[FF Freelance] That I Once Lived By Your Side

I Onced Lived With You

Tittle: That I Once  Lived By Your Side

Author : Julia Song (@acedins)

Rating : PG 15

Length : Oneshot

Genre : Romance

Main Cast : – Kim Myungsoo/ L (Infinite)

– Song Hyojin (OC)

Support Cast : – Infinite’s Member

– Kim Hana (OC)

Disclaimer : This FF belong to me. I do not own Kim Myungsoo / L nor Infinite’s member. Other Casts are mine. So does the story. I made this, because of Toy’s song that L sang in SIE concert. The tittle is the same with the tittle of the FF.

A/N : ini FF sangat-sangat gaje. Terlalu banyak air mata(?) soalnya pas author buat juga berurai airmata hehe. Soalnya lagunya super galau T-T oiya, mungkin banyak Typo disini. Mohon dimaafkan yaaa. Soalnya FF ini dikerja tiap tengah malam. Hehe. Soalnya kalo siang kebanyakan nonton video’-‘ oke sekian dari saya. Much laff<3

*

“Oppa…”ucap Song Hyojin.

“Oppa…?” tanya Myungsoo. Tubuhnya menegang. Diambilnya cangkir kopinya dari atas meja. Mencoba menyeruputnya sejenak.

“oppa, aku mau putus…” sahut Song Hyojin pelan. Niat Myungsoo untuk meminum kopinya terhenti sejenak. Ia kemudian menaruh kembali cangkir—yang tadinya mengambang di udara—keatas meja.

“kenapa?” tanyanya meyakinkan.

“hanya.. aku tidak sanggup. Aku hanyalah gadis biasa sementara oppa dikelilingi gadis cantik dan bertalenta diluar sana. Bukankah itu tidak masuk akal sampai kau bisa menyukaiku?” kata Hyojin pelan. Mati-matian ia menahan diri agar tidak meneteskan setitik airmata.

“apa kau mencintaiku hyojin-ah?”

“ne, aku mencintai mu. Aku mengerti pekerjaanmu. Tapi.. tapi kenyataannya berbeda. Aku terlalu capek untuk selalu was-was ketika kau bermain film bersama yeoja lain. Ataupun hanya sekedar bertegur sapa. Aku juga terlalu capek bersabar menunggu kabarmu. Tidak dikabari selama seminggu oleh kekasihmu sendiri itu adalah hal yang sulit untuk ditoleransi Oppa. Aku juga terlalu capek untuk menahan rindu dan iri, melihat bagaimana pasangan lain bisa berkencan dengan bebas sementara kita hanya bisa berkencan sekali seminggu, atau bahkan sekali sebulan. Aku terlalu capek untuk itu semua. Dan aku rasa, putus adalah jalan terbaik. Agar kita berdua tidak akan menyakiti hati masing-masing.” Sahut Hyojin panjang-lebar.

Myungsoo terdiam. Terlalu shock untuk mendengar keputusan sepihak Hyojin.

“oppa..”

“ya. Mari kita putus. Kau bilang itu jalan terbaik kan?” Myungsoo bangkit dari kursinya. “Hyojin-ah semoga kau bahagia.” Lalu membalikkan badannya. Keluar dari cafe itu.

Hyojin, yang sedari tadi menahan airmatanya, akhirnya menangis terisak didepan dua cangkir kopi. Kopinya dan kopi milik myungsoo. Sungguh, ini mungkin merupakan keputusan berat yang ia ambil. Namun ia tidak ingin melihat ia dan myungsoo begitu menderita lagi.

*

Myungsoo berjalan dengan langkah berat keluar dari dalam cafe. Emosi yang sedari tadi ia tahan segera keluar. Ia menendang beberapa tumpukan dedaunan di pinggir jalan. Melampiaskan kesal hatinya saat ini.

Ia tidak pernah membayangkan seperti ini. Ia pikir mereka berdua baik-baik saja. Terakhir mereka bertemu, Hyojin tetap menunjukkan senyumnya. Ia tidak mengeluhkan apapun. Ah, terakhir mereka bertemu adalah sebulan yang lalu.

Tanpa sadar setetes air mata jatuh ke pipinya. Ia tetap membiarkannya. Membiarkan emosi hatinya luruh melalui airmata. Membiarkan penyesalannya karena jarang memerhatikan  Hyojin, jatuh mengalir. Membiarkan perasaannya membaik sejenak.

Begitu tololnya ia. Pikirnya. Ia menangis. Selamat, Song Hyojin. Untuk pertama kalinya aku menangis untuk seorang perempuan selain ibuku.

*

“YA! Kim Myungsoo, kau darimana saja malam-malam begini? Dan itu… matamu kenapa sembab begitu?” cerocos  Sunggyu. Myungsoo hanya diam dan meneruskan langkahnya menuju kamarnya.

Begitu ia membuka pintu kamarnya, suara-suara yang masuk ke telinganya jauh lebih banyak.

“L hyung, kau  kenapa?” tanya Sungjong.

“Myungsoo-ya, wae? Mengapa matamu sembab begitu?” tanya Dongwoo.

Ia hanya diam dan bergerak menuju tempat tidurnya.

“Ya! Kim Myungsoo!”

“AH WAEEE?? WAAEE??” Sahutnya kalap. Ia tak sengaja melempar satu bantal dan mengenai wajah Sungjong.

“Kau kenapa? Hah? Kenapaa?” tanya Dongwoo sekali lagi.

Pertahanan Myungsoo bocor. Ia jatuh terduduk diatas tempat tidurnya. “Hyojin, hyung… Hyojin..” sahutnya sambil menangis. Kini ia meringkuk, menekuk kedua lututnya di atas tempat tidurnya.

“Hyojin wae?”

*

“Aigoo, Hyojin-ah. Kau sakit? Makanya, kau harus jaga kesehatanmu dengan baik. Aku dengar dari Bora, kau baru pulang lewat jam 10 semalam. Ini sudah mau masuk musim dingin demi apaa. Kenapa kau nekat untuk keluar malam?” sahut Kim Hana—sahabatnya—tanpa henti.

“Ya! Kau ini ribut sekali hana-ya. Sudah, apa yang kau bawakan untuk temanmu yang sakit ini?” kata Hyojin, mencoba untuk mengalihkan celetukan Hana.

Hana tersenyum jail lalu mengeluarkan beberapa buku dari dalam tas nya. “JJAN! Ini beberapa catatan dan tugas untuk kuliah hari ini. Kau harus mengerjakannya, Song Hyojin. Understand?”

Hyojin mencebik berpura-pura ngambek. “Ah, waeee… kenapa kau membawa barang haram untuk orang sakit huh? Kenapa tidak makanan? Atau cokelat? Aku mau cokelaaat hana-ya. Cokelat!!”

“Heii, sudah bagus ada yang memperhatikan pendidikanmu Hyojin-ah. Lagian kau ini pikiranmu hanya makan dan makan. Mentang-mentang badanmu tidak bisa gemuk huh. Jadi kau seenaknya saja makan apapun. Pft, bureopta~”

Hyojin tersenyum tipis, lalu mengambil buku catatan Hana yang teronggok di pinggir tempat tidurnya.

“Hei bagaimana hubunganmu dengan INFINITE L itu?” tanya Hana lagi.

Hyojin terdiam. Sesaat hening. Lalu kemudian. Tanpa komando, pandangan Hyojin buram oleh air mata.

“Hyojin-ah, wae? Wae? Wae?” ucap Hana Shock.

“Aku… Putus… Dengannya…”

 

*

Kim Myungsoo….

Tepatnya 6 bulan yang lalu ia memutuskan jalan dengannya. Kepribadiannya yang unik membuatnya jatuh hati padanya. Ia seperti nanas. Keras diluar, namun jauh didalam, ia berhati lembut. Seperti saat pertama kali Hyojin bertemu dengannya di perpustakaan kampus.  Hyojin kesulitan untuk mengambil buku referennsi untuk mata kuliahnya di rak paling atas perpustakaan tersebut. Ia mencoba melompat, namun apa daya tingginya yang hanya 162cm itu tidak dapat menggapainya. Setelah beberapa kali melompat, akhirnya Hyojin berhasil mengambil buku tersebut. Namun ia tidak sadar bahwa buku itu menjadi tumpuan buku-buku lainnya. Sehingga, tanpa tumpuan, buku-buku itu bergoyang dan jatuh.

Hyojin hanya terbelalak lebar melihat buku-buku itu sebentar lagi akan menimpanya. Ia refleks menunduk, memejamkan matanya, lalu berteriak tanpa suara.  Setelah 5 menit berlalu, Hyojin tidak merasa kesakitan karena tertimpa buku. Ia justru merasa hangat. Seperti ada seseorang yang memeluknya,

MEMELUKNYA? Hyojin membulatkan mata dan melepaskan diri dari pelukan. Saat ia berbalik, Hyojin melihat sesosok pemuda yang berkaos hitam, yang sedang memegang pundaknya dan meringis kesakitan. Lalu Hyojin menurunkan pandangannya. Menatap beberapa buku yang berserakan di lantai.  Sekarang ia mengerti. Pemuda ini mengorbankan dirinya dan menyelamatkannya.

Hyojin dengan cepat tersadar dan menyapa pemuda itu. “Chogiyo, apakah kau kesakitan?” Pemuda itu tidak menjawab. Ia malah menjatuhkan dirinya dengan posisi terduduk. Hyojin mengikutinya. Berlutut didepannya dengan tatapan cemas.

“Dimana yang sakit? Dimana?” tanya Hyojin panik.

“Sepertinya… tulangku.. eng.. patah..” sahut pemuda itu.

Mata hyojin makin membulat. Dengan jantung yang berdetak cepat, ia tanpa sadar menangis dan memohon maaf kepada pemuda berkaos hitam itu.

“Kau serius? Maafkan aku.. maafkan aku. Aku memang ceroboh. Maafkan akuu…” sahutnya tanpa henti. Ia membungkukkan badannya 90 derajat kearah pemuda itu, yang membuat pemuda itu tanpa sadar tertawa.

“Sudah, aku hanya bercanda. Hahahaha. Sudaaah, berhentilah menangis. Dasar cengeng!”

Hyojin mengangkat wajahnya. Memasang tampang bloon. Lalu kemudian ia tersadar.  Dan segera memukul pundak pemuda itu.

“Ya! Kau tidak tau betapa khawatirnya aku. Dasar sialaaan!!! Aku kira kau benar-benar terluka gara-gara aku.” Hyojin mencebik. Khasnya ketika sedang ngambek.

“hahaha, maafkan aku. Oh ya, kenalkan. Namaku Myungsoo. Kim Myungsoo.” Ucap pemuda itu dengan senyum yang masih mengembang di wajahnya.

Hyojin mengusap air mata yang masih menempel di ujung matanya. “Namaku Hyojin, Song Hyojin. Lho..” serunya ketika berhasil melihat dengan jelas. “Bukankah kau seorang idol? Em…”

“Yeah. Aku INFINITE L. Kalau kau lebih suka aku memperkenalkan diriku seperti itu.”

Hyojin tersenyum kecil. Lalu menjawab. “Tidak. Aku lebih nyaman dengan nama Kim Myungsoo.”

Flashback ends

*

“Ya! Kim Myungsoo. Sebentar ada pertemuan dengan CEO dan staf yang lain. Kau jangan lupa datang. Dan jangan terlalu larut dengan kesedihanmu. Bersikaplah profesional. Sebentar lagi kita akan mengadakan konser besar. Mengerti?”

Myungsoo hanya mengganguk mendengar perkataan Sunggyu. Hyung nya benar, meskipun ia sedang dilanda mood yang tidak enak, ia harus bersikap profesional.

Myungsoo yang sedang tidak ingin diganggu, memutuskan untuk kembali tidur.

“Aku kasihan padanya. Bukankah Hyojin adalah cinta pertamanya?” sahut Hoya pelan sambil menatap Myungsoo yang sedang tidur dengan mata bengkaknya dari luar pintu kamar.

“Ne… Myungsoo Hyung Himnae!” balas Sungjong. Lalu mereka berdua beranjak dari depan pintu kamar Myungsoo.

*

“Myungsoo, bangun dan cepatlah mandi. Sebentar lagi kita akan menemui sajangnim. Ayolah Myungsoo ya.” Teriak Sungyeol. Ia lalu mencoba menarik tangan Myungsoo untuk segera bangun.

Myungsoo yang masih setengah sadar, segera bangun lalu mengecek handphonenya. Tidak berapa lama ia menaruhnya kembali lalu beranjak dari tempatnya.

“Sungyeol-ah, beritahu aku kalo Hyojin menelpon. “ kata Myungsoo lalu segera menuju kamar mandi.

Sungyeol mengernyit heran. ini memang bukan pertama kalinya Myungsoo mengucapkannya. Tapi, kata-kata itu lebih sering terucap ketika Myungsoo dan Hyojin masih bersama.

Sungyeol tidak beranjak dari kamar Myungsoo. Menunggu Myungsoo menyelesaikan mandinya. Tidak lama kemuudian,masuklah Myungsoo. Ia sudah berpakaian lengkap sambil menjinjing handuk di pundaknya.

“Eoh, Sungyeol-ah. Apakah ada telepon dari….. ah ya. Tidak mungkin lagi ada telepon dari dirinya.” Myungsoo tersenyum miris. Menyesali kebodohannya. Ia mengacak rambutnya dengan handuk. Mencoba mengeringkannya sekaligus melampiaskan kebodohannya.

Sungyeol tersadar, ia cepat-cepat mengalihkan pikiran Myungsoo. “Myungsoo-ya kajja. Member yang lain mungkin sudah menunggu di mobil.” Lalu berjalan keluar diikuti dengan Myungsoo.

Setengah jam kemudian, mereka sampai ke kantor Woolim. Para member dengan cepat turun dari mobil, kecuali Myungsoo. Ia tetap saja memandang keluar dengan muka masam.

“Kim Myungsoo ssi. Kita sudah sampai.” Ucap Woohyun pelan. Myungsoo berbalik dan memaksakan senyumnya.

“Ah benar.”

*

Myungsoo akhirnya tidak bisa menahan emosinya. Ia meraih gelas dan menuangkan isi dari botol bir yang ia pegang. Setelah ia meneguk bir nya, ia kembali menuangkan bir kedalam gelasnya. Begitu seterusnya.

Rapat kali ini memang membahas konser Infinite yang akan diadakan 3 bulan lagi. Mungkin dengan jadwal latihan gila-gilaan ini, para member yakin Myungsoo yang suasana hatinya sedang buruk itu, akan membaik.

“ini sudah gelas keberapanya?” tanya hoya ke member Infinite.

“Entahlah. 5 atau 6. Aku sudah berhenti menghitungnya ketika ia meneguk gelas ke 4 nya.” Jawab Dongwoo.

“mungkin sudah gelas ke 8 hyung. Haruskah kita menyuruhnya berhenti? Myungsoo hyung kelihatanya sudah mabuk.” Sahut Sungjong. Member lainnya setuju.

Namun sebelum mereka sempat memberhentikan aksi minum Myungsoo, ia lebih dulu bereaksi. Ia menangis. Terisak dengan keras. Lalu meremat gelas yang ada ditangannya dengan keras.

“Aku pikir selama ini kita baik-baik saja.” Ucap Myungsoo di sela-sela tangisnya. “Tapi kenapa tiba-tiba kau memutuskanku? Kenapa? Apa aku kurang sesuatu? Apa aku tidak pantas bersamamu? Hyojin-ah…”

“Myungsoo..” kata Dongwoo. Lalu merebut gelas yang dipegang oleh myungsoo, lalu memberi kode pada sungyeol dan sungjong untuk membawa myungsoo ke mobil.

*

Hyojin memang sudah sembuh. Demamnya sudah hilang dan panas tubuhnya sudah menurun. Namun ia masih merasakan sakit. Di bagian dadanya. Rasa sesak yang ia yakin tak akan menghilang dalam waktu yang dekat.

Ia sudah menceritakan alasan putusnya kepada Hana. Termasuk alasan yang ia tidak beritahu ke Myungsoo. Bahwa ia memutuskannya karena pesan-pesan teror yang ia terima di handphonenya. Bahwa ada seorang fans myungsoo yang mengetahui  hubungan mereka dan mengancam Hyojin jika ia masih melanjutkan hubungannya dengan Myungsoo. Hyojin tidak memberitahukannya kepada Myungsoo karena takut Myungsoo akan menghawatirkannya.

Hyojin berjalan melintasi koridor kampusnya. Sekilas ia melihat bayangan sungyeol, teman Myungsoo. Dan, ia benar. Sungyeol disana. Sedang bersandar di salah satu dinding dan memegang handphonenya. Hyojin ingin menyapanya. Namun urung karena menyadari ia belum siap untuk bertemu Myungsoo jika Sungyeol datang bersama Myungsoo. Ia takut untuk bertemu dengan Myungsoo sebelum hatinya benar-benar sembuh.

Hyojin membalikkan tubuhnya dan bejalan berlawnan arah dengan tempat sungyeol berada. Saat ini ia perlu ke taman belakang kampus yang sering ia kunjungi bersama Myungsoo. Ia tidak peduli taman itu akan membangkitkan ingatannya akan Myungsoo. Ia hanya butuh tempat untuk melepas kesedihannya.

Setelah sampai ke taman belakang, ia duduk diatas bangku taman. Taman ini hanya mereka berdua yang tau. Tempat Myungsoo selalu berdiam diri merasakan kesunyian jika ia sedang  penat terhadap jadwal manggung dan latihannya.

Air mata Hyojin mengalir kala mengingat bahwa tidak ada lagi orang yang akan memeluknya. Tidak ada lagi orang yang menghiburnya, mengatakan berbagai lelucon konyol yang membuat mereka berdua tertawa. Tidak ada lagi yang menepuk bahunya dan mengatakan ‘gwaenchana’, saat ia stress terhadap tugas kuliahnya. Tidak ada lagi orang yang bisa menjadi tempat sandaran kepalanya. Tidak ada lagi.

Flashback

“YA! Kim Myungsoo. Kembalikan buku ku sekarang!” seru Hyojin lalu menghampiri Myungsoo yang sedang membaca sebuah buku di bangku taman belakang sekolah.

“Shireo. Kau tidak lihat aku sedang membacanya?” tolak Myungsoo.

“YA! Kim Myungsoo Neo Jinjja… aissh. Kembalikan bukuku. Cepaat!” pinta Hyojin. Mukanya kini memerah.

“Tapi dengan satu syarat..” kata Myungsoo lalu menarik Hyojin untuk duduk disampingnya.

“apa?”

“Naekkohaja?” katanya.

“Mwo? YA Kim Myungsoo. Cepat kembalikan bukuku dan jangan bercanda. Kena kau nanti jika kau benar-benar jatuh cinta padaku.” Hyojin menutup kegugupannya dengan mengejek Myungsoo. Gadis itu kemudian berdiri dan menengadahkan tangannya.

Myungsoo menatap Hyojin dengan mata elangnya. Ia kemudian menarik tangan Hyojin untuk kembali duduk disampingnya, lalu menyapukan bibirnya ke atas bibir gadis itu.

“Nah, sekarang kau jadi milikku.” Ujarnya ringan sambil tersenyum. Hyojin yang shock hanya bisa melongo atas tindakan tiba-tiba Myungsoo. Sedetik kemudian, ia tersadar dan semburat merah dengan cepat menjalar dipipinya.

“Oh, Iya, aku tua 7 bulan darimu. Panggil aku Oppa.” Kata Myungsoo.

“Mwo? Aku belum setuju untuk menjadi pacarmu.” Balas Hyojin.

“Tidak ada penolakkan, yeobo. Kau sekarang menjadi milikku.” lalu menarik bahu gadis itu dan kembali menempelkan bibirnya ke bibir Hyojin.

Wajah Hyojin kembali merona ketika Myungsoo menjauhkan kepalanya dari kepala Hyojin.

“Kim Myungsoo. Sebaiknya kau kupanggil Hyung saja. Oppa menurutku sudah terlalu mainstream.lagian kau tidak ada potongan untuk menjadi Oppaku. Kalau itu Sunggyu Oppa, baru aku bersedia.” sahut Hyojin. Myungsoo mencebik. Rupanya pria itu banyak tertular dari Hyejin.

“Jangan ngambek gitu. Mukamu sudah jelek, Hyung. Arasseo, aku akan memanggilmu Oppa, tapi, jika aku ingin putus denganmu. Okay?” Tawar  Hyojin.

“Kalau begitu, akan kupastikan kau tidak akan memanggilku oppa.” Ucap Myungsoo lalu menarik Hyojin dalam pelukannya.

*

“Oppa…” Hyojin tersenyum miris. Air matanya jatuh lagi.

“Bogoshippeo Oppa..”  sahutnya lagi. “Aku tidak tahu bahwa kata ‘Oppa’ bisa segitu menyakitkan. Sakit. Perih.”

“Mianhae Oppa…..” isaknya lagi.

*

Myungsoo berjalan pelan menuju taman belakang kampus yang sering ia kunjungi bersama Hyojin. Namun, langkahnya berhenti ketika melihat sesosok siluet tubuh yang berguncang dibalik bangku taman. Ia mengenali potret belakang tubuh itu. Dia adalah Hyojin, mantan kekasihnya.

Myungsoo berjalan cepat menghampiri Hyojin, Namun langkahnya terhenti saat terdengar suara Hyojin.

“Oppa…”

Bogoshippeo Oppa..”

Ia baru akan membalas perkataan Hyejin, namun urung ketika mendengar kalimat selanjutnya yang dikatakan Hyojin dengan susah payah ditengah isakannya.

“Mianhae Oppa…..”

Myungsoo tahu bahwa ini mungkin akhirnya. Ia tidak bisa lagi mencoba untuk meraihnya. Ia juga tidak bisa lagi mencoba memerangkap gadis itu dalam pelukannya. Menghangantkannya dengan lengan dan dada nya. Karena, gadis itu telah pergi. Meninggalkan sebaris luka yang panjang didalam hatinya.

*

Tiga bulan Kemudian……

 

Hyojin melangkah di koridor kampusnya dengan terburu-buru. Lee seonsaengnim menugaskannya sebuah tugas yang harus ia cari di perpustakaan.

Ia melangkah pelan masuk kedalam perpustakaan. Sudah lama sejak ia tidak menginjak lantai perpustakaan ini lagi.  Ia menatap bangku di ujung dekat dengan jendela. Disanalah tempat dimana ia sering duduk, menghabiskan waktu dengan Kim Myungsoo. Tertutup dari pandangan orang-orang.

Hyojin tersenyum miris. Ia tidak membayangkan keputusan gilanya yang ia lontarkan ke Myungsoo bisa sesakit ini. Hyojin kemudian berjalan ke rak buku tempat ia bertemu pada Myungsoo pertama kali, lalu berdiri didepannya.

Mengapa hatinya sakit saat melihat rak ini? Semua kenangan rasanya disimpan dalam rak ini. Berbaris, membentuk tumpukan kenangan yang berurut.

Hyojin berbalik. Memunggungi rak itu. Buku yang disuruhkan Lee Seonsaengnim berada tepat di depan rak itu. Dan berada di rak paling atas. Kali ini Hyojin tersenyum sedih. Ia mencoba melompat meraih buku tersebut. Namun tangannya tidak sengaja menyenggol  rak buku tersebut. Sehingga raknya bergoyang, begitu pula dengan bukunya.. Hyojin yakin, sebentar lagi tumpukan buku itu akan jatuh menimpanya. Maka dari itu ia bersiap. Ia menunduk dan memejamkan matanya. Seperti mengalami deja vu, ia merasakan dekapan hangat di punggungnya. Seseorang memeluknya!

Hyojin dengan cepat melepasan dirinya dari pelukan itu. Dan ketika ia membalikkan badannya, sesosok pemuda merintih kesakitan dengan buku berserakan di bawahnya.

“Myung….Myungsoo….. ssi…”

Myungsoo menengadah. Menatap wajah Hyojin. Wajah yang selama ini ia rindukan. Wajah yang meskipun ia kesakitan, akan menentramkannya. Wajah yang selama ini ia nantikan untuk melihat. Namun wajah ini menunjukkan ekspresi khawatirnya. Ekspresi khawatir yang ia tunjukkan kepadanya.

“Gwaenchana?” Tanya Hyojin pelan.

Myungsoo tersenyum tipis. Lalu mengangguk. “Lain kali hati-hati Hyojin-ah. Ak-aku pergi dulu.” Lalu ia berbalik dengan cepat. Keluar dari perpustakaan. Dan meninggalkan Hyojin yang sedang menatapnya nanar.

Tak lama kemudian, Myungsoo kembali. Ia berhenti tepat didepan Hyojin dan mengeluarkan sebuah tiket dari dalam kantong jaketnya.

“Ini… aku harap kau datang.” Katanya. Lalu membalikkan badannya dan berlalu.

Hyojin menatap tiket di tangannya. Tiket VIP untuk menghadiri konser Second Invasion. Ini adalah tiket konser Infinite…..

Tanpa sadar Hyejin menangis. Dalam keheningan, hanya isakannya lah yang keluar.

*

Februari, 2012

Hyojin telah bersiap-siap untuk berangkat dari rumahnya. Hari ini ia akan berangkat menuju hall konser SIE infinite. Sekali lagi ia mematut dirinya di depan cermin. Melihat dirinya sudah terlihat baik, ia mengambil tas nya yang teronggok manis di meja.

“Eonni, kau mau kemana?” Hyojin berbalik tatkala mendengar pertanyaan yang ditanyakan oleh Bora—sepupunya.

“Mau ke konser second invasion. Wae? Kau tidak mau ikut? Bukankah kau diajak oleh Hoya Oppa?”

“Anieyo eonni. Aku ingin melanjutkan acaraku membaca novel ini.” Bora mengacungkan novel yang dipegangnya. Novel Hamlet, karya Shakespeare.

“yasudah, Hoya oppa tahu kau tidak pergi?” tanya Hyojin. Bora mengangguk.

“Kukatakan padanya kalau aku tidak suka dengan suara yang bising. Sampaikan salamku buat Hoya oppa dan Myungsoo oppa. dadah.” Bora dengan cepat masuk ke kamarnya. Hyojin geleng kepala melihat tingkah sepupunya itu, lalu berjalan keluar.

Namun, saat ia keluar, ia mengernyit heran saat menyadari ada sebuah mobil hitam terparkir didepan rumahnya. Rasa penasarannya terjawab melihat seseorang yang keuar dari mobil tersebut.

“Hyojin-ah! Ayo. Kau mau ke konser Infinite Oppadeul kan?  Kajja kita sama-sama.” Dengan diikuti pandangan bingung Hyojin. Hana menarik tangannya keluar dan memasuki mobil.

“Ya Hyojin. Kau tau, Sungyeol Oppa memberikanku tiket VIP untuk konser malam ini. Coba lihat tiketmu? Seat berapa?”

“17.”

“Baguslah. Aku seat 18. Mungkin Sungyeol oppa mengambilkanku tiket bersama Myungsoo Oppa. Hihi.. coba tebak, aku ada berita bagus!” Ujar Hana berseri-seri.

“Apa?” Kata Hyojin mencoba berpikir. “Hmm.. Seolma.. YA KIM HANA! Kau jadian dengan Sungyeol Oppa?”

“Yep.” Sahut Hana senang. “Dan, oh, mian Hyojin-ah. Aku tidak bermaksud..”Hana dengan cepat meminta maaf ketika menyadari kesalahan situasinya.

“Aniya, gwaenchana. Kalau kau senang bersama Sungyeol Oppa, aku juga akan turut senang.” Ujar Hyojin dengan senyum yang ia pajang sebagus mungkin.

“Gomawo Hyojin-ah. Kau memang yang terbaik.”

Hyojin mengembangkan senyumnya. Ia tidak apa-apa. Melihat orang lain bahagia, ia akan turut bahagia.

*

“Myungsoo-ya, kau siap?” tanya pengatur tatapanggung untuk konser ini.

“Ya hyung.” Jawab Myungsoo mantap.

“Kalau begitu, sekarang kau kesini. Sebentar lagi, setelah ini, giliranmu. Kau harus menunggu disini. Ketika Sungjong dan pianonya sudah naik, kau harus mulai menyiapkan dirimu. Oke?”

“Ya hyung.” Angguk Myungsoo.

Sebentar lagi adalah solo stage Myungsoo di konser. Myungsoo memanggil stylist dan meminta ponselnya. Lalu mengirimi Hyojin sebuah pesan.

Hyojin yang duduk di kursinya merasakan getaran dari dalam tasnya. Ia dan Hana masih sibuk tertawa saat melihat video Couple game yang Infinite lakukan. Mereka berdua merasakaan bahwa kekasih mereka begitu konyol. Ah, mantan kekasih. Bagi Hyojin.

Hyojin merasakan matanya berkabur saat membaca pesan yang masuk.

Ini lagu untukmu. Dengarkan baik-baik!

Bertepatan dengan selesainya Hyojin membaca pesan tersebut, suara dentingan piano terdengar. Lalu kemudian, muncullah orang yang selama ini ia rindukan. Kim Myungsoo.

Nada-nada familier terdengar ditelinganya. Tunggu, bukankah ini lagu Toy?

Jiunjul arasseo neoui gieok deureul

(Thought I’d delete them, memories of you)

Chingudeul hamkke moyeo sure cwihan bam

(When I hangout with friends and get drunk)

Ne saengakenan himdeulgon hae

(I keep thinking of you, it wears me out)

Geuronjae sarasseo neul honja yeotjjanha

(I used to live such a life, always by myself)

Hamddae neun neol guwon ira mideoseosseo

(I once believed that you were my savior)

Meolo jigi jeonen

(Before drifting away)

Hyojin merasakan pipinya basah oleh air mata. Mendengar suara Myungsoo. Dan mengetahui fakta bahwa lagu ini dinyanyikan untuknya, sudah membuat hatinya perih sekaligus lega. Perih karena dia masih belum bisa melupakannya meskipun keputusan untuk berpisah datang darinya. Lega karena… lewat lagu favoritnya bersama Myungsoo ini, ia tahu bahwa pria itu merindukannya sama seperti ia merindukannya.

Gugeotman gieokhae jul su ittgenni

(Can you please remember just this?)

Naega neoi gyeote jamsi saratt da neun geol

(That I once by your side)

Gakkeum neol geori eso bolkabwa

(Once in a while thinking I might bump into you in the street)

Chorahan nal geoule bichwo danjang  hagon hae

(I look at my shabby self in the mirror and make my self over)

Hana yang melihat sahabatnya sedang berjuang menahan tangisnya, ikut menitikkan air mata. Ia tahu bahwa Hyojin masih mencintai Myungsoo. Sama seperti Myungsoo mencintai gadis itu. Hana lalu menarik pundak sahabatnya dan merengkuhnya dalam pelukannya.

Apeujin anhi?

(Are you hurt?)

Manhi keokjongdwae

(I’m very worried)

Haengbokhagettjiman,  Neorul wihae gido halkke

(Thought you must be happy, I will pray for you)

Gieokhae dareun saram mannado

(Remember, even when you meet someone else)

Naega neoui gyeote jamsi saraat da neun geol

(That I once by your side)

Hyojin menangis dengan keras di pundak sahabatnya. Ia tidak lagi berusaha menahan tangisnya. Ya, ia sakit. Hatinya masih perih. Ingin rasanya ia berteriak didepan Myungsoo. Mengatakan bahwa selama ini ia tidak baik-baik saja. Ia masih sakit. Hatinya pun.

Dengan cepat ia mengambil HPnya dan mengirimi Myungsoo sebuah pesan,

Good Job. And… gomawo, hyung.

*

Myungsoo turun ke backstage segera setelah menyelesaikan solo stagenya. Wajahnya tersenyum puas. Dari tempatnya berdiri saat di panggung tadi, ia bisa melihat Hyojin yang sedang menangis di pelukan Hana. Ia tahu itu, meskipun waktunya habis sambil memejamkan matanya saat menyanyi. Ia memejamkan matanya karena ia ingin mencegah airmatanya agar tidak jatuh. Juga agar ia tidak terus-terusan melihat Hyojin menangis. Ia ingin mencegah kemungkinan buruk untuk berlari memeluk Hyojin. Membuatnya menangis di pundaknya. Hanya di pundaknya. Membuatnya tenang di dalam pelukannya. Merasakan aroma gadis itu. Menciumi puncak kepala gadis itu. Mengusap rambutnya—satu aktivitas yang sangat disukai Myungsoo saat mereka masih bersama. Dan menghabiskan waktunya menonton film bersama Hyojin.

Myungsoo tersenyum puas saat teman-teman grupnya menyelamatinya atas kesuksesan solo stagenya di panggung. Lalu berjalan untuk berganti pakaian untuk stage selanjutnya.

“Myungsoo-ah, Hana mengirimiku pesan. Hyojin tidak berhenti menangis saat kau menyanyi.” Lapor Sungyeol.

“Ya, aku melihatnya. Ia bahkan bersandar pada Hana.” Myungsoo menghela napas. Mengingat bayangan Hyojin yang menangis dari atas panggung. Meski jauh, ia bisa mengenalinya. Ia tahu, sengaja ia memberikan tiket di seat tersebut. Agar ia bisa memantau gadis itu. Agar ia bisa menyaksikan Hyojin selama dua jam dari panggung.

“Kau bagaimana?” tanya Sungyeol.

“Aku? Seperti yang kau lihat sungyeol-ah, aku baik-baik saja. Meski sedikiit sakit. Tapi aku juga lega. Bisa menyampaikan perasaanku meski hanya lewat lagu.” Ia tersenyum miris. Lalu tanpa berkata apa-apa, ia meninggalkan Sungyeol dan meminta HP nya pada stylistnya.

1 new message recieved

Ia mengangkat alisnya heran. pesan baru?

Namun keheranannya tidak bertahan lama. Lalu digantikan oleh senyum. Pesan dari Hyojin. Senyummnya makin lebar saat membaca pesan itu. ia tahu kesempatannya masih ada.

*

Hyojin membuka pintu mobil Hana. Lalu segera mengecek kaca yang ia bawa. Matanya bengkak sebesar bola ping-pong. Akibat kebanyakan menangis.

Ia kemudian menghela napas. Mengambil tisu dan mengusap matanya. Meski airmatanya sudah sepenuhnya kering, namun matanya masih terasa lengket.

Setelah merasa agak mendingan, ia memejamkan matanya dan membaringkan seluruh tubuhnya di jok mobil itu. Ia butuh istirahat. Kepala dan hatinya seperti dikuras hari ini. Melihat Myungsoo, mendengar suaranya, merasakan kehadirannya seharusnya bisa membuat hatinya lega. Namun, kebalikannya, hatinya sakit. Melihat Myungsoo, mendengar suaranya, merasakan kehadirannya, namun mengingat bahwa Myungsoo bukan lagi sepenuhnya miliknya, ternyata dapat membuat pertahanannya runtuh.

Tak lama kemudian terdengar suara pintu mobil terrbuka.

“Hana-ya, bagaimana? Kau ketemu Sungyeol Oppa?” tanya Hyojin tanpa membuka matanya. Ia masih menyandarkan dirinya pada jok mobil.

Hening. Tidak ada sahutan.

Karena merasa ganjil, Hyojin membuka matanya dan menolehkan kepalanya kearah kursi pengemmudi. “Yak! Kim Ha—“ Ucapannya terhenti ketika melihat seseorang yang duduk di sampingnya.”na…”

“Myungsoo ssi? Ada apa?” Hyojin berusaha menghilangkan kegugupannya. Dadanya berdebar kencang. Pemuda ini….

“Hyojin-ah, mianhae..” ucap Myungsoo.

“Wae? Kenapa? Memangnya kau salah apa?” Sekali lagi, Hyojin berusah menetralkan detak jantungnya dihadapan pria ini.

“maaf karena aku hanya bisa membuatmu menderita. Sungyeol dan Hoya sudah menceritakannya paadaku, bahwa kau diteror. Jangan heran, sahabatmu, Hana, dan sepupumu Bora cerita pada mereka.” Sambungnya cepat ketika melihat raut wajah bingung Hyojin.

“Aku sudah membereskannya dengan Sungyeol. Membicarakan ini dengan orang itu, dan pada akhirnya kita mencapai kesepakatan, ia berjanji tidak akan menggangu mu lagi.”

Hyojin hanya terdiam. Menunggu kalimat selanjutnya yang akan diucapkan pemuda ini.

“dan maaf, sudah membuatmu menangis saat solo stageku. Aku tidak bermaksud…” ucapan Myungsoo terhenti saat tiba tiba Hyojin sudah memeluknya erat.

Myungsoo tersenyum lega. Sekarang ia bisa merasakan aroma shampo dari rambut gadis ini. Merasakan detak jantungnya, merasakan kehangatan yang diberikan darinya. Mendengar dentuman jantung gadis itu di dadanya. Myungsoo merasa lega, seperti merasakan bebannya terangkat dengan cepat.

“Hyojin-ah, sekali lagi, naekkohaja?”

Hyojin tersenyum dalam pelukan Myungso. Dan mengganguk sebagai bukti persetujuannya. Tiba-tiba Hyojin merasakan tangan yang memeluknya. Membalas pelukannya.

Myungsoo mendesah. “Aku tidak tau ternyata kau sebegitu berartinya untukku.” Gumamnya pelan. Hyojin mendengarnya dan hanya tersenyum sambil mengeratkan pelukannya.

“Ya! Ternyata kau cengeng juga ya? aku  melihatmu sepanjang konser tadi. Setengah dari waktu konser kau habiskan untuk menangis. Dasar cengeng.” Celetuk Myungsoo

Mendengar celetukan Myungsoo, Hyojin melepas pelukannya, lalu mencibir. “Ehei, Hyung. Tolong berkaca. Setidaknya aku tidak menangis sambil mabuk dan dilihat oleh teman-temanku.” Hyojin mehrong kearah Myungso yang sedang menatapnya bingung.

Detik kemudian, Myungsoo tersadar. “Mwo? YA! LEE SUNGYEOL!!!”

 

Kkeut!

7 thoughts on “[FF Freelance] That I Once Lived By Your Side

  1. Feel.a dapat bgt,,, bc ff ni bkn nyesek deh… Tp akhir.a mrk bs bersama kembali..scene yg pas myung nyanyi itu huuu nyentuh bgt…fighting thor.

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s