[Chapter 1] 2050

2050

“When you’re not a human..”

by Shinyoung

Main Cast: Kim Myungsoo & Son Naeun || Support Cast: Infinite & Apink || Genre: Fantasy, Angst, Romance || Length: Chapter 1/? || Rating: || Credit Poster: iheartpanda || Desclaimer: Official written by me. The cast belongs to God. No copy-paste.

Chapter 1  Who is She?

Teaser

oOo

Veloza Land, 2050

Para Robolars itu melangkah menuju ke arah dimana barang-barang yang dibutuhkan para Faylars. Para Faylars sebenarnya sudah memesan para Robolars untuk mengambil barang-barang yang dibutuhkan mereka. Para Robolars yang awalnya diciptakan untuk mencegah ketamakan para penguasa Veloza Land – Ownlars – kini hanya bekerja untuk para Faylars. Veloza Land yang didirikan oleh seorang laki-laki bernama Kim Junmyeon atau Suho, kini sudah berkembang pesat menjadi bagian dunia paling moderen.

Dunia tahun 2050 dibagi menjadi 6 bagian, yang masing-masing setiap daerahnya diberi nama dan dikuasai oleh 2 orang. Artinya ada 12 orang penguasa dunia. Kedua belas orang tersebut termasuk orang paling kaya di dunia. Karena itu, Kim Junmyeon alias orang yang paling kaya diantara ke-12 orang tersebut, menciptakan para ‘Robolars’ yang pada akhirnya hanya menjadi para robot-robot yang diterlantarkan.

Di masa ini, 6 bagian itu mempunyai namanya masing-masing yaitu, yang pertama adalah Veloza Land.

Veloza Land dikuasai oleh 2 orang yang memiliki bagiannya masing-masing. Yaitu, Kim Junmyeon dan yang kedua adalah Do Kyungsoo. Do Kyungsoo adalah seorang laki-laki dengan tinggi yang tidak sampai 180 cm. Ia memiliki dua mata yang cukup besar, sehingga orang-orang terkadang menganggapnya cukup lucu. Laki-laki itu sebenarnya lebih suka jika ia dipanggil dengan DO karena nama itu adalah pemberian orang tuanya.

Bagian dunia yang kedua adalah Revelto Land.

Revelto Land dikuasai oleh 2 orang yaitu, Park Chanyeol dan Wu Yifan. Jangan salah, Wu Yifan sebenarnya lebih suka dipanggil dengan nama Baratnya yaitu, Kris. Laki-laki itu mempunyai tinggi sekitar 187 cm. Dengan ketinggian seperti itu, terkadang membuat orang-orang cukup iri. Begitu pula dengan Park Chanyeol yang memiliki tinggi 185 cm. Mereka berdua memiliki Revelto Land yang terkenal dengan bunga mawarnya. Bagian dunia itu mempunyai sekitar 5000 hektar taman mawar. Sehingga, semua orang merasa bagian dunia itu sangat romantis.

Bagian dunia yang ketiga adalah Sevolta Land.

Sevolta Land yang dikuasai oleh kedua laki-laki dengan wajah muda, Oh Sehun dan Xi Luhan. Oh Sehun dan Xi Luhan yang masih berumur sekitar 25 tahun itu, merasa sangat hebat. Lagipula, orang tua merekalah yang menyebabkan mereka menjadi orang yang sangat kaya. Termasuk Xi Luhan yang orang tuanya memiliki daerah perumahan. Juga, Sevolta Land adalah bagian dunia yang paling berteknologi. Semua pekerjaan terasa mudah. Siapa yang tidak suka tinggal di Sevolta Land? Tapi, untuk tinggal disana, seseorang harus memiliki keahlian untuk meningkatkan teknologi di Sevolta Land.

Bagian dunia yang keempat adalah Galazata Land.

Galazata Land yang dikuasai oleh Kim Jongin atau sering dipanggil Kai dan Hwang Ji Tao atau Edison Hwang. Namun, walaupun Tao memiliki nama panggilan Edison Hwang, ia tidak mau dipanggil seperti itu. Ia membenci nama panggilan itu, ia lebih menyukainya jika seseorang tidak memanggilnya seperti itu. Sedangkan Kim Jongin, laki-laki dengan kulit cukup hitam itu lebih suka dipanggil Kai. Yup, kedua laki-laki itu tentu saja memiliki bagian dunia paling banyak makanan. Bagian dunia itu, dapat memproduksi makanan sebanyak yang dibutuhkan semua orang di dunia. Bagaimana bisa? Alat-alat tentu membantu mereka.

Bagian dunia yang kelima adalah Champgals Land.

Champgals Land didirikan dan dikuasai oleh Byun Baekhyun dan Kim Jongdae. Mereka juga memiliki bagian dunia yang paling banyak ditinggali. Kenapa? Karena Champgals memiliki pemandangan yang luar biasa indahnya. Semua orang menyukai itu bukan? Tentu saja. Bangun di pagi hari, dengan matahari terbit di depan mata. Semua itu tentu saja bisa diatur dengan teknologi yang diciptakan Baekhyun dan Jongdae. Mereka bekerja sama untuk menjadi bagian dunia yang paling dicintai oleh orang-orang di dunia.

Bagian dunia yang terakhir adalah Horvuza Land.

Horvuza Land adalah bagian dunia yang penuh dengan transportasi moderen. Tidak perlu jalan kaki, mereka cukup membeli sebuah alat transportasi yang disebut ‘Walkast’. Dengan alat transportasi tersebut, kita tinggal diam dan mengatakan kita akan kemana. Dalam hitungan detik, kita akan sampai di tempat tersebut. Namun, Walkast tidak dapat digunakan keluar dari bagian dunia. Bagian duna dengan alat-alat transportasi ini tentu saja didirikan oleh 2 orang terakhir terkaya di dunia yaitu, Kim Minseok atau Xiumin dan Jang Yixing atau Lay.

**

“Son Naeun, jangan diam saja! Kau mau bekerja atau tidak?!”

Yang dipanggil namanya segera terbangun dari lamunannya. Gadis itu, Son Naeun alias salah satu dari sekian juta Robolars. Kini, ia sedang bekerja. Bukan bekerja sebenarnya, lebih tepatnya seperti disuruh. Ketua Robolars, yaitu Lee Sungyeol tengah sibuk mengarahkan para Robolars itu untuk membawa barang-barang yang dibutuhkan oleh para Faylars.

Son Naeun segera menganggukkan kepalanya pelan sambil menatap takut ke arah Lee Sungyeol yang sudah kesal dari awal padanya. Dengan perasaan sedikit kesal, ia menaruh barang-barang yang dibawanya ke atas sebuah alat yang akan mengantarkan barang-barang itu menuju para Faylars. Gedung Faylars yang rata-rata berada di pinggir Veloza Land, membuat Kim Junmyeon menciptakan alat pengantar itu.

Sekarang, waktunya untuk Son Naeun kembali ke arah tumpukan barang-barang, menata barang-barang itu, dan membawanya kembali serta menaruhnya ke atas alat pengirim itu. Namun, saat ia tengah sibuk dengan barang-barang yang sedang ditatanya, sebuah burung kecil menghampirinya. Mencoba menyapa gadis robot itu, Son Naeun.

Tanpa perasaan bersalah, ia menaruh kembali barang-barang yang sudah ditatanya, dan diam-diam menoleh ke arah burung kecil itu. Burung kecil itu bersiul mengajaknya untuk pergi dari tempat itu. Kemudian, Naeun melirik ke arah Sungyeol. Menyadari bahwa Sungyeol sedang sibuk, ia segera berlari mengikuti burung itu.

Sesampainya mereka, di lapangan rumput yang kosong, Naeun melempar tubuhnya ke arah lapangan itu dan membuat suara seperti besi tertabrak. Gadis itu menatap ke arah burung kecil itu dan tersenyum. “Apa aku bisa berubah menjadi manusia yang sesungguhnya?”

“Tentu saja,” jawab burung kecil itu dengan siulan di akhirnya.

“Apa kau bisa?”

“Tidak. Para Faylars hanya bisa membuat bagian tubuh luarmu tidak terbuat dari besi. Namun, tetap saja di dalam tubuhmu itu terbuat dari besi yang memang dirancang khusus oleh Kim Junmyeon.”

“Eh? Benarkah?”

“Tentu saja. Lalu, kau adalah robot paling istimewa diantara yang lain. Kau dirancang oleh Kim Junmyeon sendiri dan benar-benar menyerupai seorang gadis asli. Coba, kau lihat teman-temanmu yang lain. Mereka semua tampak seperti robot bukan?”

Mendengar pertanyaan itu, Naeun berpikir sejenak. Kemudian gadis itu membayangkan wajah-wajah robot lain yang tak pernah mau berteman dengannya. Akhirnya, ia memutuskan bahwa burung kecil itu benar. “Oke, kau memang benar, burung kecil.”

“Tapi–,” burung kecil itu berhenti kemudian ia menatap langit yang mulai gelap. Tidak biasanya di siang terik seperti ini, tiba-tiba hujan. “Oh, ada yang mencuri barang pesanan Faylars.”

“Apa?!” seru Son Naeun tidak percaya. “Tapi, itu tidak mungkin. Robolars tidak ada yang mencuri!”

Burung kecil itu menggelengkan kepalanya. “Pasti ada yang mencuri. Jika kau percaya atau tidak, biasanya hujan hanyalah para Faylars yang mengendalikannya. Tapi tenang saja, hujan ini akan hanya berlangsung 2 detik. Namun, saat hujan, sebaiknya kita bersembunyi,” kata burung kecil itu lalu bersiul beberapa kali. “Disini. Ayo masuk!”

Naeun menganggukkan kepalanya kemudian mengikuti burung itu masuk ke dalam sebuah rumah kecil yang mirip dibuat oleh orang-orang kutub. Bulat bundar. Hanya saja, ini terbuat dari besi dan tampak sangat kuat. Kalaupun hujannya sangat mengerikan, sepertinya tidak akan mungkin bagi rumah ini untuk rusak.

“Hei, kenapa kau berbicara denganku?” tanya Naeun akhirnya ketika mereka sudah duduk di tengah-tengah rumah kecil itu. Gadis itu menatap burung kecil itu sedikit waspada.

Lagipula, Son Naeun adalah sebuah robot yang terlalu sempurna. Jika, Naeun mencoba mengajak sebuah Robolars bermain, mereka akan segera pergi menjauhi Naeun dan menyibukkan diri masing-masing. Jadi, tidak mungkin jika sebuah burung mendekatinya tiba-tiba dan mengajaknya mengobrol.

Pikiran Naeun benar-benar teracak. Ia tidak tahu, harus apa dan ia mencoba berpikir bagaimana cara terbaiknya untuk kabur dari burung kecil itu jika burung kecil itu ternyata adalah sebuah jelmaan atau siluman.

“Jangan berpikiran macam-macam tentangku,” kemudian burung itu berubah menjadi seorang gadis. “Aku hanyalah Faylars. Namaku, Kim Namjoo. Salam kenal.” Gadis itu membungkukkan tubuhnya ke arah Naeun.

Melihat itu, cepat-cepat Naeun membungkukkan tubuhnya juga. Ia merasa sangat malu karena sempat berpikiran yang macam-macam tentang burung kecil itu – bukan, Kim Namjoo. Kim Namjoo tersenyum ke arah Naeun kemudian ia duduk lagi di tengah-tengah rumah kecil itu. Lalu ia menatap Naeun yang masih dengan pandangan bodohnya.

“Heol. Duduklah, Son Naeun.”

Naeun tersadar dari lamunannya, kemudian ia mengucek matanya. “Eh–Eh, iya.”

“Jadi, kau benar-benar mau aku ubah menjadi manusia?”

“Hm, boleh juga. Tapi, dengan apa aku harus membayar?” tanya Naeun cepat. Sebenarnya, bagi para Robolars  yang ingin berubah menjadi manusia sungguhan, harus membayar beberapa kepada seorang Faylars.

Kim Namjoo menggelengkan kepalanya. “Tidak usah. Aku hanya ingin membantumu.”

“Apa kau serius?” tanya Naeun sambil menatap Namjoo sedikit waspada. Kini, ia takut jika gadis itu nanti menagihnya hutang karena belum membayar setelah diubah menjadi manusia sungguhan.

“Tentu saja.”

“Eh, yasudah,” kata Naeun. “Butuh berapa lama?”

“Tidak lama.”

Namjoo memetikkan jarinya dan dalam sepersekian detik, tubuh Naeun bukanlah besi lagi. Kini tinggal di dalam tubuhnya lah yang masih terbuat dari besi. Tentu saja, ia masih bisa diprogram oleh Kim Junmyeon. Namun, jika ia melepaskan ‘Desktor’ – bagian tubuhnya yang paling penting –, Junmyeon tidak dapat memprogramnya lagi.

“Jangan berpikir untuk melepas ‘Desktor’-mu itu. Jika kau melepasnya, maka kau akan mati.”

Naeun menganggukkan kepalanya. Dia juga takut, jika ia mati hanya karena ia melepas Dekstor-nya. Naeun yang ingin membuka mulutnya untuk bertanya sebelum akhirnya badai itu muncul dan sangat mengerikan. Bagus, ternyata Naeun benar. Badai itu membuat rumah kecil itu terbang. Namun, di dalam, Naeun dan Namjoo juga barang-barang lain tidak terguncang. Mereka hanya meerasakan bahwa rumah mereka masih di tempatnya.

Teknologi Faylars terlalu hebat, itu lah yang ada di pikiran Naeun setelah badai berhenti.

“Tunggu, apa orang lain bisa memprogramku?” tanya Naeun sebelum akhirnya Namjoo hendak keluar dari rumah kecil itu karena badai sudah berhenti dan langit berubah menjadi sangat cerah.

Namjoo membalikkan tubuhnya kemudian ia mengangkat kedua bahunya. “Tentu saja bisa, kalau kau memberi tahu mereka caranya.”

“Apa? Aku bahkan tidak tahu cara memprogram diriku sendiri,” kata Naeun sambil menatap heran ke arah Namjoo. “Jadi, itu tidak mungkin jika orang lain akan memprogramku bukan?”

“Itu–Itu terserah kau saja,” jawab Namjoo lalu keluar dari rumah kecil itu. “Ayo, apa kau tidak akan keluar dari sana?” tanya Namjoo saat melihat wajah Naeun yang masih bingung di dalam sana.

“Eh, iya!”

**

Seoul, 2014

Entah, apa yang dipikirkan oleh Kim Myungsoo daritadi, hasil jepretannya selalu salah fokus dan terkadang juga blur sedikit. Terkadang ia salah mengatur terang-gelap nya. Sampai-sampai model yang dipekerjakannya sedikit kesal juga.

“Ya! Kim Myungsoo!”

Kim Myungsoo berhenti mengutak-ngatik kameranya. Kemudian ia menoleh ke arah model–Lee Jooyeon–yang dipekerjakannya. Gadis yang lebih tua 6 tahun darinya itu sudah kesal menjadi-jadi. Lee Jooyeon atau yang sering dipanggil Jupal itu akhirnya berdiri di depan Myungsoo sambil melipat kedua tangannya.

“Kau pikir aku tidak lelah–.”

Noona, berhenti saja. Aku sedang banyak pikiran.”

“Apa?!” serunya sambil melebarkan matanya. “Ya! Kau–.”

“Sungjong-ah, berikan dia amplop yang tadi aku berikan padamu tadi pagi,” ujar Myungsoo sambil menatap bosan ke arah sekretarisnya. Laki-laki yang berwajah masih muda itu menganggukkan kepalanya.

Cepat-cepat, Sungjong memberikan amplop itu kepada Jupal. Jupal menerimanya dengan tatapan kesal. “Itu, gajimu dari Myungsoo hyung.”

“Ya! Kim Myungsoo. Aku pastikan kau tidak akan pernah bertemu model sebagus diriku!” Gadis itu melangkah pergi meninggalkan tempat pemotretan kemudian ia langsung masuk ke dalam mobilnya. Mobil itu segera melaju cepat meninggalkan tempat itu.

Myungsoo hanya tersenyum kecil kemudian ia menoleh ke arah rekan-rekannya. “Kita kembali saja ke studio. Tidak ada gunanya, kita bisa cari model baru.”

“Tapi–.”

“Ayolah, Sungjong-a.

“Baiklah, hyung,” jawab Sungjong dengan terpaksa kemudian ikut masuk ke dalam mobil Myungsoo. Sedangkan rekan-rekannya sibuk membereskan alat-alat, Myungsoo sudah menjalankan mobilnya duluan.

Sungjong akhirnya menyalakan musik. “Tapi, hyung, apa kau punya masalah?”

“Entahlah. Aku tidak yakin,” katanya sambil terus fokus menyetir. “Aku rasa kita bisa mencari model lain. Jupal nuna, biarkan saja dia. Dia pasti akan meminta untuk menjadi modelku lagi.”

“Kau yakin, hyung?”

“Kita hitung saja 2 hari ke depan.”

**

2 hari kemudian..

“Ya! Kim Myungsoo!!”

Myungsoo tersenyum kemudian ia membalikkan kursinya. Menatap gadis itu sambil menjentikkan jarinya. “Sudah kuduga, kau pasti akan kembali, Nuna.”

“Kau gila?! Apa kau pikir mencari pekerjaan itu mudah?!”

Tak lama kemudian Sungjong masuk ke dalam ruangan kerja Myungsoo dan terkejut bukan main. “Eh?!” serunya tak tertahankan ketika melihat Jupal ada disana. Ia tidak bisa menahan keterkejutannya ketika melihat Jupal.

Jupal menoleh ke belakang. Kemudian ia menatap sinis ke arah Sungjong. “Ada apa?” ujarnya kesal. Lalu, ia kembali menatap Myungsoo. “Cepat! Pekerjakan aku lagi!” teriak Jupal tak sabar.

Alis Myungsoo mengangkat. “Disini aku yang membayarmu, tapi aku tidak membutuhkan model jutek sepertimu, Nuna,” jawab Myungsoo sambil tersenyum. Kemudian ia melirik ke arah Sungjong yang masih diam disana menguping. “Sungjong, jangan menguping. Cepat keluar.”

“Eh–Iya, hyung.”

Sungjong pun melangkah keluar dari sana. Suasana ruang kerja Myungsoo mendadak hening. Akhirnya Myungsoo bangkit dari kursinya dan duduk di sofanya. Lalu ia menatap Jupal yang masih berdiri disana. “Hei, Nuna, tunggu apa lagi? Cepat duduk disini.”

Merasa kesal, akhirnya Jupal menoleh kemudian ia menatap sofa yang di duduki Myungsoo. Akhirnya, Jupal duduk di seberang Myungsoo. Namun, tiba-tiba saja ia tersenyum kecil tanpa terlihat oleh Myungsoo.

“Myungsoo. Aku sangat butuh pekerjaan,” kata Jupal sambil menatap sedih ke arah Myungsoo yang ada dihadapannya. Gadis itu kemudian mendekati wajah Myungsoo. “Aku akan melakukan apapun, untuk tetap menjadi modelmu.”

Myungsoo tersenyum. Kemudian ia menoleh ke arah Jupal. “Kau mau?”

“Tentu saja.”

Myungsoo bangkit kemudian ia melangkah menuju jendela ruang kerjanya itu. Dan memperhatikan keadaan kota yang dapat dilihatnya dari sana. Perlahan, Jupal membuka kancing kemejanya. Kemudian ia melepas kemejanya. Ia mendekati Myungsoo, kemudian dari belakang ia memeluk Myungsoo.

Karena terkejut, Myungsoo mendorong Jupal. Tak kuat menahan bobotnya, Jupal terjatuh. Cepat-cepat Myungsoo membalikkan tubuhnya dan terkejut ketika melihat Jupal tanpa kemeja.

Nuna! Apa yang kau lakukan?! Kel–Keluar dari ruang kerjaku!” Seru Myungsoo.

Jupal hanya bisa tersenyum kemudian ia merenggut kemejanya dan memakaikannya lagi. Lalu ia keluar dari sana. Meninggalkan Myungsoo yang masih tak percaya dengan apa yang terjadi pada dirinya.

Michyeoseo! Dia pasti sudah gila! Benar-benar seperti–. Ah sudahlah.”

Tak lama, Sungjong masuk ke dalam. Kemudian ia menatap Myungsoo yang tampak frustrasi. “Hyung! Ada apa?!”

“Jupal! Jangan biarkan dia masuk lagi ke dalam rumahku atau studio-ku. Dia–Dia hampir saja menggodaku.”

“Eh?–Baiklah.”

Sungjong melangkah keluar dari sana sambil menatap Myungsoo yang masih kesal itu. Belum sempat ia menutup pintu ruang kerja Myungsoo, seorang laki-laki dan perempuan menahannya. Sungjong menatap kedua orang itu.

“Oh, masuk saja. Dia sedang frustrasi.”

“Eh?”

“Dia baru saja digoda seorang perempuan.”

“Oh, begitu. Terimakasih, Sungjong-a,” ujar yang perempuan. Kedua orang itu masuk ke dalam kemudian duduk di sofa.

Myungsoo mengangkat kepalanya. Dilihatnya dua orang itu lalu ia menghela nafas panjang. “Ah, kalian lagi. Ada apa?”

“Kau tidak suka jika aku datang? Kita sahabatmu, Myungsoo-ya.”

“Oke, Chorong nuna. Sekarang ada apa lagi? Apa kalian tidak diberitahu oleh Sungjong–.”

Laki-laki yang duduk disamping gadis bernama Chorong itu memotong perkataan Myungsoo. “Aku sudah tau. Kami lebih tepatnya.”

“Bagus jika kau tau, Nam Woohyun.”

“Ya! Pakailah hyung. Walaupun dia lebih tua 1 tahun. Kau saja menggunakan nuna padaku.”

Myungsoo menganggukkan kepalanya. Kemudian ia berdiri mengambil berkas-berkas yang ada di mejanya. Lalu, ia memberikannya pada Chorong. Chorong mengambil berkas itu.

“Apa ini?” tanya Chorong.

“Daftar model-model yang ada di Korea. Menurutmu, mana diantara mereka yang sesuai dengan kriteria model untukku?”

Dengan cepat dan teliti, Chorong membalik-balikkan halaman berkas itu. Kemudian ia menutupnya dan meletakkannya kembali di atas meja yang memisahkan Myungsoo dan Chorong, Woohyun.

“Aku pikir tidak ada. Ada apa dengan Jupal unni?”

“Dia menyebalkan. Dia terus-terus marah padaku. Dan, akhir-akhir ini aku terpikirkan hal itu lagi.”

“Apa?” tanya Woohyun.

Chorong menatap Myungsoo. “Dia belum tahu. Ceritakan saja!”

Walaupun sempat berpikir sejenak. Akhirnya Myungsoo menatap Woohyun dan menganggukkan kepalanya. “Aku sempat mimpi. Namun, di mimpi itu, aku mencoba menampar pipiku, dan aku tidak terbangun.”

Mata Woohyun membulat. “Artinya kau tengah berada di alam lain,” ujar Woohyun sambil menjentikkan jarinya.

“Apa kau gila?”

“Hei! Aku pernah mendengar orang-orang yang mengalami hal itu.”

Kepala Myungsoo mengangkat ke atas kemudian ia menatap dinding atap ruang kerjanya. Lalu ia membayangkan mimpi itu lagi. “Tidak mungkin, aku berada di alam lain. Jika aku tidak terbangun–.”

“Kau mati,” jawab Woohyun.

Mata Chorong melebar kemudian ia menatap Woohyun. Sedangkan Myungsoo dengan cepat menatap Woohyun tajam. “Mati?!” seru Myungsoo.

“Tentu! Makanya ceritakan dulu padaku!”

“Aish. Intinya, aku bertemu seorang gadis cantik. Dia mengatakan bahwa dia datang dari masa depan. Setelah itu, aku lupa lagi.”

Kenyataannya, Myungsoo tidak lupa tentang mimpi itu. Di mimpi itu ia melakukan hal intim dengan gadis itu. Dan dia malu untuk menceritakannya pada Woohyun walaupun sebenarnya Chorong sudah tahu.

“Setelah itu, dia berbuat mesum dengan gadis itu.”

Woohyun melotot ketika Chorong melanjutkan kata-kata Myungsoo. Sama halnya dengan Woohyun, Myungsoo ikut melotot ke arah Chorong. Sedangkan Chorong, ia hanya tersenyum kecil sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

“Artinya, kau memang berpikiran mesum,” simpul Woohyun.

“Brengsek!”

**

Veloza Land, 2050

“Son Naeun! Kau dipanggil oleh Ketua!”

Naeun menganggukkan kepalanya kemudian mendengus kecil. Disaat-saat santainya seperti ini, seharusnya ia berada di dalam rumahnya untuk menonton televisi dan menikmati hiburan. Makan sepuasnya. Apalagi, ia sudah menerima gaji yang bertumpuk-tumpuk yang belum ia gunakan setelah ia bekerja kesana-kemari di Veloza Land.

“Oh, mengganggu saja,” ujar Naeun sambil menekan bel rumah Sungyeol yang memang tak jauh dari rumahnya. Akhirnya pintu itu terbuka sendiri dan Naeun langsung masuk begitu saja. Pasti, Sungyeol sudah melihat dirinya dari kamera CCTV yang terpasang di dekat pintu rumah Sungyeol.

Kemudian, Naeun melangkah menuju ruang tengah rumah Sungyeol. Disana Sungyeol tengah menonton televisi bersama kekasihnya yang juga Robolars – Hong Yookyung. Sungyeol menoleh ke arah Naeun, dan tersenyum.

“Duduk disana, Naeun.”

Sungyeol menekan suatu tombol di layar transparan miliknya dan munculah sebuah kursi di dekat sofa Sungyeol. Naeun menganggukkan kepalanya kemudian ia melangkah ke sana dan duduk manis.

“Ada apa, sunbaenim?”

“Hari ini, kau harus bekerja ekstra untuk mengirimkan barang-barang ekstra pada para Faylars.”

“Apa–.”

“Tentu aku akan mengirimkan 3 kali lipat untuk gajimu itu.”

“Terimakasih. Kalau begitu aku akan keluar,” ujar Naeun sambil bangkit dan membungkuk sedikit ke arah Sungyeol dan Yookyung. Lalu, gadis itu keluar dari rumah Sungyeol.

Namun, baru saja hendak melangkah menuju tempat kerjanya. Burung kecil menghampirinya. Naeun menatap burung itu dan tersenyum ketika ia menyadari bahwa burung itu adalah Namjoo.

“Ada apa?” tanya Naeun sambil melangkah.

“Jangan ke sana!”

Naeun berhenti melangkah kemudian ia menatap Namjoo bingung. “Ada apa?” tanya Naeun lagi. Namjoo terbang menjauhi Naeun, lalu Naeun berlari mengejarnya. Kemudian, Namjoo berhenti di suatu tempat yang kosong dan tak ada siapapun disana.

“Sungyeol menjebakmu. Suho pasti akan menghancurkanmu!”

“Eh?!”

Namjoo berubah menjadi tubuh aslinya. Kemudian ia menjentikkan jarinya dan munculah sebuah alat kecil dengan penuh tombol. “Bawa ini dan tekan tombol mana saja, yang penting kau kembali ke masa lalu!”

“Apa ini? Kenapa Suho mau menghancurkanku?!” tanya Naeun bingung.

“Itu ‘Demontel’! Suho mau menghancurkan seluruh setengah Robolars. Robolars yang sudah berubah menjadi manusia tidak akan dibunuh. Tapi kau?! Kau masih setengah Robolars. Tentu saja kau akan dibunuh. Cepat! Tekan tombol merah itu. Kau akan kembali ke masa lalu Veloza Land.”

“Masa lalu Veloza Land bukankah Korea, China, Jepang dan sekitarnya?”

“Tentu saja. Kalau bisa, nanti aku juga akan menyusulmu. Aku akan membantumu disana. Cepat tekan. Jika kau sudah sampai di tempatmu. Maka hubungi aku dengan menekan tombol yang kuning. Jika alatnya hilang, gunakan layar transparan milikmu dan hubungi aku. Selanjutnya nanti aku jelaskan.”

Naeun menganggukkan kepalanya kemudian tanpa ragu, Naeun menekan tombol merah itu. Dan ia menghilang dari hadapan Namjoo. Namjoo menghela nafas lega. “Maafkan aku, Ayah. Aku tidak mau kau membunuh Naeun unni.”

Tak lama kemudian, Sungyeol berteriak kesal. Teriakannya tak jauh dari tempat Namjoo berdiri. Cepat-cepat Namjoo berubah menjadi burung. Tak ada yang tahu, bahwa burung kecil itu adalah Faylars.

Namjoo pun terbang mendekati Sungyeol. Sungyeol tampak marah, disampingnya Yookyung mencoba menahan amarah Sungyeol. “Cepat! Cari Son Naeun dan para setengah Robolars lainnya! Jika ketemu! Hancurkan dia!”

“Baiklah, Ketua!”

Para Robolars yang belum menjadi manusia, segera pergi ke seluruh arah dan mencari Naeun. Namjoo dengan cepat terbang pergi. “Tinggal Bomi unni! Aku harus membantunya juga!”

Setelah itu, Namjoo bertemu dengan seorang gadis yang tampak ketakutan. Gadis itu juga setengah Robolars yang belum dihancurkan. Seperti yang ia lakukan pada Naeun, Namjoo memberikan alat Demontel kepada Bomi. Lalu, Bomi menghilang dari pandangan Namjoo.

“Ayah, maafkan aku sekali lagi. Kau bisa bunuh setengah robolars yang lainnya.”

Tentu saja, hanya Namjoo seorang yang bisa menciptakan alat Demontel itu. Dan tak ada yang tahu jika gadis itu bisa menciptakan alat itu. Dan tak ada yang tahu jika sekarang Naeun sudah berada jauh dari tahun 2050.

**

Seoul, 2014

“Ack!”

Naeun berteriak ketika ia sampai dengan keadaan terjatuh. Kemudian, ia segera mengusap kedua kepalanya. Namun, ia terkejut ketika di tangannya tidak ada lagi Demontal itu.

“Ah! Sial, dimana Demontal itu?!”

Namun, sebelum ia mulai mencari. Ia mengayunkan tangannya dan munculah layar transparan yang disebut ‘Screvisible’. Screvisible itu disentuhnya. Kemudian Naeun menekan sebuah tombol.

Son Naeun. Kau berada di Seoul, Korea Selatan. Tahun 2014.

“Apa?! 2014! Berarti aku harus mengganti pakaianku ini. Sial benar, Kim Junmyeon itu. Jika saja dia tidak membunuhku, maka aku tidak akan sepert ini.”

Naeun kemudian menyentuh pakaiannya yang dari masa depan. Lalu Screvisible itu menunjukkan pakaian yang ada di tahun 2014. Naeun mengusap layar itu, dan berbagai pakaian modis muncul. Sebenarnya, Naeun langsung terprogram menjadi manusia yang layak seperti di tahun 2014.

Pakaian-pakaian itu modis semua. Sampai akhirnya, ia memilih sebuah kemeja kotak-kotak biru dengan lengan tergulung. Ia menekan kemeja itu dan segera ia langsung memakai kemeja itu. Setelah itu, ia memilih sebuah jeans biru yang panjang. Lalu ia memasukkan kemejanya ke dalam jeans miliknya.

“Heol. Apa lagi ini? Aku harus menyukai kpop?”

Son Naeun. Kau akan diprogram untuk menyukai kpop. Silahkan pilih salah satu.”

Naeun menekan sebuah gambar yang bernamakan ‘BEAST’ dan juga sebuah gambar grup perempuan yang bernamakan ‘4Minute’.

Son Naeun. Kau sudah terprogram untuk menyukai grup yang bernamakan BEAST dan 4Minute. Dalam hitungan detik, seluruh sejarah tentang BEAST dan 4Minute akan masuk ke dalam program-mu.

Benar, dalam hitungan detik. Semua tentang BEAST dan 4Minute masuk ke dalam program Naeun. Dan sekarang Naeun merasa cukup pusing dengan sesuatu yang baru saja masuk ke dalam pikirannya itu.

Son Naeun?!

Naeun mengangkat kepalanya. “Oh, Hai! Namjoo. Aku baru saja menyesuaikan diriku.”

Baguslah kalau begitu. Mulai sekarang hanya aku yang bisa memprogram dirimu. Aku baru saja menghapus ingatan Suho tentang dirimu. Juga kau tidak akan pernah dicari oleh seluruh manusia dari tahun 2050. Baik para Robolars dan Faylars atau juga para penguasa. Dan maafkan aku.

Naeun sedikit terkejut ketika ia sudah benar-benar dilupakan dari tahun 2050. Kemudian ia sedikit kesal menatap Namjoo. “Tapi, bagaimana aku kembali ke tahun 2050?”

Dimana Demontal milikmu?”

“Entahlah. Aku menghilangkannya.”

Aish! Butuh waktu lama untuk membuat alat itu. Masalahnya adalah, aku hanya membuatkannya untukmu dan satu setengah Robolars yang lain.

Naeun melebarkan matanya. “Eh? Siapa?”

Yoon Bomi. Kau mengenalnya bukan?

Naeun menganggukkan kepalanya. “Aku sebenarnya tidak mengenalnya. Hanya tau saja dia juga setengah Robolars yang bekerja untuk Faylars.”

Kita harus menutup sambungan ini. Sebentar lagi pemilik rumah ini akan datang.

“Lalu aku bagaimana?!”

Ceritakan saja padanya!

Sambungan yang bisa dibilang video call itu segera terputus. Dan Naeun hanya bisa menghela nafas panjang. Kemudian ia mencoba berpikir apa yang harus dilakukannya jika ia bertemu si pemilik rumah.

**

“Sungjong, bisa tolong bawakan barang-barangku masuk ke dalam?”

Sungjong mengangggukkan kepalanya. Kemudian Myungsoo mematikan mesin mobilnya dan ia membuka bagasi mobilnya. Tanpa ragu, Sungjong mengambil kardus yang paling atas. Sedangkan Myungsoo menambil 2 kardus yang lain. Kemudian Myungsoo menutup pintu bagasi mobilnya.

“Sungjong, lewat sini saja. Jangan lewat depan. Pintu rumahku sedikit rusak. Aku belum membenarkannya.”

“Oke,” jawab Sungjong sambil mengikuti Myungsoo. Mereka pun meletakkan dua kardus tersebut. Kemudian, Sungjong membungkukkan tubuhnya ke arah Myungsoo dan pamit pulang.

Setelah membenahkan isi kardus-kardus tersebut, Myungsoo mengambil ponselnya dan menelpon Woohyun yang sebenarnya tanpa ditelpon mereka bisa bertemu antar jendela.

“Hei, Woohyun hyung. Aku mau mengundangmu untuk makan malam di rumahku. Ajak Chorong nuna juga.”

Woohyun tertawa di seberang sana. “Ada apa denganmu?! Baiklah jika itu maumu. Jam berapa?

“Aku mandi dulu. Setelah itu nanti aku hubungi lagi.”

Baiklah. Aku tutup teleponnya.”

Sambungan itu terputus dan Myungsoo melangkah menuju lantai dua dengan tangganya. Kemudian ia melangkah menuju kamarnya. Lalu, ia membuka pintu kamarnya sambil menguap lebar. Namun, ia segera menutup mulutnya ketika melihat seorang gadis disana.

“Kau siapa?!”

“Aku Son Naeun. Salam kenal.”

**

26 thoughts on “[Chapter 1] 2050

  1. waaaaa~ keren (y)
    Engga sabar nunggu kelanjutannya …
    publishnya jangan tanggal 1 dong min kelamaan😦 udh penasaran banget sama next chapternya ^^
    keep fighting ya thor ^^)/

  2. Huaaa Thor daebak ^_^ .
    Keren banget Ni FF .
    Naeun nya Muncul Di Kamar Myungsoo >_< .
    Jangan Lama " Ya Thor .
    penasaran Banget Ni .
    Faighting Buat FFnya Thor

  3. omegehhhh aaaaa myungeunnn *Q* ff nya keren thorrr!!!!!aku suka aku sukaaa aaaa .jadi ngebayangin ntar tahun 2050 dunia ini jd apa(?)ckk next chap ditunggu sangat /? aaaa *—*

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s