Blue Medley

blue medley

Author: ree

Genre: romance

Rating: PG-15

Length: oneshot

Casts: CNBLUE, SNSD’s Tiffany Hwang, Seo Joohyun, f(x)’s Krystal (Jung Soojung), AOA’s Kim Seolhyun

Disclaimer: Inspired by G.Na ft. Rain’s What I Want to Do Once I Have A Lover

 

 

 

***

Jika disuruh memilih antara nilai satu sampai sepuluh, maka Tiffany akan memilih nilai nol untuk keterlambatan dan ketiadaan kabar Lee Jonghyun hari ini. Sudah lebih dari satu jam ia hanya duduk termangu di sudut ruangan sambil sesekali melirik ponselnya. Layarnya hitam. Tidak ada pesan ataupun telepon yang masuk. Dan itulah yang sejak tadi membuatnya gelisah.

Jonghyun boleh saja terlambat di hari lain. Tapi jangan hari ini. Hari ini bisa dibilang adalah hari yang cukup penting bagi Tiffany dan ia ingin Jonghyun ada disana, duduk manis di antara barisan penonton yang memenuhi gedung aula untuk melihatnya menyanyikan lagu sebagai salah satu pengisi acara konser tahunan vocal group yang diselenggarakan di kampus mereka.

Tiffany dan Jonghyun sudah bersahabat sejak SMA. Tiffany yang baru saja pindah dari Los Angeles tidak begitu mudah bergaul pada saat itu, dan hanya Jonghyun-lah yang mau mendekatinya. Keputusan yang salah memang, karena orang-orang bilang persahabatan antara laki-laki dan perempuan hanyalah omong kosong. Dan harus diakui Tiffany itu memang benar. Ia tidak bisa selamanya melihat Jonghyun hanya sebagai teman atau sahabat. Namun perasaan yang-lebih-dari-sekedar-sahabat itu masih disimpannya rapat-rapat sampai sekarang, karena belum tentu Jonghyun merasakan hal yang sama dengannya dan ia tidak mau merusak persahabatan mereka nantinya.

Tiffany tersentak begitu merasakan seseorang menepuk pundaknya. Kim Taeyeon, salah satu sahabatnya yang juga menjadi pengisi acara, berdiri di hadapannya dengan tatapan prihatin.

“Jangan gugup begitu, Tiff. Nanti riasanmu luntur.”

Tiffany hanya memaksakan seulas senyum. Andai Taeyeon tahu, bukan demam panggung yang membuatnya gelisah seperti ini. Ia sudah menanggalkan rasa malunya untuk tampil di depan orang banyak sejak mengikuti kontes menyanyi pada peringatan Hari Ibu semasa Taman Kanak-kanak.

“Ada apa? Kenapa kau jadi lesu begini?” tanya Taeyeon begitu menyadari raut wajah Tiffany yang tidak seperti biasanya.

Tiffany menghela napas berat, “Jonghyun belum datang juga…”

“Benarkah? Kau sudah coba menghubunginya?” sebagai seorang sahabat, Taeyeon tentu tahu bagaimana hubungan Tiffany dengan Jonghyun.

“Kalau aku bisa menghubunginya, pasti aku tidak akan lesu seperti ini.”

Taeyeon menatap Tiffany iba. Selama ini, Tiffany selalu menolak bahkan menghindari para pria yang mencoba mendekati dirinya, hanya demi Jonghyun. Ya, Jonghyun. Pria yang sulit diketahui isi hatinya itu. Dan jika pria itu tidak menyadari alasan Tiffany memintanya untuk datang ke konser hari ini, ia tidak akan segan-segan melayangkan tinjunya ke wajah pria itu nanti.

Taeyeon mendudukkan dirinya di samping Tiffany dan merangkul gadis itu dengan sebelah tangannya, “Jangan terlalu dipikirkan. Kalau nanti ia benar-benar tidak datang, biar aku yang menghajarnya.”

Tiffany terkekeh pelan. Gurauan Taeyeon memang selalu berhasil membuatnya terhibur.

“Kim Taeyeon, sudah waktunya kau bersiap-siap. Lima menit lagi kau tampil.” Tiba-tiba seorang wanita berkacamata menyeruak masuk kedalam ruang ganti tersebut.

“Ya!” Taeyeon mengangkat satu tangannya ke udara, menunjukkan keberadaannya pada wanita itu di tengah keramaian pengisi acara lain. Ia lalu beranjak dari tempat duduknya setelah sebelumnya menepuk bahu Tiffany ringan. “Fany-ah, good luck!”

“Kau juga, Taeyeon-ah.” Tiffany menyunggingkan seulas senyum. Ia mengepalkan sebelah tangannya, mencoba memberikan semangat.

Sebenarnya pengumuman tadi bukan membuat Tiffany tambah bersemangat. Justru sebaliknya, ia semakin merasa gelisah. Setelah Taeyeon tampil di atas panggung, maka selanjutnya adalah gilirannya. Dan pria yang bertanggung jawab atas rasa gelisahnya ini belum juga menampakkan batang hidungnya.

Tiffany buru-buru menelepon Jonghyun. Entah untuk yang keberapa kalinya hari ini. Mungkin saja Jonghyun mulai berpikir ia wanita yang cerewet dan menyebalkan, namun biarlah. Untuk sehari ini saja. Demi hari ini.

Tiffany menghela napas lega begitu mendengar suara di seberang telepon, “Yeoboseyo?”

“Jonghyun-ah, kau dimana?” tanyanya tidak sabar. Ia dan Jonghyun kuliah di satu fakultas, dan seingatnya jadwal kuliah Jonghyun hari ini tidak begitu padat. Karena itulah ia tidak habis pikir bagaimana pria itu tidak menjawab pesan maupun panggilannya sejak pagi. Jonghyun bahkan tidak menjemputnya ke kampus seperti yang biasa ia lakukan.

“Maaf, tadi aku masih ada kuliah.” Didengar dari jawabannya, mungkin pria itu baru menyadari layar ponselnya dipenuhi panggilan dan pesan yang dikirimkan Tiffany.

“Kau tidak lupa kan dengan janjimu?”

“Astaga, Fany-ah! Bagaimana ini? Aku harus bertemu dengan dosen setelah ini.”

Tiffany menggigit bibir bawahnya, menekan segala emosi yang hendak keluar jika saja ia tidak ingat sedang berada di tempat umum dan dalam situasi genting. Jawaban Jonghyun tentu saja membuatnya sakit hati.

Pria itu lupa.

Kalau begitu sia-sia saja penantiannya sejak tadi.

Nilai Jonghyun turun menjadi minus lima di mata Tiffany.

“Akan kutunggu.” Ujarnya setelah berhasil mengontrol emosi, “Cepatlah datang.”

“Baiklah, akan kuusahakan secepatnya.”

Tiffany langsung memutuskan sambungan begitu Jonghyun menjawab demikian. Semoga saja itu bukan janji palsu, karena ia tidak ingin mendengarnya. Ia hanya ingin pria itu datang.

Beberapa saat kemudian akhirnya tibalah giliran Tiffany untuk tampil. Semua penonton bertepuk tangan meriah begitu ia memasuki panggung. Sambil menyampaikan sambutan singkat, matanya memindai setiap sudut bangku penonton; mencari keberadaan Jonghyun. Namun pria itu tidak ada di mana pun.

Tiffany mendadak tidak fokus. Lagi-lagi Jonghyun mengecewakannya. Mungkin boleh saja pria itu berbuat seperti ini di hari lain. Tapi please, jangan hari ini.

Jangan di hari ulang tahunnya.

Tiffany tidak menginginkan apapun di hari ulang tahunnya. Tidak pesta meriah dengan bingkisan-bingkisan kecil dan topi kerucut seperti perayaan ulang tahunnya semasa Taman Kanak-kanak, ataupun pesta mewah di hotel berbintang seperti perayaan ulang tahunnya yang ketujuh belas. Ia hanya ingin Jonghyun datang. Hanya itu.

Tampaknya hari ini adalah ulang tahun paling kelabu bagi Tiffany.

 

***

 

Andai saja manusia bisa memilih kehidupan, maka Soojung akan memilih hidup sebagai gadis biasa, tinggal harmonis bersama kedua orang tua dan kakak perempuannya di sebuah rumah bertingkat dua dengan pekarangan yang luas, berteman dengan orang baik-baik dan sesekali hang out bersama, menginap bersama-sama dan bergosip sepanjang malam, liburan bersama-sama, dan juga memiliki pacar yang baik hati dan pengertian. Oh, untuk yang terakhir itu ia sudah mendapatkannya.

Singkatnya, Soojung ingin menjalani kehidupan sebagai orang biasa.

Ia rela menukar rumah super besarnya dengan rumah sederhana di pinggiran kota, rela menukar semua sepatu koleksinya dengan orang-orang yang tulus berteman dengannya, dan rela menukar sekumpulan pria berbadan kekar yang selalu mengawasinya kemana-mana dengan satu orang laki-laki setia yang selalu melindunginya. Oh ayolah, ia sudah punya pacar. Ia bahkan rela menukar seluruh kekayaan ayahnya dengan sebuah keharmonisan keluarga. Untuk apa ia memiliki rumah mewah dengan segala fasilitas lengkap jika bertatap muka dengan orangtuanya saja hanya dua kali dalam setahun?

Ya, tidak ada yang benar-benar Soojung sukai dalam hidupnya. Tidak ada kebahagiaan sejati yang ia dapatkan. Tidak selain bersama Minhyuk.

Salah satu faktor lain yang membuat Soojung berkeinginan kuat untuk menjadi orang biasa adalah karena ia dikekang. Seperti hari ini. Ia tidak habis pikir bagaimana ayahnya menolak mentah-mentah keinginannya untuk mengikuti field trip ke Chuncheon yang diadakan di kampus dalam rangka mengisi liburan musim gugur. Alasan ‘mementingkan keselamatannya’ sama sekali tidak bisa ia terima. Sejauh itukah Chuncheon dari Seoul? Mungkin pria paruh baya itu lupa kalau ia sering memberikan Soojung tiket pesawat ke Paris dan London untuk berlibur kesana seorang diri.

Maka disinilah Soojung. Berjalan lambat-lambat menyusuri setiap rak makanan yang ada di sebuah minimarket di dalam stasiun, sambil sesekali kepalanya melongok ke arah jendela; memastikan para bodyguard suruhan ayahnya tidak menemukannya. Lagipula ia harus membeli beberapa perbekalan untuk perjalanannya ke Chuncheon. Keputusannya untuk pergi diam-diam dari rumah membuatnya tidak sempat menyiapkan apapun bahkan setangkup roti untuk sarapan.

“Sial! Mereka kesini!” umpat Soojung begitu matanya tanpa sengaja melihat beberapa pria berbadan kekar dengan setelan dan dasi hitam, lengkap dengan kacamata hitam dan walkie talkie mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruang tunggu stasiun.

Tanpa pikir panjang Soojung langsung berlari keluar minimarket. Lagi-lagi ia tidak sempat membeli apapun. Yang ada di pikirannya sekarang adalah ia harus secepatnya tiba di peron sebelum kereta menuju Chuncheon berangkat.

Soojung merasa lega karena begitu melewati toko kue manjoo, dilihatnya Minhyuk sedang berdiri disana. Berarti ia masih punya waktu sebelum kereta benar-benar meninggalkan stasiun.

“Oh, Soojung-ah! Kau datang?” sapa Minhyuk begitu Soojung berlari mendekat. Agak membingungkan sebenarnya, karena yang ia tahu Soojung tidak diizinkan untuk ikut serta.

Bukannya menjawab, Soojung malah langsung menarik tangan Minhyuk dan menyeretnya menuju peron.

“Hei, mau kemana? Ada apa?” Minhyuk mau tidak mau mengikuti langkah Soojung. Untung saja gadis itu menariknya tepat setelah ia membayar kue manjoo yang dibelinya barusan.

“Jam berapa keretanya berangkat?” tanya Soojung tak sabar.

Minhyuk melirik arlojinya, “Lima menit lagi.”

“Bagus! Kita masuk sekarang.”

Soojung terus menggandeng tangan Minhyuk hingga akhirnya mereka masuk ke dalam salah satu gerbong. Ia tidak percaya harus berkeringat seperti ini di saat hari masih pagi. Harusnya hari ini menjadi hari yang menyenangkan, jika saja ayahnya tidak membuat larangan konyol dan menjadikannya pemberontak seperti ini.

“Sebenarnya apa yang terjadi? Bukankah kau dilarang pergi?” tanya Minhyuk lagi.

“Aku pergi diam-diam.” jawab Soojung jujur, “Dan kau tahu kelanjutannya.”

“Sebaiknya kau tidak mencari masalah.” Minhyuk ngeri membayangkan apa yang akan terjadi pada Soojung jika ayahnya tahu, “Masih ada waktu─”

“Tidak, Minhyuk.” potong Soojung tegas, “Aku tetap akan pergi. Aku ingin pergi.”

Minhyuk baru akan membuka mulut ketika Soojung kembali menarik tangannya, “Sial! Mereka ikut naik. Mereka pasti sudah melihatku tadi.” Ia terus berjalan cepat menyusuri gerbong demi gerbong, “Dimana teman-teman yang lain?”

“Masih dua gerbong lagi.” Jawab Minhyuk. Ia sudah mengerti duduk permasalahannya, jadi pasrah saja tangannya terus ditarik.

Setelah sampai di gerbong penumpang yang berisi teman-teman kampus mereka, Soojung langsung menghempaskan dirinya di sebelah bangku Minhyuk yang kebetulan kosong. Sengaja ia mengabaikan pandangan heran sekaligus terkejut orang-orang di sekitarnya ketika melihat kehadirannya. Siapa yang tak kenal Soojung dan kehidupan keluarganya yang kaya raya?

Minhyuk menyodorkan botol minumnya ke arah Soojung. Gadis itu kelihatan lelah sekali. Entah permainan kucing-kucingan seperti apa yang dilakukannya sebelum bertemu dengannya tadi.

“Kau sudah sarapan?” tanyanya, yang dibalas dengan gelengan kepala oleh Soojung. Pria itu juga menyodorkan kue manjoo yang dibelinya.

Soojung tersenyum. Minhyuk benar-benar bagaikan oase di padang pasir.

“Bukankah ayahmu yang terhormat itu tidak mengizinkanmu mengikuti acara ini, tuan putri Jung Soojung?” tiba-tiba seseorang berujar.

Soojung menoleh. Tepat di sebelah kursi Minhyuk berdiri seorang gadis berambut panjang kecokelatan dengan potongan poni lurus yang khas menatap sinis ke arahnya. Kim Jiwon. Tampaknya gadis itu baru saja kembali dari toilet dan entah ini keberuntungan atau bukan, tempat duduknya direbut oleh Soojung.

“Kenyataannya aku ada disini,” Soojung tersenyum merendahkan, “Berita bagus bukan?”

“Oh, maaf aku mengambil tempat dudukmu,” Soojung memindahkan tas jinjing milik Jiwon ke arah kursi yang ada di depannya. Kebetulan letak kursi itu saling berhadapan dengan kursinya dan belum ada yang menempati.

Jiwon mendengus. Dari dulu ia tidak pernah menyukai Soojung dan apapun yang berhubungan dengan gadis itu. Ia yang selalu menjadi primadona sejak duduk di bangku Sekolah Dasar merasa tersaingi semenjak berada satu kampus dengan gadis itu. Padahal Soojung tidak pernah memikirkan dan tidak mau ambil pusing dengan popularitas yang melekat pada dirinya.

“Sepertinya anak manja yang satu ini baru saja kabur dari rumah.” Cibir Jiwon, sengaja mengeraskan volume suaranya agar mahasiswa lain yang ada disana ikut mendengar.

“Apa salahnya aku ingin pergi ke Chuncheon?” Soojung sama sekali tidak tampak terganggu dengan cibiran Jiwon. Ia merangkul lengan Minhyuk dan dengan sengaja bergelayut manja, “Lagipula aku ingin menghalau nenek sihir yang mencoba mendekati pacarku.”

Jiwon mengepalkan tangannya, tidak terima dirinya disebut nenek sihir. Ia menoleh cepat ke arah bangku penumpang di seberang tempat duduknya, “Ya! Park Hyungsik! Tukar tempat dudukmu!”

Baik Minhyuk maupun Soojung hanya tertawa cekikikan melihat tingkah laku Jiwon. Namun hal itu tidak berlangsung lama, karena tiba-tiba saja mereka melihat beberapa orang bodyguard yang tadi mengejar Soojung melangkah memasuki gerbong tersebut.

“Apa mereka benar-benar mau mengikutiku sampai ke Chuncheon??” Soojung mendesis.

Minhyuk memutar otak, mencari cara agar mereka tidak bisa menemukan Soojung. “Hyungsik-ah, pinjam syalmu!”

Hyungsik─yang kini duduk di hadapan Minhyuk karena sudah bertukar tempat duduk dengan Jiwon─menoleh bingung, “Eh, kenapa?”

“Sudah pinjam saja.” Dengan terburu-buru Minhyuk melepaskan syal yang melingkar di leher Hyungsik dan memberikannya pada Soojung, “Kau pura-puralah tidur dan tutupi wajahmu dengan syal ini.” kemudian ia melepas syal merah marun yang dikenakannya dan memberikannya pada Hyungsik, “Kau juga!”

Hyungsik yang tidak tahu-menahu apa yang sedang terjadi hanya menurut. Ia dan Soojung langsung melakukan apa yang diinstruksikan Minhyuk. Minhyuk sengaja meminta mereka berdua melakukan hal itu untuk mengecoh para bodyguard Soojung. Jika para pria itu mengenali dirinya dan menghampiri bangkunya, mereka akan mengira orang yang menutupi wajahnya dengan syal milik Minhyuk adalah Soojung. Atau jika mereka lebih bodoh dari yang ia perkirakan, mereka tidak akan bisa mengenali Soojung sama sekali.

“Hei, bocah! Mana nona Soojung?” sesuai perkiraan Minhyuk, para bodyguard itu masih mengenalinya.

“Aku sudah menyuruhnya pulang tadi.” Jawab Minhyuk kalem.

“Jangan bohong!”

“Kalau kau tidak percaya tanya saja teman-temanku.”

Pria itu mendengus. “Mungkin dia tidak bohong,” pikirnya. Ia lalu mengamati kedua orang yang menutupi wajahnya dengan syal. Karena penasaran, pria itu pun mendekati Hyungsik dan hendak mengintip wajahnya yang ada di balik syal.

“Apa-apaan kau ini! Tidak sopan sekali mengintip wajah orang yang sedang tidur.” Suara yang tiba-tiba terdengar itu sontak membuat gerakan pria itu berhenti. Bukan Minhyuk yang mengatakannya, melainkan Jiwon. Gadis itu menatap sinis ke arah bodyguard yang saat ini berdiri memunggunginya.

“Iya, kau ini tidak sopan sekali!” terdengar protes dari beberapa mahasiswi yang duduk tidak jauh dari sana.

“Bagaimana kalau wajah tidurmu yang jelek itu kelihatan?!”

“Kereta sudah mau berangkat. Keluar sana!”

Suasana gerbong pun seketika menjadi riuh. Para bodyguard itu tidak punya pilihan lain selain keluar meninggalkan gerbong. Ia tidak ingin membuat keributan dan menarik perhatian para petugas kereta. Kalaupun nantinya mereka tidak bisa menemukan Soojung, mereka akan mencarinya dengan cara lain.

Setelah para pria berpakaian serba hitam itu keluar, akhirnya Hyungsik bisa bernapas lega. Bukan apa-apa, ia hanya tidak ingin wajahnya yang sangat ia banggakan itu menjadi sasaran tinju setelah mereka sadar sedang dikelabui. Setidaknya rencana Minhyuk berhasil, meskipun mendapat bantuan tidak terduga dari Jiwon dan beberapa mahasiswi lain. Pria itu membisikkan ucapan terima kasihnya pada mereka.

Mungkin… Jiwon tidak seburuk yang orang-orang duga.

“Kau harus berterima kasih pada Kim Jiwon.” Bisik Minhyuk pada Soojung. Namun gadis itu tidak bergeming. Badannya sama sekali tidak bergerak, bahkan syal milik Hyungsik masih menutupi wajahnya dengan sempurna.

Dengan perlahan Minhyuk membuka syal tersebut. Mata gadis itu terpejam. Rupanya Soojung benar-benar tertidur, mungkin lelah setelah berusaha melarikan diri tadi. Apalagi mereka sengaja menaiki kereta yang berangkat pagi-pagi sekali, jam tidur gadis itu pasti berkurang.

Minhyuk menyandarkan kepala Soojung ke bahunya dengan hati-hati. Ia tidak mau kepala gadis itu terbentur kaca jendela nantinya. Jujur, ia sangat senang begitu mengetahui Soojung juga ikut dalam acara jalan-jalan hari ini. Karena baginya liburan tanpa kehadiran Soojung sama sekali bukan liburan.

 

***

 

Jungshin tidak habis pikir bagaimana teman-teman seangkatannya semasa SMA memiliki ide untuk menggelar reuni di Taman Bermain. Ya, Taman Bermain. Menurut Jungshin, reuni adalah waktu dimana orang-orang akan duduk dan mengobrol tentang kenangan masa lalu, keadaan masing-masing di masa kini, dan rencana di masa depan. Dan suasana kekeluargaan itu akan semakin terasa jika dilakukan di tempat atau ruang yang tidak begitu ramai, seperti lounge, bar, atau restaurant. Bukan di tempat luas seperti Taman Bermain yang justru akan membuat mereka terpencar-pencar. Setiap orang pasti memiliki ego masing-masing untuk menentukan wahana yang akan mereka naiki nantinya.

Jungshin mendesah malas. Bukan itu sebenarnya yang membuat langkahnya berat untuk datang ke acara reuni hari ini, meskipun ini adalah reuni pertama yang diselenggarakan semenjak mereka lulus tiga tahun yang lalu. Ia tidak peduli dimana pun tempatnya. Hanya saja di mana pun itu pasti ada satu wanita yang ingin ia hindari.

Nama wanita itu Choi Jinri. Salah satu teman seangkatan Jungshin yang dulu cukup populer di kalangan para siswa. Ia cantik, tinggi, ramah, dan mau berteman dengan siapa saja. Mungkin daya tariknya itulah yang membuat Jungshin jatuh hati. Namun ia tak pernah punya kesempatan─atau lebih tepatnya keberanian─untuk menyatakan perasaannya pada Jinri hingga mereka lulus. Jungshin ingin menganggap Jinri hanya sebagai masa lalunya, namun tampaknya sia-sia. Dan jika hari ini ia bertemu dengan gadis itu lagi, semua usahanya untuk melupakan Jinri akan semakin sia-sia.

“Lee Jungshin?”

Sekujur tubuh Jungshin mendadak kaku ketika mendengar suara tersebut. Hal yang paling ditakutinya hari ini terjadi lebih cepat dari yang ia perkirakan. Diam-diam ia menyalahkan Tuhan yang seolah ingin mengolok-oloknya; senang melihat ia mati kutu.

Dengan kaku Jungshin memutar badannya. Wanita bernama Choi Jinri itu sudah berdiri disana, dengan rambut sebahu kecokelatan dan mini dress pink pastel berbalut mantel cokelat yang membuatnya tampak semakin dewasa. Pemandangan yang membuat Jungshin merasa oksigen di sekitarnya menipis, ditambah dengan kehadiran seorang pria di samping gadis itu yang sama sekali tidak ia kenal.

Lagi-lagi Jungshin ingin menyalahkan Tuhan atas takdir yang benar-benar tidak berpihak padanya.

“Ternyata benar Jungshin-ssi.” Jinri tersenyum lebar.

Oh, kenyataan menyakitkan lainnya yang hampir ia lupa. Ia tidak pernah benar-benar dekat dengan Jinri hingga gadis itu memanggilnya dengan akhiran –ssi di belakang namanya.

“Hai.” Jawab Jungshin seadanya. Dalam hati ia berharap siapa pun segera membawanya pergi dari sana sebelum ia mendengar kenyataan yang lebih pahit.

“Jungshin-ssi, kenalkan, ini Choi Minho. Seniorku di kampus.” Jinri mengenalkan pria tampan yang berdiri di sampingnya, “Dia pacarku.”

Jika Jungshin adalah awan, mungkin ia sudah mulai menghitam dan mengeluarkan tetesan air kemudian menghilang, tercampur bersama air sungai dan mengalir sejauh mungkin. Itulah kenapa ia ingin secepatnya pergi dari sana. Ia sudah tahu sejak membalikkan badannya tadi. Dan rasanya Jinri tidak perlu memperjelas.

“Oh.” Hanya itu yang terucap dari mulut Jungshin. Ragu-ragu ia membalas uluran tangan pria bernama Choi Minho itu. “Lee Jungshin.”

“Lee Jungshin ini teman seangkatanku.” Jinri menjelaskan, yang dibalas dengan anggukan Minho dan senyum ramah pria itu pada Jungshin.

“Kau tidak pergi ke bianglala, Jungshin-ssi? Bukankah mereka bilang kita akan berkumpul disana? Bagaimana kalau kita pergi bersa─”

“Kalian duluan saja. Aku masih harus menunggu seseorang.” Jungshin buru-buru menolak. Entah dari mana datangnya alasan bohong itu.

Jinri tersenyum jahil, “Pacarmu ya? Baiklah, kalau begitu kami duluan, Jungshin-ssi. Sampai nanti.”

Sepeninggal Jinri dan Minho, Jungshin menghela napas lega. Ia sudah menyangka Jinri akan berpikiran seperti itu, dan memang itulah yang ia inginkan. Setidaknya di mata gadis itu ia tidak terlihat menyedihkan.

Setelah kejadian tadi tampaknya semakin kuat alasan Jungshin untuk tidak datang ke acara reuni. Pertama, ia tidak ingin melihat Jinri dan kekasihnya. Kedua, ia benci dengan acara reuni yang memperbolehkan membawa pasangan. Tidakkah esensi reuni jadi melenceng jauh dari yang seharusnya?

Jungshin memutar badannya, bermaksud untuk kembali ke tempat parkir dan pulang. Baru beberapa langkah ia berjalan, seseorang menubruk bahunya dengan keras.

“Aish, apa lagi ini?!”

“Ma…maaf…” orang yang menabrak Jungshin tadi buru-buru membungkukkan badannya.

Tadinya Jungshin ingin mengabaikannya sebelum menyadari siapa orang itu. “Kau… Kim Seolhyun?”

Gadis itu tampak terkejut. Bibirnya refleks membentuk huruf ‘O’ dan jari telunjuknya mengarah ke Jungshin, “Lee Jungshin sunbae?”

Seolhyun bukan teman semasa SMA Jungshin, jadi keberadaannya disini pasti bukan untuk menghadiri acara reuni. Ia tergabung dalam klub fotografi yang diikuti Jungshin di kampus. Seolhyun lebih muda setahun dan termasuk salah satu yang termuda di klub, karena itulah ia sering digoda oleh teman-teman Jungshin.

“Kamera!” seru Seolhyun tiba-tiba. Jungshin baru ingat, minggu lalu Seolhyun terpaksa meminjam kameranya karena miliknya rusak terlindas mobil saat pertemuan klub. Agak konyol memang, namun mereka tidak heran karena percaya atau tidak, gadis yang satu ini kelewat ceroboh.

“Kebetulan aku membawa kameramu, Jungshin-ssi. Akan kukembalikan hari ini.” Seolhyun melirik jam tangannya, “Apa kau mau menunggu? Aku harus bekerja.”

“Kerja?” kening Jungshin berkerut, “Tapi aku mau pulang.”

“Bagaimana ini? Kameramu ada di ruang ganti dan aku harus buru-buru.” Seolhyun berpikir sejenak. Ia lalu menggamit tangan Jungshin dan menariknya, “Kalau begitu ayo!”

“Eh, kemana?” Jungshin berusaha menarik tangannya kembali dan menghentikan langkahnya, namun sulit karena Seolhyun tidak mau melepaskan tangannya.

“Ke ruang ganti. Kita harus mengambil kameramu.”

“Kau bisa mengembalikannya besok.”

“Tidak bisa. Besok pasti aku lupa.”

Melihat Seolhyun yang keras kepala, Jungshin pun pasrah. Ia membiarkan kakinya melangkah kemana pun gadis itu membawanya. Sampai akhirnya mereka memasuki sebuah ruangan di sudut Taman Bermain yang jauh dari keramaian dengan sederet meja rias dan beberapa gantungan pakaian warna-warni.

“Sebenarnya kerjamu apa?” tanya Jungshin sambil memperhatikan sekeliling.

“Badut kostum.” Jawab Seolhyun. Ia melirikkan matanya ke arah penutup kepala boneka kelinci putih yang terletak di salah satu meja rias, kemudian mengedikkan bahu. “Lumayan untuk menambah uang saku. Aku sengaja mengambil shift sore sampai malam setelah jam kuliah.”

Jungshin terdiam, tidak menyangka Seolhyun mau melakukan pekerjaan yang bagi sebagian orang masih dianggap memalukan. Kenapa gadis itu tidak menjadi pelayan atau pramuniaga saja?

“Tunggu sebentar. Biar kuambil kameramu.” Seolhyun mengalihkan pembicaraan.

Seperti yang sudah Jungshin duga, gadis itu lupa dimana ia menaruh tasnya terakhir kali dan kelimpungan mencarinya di setiap sudut ruangan. Benar-benar gadis yang ceroboh.

“Oh, jadi ini orang yang akan menjadi karyawan pengganti, Seolhyun-ssi?”

Baik Jungshin maupun Seolhyun menoleh. Tampak seorang pria paruh baya berwajah jenaka dan kepala yang hampir botak berjalan ke arah mereka berdua. Entah dari mana datangnya pria tersebut. Mungkin dari balik tirai yang membatasi ruang ganti itu dan ruang lain yang Jungshin belum ketahui.

Pria itu meneliti penampilan Jungshin dari atas ke bawah, “Bagus. Postur badannya mirip dengan karyawan yang tidak masuk itu.”

Merasa ada yang tidak beres, Jungshin buru-buru menoleh ke arah Seolhyun, meminta penjelasan, “A…apa maksudnya─”

“Tidak perlu banyak tanya. Jam kerjamu sudah dimulai sejak sepuluh menit yang lalu.” Potong pria itu, “Cepat pakai kostum kucing di sebelah sana. Anak-anak di Taman Bermain ini sudah menunggu.”

Dengan mata melotot dan kening berkerut, Jungshin menatap pria itu dan Seolhyun bergantian. Yang ia dapat hanyalah tatapan iba Seolhyun yang dengan penuh penyesalan membisikkan kata ‘mianhae’.

Jungshin mendengus sambil menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Ada yang salah dengan hari ini. Ada yang salah dengan taman bermain ini.

“Sial!”

 

***

Seohyun meletakkan gulungan kain kasa terakhir ke dalam sebuah kotak putih berisi berbagai macam obat-obatan dasar pertolongan pertama. Dengan begini lengkaplah sudah semua keperluan yang akan ia bawa pada acara kunjungan esok hari. Seohyun tidak ingin ada kesalahan sekecil apapun yang dapat mengganggu jalannya acara, jadi ia mempersiapkan secara matang segala keperluannya sejak kelas hari ini berakhir.

Gadis itu baru saja meletakkan kotak obat tersebut di atas meja bersamaan dengan beberapa barang lain ketika terdengar derap langkah seseorang. Ia pun menoleh. Dilihatnya Kim Hyoyeon, wanita berambut ikal kecokelatan yang merupakan rekannya sesama pengajar, sudah berdiri bersandar di pintu.

“Seohyun-ah, kau masih belum pulang?”

Seohyun baru menyadari hari sudah mulai senja ketika mendongakkan kepalanya ke arah jendela. Rupanya ia terlalu serius mempersiapkan keperluan esok hari hingga lupa waktu. Ia baru akan menjawab pertanyaan Hyoyeon ketika tanpa sengaja matanya menangkap sosok seorang gadis kecil duduk di salah satu ayunan di halaman, tampak sedang asyik menggoreskan krayonnya di atas kertas gambar.

“Eonni duluan saja.” Jawab Seohyun akhirnya. Hyoyeon mengangguk, kemudian pergi meninggalkan gadis itu setelah sebelumnya mengucapkan ‘sampai besok’.

Sepeninggal Hyoyeon, Seohyun melepas ikat rambutnya kemudian memandangi kumpulan gambar yang tersusun rapi di salah satu sisi ruangan tersebut. Tidak semua gambar itu terlihat bagus─bahkan ada yang sampai sekarang masih belum ia mengerti bentuknya─karena dibuat oleh anak-anak usia lima sampai enam tahun. Namun baginya semua gambar itu berharga. Dengan memandanginya saja ia seolah dapat merasakan senyum anak-anak itu yang setiap hari selalu menghiasi ruang kelasnya dan juga hari-harinya.

Terhitung sudah hampir dua tahun Seohyun menjalani profesi sebagai pengajar di sebuah Taman Kanak-kanak. Menjadi guru adalah cita-citanya sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Ia merasa sangat bahagia ketika diterima bekerja di salah satu Taman Kanak-kanak di kotanya. Membayangkan bermain dan belajar bersama murid-murid kecilnya yang lucu membuatnya selalu merasa bersemangat untuk datang ke tempat ini setiap pagi, meskipun tak jarang ia dipusingkan dengan beberapa anak yang sering bertengkar dan menangis, belum lagi yang sering mengompol. Menjadi orangtua pengganti di sekolah bagi anak-anak seumuran mereka memang butuh perhatian ekstra, karena itulah ia memikirkan segala sesuatunya dengan matang untuk acara kunjungan ke kebun yang rutin diadakan setahun sekali.

Seohyun meraih tas jinjingnya dan berjalan meninggalkan gedung. Sebagai orang terakhir, ialah yang bertanggung jawab untuk mengunci pintu kelas. Ia tidak langsung pulang setelahnya, melainkan berbelok menuju halaman belakang untuk menghampiri gadis kecil yang dilihatnya tadi.

“Aleyna,” Seohyun mendudukkan dirinya di ayunan di sebelah gadis kecil itu. Ia sudah hapal alasan Aleyna masih berada di sekolah padahal teman-temannya yang lain sudah pulang lebih dari tujuh jam yang lalu. “Menunggu Oppa?”

Aleyna mengangguk. Kulit putih, rambut panjang bergelombang, mata bulat, dan senyumnya yang manis membuatnya tampak seperti boneka hidup. Bukannya Seohyun membeda-bedakan murid-muridnya, hanya saja ada sesuatu yang membuat Aleyna memiliki nilai lebih di matanya.

“Sedang menggambar apa?” Seohyun mencoba memulai percakapan. Jujur, ia juga merasa penasaran gambar seperti apa yang sedang dibuat gadis kecil itu dengan wajah seserius tadi.

“Aku membuat buku cerita.” Jawab Aleyna antusias. Ia memperlihatkan buku gambarnya pada Seohyun, seolah gambar-gambar itu memang ditujukan untuknya.

“Ini Oppa, ini Aleyna, dan ini Ibu Guru.” Gadis kecil itu menunjuk satu per satu sosok manusia─dengan bentuk khas goresan tangan anak umur enam tahun─yang digambarnya. Rupanya benar, gambar itu memang salah satunya ditujukan untuk Seohyun.

Seohyun membalik lembaran kertas itu, menuju ke halaman selanjutnya. Kali ini sosok manusia itu bertambah menjadi empat orang, dimana orang yang terakhir dicoret menyilang dengan krayon warna merah.

“Aleyna tidak suka Paman itu.” komentar gadis kecil itu sambil mengerucutkan bibirnya.

“Aleyna tidak boleh begitu. Paman itu orang baik.” Nasihat Seohyun. Ia mengerti sepenuhnya apa maksud gambar tersebut.

Hari sudah semakin gelap, namun ‘Oppa’ yang ditunggu Aleyna belum juga datang. Seohyun tidak bisa membiarkan gadis kecil itu terus-terusan menunggu di lingkungan sekolah yang sepi seperti ini. Karena itulah ia memutuskan untuk mengantarkan Aleyna pulang menggantikan ‘Oppa’-nya.

“Ah, itu Oppa!” seru Aleyna sesaat setelah Seohyun mengutarakan keputusannya.

Seohyun menoleh ke arah yang ditunjuk Aleyna. Disana berdiri seorang pria berpakaian rapi khas pegawai kantoran tersenyum dan melambaikan tangan ke arah Aleyna.

Dan ke arahnya juga.

“Maaf, Oppa lama sekali.” pria itu mengusap puncak kepala Aleyna setelah menghampirinya.

“Tadinya aku ingin menggantikanmu mengantarkannya pulang.” Sahut Seohyun. Ia sudah mengenal baik kakak laki-laki Aleyna yang bernama Jung Yonghwa itu.

Tentu saja, karena mereka sepasang kekasih.

“Tidak perlu. Selama aku masih bisa menjemput Aleyna, akulah yang akan mengantarkannya pulang.” Kali ini Yonghwa gantian mengusap puncak kepala Seohyun. Ia yang hanya tinggal berdua dengan Aleyna di Korea karena kedua orangtua mereka telah meninggal merasa sangat bertanggung jawab untuk mengurus adik kecilnya itu dan menjaganya sebaik mungkin.

Seohyun dan Yonghwa pertama kali bertemu di sekolah ini, tepat ketika ia mendaftarkan Aleyna untuk masuk Taman Kanak-kanak. Saat itu Seohyun baru saja diterima sebagai pengajar. Status sebagai orang tua pengganti di sekolah dan orang tua pengganti di rumah membuat mereka sering bertemu dan berkomunikasi satu sama lain, sehingga secara tidak langsung mereka dapat saling mengenal lebih jauh. Dan itulah yang membuat benih-benih cinta tumbuh diantara keduanya.

“Besok Aleyna akan pergi ke ladang goguma.” Seohyun menjelaskan tentang rencana kunjungan sekolah besok, “Aku sudah memberikan catatan barang-barang yang harus dibawa. Sebaiknya ia cukup istirahat hari ini karena besok kami akan berangkat pagi-pagi sekali.”

Yonghwa mengernyitkan dahi, “Orangtua tidak boleh ikut?”

“Tidak perlu. Aku dan para pengajar lain yang akan bertanggung jawab terhadap keselamatan anak-anak selama perjalanan.”

Yonghwa tampak sedikit kecewa, namun kemudian ia mengangguk. “Ikutlah ke mobil. Aku akan mengantarmu pulang.” Ajaknya setelah menggandeng tangan Aleyna.

“Ayo, Ibu Guru juga ikut!” Aleyna menggandeng tangan Seohyun dengan satu tangannya yang bebas. Meskipun masih kecil, sedikit-sedikit ia sudah mengerti bagaimana hubungan antara ‘Oppa’-nya dengan guru favoritnya itu, “Kalau begini jadi seperti di buku cerita!”

“Buku cerita?” tanya Yonghwa  tidak mengerti.

“Gambar yang dibuat Aleyna.” Seohyun buru-buru menjelaskan. Ia tidak ingin Aleyna menjelaskan gambarnya tentang pria yang dicoret dengan krayon merah. Ia tidak ingin Yonghwa mengetahui masalah pribadinya itu dan ikut terseret ke dalamnya.

 

***

 

Tiffany memasukkan kedua tangannya yang tidak berbalut sarung tangan kedalam kantong mantelnya. Kepalanya tertunduk, membuat sebagian wajahnya tertutupi oleh syal merah tebal yang melingkar di lehernya. Malam itu Seoul begitu dingin. Dan ia terpaksa harus menerjang hawa dingin tersebut untuk bisa sampai ke halte bus yang berada di dekat gerbang kampus.

Dan menghadapi hari ulang tahunnya yang mengecewakan.

Tiffany sudah tidak peduli pada kehadiran Jonghyun. Terserah jika nanti pria itu mau meminta maaf atau apapun, ia hanya akan menanggapi seadanya. Ia hanya ingin pulang. Ia bahkan menolak ajakan teman-temannya untuk minum bersama untuk merayakan kesuksesan konser tadi. Ia ingin sampai di rumah secepatnya, berendam di air hangat, minum secangkir cokelat panas dan pergi tidur. Mungkin akan lebih baik jika hari ini cepat berakhir.

Langkah kaki Tiffany terhenti begitu melihat melihat seseorang sudah berdiri di hadapannya.

Jonghyun.

Tiffany terdiam, tidak tahu harus merasa senang, sedih, marah, atau cuek. Pria itu baru menampakkan sosoknya di penghujung hari, dimana waktu ulang tahunnya akan berakhir dua jam lagi. Oh, ia tidak senaif itu sebenarnya, jika saja ia tidak memiliki perasaan khusus pada Jonghyun.

“Maaf…” kata itulah yang pertama kali terucap dari bibir Jonghyun, “Pertemuan dengan dosen itu lebih lama dari yang kuperkirakan.”

Meskipun klise, namun kata-kata Jonghyun terdengar sangat tulus. Tiffany memalingkan wajah, berusaha sebisa mungkin menyembunyikan matanya yang mulai berair. Biarlah pria itu menyadari perasaannya dan membuat hubungan persahabatan mereka tidak lagi sama. Tiffany sudah pasrah. Karena ia tidak bisa selamanya menganggap Jonghyun hanya sekedar sahabat.

“Pertunjukannya sudah selesai.” Ujar Tiffany muram, “Pulanglah.”

“Aku benar-benar tidak berniat untuk tidak datang.” Jonghyun merasa sangat bersalah, “Maafkan aku…”

Tiffany mendongakkan kepalanya dan menghela napas, masih enggan untuk berlapang dada. Namun kemudian ia pun mengangguk.

Tiba-tiba Jonghyun mengeluarkan sesuatu dari balik punggungnya. Setangkai bunga mawar merah muda─warna kesukaan Tiffany─yang sudah dibungkus rapi dan diberi pita warna emas. Tiffany terkejut. Bukan karena Jonghyun memberikannya bunga, namun karena Jonghyun tidak pernah bersikap semanis ini sebelumnya.

Dan satu hal lain.

“Hanya satu?” dahi Tiffany berkerut. Biasanya orang-orang akan memberikan seikat bunga sebagai hadiah. Memang tidak ada yang salah dengan memberi setangkai, hanya saja ia justru merasa ini sebagai suatu keterpaksaan. Ia tidak semarah itu sebenarnya.

Nilai Jonghyun perlahan-lahan naik menjadi tujuh di mata Tiffany, untuk bunga mawar merah muda yang hanya setangkai.

Untuk menghargai usaha Jonghyun, Tiffany akhirnya memberikan seulas senyum tipis. Mungkin Jonghyun memang tidak semanis itu.

“Aku akan mengantarmu pulang.” Ujar Jonghyun kemudian, “Tunggu disini sebentar. Aku mau ke toilet dulu.”

“Oh, baiklah.”

Setelah berkata seperti itu Jonghyun pun bergegas menuju toilet yang ada di dalam gedung. Sedangkan Tiffany memutuskan untuk menunggu di tempatnya, terlalu malas untuk kembali ke dalam gedung karena ia sudah setengah jalan menuju gerbang. Lagipula menurutnya pergi ke toilet tidak akan lama.

Lima menit, tujuh menit, Jonghyun belum juga kembali. Berkali-kali Tiffany melongokkan kepalanya ke arah gedung, namun tampaknya tidak ada tanda-tanda pria itu akan datang. Tangannya mulai terasa membeku akibat hawa dingin, apalagi suasana kampus semakin sepi karena sudah larut malam. Oke, ia akui keputusannya untuk menunggu di luar memang salah.

Tapi, kemana Jonghyun?

Tiffany melirik jam tangannya. Sudah sepuluh menit. Tanpa pikir panjang ia pun segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung.

“Astaga, Lee Jonghyun!”

Minus enam untuk Jonghyun.

 

***

 

Setelah tiba di daerah Gapyeong, Minhyuk, Soojung, serta rombongan mahasiswa itu pun melanjutkan perjalanan menuju Namiseom dengan menggunakan kapal ferry. Ketua rombongan memutuskan agar mereka berkunjung ke pulau kecil tersebut terlebih dahulu sebelum mengunjungi tempat wisata lain di Chuncheon keesokan harinya.

“Soojung-ah, ayo naik!” Minhyuk menepuk jok belakang sepeda yang baru saja disewanya sesaat setelah ketua rombongan membubarkan mereka dan mengingatkan agar berkumpul kembali di pintu masuk tepat pukul lima sore.

“Naik sepeda?” dahi Soojung berkerut, “Kenapa hanya menyewa satu?”

Minhyuk memasang tampang seolah sedang berpikir, “Supaya romantis?”

“Aish!” Soojung menepuk ringan bahu pria itu. Namun kemudian ia menuruti kata-kata Minhyuk untuk duduk di jok belakang.

“Tahu begini lebih baik aku pakai sneakers saja.” Gerutunya begitu Minhyuk mulai mengayuh sepeda. Boots yang dipakainya rupanya cukup membuat posisi duduknya tidak stabil.

“Kau tidak pernah ke Namiseom?” tanya Minhyuk.

Soojung menggeleng, “Kau tidak pernah mengajakku.”

“Astaga, dengan semua yang kau punya kau bahkan bisa bolak-balik Seoul-London setiap minggu, Soojung-ah!” Minhyuk tidak habis pikir bagaimana gadis itu sering berlibur ke luar negeri namun belum mengunjungi semua tempat wisata yang ada di Korea.

“Tidak semenyenangkan itu,” sesekali Soojung mengeratkan pegangannya pada pinggang Minhyuk, khawatir dirinya terjatuh. “Tidak jika aku pergi tanpamu…”

“Apa?” Minhyuk benar-benar tidak mendengar kalimat terakhir Soojung karena selain angin yang kencang, gadis itu juga mengucapkannya dengan sangat lirih, lebih mirip seperti gumaman.

“Coba lihat! Winter Sonata!” Soojung berusaha mengalihkan pembicaraan. Jarinya menunjuk ke arah dua buah patung laki-laki dan perempuan yang berdiri berhadapan di depan sebuah kolam yang baru saja mereka lewati. Replika sosok Bae Yongjoon dan Choi Jiwoo, pemeran utama drama Winter Sonata yang terkenal itu.

“Minhyuk-ah, kita berhenti dulu sebentar.” Saran Soojung. Minhyuk menurut. Ia pun menghentikan sepedanya tidak jauh dari patung tersebut.

Begitu turun dari sepeda, Soojung langsung mengabadikan pemandangan itu dengan kamera ponselnya. Ia juga meminta Minhyuk untuk memotretnya yang berpose bersama patung tersebut dan mengajak pria itu ikut berpose juga.

“Aku tidak tahu kau penggemar drama Winter Sonata.” Ujar Minhyuk setelah ia kembali melajukan sepedanya.

“Bukan, aku penggemar Bae Yongjoon.” Gurau Soojung.

“Oh ya? Kalau begitu kenapa tadi kau tidak cium saja patungnya?” Minhyuk berpura-pura merajuk.

“Jangan cemburu begitu, Kang Minhyuk…” Soojung mengulurkan kedua tangannya dan mencubit pipi Minhyuk dari belakang. Ia tahu pria itu hanya bergurau.

Sepanjang perjalanan, Soojung benar-benar terpukau dengan pemandangan Namiseom. Deretan pohon-pohon yang menjulang tinggi menghasilkan daun berwarna kuning kemerahan yang sebagian besar jatuh berguguran menutupi tanah. Terkadang ia tak tahan untuk mengabadikan pemandangan tersebut kedalam bentuk foto.

Soojung sedang asyik memotret dengan ponselnya ketika Minhyuk─yang baru saja memarkirkan sepedanya─tanpa sengaja mendengar sesuatu menubruk tanah.

“Minhyuk-ah, lihat itu! Makam Jenderal Nami.” Soojung membaca dengan seksama papan kaca yang berada tidak jauh dari gerbang makam. Memang makam asli Jenderal dari Dinasti Joseon yang namanya diabadikan menjadi nama pulau itu tidak ditemukan, namun ada indikasi disanalah ia dimakamkan.

Soojung merasa tertarik untuk memasuki makam itu. Ia memutar badannya, bermaksud untuk mengajak Minhyuk masuk kesana. Namun pria itu tidak ada di mana pun.

Aneh, bukankah sampai tadi Minhyuk masih di belakangnya? Bahkan sepedanya juga tidak ada.

Soojung berlari-lari kecil di area sekitar gerbang makam. Mungkin saja Minhyuk sedang memarkirkan sepedanya di tempat lain atau sedang berkeliling di sekitar sana. Namun hasilnya nihil.

“Minhyuk-ah, kau dimana??”

 

***

 

Dan disinilah Jungshin. Berdiri kikuk di pinggir jalan Taman Bermain yang sedang ramai dengan mengenakan kostum boneka kucing berwarna cokelat terang lengkap dengan penutup kepala dan sepatu besar ala tokoh kartun. Semua ini terjadi karena kesalahpahaman atasan Seolhyun yang mengira Jungshin adalah orang yang menggantikan karyawan badut kostum yang tidak masuk karena sakit. Seolhyun tidak bisa berbuat banyak, karena sejujurnya ia tidak bisa menemukan orang yang mau menggantikan karyawan tersebut dan jika ia mengatakan yang sebenarnya, ia yakin ujung-ujungnya Jungshin-lah yang akan diminta untuk menggantikan.

Awalnya Jungshin marah, tentu saja. Ia yang mood-nya sedang tidak baik karena masalah reuni justru dihadapkan dengan hal semacam ini. Namun karena memikirkan nasib Seolhyun jika ia meninggalkan gadis itu begitu saja, rasa marahnya perlahan-lahan luntur. “Biarlah mempermalukan diri untuk sehari ini saja,” pikirnya. Lagipula wajahnya tertutup, jadi tidak akan ada yang mengenalinya.

Jungshin menoleh ketika seseorang menepuk bahunya. Badut kelinci putih, pastilah itu Seolhyun. Ia menunjukkan selembar kertas yang bertuliskan ‘maafkan aku’ untuk mengekspresikan rasa bersalahnya.

Tiba-tiba gadis itu menarik tangan Jungshin dan membawanya ke sudut Taman Bermain yang sepi. Beberapa kali Jungshin memegangi penutup kepala kucing yang dipakainya karena belum terbiasa. Sepatu berukuran besar juga cukup menghambat pergerakannya. Belum lagi panas yang mulai ia rasakan karena seluruh badannya tertutupi kostum yang berbahan tebal. Entah bagaimana Seolhyun bisa menjalani semua ini setiap hari.

Seolhyun membuka penutup kepala kelincinya, “Sekali lagi maafkan aku, Sunbae. Aku tidak bermaksud untuk menjebakmu menjadi karyawan pengganti. Aku─”

“Sudahlah.” Jungshin ikut membuka penutup kepalanya, “Aku tidak mau kau dimarahi atasanmu. Lagipula hanya sehari.”

Seolhyun tersenyum lega, “Terima kasih, Sunbae.”

“Pekerjaan ini tidak begitu sulit. Kau hanya perlu melambaikan tanganmu pada anak-anak, berjabat tangan, dan berfoto bersama jika diinginkan.” Lanjutnya, mencoba memberi instruksi.

Jungshin mengangguk, “Baiklah. Tapi kau jangan jauh-jauh dariku. Aku takut diganggu anak-anak itu.”

Seolhyun terkekeh, “Tidak masalah.”

Mereka pun kembali ke bagian tengah Taman Bermain, tepatnya di sekitar taman bunga tempat pengunjung berjalan-jalan santai dan menikmati pemandangan taman. Banyak anak-anak kecil dan balita yang ada disana dan orang-orang tidak disibukkan dengan antrian berbagai wahana permainan, jadi akan ada lebih banyak orang yang ingin bermain dengan badut boneka.

Seolhyun berjalan berkeliling, melambaikan tangan dengan riang, bersalaman, menari, dan berfoto dengan berbagai pengunjung seperti yang ia katakan sebelumnya. Sedangkan Jungshin yang sama sekali tidak berpengalaman hanya bisa mengekorinya dan sesekali melambai kaku pada anak-anak yang melintas.

“Oh, ada kucing!” tiba-tiba seorang anak laki-laki berusia sekitar tiga tahun menunjuk ke arah Jungshin. Ia berlari menghampiri Jungshin diikuti kedua orangtuanya. “Kucing ini tinggi sekali.” ia mendongak memperhatikan bentuk kepala kucing dengan wajah polos yang menggemaskan.

Jungshin yang ingat dengan instruksi Seolhyun segera melambaikan tangan dan menggerak-gerakkan kepalanya ke kiri dan kanan. Anak laki-laki itu mengulurkan sebelah tangannya dan mencengkeram kostum yang Jungshin kenakan, “Ibu, aku mau foto dengan kucing ini!”

Mendengar hal itu, Jungshin langsung berlutut di lantai agar sang ibu yang sudah siap dengan kameranya tidak kesulitan mengambil foto. Ia merangkul anak laki-laki itu dan melambaikan tangannya ke arah kamera.

Setelah puas berpose, anak laki-laki itu memeluk Jungshin dengan tangan-tangannya yang mungil. Sebuah senyum lebar menghiasi wajahnya.

“Terima kasih, Tuan Kucing.” Ia membungkukkan badan, hal yang sangat jarang dilakukan anak seusianya. “Bye bye!” ia melambaikan tangannya dengan riang sebelum pergi.

Jungshin membalas lambaian tangan anak itu. Kelakuannya yang lucu benar-benar membuatnya gemas. Ia tidak menyangka melihat senyum anak-anak akan sebahagia ini rasanya.

Hei, sepertinya pekerjaan ini tidak begitu buruk.

“Wah, lucu sekali!” tiba-tiba seseorang berseru.

Tidak seperti sebelumnya, kali ini Jungshin hampir-hampir tidak memberi respon sama sekali saking terkejutnya melihat pengunjung yang saat ini berdiri tidak jauh dari tempatnya. Pengunjung itu berkata pada Jungshin, tentu saja, namun justru itulah yang tidak ia inginkan. Bisa dibilang mereka adalah pengunjung yang paling tidak ingin ia temui.

Choi Jinri.

Dengan Choi Minho.

Dan teman-teman seangkatannya.

Hell! Bagaimana bisa mereka bertemu di tempat ini dengan keadaan seperti ini? Taman Bermain sangat luas. Dan tidakkah mereka disibukkan dengan mengantri wahana atau semacamnya? Takdir ini benar-benar mengerikan bagi Jungshin.

Jinri─yang sama sekali tidak sadar bahwa orang dibalik kostum kucing itu adalah Jungshin─melambaikan tangan dan menyalaminya. Ia lalu mengeluarkan ponsel dari dalam sling bag-nya, “Oppa, tolong fotokan aku dengan badut ini.”

Kalau saja Jungshin bukan laki-laki, mungkin ia sudah menangis sekarang. Jika dipikir-pikir miris sekali nasibnya. Cintanya bertepuk sebelah tangan, tidak bisa dekat dengan gadis yang ia sukai, dan ketika mereka berada dalam jarak sedekat ini ia justru terperangkap dalam kostum badut begini.

Jinri mulai berpose. Sebelah tangannya bergelayut pada lengan sang badut, sedangkan jari telunjuk dan jari tengah di tangan yang satunya membentuk huruf ‘V’. Ia bahkan berpose seolah sedang mencium pipi badut kucing itu. Sedangkan badut kucing─yang sebenarnya Jungshin─itu hanya melambai kaku pada kamera, tidak tahu harus berpose seperti apa.

Sayangnya yang dirangkul dan dicium pipinya adalah badut kucing, bukan dia.

Jinri masih ingin berfoto dengan badut kucing jika saja ia tidak diingatkan oleh teman-temannya untuk segera bergegas ke wahana jet coaster. Ia melambaikan tangannya dengan riang ke arah Jungshin, yang dibalas dengan hambar oleh pria itu.

“Yah, mungkin sudah saatnya mengucapkan selamat tinggal…”

Tiba-tiba Jungshin teringat sesuatu. Seolhyun. Ia tidak melihat gadis itu setelah berfoto dengan anak laki-laki yang ditemuinya tadi.

“Kemana dia?”

Jungshin berkeliling, mencari sosok boneka kelinci raksasa berwarna putih yang seharusnya tidak begitu sulit ditemukan jika ia masih berada di area taman. Tak lama kemudian ia dikejutkan oleh rombongan anak-anak usia sekolah dasar yang berlari sambil berteriak, “Kelinci! Kelinci!”

“Astaga! Itu Seolhyun!” Jungshin kaget bukan main melihat Seolhyun dalam kostum kelinci berlari dikejar rombongan anak-anak itu. Dengan kostum seperti itu, kecepatan larinya tidak lebih baik dibanding mereka.

Awalnya Jungshin mengira Seolhyun sengaja berlari untuk bermain-main, namun tampaknya tidak demikian. Gadis itu terlihat kesusahan untuk berlari dengan stabil sampai akhirnya ia terjatuh dan dikerubungi oleh rombongan anak-anak tersebut.

Jungshin segera menghampiri Seolhyun. Lagi-lagi ia terkejut melihat kostum gadis itu yang ditarik-tarik. Anak-anak itu bahkan berusaha melepas penutup kepala Seolhyun, yang dipegangi sekuat tenaga oleh gadis itu.

“Coba buka topengnya! Didalamnya pasti laki-laki!” celetuk salah satu anak. Teman-temannya yang lain tertawa dan terus melancarkan aksinya.

Jungshin segera menghalau anak-anak itu dan membantu Seolhyun berdiri. Ia memanfaatkan momen kebingungan mereka melihat badut kucing yang tiba-tiba muncul untuk melarikan diri. Ia menggandeng tangan Seolhyun dan berlari sejauh mungkin dari mereka.

Setelah pelarian yang melelahkan, akhirnya sampailah mereka di ruang ganti. Jungshin memutuskan agar mereka beristirahat sejenak. Lagipula hari sudah mulai malam, jam kerja Seolhyun sebentar lagi berakhir.

Jungshin sedang meneguk minumannya ketika tanpa sengaja melihat Seolhyun yang meringis di sudut ruangan. Wajah gadis itu tampak kesakitan.

“Ada apa?” tanyanya setelah menghampiri Seolhyun.

“Kakiku…” Seolhyun menunjuk pergelangan kaki kanannya. Tampak bengkak dan kebiruan. “Sepertinya terkilir…”

“Kau punya obat?”

Seolhyun menggeleng.

“Apa disini ada kotak P3K?”

Lagi-lagi Seolhyun menggeleng.

Jungshin berpikir sejenak sebelum berkata, “Sebaiknya kau berganti pakaian. Kita pulang saja.”

“Tapi jam kerjaku masih ada tiga puluh menit lagi.”

“Biar aku yang bicara pada atasanmu nanti.”

Seolhyun menghela napas berat. Baru ia rasakan kakinya sakit setelah berlari tadi. Lagipula ia tidak akan mungkin meneruskan pekerjaannya. Untuk berjalan saja sulit. Apa kata orang-orang nanti melihat badut kelinci pincang berputar-putar di taman?

Dengan dibantu Jungshin ia bangkit dari tempat duduknya dan mengambil pakaian ganti, “Baiklah.”

Setelah selesai berganti pakaian, mereka berdua pun bersiap untuk pulang. Untunglah atasan Seolhyun bisa memahami keadaan gadis itu dan memperbolehkannya pulang lebih awal.

“Maafkan aku, Sunbae. Lagi-lagi aku merepotkanmu…” sesal Seolhyun.

“Sama sekali tidak, Seolhyun. Sudahlah, jangan minta maaf terus.”

Jungshin membantu memapah gadis itu hingga bagian luar Taman Bermain tempat ia memarkirkan mobilnya. Namun tampaknya lebih sulit dari yang ia perkirakan. Rasa sakit pada kaki Seolhyun membuatnya berjalan sangat lambat. Jika seperti ini terus, ia khawatir mereka akan sampai di rumah besok pagi. Karena itulah dengan sukarela Jungshin berjongkok di hadapan Seolhyun dan meminta gadis itu untuk naik ke punggungnya.

“Tapi─”

“Tidak apa-apa. Aku akan menggendongmu sampai mobil. Kalau dipaksakan berjalan nanti kakimu bertambah bengkak.” Jelas Jungshin.

Setelah menimbang sesaat akhirnya Seolhyun menurut. Ia pun naik ke punggung Jungshin dan menggantungkan kedua tangannya di leher pria itu. Ia merasa bersalah sebenarnya, karena menyadari tubuhnya tidak begitu ringan. Namun Jungshin sama sekali tidak terlihat kesulitan saat menggendongnya.

“Lain kali kau harus hati-hati, Seolhyun-ah. Tidak semua anak kecil itu sepolos kelihatannya.”

Kata-kata Jungshin spontan membuat Seolhyun tertawa. Namun kemudian ia pun mengangguk, “Ya.”

 

***

Yonghwa meletakkan sepiring bulgogi─menu makan malamnya hari ini─di meja makan. Selama ini ialah yang menyiapkan sarapan dan makan malam untuk dirinya dan adik perempuannya, Aleyna. Meskipun tidak begitu mahir─dalam artian ia baru bisa memasak menu yang mudah dibuat─namun hasil masakannya tidak bisa dibilang buruk. Ia akan menyempatkan diri menyiapkan sarapan setiap pagi walau terkadang digantikan oleh pembantu yang disewanya untuk membersihkan rumah. Pembantu itu akan datang sebelum ia mengantarkan Aleyna ke sekolah dan akan pulang di siang hari setelah semua pekerjaannya selesai. Sedangkan untuk bekal makan siang Seohyun-lah yang dengan sukarela membuatkannya untuk Aleyna. Terkadang gadis itu ikut membantu Yonghwa menyiapkan makan malam, namun akhir-akhir ini tidak bisa karena harus menemani ayahnya yang dirawat di Rumah Sakit.

Yonghwa melepas celemeknya dan menghampiri Aleyna yang sedang asyik menggambar di ruang tengah, bermaksud untuk mengajaknya makan malam. Melihat adiknya yang sedang serius, ia jadi ingin menggodanya.

“Wah, kenapa orang ini dicoret?” ia merasa heran pada gambar yang sudah diselesaikan Aleyna sebelumnya.

“Oppa, kapan Oppa akan menikah dengan Ibu Guru?” Aleyna balik bertanya dengan wajah polosnya. Pertanyaan yang cukup mengejutkan untuk seorang anak berusia enam tahun.

“Kenapa kau bertanya seperti itu?” tanya Yonghwa setelah berhasil mengontrol keterkejutannya.

“Habis… aku tidak suka dengan Paman itu!” Aleyna menunjuk sosok laki-laki dalam gambarnya yang sengaja ia tambahkan dengan coretan silang krayon merah. “Dia selalu datang ke sekolah dan mendekati Ibu Guru.”

“Paman itu?”

“Paman yang rambutnya cokelat. Aleyna tidak suka!”

Yonghwa terdiam, sadar jika yang dimaksud Aleyna adalah Cho Kyuhyun, mantan senior Seohyun saat masih kuliah dulu. Kyuhyun bukan berasal dari keluarga sembarangan. Perusahaan ayahnya termasuk salah satu yang terbesar di Korea dan ialah yang akan mewarisinya kelak. Dan kabar buruknya, pria itu juga menyukai Seohyun.

Yonghwa bukannya takut kekasihnya akan direbut oleh pria itu. Sama sekali tidak. Hanya saja Seohyun tidak pernah bercerita padanya mengenai Kyuhyun yang sering datang menemuinya, seperti yang diceritakan Aleyna barusan. Gadis itu hanya memberitahunya latar belakang Kyuhyun setelah tanpa sengaja ia melihat pria itu di sekolah ketika menjemput Aleyna beberapa waktu yang lalu. Karena Seohyun tidak pernah mengungkitnya lagi setelah kejadian itu, ia menganggap mereka hanya kebetulan bertemu sebagai teman lama.

“Ibu Guru selalu murung setelah Paman itu datang.” Lanjut Aleyna.

Mendengar penuturan Aleyna, Yonghwa hanya mendengus samar. Ada sesuatu yang terjadi pada Seohyun. Tapi kenapa gadis itu tidak mau cerita?

“Aleyna,” Yonghwa akhirnya angkat suara, “Kalau besok Oppa ikut jalan-jalan boleh tidak?”

Aleyna memandang Yonghwa heran, “Oppa kan sudah besar.”

“Oppa mau ikut memanen goguma. Nanti Oppa yang akan memberitahu Ibu Guru.”

Agak sedikit memaksakan, memang, karena dengan keputusannya untuk ikut serta otomatis ia harus membolos dari pekerjannya. Namun ia lebih memilih untuk mengambil resiko itu dibanding terus-terusan berperan sebagai kekasih yang tidak berguna. Ia ingin mencoba membicarakannya dengan Seohyun secara baik-baik dan rasanya ia tidak bisa lagi menunda.

Lagipula, ia ingin memanen goguma.

 

***

 

Setiap orang dapat membuat batas kesabaran masing-masing─karena sebenarnya kesabaran tidak ada batasnya. Dan mungkin inilah batas kesabaran Tiffany. Hari ini Jonghyun sudah membuatnya menunggu dua kali dan dua-duanya mengecewakan. Pria itu menghilang, muncul sebentar, kemudian menghilang lagi. Kenapa ia tidak menyuruhnya untuk menunggu di mobil saja kalau begitu?

Tiffany melangkah lebar-lebar menuju toilet. Suara sol ankle boots yang dipakainya menggema ke setiap sudut ruangan, seolah menunjukkan kekesalannya. Namun Tiffany tidak peduli. Biar saja petugas keamanan yang berjaga malam itu memandangnya heran karena di gedung ini pasti sudah tidak ada siapapun.

“Lihat saja nanti begitu dia keluar.”

Tiffany sempat menahan napas begitu berbelok dan melihat Taeyeon berdiri di pinggir koridor yang menuju ke arah toilet, tersenyum ke arahnya. Ia mengira gadis itu sudah pulang sejak tadi.

“Kau sedang apa?” tanya Tiffany setelah memastikan gadis itu bukan hantu. Kakinya masih menapak di lantai.

Taeyeon mengibaskan tangannya, meminta Tiffany untuk mendekat. Entah kenapa hal itu malah membuat Tiffany bergidik.

“Kau bukan hantu kan?”

Taeyeon tertawa, “Tentu saja bukan. Pikiranmu lucu sekali.”

Tiffany akhirnya memberanikan diri menghampiri Taeyeon. Rupanya bukan hanya Taeyeon, namun beberapa temannya yang lain juga masih ada di dalam gedung itu. Anehnya, mereka berdiri berselang-seling di koridor, seperti sudah diatur.

“Aku mau memberikan ini untukmu.” Taeyeon menyodorkan setangkai mawar merah muda pada Tiffany. Mawar itu persis seperti yang diberikan Jonghyun sebelumnya, bahkan dengan pembungkus dan pita emas yang sama.

Dengan ragu Tiffany menerima bunga itu, “Ini─”

“Tiffany-ssi.” Terdengar seseorang lagi memanggil Tiffany. Gadis yang berdiri tidak jauh di belakang Taeyeon. Ia juga memegang setangkai mawar merah muda yang sama dan memberikannya pada Tiffany.

Hal itu terus terjadi berulang-ulang. Semua orang yang berderet di koridor memberikan setangkai mawar merah muda padanya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Otomatis bunga yang dipegang Tiffany terus bertambah jumlahnya. Namun ketika ditanya, mereka hanya tersenyum penuh arti.

Dengan perasaan bingung Tiffany terus menerima satu per satu bunga yang disodorkan padanya, membuatnya mau tidak mau melangkah mengikuti arah deretan orang-orang tersebut. Hingga sampailah ia di sebuah ruangan besar. Ruang aula tempat konser tadi siang berlangsung.

Tiffany mendudukkan dirinya di kursi paling belakang. Tirai panggung yang tertutup membuatnya menerka-nerka kejutan seperti apa yang ada di baliknya.

Mungkinkah… ini semua rencana Jonghyun?

Pertanyaannya terjawab begitu tirai dibuka dan menampakkan sesosok pria berkulit putih pucat duduk di atas kursi di tengah panggung, siap untuk menyanyi sambil memainkan gitarnya.

“Untuk nona Tiffany Hwang, maaf karena aku tidak bisa datang untuk melihat penampilanmu tadi.” Jonghyun berujar, “Sebagai gantinya, aku akan menyanyikan sebuah lagu.” Ia langsung memalingkan wajahnya, merasa malu karena tidak pernah menunjukkan permainan gitarnya di depan umum meskipun bernyanyi sambil bermain gitar adalah salah satu hobinya.

Tiffany masih melongo ketika semua teman-temannya yang tadi memberikan bunga bertepuk tangan meriah. Kebingungannya berubah menjadi kekaguman begitu Jonghyun mulai menyanyikan lagunya. Nothing Better. Lagu yang sama dengan yang dinyanyikannya di acara konser tadi, namun kali ini dibawakan secara akustik. Jonghyun seolah ingin membayar keabsenannya dengan mengubah posisi mereka; ia sebagai pengisi acara dan Tiffany sebagai penonton.

Namun Tiffany tidak menerima begitu saja. Bagaimana pun juga ialah yang ingin penampilannya dilihat oleh Jonghyun. Ia pun segera beranjak dari tempat duduknya, setengah berlari menuju panggung, meminta microphone tambahan, dan ikut bernyanyi bersama pria itu. Jadilah panggung malam itu diisi dengan penampilan duet dadakan mereka berdua.

Awalnya Jonghyun kaget dengan apa yang Tiffany lakukan. Ia sempat menghentikan nyanyiannya sesaat ketika gadis itu naik ke atas panggung, namun kemudian kembali melanjutkannya. Kali ini mereka berdualah yang menjadi penampil, dan teman-teman Tiffany yang menjadi penonton.

Setelah lagu selesai semua penonton bertepuk tangan. Tiffany merasa terharu. Melihat teman-temannya yang bersorak-sorai dengan semangat di bangku penonton bahkan jauh lebih membuatnya bahagia dibanding menerima tepuk tangan dari seluruh tamu yang hadir pada penampilannya tadi siang. Semua ini pasti karena kehadiran Jonghyun.

Tanpa sadar Tiffany menghambur ke pelukan pria itu, meluapkan rasa senangnya. Ketika Jonghyun hendak membalas pelukannya, ia baru tersadar dan segera menjauhkan dirinya dari tubuh pria itu.

“Ma…maaf…” ia merasa malu setengah mati.

Jonghyun hanya menahan tawa, “Ada satu lagi.”

Kening Tiffany berkerut, “Satu lagi?”

Happy birthday to you…

Belum habis rasa terkejut Tiffany dengan segala kejutan tadi, ia kembali harus dikejutkan dengan kedatangan Taeyeon serta beberapa temannya yang lain memasuki panggung sambil membawa sebuah kue tart berukuran sedang dengan lilin-lilin kecil di atasnya. Mereka menyanyikan lagu ulang tahun sambil bertepuk tangan. Tiffany sampai tidak mampu berkata-kata. Ia hanya sesekali menutupi wajahnya dengan kedua tangan, malu karena telah berburuk sangka pada Jonghyun.

Make a wish!” seru Taeyeon begitu selesai menyanyikan lagu Happy Birthday.

Tiffany memejamkan mata dan mengaitkan kesepuluh jari-jarinya, memanjatkan doa dengan khidmat. Ia lalu meniup semua lilin yang ada di atas kue tart tersebut hingga seluruhnya mati.

Tepuk tangan kembali bergema di dalam ruang aula itu. Tiffany memeluk satu per satu teman-temannya dan mengucapkan terima kasih. Tak lupa juga ia berterima kasih pada Jonghyun, orang yang telah merencakan semua kejutan ini.

Ternyata pria itu tidak lupa dengan hari ulang tahunnya.

“Terima kasih, Jonghyun-ah.” ujar Tiffany sungguh-sungguh.

Jonghyun berdiri dari kursinya dan berjalan mendekati Tiffany. Ia menatap gadis itu lekat sebelum berkata, “Happy birthday, Tiff…”

“Kukira kau lupa…” Tiffany merasa tidak enak hati, “Seharian ini kau menghilang.”

Jonghyun terkekeh, “Mana mungkin aku lupa.”

Entah kenapa setelah Jonghyun berkata demikian suasana menjadi sedikit hening. Beberapa lampu di dalam aula itu sengaja diredupkan sehingga memberikan kesan romantis. Untuk yang satu ini memang bukan rencana Jonghyun, melainkan teman-teman Tiffany yang sudah berbaik hati membantu menyiapkan semua rencana kejutan ini. Namun tampaknya Tiffany tidak menyadari semua itu, karena saat ini pandangannya terpaku pada Jonghyun yang sedang menggenggam tangannya erat.

“Aku mencintaimu, Tiff…”

Tiffany berani bertaruh Jonghyun pasti sudah memutuskan semua urat malunya untuk mengatakan hal itu. Ia bukan tipe pria yang akan mengungkapkan perasaannya secara gamblang di muka umum. Gadis itu merasa bahagia karena Jonghyun mau melakukan semua ini demi dirinya, meskipun harus ia akui pernyataan tadi sempat membuat dirinya membeku selama beberapa saat.

Hei, bukankah ini artinya cintanya tidak bertepuk sebelah tangan?

Jonghyun memalingkan wajah dan mengusap tengkuknya, “Aish, ini sama sekali bukan gayaku…”

Tiffany menahan tawa. Tentu saja ini bukan gaya Jonghyun. Ini terlalu manis. Semua ini terlalu manis untuk sebuah kenyataan.

Tiffany memajukan tubuhnya dan mengecup pipi pria itu sekilas. Ia tahu ia harus segera memberikan jawaban sebelum keadaan menjadi semakin canggung.

“Aku juga mencintaimu, Jonghyun-ah.”

Demi Tuhan, Tiffany tidak tahu dari mana ia memiliki keberanian sebesar itu untuk mengungkapkan perasaannya. Jonghyun tidak tahu bagaimana rasa senangnya meluap-luap begitu mengetahui pria itu juga memiliki perasaan yang sama dengannya.

Kedua orang itu saling berpandangan, saling melempar senyum, dan saling tertawa seperti orang bodoh. Akhirnya mereka tidak perlu lagi khawatir dengan status persahabatan yang akan rusak setelah berkembang setingkat lebih jauh. Karena seperti kata orang-orang, persahabatan antara laki-laki dan perempuan hanyalah omong kosong.

Tiffany dan Jonghyun tidak menghiraukan seruan Taeyeon dan semua orang yang ada di aula itu untuk berciuman. Rasanya sudah cukup Jonghyun mempertaruhkan rasa malunya untuk melakukan hal yang sama sekali bukan gayanya. Tiffany hanya ingin terus bersama pria itu, selamanya. Tidak ada hal lain yang ia inginkan karena keinginan di hari ulang tahunnya ini telah tercapai.

Ya. Ini adalah kado ulang tahunnya yang paling indah.

Dan mungkin ia harus meralat kata-katanya.

Jika disuruh memilih antara nilai satu sampai sepuluh, maka ia akan memberikan Jonghyun nilai seratus.

 

***

 

Minhyuk menurunkan penyangga sepedanya setelah memarkirkannya di tempat yang dirasa aman. Ia lalu melingkarkan sebelah lengan Jiwon pada bahunya, membantunya untuk berjalan. Setelah Soojung turun dari sepedanya tadi, tiba-tiba saja ia melihat Jiwon terjatuh di jalan dan langsung menghampirinya. Ia sudah mencoba mengatakan pada Soojung untuk mengantarkan Jiwon ke pintu masuk terlebih dahulu agar bisa beristirahat dan diobati oleh ketua rombongan yang membawa kotak obat, namun tampaknya gadis itu tidak mendengar seruan Minhyuk  karena sedang asyik memotret.

Minhyuk mendudukkan Jiwon di bangku yang berada tidak jauh dari sana. Rupanya sebagian besar dari rombongan sudah mulai berkumpul.

“Sudah hampir jam lima. Apa semuanya sudah lengkap?” tanya ketua rombongan.

“Astaga! Soojung!” Minhyuk yang panik langsung berlari menyambar sepedanya.

“Kang Minhyuk, kau mau kemana?” panggil ketua rombongan. Namun Minhyuk tidak menggubris. Yang ada dalam pikirannya sekarang adalah bagaimana pun juga ia harus secepatnya menemukan Soojung.

Minhyuk mengayuh sepedanya kuat-kuat, menyusuri tiap jalan yang ada di pulau itu sambil memperhatikan sekeliling. Hari ini Soojung mengenakan mantel berwarna kelabu dengan tas ransel berwarna turquoise. Seharusnya tidak begitu sulit ditemukan. Tapi sialnya, sejak tadi ia belum menemukan orang dengan ciri-ciri seperti itu. Ia bahkan sudah kembali ke tempat terakhir kali Soojung turun dari sepedanya, namun gadis itu tidak ada disana.

Minhyuk buru-buru mengeluarkan ponselnya, menekan speed dial dan menunggu panggilannya tersambung dengan tidak sabar. Ia hampir membanting benda elektronik itu ketika mengetahui ponsel gadis itu tidak aktif.

Bagaimana kalau para bodyguard Soojung menemukannya dan menyeretnya pulang?

Atau yang lebih buruk, gadis itu diculik?

“Jangan bercanda, Soojung-ah.” Minhyuk kembali melesatkan sepedanya mengelilingi seluruh penjuru pulau, sejauh yang ia bisa. Pikiran-pikiran negatif mulai berkelebat di otaknya. Biar saja rombongan meninggalkannya lebih dulu karena ia bertekad tidak akan meninggalkan pulau itu tanpa Soojung.

Hari sudah semakin senja. Matahari bersiap kembali ke peraduannya, menciptakan semburat-semburat oranye yang membuat pemandangan disana tampak semakin indah. Beberapa pasangan yang tidak sengaja Minhyuk lewati selama penyusurannya terlihat semakin romantis. Mungkin seperti itulah dirinya dan Soojung jika saja gadis itu tidak menghilang. Dan ia merasa sangat, sangat bersalah.

Minhyuk nyaris putus asa ketika dari kejauhan matanya melihat ransel berwarna turquoise, dan yang memakainya adalah gadis berambut panjang dengan mantel berwarna kelabu. Gadis itu sedang berdiri tepat di deretan kios penjual makanan yang memang disediakan di dalam pulau.

Gadis itu─Soojung─menoleh ketika mendengar suara berdebam yang cukup keras. Minhyuk langsung membanting sepedanya begitu turun dan berjalan menghampiri gadis itu. Napasnya tidak beraturan dan peluh membasahi tubuh serta wajahnya. Rasa lelahnya menguap begitu saja ketika melihat gadis itu masih dalam keadaan utuh, tidak kurang suatu apapun.

“Kau dari mana saja?!” protes Soojung, “Kenapa tidak memberitahuku kalau mau pergi?”

Minhyuk menghirup napas dalam-dalam dan menghembuskannya kuat. Tidak, ia tidak ingin berdebat dengan Soojung. Gadis itu tidak tahu bagaimana khawatirnya ia tadi.

Alih-alih menjawab pertanyaan Soojung atau mengajukan pertanyaan sebaliknya─yang justru akan menciptakan perdebatan, Minhyuk membalikkan badannya dan mendirikan kembali sepedanya. “Naiklah.”

Soojung terdiam, tidak menyangka dengan sikap yang ditunjukkan Minhyuk. Ia kira pria itu akan balas membentaknya karena jika dilihat dari penampilannya, Minhyuk sudah bersusah-payah mencarinya kesana-kemari. Sikap Minhyuk yang memilih diam justru terlihat lebih menakutkan.

“Baterai ponselku habis,” jelas Soojung takut-takut begitu Minhyuk mengayuh sepedanya. Ia rasa ia perlu menjelaskan alasan ia menghilang, “Dan aku lapar. Sejak pagi perutku hanya terisi kue manjoo pemberianmu.”

Tidak ada respon. Minhyuk masih fokus mengayuh tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan dari jalanan di depannya. Justru inilah yang ditakutkan Soojung. Ia lebih takut diacuhkan Minhyuk daripada mendapat hukuman dari ayahnya.

“Minhyuk-ah, maafkan aku…” Soojung menyodorkan satu buah bakpao isi kacang merah yang dibelinya di kios makanan tadi ke arah Minhyuk. Mungkin saja dengan begini sedikit demi sedikit amarah pria itu bisa luntur. Namun Minhyuk malah menjauhkan wajahnya dari bakpao pemberian Soojung.

“Jangan marah lagi…” kali ini gadis itu mencubit kedua pipi Minhyuk.

Minhyuk mendengus. Ia mengerem sepedanya secara mendadak, membuat Soojung nyaris terjatuh jika saja ia tidak langsung berpegangan erat pada pinggang pria itu.

“Turun.” ujar Minhyuk dingin.

“Hah?”

“Kubilang turun.”

Dengan ragu Soojung pun menuruti kata-kata Minhyuk, meskipun ia khawatir pria itu benar-benar akan meninggalkannya sendirian setelah ia turun dari sepeda.

“Minhyuk-ah…” Soojung terdengar hampir menangis, “Kenapa kau jadi semarah ini? Aku kan sudah minta maaf… Kau juga tadi─”

Kata-kata Soojung terputus begitu merasakan tangan Minhyuk menyentuh pipinya dan mendekatkan wajahnya pada wajah pria itu. Minhyuk mencium bibirnya, melumatnya dalam-dalam. Awalnya Soojung terkejut. Namun kemudian ia memejamkan matanya, merasakan kelembutan sentuhan bibir pria itu di bibirnya. Waktu serasa berhenti selama beberapa saat.

“Aku tidak pernah marah padamu.” Ujar Minhyuk setelah melepaskan ciumannya, “Tidak akan pernah.”

Soojung masih membeku di tempatnya. Rasanya ia butuh pasokan oksigen.

Happy first anniversary, Soojung-ie…” Minhyuk tersenyum, mengusapkan tangannya pada puncak kepala Soojung.

Soojung mengerjap beberapa kali sebelum menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya membulat.

Astaga! Ia lupa kalau hari ini adalah peringatan setahun hubungan mereka.

“Naiklah. Kita sudah terlambat.” Minhyuk menarik tangan Soojung dan menyuruhnya duduk kembali di jok belakang.

Minhyuk mengayuh sepedanya lagi. Selama sisa perjalanan, Soojung hanya diam. Ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Minhyuk sambil menyembunyikan wajahnya di punggung pria itu, masih malu dengan kejadian tadi.

“Jadi, hadiah anniversary untukku hanya bakpao?” gurau Minhyuk.

Soojung menggeleng, “Akan kuberikan apapun yang kau mau. Nanti. Setelah kita pulang dari sini.”

“Aku hanya ingin terus bersamamu, Soojung-ie. Itu saja sudah cukup.”

Mendengar kata-kata Minhyuk, Soojung jadi tambah tersipu. Ia semakin menempelkan wajahnya pada punggung pria itu, menyembunyikan rona merah di pipinya yang samar karena terkena cahaya matahari senja. Minhyuk bahkan tidak bisa melihatnya karena posisinya membelakangi Soojung.

“Jangan menghilang lagi, mengerti?”

Soojung mengangguk. Sebuah senyum lebar menghiasi wajahnya. Ternyata kebahagiaannya tidak bisa digantikan dengan uang. Bahkan dengan semua uang ayahnya sekalipun.

“Minhyuk-ah…”

“Hm?”

“Kalau besok aku diseret pulang ke Seoul, kau mau menemaniku kan?”

 

***

 

Jungshin menghentikan mobilnya di depan sebuah bangunan apartemen di wilayah Gwanak. Rupanya daerah tempat Seolhyun tinggal tidak begitu jauh dari rumahnya dan dari kampus mereka. Ia memutuskan untuk menggendong Seolhyun sampai pintu apartemennya setelah melihat kondisi kaki gadis itu.

“Sunbae, ini benar-benar tidak perlu. Aku tidak apa-apa.” Seolhyun merasa tidak enak hati.

“Apa kau tinggal sendiri?” Jungshin tidak menggubris kata-kata Seolhyun. Bagaimana pun juga ia sungguh-sungguh berniat baik untuk menolong gadis itu.

Seolhyun mengangguk, “Ya.”

Setelah sampai di kamar tempat Seolhyun tinggal, Jungshin mendudukkan gadis itu di sofa di ruang tengah dan meletakkan tasnya di atas meja. Ia menyiapkan sebaskom air hangat dan obat yang dibelinya ketika mampir di apotek tadi sebelum bergegas pulang. Ia tidak berniat untuk duduk sejenak dan mengobrol karena baru pertama kali datang kesana, apalagi Seolhyun seorang wanita dan tinggal sendiri. Ia tidak mau dianggap berbuat macam-macam oleh para tetangga nantinya.

“Setelah ini kompres lukamu dengan air hangat dan oleskan obatnya. Kau bisa kan?”

Seolhyun mengangguk, “Terima kasih banyak, Sunbae. Dan─”

“Kalau kau mau minta maaf lagi aku tidak menerimanya.” Ia sudah cukup jengah mendengar gadis itu meminta maaf padanya berkali-kali hari ini.

Seolhyun terdiam dan menunduk, “Bagaimana aku membalasnya?”

Jungshin tersenyum, “Cukup dengan mengambil honorku hari ini. Aku tidak memerlukannya.”

Seolhyun terkejut, “Tapi, itu bukan balasan…”

“Seolhyun-ah…” Jungshin kembali menghampiri gadis itu dan menatapnya lekat, “Harusnya aku yang berterima kasih padamu. Menjadi badut, menghibur orang lain, dan melihat senyum mereka… itu adalah kebahagiaan yang langka. Dan kau yang mengajarkannya.”

Seolhyun mengerjapkan matanya, tidak menyangka dengan jawaban Jungshin. Pria itu melangkah menuju pintu keluar setelah sebelumnya mengusap kepalanya dengan lembut.

Seolhyun terpaku sesaat setelah menerima perlakuan Jungshin. Perasaannya saja, atau usapan lembut pria itu memang semenenangkan ini rasanya?

Pipi Seolhyun memanas. Memang selama di klub, ia melihat Jungshin sebagai pria yang menarik. Namun berada sedekat ini dengan Jungshin selama seharian ini membuatnya merasa ada sesuatu yang berbeda.

“Sampai bertemu di kampus. Jaga dirimu baik-baik.”

Begitu pintu ditutup, Seolhyun langsung menyentuh kedua pipinya. Hangat. Pasti wajahnya semerah kepiting rebus sekarang. Ia pun mengibas-ibaskan tangannya di udara. Tiba-tiba saja jantungnya berdetak cepat di luar kendali.

Rasanya, ia butuh pasokan oksigen.

“Ya Tuhan…”

Sementara itu, Jungshin hanya bisa terdiam sesampainya di mobil. Entah kenapa ia merasakan sesuatu yang lain pada dirinya setelah kejadian tadi. Semua yang terjadi hari ini benar-benar tidak pernah terlintas di benaknya dan rasanya terjadi begitu cepat.

Tanpa sengaja matanya menangkap ke arah kamera yang tergeletak di jok tempat Seolhyun duduk tadi. Rasa penasarannya untuk melihat foto-foto dalam kamera tersebut mendadak muncul. Awalnya ia hanya ingin melihat foto seperti apa saja yang akan dipotret Seolhyun, namun ternyata di dalamnya juga ada beberapa foto gadis itu, baik bersama teman-temannya maupun sendirian. Gadis itu ceroboh, pasti ia lupa menghapus foto-fotonya setelah memindahkannya kedalam laptop. Dan anehnya, memandangi foto-foto itu malah membuat Jungshin senyum-senyum sendiri seperti orang bodoh.

Oh, jangan bilang kalau ia mulai jatuh cinta.

Jungshin meletakkan kamera itu ke tempat semula dan memegangi dadanya. Ya, memang ada yang salah dengan hari ini. Termasuk perasaannya ini.

Namun tidak ada yang salah dengan Taman Bermain. Karena disanalah ia belajar untuk melepaskan, memperoleh pengalaman, dan menemukan kebahagiaan.

Dan Kim Seolhyun.

Disanalah ia menemukan cintanya yang baru…

 

***

 

Hari itu Seohyun benar-benar merasa tidak enak hati. Bukan hanya pada rekan-rekannya sesama pengajar karena keikutsertaan Yonghwa yang dikabarkan secara mendadak, tapi juga pada Yonghwa yang terpaksa harus membantunya dan para pengajar lain menjaga murid-murid selama perjalanan ke ladang goguma yang terletak di daerah Ganghwado. Perjalanan yang cukup jauh membuat beberapa anak mengalami pusing dan mual, dan beberapa kali Yonghwa menemani anak-anak yang tertidur setelah diberikan obat.

“Maaf, kau jadi harus terlibat begini…” Seohyun mendudukkan dirinya di sebelah Yonghwa yang duduk di bangku paling belakang bus tersebut. Ia mengusap peluh yang membasahi kening seorang anak laki-laki yang tertidur dalam pangkuan pria itu. Sepertinya efek samping obat anti mabuk perjalanan yang diberikannya sudah mulai bekerja.

“Aku sama sekali tidak keberatan.” Ujar Yonghwa, “Hanya saja mungkin setelah ini ada yang merasa cemburu.” Ia mengedikkan dagunya ke arah Aleyna yang duduk di bagian depan. Gadis itu sesekali melongokkan kepalanya ke arah belakang, iri dengan temannya yang bisa tidur di pangkuan ‘Oppa’-nya.

Seohyun terkekeh, “Aleyna anak yang kuat. Dia sama sekali tidak merasa pusing.”

“Tentu saja. Kan aku kakaknya.” Gurau Yonghwa, yang dibalas dengan tepukan ringan Seohyun di bahunya.

Sesampainya di ladang, semua murid dan pengajar─termasuk Yonghwa─berkumpul untuk diberikan pengarahan mengenai cara memanen goguma. Masing-masing orang memegang sekop kecil untuk menggali goguma nantinya. Taman Kanak-kanak tempat Seohyun mengajar memang menyediakan waktu khusus untuk berkunjung ke ladang seperti ini agar murid-murid bisa belajar bercocok tanam dan mengetahui jenis-jenis sayuran dan buah-buahan yang biasa ditanam disana.

“Semuanya sudah siap?” tanya seorang pria paruh baya yang merupakan pemilik ladang setelah menyampaikan pengarahan.

“Ya!” Semua murid mengacungkan sekopnya ke udara dengan semangat, tidak terkecuali Yonghwa, yang sudah siap dengan sarung tangan, boots karet, dan topi lebar seperti petani pada umumnya. Tingkah lakunya otomatis membuatnya menjadi bahan tertawaan para pengajar dan pemilik ladang, sedangkan Seohyun hanya bisa menahan tawa sambil menutupi wajahnya di barisan belakang.

Ketika semua murid sedang asyik menggali tanah dan mengumpulkan goguma kedalam satu keranjang besar, Yonghwa menghampiri Seohyun yang sedang sibuk mengawasi di pinggir ladang.

“Seohyun-ah,” panggilnya. Ia lalu menunjuk ke arah sebidang tanah yang tidak begitu jauh dari sana, “Kau ingat kita pernah menanam goguma empat bulan yang lalu?”

Seohyun menepuk kedua tangannya, “Ah iya, benar juga! Wah, waktunya pas sekali!”

Yonghwa memberikan salah satu sekop kecil yang sudah disiapkannya pada gadis itu. Empat bulan yang lalu mereka memang pernah mengunjungi tempat ini untuk menanam goguma sebagai hadiah ulang tahun Seohyun yang sangat menyukai jenis umbi yang satu itu. Dengan penuh semangat Seohyun pun langsung bergegas menuju ke ladang yang telah mereka sewa khusus.

“Bagaimana kalau sebagian goguma ini kita bakar dan dimakan bersama-sama dengan anak-anak? Pasti menyenangkan.” Usul Seohyun.

“Ide bagus.” Yonghwa menyetujui.

Setelah semua goguma selesai dikumpulkan, jumlahnya dibagi rata dan diberikan pada masing-masing murid dan para pengajar sehingga setiap orang mendapat jumlah yang sama. Sedangkan goguma milik Yonghwa dan Seohyun sebagian disumbangkan untuk dibakar di atas api unggun dan dimakan bersama-sama.

Sambil menunggu goguma-goguma itu matang, Yonghwa menghibur para murid dengan permainan gitar yang sengaja dibawanya dari Seoul. Seohyun melambaikan tangannya sambil tersenyum begitu Yonghwa menatap ke arahnya. Melihat Yonghwa yang sudah sangat persiapan seperti itu membuatnya berpikir mungkin ada alasan lain mengapa pria itu memutuskan untuk ikut dalam acara kunjungan hari ini.

“Jadi, apa alasanmu?” tanya Seohyun begitu Yonghwa mendudukkan diri di sampingnya. Goguma bakar sudah mulai matang dan murid-murid tampak asyik menikmatinya sambil bermain-main di sekitar ladang.

Yonghwa terkekeh pelan. Rupanya gadis itu sudah tahu.

“Kau tahu,” raut wajahnya berubah serius, “Aleyna cerita padaku bahwa Kyuhyun sering datang menemuimu di sekolah.”

Seohyun menghela napas pelan. Ia tidak heran, karena tiap kali gadis kecil itu melihat Kyuhyun, hanya ia satu-satunya yang menunjukkan wajah tidak suka.

“Dan kau selalu terlihat murung setelahnya.” Lanjut Yonghwa.

“Maaf karena aku tidak menceritakannya padamu.” Balas Seohyun, sadar kalau pria itu ingin meminta penjelasan, “Bukannya aku tidak jujur, hanya saja aku belum menemukan waktu yang tepat.”

“Kyuhyun sudah membantu membayarkan biaya Rumah Sakit ayahku.” Lanjutnya, “Orangtuanya bahkan ikut menjenguk beberapa waktu yang lalu. Awalnya aku merasa tidak enak hati, tapi kemudian ibunya mendatangiku dan memintaku untuk menikahi putranya.”

Yonghwa terkejut, namun sebisa mungkin ia bersikap tenang. Setidaknya Seohyun tidak berniat menyembunyikan sesuatu darinya.

“Keluarga Kyuhyun banyak membantu keluargaku dalam hal finansial. Ia juga jadi semakin sering mengunjungiku di sekolah. Aku sudah bilang jangan lakukan itu, tapi…” Seohyun mendesah, “… aku tidak tahu harus bagaimana…”

“Kau merasa tidak enak hati padanya karena kau tidak bisa menikahinya, atau kau merasa tidak enak hati padaku karena tidak bisa menikah denganku?”

“Apa?”

“Jawablah dengan jujur, Hyun…”

Seohyun menutupi wajahnya dengan kedua tangan, “Aku tidak menyangka kau berpikiran seperti itu…” lirihnya. “Aku ingin bertemu dengan ibunya dan menolak permintaannya secara baik-baik, tapi dia susah ditemui…”

“Kalau begitu biar aku yang mengurusnya.” Tegas Yonghwa, “Biar aku yang menemui keluarga Kyuhyun untuk menjelaskan yang sebenarnya. Aku juga akan mengganti semua uang yang mereka berikan pada keluargamu.”

“Kau tidak perlu melakukan itu─”

“Perlu, Seohyun-ah.” Yonghwa menatap mata gadis itu lekat, “Akan kulakukan apapun untuk mempertahankanmu.”

Seohyun membalas tatapan pria itu. Sama sekali tidak pernah terpikir olehnya akan membahas hal semacam ini dengan Yonghwa, dan bagaimana pria itu memberikan jawaban. Kegigihan pria itu dalam mempertahankan cintanya membuatnya semakin yakin bahwa memang Yonghwa-lah pria yang benar-benar pantas untuknya.

“Kalau begitu biar nanti aku coba bicara pada Kyuhyun.” Putus Seohyun.

Yonghwa tersenyum lega. Akhirnya mereka bisa menyelesaikan masalah tanpa harus berdebat.

“Nah, karena kau sudah mengatakannya…” dalam sekejap Yonghwa membalikkan badannya dan kembali ke posisinya sambil memberikan goguma bakar yang sudah dibelah menjadi dua bagian pada Seohyun. Di bagian atas goguma itu tertancap sebuah cincin yang terbuat dari emas putih dengan dihiasi berlian kecil di bagian tengahnya.

“Ah, mwoya…” Seohyun tidak bisa menahan tawa melihatnya. Yonghwa benar-benar sudah melakukan persiapan.

Yonghwa melepas cincin itu dari goguma dan menyematkannya pada jari manis Seohyun. Sesuai perkiraannya, cincin itu melingkar dengan sangat pas.

“Seo Joohyun, menikahlah denganku.”

Belum habis rasa terkejut Seohyun dengan cincin yang baru saja disematkan ke jarinya, ia kembali harus dikejutkan dengan pernyataan Yonghwa. Jantungnya semakin berdebar-debar dan oksigen di sekitarnya terasa semakin menipis. Butuh beberapa detik bagi Seohyun untuk mencerna apa yang baru saja terjadi.

Yonghwa baru saja melamarnya.

Itu artinya mereka akan menikah.

Tidak jauh berbeda dengan Seohyun, Yonghwa juga serasa ingin bunuh diri menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut gadis itu. Bagaimana jika gadis itu menolaknya? Mengingat usia pacaran mereka yang tergolong singkat.

Yonghwa merasa usianya seolah bertambah seratus tahun begitu Seohyun mengangguk dan memeluknya erat. Gadis itu menerimanya. Menerima lamarannya.

Itu artinya mereka benar-benar akan menikah.

Yonghwa melepaskan pelukan Seohyun dan dengan perlahan mendekatkan bibirnya pada bibir gadis itu, bermaksud menciumnya. Namun keduanya langsung memalingkan wajah begitu terdengar sebuah suara.

“Oppa!”

Rupanya pemilik suara itu adalah Aleyna. Dengan wajah polosnya ia mendekati kedua orang itu dan membelah goguma bakar yang dibawanya menjadi dua bagian, “Ini untuk Oppa dan Ibu Guru.”

Yonghwa dan Seohyun terkekeh. Sepertinya gadis kecil itu tidak melihat apa yang mereka lakukan barusan.

“Oh, tapi Ibu Guru sudah punya.” Celetuk Aleyna begitu melihat potongan goguma yang ada di tangan Seohyun. Goguma pemberian Yonghwa tadi.

Yonghwa menggendong Aleyna dan mendudukkannya diantara dirinya dan Seohyun, “Duduk disini.” Ia lalu mengembalikan potongan goguma yang diberikan gadis kecil itu, “Ini untuk Aleyna saja. Oppa sudah punya.”

Aleyna mengerucutkan bibirnya. Namun kemudian ia pun melahap goguma itu sambil memandangi wajah Yonghwa dan Seohyun bergantian.

“Jadi, kapan Oppa dan Ibu Guru akan menikah?”

 

***

 

 

 

 

 

_________________________________

Halo! Ga terasa liburan udah hampir berakhir. Saatnya kembali menghadapi realita dunia perkuliahan T^T

Sebenernya dari dulu aku pengen nulis omnibus… dan jadinya kayak gini ._. Dan ya, ini terinspirasi dari lagu What I Want to Do Once I Have A Lover. Kalo diperhatiin liriknya pasti tau.

Terima kasih untuk comment-nya, dan sampai jumpa di FF-ku selanjutnya🙂

12 thoughts on “Blue Medley

  1. kereeeeennnnnn
    dapat jempol 10 deh dr aku.
    suka bgt ma 2 couple dsni karna 2 otp aku. hyukstal dan yongseoo ooooo yesss senengggg bgt
    ceritanya unyuuuuu bgt dr semua cerita ada maknanya masing2.
    jungshin dr dulu susah buat dicariin pasangan dan menurutku dia cocok ma siapa aja. tp dsini ma seoulhyun itu passss bgt aaaaaa
    tiffany jonghyub sbnrnya aku pny otp sndri buat masing2 mereka tp yasudlah dsini jg cocoklah hihi didukung foto diawal itu soalnya jihihihi

    suksesssslah author buat cerita sweet begink.
    ditunggu karya berikutnya🙂 :*

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s