[FF Freelance] A Girl Who Reads

A GIRL WHO READS POSTER

A GIRL WHO READS

RATING: PG-13 | GENRE: ROMANCE, FLUFF| LENGTH: ONESHOT| AUTHOR : beautywolf (@beautywolfff)| CAST: LUHAN (EXO-M), YOONA (SNSD)

Summary:

“You should date a girl who reads.”

***

Disclaimer:

Already posted at other fanfiction website.

Plot & poster originality by me.

Check our other stories at: http://beautywolfff.wordpress.com ^^

***

[First encounter.]

 

Perpustakaan menjadi saksi bisu dimana Luhan bertemu dengan perempuan itu untuk yang pertama kalinya.

Perempuan itu kali ini sedang duduk diam di tempatnya. Kedua matanya tak lepas dari buku yang berada dalam genggaman tangannya. Ia terlihat hanyut dalam dunianya sendiri. Dunia yang tak bisa ia lihat. Dunia yang hanya ada dalam imajinasi perempuan itu saja bersama bukunya.

Dunia yang bahkan tidak bisa Luhan sentuh.

 

Luhan berusaha mengingat-ingat bagian awal dari cerita saat ia bertemu dengan perempuan spesial dengan buku yang selalu setia bersamanya itu.

 

Suatu saat, ia sedang dihukum karena tidak mengerjakan pekerjaan rumah yang diberikan padanya sehari sebelumnya. Lalu, Yesung Songsaengnim memerintahkan Luhan untuk pergi ke perpustakaan karena ia diwajibkan mengerjakan karya ilmiah sebagai ganti. Luhan yang mau tidak mau harus setuju, berakhir dengan menyeretkan kakinya dengan malas menuju ruangan penuh buku berdebu yang membosankan itu dengan pandangan tidak tertarik.

Disaat ia sibuk memilih buku sebagai bahan referensi karya ilmiahnya, matanya tak sengaja bertatapan langsung dengan kedua bola mata indah yang terbingkai kacamata di celah antara kedua buku dan dibatasi rak yang saling berlawanan.

Perempuan itu terdiam sejenak, sepertinya tidak menyadari (atau tidak peduli?) dengan keberadaan Luhan yang sedang memperhatikannya lama dari balik rak. Perempuan itu segera mengambil buku yang ia perlukan dan pergi berlalu dari hadapan Luhan yang masih terdiam kaku.

Terbayang dalam otaknya kedua pasang mata berwarna cokelat yang jernih terlihat, meskipun terhalang kaca bening yang membingkai matanya. Pandangan mata yang teduh itu terlihat berbinar cerah saat melihat cover buku yang dicari akhirnya ia temukan. Bayangan itu sedikit demi sedikit membuatnya merasa ‘ia mulai gila’. Berkali-kali Luhan memukul dahinya sendiri.

Bahkan karena itu pula tugas yang ia kerjakan tidak selesai karena terlalu sibuk memikirkan perempuan yang parahnya lagi, tidak ia ketahui namanya.

 

Dan pada akhirnya, yang ia dapatkan hanyalah omelan panjang dari Yesung Songsaengnim.

Hari ini, ia melihat perempuan itu lagi. Duduk di kursi baca dengan buku yang ia genggam erat di tangannya; seperti biasa.

Tanpa pikir panjang, Luhan memilih untuk duduk di sebelahnya. Perempuan itu tetap tak bergeming. Acuh tak acuh. Seperti tidak peduli dengan keadaan disekitarnya. Luhan menghela napas panjang. Entah mengapa ia merasa sedikit gugup kali ini. Padahal ia adalah seorang idola wanita yang terkenal seantero sekolah. Ia bisa menarik perhatian siapa saja yang ia mau.

Namun sepertinya pengecualian untuk perempuan ini.

Ia berbeda dengan perempuan kebanyakan yang selalu menjerit histeris saat melihatnya memasukkan bola ke dalam gawang, ataupun mereka-mereka yang selalu menyelipkan barang-barang serta cokelat dan surat cinta ke dalam lokernya. Perempuan ini dingin. Tak tergapai. Tak tersentuh. Ia seperti mempunyai dinding pembatas antara dunia nyata dan dunianya sendiri.

Perempuan ini berbeda.

 

Luhan memberanikan diri untuk menepuk bahu perempuan itu. Dengan amat perlahan tentunya.

Perempuan itu terlihat sedikit tidak senang. Ia menengadahkan kepala untuk melirik, melihat siapa yang berani mengganggunya saat ia sedang membaca buku. Pandangan matanya bertatapan langsung dengan kedua mata Luhan untuk yang pertama kalinya. Ia terlihat sedikit terkejut. Kemudian ia menjauhkan diri sebisa mungkin dari Luhan. Luhan memandangnya heran.

Apa aku terlihat seperti monster dalam novel yang ia baca selama ini sehingga ia terlihat sangat takut?

“A-ada apa?” Perempuan itu bertanya dengan suara terbata-bata. Luhan berusaha menahan tawanya dan menyeringai sedikit.

“Uh tidak, santai saja. Aku tidak akan menggigitmu.” Luhan tersenyum menenangkan. Perempuan itu tetap tidak bergerak. Menatapnya dengan pandangan antara curiga, takut dan bingung.

“Apa membaca buku begitu mengasyikkan?” Luhan bertanya lagi setelah perempuan itu tidak merespon perkataannya barusan. Matanya memandang buku di genggaman tangan perempuan itu dengan penasaran. “Kau bahkan seperti hidup dalam duniamu sendiri. Aku jadi penasaran.” Luhan mengakhiri kalimatnya.

Perempuan itu terdiam. Ia mengarahkan matanya ke name tag di sisi kanan baju laki-laki itu. Tertulis nama ‘Xi Luhan’ disana. Ia berusaha mengingat-ingat nama laki-laki di hadapannya itu. Rasanya ia pernah mendengarnya sesekali karena Luna pernah menyebutkan namanya dalam salah satu pembicaraan mereka. Tapi ia tidak terlalu serius memperhatikan Luna berbicara karena sibuk sendiri dengan pikiran-pikiran yang ada di otaknya tentang bagaimana kira-kira jalan cerita chapter selanjutnya dari fanfiction yang baru saja dia baca.

Tanpa ia sadari, lelaki itu sudah menjulurkan tangannya. Senyum terukir manis di bibirnya, senyum menawan seorang idola sekolah.

Perempuan itu seperti tersadar.

 

Astaga, Ini Luhan! Yang selalu dielu-elukan di sekolah ini.

Aku ingat sekarang.

 

“Salam kenal—” Luhan berusaha membaca name tag yang terpasang di sisi kanan pakaian perempuan itu. “Ah.. Im Yoona-ssi.”

Yoona yang sedari tadi hanya diam, akhirnya merasa tidak enak hati dan memilih untuk membalas jabatan tangan Luhan. Ia berusaha menjaga jarak setelahnya. Yoona tidak terlalu menyukai orang seperti Luhan. Terlalu populer. Dikelilingi banyak orang. Terlalu ramai dan mengganggu. Sementara ia sendiri adalah tipe orang yang mencintai ketenangan dan kesendirian.

Laki-laki itu tersenyum hangat, sementara yang bisa Yoona lakukan hanyalah menganggukkan kepalanya dengan canggung. Lalu tangannya beralih untuk membenarkan letak kacamatanya yang hampir melorot. Dalam hati ia berharap Luhan segera pergi agar ia bisa kembali fokus pada bacaannya lagi.

Dan saat ia mulai memperhatikan sekelilingnya, ia juga baru menyadari sekarang semua mata di ruangan ini sedang tertuju padanya.

Ugh.

Yoona kembali memandang wajah Luhan.

 

Tapi…Jika ia boleh jujur..

Laki-laki tampan di depannya ini seperti mengingatkannya pada tokoh-tokoh dalam novel romantis yang selama ini ia baca.

Ia (hampir) mendekati sempurna.

 

….Mungkin.

 

[Yoona’s life.]

“Date a girl who reads. Date a girl who spends her money on books instead of clothes, who has problems with closet space because she has too many books.

Date a girl who has a list of books she wants to read, who has had a library card since she was twelve.

 

 Yoona mencintai buku sejak ia masih kecil. Jika ia disuruh memilih, ia akan memilih dibelikan berbagai buku daripada berpasang-pasang baju yang hanya tergantung percuma di lemarinya tanpa tersentuh. Karena banyaknya koleksi buku yang ia miliki, seluruh kamarnya seperti lautan buku. Ia memiliki masalah yang cukup serius dengan sisa-sisa ruangan dalam kamarnya karena setiap sudutnya pasti ditemukan buku. Entah buku apa saja. Ibunya selalu merasa kesal saat memasuki kamarnya.

Kamarnya lebih pantas disebut…kapal pecah.

Bahkan mungkin lebih buruk?

 

Yoona memiliki sendiri daftar nama buku apa saja yang selanjutnya ingin ia baca. Mulai dari buku terkenal, buku sejarah, buku fiksi, nonfiksi, horror, banyak macamnya. Daftarnya sangat panjang hingga berlembar-lembar. Ia bahkan mempunyai buku tulis khusus untuk mencatat buku apa saja yang harus ia beli saat ia ke toko buku setiap seminggu sekali. Tempat favorit keduanya setelah toko buku tentu saja adalah perpustakaan. Ia sudah mempunyai kartu keanggotaan resmi perpustakaan sejak berumur dua belas tahun, tepat disaat perempuan seumurannya masih bermain boneka Barbie dan membicarakan kartun di televisi, bukan membaca selusin buku dan berdiam diri di perpustakaan seperti dirinya.

Saat ia memasuki sekolah menengah pertamanya, semua perempuan di kelasnya sedang sibuk membicarakan laki-laki tampan di sekolah mereka. Tetapi Yoona berbeda, ia malah sibuk sendiri membayangkan sosok laki-laki sempurna dalam novel yang ia baca. Dan pada akhirnya, ia hanya bisa berangan-angan dan berpikir bagaimana caranya menemukan laki-laki seperti itu dalam kehidupan nyata.

Karena percayalah, laki-laki sempurna itu hanya ada dalam sebuah buku.

Atau film.

Mereka hanya ada dalam sebuah imajinasi.

[Can I join?]

“Find a girl who reads. You’ll know that she does because she will always have an unread book in her bag.

 She’s the one lovingly looking over the shelves in the bookstore, the one who quietly cries out when she has found the book she wants.

You see that weird chick sniffing the pages of an old book in a secondhand book shop? That’s the reader. They can never resist smelling the pages, especially when they are yellow and worn.”

Dan di suatu siang yang cerah saat sedang berjalan-jalan, Luhan menemukan Yoona. Sepertinya mereka memang selalu ditakdirkan untuk bertemu, dan (lagi-lagi) tidak pernah jauh dari hal yang berbau buku. Tidak lain dan tidak bukan, ia sedang berada dalam sebuah toko buku yang berada di sisi kiri jalan. Dari luar kaca bening, terlihat ia sedang berjinjit, berusaha keras menggapai buku yang berada di rak paling atas yang berada cukup jauh dari jangkauannya.

Luhan menyeringai lebar saat menemukan perempuan yang ia sukai itu.

 

‘Kling..’

Suara bel menandakan ada pengunjung baru yang datang menggema lembut ke seluruh ruangan. Yoona tetap tidak mengalihkan pandangan dari sinopsis buku yang ia ambil dengan susah payah tadi. Matanya membaca satu persatu serangkaian kalimat yang memenuhi kepalanya.

Sempurna! Ini yang ia inginkan. Plot cerita yang tidak biasa dan membuatnya penasaran. Ia memasukkan buku itu ke tas belanjanya dengan semangat. Kemudian ia melangkahkan kaki menuju ke rak buku lainnya.

Dari arah yang berlawanan, Luhan mendekat ke rak buku yang sama. Ia hendak menyapa Yoona, namun sebelum ia sempat mengucapkan sepatah kata, Yoona sudah menabraknya duluan karena terlalu bersemangat. Kacamata yang bertengger manis di hidungnya melorot sedikit. Ia berkali-kali membungkukkan badan dan mengucapkan kata maaf.

Gwenchana.” Luhan tertawa. Yoona menengadahkan kepala dan menatap orang yang ia tabrak barusan. Napasnya tertahan.

Laki-laki kemarin.

“Kau begitu mencintai buku ya. Buktinya aku selalu bertemu denganmu di tempat yang berbau buku.” Ujar Luhan dengan nada suara yang terdengar sedikit penasaran. “Aku membayangkan kamarmu pasti penuh dengan buku.”

Yoona terpaku di tempatnya. Di hadapan laki-laki ini, ia tidak bisa berbicara. Lidahnya kelu.

Seharusnya ia mengucapkan kata-kata yang lebih baik untuk sekedar membalas kalimat Luhan…Seperti yang ada dalam novel. Seharusnya ia bisa berinteraksi dengan lebih menyenangkan…Seharusnya ia tidak hanya diam seperti ini…Seharusnya seperti itu..

“Uh, kalau bisa…bolehkah aku..ikut bersamamu?” Luhan bertanya ragu. Takut perempuan ini tetap diam tanpa menjawab. Dari awal Luhan bertemu dengannya, ia tidak pernah mengeluarkan sepatah kata pun. Luhan bahkan tidak pernah mendengar suara Yoona sama sekali. Saat ia berkenalan dengannya kemarin, perempuan itu hanya membalas jabatan tangannya dan terdiam canggung. Lalu tak lama kemudian ia berdiri dan melangkah pergi tanpa mengatakan apa-apa, meninggalkan Luhan sendiri.

Ia perempuan yang sangat dingin. Padahal ia ingin mengenal lebih dekat perempuan di hadapannya ini.

 

Yoona menatapnya dengan pandangan heran bercampur kaget.

“Hah?”

 

Itulah kata pertama yang didengar Luhan untuk pertama kalinya dari mulut Yoona.

“Yah…Um, aku bosan. Jadi…bolehkah aku ikut bersamamu?” Luhan menatapnya dengan pandangan memohon.

That puppy eyes…

Yoona mulai goyah. Ia terlihat bingung sejenak. Lalu akhirnya ia menjawab pelan,

“Terserah kau saja.”

Hah? Respon seperti apa itu, Yoona! Yoona merutuki dirinya sendiri. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Nada suaranya tadi terdengar amat canggung kan? Pasti. Ini buruk!

Kemudian ia memberanikan diri menatap wajah Luhan.

Luhan ternyata menyambut pandangan matanya dengan senyuman. Matanya berbinar senang. Melihatnya seperti itu, Yoona tidak bisa berkata apa-apa lagi.

 

Ia terpesona.

 

Kali ini Yoona tidak berjalan sendiri. Di sebelahnya berdiri seorang lelaki tampan yang sedari tadi mengacak-acak rambutnya sendiri dengan perasaan gugup. Ia berusaha mengalihkan kegugupannya dengan menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Jalanan ini penuh dengan pedagang buku bekas. Bau lembab tercium dimana-mana. Kontras dengan Luhan yang terlihat kebingungan, Yoona terlihat gembira. Berkali-kali ia keluar masuk toko, menyusuri jalanan tanpa lelah dari toko satu ke toko lainnya. Luhan sebenarnya tidak terlalu menyukai buku. Namun melihat kegembiraan yang terlukis di wajah perempuan yang berjalan berjejer dengannya, ia jadi penasaran.

Sebagus itukah?

Akhirnya ia mengikuti langkah Yoona masuk ke sebuah toko buku bekas. Di sudut kiri, ia terlihat sedang membaca sebuah buku yang halamannya sudah menguning.

“Buku apa itu?” Luhan mendekatkan diri. Yoona menjawab dengan lugas.

“Entahlah. Aku baru melihatnya sekarang. Namun sepertinya seru, penulisnya Stephen King. Penulis buku misteri kesukaanku.” Ia tersenyum, namun ia tidak memandang wajah Luhan sama sekali karena terlalu fokus pada buku yang berada di tangannya. Saat hendak berbalik, Yoona baru menyadari betapa dekat jaraknya dengan Luhan kini. Bahkan, aroma citrus yang menyegarkan berhasil masuk ke indra penciumannya. Bau tubuh Luhan.

Tanpa bisa ia cegah, kedua pipinya menghangat. Luhan yang tidak sadar, hanya mengangguk-angguk mengerti. Ia segera menjauh dan berjalan pergi meninggalkan Yoona dan memilih untuk melihat-lihat isi toko buku itu. Yoona masih terdiam di tempatnya. Tiba-tiba dadanya berdegup kencang. Ia menghembuskan nafas berkali-kali, berusaha menenangkan dirinya sendiri.

Jangan sampai Luhan melihat dirinya sekarang!

Akhirnya Yoona melangkahkan kakinya menuju kasir dan memilih untuk segera pergi keluar dari tempat ini untuk menghilangkan ketidakberesan yang terjadi padanya saat ini.

Luhan yang melihat Yoona keluar dengan sedikit terburu-buru segera melesat mengikutinya.

“Hei, tunggu aku Yoona-ssi!”

[Next step]

She’s the girl reading while waiting in that coffee shop down the street. If you take a peek at her mug, the non-dairy creamer is floating on top because she’s kind of engrossed already. Lost in a world of the author’s making. Sit down. She might give you a glare, as most girls who read do not like to be interrupted. Ask her if she likes the book.

Buy her another cup of coffee.

Mereka memutuskan untuk bertemu lagi.

 

Yoona masuk ke dalam sebuah kafe yang berada di dekat toko buku tempat mereka bertemu dengan tidak sengaja. Matanya berkeliling mencari tempat paling nyaman untuk diduduki. Sesaat setelah berhasil menemukannya, ia berjalan mendekati kursi itu dan duduk dengan tenang. Tangannya mencari-cari buku yang ia letakkan di dalam tas dan segera membacanya sembari menunggu Luhan datang.

Tak butuh waktu lama bagi Yoona untuk segera hanyut dalam cerita novel yang sedang ia baca. Ia tidak lagi memperhatikan cappucino yang ia pesan hingga terlihat krimer yang mengapung bebas berputar-putar di atasnya. Sementara di lain sisi, terlihat Luhan sedang berlari dengan sedikit terburu-buru. Berkali-kali ia melihat jam di tangannya. Lidahnya berdecak kesal. Ia sudah terlambat.

Luhan memasuki kafe dengan nafas terengah-engah. Matanya mencari-cari sosok dengan kacamata dan ia menemukannya. Di pojok yang paling teduh. Dengan buku. Selalu.

Itu pasti Yoona.

Ia melangkah mendekati Yoona dan tersenyum.

“Maaf membuatmu menunggu lama.”

Luhan mengambil tenpat duduk tepat di depan Yoona. Yoona hanya melirikkan matanya sedikit, menyadari keberadaan Luhan. Ia merasa sedikit terganggu, namun akhirnya ia memilih meninggalkan pandangannya dari buku yang ia baca sejenak, memandang Luhan lalu tersenyum tipis.

“Hai.”

Kemudian ia menundukkan kepala kembali, melanjutkan kegiatannya yang sempat terputus.

“Kau menyukai bukunya?” Luhan bertanya dengan nada suara rendah, seperti tidak mau terlalu mengganggu konsentrasi Yoona. Yang ditanyai hanya mengangguk sebagai balasannya.

Luhan segera berdiri kembali dan berjalan menuju kasir untuk memesan dua kopi lagi. Satu untuknya dan satu lagi untuk perempuan yang sedang bersamanya, yang duduk tepat di hadapannya dengan sebuah buku yang menjadi titik fokusnya.

 

Sepertinya ia akan membutuhkannya nanti.

 

[Something wrong?]

Let her know what you really think of Murakami. See if she got through the first chapter of Fellowship. Understand that if she says she understood James Joyce’s Ulysses she’s just saying that to sound intelligent. Ask her if she loves Alice or she would like to be Alice.

Luhan selalu menyukai Yoona yang selalu memberikan berbagai macam ekspresi saat membaca buku.

Mereka sudah saling mengenal satu sama lain selama kurang lebih satu bulan. Selama itu pula, Luhan selalu bertanya tentang berbagai hal padanya. Mungkin karena seringnya Yoona membaca buku, wawasannya amat luas. Ia bisa memberikan berbagai macam pendapat dari berbagai sudut pandang. Yoona adalah tempat favoritnya untuk berbagi cerita. Karena itu pulalah semakin lama mereka semakin dekat dan semakin sering berjalan bersama.

Yoona juga mulai berceloteh panjang lebar pada Luhan. Entah itu mengenai bukunya, atau impiannya menjadi penulis terkenal, atau membicarakan ide-ide yang berasal dari otaknya yang terkadang gila, atau tidak masuk akal, namun bisa juga manis seperti gula-gula.

Di suatu sore, mereka memutuskan untuk bertemu lagi. Untuk yang kesekian kalinya.

“Yoona!” Luhan berlari dengan sedikit tergesa menghampiri Yoona. Yang dipanggil hanya menoleh sebentar, lalu menganggukkan kepalanya.

“Halo, Luhan-ssi. Hmm, kau terlambat lima menit.” Yoona mengatakannya sambil kembali melihat lurus ke arah jam tangannya. Luhan menundukkan kepalanya, merasa bersalah.

“Uh, maaf.” Luhan tersenyum kecut.

Yoona tertawa kecil. “Aku hanya bercanda, tidak usah dianggap serius.”

Luhan mendesah lega.

“Jadi, sekarang?”

“Ayo.” Yoona bangkit dari tempat duduknya dan melangkah mendekati tempat Luhan berdiri. “Kita berangkat sekarang.”

Mereka berjalan bersebelahan dalam diam. Sesekali Yoona terlihat seperti hilang dalam pikirannya sendiri, hingga terkadang ia seperti tersandung sesuatu. Kemudian ia akan kembali berjalan tegap dan tersenyum keki.

“Kau tidak apa?” Luhan bertanya khawatir. Yoona menjawab dengan gelengan kepala.

“Terkadang aku bingung denganmu.” Luhan berkata lagi sambil menghela napas panjang. “Kau seperti sedang berada dalam duniamu sendiri.” Ia jujur kali ini.

“Oh, Luhan-ssi..” Yoona terlihat bingung sesaat, tidak tahu harus menjawab apa. “A-aku…sedang memikirkan novel yang baru kubaca tadi.”

“Memang kenapa?” Luhan bertanya penasaran.

“Tidak…aku bahkan tidak bisa melewati chapter pertamanya. Terlalu rumit.” Yoona berkata lesu. “Aku agak sedikit menyesal.”

“Ah, begitu.” Luhan mengangguk paham. “Oh iya, aku lupa. Aku menemukan buku cerita klasik yang bagus. Dan kuyakin kau pasti tahu.”

“Apa itu?” Sorot mata Yoona berbinar, ia kelihatan tertarik.

Alice in Wonderland.

“Ah itu!” Yoona menjawab dengan semangat. “Salah satu buku klasik kesukaanku.” Ia tertawa.

“Kau menyukainya?” Luhan bertanya lagi. “Meskipun cerita itu agak sedikit khayal. Tetapi…jika kau punya kesempatan, apa kau ingin menjadi sepertinya?”

“Uh, aku menyukainya dan tentu saja! Aku ingin menjadi seperti dia.” Yoona menyahut cepat. “Rasanya pasti akan menyenangkan bermain-main seperti itu. Aku mau bertemu kelinci yang memakai kacamata. Dan bertemu kartu-kartu yang hidup.” Yoona kembali berceloteh. Berangan-angan seperti biasanya. Melihat Yoona yang seperti itu, Luhan hanya ikut tertawa. Kemudian tanpa sadar tangannya mendekat ke arah kepala Yoona dan mengacak-acak rambutnya pelan.

“Kau selalu saja menjadi Yoona yang begitu mencintai buku.”

Tiba-tiba kedua pipi Yoona menghangat.

 

Ia tidak tahu, benar-benar tidak tahu apa yang sedang terjadi padanya sekarang.

 

[Cheesyconfession]

It’s easy to date a girl who reads. Give her books for her birthday, for Christmas, for anniversaries. Give her the gift of words, in poetry and in song. Give her Neruda, Pound, Sexton, Cummings. Let her know that you understand that words are love. Understand that she knows the difference between books and reality but by God, she’s going to try to make her life a little like her favorite book. It will never be your fault if she does.

She has to give it a shot somehow.

Kedekatan mereka menginjak bulan ke-tiga.

Hari ini Yoona genap bertambah usia yang ke-delapan belas tahun. Pagi-pagi sekali kedua orang tuanya bangun, memberinya kejutan sebuah cake kecil dengan lilin berangka 1 dan 8, serta tidak lupa sebuah kotak kado besar yang ia yakini isinya berisi buku. Bergantian ia mencium kedua pipi orang tuanya dan tersenyum senang. Hari ini akan menjadi hari yang menyenangkan.

Luhan menghubunginya juga baru saja. Hari ini laki-laki itu hendak mengajaknya keluar lagi untuk yang kesekian kalinya. Dan Yoona menyetujuinya.

Luhan menjemputnya di rumah. Hari ini ia memakai setelan kasual, sebuah sweater biru dan celana jeans, lengkap dengan sneakers merah yang menutupi kedua kakinya. Yoona tersenyum cerah melihat siapa yang sudah menunggunya di depan pintu. Karena hari ini hari yang spesial, ia memutuskan juga untuk sedikit berdandan lebih baik daripada biasanya.

Yoona segera keluar dari pintu dan menyapanya dengan semangat. Saat melihat Yoona untuk yang pertama kalinya hari itu, Luhan terkesiap. Perempuan itu benar-benar terlihat cantik dari mulai dari atas kepala sampai bawah kaki. Ia sempat terpana sebentar, hingga akhirnya Yoona menepuk pundaknya pelan, menyadarkannya bahwa ia masih menginjak bumi.

Tak lama kemudian mereka segera berpamitan dengan kedua orang tua Yoona dan masuk ke dalam mobil Luhan.

Suasana di mobil menjadi agak canggung sedikit, sampai akhirnya Yoona bertanya dengan ragu.

“Mengapa kau daritadi hanya diam, Luhan?” Wajahnya terlihat sedikit khawatir. Luhan menggelengkan kepalanya cepat-cepat.

“Ti-tidak apa-apa. Uh, hanya saja.. Kau…hanya terlihat sangat cantik hari ini.”

Sepersekian detik kemudian, Luhan menyesalkan mulutnya yang mengeluarkan kalimat itu begitu saja tanpa bisa direm. Luhan menanti respon perempuan itu dengan takut-takut.

Mendengar perkataan Luhan, Yoona hanya bisa tersipu sambil tertawa kecil. Berbalik 180 derajat dari apa yang sudah Luhan perkirakan.

“Hari ini spesial, Luhan.” Ia berkata semangat. “Karena itu aku memilih untuk sedikit berdandan. Tidak buruk kan?”

“Tidak, tidak sama sekali.” Luhan menjawab cepat. Yoona tertawa melihat tingkah Luhan yang ia rasa sangat lucu hari ini. Setelah selesai tertawa, mereka kembali sama-sama diam.

Akhirnya Luhan memilih untuk menyalakan radio di mobil dan memperbesar suaranya sedikit untuk menghilangkan sedikit keheningan di dalam mobil ini. Beruntung, Yoona mengikuti alunan lagu di mobil dan bernyanyi-nyanyi kecil. Luhan mendesah lega.

Saat ini mobil sedang berada di pemberhentian lampu merah. Luhan segera merogoh kantong di bawah jok kursi pengemudi dan menyerahkannya pada Yoona.

“Hm? Apa ini?” Yoona bertanya dengan sedikit bingung.

“Buka saja.” Luhan menjawab pelan, lalu segera ia menggerakkan persneling mobilnya ke gigi tiga dan menekan gas dalam-dalam, melaju kembali saat melihat lampu merah berubah warna menjadi hijau.

“Bu-ku..?” Yoona bertanya sedikit ragu. Luhan mengangguk.

Saengil chukhae hamnida, Yoona-ya. Jangan kau kira aku tidak tahu kapan kau berulang tahun.” Luhan tertawa kecil. Mata Yoona berbinar melihat ketiga buku serial yang sudah berada di tangannya itu. Ketiga buku itu yang selama ini berada dalam daftar teratas buku yang ia cari.

Dan istimewanya lagi, cover buku yang dihadiahkan Luhan adalah versi limited edition.

Jeongmal gamsahamnida!” Yoona hampir saja berteriak keras karena terlalu senang, namun ia segera mengontrol dirinya sendiri. “Astaga ini buku yang selama ini kucari-cari! Bagaimana bisa kau tahu? Dan hebatnya lagi, bagaimana bisa kau menemukannya?”

“Aku sering mendengarmu menyebutkan buku itu di percakapan kita.” Luhan menjelaskan. “Lalu aku mencoba untuk bertanya pada saudaraku di Inggris, dia punya toko buku. Lucky me. Ketiga buku itu merupakan stok terakhirnya.Luhan tersenyum. Ia merasa sangat puas melihat respon Yoona. Ia tahu perempuan itu pasti senang.

Yoona merasa sangat bahagia. Berkali-kali ia berterimakasih pada Luhan.

Lalu mobil mereka berhenti di depan sebuah kafe yang terlihat nyaman.

 

“ Permisi, mau memesan apa?” Suara ramah seorang pelayan membuyarkan lamunan mereka. Luhan mendongakkan kepalanya dan wajahnya terlihat surprised.

“Ah, Sehun-ah! Kau disini!” Luhan berteriak senang begitu mengetahui siapa pelayan yang melayani mereka. Seseorang bernama Sehun itu menaruh telunjuknya di bibir, menyuruh Luhan diam agar tidak terlalu berisik.

“Iya, aku tahu kau senang bertemu denganku, hyung. Tapi kau tidak sendirian di kafe ini.” Ia tertawa kecil. “Jadi, apa kau datang bersama seseorang kali ini? Hmm…aku berpikir dia pasti sangat spesial untukmu karena  kau membawanya kesini.”

“Psst, Sehun. Kau membuatku malu.” Luhan menyela. Yoona yang mendengarkan percakapan mereka tiba-tiba merasakan dadanya mulai berdebar cepat. Kedua pipi Luhan kini merona merah.

“Catat saja sekarang Sehun, aku mau Vanilla Cappucinno blend satu, dua plain cheesecake dan satu Vanilla Latte.” Luhan menyebutkan pesanan mereka dengan lancar. Mereka sudah sering keluar bersama ke kafe, dan mereka sudah hafal dengan minuman dan makanan kesukaan masing-masing. Sehun mencatat dengan baik-baik.

“Nah kalau begitu aku permisi, nona. Dan hyung, goodluck untukmu.” Sehun mengedipkan satu matanya, lalu segera berbalik pergi.

“Apa-apaan dia.” Luhan menggerutu. Sehun hanya bisa merusak suasana.

Ia tidak mengira selanjutnya ia akan mendengar suara Yoona yang tertawa kecil. Luhan menoleh, kemudian Yoona menghentikan tawanya. Namun ia masih menutup mulutnya rapat-rapat dengan tangan, takut-takut tawa itu tumpah lagi.

“Mengapa kau tertawa…” Luhan mengernyitkan dahinya heran. Yoona menggeleng.

“Tidak apa, kau lucu.” Yoona tertawa lagi, namun tidak sekeras tadi.

“Aku tahu, nona. Aku memang seorang komedian handal.” Luhan ikut tertawa. Yoona tersenyum sendiri mendengar kalimat Luhan.

Kemudian mereka mulai mengobrol panjang lebar. Seringnya percakapan mereka didominasi oleh Yoona yang kebanyakan berbicara tentang buku yang sedang ia baca dan menceritakan hal menarik yang ada di buku itu padanya. Tema pembicaraan mereka melompat-lompat, dari misteri ke drama, dari drama ke komedi, dan begitu seterusnya. Hingga akhirnya mereka lelah berbicara dan diam sejenak.

Keheningan di antara mereka berdua entah mengapa membuat Luhan merasa nyaman, begitu pula Yoona.

Luhan mengambil napas banyak-banyak. Kemudian mengembuskannya perlahan sebelum ia mulai membuka mulutnya. Kali ini raut wajahnya terlihat serius.

“Yoona.” Suaranya yang berat memanggil Yoona. Yoona merasakan sedikit sensasi menyenangkan mendengar Luhan memanggil namanya.

“Ya?”

“Aku mau…memberitahukanmu sesuatu.” Luhan bergerak-gerak gelisah. Yoona sudah tahu kemana pembicaraan ini akan berlanjut. Namun ia masih tetap mendengarkan baik-baik. Senyum tak lepas dari bibirnya.

“Aku..menyukaimu..

Dan aku yakin kau pasti sudah tahu.”

 

“Hm..” Yoona menggumam pelan. Tentu, Ia tahu.

“Dan…aku tidak memaksamu untuk menerimaku. Tapi aku hanya ingin kau tahu.” Luhan menyelesaikan kalimatnya.

 

“Sudah?” Tanya Yoona, memastikan.

Luhan mengangguk.

 

“Apa kau yakin?”

Mendengar satu kata dari Yoona, membuatnya sedikit bingung. Harapannya melambung tinggi. Jelas, Yoona menyuruhnya untuk jujur tentang perasaannya sendiri kali ini. Ia mulai menyusun berbagai kalimat pernyataan cinta di otaknya, namun ia tidak menemui cara terbaik untuk mengungkapkan perasaannya.

Namun Luhan spontan menggumamkan serangkaian kalimat.

“I love you the way a drowning man loves air. And it would destroy me to have you just a little.”

 

Yoona membelalakkan matanya. Itu adalah salah satu kalimat dari buku yang sedang ia baca sekarang, The Crown of Embers karya Rae Carson. Salah satu kalimat yang benar-benar memorable untuknya. Dan satu yang ia tidak menyangka, ternyata Luhan juga membacanya?

“Luhan..?”

“Maaf Yoona, aku mencoba untuk membaca buku sedikit demi sedikit. Aku juga ingin mengerti apa yang kau sukai, jadi aku berusaha mencoba membaca beberapa dari mereka. Dan yah, kurasa itu tidak terlalu buruk. Membaca itu cukup menyenangkan.” Luhan tertawa, tetapi di waktu bersamaan, ia juga terlihat amat gugup. “Ta-tapi tidak sehebat dirimu yang bisa membaca beberapa buku dalam sehari..”

Yoona menutup mulutnya dengan kedua tangan. Ia tidak bisa berkata-kata lagi.

Ia merasa Luhan sudah begitu sempurna untuknya. Ia mau menerimanya apa adanya, menerima seorang Yoona yang kendati seorang kutu buku dan pendiam. Semua pembicaraannya pasti membosankan karena hanya berkutat di itu-itu saja, tetapi Luhan tidak pernah protes. Bahkan ia berusaha keras untuk mengerti dirinya dengan mencoba hobinya. Berusaha mengikuti arah pembicaraannya. Untuk hal yang satu itu, ia patut memberi Luhan penghargaan karena usaha kerasnya.

“Bagaimana, nona?” Luhan bertanya lagi. Ia terlihat sedikit tidak sabar.

“Bagaimana apanya?” Yoona masih saja berusaha memastikan ini semua nyata.

“Tentu saja, jawaban atas pertanyaan tadi kan?…Can I have you…not just a little…?”

“Tentu” Yoona menjawab tanpa berpikir panjang lagi. “Aku berusaha keras membuat hidupku seindah buku favoritku. Tentu aku tahu bedanya kenyataan dengan tidak. Tapi entah mengapa rasanya ini semua seperti mimpi dan tanpa perlu bersusah payah, Tuhan membuat hidupku lebih indah daripada kehidupan di buku favoritku.” Yoona tersenyum lembut.

Luhan menatapnya tidak percaya. Mendengar pernyataan itu keluar langsung dari bibir Yoona membuatnya terlalu senang. Terlalu sulit untuk mempercayai bahwa Yoona kini sudah resmi menjadi kekasihnya.

I love your feet because they have wandered over the earth and through the wind and water until they brought you to me.” Luhan memberikan serangkaian kalimat lagi, lengkap dengan gestur tubuh yang sedikit kaku. Lalu ia berhenti dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

“Ugh, too cheesy. Maaf.” Kemudian Luhan hanya bisa tertunduk malu.

“Neruda…?” Yoona sekali lagi bertanya memastikan. Luhan mengangguk canggung.

“Ya Tuhan, Luhan. Kau membaca kumpulan puisi juga rupanya!”

Lalu ia tertawa lagi. Lagi dan lagi.

 

Sempurna.

Hari ini sempurna, untuk Yoona. Dan Luhan. Mereka berdua.

 

[A little white lie.]

Lie to her. If she understands syntax, she will understand your need to lie. Behind words are other things: motivation, value, nuance, dialogue. It will not be the end of the world.

“Maafkan aku, Yoona.” Luhan memandangnya dengan wajah menyesal. Yoona meneliti dalam-dalam ekspresi wajah Luhan. Berusaha mendeteksi adanya kebohongan disana.

Positif.

“Apa kau yakin, kau baik-baik saja?” Yoona bertanya sekali lagi dengan sedikit ragu-ragu. Mungkin kali ini Luhan akan berkata jujur dan mau berbagi tentang masalahnya pada Yoona.

Tetapi tidak, ia tetap bersikukuh semuanya baik-baik saja dan ia tidak memerlukan bantuan siapapun.

“Tentu saja, Yoona. Aku baik-baik saja, sangat baik, kuulangi jika kau tidak percaya. Aku pasti bisa melakukannya sendiri.” Luhan berusaha menenangkan perempuan di hadapannya ini. Ia yakin Yoona tahu ia sebenarnya berbohong. Pasti.

Namun yang dikatakan Yoona berbalik dari apa yang Luhan kira. Ia mengira biasanya perempuan akan tetap merecokinya sampai ia harus berkata jujur dan semua rencananya akan gagal. Ia tidak mau terlihat lemah di depan para perempuan itu tetapi mereka tidak mau mengerti—Tetapi Yoona berbeda.

Ia hanya menganggukkan kepalanya. Lalu tersenyum.

“Oke, kalau nyatanya memang begitu. Kalau kau mengatakan kau baik-baik saja, aku percaya.” Yoona menjawab lugas. “Tetapi jika kau butuh bantuanku, ingat baik-baik, oke? Aku pasti akan selalu ada untukmu. Jangan pernah malu untuk meminta bantuan, Luhan. Semua orang termasuk aku, tidak akan bisa melakukan semua urusan sendirian. Semua orang pasti perlu bantuan orang lain. Begitu pula hidup, kau tidak akan bisa berhasil jika melakukan semuanya sendiri, kan? ” Yoona mengakhiri kalimat panjangnya dengan senyuman di bibir. Luhan terpana.

“Oh iya, satu lagi, semoga sukses untuk ulangan matematikamu hari ini. Aku ada kelas lima menit lagi. Aku duluan!” Ia melambaikan tangannya dan segera berlalu.

Luhan masih terpaku di tempatnya berdiri.

Yoona tahu ia berbohong. Tapi entah mengapa ia malah menyemangatinya di balik kata-katanya tadi. Ia memahami Luhan sepenuhnya. Ia tahu Luhan bukan orang yang suka untuk dibantu karena ia takut merepotkan orang itu. Dan Yoona menghargainya.

Tetapi perkataan Yoona benar.

 

Yoona memang selalu mengerti dirinya. Selalu.

[Breakup]

Fail her. Because a girl who reads knows that failure always leads up to the climax. Because girls who read understand that all things must come to end, but that you can always write a sequel. That you can begin again and again and still be the hero. That life is meant to have a villain or two.

Mereka sudah berpacaran kurang lebih dua setengah tahun.

Semua berjalan mulus seperti biasanya. Tidak ada yang terlalu istimewa, sehingga lama-kelamaan hubungan mereka mulai menjadi hambar. Tidak ada kejutan-kejutan lagi yang mewarnai hari-hari mereka. Semuanya masih tetap sama. Yoona masih mencintai buku-bukunya, sementara Luhan masih setia mendengarkan cerita-ceritanya.

Tetapi, Luhan mulai merasakan sesuatu yang ia takuti dari dulu: kebosanan.

Serta satu hal yang lebih fatal lagi, ia menemukan seorang perempuan yang ia rasa jauh lebih menyenangkan daripada Yoona. Perempuan itu mempunyai hobi yang cocok dengannya dan pasti jauh lebih mengerti daripada Yoona. Ia merasa posisi Yoona lambat laun mulai tergantikan.

 

Luhan mulai menghindari panggilan Yoona dan meninggalkannya sendiri. Ia mulai sering membatalkan janji yang sudah disusun jauh-jauh hari hanya untuk pergi keluar bersama teman-temannya, atau bahkan lebih parahnya lagi, ia akan diam-diam menemui perempuan dengan hobi yang sama itu di suatu tempat tersembunyi. Ia mulai tidak menghiraukan Yoona dan tidak pernah lagi mendatangi rumahnya. Ia berubah menjadi orang yang mudah sekali marah dan mulai jarang membalas pesan yang dikirim Yoona.

 

Yoona tahu ada yang tidak beres.

 

Ia tahu Luhan mulai menghindarinya, ia tahu.

Ia tahu Luhan sudah mulai tidak memperdulikannya lagi, ia pasti tahu.

Ia tahu Luhan sudah bosan dengannya, ia tahu. Sedari awal ia tahu Luhan pasti tidak akan kuat berlama-lama dengan gadis kutu buku semacam dirinya.

Ia tahu Luhan akan segera pergi meninggalkannya, itu pasti.

 

Yoona tersenyum sedih memandang teleponnya yang lagi-lagi ditolak. Ia sedang berada sendirian di perpustakaan. Buku-buku dengan berbagai judul berserakan di sekitarnya. Ia mendesah lesu lalu menidurkan kepalanya di atas meja. Handphonenya tidak lagi diisi dengan nama Luhan. Handphone itu mulai terasa sepi.

Ia tidak tahu Luhan berada dimana sekarang. Ia mengira-ngira mungkin Luhan sedang berada di rumah teman-temannya, bermain entah bermain apa. Atau mungkin sedang berada di restoran untuk makan bersama keluarganya. Atau mungkin…entahlah. Ia tidak tahu. Ia tidak mau berpikiran yang lebih jauh lagi. Ia tidak mau berprasangka buruk. Ia memercayai laki-laki itu.

 

Tiba-tiba layarnya menyala, satu pesan dari Luhan. Seseorang yang ia tunggu sedari tadi.

Datanglah ke kafe biasa tempat kita bertemu sekarang.

Tanpa pikir panjang Yoona segera bangkit dan berlari keluar perpustakaan.

Kini mereka berdua sudah duduk berhadap-hadapan di meja kafe tempat Luhan menyatakan cintanya dulu. Suasana kembali canggung. Hening yang menyelimuti mereka berdua terasa menyiksa. Tidak lagi nyaman seperti dulu.

Yang Yoona lihat dalam mata Luhan kini bukan mata yang sama seperti dua tahun yang lalu. Mata itu cahayanya mulai memudar. Sama dengan perasaannya yang sedikit demi sedikit mulai luntur.

Luhan memandangnya dengan sedikit gugup.

“Yoona..”

“Hei, Luhan. Long time no see.” Yoona melambaikan tangannya dengan semangat. Tingkah Yoona yang seperti itu membuat dirinya semakin gugup.

“Aku..”

“Kau sudah memesan sesuatu?” Yoona bertanya, menyela kalimat Luhan. Luhan menjawab dengan anggukan kepala. Yoona tersenyum. Senyum itu berhasil membuatnya merasakan sedikit debaran lagi. Tetapi tidak sekuat dulu.

“Jadi…?” Yoona menggerakkan kursinya untuk maju sedikit. “Kudengar kau mau membicarakan sesuatu hari ini, Luhan. Ayo katakanlah.”

“Yoona…aku…” Luhan mendesah pelan. “Aku sudah tidak menyukaimu lagi.” Luhan berusaha untuk memberitahunya dengan tegas dan sejujur mungkin kali ini. Ia berusaha membuat pembicaraannya itu menjadi sesingkat yang ia bisa, agar Yoona tidak terlalu merasa sakit hati. Ia harus mengakhirinya segera.

“Aku tahu.” Yoona menjawab tenang disertai dengan anggukan kepala. “Lalu?”

“Yoona…Aku juga sudah menyukai orang lain dan itu bukan kau.”

Yoona menghirup napas dalam-dalam, lalu dikeluarkannya perlahan lewat mulut. Ia berusaha menahan tangis dan berusaha tersenyum tegar. Entah mengapa rasanya sulit sekali mendengar kejujuran itu dari mulut Luhan sendiri. Tapi ia menghargai Luhan yang berani untuk jujur padanya.

“Aku mengerti, Luhannie.” Yoona tertawa sumbang. Melihat Yoona yang seperti itu masih terasa menyakitkan untuk Luhan. Ia memejamkan matanya berusaha memikirkan kembali, apakah keputusannya ini benar-benar sudah final…?

“Apa kali ini dia lebih baik dariku? Apa dia lebih cantik?” Yoona bertanya lagi. Setiap pertanyaannya membuat Luhan merasa ia seperti orang paling jahat di dunia.

“Apa dia lebih menarik? Dia pasti lebih menyenangkan dariku ya?”

“Yoona, hentikan..”

“Apa dia lebih segala-galanya dariku Luhan?” Ia bertanya tanpa henti. Suaranya mulai bergetar. Luhan merasa semakin lama ia merasa semakin bersalah.

“Aku tahu dari awal kau tidak akan pernah cocok denganku.” Yoona melanjutkan, tetap tersenyum.

“Tetapi kau yang bersikeras mendekatiku. Bahkan kau berhasil meluluhkan hatiku dengan usahamu. Aku patut memberimu penghargaan untuk yang satu itu. Kau benar-benar orang yang baik.” Yoona berkata panjang lebar. Ia berusaha mengontrol emosi dirinya sendiri. Berusaha menjaga nada suaranya tidak lagi goyah dan tetap terdengar tenang.

“Jadi…Luhan, pada intinya hubungan kita sudah berakhir ya?”

“Yoona..”

“Aku tahu semua konflik pasti akan mengarah menuju klimaks.” Yoona masih tetap berbicara. Ia tidak mau berhenti. Tidak sebelum Luhan mendengar semuanya.

“Tak kusangka klimaksnya berakhir dengan ending seperti ini. Tapi, kita masih selalu bisa membuat lanjutan sebuah cerita kan? Sebuah cerita tidak hanya berakhir hanya dalam satu buku. Kita bisa memilih ending kita sendiri, suatu saat nanti. Aku benar kan, Luhan?” Yoona mulai berbicara dengan tersendat. Luhan merasakan sedikit nyeri di dadanya. Ia masih mencintai Yoona, tetapi entah mengapa ia merasa semua ini harus diakhiri. Ia tidak mau menyakiti gadisnya itu lebih dari ini.

“Yoona, aku..”

“Jaga dirimu baik-baik, Luhan. Mungkin suatu saat kita dapat mengulang semuanya kembali. Tetapi dalam hal yang berbeda.” Yoona bangkit dari tempat duduknya. Vanilla Lattenya sama sekali tak tersentuh. “Aku mentraktirmu hari ini, anggap saja sebagai tanda terimakasihku untuk selama ini. Selamat tinggal.” Lalu Yoona pergi berlalu begitu saja meninggalkan Luhan sendiri. Ia takut Luhan akan melihatnya meneteskan air mata dan melihatnya sebagai perempuan lemah.

Luhan terdiam di tempat.

Berpikir ulang.

Apa semua yang jadi keputusannya ini sudah benar?

 

[A Chance]

Why be frightened of everything that you are not? Girls who read understand that people, like characters, develop. Except in the Twilight series.

 

Mereka sudah tiba di hari kelulusan, wisuda resmi mereka.

Hari ini Luhan memakai jas kebanggaannya. Ia terlihat sangat tampan hari ini. Semua orang memujinya karena penampilannya yang memukau. Berkali-kali ia mendapati perempuan sedang memandangnya dengan tatapan memuja. Namun yang ia cari hanya satu.

Yoona.

Ia masih mengingat jelas apa yang ia lakukan ke Yoona setahun yang lalu. Ia menyakiti hati perempuan itu dan memutuskan hubungan mereka. Setelah kejadian di kafe itu, mereka tidak pernah bertemu lagi. Sama sekali.

Luhan merasa ia sedikit merindukan perempuan dengan buku yang selalu setia menemaninya itu.

Ia kini sudah tidak mempunyai kekasih lagi setelah pacarnya yang terakhir—Sonjia, memutuskannya lewat telepon dua bulan yang lalu. Ia mengatakan bahwa ia memutuskan Luhan karena terlalu banyak kesamaan yang ada di antara mereka berdua. Hubungan mereka benar-benar datar karena tidak ada perbedaan yang mewarnai kehidupan mereka berdua. Akhirnya mereka berdua sama-sama putus dengan baik-baik.

Sebenarnya kalau boleh jujur, selama ia berpacaran dengan Sonjia, ia sering sekali membayangkan Sonjia itu Yoona. Yoona memang membawa kenangan paling melekat di otaknya dari sekian banyak perempuan yang singgah di hatinya, karena ia merasa, Yoona itu berbeda.

Dan kali ini Luhan menginginkan untuk melihat wajah Yoona sekali lagi, sebelum mereka benar-benar berpisah.

Mungkin. Jika mereka memang benar-benar berpisah..

Mungkin ia mempunyai kesempatan untuk memperbaiki semuanya?

 

Ia berjalan menyusuri lorong di koridor sekolah. Sesekali ia tersenyum dan menyapa orang-orang yang berpapasan dengannya. Namun matanya masih mencari-cari sesosok perempuan yang menjadi titik fokusnya kali ini. Ia menenteng sebuah plastik berisi kotak berukuran sedang di tangan kanannya.

Luhan teringat akan sesuatu, kemudian ia meneruskan langkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan yang tertutup dan berbau lembab, dan berhasil menemukannya disana.

Tentunya ia sedang berada di tempat favoritnya selama ini. Apalagi kalau bukan perpustakaan?

Ini tempatnya dimana ia pertama kali bertemu dengan Yoona.

 

Yang terlihat oleh matanya kali ini adalah sosoknya dari belakang. Seingatnya dulu rambut Yoona panjangnya hanya sebahu. Namun waktu berjalan begitu cepat. Kali ini rambutnya sudah memanjang sampai ke punggung. Ia terlihat sibuk membaca sehingga tidak memperdulikan sekitarnya. Benar-benar khas seorang Yoona.

Luhan mendekatkan dirinya ke Yoona dan mengambil tempat duduk tepat di sebelahnya. Perpustakaan hari ini sepi. Semua orang sedang bersenang-senang di luar sana karena ini adalah hari kelulusan. Tetapi sepertinya Yoona berbeda, ia betah sekali berada disini.

Yoona menyadari ada orang selain dirinya di dalam ruangan ini. Ia menolehkan kepalanya ke kiri dan pandangan mereka berdua bertemu.

“Lu-han?” Ia terlihat sedikit terkejut. Sudah lama sekali mereka tidak saling bertegur sapa. Terakhir kali ia melihat, Luhan masih terlihat seperti anak-anak. Namun kali ini, Luhan terlihat sangat dewasa. Rahangnya terbentuk tegas dan pandangan matanya berubah tajam. Yoona benci untuk mengakuinya, tetapi memang Luhan tumbuh menjadi laki-laki yang amat tampan. Jauh lebih tampan dari terakhir kali ia melihatnya.

“Apa kabarmu, Yoona?” Luhan bertanya santai. Bibirnya mengulaskan senyum terbaik yang ia punya. Ia sadar ia benar-benar merindukan perempuan di hadapannya ini. Ia rindu akan suara dan bau tubuh Yoona yang tercium seperti permen. Manis.

“Baik. Bagaimana denganmu, Luhan?” Yoona menjawab dengan tak kalah tenang. Ia membalikkan badannya sehingga kini mereka duduk saling berhadap-hadapan. Dengan jarak sedekat ini, Luhan bisa melihat wajah Yoona yang sedikit-sedikit mulai berubah. Pipinya agak sedikit berisi dan ia tidak lagi memakai poni yang menutupi dahinya. Rambutnya menjuntai lurus dan berbelah tengah. Luhan mau tak mau—dan harus mengakui, Yoona tumbuh semakin cantik. Jauh lebih cantik saat masih berpacaran dengannya dulu.

“Senang mendengarnya. Sama sepertimu, aku juga baik-baik saja.” Luhan menjawab. Ia sedikit merasa gugup. Ia memang selalu seperti ini jika berada di dekat Yoona. Di hadapan perempuan ini, keahliannya berbicara seperti hilang begitu saja.

“…You’ve grown up so much, Yoona.

Of course I have.” Yoona tertawa kecil. “Semua orang bertumbuh dan berkembang Luhan.” Ia menambahkan. “Begitu juga dengan kau.”

“Oh benarkah?” Luhan menjawab. “Kukira aku masih tetap sama, masih terlihat muda.” Luhan terkekeh. Berusaha mencairkan suasana.

“Kau memang masih terlihat muda. Bahkan pasti tidak ada yang mengira kau sudah berumur 22 tahun.” Yoona menyahut santai. Ia tidak bisa membohongi bahwa debaran itu masih ada. Masih. Dan akan selalu ada. Begitu pula rasa sakit yang dulu ditinggalkan Luhan. Selamanya ia akan menetap di salah satu di sudut hatinya.

“Kau masih mengingat umurku rupanya.” Luhan memutuskan untuk sedikit berlama-lama disini. Mengobrol dengan Yoona memang selalu menyenangkan. “Aku ingat sekali, disini aku pertama kali bertemu denganmu.”

Mereka mulai kembali berjalan ke masa lalu.

“Aku juga ingat.” Yoona tersenyum. “Kita masih sangat muda.”

“Jadi sekarang kita sudah tua?” Luhan bertanya lagi, dahinya mengernyit.

“Semua orang bertambah tua, kan Luhan? Kau kira kita seperti Cullens dalam Twilight?”

Luhan tertawa. Begitu pula dengan Yoona. Ruangan ini membawa begitu banyak kenangan untuk mereka. Suara tawa menggema dimana-mana. Sekitar dua jam mereka berbicara tanpa henti. Mulai dari mengingat-ingat masa lalu dan menggali nostalgia mereka. Tidak ada rasa benci. Mereka sama-sama menyadari kesalahan satu sama lain. Dan berpikir, tidak ada gunanya lagi mengingat-ingat kesalahan di masa lalu. Saat bahan pembicaraan sudah habis, mereka terdiam sejenak.

Lalu Luhan mulai membuka percakapan lagi.

“Sejujurnya, aku merindukanmu, Yoona-ssi.” Luhan memutuskan untuk berkata jujur kali ini, dan ia tidak menyesal. Ia harus mengatakannya.

Yoona terdiam. Sial. Pipinya kembali memerah.

Ia merasa darahnya mulai mengalir lebih cepat daripada biasanya. Selalu. Hanya untuk Luhan.

“Aku juga.” Yoona akhirnya mempunyai keberanian untuk menjawab. Dan kali ini ia jujur. Benar-benar jujur.

“Yoona-ssi.”

“Hmm?”

“Selamat ulang tahun.” Luhan berkata dengan lembut. Yoona terhenyak.

 

Luhan masih mengingat hari ulang tahunnya.

 

“Luhan..”

“Jangan kau kira aku melupakannya, Yoona. Tidak akan pernah.” Ia tertawa. Lalu segera ia memberikan sebuah kotak dengan dibungkus plastik yang sedari tadi disimpannya di bawah kursinya. “Jangan marah padaku karena kadomu setiap tahun akan selalu sama. Aku tahu kau sangat menyukainya.”

“Buku?” Yoona menebak-nebak.

“Buka saja.”

Tebakannya benar. Apalagi kalau bukan buku?

Tetapi ini…Sekali lagi, buku yang ia cari dengan susah payah dan bahkan belum masuk ke Seoul.

“Masih dari toko buku saudaramu di Inggris?” Yoona menebak lagi.

Bingo!” Luhan tertawa. “Kau masih ingat!”

“Tentu saja” Yoona tersenyum.

 

Sekali lagi kenyataan menghantamnya dengan keras.

Hari ini hari ulang tahunnya, dan pasti bertepatan pula dengan hari failed anniversary mereka.

“Yoona.” Luhan memasang wajah serius dan berusaha mengajaknya berbicara lagi. Yoona mulai takut melihat arah pembicaraan mereka. Ia tahu pembicaraan ini mengarah kemana. Ia tidak tahu harus merespon apa.

“Luhan-ssi, aku..tidak..”

“Yoona dengarkan aku dulu.” Ia berusaha membuat Yoona fokus padanya. Ia tahu kesempatannya hanya sekali ini saja.

Hari ini atau tidak sama sekali.

“Yoona, maybe I can’t fix everything in one day. But give me one more chance, can you? “ Luhan memberi penekanan pada kata chance di kalimatnya barusan. “I apologize for all I’ve done to you. Sorry, I messed up all the things. Tapi bisakah kau memberiku waktu? Let me try my best once again. Tidak perlu sekarang. Aku pasti akan membuktikannya padamu.”

Yoona terdiam. Ia kehilangan kata-kata untuk diucapkan. Ia tidak tahu lagi harus berkata apa.

“Yoona…” Ia masih menunggu respon perempuan itu.

Bukan salahnya jika mungkin Yoona menolak. Ia tahu ia sudah melakukan kesalahan besar dan ia mengerti jika Yoona mungkin tidak akan mau menerimanya lagi. Ia tahu mungkin Yoona akan segera bangkit dan pergi, atau mungkin menamparnya, atau mencemooh dan memaki-maki dirinya, apapun itu konsekuensinya ia siap. Ia hanya bisa berkata jujur dan meminta kesempatan. Perempuan itulah yang menentukan.

Tetapi sekali lagi, ia salah.

 

Setelah keheningan yang menggantung cukup lama.

 

Yoona mengangguk.

 

“ I think…Everyone deserves their second chance. Aku pernah mengatakan padamu kan? Kita bisa membuat lanjutan sebuah cerita, jika kita ingin.

 

Tidak ada yang lebih membahagiakan dari ini.

Yoona tahu ia memberi laki-laki itu kesempatan. Mungkin ia bodoh setelah melihat semua yang ia lakukan padanya dulu. Tapi ia memang tidak bisa membohongi perasaannya sendiri.

Masa lalu biarkan saja menjadi masa lalu.

[Lost; for a couple hours.]

If you find a girl who reads, keep her close. When you find her up at 2 AM clutching a book to her chest and weeping, make her a cup of tea and hold her. You may lose her for a couple of hours but she will always come back to you. She’ll talk as if the characters in the book are real, because for a while, they always are.

“Yoona?”

Luhan berjalan mendekat ke arah kekasihnya yang masih saja sibuk membaca buku. Jam di dinding kamarnya menunjukkan pukul dua pagi dan dia masih bergelung sendiri di kasur dengan buku di tangannya. Luhan meletakkan cangkir berisi teh itu tepat di meja kecil di sebelah kasur mereka, lalu ia bertanya dengan sedikit was-was.

“Ada apa..”

Ia mendengar suara tangisan kecil dari bibir mungil Yoona. Kekasihnya itu sedang menangis.

Ia tahu itu pasti karena buku yang sedang ia baca. Luhan menghela napas lega.

“Luhan..” Yoona kehilangan kata-kata. Ia meletakkan buku yang ia baca di meja. Luhan mendekatkan tubuhnya ke arah Yoona dan berusaha mengajaknya berbicara.

“Apa kau baik-baik saja?”

“Tidak!” Yoona menangis semakin keras. Luhan berusaha menenangkan gadisnya itu dengan menariknya ke pelukannya. Yoona menangis tersedu-sedu di pelukannya.

“Ya Tuhan, Luhan. Ia tidak salah apa-apa, tetapi mengapa ia yang selalu diberatkan dan dijatuhi hukuman?” Ia berkata dengan marah di sela-sela tangisnya. “Mengapa dunia selalu tidak adil untuk orang sebaik dia?” Kalimatnya terputus-putus karena tangis yang semakin hebat.

Hush, tenanglah sedikit, Yoona.” Luhan mengelus punggung Yoona dengan lembut, berusaha menghiburnya. “Mungkin ia akan diberi kebahagiaan nanti di akhir?”

“Tetapi..” Yoona masih berusaha mengelak.

“Tapi apa? Kita tahu bahwa hidup tidak akan selamanya adil kan?” Luhan menjawab lembut. Yoona kembali menangis.

“Aku tahu..tetapi..entahlah. Jahat sekali.” Wajahnya memerah. Ia melepaskan pelukannya dari Luhan dan mengambil cangkir berisi teh yang disiapkan Luhan dan menyesapnya perlahan. Rasa hangat mengalir perlahan-lahan melewati kerongkongannya. Semakin lama membuatnya semakin tenang.

“Tapi kau baik-baik saja kan?” Luhan bertanya sekali lagi untuk memastikan.

Yoona menganggukkan kepalanya. Ia merasa mulai sedikit calming down. Lalu ia memutuskan untuk masuk kembali ke dalam selimutnya dan mencoba tidur.

“Selamat malam, Yoona.”

Lalu Luhan mematikan lampu kamar dan segera keluar dari kamar Yoona.

[Spontaneousaction]

You will propose on a hot air balloon. Or during a rock concert. Or very casually next time she’s sick. Over Skype.

Luhan berhasil mendapatkan Yoona kembali.

Setelah di hari itu ia meminta untuk diberi satu kali kesempatan lagi, Yoona menjawab dengan anggukan setuju. Mereka memulai lagi pendekatan mereka selama kurang lebih sekitar tiga bulan.

Hingga akhirnya Luhan memutuskan untuk meminta Yoona kembali menjadi kekasihnya.

Dan Yoona memberinya jawaban iya.

 

Luhan berjanji ia akan memperbaiki semuanya kali ini. Dan tidak ada lagi kata-kata ‘berakhir’.

Dihitung dari awal mereka mulai berpacaran lagi sampai sekarang, mereka sudah berhubungan kurang lebih satu setengah tahun. Mereka sudah pindah dan tinggal di apartemen yang sama. Namun tidak ada hal apapun yang terjadi. Mereka menghormati dan respek satu sama lain. Mereka bahkan tidur di kamar yang berbeda.

Luhan sudah berhasil mendapatkan pekerjaan di sebuah bank ternama di kota mereka. Sementara Yoona diangkat menjadi kepala perpustakaan kota. Hidup mereka berjalan mulus tanpa ada hambatan yang berarti. Hubungan mereka pun masih hangat. Mereka berusaha memberikan warna di hubungan mereka agar tidak terlalu monoton. Dan sampai sekarang hubungan itu bertahan.

 

Luhan sudah menginjak umur 24 tahun. Tak terasa semua berjalan begitu cepat. Ia mulai memikirkan masa depannya bersama Yoona dan akhirnya ia sampai pada keputusan final.

Hari itu hari Minggu yang cerah.

Tetapi berbeda dengan Yoona, ia sedari tadi berdiam diri di kamar. Ia mengeluhkan kepalanya yang pusing dan badannya yang terasa sakit di semua tempat.

Luhan bolak-balik mengecek keadaan Yoona dengan keluar masuk kamarnya. Ia membuatkan sarapan dan mengecek suhu tubuh Yoona. Sekitar 37,5 derajat celcius. Cukup tinggi. Ia segera mengambil air es dan mengompres dahi kekasihnya itu dengan sabar.

“Apa kau sudah merasa enakan?” Luhan bertanya khawatir.

Melihat raut wajah Luhan, Yoona mau tak mau tersenyum sambil menatap kedua matanya lembut. Laki-laki di hadapannya ini benar-benar baik. Ia tetap sabar menunggui dan merawatnya seharian tanpa mengeluh.

“Aku baik-baik saja, Luhan.” Yoona menjawab lirih.

“Tetapi warna bibirmu yang pucat itu mengatakan tidak.” Luhan menghela napas berat. “Apa hari ini kita pergi ke dokter saja?”

“Tidak usah.” Yoona menggeleng. “Istirahat sebentar lagi, aku pasti akan sembuh.”

“Yoona, kau harus menjaga kondisi tubuhmu. Jangan terlalu sering bekerja terlalu keras.” Luhan menasehati. Tangannya menjelajahi rambut Yoona dan menyisirnya dengan lembut menggunakan jari-jari tangannya.

“Iya sweetie.” Yoona tertawa kecil. “Kau benar-benar adorable sekali di saat-saat seperti ini.”

“Jangan bercanda Yoona, aku serius.” Luhan menghela napas panjang. Padahal hari ini ia hendak mengajaknya pergi ke konser penyanyi rock ternama yang diadakan di tengah kota, tapi apa daya keadaan kekasihnya bahkan tidak memungkinkan untuk sekedar berjalan, ia pasti akan segera ambruk.

“Maafkan aku, Luhan. Karena aku, semua rencanamu gagal.” Yoona mendesah kecewa.

“Tidak usah kau pikirkan.” Luhan mengibas-ngibaskan tangannya. “Yang penting sekarang itu adalah kesehatanmu.”

Yoona tersenyum hangat.

Mereka mulai berbicara panjang lebar entah membicarakan apa saja, sampai akhirnya bahasan itu tiba di percakapan mengenai masa depan.

 

“Jadi apa ya kita sepuluh tahun kedepan?” Yoona berandai-andai.

“Tentu saja kita sudah menikah dan punya anak.” Luhan menyahut cepat. Yoona menolehkan kepalanya kaget mendengar celetukan Luhan.

“Hah?”

“Apa ada yang salah?” Luhan menaikkan satu alisnya heran.

“Ah, ti-tidak.” Yoona berusaha mengalihkan pembicaraan. Ia sebenarnya belum berpikiran ke arah situ. Mendengar perkataan Luhan, mau tak mau membuatnya berpikir.

“Atau kau tidak mau menikah denganku?” Luhan bertanya dengan sedikit ragu. Yoona menjawab dengan gugup.

“Te-tentu saja aku mau.” Yoona menjawab dengan sedikit panik. “Sepertinya akan menyenangkan…” Ia segera mengambil mug di meja terdekatnya dan meminum airnya cepat-cepat.

“Kalau begitu kuanggap kau setuju.” Luhan menyeringai lebar.

“Uhuk!” Karena terlalu terkejut dan tidak berhati-hati, Yoona tersedak air yang ia minum. Ia batuk berkali-kali.

“Hei, hati-hati Yoona-ya.” Ia menepuk-nepuk punggung Yoona lembut. Yoona yang reda dari keterkejutannya, balik menatapnya dengan mata membulat.

“Mak..sudmu…?”

“Yah, maksudku, berarti itu tandanya kau setuju jika kita menikah.” Luhan mengedipkan satu matanya. “Kau bilang akan menyenangkan bukan?”

“Lu-luhan? Aku…Uhuk!”

“Hei, hei! Calm down, Yoona! Aku tidak mengajakmu untuk menikah sekarang juga kan.” Luhan tertawa. Yoona menatap kedua matanya tidak percaya.

“Lalu kapan…?”

“Secepatnya.” Luhan menjawab singkat, tak lupa dengan senyum lebar yang memamerkan deretan giginya yang putih bersih. “Oh iya, karena kita sedang membicarakan ini, lebih baik sekarang saja ya. Sebelum terlambat.” Ia menarik laci di meja kecil di sebelah kasur Yoona dan mengambil sebuah kotak kecil yang sepertinya sudah lama tersimpan di dalamnya.

Yoona tidak memahami sama sekali apa yang diucapkan laki-laki di sebelahnya itu.

Sementara Luhan, dengan hati-hati sekali ia membuka kotak kecilnya tepat di hadapan wajah Yoona.

 

“Maafkan aku Yoona, sebenarnya aku mau melamarmu sepulang dari kita menonton konser di sebuah restoran romantis dengan suasana yang mendukung. Tetapi karena ada sedikit gangguan teknis yang tidak terduga seperti ini, jadi aku tidak akan bisa melamarmu seperti yang ada dalam adegan di film atau novel romantis yang biasa kau baca.” Luhan mengambil napas dalam-dalam.

“Tetapi biarpun sederhana begini, janjiku masih tetap sama, Yoona. Aku akan tetap berusaha menjadi Luhan yang terbaik untukmu. Yang akan menemanimu disaat kau susah atau senang, aku berjanji aku akan merawatmu jika kau sakit dan akan selalu menemanimu sampai akhir hayatku.” Luhan memberikan pidato singkatnya dengan spontan.  Yoona terhenyak. Matanya membulat.

“Ugh, aku tahu ini memalukan…Tetapi dengarkan aku baik-baik, Yoona. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Ini untuk yang terakhir kali dalam hidupku aku berkata seperti ini, dan oh, tentunya ini hanya untukmu.” Ia menghembuskan napas perlahan sebelum mengeluarkan kalimat sakral itu.

“Marry me, Im Yoona. Marry me and be Xi Yoona. Or be whatever you wish to call yourself, but marry me and stay with me and never leave me, for I cannot bear another day of my life to go by that does not have you in it.”

Lagi-lagi Luhan mengambil kalimatnya itu dari buku yang pernah ia baca. Kalau tidak salah Yoona pernah membacanya, kalimat itu berasal dari buku Clockwork Princess, karya Cassandra Clare.

“I ask you to pass through life at my side—to be my second self, and best earthly companion.”

Itu dari buku yang berbeda lagi. Charlotte Brontë, Jane Eyre.

Ya Tuhan,daya ingat Luhan benar-benar hebat.

 

So will you, Yoona? Accept or leave it? It’s all depends from your choice.”

Yoona tidak bisa berkata apa-apa lagi selain menutup mulutnya dengan tangan.

Semua ini terlalu tiba-tiba.

 

Dan terlalu…manis.

 

Ia merasa matanya mulai dipenuhi air. Ia tertawa lebar dengan mata berkaca-kaca.

“Jangan tertawa, Yoona… Kalau kau diam terus seperti ini, kuanggap kau setuju. Apa kau tahu aku  berusaha keras menghafalkan dua kalimat panjang dari dua buku yang berbeda itu hanya dalam waktu seminggu? Astaga! aku benar-benar tidak tahu cara melamar perempuan yang baik itu seperti apa…Aku tidak mempunyai ide sama sekali. Ini benar-benar sebuah keputusan yang nekat sebenarnya. Tapi entah mengapa, aku siap.” Luhan tersenyum. Ia mengeluarkan cincin itu dari tempatnya dan memasangnya di jari telunjuk Yoona.

“Cincin pernikahannya akan berbeda lagi, jadi untuk sementara di jari telunjuk dulu ya.”

Luhan tidak melakukannya dengan cara yang romantis, seperti yang berada di film atau drama yang biasa kulihat.

Ia tidak melakukannya dengan memberinya sebuah cincin dan berlutut seperti yang biasa orang lain lakukan.

Ia melakukan dengannya spontan dan dengan caranya yang sederhana.

Dan aku semakin mencintainya karena kesederhanaannya itu.

Ia berhasil mencintaiku dengan caranya sendiri.

 

Luhan mendekatkan wajahnya ke wajah Yoona.

Dan mereka hanyut dalam ciuman panjang yang menyenangkan.

[Grow old with you]

You will smile so hard you will wonder why your heart hasn’t burst and bled out all over your chest yet. You will write the story of your lives, have kids with strange names and even stranger tastes. She will introduce your children to the Cat in the Hat and Aslan, maybe in the same day. You will walk the winters of your old age together and she will recite Keats under her breath while you shake the snow off your boots.

Luhan memandang wajah Yoona yang mulai keriput.

Meskipun usia mulai memudarkan kecantikannya, di mata Luhan ia masih tetap Yoona yang sama. Ia masih tetap secantik dulu.

Namun kali ini Yoona tidak bisa lagi membaca buku tanpa kacamata yang semakin hari semakin tebal. Ia mulai kesusahan membaca huruf-huruf berukuran kecil. Namun yang patut diacungi jempol adalah semangatnya untuk tetap membaca, tidak pernah luntur.

Pernikahan mereka sudah berlangsung selama empat puluh tahun. Dari situ, mereka dikaruniai dua anak. Anak sulung perempuannya bernama Nebula (nama ini sebenarnya aneh sekali di telinga orang Korea, tapi entahlah, Yoona mempunyai selera nama yang aneh. Ia bilang nama itu unik…) dan anak laki-lakinya yang terakhir bernama Jiyong. Sedari kecil mereka selalu diberi oleh Yoona berbagai buku dan cerita anak-anak yang membuat keduanya memiliki imajinasi yang tinggi. Kedua anaknya tumbuh besar dan sehat, dan mereka benar-benar mengikuti jejak ibunya sebagai pecinta buku.

Dan tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Hingga akhirnya sekarang mereka semua sudah memiliki keluarga kecil dan memulai kehidupannya sendiri-sendiri.

Dan sekarang tinggallah Yoona dan Luhan yang sedang menikmati masa tuanya.

 

Kali ini, mereka tiba di bulan Desember. Luhan berjalan di hamparan salju dengan langkah tertatih-tatih. Berkali-kali ia membenarkan syal yang melilit di lehernya. Udara Seoul hari ini begitu terasa menusuk sampai ke tulang. Yoona yang mengikuti dari belakangnya tak henti-hentinya menggumamkan kalimat yang berasal dari sajak yang baru saja ia baca.

 “I have been astonished that Men could die Martyrs for religion—I have shudder’d at it—I shudder no more—I could be martyr’d for my Religion—Love is my religion—I could die for that—I could die for you.”

Bukankah itu manis, Luhan?” Yoona bertanya dengan sedikit gemetar. Ia kedinginan. Dirapatkannya kembali jaket yang ia kenakan. Asap putih keluar dari mulutnya seiring dengan ia berbicara.

Luhan memilih untuk berhenti sejenak dan melepaskan perlahan boot yang sedang ia pakai. Tangannya menggoyang-goyangkan boot itu ke kanan dan ke kiri untuk mengeluarkan salju yang terjebak di dalamnya. Yoona ikut berhenti dan menunggu respon Luhan atas pertanyaannya tadi.

Keats?” Luhan menoleh dan memandang wajah Yoona dengan pandangan bertanya-tanya.

Yoona menganggukkan kepala senang, ternyata suaminya tahu.

 

“Ayo kita berjalan lagi, langit sudah mulai gelap. Udara semakin dingin.” Luhan segera menarik tangan Yoona dan menggenggamnya erat-erat. Yoona mengikutinya dengan langkah terseret.

Mereka bersiap untuk pulang.

Sekembalinya di rumah, Luhan akan segera duduk kembali di kursi goyang sambil menikmati alunan musik dari radio.

Sementara Yoona akan memakai kacamata tebalnya dan duduk di dekat perapian sambil menghangatkan diri, menghabiskan masa tuanya sambil membaca buku.

 

Akhirnya mereka sudah sampai ke halaman terakhir cerita mereka sendiri.

 

Date a girl who reads because you deserve it. You deserve a girl who can give you the most colorful life imaginable. If you can only give her monotony, and stale hours and half-baked proposals, then you’re better off alone. If you want the world and the worlds beyond it, date a girl who reads.

Or better yet, date a girl who writes.”

 

Perempuan itu memandang kalimat terakhir ia ketik dengan senyum mengembang cerah. Akhirnya, ia berhasil menyelesaikan novel ini setelah sekian lama memutar otak, berusaha mencari inspirasi yang terkadang datang dan pergi begitu saja. Ia bangkit berdiri dari duduknya dan berusaha merenggangkan tubuhnya yang mulai kaku karena seharian berada di depan layar laptop.

“Sudah selesai?”

Sebuah suara memecah keheningan di ruangan kerjanya. Ia menoleh dan mendapati seseorang sudah berada di depan pintunya sambil membawakan secangkir teh dan setoples cookies cokelat.

“Tentu saja.” Ia berjalan mendekat ke arah lelaki itu sambil menyeringai lebar. “Akhirnya.”

“Lama sekali, kukira saat kau mengatakan kau akan mengerjakan chapter terakhirnya, semua akan beres dalam lima menit. Ternyata aku salah. Semoga novelmu laris di pasaran ya. Kau bekerja cukup keras untuk menyelesaikannya.”

“Mencari ide tidak semudah yang kau kira, tahu. Dan, masalah itu–Uh, kuharap juga begitu.”

“Kau masih memakai namaku disana?”

“Well, tentu saja Luhan.” Perempuan itu tersenyum jahil.

“Kau itu, selalu saja memakai nama orang sembarangan. Dan lagi, apa cerita itu tidak terlalu berkhayal?”

“Ah, sebentar-sebentar. Katakan padaku, apa mungkin sebenarnya kau ingin cerita ini menjadi kenyataan?” Perempuan itu bertanya santai dengan nada yang sedikit menggoda. Luhan terdiam, sontak pipinya memerah karena malu. Tetapi perempuan itu sepertinya tidak terlalu memperhatikan, ia malah mengambil satu buah cookies cokelat dan mengunyahnya pelan.

“Hmm, manis sekali kue ini. Seperti ceritaku dan kau dalam novel yang kubuat ya Luhan?”

“Uh tolong berhenti, itu agak sedikit memalukan, Yoona.” Luhan mengernyitkan dahi mendengar kalimat sahabatnya barusan.

Yoona tertawa lagi. Namun kali ini lebih keras daripada sebelumnya.

-FIN.

Well, TWISTTT everyone hehe:p annyeong!

Aku baru aja nyoba-nyoba bikin oneshot, tbh aku bener-bener ga jago sama yang namanya bikin cerpen yang selesai dalam satu dokumen. Ini aja uda berapa ribu words, kurang lebih sih 9000an. Seharusnya yang kaya gini dibikin twoshot or something tp aku nggamau. Ga dapet feelnya gitu.

Jadi maaf kalo kalian ngerasa cerita ini membosankan dan terlalu rush. Aku berusaha misah-misahin tiap momen dan dilengkapi judul diatasnya. Berasa kumpulan drabble gt ngga sih hahahaha. /ngapain ni orang ketawa sendiri/

Dan aku nyoba-nyoba bikin sesuatu yang beda disini, aku berusaha bikin ending yang nggabiasa. Tapi sepertinya ga..gal?

Ah sekarang, gini aja,

Mind to leave a comment? Hehe:p

Special thanks to my bestfriend, s, for her precious advices. Check her other fanfictions too in our blog!

Thanks for reading and bai bai! <3<3,

n.

17 thoughts on “[FF Freelance] A Girl Who Reads

  1. huwaahh,, crtanya bgus.. gk nyangka ternyata yoong nulis crta itu,,
    good ff. daebak.
    eumm, tp yg diendingnya mrka hanya bershabat ya,, yahhh,,

  2. Bagus,,,, tapi jujur sedikit membosankan… Tapi sedikit,,heh maaf yah…
    Tapi cerita keseluruhannya bagus,
    aku sampe terharu pas bagian2 akhirnya,, mereka udah tua tapi masih bersama….

    Nice :3

  3. Seriussss ini ff oneshoot terpanjang yg pernah aku baca._.dan parahnya lagi ini lebih pantas dikatakan novel versi ringkasnya/plak/
    Kereeeeeen banget thorrrrr
    Mulai dari alur,karakter,emosi daebak
    Tapi endingnya masih bingung-_-
    Itu hanya sebatas imajinasi yoona aja?l
    Thor buatin LUYOON atau YOONHUNlagi dong plisssss suka banget sama gaya bahasa author/modus/’-‘v

  4. Omo. . .neomu” joahe thor .DAEBAK dh. . .ak krain pas luyoon tua it udah ending.a ehh trxta it novel yg di tlis yoona,keren dh

  5. Jadi yoona yang buat cerita? Omg aku kira mereka beneran nikah kkk~ sayang sekali teryata mereka sahabat ‘-‘ buat ff luyoon lagi ya *bbuing-bbuing.
    Aku suka baget sama ide cerita ini dan ya begitulah empat jempol pokonya :))

  6. ganyangka endingnya kaya gini. good job author udah bikin aku tertipu gue kira ini beneran nikah ternyata cuman cerita. wkwkwk nice ff;)

  7. Keren bangett cerita’y,,🙂. Tema’y juga unik,, banyak bangett kalimat” n’ kata” indah dsana,, di tunggu crita selanjutnya iia thor…..🙂

  8. Thanks for the story authornim!

    Aku suka banget sama ceritanya. Dari ide yang simple jadi fanfic yang keren abis! Quotenya juga ga kalah keren. Aku tunggu cerita exoshidae yang lain thor^^

  9. Wow akhirnya nemu ff bagus lagi nih. Walaupun panjang, tapi jujur ff ini ngga ngebosenin dan alurnya juga pas, ngga terlalu lambat dan ngga terlalu cepet juga. Walaupun sebenarnya ngga terlalu suka sama pairing di ff ini, tapi karena ceritanya bagus dan menyentuh, jadinya ikut terbawa suasana dan dapet banget feel-nya. Apalagi pas baca kata kata yang luar biasa indah yg ada di ff ini, beuh makin semangat bacanya.
    Keep writing thor. Ditunggu karya karya luar biasa lainnya. Fighting !

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s