[FF Freelance] Coma

coma

Title : Coma

Author : DkJung (@diani3007)

Main Casts :

  • [SNSD] Kim Taeyeon
  • [2PM] Jang Wooyoung
  • [Super Junior] Lee Donghae
  • [SNSD] Hwang Miyoung

Genre : Subconscious, Romance, Suspense (a little bit)

Rated : PG 15

Length : Vignette

Disclaimer : inspired by a story on http://sayainunderworld.blogspot.com/

 

 

//X//

When you’re in your subconscious

//X//

“Berlibur bersama?” Tanya Taeyeon dengan tatapan berbinar.

Keurae, kapan lagi kita bisa ada waktu untuk berlibur selain saat liburan ini! Mungkin di lain waktu kita akan kembali sibuk dengan kegiatan kuliah,” ujar Miyoung.

“Aku setuju. Keunde, memangnya kita akan liburan kemana?” Tanya Donghae.

“Ke Pantai! Aku juga sudah memilih tempat yang bagus untuk kita menginap!”

“Aku agak malas untuk berlibur,” ucap Wooyoung yang mendapat senggolan bahu dari Taeyeon yang duduk di sebelahnya.

Wooyoung mengerutkan alisnya sambil menatap Taeyeon.

“Kau harus ikut! Aku juga akan ikut, kita akan pergi bersama!” ucap Taeyeon. Woohyun hanya diam lalu mengalihkan pendangannya.

Taeyeon memperhatikan kekasihnya yang nampak tidak begitu menyetejui rencana liburan mereka. Ia jadi penasaran apa yang membuat Wooyoung tidak mau ikut.

“Sebenarnya kau ini kenapa?” Tanya Donghae.

“Aku tidak kenapa-napa.”

“Aku harap semuanya bisa ikut,” ucap Miyoung pelan sambil menundukkan kepalanya.

“Tentu kami bisa, Miyoung-ah! Wooyoung juga akan ikut!” Taeyeon mencoba menghibur Miyoung.

Setelah keheningan menyelimuti keempat remaja itu, seorang pelayan datang.

“Ini pesanan kalian.”

//X//

Gwenchana?” Tanya Taeyeon sambil memperhatikan ekspresi wajah Wooyoung yang kini tengah menyetir mobil.

“Kau kurang setuju dengan usulan Miyoung?” Tanya Taeyeon lagi.

Wooyoung menghela nafas. “Perasaanku tidak enak.”

“Maksudmu?”

“Aku takut sesuatu yang buruk terjadi.”

“Kau ini bicara apa? Memangnya hal buruk apa yang akan terjadi? Kita kan berniat untuk liburan, pasti akan menyenangkan!”

Keunde, Taeyeon-ah–“

Taeyeon memegang bahu Wooyoung. “Percayalah padaku, semua akan baik-baik saja. Lagipula kasihan Miyoung kalau kita tidak menuruti kemauannya.”

“Lalu kau tidak kasihan padaku?”

Taeyeon menggeleng-gelengkan kepalanya. Kekasihnya ini kadang selalu bersikap kekanak-kanakan. Ya, walaupun sebenarnya ia masih penasaran kenapa Wooyoung sampai punya firasat seperti itu.

“Kau ini, hargailah Miyoung!”

“Kau juga harus menghargaiku!”

“Sudah cukup! Pokoknya aku akan tetap ikut pergi, terserah kau mau ikut denganku atau tidak,” seru Taeyeon kesal sambil memalingkan pandangannya ke luar jendela mobil.

“Taeyeon-ah, kau marah?”

“Kalau aku marah kau pasti tahu siapa penyebabnya!”

//X//

Donghae dan Taeyeon sudah berdiri di depan rumah Miyoung dengan semua barang bawaan mereka. Mereka akan segera berangkat dengan mobil milik Donghae. Sementara Wooyoung masih belum jelas akan ikut atau tidak. Semalam, Taeyeon harus berdebat cukup lama untuk membujuk Wooyoung ikut, yang pada akhirnya tidak membuahkan hasil.

Taeyeon merasa ada yang mengganjal perasaannya. Firasat Wooyoung membuatnya menjadi agak ragu untuk ikut berlibur bersama Miyoung dan Donghae.

“Taeyeon-ah, neo gwenchana? Sepertinya kau sedang memikirkan sesuatu.”

Aniyo, Oppa. Gwenchana.

“Apa Wooyoung tidak jadi ikut?”

Taeyeon menggelengkan kepalanya. Entah sebagai jawaban, atau justru ketidaktahuan.

“Dia membuat Miyoung sedih. Bukankah Miyoung ingin kita berlibur berempat?”

Taeyeon hanya mengangguk.

“Donghae Oppa, Taeyeon-ah!” Suara ceria khas Miyoung membuat keduanya menoleh ke arah pintu rumah Miyoung.

“Kau sudah siap?” Tanya Donghae sambil merangkul bahu kekasihnya. Miyoung mengangguk riang. Namun, wajah riangnya itu perlahan luntur begitu menyadari Taeyeon yang hanya datang sendirian.

“Mana Wooyoung?” Tanya Miyoung. Wajahnya terlihat penuh harap menatap Taeyeon.

“Dia tidak bisa datang. Mianhae, Miyoung-ah. Seharusnya aku lebih keras membujuknya.”

Miyoung menghela nafas lalu tersenyum. “Gwenchana, kau tidak perlu memaksanya. Aku ingin semuanya bisa menikmati liburan tanpa paksaan dari siapapun.”

Keurom, kajja, kita berangkat sekarang,” ujar Donghae sambil melepaskan rangkulannya dari bahu Miyoung lalu mengeluarkan kunci mobilnya.

Setelah semua barang dimasukkan ke dalam bagasi, Donghae segera memasuki mobilnya. Miyoung duduk di sebelahnya, sementara Taeyeon duduk sendirian di belakang.

“Sayang sekali Wooyoung tidak ikut, kau jadi sendirian di belakang,” ucap Miyoung. Taeyeon hanya tersenyum tipis.

Donghae pun segera menjalankan mobilnya. Baru saja beberapa meter dari rumah Miyoung, sebuah motor sport tiba-tiba menyalip lalu menghalangi mobil Donghae. Baru saja Donghae akan membunyikan klakson mobilnya, si pengendara motor itu melepas helmnya.

“Wooyoung?” gumam Taeyeon tak percaya.

Wooyoug menuruni motornya lalu berjalan menghampiri mobil Donghae. Ia mengetuk kaca mobil dan Donghae secara otomatis membukanya.

“Kau ikut?” Tanya Donghae.

Ne, mungkin.”

“Aku kira kau tidak akan ikut. Apa kau akan naik motor?”

Ne, Hyung.

Wooyoung memperhatikan sesisi mobil Donghae, kemudian ia pun mendapati Taeyeon duduk sendirian di belakang. Ia melambaikan tangannya sambil tersenyum. Taeyeon pun membalas senyumannya dengan canggung.

Mian aku sudah egois,” ucap Wooyoung.

Gwenchana,” balas Taeyeon.

“Ekhem! Kapan kita akan melanjutkan perjalanan?” Tanya Donghae.

Mian,” ucap Taeyeon dan Wooyoung hampir bersamaan.

“Wooyoung-ah, bagaimana kalau kita balapan? Siapa yang sampai duluan di hotel, dialah pemenangnya. Dan yang kalah harus mau menuruti kemauan yang menang. Eottae?” usul Donghae membuat Wooyoung terdiam. Firasatnya merasa semakin tidak enak. Tapi semakin tidak enak lagi kalau ia memberitahukannya kepada teman-temannya, terutama Taeyeon. Ia tidak mau menghancurkan liburan mereka.

Arrasseo, siapa takut?” ucap Wooyoung pada akhirnya.

“Taeyeon-ah, apa kau tidak akan menemani Wooyoung?” Tanya Miyoung.

“Aku rasa jangan, aku akan mengandarai motorku dengan kecepatan penuh, mungkin akan berbahaya,” ujar Wooyoung.

“Jangan sombong kau!” seru Donghae.

“Kita buktikan saja!”

Wooyoung mulai menyejajarkan motornya dengan mobil Donghae.

“Menyerah saja! Jika jalanan macet motor pasti lebih cepat sampai!” teriak Wooyoung sebelum mereka mulai balapan. Bukan berniat sombong, ia justru ingin menggagalkan balapan ini. Sekali lagi, karena firasatnya.

Namun, Donghae hanya tersenyum menanggapi ucapan Woyoung. Setelah menghitung sampai tiga, mereka pun mulai melajukan kendaraan masing-masing.

//X//

“Taeyeon-ah, ireonha! Kita sudah sampai.”

Taeyeon membuka matanya begitu mendengar suara Miyoung. Ia masih berada di mobil, begitu juga dengan Donghae dan Miyoung. Mereka memang baru sampai di depan hotel.

“Apa Wooyoung sudah sampai lebih dulu?” tanyanya dan mendapat senyum kemenangan dari sepasang kekasih di hadapannya.

“Justru sebaliknya! Dia harus memenuhi permintan kita, pasti menyenangkan!” ucap Miyoung, rambutnya diacak pelan oleh Donghae.

“Dia kalah dari kalian? Yang benar?” Tanya Taeyeon masih tak percaya.

“Sudahlah, ayo kita turun, mungkin sebemtar lagi ia akan sampai,” ucap Donghae yang sudah membuka pintunya terlebih dahulu, disusul oleh Miyoung, dan terakhir Taeyeon.

//X//

“Sudah jam berapa sekarang? Kenapa Wooyoung belum juga datang?” Tanya Taeyeon gelisah sambil terus melihat jam dinding yang sudah menunjukkan waktu sore.

“Sabarlah, Donghae Oppa sedang mencoba menghubungi Wooyoung,” ujar Miyoung sambil mengelus-elus punggung Taeyeon, mencoba menenangkannya.

“Ponselnya tidak aktif!” ucap Donghae frustasi.

Eottokhe Miyoung-ah? Aku takut sesuatu yang buruk terjadi padanya!”

Tak lama kemudian, ponsel Donghae berdering. Donghae pun segera mengangkatnya. Namun, tiba-tiba ia terdiam ketika baru saja menjawabnya. Dengan tangan yang melemas, ia menjatuhkan ponselnya.

“Wooyoung, dia… kecelakaan.”

Air mata Taeyeon yang tadi berhasil dibendung kini memecah.

“Dia… meninggal,” lanjut Donghae.

“ANDWAAEEE!!!”

Taeyeon berteriak histeris lalu berlari kencang memasuki kamarnya lalu membanting pintu.

//X//

TUK TUK TUK

“Taeyeon­-ah, aku dan Donghae Oppa akan keluar sebentar. Kau tinggal sendirian di hotel tidak apa-apa, kan?” ucapan Miyoung terdengar oleh Taeyeon dari balik pintu kamarnya, namun ia sama sekali tidak berniat untuk menjawab.

“Kita akan pulang besok pagi untuk menghadiri pemakaman Wooyoung. Aku minta jangan bukakan pintu untuk siapapun. Aku pergi dulu,” lanjut Miyoung.

Tak lama setelah suara Miyoung tak terdengar, pintu kamar Taeyeon kembali diketuk. Awalnya, Taeyeon ingin mengabaikannya, namun pintu itu diketuk berkali-kali.

Nugu?”

“Ini aku, Wooyoung! Bukakan pintunya, Taeyeon-ah!”

DEG

Wooyoung? Benarkah itu dia? Keunde, bukankah ia sudah mati? Sadarlah Taeyeon! Jangan bukakan pintu untuknya! Jangan! Batinnya.

“Mau apa kau ke sini, Jang Wooyoung? Kau sudah mati! Pergilah! Sadarlah Jang Wooyoung!” teriak Taeyeon dari dalam kamarnya.

“Kau ini bicara apa? Bukakan pintunya, jebal! Aku belum mati!”

Aniya! Aku tidak akan membuka pintunya! Kau sudah mati, jangan ganggu hidupku lagi!”

“Sebenarnya apa yang kau bicarakan? Cepat buka pintunya!”

Andwae! Kita sudah berbeda!”

“Apa maksudmu? Jebal, Taeyeon-ah! Aku tidak mau kehilanganmu! Buka pintunya sekarang juga!”

Taeyeon menghela nafas. Begitu sulit rasanya mengusir ‘Wooyoung’. Apa ia memang harus membukakan pintu? Ya, mungkin jika ia bicara lagsung pada ‘Wooyoung’, akan lebih mudah untuk menyadarkannya lalu mengusirnya.

Cklek

Taeyeon membuka pintu kamarnya.

“Sadarlah Wooyoung, kau itu sudah mati!”

“Kaulah yang seharusnya sadar, Kim Taeyeon! IREONHA!”

//X//

Taeyeon membuka matanya. Ia mengerutkan kening begitu melihat sekelilingnya. Rumah sakit?

“Taeyeon-ah? Apa kau sudah sadar?”

“Wooyoung?”

Keurae, ini aku. Syukurlah, kukira aku akan kehilanganmu!” seru Wooyoung sambil menggenggam tangan Taeyeon erat. Matanya terlihat berkaca-kaca.

“Sebenarnya apa yang terjadi?”

“Kalian bertiga kecelakaan. Mobil Donghae, bertabrakan dengan sebuah truk. Ia dan Miyoung tewas di tempat. Aku masih bisa bernafas lega begitu tahu kau bisa terselamatkan. Aku sangat kaget begitu melihat mobil Donghae yang hancur parah di bagian depan.”

“Mereka… meninggal? Miyoung dan Donghae?”

Wooyoung mengangguk sambil menatap Taeyeon iba. Ia mengelus puncak kepala Taeyeon dengan lembut. “Aku tidak percaya mereka pergi begitu cepat. Gomawo, kau sudah bertahan hidup untukku.”

Taeyeon terdiam. Merenung. Apa jadinya jika ia tidak membukakan pintu kamarnya untuk Wooyoung? Apa ia akan ‘bergabung’ dengan Donghae dan Miyoung?

//The End//

 

Gimana ff absurd ini?

Ini ff pertama aku yang aku sendiri bingung genrenya apa ._.v

Tapi aku harap kalian (readers yg baik) masih mau meninggalkan komennya^^

Thanks for reading!

12 thoughts on “[FF Freelance] Coma

  1. hooaa~ aku kira wooyoung beneran meninggal. udah sempet nyesek, tapi syukurlah nggak bener terjadi
    aku suka. keren! next part soon

  2. well ini kan vignette wajarlah alurnya kecepatan. Mungkin setuju judul sm isi agak kurang nyambung,komanya di bagian tiffany-donghae? Ttp berjuanglah author-nim’-‘)9

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s