[Vignette] Deleramentum

deleramentum

xilvermist present

© 2014

Deleramentum

CAST: [f(x)] Krystal – Jung Soojung, [EXO] Kai – Kim Jongin, [f(x)] Sulli – Choi Jinri & [EXO] Oh Sehun // GENRE: AU! Psychology & Romance // LENGTH: Vignette // RATING: PG-15 // DISCLAIMER: Inspired by He Love Me…He Loves Me Not (2002)

.

.

SUMMARY:

Karena sesungguhnya ia tidak pernah mengenal gadis berambut merah itu.

.

.

.

Terik sinar matahari di siang itu membuatnya mengerjap-ngerjapkan matanya untuk yang ke sekian kalinya. Kedua tangannya diangkat—membentuk huruf V terbalik—guna menghalangi paparan sinar itu agar tidak langsung menembus kulit wajahnya. Ketika satu per satu orang di sekelilingnya mulai meninggalkan tempat duduk mereka karena cuaca yang terlampau panas, ia malah memilih untuk mengeluarkan sebungkus roti dari tas dan mengoyaknya menjadi beberapa bagian kemudian menyuapkan satu di antaranya ke mulut seekor anjing peliharaan yang sedang dilepas pemiliknya.

Anjing itu menjilati ujung sepatunya sebelum berganti menciumi dan melahap habis roti yang ditawarkannya. Ia mengacak pelan bulu-bulu anjing itu sembari tersenyum tipis. Rasa lelah mulai menjalari tubuhnya, selama kurang lebih 3 jam sudah ia terduduk di bangku taman itu. Tidak ada yang menemaninya sebelum anjing itu datang, hanya ada rumput dan pohon-pohon tak bersuara. Entah sejak kapan menunggu menjadi salah satu kegiatan kesukaannya.

Sudut-sudut bibirnya tertarik membentuk seulas senyuman saat matanya menangkap sosok yang ditungguinya muncul dari balik pintu utama gedung pencakar langit yang berdiri kokoh di tengah-tengah kota. Sosok rupawan yang membuat kaum hawa manapun yang melihatnya pasti akan bertekuk lutut. Dirapikannya tatanan rambutnya yang berwarna merah itu sebelum menghampiri sosok di sebrang sana. Sisa roti di tangannya ia buang begitu saja ke arah anjing yang semenit lalu bagaikan teman baiknya itu.

“Kau bisa pergi sekarang,”  ditendangnya tubuh binatang berbulu coklat muda itu.

Tubuh rampingnya berlari pelan menuju sebrang—menciptakan angin-angin kecil di sekelilingnya—menyelip di antara beberapa pengguna jalan yang terlihat tidak terlalu tergesa-gesa dibandingkan dengan dirinya. High heels-nya cukup menimbulkan kebisingan saat ia mendaratkan kedua kakinya di dalam sebuah cafe yang saat itu cukup sepi. Matanya mengabsen setiap sudut ruang dan akhirnya berhenti di meja nomor 18.

“Hei!” serunya.

.

.

.

Soojung—si gadis berambut merah—tampak sedang menyeruput green tea latte-nya saat Jinri dan Sehun—sahabatnya—menghampirinya. Jinri mengeluarkan beberapa buku yang dipinjamnya dari perpustakaan kampus sesaat sebelum dirinya dan Sehun menuju kemari—cafe langganan mereka. Sehun, seperti biasa pemuda berkulit seputih susu itu akan langsung memesan segelas bubble tea kesukaannya.

“Jadi, bagaimana kencanmu?” Jinri menatap malas ke arah Soojung. Sesungguhnya Jinri tidak berminat sama sekali untuk mengetahui apa yang terjadi dengan Soojung—kemarin—namun sepertinya Jinri harus berpura-pura untuk bersikap sedikit—ya sedikit—peduli pada sahabatnya ini.

“Sepertinya dia orang yang perhatian. Dia juga sudah punya pekerjaan yang mapan dan—”

“Cukup katakan menyenangkan atau tidak!” Jinri memutar bola matanya kesal. Sungguh. Ia tidak tertarik sama sekali dengan curhatan yang terlalu memainkan perasaan seperti ini.

“Tentu saja menyenangkan, bodoh! Jika tidak mana mungkin si pemilik rambut merah ini masih bisa duduk manis di sini,” timpal Sehun yang entah sejak kapan sudah duduk di sana dengan segelas bubble tea-nya.

Benar. Soojung mungkin sudah mengurung dirinya seharian, seminggu, sebulan atau bahkan berbulan-bulan jika kencannya gagal dan jika ia masih bisa duduk manis dan menikmati segelas green tea latte berarti itu adalah pertanda baik. Tanpa ditanya pun harusnya Jinri sudah tahu.

“Dia sudah bertunangan,” dan detik itu juga—saat Soojung menuntaskan kalimatnya—Jinri ingin sekali membentak bahkan menampar Soojung agar gadis itu segera sadar namun mirisnya rasa iba lebih mendominasi dalam diri Jinri.

“Kalau begitu itu dihitung gagal.” ucap Jinri sarkastis.

“Selama dia belum menikah kenapa gagal?”

“Seharusnya kau mengerti arti kata bertunangan,” Jinri beranjak dari kursinya dan berlalu begitu saja.

“Kau harus tetap di sini, Jongin bilang ia akan menemuiku di sini sepulang kerja,” Soojung berusaha mencegah Sehun yang tampaknya sebentar lagi akan mengikuti jejak Jinri.

Sehun hanya bisa menatap kedua bola mata Soojung lekat-lekat—berusaha mencari keyakinan di sana—namun tidak bisa, Sehun tidak bisa karena ia tahu semuanya tidak benar. Tidak akan ada yang datang, Soojung-ah—batin Sehun.

.

.

.

Pemuda berkulit tan itu muncul dari balik pintu kamar mandinya seraya mengeringkan rambut hitamnya dengan sehelai handuk berwarna putih—membuat sosok itu terlihat beribu-ribu kali lebih sexy. Ia bergerak menuju pinggir kasur kemudian menenggelamkan wajahnya di antara helaian rambut gadisnya yang memiliki aroma khas itu.

“Kau membuatku selalu menginginkanmu, Jung Soojung” bisiknya membuat sang gadis bergidik geli akibat hembusan nafasnya yang menyapu permukaan kulit sang gadis.

“Aku milikmu,” dan detik itu juga Soojung menarik tengkuk pemuda bernama Kim Jongin itu, menyatukan bibirnya dan bibir tebal milik Jongin yang selalu diinginkannya.

“Kau berniat menggodaku lagi?” tanya Jongin—melepaskan ciuman singkat mereka—terdengar seperti sebuah bisikan seraya memamerkan smrik andalannya.

“Tidak. Aku masih ada kelas setelah ini,” Soojung beranjak dari kasur seraya menarik selimut yang membungkus tubuh polosnya.

Langkah Soojung terhenti saat perasaan itu muncul kembali, perasaan yang selalu dihindarinya, ketakutan. Ketakutan yang selalu menghantuinya setiap malam, mendominasi mimpinya, membuatnya terbangun dengan peluh yang membahasi wajah cantiknya.

“Jongin,” panggil Soojung sebelum memasuki kamar mandi.

“Eum?”

“Kau tidak akan meninggalkanku, ‘kan?”

“Tidak akan.”

“Bagaimana jika tunanganmu mengetahui hubungan kita?”

“Tidak masalah bagiku,” Jongin beranjak dari kasur kemudian merengkuh tubuh ramping Soojung ke dalam dekapannya.

Soojung pun tersenyum. Baginya tidak ada yang lebih nyaman dari dekapan Jongin, suara berat Jongin yang selalu memenuhi indera pendengarannya, bibir tebal Jongin yang selalu menciptakan sensasi tersendiri di setiap kecupannya. Tidak ada dan tidak akan ada yang bisa menggantikan Jongin, dan Soojung berani bertaruh Jongin juga pasti merasakan hal yang sama pada dirinya.

.

.

.

“Jinri, lihat ini. Jongin yang memberikannya padaku,” Soojung memamerkan jemari lentiknya di hadapan Jinri, memberitahu bahwa cincin yang terpasang tepat di jari manis kanannya adalah pemberian Jongin.

“Bahkan ia memberikan cincin pada selingkuhannya? Aku tidak yakin—” celotehan Jinri mungkin akan lebih panjang jika Sehun—yang duduk berhadapan dengannya—tidak dengan segera menendang kaki gadis dengan gaya rambut seperti laki-laki itu.

Sehun melemparkan tatapan tajamnya pada Jinri, mengisyaratkan pada Jinri bahwa ia harus menahan dirinya. Serba salah seketika menjalari pikiran Jinri, di satu sisi ia tidak mungkin membiarkan sahabat perempuan satu-satunya itu semakin hancur tapi di sisi lain ia tidak bisa berbuat apa-apa karena satu-satunya kebahagiaan Soojung adalah dengan semua yang ia perbuat sekarang, semua yang Soojung yakini benar namun tidak untuk orang lain.

“Aku rasa sebentar lagi Jongin akan menepati janjinya untuk meninggalkan tunangannya itu. Aku sudah tidak sabar melihat undangan pernikahan kami yang sudah tercetak dan siap dikirimkan ke tamu-tamu undangan lalu mereka— Oh iya, kalian tidak perlu khawatir karena kalian berdua akan menjadi tamu kehormatan di pesta nanti,” jelas Soojung hampir tanpa jeda.

“Soojung-ah” Sehun menatapnya iba.

.

.

.

Dan kini Soojung sudah berdiri di depan altar, lengkap dengan gaun pengantin berwarna beige yang membuatnya terlihat begitu anggun juga sebuket bunga digenggamannya. Senyuman kebahagiaan menghiasi wajahnya. Ia sudah tidak sabar menunggu detik-detik di mana Jongin menyematkan cincin pernikahan mereka di jari manis kirinya.

Soojung menoleh dan ia baru sadar bahwa tidak ada orang di sekitarnya, pendeta, tamu undangan, Jinri, Sehun bahkan Jongin tidak ada di sana. Raut wajahnya yang tadi penuh sukacita berubah menjadi panik seketika. Ketakutan mulai menyergapi tubuhnya, ia menggigit bibir bawahnya yang mulai bergemetar, buket bunga yang digenggamnya sedari tadi jatuh ke lantai. Kedua kakinya tidak mampu menopang tubuhnya lagi, ia jatuh terduduk di lantai dengan kedua tangannya mendekap erat lututnya.

“Di mana mereka?” gumamnya dengan pandangan kosong.

“Di mana mereka?” ulangnya.

.

.

.

Karena sesungguhnya Jongin tidak pernah mengenal Soojung.

Hanya cinta yang tak pernah terbalaskan.

Mereka menyebutnya Erotomania—penyakit kejiwaan berupa gangguan delusi di mana penderita meyakini bahwa ia dicintai oleh orang lain, biasanya seseorang yang terkenal atau memiliki status sosial yang tinggi. Pada kenyataannya, penderita hanya memiliki hubungan yang sekedarnya, atau bahkan tidak memiliki hubungan dengan orang yang ia katakan mencintainya.

.

.

.

fin.

.

.

.

A/N

Well, this is my very first time writing psychology fic .-.

 Jadi fic ini terinspirasi dari film asal Perancis yang sebenarnya uda dirilis sejak tahun 2002 tapi baru aku tonton di tahun 2014 berhubung sebelumnya aku kurang tertarik dengan film-film ber-genre psychology jadi film ini kelewat de dari list-ku. Dan karena aku lagi pengen nyoba nulis fic dengan genre psychology jadilah fic ini! GAGAL? Aku uda bisa memprediksikannya, bahkan sebelum aku mulai nulis HAHAHA /slapped/ tapi makasih lho buat yang uda mau baca 🙂

Last, mind to review?

Advertisements

21 thoughts on “[Vignette] Deleramentum

  1. Kukira mereka beneran ketemu dan nikah, betapa bahagianya…. /imagine/ jujur, aku jadi penasaran sama filmnya :/

    Well endingnya bener-bener gabisa kutebak. Bikin gregetan o.o diksinya keren thor, pas dan jleb banget hahah ga lebayy i like it x] cara kakak menjabarkan “Erotomania” itu bener-bener ga… apa ya? kalo gabaca sampai habis, ga ngena di hati gitu deh hehe.

    Overall, daebak! Karakter Jongin disini ga berubah dari ff ff kebanyakan, bedanya ini genre utamanya psychology. Lain dari yang lainn! ahaha dan ini juga pertama kalinya aku baca fanfic pake genre psychology. Juga disini aku kasihan sama Krystal, ah wish u could find your true love deaar hihi xD

    the lassstt, salam kenal yaa authorr! lais 00liner, and i’m waiting for your next fanfic! kalo bisa, kaistal lagi yaa hehex] 😀

    • Sebenarnya aku emang pengen reader ngiranya hubungan (gelap) mereka itu benar-benar real sebelum baca ending-nya hehee. Dan untuk filmnya itu recommended banget lho buat penggemar film genre psychology, jadi kalau kamu salah satunya, wajib banget ni nonton film He Love Me…He Loves Me Not ini 🙂

      Salam kenal juga ya, Lais 🙂 Ellen di sini, 94liner /oke aku sadar ini ketuaan/ ._.

      Last, thanks a lot for reviewing this (failed!) fic 🙂 i really appreciate it! /hug/

  2. Ih merinding baca ff ini Daebak 😀 selalu suka sama ff bergenre psychology, ini penyakit yang di derita krystal juga beda, seringnya kalo ff yang mengangkat tema psychology pasti nggak jauh sama penyakit Skizofrenia tapi ini ada lagi “Erotomania” Kasian sama Krystalnya 😦

    Oke mungkin cuma itu aja review dariku, keep write thor ! 😀

    • Gitu ya?
      Jujur aku ga pernah baca fic psychology si sebelumnya .-. jadi kurang tau penyakit-penyakit kejiwaan yang sering dibahas sama author-author yang pernah nulis dengan genre ini hehe~
      Tapi, ya, aku sedikit bangga juga si kalau pada kenyataannya emang belum pernah ada yang ngebahas penyakit Erotomania ini sebelum aku HAHAHAHA /slapped/

      Last, thanks for reading & reviewing ya, Septia 🙂

  3. keren! ff bergenre psychology emang selalu keren
    apalagi pemilihan katanya, uuhh luar biasa! masuk banget karakternya
    nice ff..

  4. suka dengan alur ceritanya yang enggak kaya biasanya, tapi entah gimana ya? ini karena aku yang emang lagi ngga konsen atau apa, gaya penyampaiannya kurang ngena. Tapi, this is a new one for me! Good job!

  5. Awalnya bingung sama alur ceritanya, kok tiba-tiba jadi begitu/? Gak ada orang di gerejanya. Tapi langsung ngerti pas bagian penjelasan penyakit itu. Coba beneran si Jongin suka juga sama Soojung, kesenangan banget aku 😀
    Tapi emang Jongin itu siapanya Soojung? Maksudnya kok Soojung ngerasa kayak pernah ketemu Jongin

  6. Baru nemu fanfic ini, Dan sukaaaaa.
    Alur ceritanya unik. Endingnya ga terduga.
    Pantesan pas awal-awal Sehun bilang “Tidak akan ada yang datang Soojung-ah”
    Dan oh ternyata Soojung punya kelainan kasian 😦
    Btw, nice fic. Keep writing ya thor ^^

  7. fanfic yg bagus chingu tp kurang panjang
    suka sm ceritannya
    jadi selama ini semua yg dialami sooojung itu hayalan doang? tp sebenernya kai itu ada ga sih?

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s