[TwoShot] Namehwa #01

Namehwa

NAMEHWA

By : ChoaiAK || Main Cast : Leo (VIXX), Nam Yaena (OC)  || Length : Two Shot || Support Cast : Seunghyun (FT Island) || Genre : Friendship, Romance ||

You’re a dream that’s gentler than the blue sky
you’re a dream that’s more fragrant than lilacs
I want to know you more
so come to me little by little

Starlight – VIXX

Berjalan melewati taman kampusnya yang dipenuhi mahasiswa yang sedang berdiskusi atau hanya sekedar berkumpul Taekwoon menghabiskan waktu sambil menunggu Hakyeon dan Jaehwan yang masih belum terlihat sampai sekarang. Dia melihat jam di tangannya dan menghembuskan nafas panjang sembari mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya.

“Kau dimana? apa masih belum pulang juga?”

Maaf, maaf. Sepertinya aku masih harus tetap dikampus lebih lama, Taekwoon~ah. Kau pulang saja duluan. Oh, tadi aku bertemu Jaehwan katanya dia akan ketempatmu setelah bertemu dosennya.

“Baiklah kalau begitu.” Dia memutuskan sambungan teleponnya tanpa menunggu Hakyeon mengatakan apa-apa lagi dan memasukkan kembali benda tersebut ketempat asal dia mengambilnya.

Sambil menunggu Jaehwan dia menghampiri bangku taman yang kosong yang terletak dibawah pohon rindang. Baru saja duduk dia melihat sebuah scarf tergelatak di sisi lain kursi. Taekwoon mengambil scarf tersebut dan memperhatikannya. Entah kenapa dia merasa tertarik melihat scarf berwarna merah maroon yang terasa hangat di tangannya. Punya siapa ini? Sayang sekali, scarf sebagus ini ditinggal begitu saja.

“Permisi.”

Dia mengangkat wajahnya dan melihat seorang perempuan tersenyum ramah kearahnya. Cara penampilannya tidak seperti kebanyakan perempuan yang sering mendekatinya dan mencari perhatiannya. Perempuan itu terlihat nyaman dengan pakaian casualnya. T-shirt berwarna cream yang dilapisi mantel rajut abu-abu, skinny jeans hitam dan sepatu kets. Rambut panjangnya juga tergerai bebas di belakang punggungnya.

“Itu milikku.”

Taekwoon tersadar dari lamunannya saat mendengar suara merdu perempuan itu, “Huh?”

Perempuan itu menunjuk scarf yang ada ditangannya masih tetap tersenyum, “scarf itu. Milikku.”

“Kamu yakin ini punyamu?”

Dia melihat perempuan itu tertawa samar, “tentu saja, kamu bisa lihat ada nama Namee di salah satu ujung scarf dan di ujung yang lain ada rajutan berbentuk bunga maehwa.”

Taekwoon melihat seperti yang di katakan perempuan itu. “Benar juga. Maaf, ini.” Lalu memberikan kembali scarf tersebut pada pemiliknya.

“Terima kasih.”

Perempuan itu sedikit membungkukkan tubuhnya dan berbalik menuju arah dia datang tadi sambil melingkarkan scarf maroon yang tadi diambilnya dari Taekwoon di lehernya.

Masih memperhatikan gadis itu berjalan membelakanginya, Taekwoon tidak menyadari kalau ternyata Jaehwan sudah berada disampingnya.

“Nam Yaena.”

Taekwoon terlonjak kaget, “kamjjaghi!”

Dia melihat Jaehwan memasang wajah polos kearahnya.

“Kenapa hyung memperhatikannya? Dia bilang sesuatu pada hyung?”

“Tidak. Memangnya dia mau bilang apa padaku?”

Jaehwan mengangkat bahunya, “tidak tau. Yaena selalu berurusan dengan orang yang tak terduga.”

“apa maksudmu dengan orang yang tak terduga?” Taekwoon bertanya saat mereka berjalan menuju parkiran tempat Taekwoon memarkirkan mobilnya. “Kamu kenal dengannya?”

“Tentu saja, dia salah satu pendiri Humanity Project Club. Memang tidak resmi tapi semua menganggap dia ketuanya.”

Mwo?” Taekwoon menelik Jaehwan tidak percaya. Gadis itu ketua Humanity Project club? Bagaimana mungkin? Penampilannya terlihat tidak meyakinkan. “salah satu pendirinya? Angkatan berapa dia?”

Jaehwan menganggukkan kepalanya, “sama denganku. Dia memang terlihat tidak meyakinkan.” ujarnya. “Tapi dia gadis yang luar biasa. Sekaligus mengerikan.”

Tidak mengerti apa maksud perkataan Jaehwan, Taekwoon tidak bertanya lebih lanjut lagi. Dia membiarkan begitu saja pembicaraan mengenai Yaena berhenti sampai disitu.

Yaena mengehentak-hentakkan kakinya dengan kesal di depan ruang Humanity Project Club (HPC). Beberapa anggotanya memperhatikannya dengan tatapan heran saat mereka akan masuk kedalam ruangan.

“kenapa dengan wajahmu?” Jaehwan yang baru datang memperhatikannya dengan heran. “Kamu bisa membuat lantai kampus berlubang dengan kakimu.”

Yaena menatap tajam kearahnya, “kau…lihat Pyo Jihoon?” Lalu dia meletakkan kedua tangannya dipinggang. “Anak itu belum memberikan dokumennya pada Prof. Dok Go.”

“Lalu?”

Dia melihat Jaehwan yang mememperhatikannya dengan wajah datar tanpa menaruh simpati sedikitpun dengan apa yang akan dia hadapi kalau dokumen penting untuk salah satu projek mereka belum sampai ke tangan Prof. Dok Go, salah satu dosen besar yang bertanggung jawab atas club mereka.

 “sebaiknya aku mencarinya. Dan kau.” Yaena menunjuk kesal pada Jaehwan. “Katakan pada mereka saat aku kembali semua sudah harus lengkap atau aku akan mengirim kalian langsung pada Prof. Shim.”

“Kau gila.” Jaehwan bergumam cukup jelas namun Yaena pura-pura tidak mendengar dan langsung pergi mencari juniornya yang bernama Pyo Jihoon.

 “Mengirim kami langsung pada Prof. Shim,” Jaehwan berpikir sebentar lalu menggelengkan kepalanya dengan cepat. “aku masih ingin hidup.”

Taekwoon kembali melihat kearah belakangnya dan melihat anak itu masih disana. Sejak dia keluar dari kelasnya beberapa menit yang lalu anak itu mengikutinya dan berhenti saat dia juga berhenti. Sekarang dia mulai terpancing emosi karena dia paling tidak suka ada orang yang menganggu ketenangannya. Taekwoon berbalik menghampiri anak itu.

“Kenapa mengikutiku?” meski tidak bermaksud terdengar sinis namun pertanyaan yang keluar dari mulutnya memang terdengar dingin dan sinis.

Anak itu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, “ehm, aku…maaf sunbae.” Dia melihat anak itu kemudian membungkukkan badannya lalu menyodorkan sebuah map berwarna hijau padanya.

“Apa ini?” Taekwoon membuka map tersebut dan membaca judul besar dokumen didalamnya. “Kenapa memberikannya padaku?”

“Aku sudah pergi menemui Cha Hakyeon sunbaenim, tapi dia bilang dia sedang sibuk jadi aku harus menemui sunbae. Jadi…”

“Tapi aku bukan ketuanya.” Potong Taekwoon datar. “Kamu harus memberikannya pada Cha Hakyeon.”

Anak itu memandangnya dengan wajah memelas, “tolonglah sunbae, kalau aku tidak mengembalikan dokumen ini secepatnya Namee noona bisa menggantungku.”

“Siapa namamu?”

Belum sempat menjawab siapa namanya, seorang perempuan sudah lebih dulu berteriak memanggilnya.

“PYO JIHOON!!!”

Lalu Taekwoon melihat anak yang bernama Pyo Jihoon itu bergerak cepat dan bersembunyi di balik tubuhnya. “Aku benar-benar akan digantung kali ini.” Taekwoon mendengar anak itu bergumam.

Dia melihat gadis yang meninggalkan scarfnya di bangku taman tempoh hari berjalan kearah mereka dengan tergesa-gesa dengan ekspresi kesal di wajahnya.

“Pyo Jihoon, aku benar-benar akan menggantungmu kali ini.” Gadis itu bicara dengan suara keras saat sampai di dekat mereka.

Jihoon menghindar saat Yaena berusaha menariknya. Sementara Taekwoon terjepit diantara keduanya. Sampai akhirnya gadis itu berhenti dan berdiri dengan kedua tangan dipinggang.

“Kau…aku sudah bilang kalau dokumen itu harus diserahkan tepat waktu. Sekarang mana dokumennya? Berikan padaku.”

“Tapi noona. Aku…belum dapat persetujuannya.” Gumam Jihoon takut-takut.

Gadis ini menarik nafas panjang sambil memejamkan matanya menahan marah, “Pyo Jihoon, kamu tau karena ulahmu aku pasti akan mengirim kalian semua pada Prof. Shim? Karena aku yang akan lebih dulu di gantung oleh Prof. Dok Go.”

“Jangan!” Jihoon mengarahkan kedua tangannya kedepan. “jangan Prof. Shim.”

Taekwoon semakin bingung melihat kedua orang yang bertengkar dihadapannya.

“Lalu mana dokumennya? Apa susahnya mendapatkan persetujuan dari Cha sunbae atau Jung sunbae. Jangan bilang mereka bersikap jual mahal karena merasa yang paling terkenal di seantero kampus…”

Taekwoon melihat Jihoon melirik kearahnya dengan ketakutan dan panik lalu berusaha membuat gadis itu berhenti menggerutu tanpa henti. Namun Yaena tetap bicara tanpa ada habisnya mengenai orang yang bernama Cha sunbae dan Jung sunbae tanpa tau kalau salah satu orang yang sedang dia bicarakan berdiri di depannya.

“Mana dokumennya?” Gadis itu bertanya sekali lagi dengan tangan terulur kedepan.

Memandangnya untuk beberapa saat, Taekwoon memberikan map ditangannya diatas tangan gadis yang dikenal dengan nama Namee itu.

“Kenapa bisa ada padamu?” Tanya Yaena heran lalu melirik Jihoon dengan mata menyipit. “Anak ini!”

“Dia Jung sunbae.” Jihoon bicara dengan nada berbisik kearah Yaena.

Wajah Yaena mendadak berubah bingung. “Jung sunbae?”

Jihoon mengangguk, “Jung Taekwoon sunbae” bisiknya.

“Kau…” Tunjuk Yaena. “Jung Taekwoon…sunbae?” Lalu dia melihat kearah Jihoon dan memberikan lagi map tersebut pada Jihoon dengan cepat. “Selesaikan tugasmu dan setelah itu ikut aku ke ruangan Prof. Dok Go.”

Taekwoon masih memandang Yaena yang menatap langsung kedalam matanya sebelum kemudian gadis itu membungkuk, “maaf karena sudah bersikap tidak sopan…sunbae.”

“Tidak apa-apa.” Dan kemudian Yaena pergi dengan terburu-buru tanpa melihat lagi kebelakang.

***

Seunghyun bertopang dagu memperhatikan Yaena yang sibuk dengan tugas-tugas kuliahnya. Sadar sedang diperhatikan Yaena sama sekali tidak mengalihkan perhatiannya dari yang sedang ditulisnya.

“Yaena,”

“Hm?”

“Kamu mau jadi pacarku tidak?”

“Tidak.”

Yaena menjawab dengan cepat tanpa perlu waktu untuk berpikir. Seunghyun yang mendengar itu tidak terlalu heran dengan jawaban Yaena yang memang bukan untuk pertama kalinya dia dengar.

“YA! Paling tidak kau harus diam beberapa saat dulu sebelum menjawab tidak. Kau tidak tau perasaanku bagaimana mendengarnya?”

Seunghyun menggerutu panjang lebar pada Yaena yang sama sekali terlihat tidak peduli dan masih menulis diatas kertas-kertasnya.

“YA! Nam Yaena!”

“Aish! Kenapa lagi?” Yaena mulai terlihat kesal dia lalu melihat kearah Seunghyun dan memberikan jawaban yang diinginkan pemuda itu,

“Kalau aku berpikir akan menerimamu maka aku akan membunuhmu lalu melemparkan mayatmu ke laut setelah itu aku akan mengasingkan diri ke puncak gunung everest dan pacaran dengan beruang kutub disana.”

Setelah mengatakan itu Yaena kemudian kembali fokus pada tugas-tugasnya. Sementara Seunghyun berdecak kesal karena merasa sedikit tersinggung dengan kata-kata Yaena.

“memangnya di gunung Everest ada beruang kutub.”

Yaena mengangkat bahunya, “mana aku tau!.” Ujar Yaena. “yang jelas sekarang aku sedang tidak ingin pacaran.”

“Lalu kapan kamu akan pacaran?”

Dia menghembuskan nafas dan mengerutkan dahinya sembari berpikir, “mungkin kalau sudah waktunya.”

Mendadak wajah seorang pemuda muncul dalam pikirannya dan membuatnya senyum-senyum sendiri. Mungkin kalau sudah waktunya dia bisa benar-benar menemukan sosok seseorang yang menyukainya karena dirinya dan bukan karena apa yang mereka inginkan darinya.

***

Yaena menghembuskan nafas lega setelah menutup pintu ruangan Prof. Shim yang memang paling ditakuti oleh semua mahasiswa. Bagaimana tidak, setiap kali ada mahasiswa yang menemuinya untuk urusan yang penting selalu pria setengah baya itu dengan rajinnya pasti mencari kesalahan yang tidak ada.

Dia berjalan dengan langkah gontai. Kakinya terasa sangat lelah setelah satu jam lebih berdiri tanpa dipersilahkan duduk oleh dosen tersebut.

“setidaknya dia harus membiarkan aku duduk.” Dia mengeluh. “Capek sekali.”

Berjalan sambil menundukkan kepalanya Yaena tidak sadar kalau ada seseorang yang sedang bejalan dibelakangnya dan memperhatikannya. Orang yang ternyata sudah mengikutinya sejak dia keluar dari ruangan Prof. Shim.

“Kamu bisa menabrak orang kalau berjalan seperti itu.”

Yaena sontak menoleh kebalakang saat mendengar suara Taekwoon.

“Jung Taekwoon!” lalu dia menggelengkan kepalanya cepat-cepat, “maksudku, Jung sunbae! Ah, bukan-bukan…Taekwoon sunbae!”

Taekwoon tertawa samar sebelum berjalan menghampiri Yaena dan menunggu sampai Yaena kembali melanjutkan langkahnya keluar dari gedung.

 “Prof. Shim membuatmu terlihat depresi seperti itu.”

Yaena mengangguk, “bagaimana bisa dia melihat kesalah tulisan yang ada dalam dokumen itu. Padahal dia bersumpah kalau matanya itu benar-benar sudah rabun.”

“Mungkin karena dia terlalu teliti.” Ujar Taekwoon santai.

“Mungkin” Yaena memperhatikannya beberapa saat sebelum bertanya, “Sunbae sedang memikirkan apa?”

Kaget dengan pertanyaan Yaena yang menebak pikirannya dengan benar, Taekwoon balas melihatnya. “Huh?

“Sunbae terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu.”

Terpaku untuk beberapa saat sambil melihat Yaena yang masih memperhatikannya Taekwoon  mengangguk, “sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan padamu.”

“Apa?”

Mereka berhenti beberapa saat di sudut taman kampus yang akan mereka lewati. Yaena memperhatikan sikap Taekwoon yang terlihat ragu-ragu dan sedang berpikir keras. Kemudian pemuda itu menghembuskan nafas panjang dan menatap Yaena dengan serius.

“Kamu…mau jadi pacarku?”

Yaena mengerjapkan matanya beberapa kali seolah mencoba menyadarkan isi kepalanya yang tiba-tiba berhenti berpikir setelah mendengar pertanyaan dari pemuda di hadapannya. Seorang mahasiswa yang dikenal angkuh dan dingin karena sikap pendiamnya. Sekarang pemuda itu berdiri di hadapannya dan menunggu jawaban yang akan diberikannya.

“Aku?” Tunjuk Yaena pada dirinya sendiri. “Jadi pacarmu? Kamu tidak sedang bercanda, kan?”

Taekwoon berdiri gelisah. Dia menundukkan kepalanya sejenak sebelum kembali melihat kearah Yaena lekat-lekat. “Aku serius.”

“Kenapa?”

“Huh?” Taekwoon tampak bingung dengan pertanyaan Yaena. “Kenapa apa?”

“Kenapa aku?”

Tiba-tiba Yaena seperti ingin mengeluarkan kameranya dan mengarahkan lensanya kearah Taekwoon saat pemuda itu tersenyum, “karena aku jatuh cinta padamu.”

“Aku tidak tau apa yang kamu dengar dari cerita-cerita itu. Tapi tidak semua yang kamu dengar itu benar.” Lanjut Taekwoon. “Aku hanya tidak suka orang lain ikut campur urusanku.”

“Kalau begitu mungkin kamu salah orang.” Yaena segera membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan pemuda itu. Bagaimana bisa dia bilang seperti itu padahal sikapku malah seperti yang tidak dia sukai.

“Yaena, tunggu.” Taekwoon menarik tangan Yaena dengan cepat dan membuatnya kembali berhadapan denganya. “Apa…apa aku salah bicara?”

Yaena tersenyum ramah, “tidak.”

“Lalu?”

“Lalu…” Yaena menarik lepas tangannya dari tangan Taekwoon. “Sunbae, tidak sepertimu yang tidak tau apa yang dikatakan anak-anak yang lain tentangmu. Tapi aku…sebagian besar yang mereka bilang tentangku kebetulan itu semua benar. Sayangnya, salah satunya adalah ikut campur urusan orang. Maaf sunbae, saat ada seseorang yang ingin aku menjadi pacarnya aku hanya akan menerimanya kalau dia juga bisa menerima aku apa adanya. Aku tidak mau mengubah diriku untuk orang lain hanya karena aku menjadi pacarnya. Aku lebih senang menjadi diriku sendiri.”

“Aku mengerti maksudmu.” Potong Taekwoon. Dia tersenyum dan menatap matanya serius. “Ingatkan aku saat aku lupa, tegur aku saat aku salah dan selalu berada disampingku karena kadang aku tidak bisa mengerti diriku sendiri. Aku memang jauh dari kata sempurna tapi aku akan berusaha untukmu. Aku jatuh cinta padamu karena dirimu. Bukan karena aku ingin mengubahmu.”

Membalas tatapan Taekwoon, Yaena bisa bisa melihat dirinya di mata pemuda itu. Kamu harus bisa memberi kesempatan dirimu sendiri untuk bahagia. Kata-kata Yong Jun melintas di kepalanya saat itu.

Yaena mengangguk, “baiklah. Aku mau jadi pacarmu.”

***

Sanghyuk dan Woonsik tiba-tiba tersedak makanan di dalam mulut mereka sementara Hakyeon, Hongbin dan Jaehwan membeku dengan posisi mereka masing-masing saat mendengar ucapan Taekwoon saat mereka sedang makan malam seperti ini.

“Kau…” Hakyeon berhasil mengeluarkan suaranya. “kau apa?”

“Dengan…siapa?” Tambah Jaehwan.

“Aku tidak salah dengar, kan?” Hongbin melihat kearah Hakyeon. “Taekwoon hyung bilang dia sudah punya pacar.”

“Aku juga dengar itu.” Hakyeon langsung meletakkan sumpit ditangannya dan mendekatkan duduknya dengan Taekwoon yang masih menikmati makan malam mereka tanpa terpengaruh dengan kekagetan teman-temannya yang juga tinggal dalam satu apartemen dengannya. “Taekwoon-ah, kau tidak sedang bercanda, kan?”

Taekwoon menggelengkan kepalanya dengan ekspresi datar.

“Hyung bilang tadi dengan siapa?” Tanya Jaehwan. “Yaena? Nam Yaena?”

“Namee sunbae?” Sanghyuk yang lebih kenal dengan nama julukan Yaena yang juga seniornya saat gadis itu masih sekolah tertegun dengan kenyataan itu. “Bagaimana bisa?”

“YA! Jung Taekwoon, kau tidak bisa tiba-tiba melemparkan bom seperti itu dan tidak menjelaskan apa-apa pada kami setelahnya.” Desak Hakyeon.

“Apa yang harus dijelaskan?” Taekwoon mengembalikan pertanyaan mereka. “Aku menyatakan perasaanku padanya lalu dia menerimaku dan kami pacaran. Selesai.”

Sanghyuk menggigit bibir bawahnya seperti yang dia lakukan saat dia ingin sedang berpikir akan bertanya atau tidak, “hyung tidak menakutinya atau mengancamnya supaya dia mau jadi pacar hyung, kan?”

Hakyeon memukul pelan belakang kepala Sanghyuk, “kau tidak boleh berpikiran seperti itu tentang hyungmu.” Lalu melihat kembali kearah Taekwoon yang masih tetap makan tanpa terganggu sedikitpun seperti mereka yang lain. “Kau tidak mengancamnya kan?” Hakyeon mengulang pertanyaan yang diajukan Sanghyuk.

Taekwoon berhenti dan meletakkan sumpitnya diatas meja. “Apa kalian benar-benar berpikir aku akan mengancamnya?”

Melihat ekspresi Taekwoon yang sinis sontak mereka mengibaskan tangan bersamaan, “tidak-tidak. Tentu saja tidak.” Bantah Hakyeon cepat.

“Kami tidak mungkin berpikir hyung melakukan itu padanya.” Tambah Hongbin lalu tertawa canggung.

Jehwan yang tadinya ikut terlihat panik berbicara dengan santai, “Lagi pula Yaena buka gadis sembarangan.”

Semua mata langsung terarah pada Jaehwan, “apa maksudmu?” Tanya Taekwoon.

“Aku kenal Yaena sejak awal kuliah, mereka semua membicarakan Yaena yang menolak setiap laki-laki yang menyatakan perasaan mereka padanya tapi di ruang HPC sering ada cerita tentang mahasiswa laki-laki yang juga dari awal kuliah sering terlihat bersama-sama Yaena. Hyung pasti sudah pernah melihatnya kalau memang sering memperhatikan Yaena.”

Taekwoon mengangguk. “Namanya Song Seunghyun.” Lanjut Jaehwan. “Meskipun Yaena bilang mereka berteman tapi semua orang bisa lihat dengan jelas kalau Seunghyun itu menyukai Yaena. Sangat.” Jaehwan mempertegas ucapannya pada kata terakhir.

“Kalau cerita itu juga aku dengar,” perhatian berubah pada Hakyeon. “Aku juga pernah dengar waktu mereka bicara di belakang gedung Komunikasi. Waktu anak itu mengajak Yaena pacaran kalian tau apa jawabannya. ‘Kalau aku berpikir akan menerimamu maka aku akan membunuhmu melemparkan mayatmu ke laut lalu aku akan mengasingkan diri ke puncak gunung everest‘ begitu katanya.”

“Itu memang Yaena yang aku kenal.”

Taekwoon memperhatikan Jaehwan yang memang lebih mengenal Yaena jauh sebelum dia mengenal gadis itu tertawa saat mengingat sesuatu dalam kepalanya. Jika gadis itu punya banyak daya tarik yang bisa membuat laki-laki manapun tertarik padanya kenapa baru sakarang dia menerima seorang laki-laki sebagai pacarnya. ‘Aku lebih senang menjadi diriku sendiri‘ kata-kata Yaena kembali terlintas di kepalanya. Mungkinkah karena itu? Karena mereka berusaha mengubah Yaena menjadi yang bukan dirinya?

#Next

4 thoughts on “[TwoShot] Namehwa #01

  1. Ya! Thor keren, thor pliss ya permintaan aku di terima buat cerita hongbin sama taeyeon masalhnya terjadi karna krystal aau enggak tiffany aja deh, tapi endingnya hongbin sama taeng ya pacaran pliss y a thor

  2. woahhh side storynya taekyen hahhaiii mas taekwon mah langsungbtancam gas tanpa pemanasan. aku selaau ngakak kalo bayangin hakyeon yg ngomong wkwkww berasa real bgr ceritanya , aku serius sukaaaaa. muahhh

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s