[FF Freelance] Happy Mom Day

cover happy mom day!

Title: Happy Mom Day || Author: Luan|| Rating: General|| Genre: Family life|| Lenght: Oneshoot|| Cast: Bae Suzy(MissA), Taecyeon(2PM), Yeonsu (Their child *maybe—someday*)|| Disclaimer: MERUPAKAN SEQUEL DARI  FF ‘BREAKFAST’. Ini Cuma Fanfic, tidak nyata. Tapi aku berharap ini nyata. Jangan timpuk akau karna di situ aku tulis Yeonsu adalah anak mereka, itu hanya sebuah bentuk harapan aja kok :’) Dan jangan di copas yah.


.
.
.
.
.

Malu-malu mentari menampakan sinarnya. Tersenyum semu di balik awan kelabu sementara sinarnya terus merambat di langit bumi. Mentari telah berada di tahatanya yg agung, mengetuk setiap pintu dengan hangat sinarnya. Tidak terkecuali pintu kediaman keluarga Ok yg kala itu masih sunyi sepi. Dari kaca jendela, sinar mentari masuk dan membasuh beberapa pasang mata yg masih terpejam. Seakan-akan meminta mereka untuk bangun dan menyadari bahwa hari telah berganti.

Mentari itu selalu menjadi saksinya─menyaksikan sang Mrs. Ok yg selalu bangun lebih awal dari yg lainnya. Jika keluarga itu adalah bumi, maka Mrs. Ok adalah mentari yg membelai pelupuk-pelupuk mata itu dengan kehangatan, mengecupnya dengan penuh kasih sayang, dan mengucapkan ‘selamat pagi’ dengan ketulusan.

Tapi pagi itu mentari melihat sesuatu yg berbeda dari raut wajah Mrs. Ok. Air wajahnya menggambarkan rasa lelah, bahkan kelopak matanya masih urung untuk terbuka. Namun, mengingat ada dua mulut yg harus ia suapi nasi, wanita itu memaksakan kelopak matanya untuk terbuka lebar. Ia bangkit dari ranjangnya lalu menoleh pada seseorang yg masih tertidur pulas di sampinya. Mentari juga tahu ini─ tahu bahawa wanita itu akan segera mengecup orang itu dan membisikan kata cinta di sela-sela mimpi indahanya.

Jadi, pagi itu wanita cantik itu lekas meninggalkan ranjangnya dan menuju dapur yg sudah lama menanti kehadirannya. Kemudian, tanpa basa-basi lagi ia mengambil beberapa bahan makanan dari kulkas dan mulai mengolahnya. Sebentar lagi, aroma harum nan menggoda khas masakan Mrs. Ok akan menyeruak ke seluruh penjuru rumah. Dan saat itulah akan ada dua pangeran tampan yg terbangun dari tidurnya.

Tak sampai tiga puluh menit, aroma waffle buatan Mrs. Ok menyeruak dan menandakan bahwa masakan tersebut telah matang. Wanita itu mematikan api kompornya kemudian memindahkan waffle-nya ke atas piring saji. Setelah itu ia menuangkan sirup maple keatas waffle tersebut. Alhasil, aroma sirup maple ikut menyeruak berbaur dengan aroma waffle yg baru saja matang. Wanita itu tersenyum lalu beringsut menatap tangga, kemudian ia berhitung dalam hati. 1…2…3…

“Aromanya sangat harum.” Seru dua orang laki-laki yg muncul dari balik pintu kamar lalu secara bersamaan menuruni anak-anak tangga sambil mengucek-ngucek mata mereka yg masih menolak untuk teerbuka. Mereka adalah Mr. Ok dan Yeonsu.

Ya, perkiraan dan perhitungan wanita itu memang tidak pernah salah. Dua laki-laki itu akan segera terbangun dan bergegas menuju dapur saat hitungan ketiga setelah ia menuang sirup maple keatas waffle-nya.

“Selamat pagi.” Sapanya hangat sambil merejang masakannya keatas meja makan.

Dua laki-laki itu berjalan menuju meja makan. Namun celakanya, keduanya juga menuju ke sebuah bangku yg sama. Nyonya Ok melirik sekilas pada mereka, kemudian ia kembali menghitung dalam hatinya. 1…2…3…

“Hey nak, ini tempat ku!” kata Mr. Ok pada Yeonsu.

Yeonsu mendecah pelan dengan wajah yg kesal. “Sejak kapan? Aku sampai ke bangku ini lebih dulu. Bangku ini milikku, Ayah!” sahut Yeonsu.

Mr. ok melipat kedua tangannya di depan dada kemudian berkata, “Jelas bangku ini milikku. Aku yg membelinya!” ledeknya sambil menjulurkan lidah.

“Tapi bagaimanapun aku sampai ke tempat ini lebih dulu, Ayah!”

“Kau ini, mengepa kau tumbuh menjadi seorang pembangkang?”

Mrs. Ok menggigit bibir bagian bawahnya. Keributan kecil ini memang selalu terjadi di rumah ini─ itu bukanlah hal yg anah. Suami dan anaknya memang sering sekali memperebutkan dan mepermasalahkan hal-hal yg sebenarnya sangat sepele. Wanita ini sudah tidak pernah lagi menganggap hal ini sebagai hal yg serius. Karena ia tahu, sehabat apapun perdebatan anatara ayah dan anak tersebut  tidak akan menimbulkan pertengkaran besar yg menimbulkan perpecahan. Tapi untuk hari ini, rasanya ia ingin sedang tidak mendengar perdebatan itu.

Mrs. Ok beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju bangku yg menjadi perebutan dua laki-laki itu. Dan setelah sampai, iapun mendudukinya. “Ini bangku ku. Jika kalian keberatan, kalian tidak bisa memakan sarapan buatanku.” Selanya diantara perdebatan dua laki-laki tampan itu.

Yeonsu dan ayahnyapun diam. Mereka tidak punya pilihan lain─tidak mungkin merelakan sarapan buatan Mrs.Ok yg begitu lezat hanya karna hal sepele.

—-o0o—-

“Bagaimana mungkin bisa terjadi masalah seperti itu?” Mrs. Ok memijat keningnya yg terasa cenat-cenut karna terjadi sedikit masalah di boutique miliknya. Mrs. Ok memang bukan seorang ibu dan istri biasa. Di samping kesibukannya mengurus urusan rumah tangga, ia masih mampu untuk mengurus urusan bisnis dan menjadi seorang bussinis women.

“Aku tidak bisa datang hari ini. Aku serahkan itu pada mu.” Katanya pada asistennya.

“…”

Masih mengusap-usap keningnya, wanita cantik itu berkata, “Ya, setelah itu tolong kirimkan laporannya melalui e-mail.

Wanita cantik bernama asli Bae Suzy itu akhirnya mengakhiri pembicaraannya dengan asistennya. Ia melemparkan ponselnya secara asal lalu ia menguap lebar. Entah mengapa hari ini ia merasa sangat lelah dan tidak bersemangat seperti biasanya. Kemudian, wanita itu merebahkan tubuhnya atas ranjang, ia ingin sekali tidur. Tapi sayangnya, baru saja ia memejamkan mata, telinganya mendengar sebuah seruan yg ditujukan untuknya.

“Sayang, apa kau tidak punya sesuatu untuk di makan?” Terdengar suara Mr. Ok, suaminya, yg sepertinya sedang mencari-cari makanan di dalam lemari es.

Wanita itu terpaksa membuka matanya. “Aku akan segera membuatkannya.” Sahutnya lalu bangkit dan beregegas menuju dapur untuk membuatkan sedikit camilan untuk keluarga kecilnya.

Tidak memakan waktu yg lama, hidangan pengganjal perut buatan Mrs. Ok matang. Wanita inipun merejangnya keatas piring saji dan mengantarkannya pada suami dan anaknya yg sedang bermain playstation di ruang tengah.

Mrs. Ok meletakan makanan buatannya di depan suami dan anaknya yg tengah duduk di karpet yg sedang berkutat dengan stick PS mereka. “Selamat menikmati.” Tuturnya, namun sepertinya dua laki-laki yg amat disayanginya itu terlalu asik dengan game yg dimainkan mereka, sehingga mereka tidak mendengarnya apa yg dikatakannya. Mrs. Ok tidak mempermasalahkan itu, setidaknya  sekarang mereka akur dan akhirnya ia bisa beristirahat.

Mrs. Ok kembali merebahkan tubuhnya keatas sofa, lalu ia kembali memejamkamkan kelopak matanya. Rasanya, ia benar-benar sudah lelah.

Tapi sesuatu yg tidak terduga kembali terjadi.

“Ibu, kau mendukungku dalam game ini, kan?” Tanya Yeonsu yg sontak membuat kelopak mata wanita itu kembali terbuka lebar.

Mr. Ok tak mau kalah, ia ikut beringsut menghadapnya dan menangayakan hal yang sama. “ Tidak mungkin dia mendukungmu, dia itu ‘kan istriku. Chagi, kau mendukungku, kan?” Tanya nya yg terkesan mendesak.

Mrs. Ok membuka mulutnya, bermasud untuk memberikan ujaran kepada mereka. Namun, Yeonsu sudah lebih dulu menyambar.

“Dia itu Ibuku. Ibu mana yg tidak menyayangi anaknya? Jadi, sudah jelas ia akan mendukungku!” sahut Yeonsu.

“Dan istri mana yg tidak mencintai suaminya? Kalau dia tidak menikah denganku, kau tidak akan ada, Yeonsu. Harusnya kau membiarkan ibumu mendukungku!” Mr. Ok juga tidak mau kalah.

“Tidak bisa! Bagaimanapun ibu harus menjadi pendukungku!”

“Chagi, kau harus menjadi pendukungku!”

Terus saja mereka berdua saling sahut menyahut dan tidak memberikan Mrs. Ok sedikit kesempatan untuk berbicara dan meleraikan. Hingga akhirnya kepalanya terasa semakin sakit dan ia kehabisan kesabaran mengahdapi perdebatan konyol itu. “Hajima!!” kata Mrs. Ok dengan nada tinggi. “Aku mencintai suami ku dan menyanyangi anak ku! Harusnya kalian tahu aku selalu berpihak pada kalian berdua!” Kemudian wanita ini pergi menuju kamarnya.

Dua laki-laki tampan itu tersentak dan bungkam seketika. Mereka nampak shaock karna tiba-tiba saja wanita itu berbica dengan nada yg tinggi. Padahal biasanya, seribut apapun keributan yg mereka buat, wanita itu tetap menggunakan kelembutan dalam nada bicaranya.

—-o0o—-

Di bawah temaram malam yg bertabur gemerlap bintang, berdiri dua orang laki-laki berwajah tampan. Mereka berdua berdiri menatap langit dengan air wajah kesedihan, membuat bulan bertanya-tanya tentang apa yg mampu membuat wajah tampan mereka dibaluti kesedihan.

Yeonsu menoleh pada ayahnya yg berdiri di sampingnya. “Ayah, apa Ibu marah pada kita?” Tanya Yeonsu pelan.

Ayahnya, Ok Taecyeon tersenyum pada putra semata wayangnya. “Ia tidak marah. Hanya saja kita sudah keterlaluan. Kau tahu? Wanita itu sangat suka diperhatikan. Tapi, kita justru meminta ia terus memperhatikan kita tanpa pernah kita bertanya apa yg ia inginkan.” Ujarnya.

“Bagaimana ini? Kita bersalah pada Ibu. Apa yg harus kita lakukan?” rutuk Yeonsu dengan wajah sendu.

Namun lagi-lagi ayahnya itu tersenyum. “Tenang saja. Jika itu masalah wanita, ayah ahlinya.” Katanya membanggakan diri, sementara anaknya menatapnya penuh keraguan. “Kau tahu? Setiap wanita itu menyukai kejutan.”

“Maksud ayah, kita akan membuat kejutan untuk ibu?”

Mr. Ok mengangguk cergap. “Benar. Masalahnya,  kapan waktu yg tepat?” kini ia balik bertanya pada putranya.

Yeonsu menundukkan kepalanya─Ia nampak berfikir keras. Dan beberapa detik kemudian, dengan tiba-tiba ia memukul keningnya dengan telapak tangannya. “Apa ayah lupa? Besok adalah hari Ibu! Bagaimana jika kejutan itu kita lakukan esok?!” usul Yeonsu.

“Anak pintar. Ayo, kita bicarakan itu di dalam.” Katanya sambil mengusap rambut anaknya.

Akhirnya Ayah dan anak tersebut masuk kedalam rumah mereka yg hangat. Sesampainya di dalam, mereka duduk di atas sofa sambil berselancar internet. Terlihat satu tab google crome yg bertitelkan ‘tempat romantis’. Nampaknya mereka sedang mencari tempat yg tepat untuk menunjukan kejutan tersebut.

“Ayah, mengapa memilih tempat yg romantis?” Tanya Yeonsu yg namapaknya tidak sependapat dengan ayahnya yg memilih tempat-tempat romantis.

Pria tampan berumur tiga puluh lima tahun itu sama sekali tidak mau memalingkan pandangannya dari layar laptopnya. Tanpa perlu menoleh pada anaknya yg nampak penasaran, ia menjawab, “Ibumu sangat suka tempat romantis, Yeonsu.” Katanya.

Yeonsu mengerutkan keningnya. “Bukankah ibu sangat menyukai gedung teater?”

Mr. Ok berhenti meng-scroll mouse nya. “Kau benar juga. Lalu  bagaimana?” katanya sepakat.

Yeonsu mendecah pelan. “Ini lebih sulit dari yg ku bayangkan.”

“Begini saja, kita mulai membuat konsep dari hal-hal yg disukai Ibumu.” Ujar Mr. Ok.

Yeonsu kembali berfikir sambil mencoba menyebutkan hal apa saja yg sangat di sukai ibunya. “Ibu sangat suka menonton drama dan teater. Ibu sangat suka nuasa redup dengan cahaya tungga yg menyorot sesuatu.” Kata Yeonsu yg menocoba menjabarkan hal-hal yg disukai ibunya.

“Ibumu juga suka jika ada seseorang yg bernyanyi untuknya, apalagi jika orang itu menyanyikannya sambil bermain piano.” Tambah Mr. Ok

Yeonsu mengecutkan bibirnya. “Aku tidak bisa bermain piano. Apakan ayah bisa melakukannya?” sepertinya sekarang Yeonsu menyesal karna selalu menolak saat akan diajari bermain piano.

Mr. Ok membusungkan dadanya dan tersenyum bangga. “Tentu saja! Saat berpacaran dulu, ayah sering sekali melakukan itu untuk Ibu mu.” Kemudian tiba-tiba saja raut wajahnya berubah dan menunjukan penyesalan. “Astaga. Sudah lama sekali aku tidak melakukan itu untuknya. Dia pasti sangat sedih. Suami macam apa aku ini?” katanya mencela diri sendiri.

Yeonsu menyandarkan kepalanya pada bahu ayahnya. Matanya berkaca-kaca, Yeonsu kecil baru saja menyadari betapa ia tidak berbakti pada ibunya. “Bagaimana denganku? Sejak lahir hingga sekarang aku berumur tujuh tahun, aku tidak pernah melakukan sesuatu yg spesial untuk ibu. Padahal ibu selalu melakukan segalanya untuk ku, bahkan saat ia sudah merasa sangat lelah.” Lalu Yeonsu kecil menangis dalam pelukan ayahnya.

—-o0o—-

Hari berganti lagi. Mentari yg pemalu itu sengaja memancarkan sinarnya dari ufuk timur hanya untuk membangunkan seorang wanita cantik yg masih meleyap mimpi diatas ranjangnya. Sinar mentari merambati kulit putihnya, bak seorang putri tidur yg dimandikan cahaya pagi─ tatap terpejam tanpa mengetahui betapa sang mentari menginginkannya untuk terbangun. Lalu burung-burung datang padanya. Burung-burung itu membawa berita akan pangeran yg datang dan menanti kebangunannya. Mereka bisikan berita itu pada sang putri, sayangnya sang putri tetap tak mau bangun barang mengintip dan mengatakan selamat pagi.
Hingga akhirnya menatari yg pemalu itu tak lagi berada di ufuk timur, mentari sudah beradi di kursi agungnya dan menjadi raja yg perkasa. Mentari tak lagi memancarkan cahaya hangatnya yg lembut, cahanyanya berubah menjadi begitu terik dan terasa membakar kulit. Dan burung-burung tadi datang lagi padanya. Mereka mendekati telinga  sang putri bersama seceracah harapan bahwa ia akan segera terbangun setelah mendengar kabar yg mereka bawa. Ini kabar yg akan merenyuhkan sang putri, pangeran baru saja pergi meninggalkannya. Burung-burung itu berkicau sedih di telinga sang putri, memintanya segera bangun dan mengejar pangeran.
Dan apa yg dikatakan takdir itu selalu benar, seseorang baru akan sadar setelah ia kehilangan.

“Uh? Jam berapa sekarang?” Sebelah tangan wanita itu mengusap matanya yg urung terbuka, dan yg sebelahnya lagi meraba ke bagian samping ranjang. Ia menoleh cergap setelahnya, tepatnya setelah ia menyadari tidak ada siapapun yg tertidur di sampingnya. Kemudian ia menatap kearah luar jendela di mana mentari sudah bertengger di tengah langit bumi. Wanita ini menelan ludahnya sendiri─ ini sudah tengah hari.

Wanita ini cepat-cepat keluar dari kamarnya, menuruni anak-anak tangga dan bergegas menuju dapur rumahnya.  Setelah sampai, matanya tak kunjung menumukan dua sosok yg ia harap masih berada disana sambil memakan makanan mereka diatas meja makan. Harapan hanyalah harapan. Nyatanya, dua sosok yg diharpkannya itu sudah tidak berada disana. Tentu saja, ini adalah tengah hari di hari Senin─ yg satu pasti sudah berada di kantor dan yg satunya lagi pasti sudah berada di sekolah.

Tapi mata wanita ini menangkap sesuatu yg harusnya tidak ada. Bagaimana mungkin ada makanan? Ia terlambat bangun, ia tidak membuatkan sarapan untuk mereka. Bahkan ia juga tidak membuatkan makan malam. Wanita ini menarik salah satu bangku di depan meja makan lalu mendudukinya. Ia menatap hidangan yg nampaknya sudah dingin itu sambil mengutuk dirinya sendiri. Ya, mungkin wanita ini mengesali mengapa ia bisa tertidur seperti orang mati. Kemudian, ditangah kesibukannya mengutuk diri sendiri, wanita ini tidak sengaja menemukan secarik kertas diantara hidangan tersebut. Selamat menikmati 😀 dan kalimat itulah yg ia temukan pada kertas tersebut.

Wanita ini memangku wajahnya dengan sebelah tangan. Membiarkan angannya melayang pada kejadian dimana ia bicara pada dua orang itu dengan nada tinggi kemudian meninggalkannya untuk pergi tidur dan terbangun di tengah hari keesokannya. Ah! Ia sangat menyesali hal itu.

“Yeobo?” sapanya pada sesorang yg ditelponnya.

“Oh? Kau sudah bagun? ─Makanan itu kami yg buat, rasanya tidak terlalu buruk.” sahut orang tersebut dari ujung sambungan.

Wanita ini menggigit bibir bagian bawahnya. “Ne─ mengenai hal yg kemarin itu… Aku─” ia tidak sempat meneruskan apa yg ingin dikatannya karna orang yg diajaknya bicara sudah terlebih dahulu memotong pembicaraannya. “Supirku akan menjemputmu nanti. Kita bicarakan itu bersama Yeonsu disana.” Dan wanita ini benar-benar tidak diberi kesempatan bicara karna orang itu sudah memutuskan sambungannya secara sepihak.

Wanita ini kembali termenung. “Disana?” bisiknya dalam hati.

—-o0o—-

Yeonsu nampak tidak sabar menunggu kedatangan ayahnya untuk segera datang dan membawanya enyah dari gerbang sekolah, tempat yg menurutnya dipenuhi hawa kelelahan akan penantian. Untung saja disana ada seorang gadis manis berkuncir kuda yg nampaknya juga sedang menunggu untuk dijemput, jadi setidaknya Yeonsu bisa sedikit melupakan rasa bosannya dengan memandangi gadis manis itu.

Setengah jam berlalu, Yeonsu benar-benar geram menunggu. Ditambah lagi, gadis manis itu sudah pergi lebih dulu. Bocah tampan ini berjalan mondar-mandir sambil sesekali menendang awang kosong yg ada di depannya sebagai ungkapan kekesalannya.

“Ok Yeonsu!” Panggil seorang pria yg menampakan wajah dan lambaian tangannya dari jendela mobil berwarna hitam. Itu adalah ayahnya─ dia terlambat empat puluh lima menit.

Yeonsu berjalan mendekati mobil tersebut kemudian memasukinya. “Mengapa ayah lama sekali, huh?” katanya sambil menunjukan semua kekesalannya.

Sambil menginjak pedal gas mobil, ayahnya tersenyum kemudian menjawab, “Maaf, tadi ada sedikit ,masalah di kantor.” Jawabnya, menyesal.

Yeonsu menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi mobil. Membiarkan perkataan seorang pria yg dipanggilnya ayah, masuk dan keluar begitu saja di telinganya. Bukannya Yeonsu mengabaikan, hanya saja ia bosan mendengar alibi yg sama setiap kali pria itu terlambat mejemputnya. Selalu urusan kantor, apa hanya itu hal yg penting baginya? Helaan nafas panjang juga terdengar dari Yeonsu kala kedua matanya secara tidak sengaja menangkap beberapa lembar foto. “Apa ayah sangat mencitai Ibu?” celetuknya kemudian.

Ayahnya menoleh padanya. Dari raut wajahnya nampaknya ia sedikit bingung karna tiba-tiba saja anaknya menanyakan hal seperti itu. Namun ia tersenyum kemudian berkata, “Aku sangat mencintainya. Dia udara bagiku.” Jawabnya lalu kembali memfokuskan pandangannya pada jalanan.

“Apa ayah menyayangiku?”

Ayahnya itu terpakasa kembali menoleh karna terlalu kaget akan pertanyaan yg dilontarkannya. “Jika tidak, untuk apa aku banyak menghabiskan banyak waktu ku untuk meperdebatkan ha-hal konyol denganmu? Bukankah lebih baik aku mengerjakan pekerjaanku yg tidak ada habisnya itu?” kemudian ia memalingkan wajahnya dan fokus pada jalan di depannya. Namun hatinya tidak berpaling, setelus hati ia berkata “Jika ibu mu adalah udara, maka kau adalah air bagiku. Aku tidak bisa hidup tanpa keduanya.” Tuturnya lembut.

Yeonsu menundukan kepalanya─menyesal telah meragukan kasih sayang ayahnya terhadapnya. “Maafkan aku. Aku pikir ayah lebih menyayangi ibu dan pekerjaan mu. Aku menyesal telah berfikir demikian,” Yeonsu menatap ayahnya lekat-lekat, sementara ayahnya hanya meliriknya sejenak sambil tersenyum. “Aku sangat menyayangi ayah dan ibu.”  Dan Yeonsu juga mengungkapkan perasaan yg sama.

Ayahnya itu tak mengenyahkan senyuman dari wajah tampannya ketika mendengar apa yg dikatakan dirinya padanya. Ia nampak sangat bahagia.

“Kau sangat menyayangi ibu mu, kan? So, Apakah kau sudah siap untuk memberikan kejutan untuknya?”

“Tentu saja!! Ayo, kita buat kejutan yg meriah!!”

—-o0o—-

Rasanya goresan lipsticknya yg merona itu tidak lagi memiliki pesona saat bibirnya urung meggoreskan senyum manis. Sejak masuk dari ke dalam mobil tadi, sama-sekali wanita ini tidak mau tersenyum barang beramah-tamah pada supir yg mengantarnya. Ia diam seribu bahasa, seakan-akan suaranya terbang jauh bersama pikirannya. Namun dalam hati, ia menemukan suatu debaran kencang yg memacu jantungnya untuk berdetak dengan kecapatan yg sama. Wanita ini meletakan tangannya di dada seraya nafasnya yg ia atur sedemikian rupa agar jantungnya lebih tenang. Kemudian ia memejamkan matanya dan mencoba mencari-cari kontrol dirinya yg hilang.

Tidak lama kemudian, mobil yg ditumpanginya berhenti disuatu tempat. Wanita ini menoleh kearah luar jendela mobil untuk memastikan di mana ia berada sekarang. Terlihat kerutan pada dahinya ketika ia mengetahui di mana ia berada sekarang. “Apa Tuan Ok menyuruhmu membawaku kemari?” tanyanya pada sang supir.

Supir itu mengangguk pelan. “Benar, Nyonya.” Jawabnya.

“Lalu dia berada dimana?”

“Tuan bilang temui saja ia di dalam.”

Walaupun masih terheran-heran mengapa ia di bawa ketempat yg seharusnya tutup di hari ini, ia tetap turun dari mobilnya kemudian mulai beranjak untuk memasuki gedung tersebut. Selangkah, dua langkah, wanita ini tetap berjalan sambil sesekali memutar bola matanya─mencari-cari sosok suami dan anaknya yg siapa tahu saja menunggunya diluar gedung tersebut.

Wanita ini berdiri dengan keraguan diambang pintu kaca gedung tersebut. Ia berdiri memandangi sebuah karpet merah yg tergelar dari tempat ia berdiri sampai ke sebuah tempat yg ia tidak ketahui dimana. Selama dua belas tahun, ia selalu datang setiap satu bulan sekali ke tempat ini, dan selama itu juga ia tidak pernah melihat ada karpet merah yg tergelar disana. Wanita ini semakin bingung, tapi hatinya berkata ia harus mengikuti kemana arah karpet merah tersebut.

Akhrinya wanita ini pun menuruti kata hatinya. Ia mulai mengikuti kemana arah dari karpet merah tersebut. Baru beberapa kali melangkah, hati wanita ini dibuat bergejolak kala kedua matanya menemukan sebuah kalimat pada karpet merah tersebut. Loving, itulah kata yg ada pada karpet tersebut. Nafasnya tercekat, bola matanya mulai menyapu kesegala arah dan mencoba mencari kata lain yg mungkin ada.

Ia melangkah lagi diatas karpet tersebut dan terus mencari apakah ada kata lain. Dan dugaannya benar. Setelah kira-kita sepuluh langkah, ia menumukan kata kedua─Caring. Wanita ini berdiri termenung sambil memandangangi kata kedua tersebut. “Ayo Suzy, teruslah melangkah.” hatinya berbisik padanya. Lalu wanita ini berlanjut ke sepuluh langkah berikutnya. Dan setelah itu ia menemukan kata Forever. Dan si sepuluh langkah terakhir ia menukan kata,

Mother.

Lutut wanita ini terasa gemetar. Ia tidak tahu untuk siapa kata-kata ini ditujukan, tapi ketika membacanya, hatinya begitu tersentuh. Ia memejamkan matanya, kemudian ia mentap arah karpet ini sepertinya yg masuk ke sebuah pintu kayu berukir yg ada di hadpannya. Seraya helaan nafas panjang yg terdengar darinya, ia kembali melangkah melewati pintu tersebut.

Gelap, di balik pintu tersebut adalah sebuah ruangan yg sangat gelap. Ia tidak bisa melihat apapun disana. Ia berdiri diam di sana, hatinya masih bersih kukuh untuk menatap ruang kosong nan gelap itu. Lalu datang sebuah cahaya, wanita ini terlonjat seraya matanya yg mencari asal dari sebuah layar. Sungguh diluar dengan apa yg ada di dalam pikirannya, bagaikan sungai yg mengalir di gurun pasir. Ia tidak dapat lagi bergerak, ia tidak dapat lagi berfikir, ia terlalu bahagia melihat apa yg dipertunjukan pada layar tersebut. Kenagan-kenangan abadi itu, dari mana layar itu mendapatkannya? Semua itu! semuanya diperlihatkan disana, mulai dari persta pernikahannya sampai bayinya tumbuh menjadi bocah tampan berumur tujuh tahun. Wanita ini tersenyum bersamaan dengan hatinya yg menari bahagia─ Seakan-akan dirinya dibawa kembali pada saat-saat membahagiakan itu. Saat-saat yg abadi dan selalu terkenang dalam hati kecil yg murni.

Tidak cukup apa yg ia lihat itu. Ternyata ditengah keasikannya bernostalgia dengan foto-foto yg ditampilkan pada layar tersebut, tiba-tiba saja dantang sebuah sorotan cahaya dimana suaminya tepat berada di bawahnya. Perahtiannya teralihkan. Lalu air matanyapun terjatuh ketika melihat pria itu tersenyum dan mulai mendetingkan alunan indah pianonya. Ia benar-benar tersentuh.

Pria yg dicintainya itu mulai mengalunkan suara indahnya. Dan saat itulah isakan kebahgiaan terdengar darinya.

I pray you’ll be my eyes
And watch her where she goes
And help her to be wise
Help me to let go

Every mother’s prayer
Every child knows
Lead her to a place
Guide her with your grace
To a place where she’ll be safe

Ia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya di balik tangisannya. Ia tersenyum memandangi sesuatu yg baginya lebih indah dari pada surga. Lalu keindahan itu betamabah lagi ketika sorotan cahaya itu
bergeser pada seorang malaikat kecil yg duduk manis diatas piano sambil menyenenandungkan sebuah lagu.

I pray she finds your light
And holds it in her heart
As darkness falls each night
Remind her where you are

Every mother’s prayer
Every child knows
Need to find a place
Guide her to a place
Give her faith so she’ll be safe

Melaikat kecil itu melantunkan lagunya dengan tatapan mata yg tidak pernah lepas darinya. Sedangkan wanita ini, orang yg ditatapnya, hanya bisa menangis terisak karena tidak tahu lagi bagaimana cara untuk membendung rasa kebahagiaannya. Dua pria itu terlalu pandai mengambil memindahkan hatinya pada suatu sesuatu yg disebut ‘bahagia’ dan sukar untuk mengembalikannya, apalagi memindahkannya pada sesuatu yg disebut ‘merana’. Mereka seperti angin yg mengahalau awan mendung ke suatu suatu tempat, dan bila mana hujan turun, maka angin itu menjadi rahmat baginya.

Lead her to a place
Guide her with your grace
To a place where she’ll be safe

Hingga dua laki-laki itu menyelesaikan tiga bait terakhir dari lagunya, wanita ini masih tidak kuasa menahan tangis dan rasa bahagia dlam hatinya.

“Selamat hari ibu!!” seru dua laki-laki tampan itu bersamaan. Wanita ini tidak bisa mengatakan apapun, ia biarkan air matanya yg menjawab.

Kemudian sang suami itu bangkit dan menuju anaknya yg duduk di atas piano lalu menggendongnya. Laki-laki itu, bersama seorang bocah tampan yg digendongnya berjalan perlahan menghampiri wanita yg hatinya rapuh dan mudah menangis ini. Mereka datang untuk menjadi fondasi untuk hatinya yg rapuh, sehingga menjadi hati yg kuat dan tegar. Setelah sampai, sang suami yg keadaannya masih menggendong anaknya, mengusap air mata wanita itu dan menariknya kedalam pelukannya. “Maafkan aku.” Bisik wanita itu ditengah isakannya. Namun sang anak tiba-tiba saja ikut memelukanya dan ikut membisikan sedater kata. “Kami yg harusnya meminta maaf─ maafkan kami. Dan terima kasih atas segala yg telah kau berikan. Jeongmal saranghaeyo oemma.”.

“Kami berdua sangat mencintaimu.” Lalu sang suami menutup hari yg luar biasa membahagiakan itu dengan sebuah kecupan.

Kebahagiaan abadi bagi seorang anak adalah kebaikan orang tuanya. Kebahagiaan abadi bagi orang tua adalah sebaik dan seburuk apapun anaknya. Kebahagiaan abadi bagi sebuah keluarga adalah saat tidak ada satu momenpun yg dilewati tanpa kebersamaan.─ Ok Family.


─ T H E E N D─

ATTENTION!!
Menurutku apa yg aku tulis itu benar, ‘Kebahagiaan abadi bagi seorang anak adalah kebaikan orang tuanya’ karna seorang anak pasti baru sadar dan akan ngerasa orang tuanya itu baik banget kalo orang tuanya itu merhatiin dan selalu nurutin apa yg kita mau. Sedangkan orang tua, kita gak merhatiin dan nurutin apa yg mereka mau-pun, mereka tetep sayang sama kita dan selalu menganggap kita adalah anugerah terbesar dalam hidup mereka.

Orag tua itu luar biasa mulia.

Satu pesan ku, walaupun ‘katanya’ cinta anak kepada orang tua itu cuma sepanjang jalan. Tapi kita bisa membuat sepanjang jalan itu adalah sepanjang jalan yg paling indah yg pernah dilalui oleh orang tua kita. Jangan sampai sepanjang jalan itu adalah sepanjang jalan yg dipenuhi oleh batu dan kerikil tajam.

Semoga kita semua bisa menjadi anak yg berbakti sama orang tua kita ;’) Aamiin… :’)

NOTE: Lagu yg dinyanyiin Taecyeon sama Yeonsu itu judulnya “A Mother’s Prayer” yg nyanyikan oleh Celine Dion.

12 thoughts on “[FF Freelance] Happy Mom Day

  1. annyeong, baru baca nih FF.
    ya ampun, menyentuh banget.
    sampe mau nangis nih.
    jadi kangen ma ortu di rumah.
    kutipannya juga bagus banget.

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s