Gone [Chap 3]

Gone Teaser (3)
Tittle: Gone
Genre : Sad Romance
Type : Chaptered
Author : Park Mi-Rin
Poster Teaser : Mi-nji Art
Main Cast : Park Jiyeon “Jiyeon T-ara” , Kim Min-Seok “Xiumin Exo” , Henry Lau “Henry Super Junior”
Support Cast : Find yourself
Backsong : Jin – Gone, T-ara – Hurt, Henry – I would

selengkapnya _ Chap 1  ^ Chap 2

*preview chapter 2*
Xiumin terlihat mulai memindahkan tangan kirinya ke dadanya. Ekspresi wajahnya menampakkan ia tengah kesakitan. Sementara tangan kanannya berusaha menyeimbangkan permainan musiknya. Tapi gagal, nadanya terdengar begitu sumbang.

“Waegeoreu?” Tanya Jiyeon terlihat panik.
“Eoh?” Nafas Xiumin terdengar tidak stabil.

*Chapter 3*
“Apa terjadi sesuatu?”
Xiumin dengan cepat mengambil botol dari sakunya. Mengeluarkan beberapa biji pil dan menelannya sambil terus menekan dadanya sendiri.
“kau terdengar sesak nafas.”
Xiumin memejamkan matanya dan berusaha mengontrol dirinya. “Anyi, Gwenchana~”
Jiyeon mulai menghilangkan ekspresi kagetnya menjadi senyuman. Jiyeon bangkit meraih tasnya. Jiyeon berjalan meninggalkan Xiumin. “Aku pulang..” Jiyeon melambaikan tangannya tepat ke arah Xiumin seakan tau Xiumin tengah berdiri di arah dimana ia melambaikan tangan.

Xiumin bangkit berjalan di belakang Jiyeon hendak mengantarkan Gadis itu dengan selamat ke mobil jemputannya. Jiyeon berbalik dan mengagetkan Xiumin yang wajahnya hampir saja menyentuh wajah gadis itu. “ahh~” Xiumin mendesah pelan.
“Jangan khawatir. Aku bisa tanpa perlu mengantarku. Kembalilah..” Ucap Jiyeon.

Xiumin menatap Jiyeon yang perlahan pergi dari pandangannya dengan penuh rasa bangga. Xiumin tersadar dan cepat berlari ke arah jendela dekat piano.

“Dia benar-benar terlihat seperti gadis normal..”Puji Xiumin. Xiumin menyapu dadanya. “Biasanya Jika muncul rasanya lebih sakit dari ini, tapi kenapa tadi..? Ahh molla.. Apa reaksi obat belakangan ini membaik?”

Mata Xiumin tak pernah beralih dari Jiyeon yang tak dapat melihat bisa terlihat normal tanpa tongkat. Jiyeon memasuki mobilnya. Supir pribadinya terlihat aneh melihat ekspresi Jiyeon hari ini yang tak seperti biasanya.

“Dia tau aku tak bisa melihatnya.. Tapi dia benar-benar memperlakukanku seakan aku bisa melihat. Ini pertama kalinya..” Ucap Jiyeon membanyangkan saat Xiumin yang tak memaksa untuk mengantarnya ke mobil.

Dirumah Henry, Xiumin masih saja melamun berfikir dan terus membayangkan wajah tegar Jiyeon.

“Dulu dia adalah adik tingkatku di sanggar musik.”
Xiumin menoleh setelah mendengar suara Henry. “Dia sangat terobsesi pada piano. Dia bahkan bermain jauh lebih bagus darimu.”
“Dariku? Geunde wae? Kenapa dia terlihat begitu..” Tanya Xiumin yang begitu antusias.
“Itu sejak Sandara pergi meninggalkannya.” Potong Henry.
“Sandara? Nuguya? Apa dia?”
“hm.. Dia yang kuceritakan saat kau masih di hongkong untuk perawatan..Sandara, kakaknya Jiyeon. Dia adalah sahabatku.”
“Waeyo? Kenapa dia terlihat begitu membenci piano? Lalu kenapa tadi dia begitu menikmati saat aku memainkan lagu ini?” Ucap Xiumin meraih buku lagu.
“Itu lagu Favorite Sandara..”
“Lalu kenapa dia tak mau memainkan piano?”
“Dihari itu…”

*Flashback*
“Eonni…ayo kita pergi. Eoh?” Ucap Jiyeon memohon yang kesekian pada eonninya.
“Aku merasa sedikit .. ahh baiklah” Ucap Sandara yang terlihat memaksakan kesehatannya. “pokoknya hari ini kau harus menang! Kau mengerti? Bahkan henry! Kau harus mengalahkannya.”
“Henry Oppa? Maldo andwae!” Keluh Jiyeon. “Dia bahkan 10 tingakatan di atasku!”
“Kau mulai lagi mengeluh dengan kemampuanmu.” Omel Sandara yang tengah sibuk memakai pakaian hangatnya. “Kajja..”

Sandara pun memasuki mobil. “Eonni, Kita naik taksi saja.” Pinta Jiyeon yang mengerti keadaan Sandara.
“Aniyo.. Kalau menunggu taksi kita akan terlambat.”
“Tapi Eonni..”
Sandara menarik adiknya agar segera masuk kedalam mobil. “Eonni yakin bisa membawa mobil? Apa perlu aku menelpon supir ayah?”
“tidak usah! Kau meragukan kemampuan mengendara eonni?”
“Anyi, tapi..”
“Gwenchana~”

Jiyeon akhirnya menurut setelah berdebat panjang dengan Sandara. Diperjalanan Sandara mengenggam tangan Jiyeon yang mulai gugup dengan kompetisi piano yang akan mereka hadiri.

“Kau pasti menang..” Sandara tersenyum pada adik yang duduk dengan wajah tegang disebelahnya.
“hm..”

Ditengah perjalanan sebuah mobil terlihat tengah menerobos lampu merah dengan kecepatan tinggi. Dilain tempat sebuah Truk gandeng tengah melaju dari arah berlawanan. Tak berselang beberapa waktu mobil itu terhampas oleh truk gandeng yang bermuatan barang itu.

*braaaaak*

Sebuah hempasan terlempar ke arah mobil Jiyeon dan Sandara berhenti. Dengan sigap Sandara memalingkan tubuhnya melindungi adiknya dari pecahan kaca karna sebuah mobil terseret ke arah mereka.

*end Flashback*

“Eonni….”Teriak Jiyeon yang baru terbangun dari tidurnya di mobil saat mobil yang di tumpanginya di rem mendadak.
“Gwencahanayo?”
“Eoh? Apa yang terjadi?” Tanya Jiyeon dengan nafas yang tak karuan.
“Kurasa aku hampir menabrak seekor anjing.”
“apa baik-baik saja?”
“aku akan melihatnya..”
Jiyeon kembali menyandarkan punggungnya mencoba merilekskan tubuhnya. Ia memejamkan matanya terus terbayang kejadian kecelakaan yang menimpanya.
“Eonnii.. Saat itu aku bukanlah ketakutan pada kompetisi itu. Tapi itu rasa ketakutanku saat melawan firasat burukku.. Mian eonni..” Ucap Jiyeon yang mulai menangis.

***

“Lalu kenapa dia menjadi bu.. Maksudku tak bisa melihat lagi?” Tanya Xiumin.
“Entahlah, secara medis juga susah di jelaskan. Waktu itu mata Jiyeon terluka dan nyawa kakaknya tak bisa di selamatkan lagi, ada luka parah yang menusuk jantungnya. Jadi kedua orang tuanya memutuskan untuk mendonorkan mata Sandara pada Jiyeon. Operasi berjalan lancar, tapi entah mengapa perlahan dia tak bisa melihat apapun lagi.” Terang Henry.
Xiumin mengangguk mengerti. “Dia berusaha melimpahkan kesalahan yang dideritanya pada piano ini.” Ucap Xiumin melihat ke arah piano.
“Aku juga tak tau pasti. Sejak kejadian itu dia begitu membenci piano. Terutama piano ini.”
“Ini? Ini miliknya?”
“hm, ini hadiah pemberian Sandara.”
“Daebak.. Lalu hyung, kenapa hyung tak pernah memberiku hadiah seperti yang dilakukan kakak Jiyeon pada Jiyeon? Eoh?”
“Anak ini!!” Omel henry. “Pulanglah.. Kau tak kasian pada sekertaris Yoon yang sejak tadi berdiri menungguimu di luar?”
“biarkan saja. Aku terkadang juga kesal padanya karna dia begitu menuruti perkataan ayah.”
“lalu kenapa tidak mengatakan Kau dipecat. Bukankah itu yang biasa dikatakan para pewaris tunggal?”
“pewaris tunggal? Hyung bercanda? hyung mengejekku?”
“apa susahnya mengatakan itu? yakh! Sekertaris Yoon kau dipecat!”
“Hanya dia yang tulus peduli padaku di rumah. Dia bahkan lebih tulus dari hyung!”
“ahh, kau sudah terlalu banyak bicara hari ini. Pulanglah! Aku ingin beristirahat!” Ucap Henry memberi alasan.
“Baiklah!!” Omel Xiumin berjalan kesal meninggalkan Henry.

Henry mendekat ke jendela melihat Xiumin yang berjalan meninggalkan rumahnya.

“Kau sudah cukup besar sekarang? Kurasa aku benar-benar sudah jauh meninggalkan keluargaku.” keluh Henry. “Suatu hari.. Aku akan membebaskanmu dari rasa kesepian di rumah mengerikan itu!”

Sementara Henry berdiri di depan rumah henry menatap lusuh rumah itu. “Hyung, aku akan membawamu pulang dan berbaikkan dengan ayah..”
Sekertaris Yoon tersenyum ke arah Henry. “kau belum menyerah?”
“Sekertaris meragukanku? Aku takkan menyerah secepat itu.” Ucap Xiumin kesal masuk kedalam mobil.

***

Jiyeon tengah memasuki rumahnya sepulang dari rumah henry. Yoona terlihat tengah bersantai di ruang tengah menikmati teh seperti biasanya. Yoona tersenyum pada anaknya yang sekarang menunduk memberi salam padanya.

“Kau sudah pulang?”
“hm..” Jiyeon mengangguk.
“..” Belum sempat Ibunya berkata apapun Jiyeon pergi begitu saja dari sana menaiki tangga menuju kamarnya. “Anakku yang malang..”

Jiyeon menghempaskan tubuhnya di kasur miliknya. Ia seakan sudah begitu menghafal setiap jengkal isi rumahnya. Jiyeon meraba kasur disebelahnya, kosong tak ada seorangpun disana. Lambaian angin yang masuk ke kamarnya membuat bunyian pada hiasan jendela kamarnya. Jiyeon memalingkan wajahnya ke arah jendela merasakan hembusan angin yang terus menerus menerpah wajahnya saat itu. Matanya masih tertutup sampai sesuatu terdengar mengetuk pintunya. Perlahan ia membuka matanya.

Terdengar langkah kaki yang tengah berjalan ke arahnya. “Ini makananmu..” Wanita itu terlihat meletakkanya di meja Khusus biasa Jiyeon akan makan.
“hm..” Jiyeon bangkit dan duduk di meja itu yang tak jauh dari kasurnya.
“dari kanan paling sudut atas ada jamur, ikan, daging yang di asap, lalu itu campuran kentang, dan tepat di sampingmu adalah sup sari kepiting favoritemu.”
“okh..” Ucap Jiyeon mengangguk meraba keberadaan sendok.
“Ini sayang..”
Jiyeon meraihnya dengan wajah datar. “apa perlu eomma menyuapimu? Eoh?”
“…” Tak ada jawaban apapun dari Jiyeon.
Yoona menunduk sedih, entah apa yang harus dilakukannya lagi. “Maafkan aku anakku..” Ucapnya keluar dari kamar.
Jiyeon yang sejak tadi telah mulai melahap makanannya berhenti dan meletakkan sendoknya di meja. “Berhenti menyiapkan hal seperti ini!” Ucap Jiyeon.
Yoona terdiam dan mulai menatap kosong ke arah anaknya. “tapi..”
“Eomma..”
“Aku takkan bertanya.” Ucap Yoona menutup pintu Jiyeon.

Jiyeon memalingkan wajah ke arah meja sebelah kamarnya seakan merasakan sedang menatap gambar-gambar dirinya dan sandara tengah terpajang rapi disana. Airmatanya mulai jatuh, ia mencoba tersenyum tapi itu tak merubah apapun saat itu.

“Bahkan tanpa eonni aku tetaplah menjadi beban..”

***

Esok harinya Xiumin yang biasanya merasa bosan datang ke rumah henry kini mulai berubah seiring berjalannya waktu. Xiumin kini tengah berdiri bersandar di mobilnya, terus memainkan ponselnya. Sesekali lelali itu akan melihat ke arah kanan dan kiri, tampak menunggu seseorang. Sekertaris Yoon sudah ke empat kalinya menghampiri Xiumin untuk menyuruhnya masuk ke rumah Henry.

“Tuan, tidak baik jika anda terlalu lama di luar. Ini akan mempengaruh besar pada..” Belum selesai Sekertaris Yoon mengoceh Xiumin malah memotongnya. “aishh!! Sekali ini saja! Lagi pula jika ada masalah. Aku bersedia mati demimu sekertaris Yoon.”
“Tuan..”
“ahh!! Tetap di dalam mobil! Jika kau berdiri disana, Jiyeon akan menabrakmu!” Omel Xiumin menarik Sekertaris Yoon untuk masuk ke mobil.

Tak lama berselang setelah Xiumin menutup pintu mobil, Mobil Jiyeon datang. Jiyeon keluar dari mobil dan kali ini lagi-lagi tanpa tongkat apapun. Jiyeon merapikan rambutnya sebelum melangkah perlahan dengan pasti memasuki pagar rumah Henry.

Senyum Xiumin mengembang ketika melihat gadis manis yang di tunggunya telah datang. Dengan pasti anak lelaki itu berjalan pelan menuntun di belakang Jiyeon. Xiumin tak lepas tersenyum menjaga jarak di belakang Jiyeon.

Sedangkan Jiyeon hanya tersenyum ketika menyadari bahwa seseorang tengah mengikutinya sekarang. “Pasti anak itu..” Batin Jiyeon.
Jiyeon memperlambat langkah kakinya hendak mengejutkan orang yang tengah mengikutinya. Ia yakin benar itu adalah Xiumin.

Xiumin semakin hanya berjarak beberapa centi di belakang Jiyeon. Tepat di depan Jendela yang mengarah ke ruang belajar piano mereka, Jiyeon menghentikan langkahnya dan spontan dengan cepat berbalik. Xiumin yang terkejutpun tak bisa lagi menghentikan langkah kakinya. Tingginya yang tak berbeda dengan Jiyeon membuat wajah mereka bersentuhan. Xiumin mematung seketika setalah kejadian mengejutkan yg baru terjadi.

*preview ”Gone part 4” *

“Ottokke?”Ucap Xiumin melihat ke arah jendela tepat ke arah Jiyeon kini tengah duduk di depan Piano.

Xiumin yang berdiri memperhatikan Jiyeon serasa merasakan hal yang tengah di rasakan oleh Jiyeon. Perlahan Xiumin memegangi dadanya, terasa berat dan tertusuk. Xiumin memperhatikan tatapan gadis itu semakin teduh dan Xiumin semakin merasa kesakitan dengan dadanya. “Gwenchana?” Kata itu begitu saja terlontar dari bibir Xiumin yang tak beralih menatap Jiyeon.

Jiyeon meraih ponselnya dan mendapat pesan suara. Jiyeon mulai mendengarkan pesan suara sambil menyapu airmatanya. “Jiyeon~a, ini aku ………… Kau berkencan denganku?”

 

jika ingin komentar langsung follow twitter saya @NASRII1406

komen juseyo~

5 thoughts on “Gone [Chap 3]

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s