Kwan Sonsaengnim—guru yang terkenal killer, aku mungkin sudah memeluk Jiyoung.

Jiyoung-ah, kau memang sahabatku!

@@@@@

“Jadi, sekarang kau mau menonton dulu atau—?”

“Terserah kau saja, yang penting aku bisa melewatkan malam minggu ini tanpa perasaan galau!” tegasku.

Aku baru saja tiba di rumah Jiyoung dan gadis itu langsung mengajakku ke kamarnya. Di dalam kamar yang ukurannya 1,5 kali lebih besar dari kamarku, aku menghempaskan diri ke atas spring bed. Tubuhku terpantul pelan. Sementara itu, si pemilik kamar sibuk memilih kaset film yang akan kami tonton malam ini.

“Ya! Bagaimana kalau film ini?” Jiyoung menghampiriku sambil menunjukkan sebuah kaset film yang masih terbungkus plastik sampul. “Film Thailand. Ceritanya bagus,” promo Jiyoung.

A Little Thing Called Love. Itu yang tertulis di sampul kasetnya. Dari judulnya, sangat jelas ini film ber-genre romance. Sebenarnya, aku sedikit malas menonton film ber-genre romance, tapi… melihat wajah Jiyoung yang terlihat antusias ingin memperlihatkan film itu padaku, akhirnya aku berkata, “Baiklah.”

Sekitar 30 menit kemudian, aku mendapati diriku tenggelam dalam suasana yang diciptakan oleh film yang direkomendasikan Jiyoung. Film yang menceritakan seorang gadis berwajah hitam yang jatuh cinta diam-diam pada seorang lelaki tampan.

Persis seperti apa yang aku alami.

Tapi, tolong kalian catat, wajahku tidak hitam seperti tokoh gadis dalam film ini.

“Kau memilih film ini untuk menyindirku, hm?” Aku iseng bertanya kepada Jiyoung.

“Apa menurutmu begitu?”

“Iya.”
Gadis itu terkekeh. “Tidak. Aku hanya ingin kau menonton film yang sedang aku suka. Kebetulan saja ceritanya sedikit mirip dengan apa yang kau alami,” jelas Jiyoung.

Hah, walau ia bicara seperti itu, aku tetap yakin dia sengaja memilih film ini karena ingin menyindirku.

Aku menghela nafas.

“Ya! Kenapa kau lesu begitu, eoh!?” Jiyoung mengalihkan pandangannya dari layar televisi ke arahku.

Aku menggeleng pelan.

“Sudahlah! Nikmati film ini. Kau harus banyak belajar dari tokoh gadisnya.”

“Maksudmu?”

Jiyoung terdiam.

Kembali, aku fokus menonton film yang saat ini memperlihatkan adegan dimana Nam—nama tokoh utama gadis—sedang menelepon seseorang. Mungkin salah satu dari ketiga sahabatnya. Tapi, nyatanya aku salah. Yang ia telepon adalah Shone—nama tokoh utama lelaki. Lucunya, setelah mendengar kata ‘halo’ dari Shone, Nam lantas berlari keluar dari rumahnya dan… berteriak seperti seorang remaja labil. Begitu, ia kembali untuk berbicara dengan Shone, teleponnya sudah terputus.

Bodoh!

….

….

….

….

Briliant!” Tanpa sadar aku berteriak.

Briliant apanya?” tanya Jiyoung heran.

Aku menoleh ke arahnya. “Aku akan berbicara dengan Myungsoo.”

“Kau bilang apa? Berbicara dengan Myungsoo? Hei! Kesempatanmu berbicara dengan Myungsoo sudah lewat kemarin!”

Aku menatap Jiyoung sambil memegang kedua bahunya. “Aku akan membuat kesempatan yang langka itu terjadi!”

“Maksudmu?”

“Aku… akan… menelepon Myungsoo!”

Jiyoung tercengang. Ya, aku tahu ideku ini sangat brilliant.

“Ta-tapi…, apa kau punya nomor handphone-nya?”

Seketika kukeluarkan handphone dari saku celana denim selututku. Memencet-mencet tombolnya, mencari nama Jinyoung Sunbae. Kemarin, ia meminta semua nomor handphone anggota klub. Dia pasti punya nomor handphone Myungsoo.

Yoboseyo?” Suara Jinyoung Sunbae terdengar saat aku menghubunginya.

Yoboseyo, Jinyoung Sunbae. Ini Suzy,” kataku.

“Oh, ada perlu apa kau meneleponku?”

“Mm… aku mau minta nomor handphone Myungsoo. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan. Sunbae… tahu nomor handphone-nya, kan?”

“Ya, nomor handphone Myungsoo memang ada padaku, tapi dia berpesan untuk tidak memberikan nomorku pada orang yang tidak ia kenal.”

Aku sedikit panik mendengar ucapan Jinyoung Sunbae. “Ehm, tapi… Myungsoo mengenalku, Sunbae. Mmm… aku ingin meneleponnya karena… mmm… kemarin aku meminjam bukunya. Aku berjanji mengembalikan buku itu hari ini, tapi… aku tidak sempat. Jadi, aku ingin memberitahunya. Begitu, Sunbae~”

Sekarang aku sudah pandai berbohong. Ampuni aku, Tuhan!

“Baiklah. Tapi, jangan katakan padanya kalau kau mendapatkan nomor handphone-nya dariku!”

“Sip.”

“Akan aku kirim lewat SMS. Kau tunggu saja.” Dan Jinyoung Sunbae pun memutuskan panggilanku.

Kurang dari semenit, nomor handphone Myungsoo berhasil aku dapatkan. Aku menatap Jiyoung seolah mengatakan bahwa… kau akan menjadi saksi dari keberanianku membuat sebuah kesempatan langka terjadi. Kesempatan berbicara dengan seorang Kim Myungsoo!

“Kau siap?” tanya Jiyoung ketika aku sudah menekan nomor handphone Myungsoo di handphone-ku. Tinggal menekan tombol dial dan semuanya akan terjadi.

Aku mengangguk. “Ya.”

Aku menekan tombol dial, lalu merapatkan handphone di telinga kiriku. Jiyoung ikut merapatkan telinganya di bagian belakang handphone-ku, penasaran dengan suara Myungsoo di telepon.

“Nomor yang Anda tuju sedang sibuk.”

Sialnya, Myungsoo sedang menelepon atau sedang ditelepon oleh seseorang.

“Tunggu 10 menit. Jika setelah 10 menit nomor Myungsoo masih sibuk, itu artinya… dia berbicara dengan seorang gadis.”

Aku menatap Jiyoung sinis. Apa dia bermaksud membuatku patah semangat?

“Dengar! Seorang lelaki tidak akan menghabiskan pulsanya hanya untuk berbicara dengan teman lelakinya. Paling hanya SMS. Berbeda kalau bersama gadis. Pasti lelaki akan menelepon,” Jiyoung menjelaskan teori-tunggu-10-menitnya.

“Dari mana kau mengetahui teori aneh itu, Jiyoung?”

Jiyoung menyentuh bahuku dengan tangan kanannya. “Bae Suzy, di dunia ini, tidak ada lelaki yang mau dianggap tidak punya modal. Dan menelepon selama 10 menit itu membutuhkan pulsa yang tidak sedikit. Kau mengerti maksudku, kan?” jelasnya seolah memberikan sebuah petuah maha penting yang harus aku catat di buku, di pikiran dan di hatiku. Halah.

Aku terdiam. Sambil menunggu 10 menit terlewatkan, aku dan Jiyoung kembali menatap layar televisi yang masih menayangkan film Thailand itu. Namun, aku malah tidak fokus menonton. Aku mulai memikirkan kata-kata Jiyoung beberapa saat lalu.

Bagaimana jika setelah 10 menit, nomor Myungsoo masih sibuk? Itu berarti dia sedang berbicara dengan seorang gadis. Tapi, siapa? Dari pengamatanku terhadap semua tweet-annya atau informasi yang kudengar dari teman-teman sekelasnya, Myungsoo belum punya kekasih.

Atau…, mungkin aku salah. Mungkin Myungsoo sudah memiliki kekasih.

Kalau itu benar, itu artinya…

Astaga! Apa yang aku pikirkan? Kenapa aku membuat persepsi seperti itu. Aish!

“Hei! Sudah 10 menit.” Jiyoung mengagetkanku.

Aku menoleh ke arahnya. Mendadak bingung. Jiyoung yang tahu arti dari mimik wajahku langsung mengatakan, “Waktunya menelepon Myungsoo!”

“Oh, ya,” kataku. Hah! Rupanya Jiyoung menghitung waktu 10 menit itu. Haha.

Untuk kedua kalinya aku menekan nomor handphone Myungsoo, sejurus kemudian, aku menekan tombol dial, lantas merapatkan handphone ke telinga kiriku. Jiyoung pun melakukan apa yang ia lakukan saat pertama kali aku mencoba menghubungi Myungsoo.

“Tut… tut… tut…”

Akhirnya, bukan suara operator yang terdengar. Yes!

Ne, yoboseyo?” Myungsoo menjawab panggilanku. Aku mulai panik, namun Jiyoung berusaha mengingatkanku agar tetap tenang.

Yo-yoboseyo~” balasku.

Ya Tuhan, aku berbicara dengan Myungsoo. Aku berbicara dengan Kim Myungsoo! AKU BERBICARA DENGAN MYUNGSOO! SELURUH DUNIA HARUS TAHU KALAU AKU BEBRICARA DENGAN KIM  MYUNGSOO!

Nuguseyo?”

“Aku—tutututut!”

Panggilanku tiba-tiba terputus saat aku hendak menyebutkan siapa namaku.

“Apa yang terjadi?” Jiyoung heboh.

Aku menatap layar handphone-ku, lalu menatap wajah Jiyoung. “Aku tidak tahu. Tiba-tiba saja panggilanku putus!”

“Apa mungkin pulsamu habis!?” tebak Jiyoung.

“Aku baru membeli pulsa saat aku datang ke rumahmu. Aku yakin pulsaku masih banyak.”

“Lantas, kenapa panggilanmu terputus?”

Aku menggidikkan bahu. Sungguh bingung kenapa panggilanku tiba-tiba saja terputus. Apakah Myungsoo tidak mau berbicara denganku?

Sementara Jiyoung sibuk menebak-nebak penyebab dibalik terjadi tragedi-panggilan-putus-tiba-tiba itu, aku sibuk dengan mood-ku yang mulai memburuk karena tragedi itu. Sampai akhirnya, sebuah pesan masuk ke dalam handphone-ku.

From: Kim Myungsoo

                “Mianhamnida, tadi handphone-ku lowbat. Nuguseyo?”

                Kubiarkan pesan Myungsoo tidak terjawab.

Bad mood mode: on.

@@@@@

Setelah hari itu, aku tidak pernah lagi menghubungi Myungsoo. Meski begitu, berbicara langsung dengan Myungsoo selama 1 menit saja, masih tetap menjadi keinginanku. Hanya saja, aku membiarkan semuanya berjalan apa adanya. Menunggu kesempatan untuk berbicara dengan Myungsoo itu kembali datang padaku.

Dan sembari menunggu kesempatan itu datang, aku masih tetap hobi memandangi Myungsoo di perpustakaan, di kantin, di pertemuan klub atau ketika ia berjalan di koridor sekolah. Nama Kim Myungsoo pun semakin banyak tertulis di setiap lembaran buku diary-ku. Bahkan, foto-fotonya pun mempunyai folder sendiri di laptopku. Belakangan ini pun, aku suka menggambar sketsa wajahnya untuk mengisi waktu luangku.

Seperti yang sedang aku lakukan saat ini.

Di hari Sabtu sore, aku berada di sebuah taman di dekat sekolah. Duduk di sebuah bangku panjang dengan cat hijaunya yang mulai pudar. Aku memangku sebuah buku sketsa dan tanganku tengah asik menggoreskan garis-garis tipis yang membentuk seraut wajah sesosok lelaki yang aku yakin kau tahu siapa.

“Hei!” Seseorang menegurku. Sepersekian detik kemudian, aku menoleh ke asal suara dan mendapati Myungsoo berdiri tidak jauh dariku. Sontak, aku menutup bukuku. Mudah-mudahan saja dia tidak melihat apa yang sedang aku gambar barusan.

Dan, sebentar! Tadi dia memanggilku dengan ‘hei!’.

Apa dia tidak tahu namaku?

“Kau… Bae Suzy, kan!?” tanyanya memastikan. Ternyata dia tahu.

Aku mengangguk pelan. “Ne.”

Tanpa izin dariku, lelaki yang saat ini tengah mengenakan baju kaos kuning dengan bawahan jeans berwarna hitam serta sepasang sneakers berwarna senada, duduk di sebelahku. “Kau sedang apa di sini?” tanyanya. Ia menoleh padaku, membuat manik mata kami bertemu.

“Menggambar,” jawabku singkat dan sedikit gugup.

Omo, aku tidak percaya ini, sekarang aku sedang berbicara dengan Myungsoo!

Jeongmal? Jadi, selain menyanyi, kau juga bisa menggambar?”

Aku mengangguk.

“Whoa, ternyata kau multitalented,” pujinya.

Aku tersenyum. “Gomawo.”

Aku tidak mengatakan betapa bahagianya aku saat ini. Sebelum berangkat ke taman ini, aku tidak membayangkan akan bertemu Myungsoo. Terlebih, ia yang mengajak berbicara. Dan lagi, ia memujiku. Huwaaaa… this is the best day ever!

“Kau sudah tahu kapan kita mulai latihan untuk singing contest, hm?” tanya Myungsoo lagi.

Ne. Kata Jinyoung Sunbae, latihan dimulai hari Selasa.”

Myungsoo mengangguk paham.

Hal yang dibicarakan oleh Jinyoung Sunbae beberapa hari yang lalu adalah tentang singing contest yang akan diadakan di salah satu sekolah menengah bulan depan. Aku menjadi wakil untuk perlombaan menyanyi solo, begitu juga dengan Myungsoo. Aku merasa sangat beruntung karena beberapa minggu ke depan, aku akan latihan di hari yang sama dengan Myungsoo.

“Oh, ya,” kataku, “Apa yang kau lakukan di sini?” Aku mengajukan pertanyaan yang seharusnya sejak tadi aku tanyakan. “Menunggu seseorang, hm?” tebakku.

Myungsoo mengangguk. “Ne.”

“Teman?”

Myungsoo menggeleng. “Aniya.”

“Kalau begitu siapa?”

Lelaki itu baru hendak membuka mulut untuk menjawab pertanyaanku, namun tiba-tiba terdengar suara seorang gadis yang memanggil Myungsoo.

“Myungsoo-ya!”

Myungsoo menoleh ke arah dimana suara tersebut berasal. Aku pun begitu (meski aku tahu yang dipanggil hanyalah nama Myungsoo).

“Ah! Seohyun sudah datang. Aku pergi dulu, Suzy-ya. Sampai jumpa~” Lelaki itu pamit padaku, kemudian menghampiri gadis yang sangat cantik itu. Dan tepat beberapa meter di depan mataku, aku melihat adegan dimana Myungsoo menyibakkan rambut hitam gadis tersebut ke belakang telinga.

Apakah… gadis itu adalah kekasihnya?

Seketika aku merasakan ada sesuatu yang ngilu di dadaku. Sakit rasanya melihat Myungsoo bersama dengan gadis itu. Sakit sekali.

Cemburu?

Ya, aku rasa aku cemburu, tapi… hah, apa boleh aku cemburu, hm? Memangnya aku ini siapanya Myungsoo? Aku bahkan tidak yakin dia menganggapku teman atau bukan. Paling tidak, ia hanya menganggapku sebagai kenalan-di-klub-vocal.

Apakah seorang kenalan-di-klub-vocal berhak untuk cemburu?

Menyedihkan!

@@@@@

Aku tidak menyangka bahwa aku akan melewati hari-hari SMA-ku dengan cara seperti ini. Mencintai seorang lelaki bernama Kim Myungsoo secara diam-diam. Dan harus aku akui, mencintai dengan cara seperti ini sangat sulit.

Ne, sulit.

Karena ada saat dimana aku ingin sekali berteriak kepada Myungsoo, ingin sekali mengatakan kepadanya bahwa aku menyukainya, aku mencintainya. Namun, rasa takut dan malu menghalangi semua itu.

“MYUNGSOO-YA, SARANGHAEYO!!!”

Aku berteriak sambil membenamkan wajahku pada permukaan bantal. Sepersekian detik setelahnya, aku menangis.

“Suzy-ya~” gumam Jiyoung sembari menepuk pelan bahuku.

Saat ini, aku dan Jiyoung duduk di atas tempat tidurku. Sengaja meminta gadis itu untuk menginap di rumahku. Setelah bercerita panjang lebar mengenai kejadian beberapa hari yang lalu—kejadian dimana aku tahu bahwa Myungsoo telah memiliki kekasih, aku menangis di hadapannya. Pertama kalinya terjadi selama aku memendam perasaan kepada lelaki itu.

Waktu begitu cepat berlalu. Perasaan yang tumbuh mulai dari kecil sekali itu kini kian membesar dan semakin membesar. Dan juga, perlahan-lahan mulai membuatku tersiksa. Tahu kenapa? Karena aku tidak bisa menyatakan perasaanku padanya. Akibatnya? Sekarang Myungsoo telah menjadi milik seseorang.

Hal ini membuatku sadar bahwa meskipun semakin hari aku semakin tahu banyak hal tentang Myungsoo, aku malah merasakan kalau… aku semakin jauh darinya. Saking jauhnya, aku sadar bahwa… aku tidak bisa dan mungkin tidak akan pernah bisa menggapainya.

Menyebalkan!

“Suzy-ya, uljima~” Sekali lagi Jiyoung menepuk bahuku.

Aku menghela nafas panjang, lantas menyeka air mata yang membasahi kedua pipiku. Tidak lama, Jiyoung memberikan selembar tisu padaku. Aku menoleh ke arah gadis itu, menatapnya sejenak, lalu mengambil tisu tersebut dari tangannya.

“Sudahlah! Jangan menangisi Myungsoo yang telah memiliki kekasih,” katanya.

Aku menghela nafas sekali lagi. “Aku… aku bukan menangisi hal itu, Jiyoung-ah,” ralatku. “Aku… menangisi diriku sendiri. Aku… merasa… diriku sangat bodoh. Aku bodoh karena mencintai Myungsoo. Aku bodoh karena mencintai seseorang yang aku tahu tidak akan pernah berada di sisiku. Aku bodoh karena—”

Aku tidak jadi meneruskan ucapanku karena Jiyoung tiba-tiba memelukku. “Suzy-ya, jangan berkata seperti itu~” ucapnya pelan.

“Seandainya hati memiliki tombol untuk berhenti mencintai seseorang, aku akan menekan tombol itu sekarang, Jiyoung-ah.”

Ya, aku… aku ingin berhenti mencintai lelaki itu.

Aku ingin berhenti mencintai Kim Myungsoo.

@@@@@

Suara tepuk tangan yang meriah itu terdengar setelah salah satu peserta lomba nyanyi solo dari Shinhwa High School berhasil menyanyikan lagu Love-nya Roy Kim dengan sangat baik. Suara tepuk tangan itu bahkan terdengar hingga ke backstage, tempat aku berada sekarang.

Ya, sebulan akhirnya telah berlalu. Dan, tepat sebulan pula, aku berusaha untuk berhenti mencintai seorang Myungsoo, namun hasilnya… GAGAL!

Tentu saja gagal. Karena, di saat aku berniat untuk melupakannya, aku malah semakin sering bertemu dengannya. Ne, karena aku dan Myungsoo latihan vocal di hari yang sama. Bahkan, kami pun sering mengobrol satu sama lain. Dan terkadang, Myungsoo mengantarku pulang jika guru vocal sedang kalap mengajari kami hingga langit mulai gelap.

Dan karena hal itu, aku pun semakin mencintainya, meski aku tahu, sekarang Myungsoo telah mempunya kekasih.

Ck!

“Peserta selanjutnya, masih dari Shinhwa High School, Han Soyeon!”

Suara MC yang mempersilakan peserta selanjutnya untuk naik ke atas panggung pun masih terdengar dan lagi-lagi diikuti suara tepuk tangan. Terdengar meriah sekali di depan sana. Berbeda dengan suasana di backstage. Beberapa peserta tampak serius berlatih untuk memantapkan penampilan mereka, beberapa lainnya tampak santai dengan mengobrol satu sama lain dan… seorang di antaranya terlihat sangat tegang. Aku!

Hah~

Ini pertama kalinya aku mengikuti lomba menyanyi.

“Ya! Kau kenapa? Gugup?” tanya Myungsoo menghampiriku yang sedang duduk di sudut ruangan. Tangan kanannya memegang sebotol air putih yang tutupnya masih disegel. Sepertinya, ia baru saja membeli air itu.

Ne,” jawabku sambil mengangguk.

“Kau mau minum?” tawarnya sembari menyodorkan botol airnya padaku.

Aku menggeleng. “Aniya. Gomawo,” tolakku halus.

Wae? Ini belum aku minum. Kalau kau mau, ambil saja. Aku bisa beli lagi.”

Aku menggeleng sekali lagi. “Aniya, Myungsoo-ssi. Tidak usah. Untukmu saja.”

Terlihat sedikit gurat kekecewaan di wajah Myungsoo saat aku mengatakan hal itu. Sepersekian detik kemudian, ia mengangguk paham. “Baiklah, kalau kau tidak mau, untukku saja.” Dan adegan selanjutnya, ia melepas segel pada penutup botol, memutar penutup botol tersebut, lantas meminum sedikit airnya.

Aku semakin tidak bisa berhenti mencintai Myungsoo karena… dia pun sangat baik padaku. Seperti yang baru saja terjadi, misalnya. Ia berniat memberikan air yang baru dibelinya kepadaku.

Selama sebulan ini, aku sempat berpikir bahwa Myungsoo seolah memberikan secercah harapan padaku. Tapi, sepertinya aku yang terlalu berharap. Mana mungkin Myungsoo seperti itu? Dia sudah punya kekasih. Dia baik padaku karena… ya, dia memang baik pada semua orang.

“Suzy-ya?”

Hah~ andai aku punya sedikit keberanian untuk mengatakan kalau aku menyukainya, aku… tidak akan tersiksa seperti ini. Atau…, paling tidak aku berharap Myungsoo meluangkan waktunya beberapa detik saja untuk menatap mataku. Membaca perasaanku melalui sorot yang dipancarkan oleh jendela hatiku.

“Suzy-ya, kau baik-baik saja?”

Tapi, Myungsoo tidak pernah melakukan itu. Tentu saja. Untuk apa menatapku, sementara pandangannya telah berfokus pada satu titik. Kekasihnya. Bodohnya aku masih berharap suatu hari nanti Myungsoo memalingkan pandangannya dan melihatku walau sejenak.

“Bae Suzy?”

Payah!

“Suzy, kau kenapa, eoh?”

Bodoh!

“Hei! Kenapa kau menangis?”

Menyedihkan!

“Suzy! Hei, kau kenapa menangis, eoh!? Kau baik-baik saja, kan? Katakan apa yang terjadi? Kenapa kau menangis?”

Guncangan yang agak keras kurasakan di pundakku, membuatku kembali ke alam sadarku dan mendapati Myungsoo menatapku dengan wajah paniknya. Bergegas kuseka air mata yang entah sejak kapan jatuh dari pelupuk mataku.

Astaga! Kenapa aku malah menangis di saat-saat seperti ini, eoh!?

“Kau kenapa, Suzy? Kau baik-baik saja, kan!?”

Aku mengangguk. “Ne. Aku baik-baik saja, Myungsoo-ssi.”

“Oh, syukurlah~” leganya sembari menyingkirkan kedua tangannya dari kedua pundakku. “Tapi, kenapa kau tiba-tiba kau menangis, eoh!? Kau membuatku kaget.”

Aku tersenyum enggan. “Maaf. Aku tidak bermaksud seperti itu,” sesalku.

“Lantas, kenapa? Kau ada masalah, hm? Kalau mau, aku tidak keberatan mendengar ceritamu,” tawarnya.

Aku menatap lelaki itu sejenak. Ya, dia terliha tulus ingin mendengarkan ceritaku. Hah, Ya Tuhan, lelaki ini ingin mendengar alasan kenapa aku menangis. Andai ia tahu aku menangis karenanya, apa yang akan ia katakan? Apa yang akan ia lakukan?

“Ya sudah, kalau kau tidak mau cerita,” ucapnya. “Aku mau ke sana sebentar,” lanjutnya sembari menunjuk sisi kiri panggung.

Lelaki itu berdiri dari duduknya, bersiap untuk beringsut ke tempat yang hendak ia tuju, tapi… aku mencegahnya.

“Tunggu! Kim Myungsoo!”

@@@@@

“Hei! Apa yang kau tulis ini?”protesku ketika aku selesai membaca sebuah cerita pendek yang ditulis oleh suamiku, Kim Myungsoo atau… lebih dikenal dengan nama pena L. Sungguh nama pena yang amat sangat terlalu singkat.

Sang penulis yang saat ini sedang duduk di depan laptop—tengah mengetik sebuah cerpen lagi, lantas menghentikan kegiatannya dan menoleh ke arahku yang duduk di tepi tempat tidur. Naskah cerpennya masih aku pegang.

“Memangnya kenapa? Feel-nya akan lebih dapat kalau tokoh utamanya adalah seorang gadis,” jawab Myungsoo santai sembari membetulkan letak kacamatanya.

Aku mendengus. “Tapi, ini fitnah namanya!”

“Fitnah apanya? Aku hanya menukar posisi kita! Itu saja. Posisi Jiyoung dan Woohyun juga.”

Sekali lagi aku mendengus. “Ne, tapi karakterku di sini seperti seorang gadis bodoh yang mengharapkan cinta dari seorang lelaki bernama Kim Myungsoo. Aku tidak suka.”

Myungsoo melepaskan kacamatanya, cepat. “Tadi kau bilang apa? Karaktermu di sini seperti seorang gadis bodoh? Jadi, kau mengatai aku bodoh, eoh!?”

Ne.

Mwoya?” Myungsoo berdiri dari duduknya. “Kau benar-benar mengatai aku bodoh?” Kali ini ia berjalan menghampiriku.

“Memangnya kenapa? Kau memang bodoh, kan!? Kau datang ke perpustakaan hanya untuk melihatku, bukannya membaca buku. Kau bahkan tidak berani me-mention-ku lebih dulu di twitter. Kau juga cukup bodoh mendengar teori-tunggu-10-menitnya Woohyun yang di cerita ini menjadi teori-10-menitnya Jiyoung. Padahal, waktu itu aku hanya menelepon ajumma-ku.”

“Woohyun mengatakan teorinya dengan sangat meyakinkan dan dia juga sahabatku. Tentu saja aku percaya pada kata-katanya.”

Aku mendengus entah untuk keberapa kalinya. “Ne, karena itu aku mengatakan kau bodoh karena mempercayai teori Woohyun yang belum pernah dibuktikan secara ilmiah! Dan kau juga cukup bodoh karena mengira aku pacaran dengan Soohyun Oppa, sepupuku sendiri.”

“Dan kau juga cukup bodoh karena mau menikah dengan orang bodoh sepertiku,” balas Myungsoo dengan nada kesal.

Ne, tapi untungnya aku menikah dengan orang bodoh yang tampan, yang punya banyak bakat, yang lebih mengenaliku dengan sangat baik dan—” Aku mencoba untuk menyenangkannya setelah cukup puas mengatainya bodoh.

“Dan?” tanya Myungsoo penasaran.

Aku menatap kedua mata Myungsoo. “Dan orang bodoh yang sampai detik ini tidak tahu kalau sebenarnya orang yang saat ini ia nikahi juga pernah jatuh cinta diam-diam padanya.”

“Maksudmu, kau—”

Aku mengangguk.

“Jadi, ini alasan kau… langsung menerimaku ketika… di backstage itu?”

Aku mengangguk untuk kedua kalinya sambil tersenyum. Myungsoo terlihat sangat shock dengan kenyataan itu.

“Tunggu! Kalau kau juga jatuh cinta diam-diam padaku, berarti yang aku tulis ini bukan fitnah!”

“Kata siapa bukan fitnah? Hei! Siapa yang mengintip di perpustakaan setiap jam istirahat? Kau! Siapa yang mencoba meneleponku setelah menonton film? Kau! Siapa yang mengirim pesan kepada temannya hanya untuk menyapaku? Kau, Kim Myungsoo! Jadi, di cerita yang kau tulis ini, kau memfitnahku! Titik!”

Ya! Bae Suzy!”

@@@@@

Ne?”

Aku menoleh ke arah Myungsoo yang memanggilku saat aku hendak beranjak ke samping panggung untuk menyaksikan peserta yang sedang bernyanyi. Tadi, lelaki ini tiba-tiba menangis. Entah apa yang dipikirkannya. Aku menawarkan diri untuk mendengar ceritanya, tapi… sepertinya dia tidak mau. Mungkin sekarang dia sudah berubah pikiran.

“Ada apa, Myungsoo-ssi?” tanyaku. Kembali duduk di bangku yang berada di sebelahnya. Sepertinya, dia akan menceritakan masalahnya padaku.

Lelaki bermata tajam itu terlihat gugup dan ragu untuk mengatakan apa yang ingin ia katakan. “Su-Suzy-ya, se-sebenarnya…”

Aku menatapnya. “Ne?”

“Sebenarnya… aku… aku… menyukaimu.”

Satu kalimat itu sangat berhasil membuatku terkejut. “Mwo-mwoya?!” tanyaku memastikan. Mungkin aku hanya salah dengar atau mungkin lidah Myungsoo keseleo.

Myungsoo menelan ludah. Kelihatan tidak sanggup untuk mengulang apa yang baru saja ia katakan. Tapi, nyatanya…

“Aku… aku menyukaimu, Bae Suzy. Aku mencintaimu.”

Oke. Itu sudah sangat jelas.

“Ka-kau… kau tidak perlu cemas bahwa aku memintamu untuk membalas perasaanku. Tenang saja. Aku tahu kau sudah memiliki kekasih. Lelaki yang kau temui di taman tempo hari adalah kekasihmu, kan!? Aku… aku hanya mengatakan hal ini agar hatiku bisa lega. Itu saja. Aku… aku hanya ingin kau tahu seperti apa perasaanku padamu karena… aku tidak bisa memendamnya lagi,” jelas Myungsoo panjang lebar.

Aku tertawa.

“Ya! Kenapa kau tertawa? Aku serius dengan kata-kataku, Bae Suzy,” untuk pertama kalinya aku mendengar ia protes padaku.

Sambil berusaha menahan tawa, aku berkata, “Ya! Kim Myungsoo! Dasar sok tahu. Siapa yang bilang kalau lelaki tadi adalah kekasihku? Dia sepupuku. Se-pu-pu-ku!” tegasku, lalu tertawa lagi.

Mwo-mwoya? Jadi…, jadi… dia bukan kekasihmu?”

Aku mengnagguk.

“Kalau dia bukan kekasihmu, berarti…”

“Aku belum punya kekasih, Kim Myungsoo-ssi~” kataku gemas.

“Jadi?”

“Jadi apa?”

“Kau… mau menjadi kekasihku?”

Aku mengangguk pelan. “Ne.”

@@@@@

“Ya! Kenapa kau mengedit tulisanku, eoh!? Harusnya, di bagian akhir cerita, kau yang menyatakan cinta padaku!” protes Myungsoo usai membaca ulang naskahnya, memastikan naskah itu layak untuk ia bawa ke redaksi majalah remaja yang mengontraknya sebagai penulis untuk sebuah rubrik.

Aku yang saat itu sedang sibuk menyiapkan sarapan, menoleh ke arahnya yang sedang duduk di meja makan sambil memegang naskah cerpen yang telah aku edit semalam. “Aku hanya ingin membuat tulisanmu sesuai dengan aslinya,” jawabku tanpa nada bersalah.

Semalam aku memang mengedit naskah ceritanya. Menukar posisi kami sesuai dengan kejadian aslinya, bukan posisi hasil imajinasi Myungsoo yang ingin memutarbalikkan fakta.

Mwo? Hei! Kau tidak bisa seperti itu mengedit tulisanku.”

“Memang kenapa? Kau tidak mau pembaca tahu seperti apa dirimu ketika SMA, eoh!? Pecinta diam-diam!?” ledekku. Aku berjalan menghampirinya, meletakkan roti panggang selai stroberi di hadapannya, kemudian duduk di bangku yang berhadapan dengannya.

“Bukan begitu maksudku. Tapi—Aish! Sudahlah! Aku sudah tidak punya waktu untuk mengeditnya kembali,” gerutunya. Ia meletakkan naskah itu di atas tas hitam yang ia letakkan di bangku kosong di sebelahnya, lantas tangan kanannya bergerak menyentuh roti panggang di depannya. Memakan sarapan itu dengan terpaksa. Aigo.

“Hei! Mianhae, aku tidak bermaksud untuk—”

“Sudahlah. Tidak usah dibahas. Aku mau sarapan.”

Aku melihatnya masih menikmati sarapan dengan mood yang tidak baik. Merasa bersalah karena telah mengubah naskahnya seenak jidat. “Kau yakin? Aku masih menyimpan file naskah aslinya. Kau bisa mem-print cerita hasil imajinasimu kalau kau mau. Yang itu, biar aku simpan saja.”

“Tidak usah!”

“Yakin?”

Ne.”

“Tidak malu kalau pembacamu tahu kelakuanmu ketika SMA?”

“Tidak. Biar saja mereka tahu kalau aku seperti itu,” jawabnya datar.

Aku menatapnya heran. “Ha? Kenapa tiba-tiba berubah pikiran?”

Lelaki itu meletakkan roti yang dipegangnya di atas piring, kemudian menatapku lekat. “Setelah aku pikir, sepertinya memang lebih baik jika cerita ini tertulis sesuai dengan aslinya. Tidak masalah kalau mereka tahu dulu aku mencintaimu secara diam-diam.”

“Kenapa kau berkata seperti itu?”

“Agar mereka tahu seperti apa caraku mencintaimu.”

Aku berusaha menahan bibirku untuk tidak tersenyum, tapi… aku gagal. Ucapan cheesy-nya yang masuk ke telingaku sangat berhasil mempengaruhi syaraf-syaraf diotakku sehingga menampilkan sebentuk bulan sabit di bibirku. Sejujurnya, memang itu tujuanku mengubah naskah ceritanya. Agar dia—sekali lagi—mengakui bahwa dia mencintaiku.

And if you are falling in love with someone right now, let her/him know it. Don’t ever let someone do what should you do for her/him.

-THE END\(^O^)/-

Anditia Nurul ©2014

-Do not repost/reblog without my permission-

-Do not claim this as yours-

-Also published on my personal blog (Noeville.wordpress.com) & High School Fanfiction-

Iya. Saya tahu quote-nya gaje -__-v

Dan…, seberapa banyak dari kalian yang bingung dengan plot FF ini?

Tolong jangan bilang kalian semua bingung dengan plot-nya -___-v

79 thoughts on “THE SILENT LOVER(S)

  1. aigoo author jjang deh pokoknya ,aku paham kok thor sama plotnya,akunya gak kepikiran kalau endingnya bkal romance gini aku kira bkalan sad ,benerbener gak ketebak alurnya,fellnya dapet bgt lgi,bhsanya mudah dimengerti lagi,pokoknya jjang banget deh..next ff sangat ditunggu thor..fighting!

  2. “Yo~ Myungie- ya , what’s up?”
    Myungsoo akan berpikir kalau aku adalah rapper
    tersesat..” ini daebak bgt bikin ngakak’y..

    Bagus bgt thor cerita’y.. aq ngerti koq.. ada lucu’y, sedih’y, dan happy d akhir cerita.. jjang bgt dh author.. d tggu karya selanjut’y^^

  3. Keren ff nya, ganyangka trnyata yg diem2 cinta tuh myung Kkk~
    Lucu ngeliat karakter myungzy d sni.. D tunggu next ff nya thor🙂

  4. Authoor ……gemes deh bacanyaaa …judulnya sama kaya kisahku …tp ending dan konfliknya gk sama ..huuh ..klo di sini si myung yg suka diem” ..tp klo aku y akuny yg suka diem” ..dan mmutuskan untuk menyerah(gk berhasil” dr dulu) …intinyaa ni crita bner” kereeen …pokoknya aku suka ..klo ada kata” lebih dr suka dan kereen ..psti aku ketik di sini ..tp krna aku gk tau ada kata” itu ato gk ..jd author definisikan sendiri lah yaa …eh thor ..klo udh sukses, buat kumpulan cerpen aja yg castnya myungzy😀 + novelnya jg ..pasti lariss ..hihi

  5. Kereen..jd trnyta myung ni seorng penulis,,yg sdg buat crita ttg mrk b‘2..
    kukira bnran suzy ny yg stalker..trnyta myung..kkk ^_^
    next story..

  6. ternayata myungpa yg jd silent loversnya hehe
    gak bingung kok thor…tp lucu aja bayangin myungpa yg tiba2 nangis pas di backstage😀
    ditunggu ff suzy lainnya ^^

  7. kya.. aku baru baca ff myungzy yg ini masa
    keren banget thor.. joha..
    myungzy ternyata suami istri ya.. semacem cerita dalam cerita.. xD
    ditunggu ff myungzy yg lain ya thor..

  8. keren banget thor sumpah..
    seneng banget..
    gara gara ff ini jadi falling in love sama myungsoo..
    gaketebak endingnya, daebak..
    keren.titik.
    lope lope author..

  9. daebak!!! awesome!!! sesuatu bingitz!!! emmm, jadi ide author sebenarnya yg jadi silent lovers itu Myung ato Suzy??? (baca sambil ngantuk)

  10. ohh god,, ceritanya keren banget,,
    feelnya dapet apalagi ada film favorite aq nonggol,,, joha,,
    tapi paz bayangin myung nangis,, bener2 gak nahan,, cheesy bgt,, wkwkwk

  11. ternyata ehh ternyata, itu semua cerita. alurnya diluar dugaan. bukan suzy yg jadi stalker, tapi myungsoo kkk. “A little crazy thing called love” jadinya flashback sama mantan pacarku dulu(mario maurer)*plak.

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s