[TwoShot] Namehwa #2

Namehwa

NAMEHWA

By : ChoaiAK || Main Cast : Leo (VIXX), Nam Yaena (OC)  || Length : Two Shot || Support Cast : Seunghyun (FT Island) || Genre : Friendship, Romance ||

 

You stop your footsteps and come toward me
With a shining mile, you come to embrace me
I clearly see the world that is meant for us
Fall into my heart,
believe in my love

Starlight – ViXX

Berita dengan cepat beredar di seantero kampus tentang hubungan Taekwoon dan Yaena. Wajar saja, pemuda yang selalu menunjukkan ekspresi dingin dan angkuh pacaran dengan gadis dengan sikap ramah dan rasa ingin tahunya pada semua hal. Tidak ada yang bertanya bagaimana Yaena meluluhkan Taekwoon, sebaliknya semua bertanya-tanya bagaimana seorang Jung Taekwoon berhasil meluluhkan hati Yaena yang sejak setahun yang lalu gadis itu masuk sebagai mahasiswi baru di kampus selalu menolak pernyataan cinta dari para senior dan juga teman-teman seangkatannya.

Namun yang lebih terkejut mendengar berita itu tentu saja Song Seunghyun. Sejak awal masuk sampai sekarang Yaena tidak pernah meliriknya lebih dari sekedar teman padahal jelas-jelas dia merasa dia yang selalu berada disamping gadis itu setiap kali dia memerlukan bantuan. Lalu sekarang tiba-tiba gadis itu malah menerima Taekwoon yang terkenal tidak peduli dan angkuh dengan ekspresi dinginnya pada semua orang. Dan belum lama dikenalnya.

Saat berada dalam ruangan HPC, Yaena melirik Seunghyun yang datang menghampirinya kesana. Temannya yang satu itu tidak pernah mendatanginya ke ruangan HPC. Dia bilang itu bukan tempatnya. Memperhatikan pemuda itu duduk di kursi yang ada di hadapannya, Yaena tau berita itu sudah sampai di pendengaran Seunghyun.

“ada yang ingin kamu katakan?”

Seunghyun menatap mata Yaena dalam-dalam, “aku sudah dengar gossip itu.” lalu dia menundukkan kepalanya sejenak sebelum kembali menatap Yaena. “aku tidak percaya itu. Kamu tidak mungkin menerimanya, kan? Jung Taekwoon, dia tidak pernah terlihat tertarik dengan perempuan manapun.”

Yaena membalas tatapan Seunghyun sebelum menyunggingkan senyum samar diwajahnya, “Seunghyun-ah…Itu bukan gossip.” Gumamnya. “Taekwoon sunbae benar-benar pacarku.”

Untuk beberapa saat Seunghyun menatapnya tanpa mengatakan apa-apa. Sejak awal mereka kenal saat pertama kali lebih dari setahun yang lalu, Seunghyun memang selalu mengatakan tentang perasaannya sementara Yaena selalu menegaskan kalau mereka hanya berteman. Sekarang tiba-tiba Yaena pacaran dengan orang yang sama sekali tidak diduga dan itu jelas membuat Seunghyun kehilangan kata-kata. Tanpa mengatakan apa-apa Seunghyun berdiri dan pergi begitu saja meninggalkan Yaena yang juga kebingungan harus melakukan apa.

Hubungan mereka memang masih sangat baru. Tapi Taekwoon jelas-jelas menunjukkan sikap sangatt pengertian kalau dia tidak pernah menuntut Yaena untuk menjadi seperti orang lain. Gadis itu tetap sibuk dengan club amalnya dan tugas-tugas kuliahnya belum lagi kerja paruh waktunya. Beberapa kali Taekwoon bahkan menunggu Yaena pulang dari pekerjaan paruh waktunya sampai akhirnya gadis itu memaksanya untuk berhenti bersikap seperti itu.

Taekwoon memperhatikan Yaena yang sedang mengerjakan tugasnya di meja café kampus mereka. Sudah hampir satu jam gadis itu sama sekali tidak memperhatikannya bahkan air minum yang diberikannya sejak satu jam yang lalu masih belum tersentuh sama sekali.

“berhenti dulu sebentar.” Kata Taekwoon pada akhirnya. “kamu bisa membuat tanganmu patah kalau menulis seperti itu tanpa berhenti.”

Yaena hanya berhenti sebentar tanpa mengalihkan pandangannya, “aku harus mengumpulkan tugas ini di kelas selanjutnya.”

“lalu kenapa baru dikerjakan sekarang?” tanya Taekwoon heran.

“karena aku baru punya waktu sekarang.” balas Yaena singkat.

Mau tidak mau Taekwoon mengambil paksa pena yang digunakan Yaena untuk menulis dan menyimpannya kedalam saku jaketnya. Yaena mematung beberapa saat sebelum mengangkat wajahnya dengan ekspresi kesal menatap Taekwoon.

“kembalikan penaku.”

“tidak.” Tolak Taekwoon. “kamu sudah menulis tanpa istirahat hampir satu jam. Minuman di depanmu juga sama sekali tidak disentuh.”

Yaena menghembuskan nafas panjang, “kalau kamu bosan, kamu bisa pergi dari sini dan biarkan aku mengerjakan tugasku. Aku tidak minta untuk ditemani.”

Saling menatap satu sama lain, akhirnya Taekwoon menyerah dan memberikan pena tersebut kembali pada Yaena. Gadis itu langsung kembali menulis tanpa merasa bersalah atau simpati dengan sikap Taekwoon yang hanya memperhatikan kebaikannya.

“biasanya Seunghyun yang menemanimu mengerjakan tugas seperti ini, kan?”

Pertanyaan Taekwoon sontak membuat Yaena berhenti menulis untuk beberapa saat sebelum kembali menulis. “kenapa?” tanyanya.

“tidak kenapa-kenapa.” Taekwoon menyandarkan tubuhnya ke kursi memperhatikan Yaena dengan serius. “Yaena-ya. Kenapa kamu tidak menerimanya menjadi pacarmu?”

Sekali lagi Yaena berhenti, dia menghembuskan nafas panjang dan meletakkan penanya sebelum mengangkat kepalanya menatap lurus kearah Taekwoon.

“kenapa bertanya seperti itu padaku?”

“aku hanya ingin tau.” jawab Taekwoon. “bukan dua atau tiga orang yang aku kenal menyukaimu dan ternyata pernah menyatakan perasaannya padamu. Kenapa baru sekarang? kenapa aku?”

Tanpa mengalihkan pandangannya dari Taekwoon. Yaena menjawab pertanyaan kekasihnya itu tanpa nada ragu sedikitpun.

“karena hati dan pikiranku bilang orang itu bukan salah satu dari mereka.” Yaena melihat Taekwoon menatapnya bingung, “karena mereka tidak melihatku sebagai diriku dan karena mereka bukan kamu.”

Setelah mendengar pengakuan Yaena mereka tidak mengatakan apa-apa setelah itu. Yaena hanya menundukkan kepalanya menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah sementara Taekwoon melihat kearah lain karena salah tingkah. Café tidak terlalu ramai siang itu. Tidak seperti biasanya sebelum mereka pacaran café bukan salah satu tempat favorit Taekwoon. Kalau bukan karena keempat teman satu apartemennya yang kebetulan juga satu universitas dengannya mungkin sampai tahun keempat dia kuliah dia tidak akan pernah bisa menginjakkan kakinya di café kampusnya minimal dua kali seminggu.

“aku dengar dia tidak menyapamu lagi sejak tau kita pacaran.” Taekwoon melihat Yaena mengangguk. “lalu?”

“lalu apa?” tanya Yaena. “sejak awal aku sudah bilang aku hanya berteman dengannya. Dia tidak punya hak untuk menentukan siapa yang bisa dan tidak bisa menjadi pacarku.”

“dia menyukaimu.”

Sekali lagi Yaena mengangguk, “tapi perasaan tidak bisa dipaksakan hanya karena dia teman baikku.”

***

Perlu waktu seminggu sampai akhirnya Seunghyun kembali menyapa Yaena dan meminta maaf padanya. Saat itu Seunghyun mendatangi Yaena yang sedang berada di ruang HPC dan menemaninya seharian seperti yang biasa dia lakukan. Yaena tidak merasa canggung dengan hal itu. Hanya beberapa orang yang berani mengajukan pertanyaan pada mereka dan mengaitkannya dengan Taekwoon. Bukannya tidak tau, Yaena tetap menyampaikannya pada kekasihnya itu untuk menghindari salah paham dan Taekwoon mengerti. Lagi pula dia juga sudah punya mata-mata yang selalu berada di dekat Yaena saat di ruang humanity club, Lee Jaehwan.

Yaena keluar dari ruang HPC bersama seunghyun dan Jaehwan. Mereka berbincang tentang acara amal yang akan mereka adakan bersamaan saat festival nanti. Lalu dia melihat pemuda itu disana. Jung Taekwoon. Berdiri bersandar di dinding salah satu bangunan kampus mereka. Yaena tersenyum lebar dengan wajah berseri-seri saat pemuda itu melihatnya dan menunggunya disana berdiri tegap dengan kedua tangan didalam saku celana.

“Kamu sedang apa disini?” Tanya Yaena setelah berdiri di hadapan Taekwoon.

“Tentu saja menunggumu.” Taekwoon melirik dua pemuda yang tadi berjalan bersama Yaena. Dia menyunggingkan senyum samar kearah Seunghyun sementara Jaehwan yang menghampirinya langsung melingkarkan tangannya di lengan Taekwoon.

“Jaga teman sekamarku baik-baik. Karena sekarang aku harus masuk kelas Prof. Hwang.” Jaehwan mendesah pasrah, “profesor yang satu itu selalu membuatku depresi saat berada di kelasnya.”

Mereka tertawa mendengar keluhan Jaehwan yang kadang terdengar kekanakan. Taekwoon melirik kearah Seunghyun yang masih berdiri di dekat mereka setelah Jaehwan pergi menuju kelasnya.

“Sebaiknya aku juga pergi sekarang.” Ujar Seunghyun melihat kearah Yaena lalu melirik sekilas kearah Taekwoon.

“Baiklah, sampai jumpa.” Yaena melambaikan tangannya kearah Seunghyun sebelum pemuda itu pergi dari sana.

Mengangkat wajahnya dan melihat Taekwoon tersenyun kearahnya Yaena merasa lebih tenang dari sebelumnya saat menyiapkan program amal mereka yang terbaru. “kalian sudah berbaikan? Dengan dia?”

“Siapa?” Yaena bertanya saat mereka mulai berjalan. “Seunghyun?”

“Hm-hm.”

“Karena dia akan ikut untuk program amal kali ini.” Ujar Yaena. “Kenapa? Jangan bilang kamu mula cemburu padanya?”

Taekwoon berdeham untuk menghilangkan sikap salah tingkahnya yang mendadak muncul setiap kali Yaena menebak dengan benar isi kepalanya. “Kamu masih belum mau memanggilku oppa?” Dia dengan cepat mengalihkan pembicaraan.

“Kamu ingin aku memanggilmu dengan sebutan oppa?” Taekwoon mengangguk. “Baiklah, Taekwoon oppa.”

Setelah mendengar Yaena memanggilnya dengan sebutan ‘oppa’ mereka sama-sama tidak bisa melihat satu sama lain karena salah tingkah. Wajah Yaena jelas bersemu merah sedangkan Taekwoon tidak bisa berhenti tersenyum.

“Jadi sekarang kita mau kemana, oppa?”

Taekwoon berpikir sejenak, “kencan.” Jawabnya.

“Huh?”

“Kencan. Kita belum pernah pergi kencan berdua.” Ujar Taekwoon. Yaena tersenyum kemudian mengangguk. “Oke.”

Berjalan sambil bergandengan tangan, Taekwoon tidak pernah membayangkan hal itu sebelumnya. Bahkan tidak pernah terbayang saat gadis yang ada disampingnya adalah gadis yang akan membuat iri laki-laki manapun. Nam Yaena, tidak hanya cantik dilihat dari penampilannya tapi juga isi hatinya. Dia pernah mendengar ceritanya dari Jaehwan. Yaena mendapatkan beasiswanya sebagai mahasiswi seni fotografi. Menjadi salah satu pendiri dari HPC atau Humanity Project Club yang didirikannya bersama beberapa temannya yang satu pendirian dengannya untuk membantu orang-orang yang tidak mampu ataupun memerlukan bantuan.

“Kali ini project apa yang sedang kalian rencanakan?”

Cancer, can’t kill us.”

Taekwoon melihat Yaena, bingung dengan jawabannya. “Itu temanya?”

Yaena mengangguk, “project amal untuk mereka yang menderita kanker.”

Taekwoon mengangguk mengerti. “Aku dengar kalian menunggu project untuk penderita kanker setelah setahun HPC dibentuk karena kamu menolak langsung mengadakannya. Kenapa?”

“Karena…” Yaena diam sejenak. “Karena saat itu aku belum terlalu siap untuk melaksanakan project untuk pasien kanker.”

“Aku kira project amal hanya sekedar memberi bantuan. Untuk kanker juga.”

Taekwoon menundukkan kepalanya melihat Yaena yang tersenyum memandangnya, “bagi yang lain mungkin mungkin itu benar. Tapi aku tidak. Orang tuaku meninggal karena kanker.”

Melihat wajah Yaena yang memalingkan pandangannya dan menatap kosong kedepan, dia kembali melihat sisi lain Yaena yang dia kenal. Gadis ini tidak selalunya menjadi gadis yang ceria dimanapun dan kapanpun. Mungkin hanya dengannya Yaena bisa membagi cerita sedihnya seperti saat ini.

“Berapa usiamu saat mereka meninggal?”

“Eomma saat aku masih 9 tahun dan Appa dua tahun lalu.” Dia melihat wajah Taekwoon yang menatap iba kearahnya. “Aku sudah sering melihat ekspresi seperti itu. Tapi aku tidak sendiri dan aku berhasil sampai hari ini.”

Taekwoon merangkulkan lengannya di pundak Yaena dan mendekatkan jarak tubuh mereka. Yaena sendiri langsung melingkarkan lengannya di pinggang Taekwoon.

Mereka berjalan menyusuri taman di tengah kota Seoul dan duduk di tepi danau kecil di tengah-tengahnya.

“Kamu mau bertemu dengan teman-temanku?”

Yaena menatapnya dengan bingung mendengar usul yang disampaikannya. Tidak ada salahnya mengenalkan Yaena pada teman-temannya yang sudah dia anggap seperti keluarganya sendiri.

“Teman-temanmu?” Tanya Yaena. “Aku hanya sering melihatmu dengan Jaehwan, Hakyeon sunbae dan dua mahasiswa baru yang aku tidak tau siapa namanya. Mereka sering membicarakan kalian.”

“Mereka siapa?”

“Penggemar kalian di kampus.” Jawab Yaena. “Orang yang tampan hanya berteman dengan orang yang tampan saja, yang kaya juga hanya berteman dengan yang kaya saja.”

Taekwoon mengerutkan keningnya menatap Yaena yang melihat lurus kedepan. Apa dia juga berpikir seperti itu tentang kami?

“Dan kamu juga berpikir seperti itu?”

“kamu sudah bilang dari awal kalau tidak semua yang dikatakan orang tentangmu itu benar.” Yaena menoleh kearahnya, “aku berpikir kalau kamu pasti merasa nyaman bersama mereka. Tidak semua orang bisa dengan mudah membuatmu merasa nyaman bersama mereka. aku mulai mengerti itu.”

Kelegaan seperti merayap dengan cepat disetiap persendian dalam tubuhnya. Dia lalu mengangguk membenarkan. Yaena tidak pernah seperti perempuan yang selalu mendekatinya. Yaena satu-satunya perempuan yang berhasil masuk kedalam hatinya tanpa melewati rintangan apapun yang terjadi dalam kepalanya.

“Jadi, kamu mau bertemu dengan mereka?”

“Mereka sahabat baikmu, kan?”

Dia melihat Yaena tersenyum tulus dan mengangguk. “Baiklah.”

Seperti dugaannya, Yaena tidak bisa berhenti tertawa apalagi tersenyum dengan kehadiran lima orang laki-laki yang menjadi sahabat Taekwoon sekaligus housematenya. Mereka tidak seperti yang pernah di dengarnya dari mahasiswi perempuan di kampus mereka. Hakyeon yang dia dengar sangat berkarisma dalam memimpin kenyataannya malah bersikap kekanakkan. Jaehwan yang dia kenal berwibawa setiap kali mereka membahas project amal terlihat sangat manja pada teman-temannya. Hongbin dan Woonsik, Yaena memang tidak terlalu mengenal mereka di kampus tapi mereka jelas menjadi mood maker di antara mereka berenam. Lalu terakhir ada Sanghyuk. Yaena sudah kenal dengan anak yang satu itu. Dia bertemu dengan Sanghyuk saat datang ke sekolah almamaternya tahun lalu.

“Kami semua kaget waktu Taekwoon hyung bilang kalau dia sudah punya pacar.” Woonsik melirik sekilas kearah Taekwoon dan kembali melihat Yaena.

Hongbin mengangguk, “padahal kami semua mengira kalau bukan Hakyeon hyung pasti Jaehwan hyung yang lebih dulu dapat pacar. Tapi ternyata orang yang kami sangka paling terakhir yang duluan.”

Mereka semua tertawa. Yaena memandang Taekwoon yang duduk disebelahnya bisa tersenyum bebas di hadapan mereka semua. Pemuda yang terkenal angkuh dan dingin pada semua orang ternyata sangat menyayangi teman-temannya. Bersama dengan Hakyeon, mereka menjadi orang yang paling tua dari keenamnya.

“Noona,” mereka semua menoleh kearah Sanghyuk. “Ada yang kami ingin tau, semuanya berdebat waktu Taekwoon hyung bilang kalau kalian pacaran.”

“Tentang apa?”

Yaena memandang Taekwoon sekilas lalu kembali melihat Sanghyuk. “Bagaimana bisa Taekwoon hyung jadi pacar noona? Dia tidak mengancammu, kan? Menakut-nakutimu?”

“YA!” Sanghyuk tertawa melihat tingkah Taekwoon yang salah tingkah. “Jangan bicara yang macam-macam.”

“Mereka benar-benar bertanya seperti itu?” Yaena bertanya pada Taekwoon yang mengangguk membenarkan. “Wahh…Taekwoon oppa, kau memang mengerikan.”

Dia melihat Sanghyuk yang masih menunggu jawabannya, “apa aku terlihat takut kalau diancam oleh orang lain?” Lalu ia tertawa, “menurut kalian bagaimana?”

Mereka terdiam dan berpikir, “kalau dia tidak menakutimu atau mengancammu…dia tidak mungkin mengatakan aku cinta padamu dan jadi pacarku begitu saja, kan?”

Saat Yaena tersenyum lebar, Taekwoon menundukkan kepalanya sambil memainkan pinggiran gelasnya. Yaena mengangguk dan membuat kelima pemuda di dekatnya tercengang tidak percaya.

“Jadi Taekwoon hyung benar-benar menyatakan perasaannya padamu?” Tanya Woonsik histeris. Yaena mengangguk. “Tidak mungkin, seorang Taekwoon hyung, wah, bagaimana bisa dia meluluhkan Nam sunbae,”

“Sepertinya aku harus belajar darinya.” Tiba-tiba Jaehwan bicara dengan nada serius. “Bagaimana cara meluluhkan Perempuan yang terlalu keras kepala untuk ditaklukkan.”

Semua mata beralih melihat kearah Jaehwan dan membuatnya salah tingkah, “ah, maksudku…”

“Chubby redhead?” Jaehwan melihat Taekwoon dengan mata terbelalak. “Aku pernah dengar kau bergumam saat tidur, ‘YA! Dasar kau chubby redhead, kenapa kau masih tidak sadar kalau aku sayang padamu‘. Aku hampir melemparmu kalau saja kau tidak benar-benar sedang tidur.”

“Chubby redhead?” Tanya Hakyeon penasaran. “Siapa dia?”

“Ah, hyung! Kau tidak boleh membuka rahasia orang lain seperti itu.” Dia berteriak kesal pada Taekwoon yang hanya mengangkat bahu tidak peduli.

“Dia tidak akan sadar kalau kamu tidak bilang.” Gumam Yaena tiba-tiba. “Katakan saja padanya. Be a man, not just a man, but be a gentleman.

Tidak hanya Taekwoon yang terpana dengan kesungguhan kata-kata Yaena untuk Jaehwan, tapi teman-temannya juga tampak mengagumi sosok Yaena yang mulai mereka kenal baik. Seperti dia mulai mengenal sosok Nam Yaena yang memang menyayanginya tanpa syarat.

“Sepertinya Yaena berhasil membuat semua orang dirumah kita terpana.” Kata Jaehwan malam itu di kamar yang mereka tempati berdua. “Woonsik dan Hongbin jelas kagum melihat Yaena tadi.”

“Selama mereka tidak jatuh cinta pada pacarku, tidak masalah.” Taekwoon membalas sambil membalik-balikkan lembaran buku yang sedang dibacanya.

Taekwoon mengalihkan pandangannya pada orang yang sedang memperhatikannya dengan serius. Dia melihat Jaehwan bertopang dagu di atas kursi di meja belajarnya dengan wajah muram.

“Kenapa?”

“Yaena…” Jaehwan diam sejenak. “Mungkin tidak kalau dia akan balas menyukai Seunghyun karena mereka sudah lama berteman?”

Ekspresi wajah Taekwoon berubah tegang, “kalau dia memang menyukai orang lain, aku tidak akan memaksanya untuk tetap jadi pacarku. Tapi kalau orang itu yang memaksanya sementara dia tidak mau maka aku tidak akan pernah melepaskannya.”

Dia melihat Jaehwan menghembuskan nafas panjang dengan wajah bingung.

“Kamu kenal lebih dulu dengan Yaena, kamu pasti tau kalau dia tidak pernah bicara sembarangan. Bahkan yang dia bilang bercanda saja semua orang bisa langsung percaya.”

Mereka tertawa, “benar juga.” Gumam Jaehwan.

“Hyung sangat mencintainya, ya?”

“Tanyakan pada Yaena, apa dia mencintaiku?”

Taekwoon melirik Jaehwan yang sedang menatap kosong. Ekspresinya jelas menggambarkan kalau dia sedang memikirkan sesuatu yang menyangkut perasaannya pada siapapun perempuan yang dia sebut sebagai chubby redhead.

Pertemanan Yaena dan Seunghyun yang sudah berbaikan setelah Yaena mengungkapkan hubungannya dengan Taekwoon ternyata tidak semulus sebelumnya. Seunghyun menjadi lebih tertutup dan tidak seceria dulu. Kadang hal itu membuat Yaena menjadi salah tingkah saat harus mengangkat telepon atau sekedar membalas pesan masuk dari Taekwoon saat dia sedang bersama Seunghyun.

“apa kamu benar-benar menyukainya?” tanya Seunghyun tiba-tiba siang itu. “Taekwoon sunbae.”

Yaena memalingkan wajahnya melihat kearah Seunghyun yang menatapnya dengan serius. “aku tidak mau membicarakan ini, Seunghyun-ah.”

“kenapa?” tanyanya. “karena akhirnya kamu tau kalau ternyata perasaanku yang sering aku bilang padamu dan cuma kamu anggap sebagai lelucon itu benar lalu sekarang kamu merasa bersalah?”

“aku tidak merasa bersalah.” Yaena membenarkan. Dia berusaha bicara dengan nada tenang dan sabar menghadapi Seunghyun. “aku cuma tidak suka membahas tentang hubunganku dengan orang lain.”

“tapi kamu selalu cerita padaku tentang banyak hal dan tentang orang lain.” Seunghyun membantahnya. “kenapa tidak dengan dia?”

“karena dia bukan orang lain.” jawab Yaena. “dia pacarku.” Ujarnya tegas.

“dia pasti akan menyakitimu.”

Yaena menarik nafas panjang untuk menenangkan emosinya. Dia tidak suka jika ada orang lain yang terlalu ingin tau tentang urusan pribadinya.

“aku tidak suka membicarakan hal ini, Song Seunghyun.” Kemudian dia berdiri meninggalkan Seunghyun disana.

Awalnya dia kira Seunghyun akan menyerah begitu saja setelah dia menegaskan jawabannya. Namun tidak butuh waktu lama saat Seunghyun tiba-tiba sudah berada dibelakangnya dan menarik tangannya dengan sedikit kasar.

“Jawab pertanyaanku, apa yang dia punya tapi tidak aku punya?” Desak Seunghyun. “Apa lebihnya dia sampai kau bisa melihatnya tapi tidak pernah sekalipun melihatku!”

“Seunghyun, ada apa ini? Lepaskan aku.” Yaena menarik tangannya dari tangan Seunghyun namun genggaman tangan Seunghyun lebih erat dari yang dia kira. “Song Seunghyun aku bilang lepaskan aku!”

“Jawab pertanyaanku,” tanya Seunghyun lebih tenang. “Karena dia senior kita? Karena dia lebih banyak dikagumi perempuan di kampus ataupun diluar kampus? Apa yang kamu lihat dari dia?!”

Sekali lagi Yaena mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Seunghyun. Dia melirik di sekitar mereka semua orang mulai memperhatikan. “Semua orang melihat kearah kita. Lepas-“

“Aku tidak peduli!!” Bentak Seunghyun.

“Kau tidak peduli itu urusanmu tapi aku peduli karena aku tidak suka kau membuat hal memalukan seperti ini.” Yaena balas membentaknya.

Seunghyun mendadak menyunggingkan senyum sinis kearah Yaena, “aku tau sekarang. Karena keluarganya lebih kaya dari keluargaku? Itu sebabnya kamu lebih memilih dia yang angkuh dan selalu bersikap tidak peduli pada orang lain untuk jadi pacarmu daripada aku?”

Plak!

Tamparan keras mendarat di pipi Seunghyun saat Yaena menamparnya dengan tangannya yang bebas. “Aku tidak pernah sadar kalau ternyata ini Song Seunghyun yang sebenarnya.”

Genggaman tangan Seunghyun di tangan Yaena berlahan mengendur sampai akhirnya terlepas. “Apa yang dia punya dan tidak kamu punya? Ketulusannya. Apa yang membuatku bisa melihatnya sementara aku tidak melihatmu sejak dulu? Kesungguhan yang dia punya. Aku memang tidak cukup baik mengenalnya. Tapi aku tidak pernah percaya satupun yang dikatakan orang lain tentangnya. Angkuh? Dingin? Tidak peduli? Aku tidak melihatnya seperti itu. Kau tau apa yang membuatku bisa langsung melihatnya? Karena dia menyayangiku tanpa syarat. Kalau kau tidak mengatakan hal-hal yang aku cintai adalah hal yang tidak kau sukai mungkin…mungkin aku akan menyukaimu lebih dari sekedar teman. Tapi sayangnya, kau tidak bisa berada dalam duniaku.”

Saat semua orang memperhatikan mereka tanpa disadari orang yang menjadi alasan pertengkaran tiba-tiba Yaena dan Seunghyun sudah ikut berdiri disana memperhatikan mereka.

“Harta?” Yaena tertawa sinis, “aku memang tidak dibesarkan dengan harta berlimpah seperti keluargamu atau keluarganya tapi perasaanku tidak bisa dibeli dengan berapa banyak harta yang keluargamu atau keluarganya miliki. Tidak semua hal bisa kamu dapatkan hanya karena kamu memiliki uang.”

 “Kamu tau dia akan menyakitimu pada akhirnya.” Gumam Seunghyun pelan.

Yaena mengangguk, “aku tau. Tapi tidak ada salahnya aku mencintai apa yang tidak seharusnya aku cintai. Ini hidupku, aku yang akan menanggungnya. Asal kamu tau, kalaupun nanti dia menyakitiku itu tidak akan membunuhku karena aku sudah mengalami lebih dari sekedar patah hati karena seorang laki-laki. Jadi jangan buang waktumu sia-sia karena menunggu dia untuk mencampakkanku. Karena meskipun itu terjadi belum tentu aku akan datang padamu.”

“Karena aku tidak akan melakukannya.” Mereka semua menoleh dan melihat Taekwoon yang sangat jarang bicara dan ikut campur masalah orang lain tiba-tiba menghampiri Yaena dan Seunghyun. “Aku tidak akan menghalangimu berteman dengan Yaena tapi aku tidak akan membiarkanmu menyakitinya seperti itu, kau bisa berurusan langsung denganku. Lagi pula aku tidak akan melakukan hal yang kau tuduhkan padaku barusan.”

Taekwoon melihat pemuda di hadapannya menatap dingin kearahnya, “aku tau kau pasti akan menyakitinya nanti.” Ujar Seunghyun sebelum berbalik dan pergi meninggalkan mereka.

Melihat pemuda itu menghilang dibalik kerumunan yang berlahan mulai membubarkan diri dengan sendirinya, Taekwoon lalu melihat kearah Yaena yang juga melihat kearah Seunghyun pergi.

“Kamu tidak apa-apa?”

Yaena menghembuskan nafas panjang dan memasang wajah cemberut, “meskipun kadang dia menyebalkan tapi dia teman yang sangat baik.”

Dia mengangkat wajahnya dan melihat kearah Taekwoon sebelum memperhatikannya dengan dahi berkerut, “kenapa dengan ekspresi itu?”

“Kenapa?”

Yaena mengulurkan tangannya dan menelusuri garis tegang di antara alis mata Taekwoon. Dia tau kalau hubungannya dengan Taekwoon tidak akan semulus yang mereka bayangkan. Seunghyun benar, mungkin nanti Taekwoon akan menyakitinya tapi mungkin juga dia yang akan menyakiti Taekwoon. Setidaknya sekarang mereka berusaha untuk saling mencintai.

“Jangan pikirkan apa yang Seunghyun bilang. Dia memang seperti itu.” Gumamnya setelah menarik tangannya kembali. “Aku tidak menerimamu karena hartamu. Aku tidak terlalu suka barang-barang mahal pemberian orang lain. Jadi kalau sekarang kamu sedang berpikir untuk memberikankanku barang mahal aku akan membunuhmu lalu aku akan bunuh diri. Mengerti?”

Taekwoon tertawa samar mendengar kata-kata terakhir yang diucapkan Yaena. Dia mengulurkan kedua tangannya dan menangkup pipi gadis yang menatapnya dengan sungguh-sungguh. “Aku mengerti. Jadi kamu juga jangan pikirkan apa yang dia bilang…kenapa?” Tiba-tiba dia merasa bingung dengan perubahan ekspresi di wajah Yaena.

“Jangan tersenyum seperti itu di depan perempuan lain. Mereka bisa semakin tergila-gila padamu dan merebutmu dariku.”

Mendengar isi hati Yaena yang disampaikannya secara gamblang Taekwoon tersenyum puas. Perasaannya tidak pernah merasa selega dan senyaman ini. Dia berjanji dalam hatinya kalau dia akan melakukan apapun untuk tetap bersama gadis ini. Menyayanginya dan mencintainya. Taekwoon menarik tangan Yaena dalam genggamannya.

“Sekarang kamu mau kemana?”

“Ruang HPC. Kenapa?”

Taekwoon menggelengkan kepalanya saat Yaena bertanya dengan heran. “Aku akan mengantarmu.”

Meski bukan sesuatu yang menyenangkan untuk dihadapi dalam hubungan mereka yang masih terbilang sangat baru. Mereka tidak terlalu mengenal satu sama lain saat memulai hubungan mereka. Kalau saja bukan karena sikap keegoisan Seunghyun pada perasaan Yaena mungkin dia tidak akan pernah merasa sangat yakin kalau Taekwoon memang sangat menyayanginya.

*end*

 

6 thoughts on “[TwoShot] Namehwa #2

  1. keren banget thor sumapah ^^ kata-katanya dan penyusunan katanya bagus (y) Leo nya jadi keliatan so sweet 😉

  2. ouhhhhhhh~~ celupin hayati dirawa2 banggg~~ bisa.bayangin senyum kreditya bang taekwooon. ampoonnn~ selalu ngakak sama scene obrolannya mereka. berasa real wkwk konyol tapi gak dibuat2 rasanya. yah padahal tetep aja fanfict but serious aku suka bgt hikijuju

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s