[FF Freelance] Genosida – The Girl From Fire (Part 5)

PART 1

GENOSIDA

 

Scriptwriter: April (@cici_cimol) | Main Cast: Kwon Jiyong (G-Dragon Of Big Bang), Sandara Park (2NE1) | Support Cast:  Find the other cast while reading^^ | Rating: PG-15 | Genre: Fantasy, Mistery, Romance | Length: 8 Part

PreviousPart 1Part 2Part 3, Part 4

Disclaimer:

Human and thing belong to God. I only own the plot. Terinspirasi dari Novel Harry Potter dan The Hobbit.

GENOSIDA

Sebuah dunia dari dimensi lain yang sedang dalam tahap percobaan gila. Menarik manusia untuk menjadi bagiannya. Genosida merupakan pembantaian besar-besaran secara sistematis pada suatu kelompok dengan maksud memusnahkan. Siapakah diantara mereka yang berhasil keluar hidup-hidup?

 

Previously at Genosida:

Sandara Park menjadi incaran Genosida! Ini semua karena ulah pemimpin api, Kwon Jiyong yang melanggar peraturan genosida dengan menjadikan Sandara sebagai bagian kelompoknya. Sekarang seluruh manusia didalam Genosida dalam bahaya! Kelompok api harus memulai gencatan senjata dengan kelompok elemen lainnya untuk bersatu melawan Genosida. Pemberontakan akan dimulai, namun mereka harus menemukan berlian kehidupan milik Troll untuk menyelamatkan nyawa Sandara. Sandara benar-benar dalam bahaya sekarang.

PART 5  [THE GIRL FROM FIRE]

 

“Kematian itu hanyalah tidur…

Saat kau tertidur, semua rasa sakit yang dirasakan hati dan tubuh akan hilang.

Kematian bukanlah akhir yang benar-benar kita harapkan.”

Kata-kata itu pernah dikeluarkan oleh ayah Sandara saat dirinya berdiri dimakan ibunya yang masih basah. Ayahnya menangis dan terlihat sangat menyedihkan. Kata-kata itu masih terngiang di telinga Sandara sampai detik ini. Sampai detik ketika dia berhadapan dengan kematian yang tidak bisa dihindarinya.

Sandara terus terjatuh dan terjatuh.

Tangannya hanya bisa menggapai udara kosong. Tidak bisa. Dia tidak bisa menghidari kematiannya saat ini.

Apa keajaiban itu ada? Sandara mencoba percaya pada keajaiban. Dia terus ber-doa setiap hari disisi ranjang ibunya. Meminta kesembuhan untuk ibunya, tetapi semua harapan akan adanya keajaiban itu sia-sia. Bullshit. Apa Genosida akan membiarkannya mati begitu saja? Atau dia akan menyelamatkan Sandara dan membawa Sandara kesuatu tempat? Tidak! Dia tidak ingin mati dan tidak ingin tertangkap oleh orang gila yang membuat dimensi ini!

Tiba-tiba saja dia teringat Jiyong. Ya, Jiyong. Pria yang berjanji akan melindunginya. Sandara memejamkan matanya dan membayangkan wajah marah pria itu. Karena kau, aku tersenyum. Tapi, aku lebih sering merasa sedih… Sandara bergumam dalam hati. Jika kali ini aku bisa selamat, jika memang tuhan memberikan keajaibannya padaku, aku berjanji. Aku berjanji akan mengatakan apa yang sedang terjadi pada hatiku. Aku akan mengatakan bahwa aku sebenarnya menyukaimu, Kwon Jiyong… Mungkin kata-katanya itu terdengar konyol dan tolol, tetapi itulah yang dia rasakan sekarang. Dia hanya ingin bicara dengan Jiyong. Dia hanya ingin bilang pada Jiyong untuk tidak mencintai CL lagi. Dia ingin pria itu juga memandangnya sebagai seorang wanita. Dia ingin membuat pria itu hidup layaknya seorang manusia. Sandara membuka matanya dan menatap langit biru yang rasanya sangat jauh diatas sana. Sekarang dia masuk kedalam jurang, bebatuan berwarna abu-abu dan cokelat berada disekelilingnya saat tubuhnya terus meluncur turun. Takut. Dia merasa takut hingga gadis itu tidak lagi menjerit melainkan menangis layaknya anak kecil.

Hingga dirasakannya sesuatu yang janggal tengah terjadi. Mata bulat Sandara melebar karena udara disekitarnya berkumpul membentuk suatu pola. Dirasakannya tubuhnya mulai terangkat naik, melawan udara bebas yang berhembus kedalam jurang.

Udara disekitarnya terus membawanya naik. Melawan gaya gravitasi, hingga dia terus naik keatas kearah mulut gua Troll dan melihat beberapa orang berkumpul tepat didepan mulut gua yang sangat besar dan dipenuhi lumut dan beberapa rumput liar yang ukurannya lebih besar sari tubuh manusia. Seseorang dengan jaket berwarna abu-abu sedang menjulurkan tangannya kearah Sandara dengan mata terpejam. Mengendalikan udara yang sedang membawa tubuh Sandara.

Dengan perlahan, Sandara mendarat diatas bebatuan yang ditumbuhi sedikit rumput dengan posisi duduk. Sandara takjub pada dirinya sendiri yang ternyata masih hidup. Dengan cepat, gadis itu menghapus jejak air matanya. Dan menunduk menatap rerumputan. Dia masih hidup, jelas masih bernapas. Ternyata tuhan mendengarkan ocehannya. Tiba-tiba saja dia merasa seperti seekor kucing yang memiliki Sembilan nyawa.

“Unni!!! Kau baik-baik saja?” Sandara mendongak dan mendapati Minzy mendekat kearahnya, Jaket Minzy berlubang dan penuh dengan bercak darah. Wajahnya penuh plester dan obat yang berlendir. Sandara merasa begitu lega saat melihat gadis itu baik-baik saja.

Dengan senyum kaku Sandara mengangguk. Minzy menyodorkan air mineral dalam botol yang langsung diterima Sandara dengan suka cita.

“Untunglah kau selamat.”

Sandara kembali mendongak, melihat siapa orang yang sedang berbicara dengannya. Seorang gadis berambut cokelat panjang tersenyum kearahnya. Gadis itu adalah orang yang menyelamatkan Sandara dengan mengendalikan udara.

“Namaku Ailee.” Gadis cantik itu mengulurkan tangannya kepada Sandara, Membantu Sandara untuk bangkit. Sandara bangkit perlahan, akan tetapi kakinya begitu lemas hingga dia terhuyung dan kembali duduk di rerumputan. “Kau pasti sangat Shock.” Ailee berkata sambil menatapnya dengan prihatin.

Sandara masih belum mampu berkata-kata. Jantungnya kembali berdegub kencang saat dia mengedarkan pandangan kesekelilingnya dan mendapati Seungri terbujur didekat Yongbae. Napasnya sesak, sesuatu mencekiknya hingga dia tidak sanggup bernapas dan hanya mampu mengeluarkan air mata. Seungri, apa yang terjadi?

“S… Seung, ri… t,tidak…” Sandara tercekat. Dia menggeleng kuat-kuat berusaha meyakinkan dirinya kalau semua itu tidak sedang terjadi. Gadis itu kehilangan kontrol, hingga dia mengamuk sambil terus berkata tidak berulang-ulang sambil menangis kencang.

Sepasang tangan mendekapnya erat, mencoba membuat tubuhnya berhenti mengamuk. “Dara! Dengarkan aku!!!” Sandara mendengar suara itu disela-sela jeritan putus asanya. Dengan lemah, gadis itu terus mengamuk sambil memukuli orang yang sedang berusaha membuatnya tenang.

“DIA TIDAK MATI!!!” Orang itu mengguncang tubuh Sandara. Berusaha membuat Sandara kembali berpikir jernih. “SEUNGRI BAIK-BAIK SAJA! AKU TIDAK AKAN MEMBIARKAN DIA MATI!!!”

Sandara menatap orang yang sekarang sedang memeganginya dengan kencang. Jiyong. Dia bisa melihat wajah pria itu yang sedikit kabur akibat air mata yang terus keluar. Sandara berhenti melakukan perlawanan, akan tetapi tangisnya masih belum bisa dia hentikan. Dengan perlahan, Sandara merasakan kepalanya mendarat pelan didada pria itu, gadis itu dapat merasakan belaian tangan Jiyong pada rambutnya.

It’s okay…” Jiyong berbisik. “semua akan baik-baik saja…”

“Kita tidak bisa melanjutkan misi. Lebih baik menunggu Seungri sadar dan melakukan pengobatan pada Caedere lain yang terluka.” Ailee berkata pelan. “Mungkin itu pilihan yang terbaik sekarang Jiyong-ssi, kita tidak bisa bertempur melawan makhluk buas itu dalam keadaan kacau seperti ini. Jika kau bersikeras melakukannya, itu sama saja melakukan bunuh diri.”

Jiyong hanya mengangguk dalam diam. “Tablo Hyung, dirikan beberapa tenda. Usahakan tertutup dari pandangan Troll jika dia keluar dari gua.” Jiyong memberi perintah. Dahinya berkerut melihat seluruh anggota kelompoknya tampak kepayahan.

“Aku masih punya cukup obat untuk semua. Dan aku akan pastikan Seungri sadar sebelum matahari terbit besok.” Ailee tersenyum pelan. “Biar aku urus Sandara, kelompokmu membutuhkanmu sekarang.”

Jiyong melepaskan pelukannya dan menatap Sandara yang masih terguncang. Lagi-lagi perasaan itu menyergapnya. Jiyong tidak mengerti kenapa hatinya terasa sakit jika gadis dengan tubuh kecil itu terluka. Dengan perlahan, Jiyong memegang kedua sisi wajah Sandara, berusaha membuat gadis itu menatapnya. “Istirahatlah, dan jangan terlalu banyak berpikir. Otakmu bisa meledak.”

Sandara mengangguk, kemudian dia melihat Jiyong perlahan menjauh. Tidak bisakah pria itu lebih lama memeluknya? Tidak bisakah pria itu terus membelai kepalanya sampai dirinya tertidur dan melupakan mimpi buruk yang baru saja terjadi? Itu adalah imajinasi yang tidak akan pernah terjadi dalam hidupnya. Sandara hanya tersenyum sedih melihat punggung Jiyong yang semakin menjauh darinya.

.

.

“Aku belum mengucapkan terimakasih padamu.” Sandara menatap Ailee yang sedang mengaduk cairan kental dengan bau herbal yang menyengat dalam sebuah baskom yang terbuat dari perak “Terimakasih banyak”

Mereka berdua sedang duduk dalam tenda berukuran besar yang memuat beberapa peralatan masak. Sandara menatap sebongkah daging hitam legam yang Ailee letakan diatas meja.

“Itu hati gajah yang diawetkan, akan kubuat sup untuk Seungri. Dia terluka cukup parah.” Ailee menangkap wajah bersalah Sandara dan tersenyum “Dia baik-baik saja!” Ailee terkekeh. “Sepertinya kau sangat peduli dengan Seungri, apa kalian berdua pacaran?”

“Tidak, Seungri adalah orang pertama yang peduli padaku saat aku terdampar disini.” Sandara tersenyum kecut “Tolol sekali dia, dia begitu idiot sampai mau mengorbankan dirinya untukku.”

“Haha, berarti ada dua orang idiot yang ingin mati untukmu. Kau sangat beruntung.”

Sandara terdiam sambil menatap gadis cantik itu. Dia jelas dari kelompok Levego (Udara), tetapi kemana anggota lain dalam kelompoknya? Kenapa gadis ini berkeliaran seorang diri dan membantu kelompok api?

“Kau sendirian?” Sandara bertanya hati-hati saat Ailee menempelkan sebongkah cairan hijau pada lengan Sandara.

“Well, sepertinya begitu.” Ailee menatap Sandara. “Aku terpisah dari mereka saat sedang menuju kesini. Dan saat aku berhasil naik kesini, aku melihat kelompok api sedang dalam kekacauan besar karena burung-burung kiriman Genosida, jadi aku berusaha membantu. Jiyong sudah menjelaskan semuanya padaku. Aku rasa kita harus menemukan kelompok lainnya untuk bisa menghancurkan dimensi ini.”

Sandara mengangguk. Keningnya berkerut karena bau cairan itu, Ailee mulai mengeluarkan perban dari tas ranselnya dan memakaikannya pada Sandara. “Aku seorang mahasiswa dari fakultas kedokteran sebelum masuk kesini.” Ailee kembali berceloteh. “Dan sepertinya kau sangat sulit menatap dalam kemata orang lain? Apa ada yang salah?”

“Eeerr… yeah, itu karena aku takut masuk kedalam kenangan orang lain.” Sandara merasa malu karena kata-kata yang dia keluarkan terdengar sangat konyol.

“Kau hanya akan melakukan itu pada Soulmate-mu.” Ailee tersenyum “Karena energy positif yang kau bawa kedalam Genosida, kau jadi bisa masuk kedalam kenangan orang yang benar-benar Soulmate-mu.”

Sandara mencoba mengerti informasi baru yang dia dapatkan. Soulmate? Kwon Jiyong?

“Sudah selesai, aku akan ketenda Seungri dan memberikan obatnya. Kau tunggulah disini, diluar sepertinya hujan.” Ailee keluar dengan cepat sambil membawa baskom dan tas ranselnya. Suara hujan yang berisik terdengar saat gadis udara itu membuka penutup tenda.

Sandara bangkit dari duduknya dan menyingkap penutup tenda, hujan yang turun sangat lebat, namun karena tendanya berada ditengah rumpun liar yang daunnya saja sebesar rumah, air yang turun menjadi sangat sedikit karena terhalau rimbunnya daun-daun besar itu. Jantungnya serasa bedetak dua kali lipat saat dilihatnya seseorang dengan T-shirt putih berlari pelan kearahnya. Tidak! Dia sedang tidak siap bertemu Jiyong sekarang. Perasaannya pada Jiyong semakin jelas dan dia tidak mau mengeluarkan kata-kata bodoh pada pria itu.

“Kau baik-baik saja?” Jiyong berkata pelan, memperhatikan luka-luka Sandara dan berdiri disamping gadis itu. Sandara hanya mengangguk cepat sambil berusaha menyembunyikan perasaannya yang semakin kacau karena mencium aroma tubuh pria itu.

Mereka berdua terdiam sambil memandang air hujan yang berhasil masuk disela-sela rimbunnya rumpun. Troll itu pasti sangat besar mengingat segala benda disekitar mereka berukuran raksasa.

“Apa kau sedang mengenang masa lalu?” Sandara berkata pelan. Jiyong hanya menatapnya, alisnya terangkat karena heran dengan kata-kata gadis itu.

“Hujan bisa men-Sugesti seseorang untuk memikirkan masa lalu. Khususnya masa lalu yang menyakitkan.” Sandara tersenyum sedih. “Jangan…” gadis itu menatap Jiyong, tetapi tidak berani menatap mata cokelat pria itu yang sedang memandanginya keheranan. “Jangan memikirkan Chaerin saat aku ada disampingmu.”

Hening

Sial! Tolol kau Dara! Akhirnya kau mengeluarkan kata-kata konyolmu itu!!! Tidak bisakah kau hanya diam saja! Aiiish, mulut sialan!!! Sandara merutuk dalam hati sambil menunduk memandang genangan air yang mengenai sneakers-nya.

“Aku memang memikirkannya.” Jiyong berkata pelan, dan Sandara merasakan sesuatu menusuk hatinya. “Aku hanya berpikir, kenapa gadis itu masih saja terus muncul setiap kali aku ingin bersamamu.” Jiyong menyunggingkan senyumnya. “Tetapi, pikiran tentangnya itu hanya berlangsung sekitar 0.1 detik, karena sisanya aku sibuk berpikir, kenapa ada seorang gadis cengeng, penakut, dan kikuk sepertimu berdiri disampingku dan membuatku merasa nyaman?”

Mata Sandara melebar, tidak percaya kalau kata-kata yang barusan itu keluar dari mulut seorang Kwon Jiyong. Dia menatap ekspressi wajah Jiyong yang sangat bersungguh-sungguh dengan apa yang baru saja dia ucapkan.

“Karena kau, aku jadi ingin mengurangi sifat burukku. Itu sangat gila kan?”

“Kalau begitu, aku akan terus ada disisimu. Supaya sifat burukmu itu benar-benar hilang! Kau tahu betapa menyebalkannya dirimu itu? Kadang aku ingin sekali mencungkil matamu itu, matamu itu sangat berbahaya apalagi kalau…” Ocehan Sandara terblokir karena sesuatu yang hangat dan basah menempel pada bibirnya.

Sandara terdiam, tubuhnya terasa kaku. Otaknya seolah tidak bisa bekerja dengan benar karena dia merasa gila saat merasakan bibir Jiyong perlahan bergerak melumat bibirnya. Sandara memejamkan matanya dan mencengkram T-shirt Jiyong kuat-kuat. Ini adalah pertama kali dalam hidupnya, seorang pria menciumnya dibawah rintik hujan.

Jiyong melepaskan ciumannya dan menarik Sandara kedalam pelukannya, membagi suhu tubuhnya yang hangat.

“Saat aku memelukmu, bukan hanya tubuhku saja yang terasa hangat, tetapi hatiku juga terasa hangat. Itulah mengapa aku menjadi sangat egois…” Jiyong berbisik. Ini pertamakali dia mengucapkan kata-kata konyol pada seorang gadis. Gadis bodoh yang tidak akan bisa bersama dengannya selamanya.

“Seseorang yang terikat sumpah hidup dan mati pada Genosida tidak akan bisa keluar dari dimensi ini.”

“Lalu apa yang akan terjadi jika dimensi ini hancur?”

“Maka, dia juga akan hancur. Itulah sebabnya kau tidak boleh menghancurkan dimensi ini.”

“Karena jika aku berhasil menghancurkan dimensi ini, aku juga akan mati?”

“….”

“Tetapi aku harus menghancurkannya. Aku harus mengeluarkan gadis itu dari sini…”

“Maka, lakukanlah seperti apa yang kau inginkan. Aku hanya bisa memberikan informasi ini padamu.”

Percakapan Jiyong dengan Ailee berakhir. Keputusan Jiyong tetap sama. Dia akan mengeluarkan gadis dalam pelukannya apapun yang terjadi. Itu adalah janjinya. Janji yang akan dia tepati.

.

.

Mereka menatap mulut gua dari balik semak keesokan paginya. Seperti janji Ailee, Seungri sadar 2 jam yang lalu dan sekarang sedang bersiap mengikuti misi. Pria ceria itu hampir meneteskan air mata bahagia saat dilihatnya Sandara masih hidup dan bahkan memeluknya dengan erat. Sandara merasa dirinya dan Seungri memiliki hal yang sangat mirip. Khususnya adalah Sembilan nyawa yang dimiliki mereka seperti seekor kucing.

“Bagaimana ini, aku benci sekali masuk kesana. Disana pasti penuh tulang-belulang dan kotoran Troll.” Bom mengernyit, akan tetapi gadis itu tetap memegang pisau belatinya dengan erat.

“Sebaiknya kita bersembunyi dan bergerak tanpa suara. Mengambil diamond itu secara diam-diam lalu pergi adalah ide yang cukup baik.” Minzy berkata pelan. Menatap Yongbae disampingnya. Pria kekar itu setuju. Lebih baik menghindari bahaya, mereka tidak mungkin menang melawan makhluk besar itu.

Jiyong mulai bergerak keluar dari rerumputan besar yang melindungi mereka, dia berlari kecil kemudian berhenti tepat dimulut gua yang sangat besar dan lebar. Bebatuan abu-abu disekitarnya seolah dipahat sedemikian rupa membentuk wajah jelek yang buas dan menampilkan gigi-gigi taring seperti iblis.

“Apa wajah Troll seperti itu?” Sandara memandang ukiran batu itu dengan pandangan takjub.

“Kami juga belum pernah melihatnya.” Tablo berbisik, kemudian dengan perlahan bergerak. “Ikuti aku, sebaiknya kau jangan dekat-dekat Seungri, atau dia akan melakukan hal bodoh lagi.”

Seluruh anggota kelompok api mulai bergerak menghampiri Jiyong. Sandara melihat Ailee juga ikut bergerak, dengan perlahan Sandara melangkahkan kakinya keluar dari bayang-bayang dan berlari. Matanya bergerak waspada. Dia masih takut Genosida akan melakukan sesuatu lagi saat dirinya sedang menjalankan misi.

“Dia mungkin akan berada dikedalaman Gua yang paling gelap.” Jiyong menjelaskan. “Persiapkan diri kalian baik-baik.”

Seluruh anggota mengangguk. Sandara mulai melangkahkan kakinya hati-hati, menjejak tanah lembab. Gadis itu mengikuti Tablo, mereka mulai masuk kedalam gua. Tidak ada yang terlihat, gelap. Cahaya matahari yang masuk semakin sedikit dan mengaburkan pandangan mereka. Sandara menengok kebelakang, kearah matahari yang bersinar terang dibelakangnya. Dia akan segera meninggalkan cahaya itu, memikirkan dirinya mati ditempat gelap dan lembab membuat gadis itu semakin bertekad untuk keluar dari sini hidup-hidup dan kembali menatap cahaya matahari lagi.

“Aku tidak bisa melihat apa-apa.” Suara Ailee bergema, memantul melewati bebatuan entah dimana. Sandara berusaha fokus pada jalannya, hingga kakinya tersandung dan menyebabkan gadis itu terjerembab. Sandara berusaha tidak mengeluarkan pekikan kaget karena itu akan membuat seluruh anggotanya khawatir. Dengan perlahan, gadis itu bangkit sambil menepuk-nepuk lututnya.

“Kita bisa tersesat jika terus seperti ini. Mungkin, kita akan jadi tengkorak saat keluar dari sini.” Itu Suara Seungri. Bahkan pria itu berbicara dengan nada kencang. Sandara mengernyit, terkadang Seungri memang membuat kesal.

Tiba-tiba Sandara menangkap cahaya api didepannya. Api itu keluar langsung dari tangan Jiyong. Kemudian beberapa detik kemudian keadaan disekitarnya terang benderang karena masing-masing anggota api mengeluarkan api mereka melalui tangan masing-masing.

Mereka saling menatap bebarapa saat. Memastikan bahwa tidak ada seorangpun yang terpisah. Sandara mulai memperhatikan dimana dirinya sedang berdiri sekarang. Mereka sedang berdiri disebuah bangunan. Itu benar-benar mirip bangunan yang terbuat dari batu-batu dengan berbagai macam bentuk dan ukiran. Sandara mendongak, mencoba melihat langit-langit gua yang sangat tinggi. Seolah orang yang berdiri didalam gua itu berukuran sebesar hotel berbintang 5 yang menjulang hingga lantai 24. Bahkan, Sandara tidak dapat melihat Stalaktit yang biasa menggantung dilangit-langit gua dan meneteskan air.

Tanah yang dipijaknya lembab akan tetapi terasa sangat hangat. Mereka jelas belum masuk terlalu jauh kedalam gua, akan tetapi tanda-tanda kehidupan sudah terlihat disini. Buktinya adalah jejak kaki seukuran rumah yang terpeta jelas ditanah yang sekarang sedang mereka kelilingi.

“Mereka ada banyak?” Top berkata dengan suaranya yang berat, menatap ceruk yang membentuk kaki dengan mulut terbuka lebar. “Apa mereka lebih dari satu?”

“Mungkin.” Ailee berkata pelan, wajahnya penuh kekhawatiran. “Beberapa Troll ada yang hidup berkelompok.”

“Dan kita menemukan gua yang salah! Ini benar-benar bunuh diri!!!” Seungri meringis “Aku punya firasat kalau gua ini ditinggali lebih dari satu Troll.”

“Kita tidak mungkin mundur.” Jiyong menyipitkan mata menatap teman-temannya. “Setelah semua yang kita alami untuk sampai disini, kita benar-benar tidak bisa kembali.” Matanya bertemu dengan Sandara. Dia mengangguk pelan.

“Usahakan jangan sampai berpencar.” Tablo berkata pelan, kemudian menoleh pada Sandara yang sedikit pucat. “Akan kupastikan kita semua keluar dari sini. Hanya berjuang!” Tablo tersenyum pada Sandara, berusaha membuat kepercayaan diri gadis itu kembali.

Mereka mulai melanjutkan kembali perjalanan mereka. Dengan perlahan, mereka berjalan hati-hati menyusuri gua itu, semakin lama, udara disekitar mereka menjadi dingin. Dan samar-samar Sandara dapat mendengar percikan air.

“Sepertinya gua ini dekat dengan sungai.” Sandara bergumam, akan tetapi Tablo dapat mendengarnya.

“Aku mendengar suara air terjun.” Tablo mengangguk. “Udara semakin dingin karena kita sedang berada ditengah sungai besar.”

Tiba-tiba Jiyong berhenti. Seluruh rombongan itu ikut menghentikan langkahnya. Mereka terdiam. Jiyong mematikan apinya dengan panik. Seluruh anggota mulai mengikuti jejak pemimpin mereka. Mereka semua terdiam. Sandara mencoba menajamkan indra pendengarannya, ada suara. Suara-suara itu mulai bergema. Semakin lama semakin mendekat kearah mereka. Sandara tersadar kalau raungan dan geraman itu semakin mendekati. Dengan panik dia berlari menuju sebuah batu besar disisi gua untuk bersembunyi. Seluruh anggota mulai mencari tempat sembunyi disekitar gua itu.

“EGROR LAPAR. EGROR BUTUH MAKAN. EGROR AKAN KELUAR SEKARANG.” Suara serak dan berat itu bergema semakin kencang. Sandara bahkan menutup telinganya karena suara itu sangat keras dan membuat telinganya sakit. Bumi yang sedang diinjaknya sedikit bergetar akibat berat Troll yang sedang berjalan dengan langkah cepat.

Sandara terpekik saat dilihatnya gumpalan besar berjalan ketempat mereka. Troll itu berhenti karena mendengar suara Sandara. Sandara membekap mulutnya sendiri sambil melihat siluet seekor Troll besar yang tingginya hampir mencapai langit-langit gua. Dia tidak bisa melihat dengan jelas bentuk troll itu karena cahaya yang masuk sangat sedikit dan berasal dari dinding gua yang sedikit terbuka dan menampilkan pemandangan aliran sungai yang deras menuju air terjun.

Troll itu mengendus-endus udara disekitarnya. Kemudian dia meraung dengan keras. “GRRRRRRR, EGROR MENCIUM BAU MANGSA DISEKITAR SINI, KAHKAHKAH.” Troll itu berjalan kesisi gua dan meninju dinding gua dengan kepalan tangannya. Angin kencang dan suara derak air terdengar semakin keras. Cahaya matahari mulai menerangi gua yang ternyata berbentuk bulat itu. Sepertinya, mereka masuk kedalam “ruang tamu” seekor Troll yang sekarang sedang sangat kelaparan. Sandara mencoba menyembunyikan tubuhnya dibalik batu abu-abu, akibat cahaya matahari yang masuk, kesempatan untuk bersembunyi semakin kecil. Troll itu tinggi dan besar sehingga dia bisa dengan mudah melihat keadaan disekelilingnya.

“EGROR AKAN MAKAN SENDIRI. EGROR AKAN PESTA SENDIRI. TAK AKAN BIARKAN YANG LAIN IKUT MAKAN.” Troll itu berkata senang.

Sandara menengadah menatap Troll yang sekarang kembali mengendus-endus udara. Troll itu memiliki kulit berwarna abu-abu seperti bebatuan disekitarnya. Wajahnya bulat dengan hidung besar dan matanya berwarna hijau. Bibir Troll itu memiliki warna yang sama dengan kulit tubuhnya, hanya gigi hitamnya yang terlihat saat dia tengah berusaha membaui mangsanya. Kepalanya botak, dan perutnya membuncit. Sandara memicingkan mata melihat sesuatu menggantung dileher Troll itu, seutas tali membentuk kalung, diujungnya terdapat sebuah botol kecil yang isinya sebuah Diamond berwarna hitam legam. Diamond itu bersinar saat cahaya matahari memantul. Dengan cepat Sandara mengedarkan pandangannya, mencari anggota lainnya yang masih bersembunyi. Hingga matanya melihat Ailee dipojok gua, dia sedang bersembunyi diantara rerumputan liar berukuran besar. Sandara menunjuk kearah leher Troll itu dan Ailee mengangguk dengan yakin. Jadi benar, itu diamond yang sedang mereka cari. Ini mustahil, bagaimana mungkin mengambil diamond itu secara diam-diam? Pilihan satu-satunya hanyalah bertempur melawan makhluk itu dan membunuhnya.

Troll yang bernama EGROR itu berhenti bergerak. Sandara menahan napasnya saat disadarinya sudut mata makhluk buas itu sedang menatap tepat dimana dirinya sekarang sedang bersembunyi. Dalam hitungan detik, kepalan tangan besar troll itu mengarah pada Sandara. Sandara berlari menghidar tepat saat tinju troll itu menumbuk batu yang dijadikan tempat perlindungan Sandara menjadi serpihan kecil. Kekacauan akhirnya dimulai. Yongbae keluar dari balik batu besar diujung lorong dan mulai mengarahkan pedang panjangnya pada toll itu. Troll itu menggeram sambil melihat makhluk-makhluk kecil dibawahnya yang mulai keluar dari tempat mereka bersembunyi sambil menodongkan senjata yang terlihat seperti jarum dimata si troll.

“EGROR AKAN MAKAN KALIAN SEMUA. WALAU KALIAN SEBESAR KOTORAN HIDUNG EGROR, TAPI EGROR AKAN MAKAN KARENA EGROR LAPAR.” Egror mulai bergerak sembarangan sambil mencoba menangkap mereka.

Tangan besar dan kapalan Egror menuju kearah Minzy, Minzy dengan cekatan menghindar dan berusaha menusukkan belatinya kearah tangan Troll itu, belati itu sukses tertancap pada ujung jari tangan Egror. Egror mulai meraung kesakitan sambil memegangi jarinya. Dengan marah, Egror mulai menyapu wilayah disekitarnya dengan menendang sembarangan. Sandara melihat Bom dan Tablo tersungkur ditanah yang sekarang dipenuhi ceruk akibat kaki Egror yang terus menerus bergerak.

Disudut gua, Sandara dapat melihat Jiyong dan Yongbae sedang mengeluarkan api dari kedua tangan mereka, bersiap melemparkan bola api yang cukup besar kearah Egror yang masih sibuk dengan jari tangannya. Egror menyadari cahaya api itu, matanya yang bulat dan besar berkilat marah, Egror mulai mengamuk.

“TIDAK BOLEH ADA API! EGROR TIDAK SUKA API!!!” Troll itu meraung lagi, menggetarkan benda-benda disekitarnya. Sandara mencoba berkelit, mendekati Egror sedikit demi sedikit, dia harus mendapatkan diamond itu. Diamond itu akan menyelamatkannya. Genosida tidak bisa membunuhnya jika dia memilikinya.

Jiyong dan Yongbae tidak peduli dengan amarah Egror, sebelum troll yang lain datang karena keributan disini, mereka harus segera membunuh Egror. Dengan kekuatan penuh, Egror berjalan menyerang Jiyong dan Yongbae. Mereka berdua melepaskan api mereka bersama-sama dan mengenai ujung kain lusuh yang menggantung di pinggang Troll itu. Egror terpekik marah, dengan erangan keras troll itu menggulingkan tubuhnya dengan asal, tidak peduli pada para manusia dibawahnya yang berusaha berkelit menghindari tubuh besarnya.

Sandara berlari kencang disisi tubuh Egror, berusaha menghindari jari-jari tangannya yang menggelepar dan menepuk-nepuk kain lusuhnya yang sekarang sudah padam dan berasap, dengan gerakan cepat, Sandara berusaha naik keatas tubuh Egror. Tapi gagal, usahanya sia-sia karena tubuh kasar itu terus bergerak dan membuat keseimbangan Sandara melemah. Dengan lelah, akhirnya Sandara terduduk sambil memperhatikan Egror yang mulai bangkit berdiri. Kali ini troll itu benar-benar marah.

Mata Egror mencari orang yang dengan berani menyalakan api didalam guanya. Jiyong tersadar kalau troll itu sedang mencarinya. Pria itu berlari cepat dan berkelit menghidari langkah kaki yang sekarang benar-benar membuatnya terperangkap. Hingga tanpa diduganya, tangan Egror yang besar itu menangkup diatas tubuhnya.

“Tidak!!!” Sandara menjerit panik. Egror mengapit tubuh Jiyong diatara jemarinya dan mengangkatnya. Jiyong berhadapan langsung pada wajah jelek Egror yang sekarang mulai mendengus dengan senang.

“EGROR HANYA INGIN MAKAN. JANGAN BUAT EGROR KESAL.” Egror berkata dengan suara serak dan dalam. “KECIL SEKALI, TAPI SEPERTINYA ENAK.” Egror mulai menggerakan tangannya, mengarahkan Jiyong pada mulutnya.

Jiyong tidak bisa berbuat apa-apa, seluruh tubuhnya diapit kuat dan tidak bisa digerakan. Top, Yongbae, dan Tablo mulai melemparkan api mereka, lagi-lagi api itu mengenai celemek lusuh Egror. Egror menghentikan tangannya diudara dan menggeram melihat api itu mulai membakar celemek kesayangannya lagi. Dengan kesal, Egror melepaskan Jiyong begitu saja dan kembali sibuk menepuk-nepuk api pada bokongnya. Jiyong terjatuh bebas dari ketinggian. Akan tetapi udara Ailee menyelamatkannya dan mendaratkan Jiyong diceruk yang dalam akibat pijakan Egror.

Sandara memanfaatkan moment itu, tangannya menggapai bagian celemek Egror dan mulai berpegangan pada celemek itu. Dia tidak sadar, sejak kapan dirinya menjadi berani seperti ini? Dia tidak memikirkan hal lain kecuali mendapatkan diamond itu. Dia harus mendapatkannya. Tubuh kecil Sandara mulai terombang-ambing. Tangannya terus mencengkram celemek lusuh Egror.

“Dara-yaa!!!” Seungri berteriak ngeri “APA YANG KAU LAKUKAN?!”

Sandara mulai mendengar teriakan panik dari teman-temannya. Egror berhenti berontak dan melihat makhluk kecil yang sekarang sedang susah payah berpegangan pada celemeknya. Egror terkekeh senang. Dengan sekali sentakan, Troll itu mengangkat Sandara. Mata sandara hanya fokus pada diamond yang berkilauan dileher sintal Egror.

“BAU YANG INI ENAK.” Egror menyeringai “EGROR LEBIH SUKA YANG INI DARI PADA YANG TADI.” Egror memutuskan untuk memasukan Sandara langsung kedalam mulutnya.

Sandara segera tersadar dengan bahaya yang sekarang sedang dihadapinya. Dia melongok kebawah dan melihat teman-temannya sedang melemparkan bola-bola api mereka pada Egror. Tetapi, sepertinya keputusan Egror untuk segera memakan Sandara hidup-hidup sudah tidak bisa diganggu gugat lagi. Tangan raksasa itu semakin mendekat kearah mulutnya yang bau.

Mata Sandara melebar ngeri melihat lidah Egror yang berwarna hijau lumut itu menggeliat dan berlendir diatara gigi hitamnya. Lagi-lagi dia dihadapkan langsung pada kematian. Jantung Sandara kembali berdetak kencang karena takut dan adrenalin yang terus mengalir didalam dirinya. Tidak! Dia tidak ingin mati oleh makhluk bau ini!!!

Sandara mencengkram belati didalam saku Jaketnya, kemudian melalui sela jari Egror Sandara mulai mengiriskan belati itu. Egror merasakan sesuatu yang janggal terjadi lagi pada tangannya hingga dia menghentikan gerakannya dan memperhatikan mangsanya yang tengah sibuk mencoba menggores pisau sebesar jarum padanya.

Diluar dugaan Egror malah terkekeh geli. Dia kembali melihat Jiyong yang sedang membuat api yang lebih besar dari api yang pernah dia buat sebelumnya. Dengan sekali hentakan, tangan kiri Egror menggapai Jiyong dan kembali mencengkram pria itu. Sekarang Sandara dan Jiyong sama-sama ada didalam tangan raksasa Egror.

“EGROR MAKAN TANPA GANGGUAN. YANG INI SELALU MENGGANGGU.” Egror mengguncang Jiyong. “EGROR AKAN MAKAN YANG INI DULU.”

Mata Sandara melebar saat Egror secepat kilat memasukan Jiyong kedalam mulutnya. Hatinya mencelos, seolah membeku melihat Jiyong benar-benar masuk kedalam mulut busuk Egror. Seketika, luapan amarah dan kesedihannya bercampur. Wajah Sandara terasa sangat panas saat dilihatnya Egror mulai mengunyah sesuatu didalam mulutnya.

Emosi yang mengalir dalam diri Sandara tidak bisa dijelaskan, dia marah, sedih, takut, dan sakit. Hingga sesuatu yang terasa menggelitik menyebar diseluruh tubuhnya dan mengalir cepat kejari-jari tangannya yang bebas. Sandara meneteskan air mata saat Egror masih terus menggoyangkan mulutnya untuk mengunyah Jiyong.

Percikan api itu muncul, disudut tangan Sandara. Sandara tidak sempat dan tidak mau merasa takjub akan apa yang sedang terjadi pada dirinya. Rasa menggelitik ditangannya berubah menjadi hawa hangat. Sandara melihat tangannya dikelilingi api berwarna orange. Api yang selama ini dia benci. Api yang selama ini dia takuti, keluar dari tubuhnya sendiri.

Dengan jeritan putus asa, Sandara melemparkan api yang sangat besar itu kewajah Egror. Egror tersentak panik. Api itu membakar kedua bola matanya. Sandara tetap mengarahkan tangannya kewajah Egror dan kembali menjerit sejadi-jadinya. Api ditangannya semakin lama semakin besar dan menghantam wajah Egror tanpa ampun. Detik berikutnya, Egror roboh.

Dengan perlahan, Troll itu terhuyung. Dengan bunyi berdebam yang memekakan telinga. Egror tersungkur dan tidak bergerak lagi, Sandara terjatuh dan terjerembab pada tanah lembab.

Napas gadis itu putus-putus, dia bahkan merasa tidak sanggup bernapas lagi. Matanya menatap kearah Egror yang tidak berdaya dengan nanar.

Jiyong… Jiyongnya telah pergi…

 

TO  BE CONTINUED

 

Note

MAAF KALO UPDATE FF INI LAMA READERS >< Karena jujur saya sempat kehilangan ide. Tapi karena baca komen-komen saya jadi semangat lagi! Untuk part ini mohon komentarnya juga ya readers! Maaf juga kalo ada typo! Ehehe, Terimakasih banyak! Hengshooo^^

 

29 thoughts on “[FF Freelance] Genosida – The Girl From Fire (Part 5)

  1. Yang ini lebih jantungan ƪäǥȉ untung aja sandara gak jadi mati😀 trus nasib jiyong gimana ?:/ aigoo kgk boleh mati pokoknya pan cast utamanya jiyong masa harus mati dipart 5.:/ cepet dipost part 6 ye thor biar readers disini kgk kepo ama kelanjutan ff ini😀

  2. Kyaa….. Mrka kiss.. Akhirx… Sandara keren…. Ngelawan troll sndrian… Q suka bgt ff ni author. Penasaran ma kisah slnjutx. Smga jiyong msh hdup… N akhir kisah mrka bahagia

  3. huaaa apa jiyong mati??andwe..
    tp dara kok bisa ya ngeluarin api??padahal dulu dy masuk ke air..tp gpp dgn gtu dy bisa sama ma anggota yg lain..
    tp kenyataan yg ada disini rumit bgt ya..ntar klo genosida musnah berarti jiyong,chaerin dan pemimpin lain pd mati..trus daragon gimna?? tp masih bertanya2 ni soal jo kwon..dy kyk salah satu org genosida tp knp ada di elemen air ya??aa semoga berakhir bahagia..bisa keluar dr dunia gila ini..
    next authornim..hwating!!

  4. Huaaaa Jiyong ga beneran mati kan thor? Kalau Jiyong mati terus Dara gimana? Oh ya thor aku mau tanya kan Dara tadinya di kelompok air terus pindah ke kelompok api nah kekuatannya itu juga berubah ya thor? Di tunggu thor part selanjutnya ^^ fighting thor!
    Jangan lama-lama ya thor updatenya hehehe peace ^^

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s