[FF Freelance] Still

1390739253231

Title: Still

Summary:

Junhong dan Jennie akan terus bersahabat seperti ini.

Scriptwriter: beautywolf (@beautywolfff) | Main Cast: Choi Junhong a.k.a Zelo (B.A.P), Jennie Kim (YG New Artist) | Genre: Friendship | Duration/Length: Ficlet |Rating: PG-15

A Little CHIT&CHATS From Author:

Insipred by Zelo at One Shot and Coffe Shop MV. The idea of this fanfic is totally original by me. Enjoy reading & cheers. No plagiarism and bash.

Comments & Likes are highly appreciated!

Check our other stories at: http://beautywolfff.wordpress.com

xoxo, stp.

***

 “Kau benar-benar menyebalkan.”

Nada ketus yang keluar dari bibir gadis bersurai hitam (dan pirang dibagian dalam) itu benar-benar tajam. Tampaknya gadis itu benar-benar sebal.

“Oh ayolah J, bukannya kau memang selalu terlihat jelek?” Cibir seorang laki-laki dengan postur tubuh kelewat tinggi. Laki-laki itu menggerakkan jarinya pada kursor kamera yang dikalungkan pada lehernya, melihat-lihat hasil bidikannya—yang kebanyakan didominasi oleh gadis yang ia panggil J itu.

Rata-rata semua ekspresi gadis itu pada kameranya sama—datar-bingung-atau malah sebal. Ia berhenti menekan kursor pada kameranya dan melirik sebentar pada gadis disebelahnya.

Gadis itu sedang melipat tangannya didepan dada, pandangannya lurus kedepan—menunggu bus nya datang, ekspresinya masih terlihat kesal. Hembusan angin ditengah musim gugur meniup rambut panjangnya lembut. Menambah point plus pada wajah cantik gadis itu.

Refleks, ia mengarahkan lensa kameranya pada gadis yang postur tubuhnya jauh lebih pendek darinya, lalu menekan tombol shutter secara tiba-tiba.

Klik!

“Choi Junhong!” teriak gadis itu frustasi.

***

“Apa kau sudah bangun?”

Ini pertanyaan yang sangat bodoh.

“Menurutmu?” gerutu laki-laki dengan rambut biru gelap berantakan, terduduk diatas kasurnya yang empuk. Meraih jam weker yang tergeletak mengenaskan dibawah ranjangnya. Ya, Choi Junhong terbiasa melempar jam wekernya kebawah ranjang saat benda tak berdosa itu mulai berbunyi nyaring. Masih pukul 8 pagi, dan astaga yang benar saja! Hari ini hari Minggu! Harusnya Junhong masih bisa tidur lebih lama lagi.

“Aku mau mampir.” Jennie—nama panjang J—segera memutuskan sambungan tidak selang satu detik setelah ia menyelesaikan kalimatnya.

Junhong mendengus, memandangi benda persegi panjang yang serba canggih itu dengan nyawa yang masih belum terkumpul benar. Ia masih bengong sambil menutup kedua matanya, tapi kemudian ia teringat sesuatu. Junhong segera turun dari ranjangnya, bergerak secepat kilat seperti pencuri yang hendak kabur dari kawanan polisi. Mengambil handuk dan melesat ke kamar mandi.

 

“Bagaimana menurutmu?”

Saat ini Jennie sudah ada dihadapannya, berdiri di ambang pintu kamarnya.

“Kau selalu terlihat sama J. Kau tetap jelek.” Jawab Junhong mengejek, tanpa melihat ke arah Jennie sama sekali. Ia tidur terlentang diatas ranjangnya, bermain dengan benda kubus penuh warna yang hanya akan membuat kepalamu pusing.

“Ayolah Junhong, serius. Aku butuh pendapatmu. Jam 11 nanti aku sudah harus sampai di kedai kopi itu.” Suara Jennie benar-benar terdengar frustasi. Jennie memandang Junhong yang tak kunjung merespon, masih sibuk dengan benda kubus sialan bernama rubik itu.

“Choi Junhong.” Panggil Jennie lagi.

Mendengar nada suara Jennie yang sudah berubah datar begitu, Junhong tau ia harus menyudahi acaranya menggoda Jennie. Jadi, ia duduk dari posisi terlentangnya, mengamati Jennie baik-baik.

Jennie mengenakan dress tanpa lengan berwarna krem yang dipadukan dengan jaket kulit warna hitam plus sepatu boots butut kesayangannya. Rambut panjangnya yang warnanya sangat antik (menurut Junhong) dibiarkan terurai bebas dan sedikit berantakan. Benar-benar khas Jennie.

“Kau mau pergi kencan dengan Kris-hyung?” tanya Junhong setelah mengamati penampilan Jennie.

Jennie menganggukan kepalanya, kemudian tersenyum manis saat mendapat tanda ok dari Junhong.

***

Jennie dan Junhong mulai berteman dari kelas 5 SD, awalnya Jennie adalah murid pindahan di sekolah Junhong. Seorang gadis amerika dengan wajah asia dan aksen korea yang sangat aneh. Jennie berbicara terbata-bata, berkali-kali mengerutkan keningnya saat ia tidak bisak mengerti apa yang dibicarakan teman-temannya karena mereka berbicara terlalu cepat.

Junhong sering memperhatikan Jennie, memperhatikan ekspresi Jennie yang selalu seperti itu-itu saja. Datar-bingung-atau malah sebal.

Jennie menjadi satu-satu nya yang tidak tertawa saat salah satu temannya melemparkan lelucon, menjadi satu-satunya yang tidak bermain dilapangan karena ia tidak mengerti aturan mainnya.

Sampai suatu hari di musim dingin, Junhong mengarahkan lensa kameranya—yang baru ia dapatkan sebagai hadiah natal—pada Jennie yang sedang sibuk dengan buku gambarnya. Jennie yang sedang tersenyum karena ia menggambar dengan baik.

Klik!

Jennie langsung menoleh ke arah Junhong yang sedang tertangkap basah memotret Jennie, dan dari satu foto itu, Jennie dan Junhong mulai berteman.

 

Junhong sudah seperti mesin translator bagi Jennie. Walaupun Junhong juga tidak bisa berbahasa inggris, paling tidak Junhong bisa membuat Jennie mengerti dengan caranya sendiri. Entah dengan kalimat yang sama tapi dengan bahasa tubuh yang dibuat Junhong, atau dengan kalimat yang sama tapi dengan penekanan pada tiap suku katanya, atau malah Junhong yang berusaha menerjemahkannya lewat bahasa inggrisnya yang ngawur—dan berakhir membuat sudut bibir Jennie terangkat sedikit. Dan Junhong menyukai senyum itu.

Mulai saat itu, Jennie ikut tertawa saat salah satu temannya melemparkan lelucon, dan juga ikut bermain dilapangan bersama teman-temannya yang lain. Karena Junhong ada disampingnya untuk membuat Jennie mengerti.

 

Orang bilang, seorang perempuan dan seorang laki-laki tidak bisa bersahabat . Orang bilang, salah satu dari mereka akan berakhir jatuh cinta. Tapi ternyata, orang itu benar dan juga salah pada saat yang bersamaan.

Junhong jatuh cinta pada Jennie Kim. Junhong jatuh cinta pada gadis amerika dengan wajah asia dan aksen korea yang aneh. Junhong jatuh cinta pada gadis dengan ekspresi wajah yang itu-itu saja.

Namun, mereka masih terus bersahabat sampai sekarang. Masih terus bersahabat saat Jennie menemukan cinta pertamanya—seorang kakak kelas yang jago menari bernama Kim Jongin. Masih terus bersahabat saat dia melihat Jennie berciuman dengan Oh Sehun di bawah tangga. Masih terus bersahabat saat Jennie mengecat bagian dalam rambutnya dengan warna pirang. Masih terus bersahabat saat Jennie menangis karena putus dari Kim Taehyung. Masih terus bersahabat saat Jennie tidak sengaja menemukan kardus milik Junhong disudut lemari laki-laki itu yang berisi foto-foto Jennie. Masih terus bersahabat saat Jennie bilang dia lebih menyukai laki-laki yang berusia lebih tua dan bukan laki-laki seperti Junhong. Masih terus bersahabat saat Jennie datang kerumahnya pagi ini dan meminta pendapatnya mengenai penampilan gadis itu untuk pergi berkencan dengan seorang mahasiswa bernama Kris. Dan mereka akan selalu seperti itu.

***

“Junhong-ah!” teriak ibunya.

Eo?” Jawab Junhong malas-malasan keluar dari kamarnya, menuruni anak tangga dengan kedua tangan sibuk menekan-nekan kursor kamera. Mengamati dengan cermat tiap ekspresi Jennie yang memenuhi layar kameranya.

“Bisa kau pergi sebentar ke minimarket dekat kedai kopi itu? Tolong belikan eomma bubuk lada.” Kata ibunya yang sibuk menggerakkan spatula di penggorengan.

 

Junhong keluar dari rumahnya masih dengan kamera pada genggaman plus skateboard di kakinya. Karena minimarket yang dimaksud ibunya tidak terlalu jauh dari rumah, Junhong memilih pergi dengan skateboard warna krem kesayangannya.

Junhong baru saja akan memasuki minimarket itu kalau saja ekor matanya tidak menangkap Jennie yang sedang tertawa bersama laki-laki pirang di kedai kopi dekat minimarket.

Junhong mengarahkan lensa kameranya ke arah Jennie yang masih tertawa lebar, mengatur zoom dan fokus lensanya pada tawa ceria Jennie, kemudian menekan tombol shutter berkali-kali. Junhong tersenyum saat menurunkan kameranya, kemudian segera masuk ke minimarket untuk mendapatkan bubuk lada yang dipesan ibunya.

 

Karena Junhong dan Jennie akan terus bersahabat seperti ini.

Seterusnya—dan tidak akan pernah berubah.

***FIN***

3 thoughts on “[FF Freelance] Still

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s