Spring’s Agitator [Chapter 1]

spring

Spring’s Agitator

by Atikpiece

Main Cast : T.O.P as Choi Seunghyun (BIGBANG), Lee Parkbom (2NE1) | Support cast : SE7EN as Choi Dongwook, Park Hanbyul | Genre : Romance, Psychology, Hurt/Comfort, Life | Rating : PG-15 | Length : Chaptered | Desclaimer : Plot and story is mine. Don’t copy or repost without permission!

©2014

Spring’s Agitator : Prolog

 [Chapter 1] -Initial Shock

-Seoul at 10.00 KST-

Sinar mentari yang hangat kini menyambut para pengunjung yang akan memasuki rumah sakit untuk melihat kondisi anggota keluarga mereka. Saat ini, keadaan rumah sakit cukup lengang dikarenakan sebagian kecil dokter yang bekerja di sana sedang tidak ada jadwal praktik di Sabtu pagi ini untuk mengisi libur akhir pekan. Yah, hari Sabtu memang merupakan hari bahagia bagi mereka—para dokter—yang memang membutuhkan waktu istirahat setelah enam hari berturut-turut menangani pasien.

Dalam perjalanan menuju ruang kerja ayahnya, seorang pria berambut kecoklatan melangkahkan kakinya lebar-lebar menyusuri deretan kamar rawat inap sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jeans. Ia pun berjalan seraya melirik para pengunjung dan beberapa orang perawat yang melewatinya dari arah berlawanan sesekali tersenyum ramah dan mengucapkan ‘selamat pagi’ berulang-ulang pada mereka. Lagi pula itu juga bukanlah perihal buruk karena memang sejak kecil ia sudah diajarkan untuk bersikap ramah pada siapa pun, meskipun ia sendiri tidak mengenal siapa orangnya.

Pintu ruang kerja bertuliskan ‘Dr. Choi—Spesialis Psikologi’ telah berada di depan mata. Dengan senyum lebar, pria itu mengetuk pintunya terlebih dahulu, kemudian memutar kenop lalu menyembulkan kepalanya dari balik pintu.

“Ayah, selamat pagi!” sapanya, begitu menemukan sosok ayahnya sedang membaca buku tebal khusus penderita gangguan psikis. Si pria paruh baya itu mengangkat kepalanya, mendapati pria di seberang mejanya datang untuk berkunjung.

“Oh, Dongwookie…” katanya dengan wajah nampak amat sumringah dari sebelumnya. Seraya menegakkan tubuhnya dari sandaran kursi, ia lalu menutup buku tebal itu kemudian diletakkan di meja sebelah kiri. “Masuklah.”

Pria itu—Choi Dongwook—duduk menghadap meja kerja ayahnya seraya mendesah untuk melepas lelah. Akhir-akhir ini cuaca di Seoul memang sedikit kurang bersahabat dengan alam. Terkadang cuaca dirasa sangat panas, namun tiba-tiba berubah dingin di lain waktu. Walaupun saat ini Seoul sedang dilanda musim semi—musim yang paling dinanti sebagian besar orang dikarenakan mereka bisa melihat bunga-bunga bermekaran di pepohonan di sepanjang jalan—akan tetapi tetap saja, cuaca yang sukar untuk dideteksi itu secara langsung telah menjadi penghambat segalanya.

“Tumben kau datang untuk mengunjungiku.” Suara berat sang ayah seketika menghentikan aktivitas Dongwook untuk memandang ke sekeliling ruangan. Karena tidak mendapat sahutan apapun dari Dongwook, ayahnya pun melanjutkan, “Tetapi beruntunglah kau berkunjung tidak di saat jam kerja. Kalau memang sampai hal itu terjadi, kemungkinan besar kau bisa gila.”

Dongwook menaikkan sebelah alisnya, merubah posisi duduknya untuk lebih dekat ke meja. “Kenapa begitu?”

Mendengar pertanyaannya, sang ayah pun tertawa kecil.

“Kau tahu sendiri kan,” Dia berkata dengan senyum mengembang. “kalau aku hanya menerima pasien yang sedang mengalami gangguan mental.”

“Ah, benar.” Dongwook menjentikkan jarinya dan tersenyum lebar. “Ayah memang berbakat menangani masalah seperti itu.”

“Seharusnya kau juga bisa sepertiku.”

Dongwook tertawa hambar, kemudian menghembuskan napasnya di sela melipat tangannya di depan dada. Senyum memikat itu sama sekali belum terlepas sedikitpun dari paras tampannya. “Entahlah,” kemudian mengarahkan bola matanya ke bawah. “Mungkin aku memang terlahir bukan untuk menjadi seorang dokter.”

“Ya, seperti yang kuduga. Terlihat dari bakat bermusikmu yang lebih menonjol sejak dini. Dan bisa kau lihat, sekarang kau sudah menjadi penyanyi terkenal.” Ayahnya menanggapi seraya mengangguk kecil disusul Dongwook menatap bola mata sang ayah lekat-lekat. “Ngomong-ngomong, untuk apa kau kemari?”

“Oh, aku… hm…”

Dongwook tampak ragu-ragu, tetapi kemudian tersenyum lagi. “Hanya memastikan bahwa ayah baik-baik saja.”

Yah, itu cuma alasan.

“Apa maksudmu?” Alis pria paruh baya itu mengernyit. “Aku memang baik-baik saja, Dongwookie.”

Lagi-lagi Dongwook tertawa, meski tidak terlalu kencang. “Tidak, ayah. Bukan itu. Maksudku…” Dilanjutkan menggigit bagian bawah bibirnya, kemudian mendekatkan wajahnya perlahan hingga di tengah-tengah meja. Tangan kanannya berada di sebelah bibirnya, seolah memasang posisi berbisik yang membuat ekspresi ayahnya kontan berubah bingung.

“Ada seseorang yang membuatku rela merajuk berkali-kali pada managerku untuk mengambil cuti seharian penuh.”

Ayahnya menatap Dongwook tanpa berkedip. “Oh? Siapa?”

“Dokter Parkbom!!”

Hening.

Kelopak mata ayahnya membola, setelah mendengar jawaban anak semata wayang yang kini membuatnya mendesah sembari menggelengkan kepalanya berulang kali. Sudah menjadi kebiasaan baginya bila mengetahui Dongwook menyebut nama wanita seperti itu, karena pria itu akan sangat bahagia ketika membicarakan soal wanita. Apalagi wanita yang membuatnya tertarik.

“Oh, si dokter wanita yang baru bekerja di sini selama setahun itu, ya,” kata ayahnya, disambut anggukan antusias Dongwook.

“Jadi, kau datang ke sini hanya ingin membahas soal itu?” Sang ayah memijat pelipisnya, kembali mendesah, sedikit merasa tidak berselera. Pun pertanyaan tersebut sama sekali tidak mendapat tanggapan dari Dongwook. Namun di saat-saat seperti ini, ayahnya masih sanggup membayangkan. Mengingat siapa sebenarnya Parkbom di matanya, sepertinya memang kelihatan cukup serasi jika disandingkan dengan putranya di usia yang terbilang masih sangat muda.

“Dia pacarmu?”

Dongwook terkejut, membulatkan matanya.

“T—tidak, bukan. Maksudku seperti…”

“Ah, aku tahu.” Melihat reaksi yang tidak biasa dari Dongwook menyebabkan pria paruh baya itu mengerti dan lambat laun jadi tersenyum. “Ternyata, masih dalam tahap pengejaran, ya.”

Mulanya Dongwook membisu, sampai akhirnya menanggapi dengan senyum seiring pipinya bersemu merah.

Selang berapa menit, pria itu lagi-lagi memandang sekeliling, kemudian berhenti ketika suara berat ayahnya kembali menyerbu.

“Baru kali ini aku tahu kau mengagumi seorang dokter,” katanya seraya meletakkan kedua tangannya di atas meja. “Padahal dulu kau pernah bilang kalau kau hanya akan menyukai wanita sesama artis sepertimu. Apa seleramu sudah berubah?”

“Tidak.” Bibir Dongwook mengerucut. “Kurasa saat ini tidak lagi.”

Ayahnya terdiam cukup lama, cuma mengangguk dan mendesah perlahan. Memang sebelum memulai debutnya menjadi seorang penyanyi, Dongwook pernah berucap akan mencari pasangan sesama artis. Namun sekarang, sepertinya pemikiran itu telah buyar akibat adanya sosok yang jauh lebih menarik ketimbang teman-teman wanitanya yang berprofesi sejenis dengannya. Ditambah ia juga tidak mempermasalahkan pekerjaan yang digeluti wanita pujaannya itu. Lagi pula, tidak masalah kan jika ia memiliki pasangan seorang dokter? Malah, kasus seperti itu masih jarang ditemui di Korea.

“Aku hanya mencari wanita yang dapat membuatku nyaman bersamanya, selain memendam sifat baik, perhatian, dan benar-benar tulus mencintaiku. Meskipun aku juga belum mengetahui bagaimana perasaan Parkbom terhadapku, tetapi kurasa, dia orang yang kucari.”

Dongwook menatap ayahnya dalam diam.

“Dan apa ayah tahu,” suara khasnya tiba-tiba kembali memecah gelombang hening keduanya. ”Sekarang, tempat tinggal Parkbom bersebelahan dengan apartemen kita.”

“Oh, ya?” Mata ayahnya membulat sempurna. “Aku malah baru tahu soal itu.”

“Dia baru saja pindah dari Amerika setahun lalu. Kemudian aku bertemu dan berhubungan dengannya dua hari setelahnya,” jelas Dongwook girang, dan sekali lagi menyondongkan arah matanya pada sang ayah. “Menurut ayah bagaimana? Dia cantik, kan?”

Alis ayahnya terangkat tinggi. Tidak biasanya Dongwook akan bertanya seperti itu, karena sebelumnya Dongwook pernah berkata jika semua wanita itu cantik. Kalau dia sudah begitu, bukankah itu berarti si wanita bernama Parkbom terlihat sangat spesial di mata Dongwook?

Kemungkinan besar sepertinya memang benar.

“Ya,” jawab ayahnya, kemudian tersenyum. “Dan menurutku, dia adalah dokter yang paling cantik di rumah sakit ini,” tambahnya. Sengaja, supaya Dongwook merasa senang. Tetapi pada kenyataannya, dokter Parkbom memang seperti apa yang ia katakan barusan.

“Dia orang yang ramah, baik hati, sesuai dengan kriteriamu. Kurasa itu memang pilihan yang bagus, Dongwookie.” Ayahnya melanjutkan sembari memperlihatkan tatapan menerawang.

Ia pun kembali teringat dengan usaha seorang Parkbom sekitar satu minggu lalu, yakni dengan susah payah wanita itu membawakan peralatan medis ketika pria itu sedang menangani pasien penderita kanker tulang kaki sekaligus mengalami gangguan kejiwaan. Dan ia ingat betul akan kerja keras Parkbom yang hendak membantu pasien itu agar dapat bernapas lagi ketika jantungnya telah berhenti berdetak, hingga beberapa menit kemudian usahanya membuahkan hasil akibat Parkbom terus-menerus menekan dada pasiennya berulang kali.

Dia sukses, dan senyuman pria paruh baya itu pun merekah begitu saja saat menemukan Parkbom tengah berusaha tersenyum padanya di sela mengatur napasnya yang terengah. Butiran keringatnya dibiarkan mengalir sampai ke leher. Dan dengan kerja keras yang amat mengagumkan, wanita itu benar-benar telah menjadi seorang penyelamat waktu itu.

“Terima kasih, ayah.” Dongwook berkata seraya tersenyum lebar, tidak sadar jika ia baru saja membuyarkan lamunan ayahnya. “Dan hari ini aku juga akan mengajaknya berkencan. Berhubung di hari Sabtu dia tidak ada jadwal praktik.”

“Oh, begitukah?” Pria paruh baya itu tersenyum melihat Dongwook mengangguk kecil. Ia nampak senang mendapati Dongwook juga sependapat. Meskipun ia tahu bahwa ini soal wanita, dan Dongwook pun menyukainya, akan tetapi melihat anaknya akan berusaha untuk mendapatkan Parkbom mengingatkannya akan masa-masa dahulu ketika ia akan menikahi wanita yang kini telah menjadi istrinya. Dan ia pikir, pengalamannya hampir sama persis dengan apa yang akan dilakukan Dongwook saat ini.

Yah, selama Dongwook bahagia, ia juga akan ikut bahagia.

“Kalau begitu, semoga berhasil. Ayah mendukungmu.”

*****

Lee Parkbom sekali lagi melirik arloji yang melingkar di tangan kirinya ketika beberapa saat lalu ia telah keluar dari pintu utama rumah sakit. Terik matahari yang kini menyengat kulit putih pucatnya perlahan membuat kedua kakinya melangkah mundur hingga ia terduduk di bangku panjang sebelah kanan pintu kaca itu. Jemarinya bergerak-gerak di bangku, sedangkan kepalanya menoleh kesana-kemari mencari seseorang. Terlebih ia juga selalu mendesah kecewa ketika pintu kaca itu berderit beberapa kali, namun orang yang keluar masuk rumah sakit bukanlah orang yang ia tunggu.

Sebelum ia berencana untuk mengisi libur akhir pekannya dengan pergi mengunjungi kediaman neneknya di desa, seseorang telah menghubunginya terlebih dulu dan berniat untuk mengajaknya pergi berkencan. Kedengarannya cukup romantis, tetapi ia menganggap berkencan itu sama saja dengan jalan-jalan.

Sebenarnya sudah beberapa bulan ini ia mengenal orang itu, namun sepertinya ia sudah tahu siapa pria itu sebelum berkenalan dengannya.

Dia seorang penyanyi yang saat ini sedang naik daun. Kakaknya pun pernah bercerita bahwa dia juga sudah sangat terkenal di Amerika. Meskipun ia tinggal cukup lama di New York, tetapi ia malah tidak tahu-menahu soal itu. Yah, ia cuma tahu bahwa dia—pria itu—adalah orang terkenal. Mungkin dikarenakan ia terlalu sibuk dengan studinya di bidang kedokteran sehingga ia tidak begitu mempedulikan dunia hiburan. Bahkan sekarang, ia sudah mendapat gelar sarjana dan bersikeras memulai karirnya sebagai seorang dokter di Korea, negara kelahirannya.

Mengenai orang terkenal itu, menurutnya, dia adalah orang yang mudah bergaul, tampan dan selalu tersenyum pada siapa pun. Dilihat dari parasnya, sepertinya dia juga orang yang romantis, perhatian dan ramah, sekaligus menjadi idaman para wanita. Dibalik penilaiannya terhadap pria itu, ia yakin, para fans-nya pasti akan sangat senang memiliki pacar seperti dia. Terlebih dia juga seorang penyanyi yang dapat meluluhkan hati wanita manapun dengan suara emasnya.

Dan satu lagi, dia juga orang yang asyik diajak bicara. Tetapi jangan katakan bahwa ia menganggap orang itu lebih dari sekadar teman. Sebab, ia sudah memikirkan sejak awal bahwa hal itu tidak akan mungkin terjadi padanya, karena bagi Parkbom, Choi Dongwook adalah orang yang baik—atau bisa dibilang—teman yang baik.

“Sudah menunggu lama, nona cantik?”

Parkbom terkejut ketika suara khas Dongwook menelusup ke gendang telinganya. Pria dengan balutan jaket cokelat muda dan setelan jeans agak kebiruan itu tersenyum lebar ke arahnya, membuat senyum Parkbom pun ikut mengembang, bahkan lebih cerah dari biasanya. Pria yang ia tunggu sejak 30 menit yang lalu sudah datang.

“Dongwookie, kau terlambat. Kenapa lama sekali? Apa saja yang kaulakukan dengan ayahmu, hm?”

“Tidak banyak. Maaf, membuatmu menunggu. Tapi, hari ini kita jadi berkencan, kan?”

*****

“Kali ini kau ingin mengajakku ke mana?”

Dongwook terlebih dulu memeriksa kaca spion mobilnya, kemudian menyalakan mesin, mengubah posisi gigi dan menginjak pedal perlahan. “Ke suatu tempat. Akan kuberi tahu saat kita hampir sampai.”

“Astaga, kau ini, selalu penuh rahasia.” Parkbom tersenyum menatap Dongwook, lalu beralih memperhatikan jalanan. “Sebulan yang lalu kau mengajakku pergi ke pesta perayaan Hari Natal tanpa bilang-bilang padaku. Kemudian beberapa hari setelahnya kau membawaku pergi ke pusat kota untuk melihat kembang api bersama menyambut malam Tahun Baru. Dan baru-baru ini, kau juga habis mengajakku jalan-jalan lalu memberikan hadiah cokelat saat menjelang Hari Valentine.”

Dongwook mendengarkan celotehan Parkbom dalam diam, tetapi di dalam hatinya, ia serasa ingin tertawa sendiri. Melihat begitu bahagianya Parkbom atas tindakannya akhir-akhir ini.

“Apa kau tahu?” lanjut wanita itu kemudian. “Semua yang kaulakukan padaku membuatku terkesan. Terlebih aku mendapatkannya dari seorang artis terkenal sepertimu. Entah betapa senangnya para fans-mu jika mereka berada dalam posisiku saat ini.” Parkbom tersenyum dan menatap Dongwook beberapa menit setelahnya.

“Terima kasih, nona Parkbom.” kata Dongwook di sela memutar kemudi berbelok ke kanan. Jika dilihat dari eskpresi, sepertinya ia terlihat sangat senang, bahkan melebihi kesenangan ketika seorang anak dibelikan balon oleh orang tuanya. Karena begitu mendapati senyuman Parkbom tersungging tidak seperti biasanya, ia rasa, rencana untuk menarik perhatian wanita berambut panjang kemerahan itu telah berhasil, karena sejauh ini ia belum mendapatkan raut wajah tidak menyenangkan sedikitpun dari Parkbom.

“Aku senang jika kau juga ikut senang,” tambahnya dengan bersemangat. “Dan kemungkinan aku juga akan melakukan hal seperti itu pada penggemar yang kusukai suatu hari nanti.”

“Oh, benarkah?” wajah Parkbom terlihat berseri-seri. “Aku yakin itu pasti akan sangat menyenangkan. Kuharap apa yang kaukatakan barusan akan benar-benar terjadi padamu, Dongwookie.” Wanita itu tersenyum dan mulai memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket.

Mendengar jawabannya, Dongwook hanya mengangkat bahu. “Ya, itu memang yang kuinginkan. Tetapi tidak terjadi juga tidak apa-apa.”

“Tidak terjadi juga tidak apa-apa?” Parkbom agak kaget dengan tanggapan seseeorang di balik kemudi itu. “Apa maksudmu?”

Dongwook cuma tersenyum, dan menatap bola mata Parkbom lekat-lekat seusai menginjak rem karena lampu traffic light menyala merah. Kemudian menelusuri setiap lekuk wajah Parkbom seraya menutup mulut rapat-rapat, seolah tengah memandangi sekuntum bunga yang merekah ditimpa embun pagi menyejukkan, pun senyum yang terpajang apik di paras cantik itu menciptakan sebuah kehangatan tersendiri baginya. Seakan telah mengalahkan hangatnya sinar mentari di pagi buta sekalipun.

 

Karena aku sudah melakukannya pada orang yang kusukai. Siapa lagi kalau bukan kau, Bom.

 

“Bukan apa-apa, lupakan saja,” jawabnya sembari tersenyum simpul, kemudian mendesah dan memperhatikan beberapa mobil yang berjajar rapi di hadapannya. Mulanya Parkbom nampak bingung, tetapi ia hanya mengangguk kecil dan beralih menatap ke luar jendela. Hingga beberapa saat kemudian mereka terdiam dalam pemikiran masing-masing.

Di tengah kesibukannya memperhatikan jalanan, Parkbom tiba-tiba teringat sesuatu, dan dengan cepat ia menoleh ke arah Dongwook. Pria itu pun jadi ikut menoleh ke arahnya dengan kedua mata membola.

“Dongwookie, tumben sekali hari ini kau tidak memakai topi dan masker untuk menyamar.” Parkbom berkata tiba-tiba, menimbulkan Choi Dongwook mengarahkan maniknya ke atas lalu agak berteriak dan menepuk jidatnya pelan.

Parkbom menyipitkan matanya. “Kau tidak sedang berniat untuk menciptakan skandal atas rencana berkencanmu denganku, kan?”

“Hei, tentu saja tidak. Aku lupa membawanya.” kata Dongwook setengah memekik hingga Parkbom dibuat membisu beberapa saat. Kemudian membuang napas berat dan memandang Parkbom dengan raut wajah bersalah karena sudah meneriakinya tanpa sebab. Tetapi itu memang sudah sewajarnya bagi Parkbom ketika mendapati Dongwook akan bersikap seperti itu di saat dia lupa akan sesuatu.

“M—Maaf,” ucap pria itu, disambut kepala Parkbom yang agak dimiringkan.

“Sebelum ke tempat tujuan, bisakah kita ke apartemenku sebentar? Yah, kau tahu, untuk mengambil propertiku yang ketinggalan.”

“Oh, tentu. Kenapa tidak?” jawab Parkbom singkat, tak luput dari senyum menawannya. Di sela Dongwook menyesali atas kecerobohannya, ia buru-buru menambahkan, “Demi keselamatan kita berdua selama perjalanan. Benar begitu?”

Dongwook terdiam sesaat, mengangguk kecil, kemudian menatap Parkbom seraya tersenyum hangat.

“Terima kasih, Bom-ah.”

*****

Suara decitan ban mobil yang bergesekan dengan aspal sedikit memecah keheningan ketika mereka telah berada tepat di depan apartemen Dongwook. Dengan agak tergesa, pria itu bergegas melepas seat belt dan memandang Parkbom sebentar.

“Kau tunggu di sini, ya. Aku tidak akan lama,” katanya seusai membuka pintu mobil. “Oh iya, kalau kau butuh sesuatu, mungkin kau bisa pulang ke rumahmu dulu kalau memang perlu,” tambahnya, begitu mengingat rumah Parkbom terletak bersebelahan dengan apartemennya. Setelah melihat anggukan kepala Parkbom, pria itu segera menutup pintu mobil dan mempercepat langkahnya memasuki apartemen dengan dinding bercat putih dihiasi beberapa pot bunga mawar yang tertata rapi di tiap sudut pekarangannya.

Tak butuh waktu lama untuk memandangi bagian depan apartemen Dongwook, di detik berikutnya ia mengalihkan pandangan menuju jalanan yang sepertinya terlihat cukup ramai daripada keadaan sebelum ia pergi ke rumah sakit. Derap sepatu yang menghentak jalanan, adanya perkumpulan wanita yang selalu bergosip di depan salah satu apartemen, ditambah suara bel sepeda anak-anak yang berbunyi bersamaan dengan tawa mereka, membuat Parkbom agak tersenyum, menemukan suasana semacam ini yang tak jauh berbeda ketika ia masih di Amerika.

Tiba-tiba ia merasa rindu akan suara-suara seperti itu. Ia rindu atas kebaikan para tetangga yang dekat dengannya waktu itu, dan ia pun rindu akan orang-orang perumahan yang selalu mengajaknya makan malam bersama meski mereka tidak begitu dekat dengannya. Terlebih mereka juga sering mengiriminya buah-buahan dan susu segar setiap dua minggu sekali agar Parkbom tetap selalu sehat, mengingat sebentar lagi ia akan menjadi seorang dokter pada waktu itu.

Ia merindukan segalanya, bahkan ia juga merindukan teman-temannya yang berada di sana. Senang sekali rasanya berbagi pengalaman kepada mereka, dan Parkbom tidak pernah sekalipun ragu untuk mengucapkan banyak terima kasih tatkala sudah membantu dan menyemangatinya sampai sejauh ini. Yah, paling tidak, ia sudah berjanji pada mereka bahwa akan kembali kalau memang sudah ada waktunya. Ia hanya berharap semoga ia bisa bertemu dengan mereka lagi suatu hari nanti, dengan apapun caranya.

Di sela ia melamunkan perihal masa lalunya, ia tidak menyadari jika ada salah seorang yang melewatinya dengan langkah diperlambat. Pria itu memutar kepalanya kesana-kemari dengan mimik meragukan. Jika diperhatikan baik-baik, pria itu juga terlihat sangat aneh. Meski berjalan di alam bebas seperti sekarang, namun entah mengapa ia melangkah seperti mengendap-endap layaknya pencuri, walau sebenarnya memang tak ada yang ia sembunyikan.

Keringat dingin bercucuran di sekitar dahi dan pelipis, kemudian menggigit bagian bawah bibirnya perlahan ketika hendak melewati segerombolan wanita yang tengah tertawa-tawa seperti para wanita penggosip pada umumnya. Dengan jantung berdebar, ia memeriksa keadaan sekitar, hendak melakukan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan setiap hari.

Meski kenyataannya ia tidak begitu menginginkannya. Menginginkan nalurinya itu bergejolak, tetapi satu hal, ia ingin melakukannya, sungguh.

Namun, ketika ia sudah berdiri tegap di hadapan para gadis itu, sementara mereka berhenti berceloteh sebab adanya kehadiran pria itu, dengan sekali tarikan napas, pria itu tersenyum sinis tiba-tiba, bahkan hampir tertawa lepas ketika ia telah memicu gerakannya dan…

 

KYAAAAAAA!!!!

 

Lamunan Parkbom seketika buyar saat banyaknya jeritan menerjang gendang telinganya. Awalnya ia terlihat bingung, mencari asal suara, tetapi begitu ada salah seorang wanita berlari melewatinya, saat itu juga ia tercengang ketika melihat pemandangan mengerikan tak jauh dari posisinya duduk. Napasnya tercekat di tenggorokan dan ia menutup mulutnya sendiri dengan kelopak mata terbuka lebar. Ia juga hendak berteriak, namun sama sekali tidak menemukan suaranya barang sedikitpun.

Akan tetapi ia melihat dengan mata kepala sendiri, bahwa selain ia memperhatikan gerak-gerik para wanita yang masih menjerit dan berusaha melarikan diri, ia juga melihat seorang pria yang telah melepaskan seluruh pakaian yang melekat di badannya dan memainkan ‘nya’ sendiri di hadapan para wanita itu, di tempat umum seperti ini, seraya tersenyum sinis dan tertawa sendiri seakan tidak punya malu. Sementara orang-orang yang melewatinya berteriak kemudian lari sambil memasang raut menjijikkan.

Astaga! Parkbom benar-benar tidak bisa bicara sekarang!

“Hei! Dasar gila!! Apa yang kaulakukan?!”

Parkbom mengedipkan matanya beberapa kali. Napasnya pun masih membelenggu di area tenggorokan.

Itu suara Dongwook. Dan ia baru sadar sepenuhnya ketika Dongwook telah berada di belakang pria itu seraya berusaha menarik kedua tangannya ke belakang punggung. Karena pria itu terus meronta dengan hebat ingin melepaskan diri, dengan sekuat tenaga Dongwook pun mencekik lehernya sebab tak ada pilihan lain, kemudian menyeretnya dengan susah payah menjauh dari pusat keramaian.

Yak! Lepaskan! Lepaskan aku!!”

Dongwook pura-pura tidak mendengar.

“Argh! Tidak! Berhenti! Lepaskan tanganmu dariku, bodoh!!” Pria itu tetap berteriak, hingga teriakannya lambat-laun menarik perhatian beberapa pasang mata dari orang-orang yang berlalu lalang melewati mereka.

*****

Suasana di koridor rumah sakit tampak lengang.

Angin semilir berembus sedikit demi sedikit melewati jendela, menggerakkan tirai yang menutupinya hingga melayang tidak teratur. Hingga angin tersebut menerpa seorang pria yang kini sedang duduk di kursi yang berhadapan dengan meja seraya menundukkan kepalanya dalam-dalam. Kali ini keadaannya sudah kembali normal, dan sekarang ia juga sudah berpakaian lengkap berkat bantuan para petugas yang segera menanganinya ketika ia sudah sampai di depan pintu utama rumah sakit.

Sementara di balik jendela ruangan tersebut, Parkbom beserta dokter Choi—ayah Dongwook—tengah mengintip pria itu dengan kening berkerut samar, memastikan bahwa pria itu terlihat baik-baik saja.

“Kurasa sekarang dia sudah lebih baik,” dokter Choi berkata seraya bernapas lega dan tersenyum ramah kepada Parkbom yang masih agak terguncang.

Wanita itu mendesah berat, kemudian menatap dokter Choi dengan alis mengernyit.

“Hm… mengenai pria itu,” Parkbom memulai dengan nada lirih, agak ragu mengatakannya.

“Se—sebenarnya dia kenapa, dokter?”

Alis dokter Choi terangkat tinggi, kemudian mengerutkannya. Hanya memastikan bahwa ia memang tidak salah dengar.

“Jadi, dokter Parkbom belum tahu?”

Wanita itu sejenak terdiam, lalu menggeleng pelan dan bergumam, “Maafkan saya. Meskipun saya sudah banyak belajar ilmu kedokteran, tetapi untuk yang satu ini, sepertinya saya belum benar-benar tahu.”

“Sangat disayangkan.”

Dokter Choi menghembuskan napas pelan dan menatap Parkbom membisu. Sebenarnya wanita itu merasa malu, begitu mengingat posisinya sebagai dokter yang cukup handal. Tetapi mau bagaimana lagi, ia sudah terlanjur mengucapkannya karena ia memang benar-benar tidak tahu.

Tanpa berucap lagi, dokter Choi bergegas merogoh saku jas putihnya dan memberikan sebuah buku kecil berwarna merah marun kepada Parkbom. Wanita itu menerimanya dengan memasang raut bingung.

Atas dasar apa dokter Choi memberikan buku merah ini untukku?

Setelah beberapa saat Parkbom memperhatikan buku itu, ia kembali menatap ekspresi santai dari wajah dokter Choi, meski di dalam hatinya ia masih bertanya-tanya.

“Pria itu mengidap Ekshibisionisme.” Kedua tangan dokter Choi dimasukkan ke dalam saku jas di sela ia berbicara, kemudian melanjutkan tanpa mendengar tanggapan apapun dari Parkbom. “Semacam pengaruh kegiatan seksual non medis yang dilakukan oleh seseorang—khususnya para pria—dengan cara memperlihatkan alat kelaminnya sendiri di depan khalayak umum, terutama kepada lawan jenisnya.”

Parkbom tidak berkomentar, masih tetap bergeming memandang dokter Choi.

“Dengan kata lain, adalah suatu gangguan mental yang ditandai adanya dorongan untuk memperlihatkan organ seksualnya di hadapan banyak orang. Jika orang yang menyaksikan itu terkejut, takut atau menjerit, maka kepuasan seksual yang didapatnya pun akan semakin meningkat.”

Sembari mendengarkan, Parkbom mengangguk paham dan mengedipkan matanya beberapa kali. Alisnya berkerut seirama. Oh, pantas saja ketika dia melihat pria itu menunjukkan ‘miliknya’ kepada orang lain, raut wajahnya kelihatan sangat… tidak menyenangkan.

“Adapun penyebabnya bisa dari beberapa faktor,” lanjut dokter Choi kemudian. “Untuk lebih jelasnya, kau bisa cari tahu sendiri lewat buku kecil itu.”

Sekali lagi Parkbom kembali memperhatikan buku merah pada genggamannya. Jadi ini maksud dokter Choi memberikan bukunya untukku?

Parkbom langsung mengangguk cepat dan memasang senyum hangat seperti biasa. “Iya, dokter. Saya akan membacanya nanti.”

Dokter Choi hanya tersenyum, disusul anggukan kecil darinya. Parkbom lalu memasukkan buku itu ke saku jasnya, kemudian kembali memperhatikan gerak-gerik pria yang saat ini sedang menatap jemarinya yang bergelut seirama di dalam ruang kerja dokter Choi. Kepalanya tetap dalam posisi tertunduk seperti sebelumnya, ditambah bola matanya yang bergerak tak menentu lalu berkedip dua kali setelahnya. Dilihat dari mimiknya, dia tampak murung, juga tertekan.

“Aneh sekali.”

Suara berat khas dokter Choi membuat Parkbom kembali menoleh ke arahnya. Sementara si dokter tengah memijat pelipisnya kemudian mendesah pelan.

“Karena kasus seperti ini hampir tidak pernah ditemui di Korea. Mungkin cuma sebagian kecil, dan kebanyakan dialami pria yang sudah berusia lebih dari 30 tahun. Tetapi jika penderita ekshibionis masih dalam usia muda seperti itu rasanya aku… sedikit prihatin.”

Parkbom mengerutkan kening, ikut merasa iba akan penyakit yang diderita oleh pria di dalam sana. Terlebih lagi usianya—mungkin—jauh lebih muda daripadanya, dilihat dari wajah, cara bicara, dan perawakannya yang belum cukup untuk dikatakan dewasa.

“Kupikir penyebabnya adalah karena masalah pribadi,” dokter Choi mendesah, menoleh ke belakang sejenak, lalu kembali mengarahkan pandangannya ke arah Parkbom yang sepertinya nampak sangat serius memperhatikan pria itu. “Kalau kau ada waktu, mungkin sekarang kau bisa melakukan sedikit pendekatan dengannya, sementara aku masih ada urusan dengan dokter lain.”

Parkbom tidak menjawab, hanya memutar kepalanya ke arah pria paruh baya itu lagi dan menunduk. Dokter Choi mulanya mengangkat sebelah alis ketika mengetahui raut Parkbom yang menyiratkan kebimbangan. Namun ketika wanita itu kembali mendongak menatapnya, dokter Choi langsung mengerti apa maksud dari kilatan mata si dokter muda ini.

“Jangan khawatir, dia tidak akan mungkin melakukan hal itu lagi karena hanya kaulah yang akan dihadapinya nanti, bukan orang banyak. Tetapi, kalau memang nanti terjadi sesuatu, kau bisa langsung menghubungiku, dokter Parkbom.”

Awalnya Parkbom menghela napas pelan, merasa enggan jika harus menemui pria itu, namun setelah dipikir baik-baik, akhirnya ia mengangguk juga dan tersenyum samar.

“Kalau begitu, aku permisi dulu.”

Kemudian Parkbom menatap punggung dokter Choi yang makin lama makin menghilang seusai melewati pintu utama rumah sakit diikuti desahan berat dari bibirnya.

*****

Setelah menutup pintu ruangan dengan keras, ia segera beralih memandangi punggung pria yang masih tetap seperti sebelumnya, tidak ada perubahan barang sedikitpun. Kepalanya pun sama sekali tidak berubah—tetap menunduk—dengan kedua tangan menopang di pahanya. Memang aneh rasanya ketika ia benar-benar sedang ingin membuat suasana menjadi agak berisik, tetapi pria itu sama sekali tidak tergerak oleh suara itu, seakan tidak peduli dengan keberisikan yang dibuatnya. Hanya saja ia sedikit mendesah jika ada seseorang yang masuk ke dalam ruangan, dan mengganggu masa-masa penyendiriannya walau hanya dalam beberapa menit.

Pria itu masih tetap terdiam, bahkan tidak membuka mulutnya sama sekali ketika Parkbom—yang dirundung rasa gelisah juga takut—berjalan dengan amat lambat melewati kursinya hingga ia sudah benar-benar berdiri tepat di hadapannya. Dengan sekali tarikan napas, Parkbom bergegas duduk di kursi hitam favorit dokter Choi dan sedikit bersikap layaknya dokter pada umumnya.

Meski begitu, Parkbom tetap saja tidak bisa mengendalikan kedua tangannya yang agak gemetaran, di saat ia melihat tatapan tajam dari pria itu yang seolah membuatnya terasa ditusuk. Dan tanpa dipungkiri, kedua manik matanya membulat dengan sempurna.

 

“K—kau…”

.

.

.

.

-to be continue-

32 thoughts on “Spring’s Agitator [Chapter 1]

  1. Wehh chapter 1, awal yg bagus, dohh kelainan nya agak serem yaa! Itu TOP oppa kah?? Kalo memang iya haduuhhh my bias!!! Hehehehehe ∂ï tunggu chapter 2 nya!!!

  2. Lah ternyata part yang ini udah pernah kebaca sebelumnya tapi nggak komen. Hadeh payah saya, tapi berhubung udah sempet baca sedikit part 2 udah tau siapa pria dengan gangguan jiwa itu. Keren saeng :] Kalo ini komennya cuma sampe di sini aja ya.😀 Lanjut part 2 :]

  3. Kasian bgt cowoknya.. Itu yg kena penyakitnya siapa si eonn.. Kepo deh-_-
    nextnya ditunggu ne soalnya udh kepo bgt sm kelanjutannya.. Fighting ne eonn^^

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s