[FF Freelance] A Late Regret (Chapter 5)

coveralr

Title : A Late regret (Chapter 5)

Author : DkJung (@diani3007)

Main casts :

  • [Infinite] Kim Myungsoo
  • [A Pink] Son Naeun
  • [Miss A] Bae Sooji
  • [BTS] Kim Seokjin

Genre : Romance, School life, Angst

Rated : Teen

Length : Chaptered

Previous :  Chapter 1Chapter 2Chapter 3, Chapter 4,

Disclaimer : ff ini ngga terinspirasi dari manapun. Idenya muncul tiba-tiba. Masalah endingnya MyungZy/MyungEun? Still secret! >.< pokoknya ngga bakal ketebak! /sok misterius/ oh iya, untuk ‘Bloody School’ maaf belum update sampe sekarang, karena kena writer’s block… tapi pasti aku lanjutin kalo udah ada ide!

Summary :

Penyesalan. Ya, penyesalan memang selalu dating di akhir. Jika penyesalan itu belum dating, kau tidak akan pernah berhenti dan menyadarinya, sampai ada pihak yang terluka atau bahkan pergi meninggalkanmku.

 

~***~

Naeun berjalan pelan keluar dari kelasnya. Ditengoknya kanan dan kiri koridor sekolahnya yang terlihat sudah sepi. Ya, bel pulang memang sudah berbunyi sekitar tiga jam yang lalu. Tetapi, hal itu tidak membuat Naeun ingin cepat pulang untuk langsung beristirahat sesuai nasihat ibunya. Naeun masih menunggu Myungsoo kembali. Saat bel pulang tadi, Myungsoo berlari keluar kelas meninggalkan tasnya. Ia berpikir mungkin Myungsoo akan kembali lagi untuk sekedar mengambil tas, namun kenyataannya Myungsoo tak juga kembali.

Karena lelah dan bosan menunggu Myungsoo sendirian di dalam kelas, Naeun akhirnya memutuskan untuk pulang saja. Langkah Naeun pun sampai di halaman depan sekolah. Naeun merasa lega karena motor merah milik Seokjin masih terparkir di sana. Ia mulai mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok lelaki itu.

“Kenapa lama sekali?”

Naeun membalikkan tubuhnya dan mendapati Seokjin berjalan menghampirinya sambil meminum segelas kopi hangat. “Ini untukmu,” ujarnya salmbil menyerahkan salah satu gelas kertas yang dipegangnya ke arah Naeun.

Mian, aku tidak tahu kalau kau masih menungguku. Gomawo,” ucap Naeun sambil menerima kopi dari Seokjin lalu meneguknya.

“Uhm, kita pulang sekarang?”

Naeun mengangguk pelan.

~***~

Sooji baru sampai di depan rumahnya ketika suara motor Seokjin mengalihkan perhatiannya. Seokjin yang telah menyimpan helm dan hendak masuk rumah mendadak berhenti.

Wae geurae?” tanyanya sambil menoleh ke arah Sooji berdiri. Ia sudah tahu kalau sedari tadi Sooji memperhatikannya.

Sooji hanya menggeleng pelan lalu segera memasuki rumahnya.

~***~

Myungsoo tak bisa berhenti tersenyum melihat foto-fotonya bersama Sooji di  sebuah album yang baru saja ditemukannya di tumpukan buku-buku tak terpakai di laci meja belajarnya. Ia semakin tidak sabar ingin cepat-cepat mengingat semua memori yang terlupakan olehnya dengan Sooji.

Ponsel Myungsoo yang berada di atas meja belajarnya tiba-tiba bergetar. Dengan gerak lamban, Myungsoo meraih ponselnya.

From : Son Naeun

Apa kau sudah sampai rumah? Aku menunggumu sampai sore di kelas, tapi karena terlalu lama, aku memutuskan untuk pulang duluan. Tidak apa-apa, kan?

Myungsoo menepuk dahi dan merutuki dirinya sendiri. Bagaimana bias seharian ini ia lupa dengan Naeun? Hari ini adalah hari pertama Naeun masuk sekolah setelah absen karena sakit. Ia bahkan sama sekali tidak bertanya soal penyakitnya, atau apakah Naeun sudah benar-benar sehat atau belum. Myungsoo merasa menjadi laki-laki paling jahat sedunia.

To : Son Naeun

Mianhae, Naeun­-ah, aku tidak mengabarimu. Kau pasti khawatir, ya? Aku sudah sampai rumah dengan selamat.

~***~

Naeun beranjak dari ranjangnya lalu mengambil ponselnya dari atas meja belajarnya.

From : Kim Myungsoo

Mianhae, Naeun­-ah, aku tidak mengabarimu. Kau pasti khawatir, ya? Aku sudah sampai rumah dengan selamat.

Naeun tersenyum lega setelah membaca pesan balasan dari Myungsoo. Ya, setidaknya Myungsoo tidak mengabaikan pesannya dan masih mau membalasnya. Baru saja ia hendak membalas kembali pesan Myungsoo, ponselnya tiba-tiba kembali bergetar, menandakan panggilan masuk.

Yeoboseyo?” ucap Naeun begitu menerima telepon dari Myungsoo.

Naeun-ah? Mianhae, seharian ini aku telah mengacuhkanmu. Akhir-akhir ini aku sedang banyak masalah yang perlu kuselesaikan sendiri. Dan, masalah ini pribadi, jadi maafkan aku karena tidak memberitahumu.”

Gwenchana, memangnya aku siapa? Kenapa aku sampai ingin tahu tentang masalahmu?”

Eeii, bicara seperti itu lagi?”

Naeun hanya tersenyum tipis. Ia sampai sekarang masih tidak tahu apa statusnya dengan Myungsoo. Naeun merasa ia bukan kekasih Myungsoo, tapi juga ia merasa bukan sekedar sahabat Myungsoo.

“Son Naeun? Kau mendengarku?”

Naeun segera tersadar dari lamunannya. “Ah, n-ne, mian.

Gwenchana, keurom, sampai bertemu besok lagi, ya? Istirahatlah. Jalja.”

Ne.

~***~

Mianhae,” ucap Myungsoo untuk yang kesekian kalinya. Naeun hampir bosan mendengarnya sampai ia kehilangan nafsu makannya.

“Berhentilah bicara seperti itu, aku kan sudah bilang kalau aku sudah memaafkanmu.”

Keunde, aku masih merasa tidak enak. Ah, begini saja, sebagai gantinya, aku akan membayar semuanya.”

Aniya, tidak perlu seperti itu. Aku makan di kedai ini karena keinginanku, jadi, aku akan tetap membayar makananku, dan kau juga membayar makananmu. Arra?”

Arrasseo,” Myungsoo akhirnya menyerah dan kembali melanjutkan makannya. Sesekali ia mencuri pandang ke arah Naeun. Gadis itu selalu cantik bahkan ketika sedang makan.

Ia memang benar-benar yeoja yang cantik. Naeun memang mirip dengan … Sooji? Chankaman! Kenapa yeoja di hadapanku berubah menjadi…

“Sooji?”

Naeun menghentikan makannya lalu menatap Myungsoo heran.

“Kau sedang makan bersamaku, bukan dengan Sooji,” ujar Naeun yang segera menyadarkan Myungsoo. Myungsoo langsung menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat.

Mian.”

Lagi-lagi hanya maaf yang bisa Myungsoo ucapkan pada Naeun. Perasaannya sedang tak karuan. Masa lalunya bersama Sooji terus membayanginya bahkan ketika ia sedang bersama Naeun. Myungsoo tak tega jika harus menyakiti gadis sebaik Naeun.

Tapi yang Myungsoo rasakan saat ini, ia merasa ingat pernah datang ke kedai ini juga bersama Sooji.

“Habiskan makananmu.”

Naeun kembali menyadarkan lamunan Myungsoo. Dengan cepat Myungsoo menghabiskan makanannya hingga mulutnya penuh bahkan sampai terbatuk-batuk.

“Makanlah pelan-pelan.”

Naeun bahkan masih bersikap lembut di saat Myungsoo jelas-jelas tertangkap tengah memikirkan gadis lain. Naeun seolah tidak peduli dengan itu. Ia semakin merasa tak tega. Entah mengapa ia merasa tak seharusnya ia jatuh cinta dengan Sooji, juga dengan Naeun.

~***~

“Yakin tidak mau kuantar?” tanya Seokjin untuk kesekian kalinya, dan mendapat jawaban yang sama dari Sooji untuk kesekian kalinya. Sudah lebih dari tiga kali Sooji menggelengkan kepalanya untuk menolak tawaran baik Seokjin. Ya, tawaran baik yang menurutnya sangat menganggu.

“Kau yakin? Rumah kita kan bersebelahan, akan lebih cepat sampai kalau kau ikut denganku.”

Sooji kembali menggeleng dan meneruskan langkahnya menuju pintu gerbang utama sekolah. Seokjin pun memutuskan untuk mengejar Sooji menggunakan motornya.

TIIN TIIN

Sooji berdecak kesal lalu menatap Seokjin tajam.

“Apa kau akan terus mengikutiku?”

“Tergantung. Kalau kau mau ikut pulang denganku, kita tidak perlu melakukan ini.”

Sooji menghela nafas panjang lalu segera naik dan duduk di belakang Seokjin. “Pegangan yang erat,” ujar Seokjin yang sama sekali tidak mendapat respon dari orang yang bersangkutan.

Hingga ketika motor Seokjin melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi, tangan Sooji reflek memegang erat pinggang Seokjin. Namun, mendadak Seokjin menghentikan motornya sebelum sampai ke tujuan.

Wae geurae?” tanya Sooji yang keheranan karena Seokjin hanya diam. Ia pun mencoba mengikuti arah pandang Seokjin dan mendapati Myungsoo dan Naeun yang sedang makan berdua di sebuah kedai.

“Mereka cepat sekali berdamai,” gumam Seokjin pelan yang masih dapat terdengar oleh Sooji.

“Sudahlah, ayo kita pulang!”

Seokjin kembali menjalankan motornya menjauhi sepasang manusia yang tidak menyadari keberadaan mereka.

Benar dugaanku. Semua ucapan manismu itu hanya omong kosong! Mana mungkin kau sudah ingat denganku?

~***~

Myungsoo terkejut begitu menutup pintu kamarnya. Di dalam kamarnya, ayahnya sedang menatap dingin fotonya bersama Sooji yang lupa ia simpan. Foto itu tergeletak di atas meja belajarnya tadi, namun kini nyaris kusut ketika berada di tangan ayahnya.

Abeoji!”

Myungsoo menghampiri ayahnya dan mencoba untuk meraih foto itu. Namun, ayahnya pun tak kalah cepat untuk menghindar.

Keurom, kau sudah mulai mengingat kenangan manismu, hm?”

Abeoji, berikan padaku!” ucap Myungsoo sambil terus berusaha untuk merebut foto yang digenggam erat ayahnya.

“Kau masih akan terus berusaha untuk mengingat orang yang hampir membunuhmu?”

“Kenapa Abeoji terus berkata seperti itu? Aku yakin dia bukan orang jahat! Lagipula dia kan yeojachinguku.”

Keurae, tapi kurasa dia bukanlah yeojachingu yang baik untukmu. Buktinya dia saja hampir mencelakakanmu. Kau tidak mengerti bagaimana perasaan orang tua yang hampir kehilangan anak satu-satunya.”

“Baru hampir, aku yakin dia tidak akan pernah mencelakaiku, ataupun sedikitpun berniat untuk melakukannya. Saat aku berhasil mengingat semuanya nanti, aku akan membuktikan bahwa cerita karangan Abeoji dan Eommoni adalah salah!”

~***~

“Sudah kuduga, Myungsoo tidak mungkin mengantarmu pulang,” ujar Seokjin seraya berjalan menghampiri Naeun yang hendak memasuki rumahnya.

“Kau sedang apa di sini?”

“Menunggumu, tentu saja.”

“Aku kan sudah pulang sekarang, lebih baik kau juga pulang.”

Hanya selang dua detik setelah kata-kata itu keluar dari mulut Naeun, kini darah segar keluar mengalir dari hidung Naeun.

Ya, Naeun-ah!” seru Seokjin sambil menyumbat lubang hidung Naeun dengan tangannya sendiri.

Gwenchana,” ucap Naeun sambil berusaha melepaskan tangan Seokjin.

“Kau ini bagaimana? Kau mimisan dan darahmu banyak sekali! Aku akan mengantarmu sampai dalam!”

~***~

“Leukimia?”

Keurae, kau pasti kaget, kan mendengarnya? Yeoja  sebaik Naeun harus mengalami penyakit yang begitu berbahaya. Kasihan sekali dia,” ucap Nyonya Son yang tengah berbincang dengan Seokjin di ruang tengah rumahnya.

Keurom, kapan Naeun akan mulai melakukan chemo?”

“Dokter bilang secepatnya. Tapi aku sendiri masih bingung bagaimana cara memberitahukan hal ini pada Naeun. Aku merasa tak tega.”

“Kalau boleh, izinkan aku membantu Ahjumma untuk memberitahukan hal ini pada Naeun.”

Arra, mungkin jika kau yang bilang akan lebih baik.”

Seokjin pun meminta izin kepada Nyonya Son untuk memasuki kamar Naeun. Begitu sampai di depan pintu, Seokjin langsung mengetuknya. “Naeun-ah, boleh aku masuk?”

“Pintunya tidak dikunci,” suara Naeun terdengar dari dalam.

Seokjin pun membuka pintu kamar Naeun dan mulai berjalan memasukinya. Naeun kini tengah memandangnya dengan senyuman termanis yang pernah ia lihat. Seokjin membalas senyuman itu lalu duduk di sebelah Naeun.

“Seokjin-ah, aku, akan mati ya?”

Seokjin terkejut mendengar pertanyaan Naeun yang begitu tiba-tiba. Sementara Naeun masih terus mempertahankan senyumannya yang indah.

“Apa orang yang terkena Leukimia akan sembuh dengan chemo?”

Lagi-lagi Seokjin tidak menjawab dan hanya bisa diam mendengarkan pertanyaan Naeun.

“Apa aku masih perlu melakukannya? Untuk apa?”

“Kenapa kau bicara seperti itu, Naeun-ah?”

Chemo dilakukan hanya untuk memanjangkan sisa umurku, bukan untuk menyembuhkan penyakitku. Iya, kan? Aku tidak mau kalau sampai harus merasakan dampak dari chemo itu. Mual, muntah-muntah, apalagi harus kehilangan rambutku,” ujar Naeun. Senyumannya kini berubah menjadi senyum getir.

“Aku lebih memilih menghabiskan sisa umurku bersama orang-orang yang kusayangi dan melakukan hal-hal yang kusukai, daripada harus memanjangkan umurku dengan menjalankan chemo yang menyakitkan,” lanjut Naeun.

“Kau, mendengar semuanya?” tanya Seokjin.

Naeun tersenyum lalu mengangguk pelan.

Aku tidak mengerti denganmu, Naeun-ah, di saat sedih, gembira, suka, maupun duka, kau tetap selalu tersenyum. Kau adalah gadis terkuat yang pernah kutemui. Kau tidak pernah bersedih, kecuali karena namja bernama Kim Myungsoo.

“Jadi kau akan menyerah begitu saja? Kau lebih memilih cepat pergi meninggalkan orang-orang yang kau sayangi? Apa kau tidak akan mau berusaha untuk mempertahankan hidupmu? Pikirkan juga perasaan orang tuamu Naeun-ah, mereka pasti akan bersedih jika mengetahui kau tidak mau menjalankan chemo. Walaupun kemungkinan sembuh bagi penderita Leukimia yang melakukan chemo sangat kecil, setidaknya masih ada harapan di sana, bukan tidak ada. Apa kau tidak mau berusaha? Demi orangtuamu, demi orang-orang di sekelilingmu, demi aku. Atau, mungkin juga demi… Myungsoo?”

~***~

Eodiga?” tanya Seokjin sambil menahan lengan Sooji yang hendak keluar dari kelas.

“Bukan urusanmu,”ucap Sooji sambil berusaha melepaskan tangan Seokjin yang menggenggam lengannya.

“Jangan bilang kalau kau mau menemui Myungsoo?”

“Memangnya kenapa kalau iya? Apa urusannya denganmu?”

“Memang tidak ada hubungannya sama sekali denganku, tapi ada hubungannya dengan Naeun, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan Naeun, berarti berhubungan denganku juga.”

“Kau begitu mencintainya, ya?”

Pertanyaan Sooji membuat Seokjin menundukkan kepalanya.

“Kalau begitu kenapa tidak kau kencani saja dia?”

“Kau tidak mengerti! Kita harus bicara!” seru Seokjin sambil menarik Sooji keluar kelas. Myungsoo yang kebetulan sedang berjalan menyusuri koridor melihat Seokjin yang menarik Sooji. Ia pun segera mengejar mereka, namun, seseorang memanggil namanya.

“Kim Myungsoo!” Myungsoo menoleh dan mendapati Naeun sedang tersenyum ke arahnya. Mengetahui yang memanggilnya adalah Naeun, Myungsoo mengurungkan niatnya untuk mengejar Sooji dan Seokjin.

Wae geurae?”

“Ayo kita pergi ke kantin bersama! Aku lapar, kau lapar tidak?”

Ne, aku juga lapar. Kajja!”

Myungsoo merangkul Naeun lalu mereka berjalan bersama menuju kantin.

~***~

“Lepaskan tanganku!” erang Sooji begitu ia dan Seokjin sudah berada di balkon sekolah.

“Akh, kau mau menyiksaku, ya? Tanganku sampai merah begini!” bentak Sooji sambil memegangi tangannya yang memerah karena cengkraman Seokjin yang kuat. Sebenarnya, Seokjin tidak perlu mencengkram sekuat itu kalau Sooji tidak melakukan penolakan.

“Sebenarnya ada apa? Apa yang mau kau katakan?”

“Ini soal kau, Myungsoo, dan juga Naeun.”

Wae geurae?”

“Kau tahu, kan? Yeoja  yang selama ini dekat dengan Myungsoo adalah siapa?”

“Naeun?”

“Benar. Naeun sangat mencintai Myungsoo. Ia tidak pernah menangis, dan selalu tersenyum di saat situasi seperti apapun. Keunde, di saat ia mengenal Myungsoo lah, ia kembali mengeluarkan tangis. Myungsoo adalah namja pertama yang membuatnya jatuh cinta. Dan kau tahu? Sejak Myungsoo mendekatimu, ia jadi sering terluka. Ia takut kehilangan Myungsoo. Ia takut Myungsoo berpaling padamu. Dan yang jadi masalah sekarang adalah, Naeun mengidap Leukimia. Aku memang tidak tahu sudah separah apa. Tapi ia terlalu keras kepala untuk dirusuh melakukan chemo. Aku khawatir umurnya tidak lama lagi.”

Sooji menatap kosong ke arah depan. Mendengar penjelasan Seokjin barusan, entah mengapa ia jadi merasa agak bersalah.

Keurom, apa yang harus kulakukan?” tanya Sooji. Seokjin menghela nafas sambil menatap Sooji lekat-lekat.

“Di sisa umur Naeun yang entah masih panjang atau tidak, aku ingin ia bisa menghabiskan sisa hidupnya bersama Myungsoo, orang yang dicintainya.”

~***~

Naeun terus memainkan sumpitnya tanpa sedikitpun menyentuh ramen pesananannya yang sudah agak dingin karena didiamkan sejak tadi.

“Katanya kau lapar,” ucap Myungsoo yang langsung menyadarkan lamunan Naeun.

Ne? Eh, tiba-tiba saja rasa laparku hilang. Aku jadi tidak nafsu makan, kau habiskan saja makananmu.”

Keuraeyo? Apa jangan-jangan ada sesuatu yang mengganjal dan ingin segera kau tanyakan padaku?”

Bagaimana kau bisa tahu? Batin Naeun.

“Katakan saja, siapa tahu kau jadi merasa lega dan bisa segera menghabiskan makananmu.”

Eh, aku bingung bagaimana mengatakannya.

“Tidak perlu bingung, katakan saja,” ujar Myungsoo sambil tersenyum.

“Sebenarnya, ada yang ingin kutanyakan padamu.”

Mwoga?”

“Ini soal… kita.”

“Katakan saja.”

“Aku, butuh kepastian darimu. Apa kau benar-benar menyukaiku? Dan, sebenarnya hubungan di antara kita ini apa?”

Myungsoo terdiam mendengar pertanyaan Naeun.

 

~To be continued~

Leave your comment juseyo^^

27 thoughts on “[FF Freelance] A Late Regret (Chapter 5)

  1. kasian naeunnya T-T jangan” ntar naeunnya mati trus myungsoonya nyesel *sotaubanget #plak
    keren thor.. lanjuuttt…. ^-^)9

  2. Justru menurutku disini yang lbh kasian itu suzy. Gaada yang perhatiin dia. Terus dia selalu hrs ngalah dan akhirnya selalu dia yang paling tersakiti #aku baca ff ini smpai nangis habisin setengah kotak tisu karna suzy. Ga bsa bayangin klo suzy ditinggalin myungsoo juga 😦 😦

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s