Spring’s Agitator [Prolog]

spring

Spring’s Agitator

by Atikpiece

Main Cast : T.O.P as Choi Seunghyun (BIGBANG), Lee Parkbom (2NE1) | Support cast : SE7EN as Choi Dongwook, Park Hanbyul | Genre : Romance, Psychology, Hurt/Comfort, Life | Rating : PG-15 | Length : Chaptered | Desclaimer : Plot and story is mine. Don’t copy or repost without permission!

 

©2014

 

Mengubah alur kehidupan itu bukanlah hal yang mudah. Benar begitu?

 

Spring’s Agitator – Prologue

 .

.

Pendar cahaya bulan beserta kerlipan beribu bintang di langit malam sayup-sayup menampakkan diri ketika angin senantiasa berembus memisahkan pekatnya arakan awan yang menutupinya. Amat tenang, setenang berdirinya deretan lampu-lampu jalan yang menyinari arus ribuan pengendara mobil yang berseliweran silih berganti. Malam ini adalah malam menjelang liburan bagi para pekerja, baik karyawan biasa maupun para buruh atau pekerja lainnya, sehingga tidak heran jika ada banyak kendaraan yang memadati jalanan Seoul karena biasanya akan tampak lengang di hari-hari bekerja. Malah, kelihatan agak sepi meski larut kian menjemput.

Seraya menyelipkan sebatang rokok di antara dua jari kanannya, seorang pria jangkung tengah menyetir dengan tangan kirinya diikuti senyum santai yang merekah. Dilihat dari penampilan, terlihat seperti seorang pekerja swalayan yang ditugaskan untuk berjaga di stand alat-alat olahraga dikarenakan tubuhnya yang tinggi serta seragam kuning yang melekat di badannya. Paras itu nampak tegas, namun tak luput dari rambut agak beruban dan kulitnya yang hampir keriput pada sudut mata, sebab tahun ini usianya sudah menginjak 45 tahun.

Musik di era 90-an mengalun melalui radio usangnya. Meski suaranya—bisa dibilang—dapat membuat telinga sakit bagi siapapun yang mendengar, tetapi pria itu masih bisa menikmati tiap nadanya. Hidup memang harus dinikmati, dan harus dijalani dengan sebaik mungkin, sepahit apa pun cara menjalaninya. Yah, itu memang sudah prinsipnya.

Tak terasa satu jam telah berlalu, dan lambat laun virus kantuk perlahan menyerangnya. Mulanya ia berniat untuk membeli kopi hangat di minimarket supaya tetap terjaga, tetapi sayangnya ia malas memperlambat laju mobilnya yang hampir 100km/jam ketika jalanan mulai sepi. Rasa kantuk itu pun semakin menjalar, sampai akhirnya ia menyetir dalam keadaan setengah sadar.

Hingga ia tak menyadari, jika ada seberkas cahaya menyilaukan menyelimuti matanya dari arah berlawanan. Makin lama makin mendekat, sampai ia membuka mata dan kekagetan seketika menelusup ke seluruh organ tubuhnya. Jantungnya seakan berhenti berdegup ketika klakson berbunyi bising di seberang sana.

Ia menahan napas, kemudian membelalak dan berteriak histeris hendak membanting setir.

Namun sayang, semuanya terlambat.

 

BRUAAK!!

 

Kepala pria itu langsung menabrak bagian depan kemudi hingga darah segar dibiarkan mengucur melewati keningnya. Lehernya terkena pecahan kaca dan berdarah. Mobilnya pun ringsek, rusak parah, bahkan hampir lebih mengenaskan lagi sebab kedua tangannya terjepit di antara tepian kemudi dan jendela.

Mengetahui kecelakaan tersebut, para pengendara lain segera mengentikan mobilnya di tepi jalan, lalu berhamburan keluar menghampirinya. Mereka saling berbisik seraya memasang mimik takut juga jijik, hingga ada salah satunya yang memekik dan menjauhkan diri karena mau muntah. Maka di detik berikutnya, dua orang korban kecelakaan mobil ini seketika menjadi tontonan hiruk pikuk orang-orang yang memenuhi jalanan.

Akan tetapi keadaan tersebut tak berlangsung lama, begitu mendengar suara sirine yang makin menyeruak mendekati mereka.

 

*****

Suara roda bergulir memenuhi tiap sudut ruangan saat memasuki pintu utama rumah sakit, bahkan amat menyatu dengan suara telepon yang berdering di sana-sini beserta suara-suara lain yang berasal dari beberapa kamar rawat inap. Langkah kelima orang perawat beserta seorang dokter wanita nampak sangat tergesa-gesa dikarenakan banyaknya darah yang mengalir dari kepala dan leher pria jangkung itu. Dengan kondisi tak sadarkan diri, raut wajahnya lambat laun kian memucat, dan itu justru membuat sang dokter amat khawatir mendapati korban sedang berada dalam masalah besar. Terlihat jelas dari ekspresinya yang dirundung kegelisahan juga ketakutan yang tak pasti.

Pintu ruang ICU pun terbuka lebar, kemudian kelimanya beserta si korban bergegas memasuki ruangan, sementara sang dokter berhenti sejenak lalu menengok ke arah perawat lain yang baru saja melewatinya dari belakang.

“Oh, suster!”

“Ya?” Perawat itu berbalik kemudian bergegas menghampirinya. “Ada yang bisa saya bantu, dokter?”

Seraya mengatur napasnya yang terengah, dokter itu cepat-cepat merogoh kantung celananya dan memberikan sebuah dompet kulit kecoklatan dengan sisa darah yang masih menempel pada bagian depannya. Perawat itu menerimanya dengan tatapan bingung sekaligus mencari tahu apa maksud si dokter menyodorkan benda itu.

“Saya menemukannya di saku celana pria yang baru saja masuk ke ruang ICU,” katanya, masih agak terengah. “Dan saya minta tolong pada anda untuk menghubungi keluarganya sekarang juga. Katakan pada mereka bahwa salah satu anggota keluarga mereka mengalami kecelakaan dan sekarang sedang berada dalam masa kritis.”

“Oh, baik, dokter,” jawab perawat itu seraya mengangguk.

“Terima kasih.”

Perawat itu membungkuk lalu mempercepat langkahnya menuju meja resepsionis. Dokter itu menarik napas dalam lalu dihembuskan perlahan sembari tidak melepaskan pandangan seincipun dari pintu ruang ICU. Kecemasan pun meliputi dirinya, tentu saja. Meskipun ini bukan kali pertama ia menangani pasien yang sedang gawat, namun ia masih belum bisa menguasai lingkup ketakutannya dengan ketenangan berarti ketika akan memeriksa kondisi dan mengobati pasien.

Namun ia berusaha untuk merubahnya, dan dengan tersenyum, ia harap ia mampu melaluinya dengan baik kali ini.

 

Beberapa jam kemudian lampu yang menyala di atas pintu ruang ICU pun padam, diikuti sang dokter yang sudah selesai menangani si pria yang telah berhasil melewati masa kritisnya meski sampai saat ini pria itu belum sadarkan diri. Dokter itu tengah menyeka keringatnya dengan tisu, melepas ikat rambutnya dan memperbaiki posisi stetoskop yang melingkar di lehernya. Ia tersenyum, atau lebih tepatnya senyum melegakan karena usahanya menolong pasien telah berjalan lancar dan tidak sia-sia.

Namun senyumannya tiba-tiba lenyap, begitu melihat bangku ruang tunggu yang kosong, tak ada seorang pun yang menempatinya. Matanya mengerjap kemudian menengok ke sana ke mari mencari keluarga pria itu. Namun yang ada hanyalah orang-orang yang berlalu lalang di hadapannya seakan tak peduli.

Di mana? Di mana mereka?

“Dokter Parkbom!”

Si dokter menoleh, mendapati perawat—yang ia temui sebelum menjalankan operasi di ruang ICU—berlari kecil menghampirinya.

“Bagaimana? Sudah menghubungi keluarganya?”

Perawat itu terdiam cukup lama, lalu berdeham seraya mengatur napas. “Sudah, dokter.”

Alis dokter itu terangkat tinggi, kemudian beralih menatap deretan bangku di sebelah kanannya. “Lalu, ke mana mereka?”

Si perawat tidak menjawab, masih tetap dengan posisinya memandang mimik bingung sang dokter—sebut saja Parkbom. Ia cukup aneh memperhatikan gelagat perawat yang berdiri tak jauh darinya. Perawat itu tampak muram, kemudian menundukkan kepalanya.

Begitu menyadari Parkbom masih menunggu jawabannya, akhirnya dengan sekali tarikan napas, perawat itu menggumam,

“Saya sudah menghubunginya. Tapi, tidak ada yang menjawab…”

Tiada sahutan, dan hanya keheninganlah yang memenuhi tiap partikel udara di sekitar mereka. Parkbom terdiam seraya membuka matanya lebar, sementara perawat itu lagi-lagi menundukkan kepalanya dan berpikir.

“Mungkin, keluarganya memang sedang tidak ada di rumah, dokter…”

Alis Parkbom mengernyit, dan kali ini ia benar-benar mengalihkan pandangannya dari perawat itu. Mulanya ia mendongak, kemudian mendesah pelan sekaligus memandang ke arah lain. Sepertinya ia kembali memikirkan pria jangkung yang belum dipindahkan dari ruang ICU, dikarenakan malam ini tidak ada satu pun anggota keluarganya yang datang menjenguk. Dan lagi, ia merasa kasihan, melihat bahwa pria itu memang nampak sudah cukup tua untuk merasakan sakit yang dideritanya. Apalagi dia harus mengalami kecelakaan yang mau tidak mau telah menguras banyak darah dari dalam organ tubuhnya.

Akan tetapi …

 

Yah, ia harap keluarganya memang benar-benar sedang pergi sekarang.

.

.

.

-to be continue-

 

A/N : Haaii😀 Lama tak berjumpa. Makasih banyak buat yang udah baca. Bagi yang penasaran sama kelanjutannya, silahkan tinggalkan komentarnyaaa~😀

15 thoughts on “Spring’s Agitator [Prolog]

  1. Nggak sengaja nemu ff punya kamu lagi di sini tapi baru beberapa paragraf eh nyadar yang kebaca chapter 2, pantesan eonni bingung, langsung deh lari ke prolog😀
    As always kamu kalo bikin ff keren saeng, cuma mau komentar dikit aja ya. Ini juga bener apa nggak komentar eonni tapi dalem ff kamu rasanya adanya ngeganjel aja. Itu kan si perawat udah manggil ‘Dokter Parkbom’, tapi kenapa di paragraf bawahnya lagi kamu tulis : Si perawat tidak menjawab, masih tetap dengan posisinya memandang mimik bingung sang dokter—sebut saja Parkbom. Kalo menurut eonni *ini menurut doang lho ya*, pake aja salah satu, si perawat manggil itu atau kalimat sebut saja Parkbom. Jadi lebih efektif. Itu aja sih. Emang sih eonni belum terlalu jago juga urusan bikin kalimat efektif, kadang masih suka berlebihan, tapi ini opini aja. Lompat chapter 1😀

    • Halo rebecca unn~! xD makasih banyak yaa udah baca😀
      Kalo masalah penulisan itu, kayaknya aku sehati deh sama unni. Emang menurut aku sendiri itu juga kurang efektif heu heu, tapi karena udah terlanjur jadi yaudah. Toh akunya sendiri juga males ngedit ulang hahaha xD
      Terus juga akunya masih suka bingung waktu nulis ‘dokter Parkbom’ itu sebenernya kata ‘dokter’ itu pake huruf kapital ngga sih unn? AKU BINUN! x( *plok* soalnya waktu aku nulis tpi ngga dikapital rasanya kayak ada yg ngeganjel gitu -__-”

      Sekali lagi makasih banyak banyaaak ya unn~! *peyuk* xD

      • Gelar kalo diikuti nama pake huruf kapital. Oalah ternyata kamu juga ngerasa nggak efektif toh.😀 ur welcome *hug back*

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s