[TwoShot] Because, Always You…[Ch.1]

two14

Author : ChoaiAK

RATING : PG-15 | GENRE : Friendship, Romance, Life || LENGTH : TwoSHot  ||

Cast : Lee Jaehwan/Ken (Vixx), Son Hemi (OC) ||

1st Oneshot :  Here  ||  2nd Oneshot :  Here

also at :  http://choaichapters.wordpress.com/

***

Sometimes, There are those days

When I miss you even more

I can’t explain anymore, I’m fall in love

Like a boy in love

The more time passes, I lose my rationale

Someday – VIXX 

Sejak bertemu lagi dengan Hemi saat gadis itu datang bersama keluarganya ke rumah keluarga Jaehwan, dia sama sekali tidak bisa melupakan bagaimana Hemi bisa berubah dari seorang anak perempuan bertubuh gempal dengan pipi chubby dan rambut merah menjadi seorang gadis cantik dengan tubuh tinggi langsing seperti seorang model. Warna rambutnya masih sama seperti dulu hanya saja kali ini ikal yang dulu membuatnya terlihat kekanakan sudah tidak terlalu menunjukkan wajah kekanakkannya.

“dengan diam seperti itu tanpa berbuat apa-apa tugasmu tidak akan selesai dengan sendirinya.”

Dia terlonjak dari tempat duduknya saat mendengar suara pelan Taekwoon. Sambil menghembuskan nafas berat Jaehwan kembali duduk di kursinya tanpa melihat kearah Taekwoon yang baru pulang dan masuk kedalam kamar yang mereka tempati berdua di apartemen dengan enam orang penghuni itu.

“apa suaraku seseram itu?”tanya Taekwoon. “kenapa semua orang tiba-tiba kaget kalau aku bicara.”

Jaehwan menoleh, “hyung sama sekali tidak tahu?” Taekwoon menggelengkan kepalanya. “suara hyung memang membuat bulu kuduk merinding.”

Taekwoon hanya tertawa samar. Saat pemuda itu keluar lagi untuk mandi, Jaehwan kembali tenggelam dalam lamunannya tentang Hemi. aku sudah melupakan kejadian itu jadi kamu juga harus melupakannya. Ucapan Hemi terus-terusan berputar dalam kepalanya. Bagaimana mungkin dia bisa melupakan kejadian saat mereka masih di sekolah dulu begitu saja?

“kau masih melamun?” untuk kedua kalinya ia tersentak kaget dari tempat duduknya dan kali ini jelas lebih parah dari yang pertama. “kenapa denganmu? Aku hanya bertanya dengan nada biasa tapi kau sampai terlonjak kaget seperti itu.”

“hyung! Aish! Jinjja! Jangan masuk tanpa suara seperti itu dan tiba-tiba bicara dengan suara pelan. jantungku benar-benar akan meloncat keluar kalau seperti ini terus.”

Dengan ekspresi datar Taekwoon hanya berdiri di ambang pintu sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Jaehwan akhirnya mengalah dan duduk kembali di kursinya. “apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Taekwoon.

“tidak ada.”

“tidak ada itu sama artinya kalau kau sedang memikirkan banyak hal.” Jawab Taekwoon.

Tanpa membalikkan tubuhnya melihat kearah Taekwoon, Jaehwan menjawab, “dari mana hyung tahu ucapan seperti itu? Yaena?”

“hm. Dia sering mengatakan itu padaku setiap kali aku tidak banyak bicara dengannya.”

“sudah aku duga.”  Setelah mengatakan itu ia kembali memperhatikan kertas-kertas dihadapannya yang bertebaran di atas mejanya. Tugas yang seharusnya dia kerjakan sejak beberapa jam yang lalu masih terlihat bersih tanpa satupun yang tertulis diatasnya. “Yaena juga mengatakan hal yang sama padaku seharian ini. dia bilang aku terlalu banyak pikiran padahal aku sama sekali tidak memikirkan apa-apa. lalu dia bilang mungkin aku sedang mengalami proses penuaan dini karena terlalu banyak hal yang menumpuk dikepalaku.”

“kadang dia memang terlihat lebih aneh dariku.” Gumam Taekwoon. Jaehwan tertawa geli mendengar Taekwoon mengejek kekasihnya sendiri seperti itu. “jangan bilang padanya aku mengatakan itu, dia bisa memarahiku seharian.”

Jaehwan hanya bisa tertawa iri melihat Taekwoon bisa meluluhkan hati Yaena yang dia kenal tidak pernah membiarkan satu orang laki-lakipun mendekatinya lebih dari sekedar teman dan sekarang dia melihat sendiri bagaimana Yaena merubah Taekwoon yang dulu sering disebut seperti manequin hidup menjadi benar-benar seperti manusia yang punya emosi dan ekspresi.

***

Baru saja menjadi mahasiswi psikologi Hemi tiba-tiba harus mengikuti banyak kegiatan di kampusnya yang berhubungan langsung dengan pasien di rumah sakit. flatnya memang terletak tidak terlalu jauh dari kampus dan rumah sakit tapi tetap saja melewati jalan sepi saat malam hari membuat bulu kuduknya merinding.

Sambil mendengarkan musik dari earphone mp3nya, Hemi berjalan pulang setelah seharian di rumah sakit karena harus mengikuti dosennya. Sejak keluar dari rumah sakit dia merasa ada seseorang yang sedang mengikutinya. Membayangkan kalau harus melewati jalan menuju flatnya yang sepi dan gelap dia berhenti tepat di halte yang masih cukup ramai orang yang menunggu bus selanjutnya dan cepat-cepat mengambil ponselnya.

Beberapa saat dia mendengar bunyi nada panggil sambil harap-harap cemas akhirnya dia mendengar suara yang langsung membuatnya tenang, “Jaehwan-ah.”

“Hemi?”

“maaf, apa aku mengganggumu? Kamu sudah tidur?”

belum, kenapa? Ada apa dengan suaramu?” Hemi ragu sesaat. “Hemi? kamu dimana?”

aku masih di halte tidak jauh dari kampus. Kamu bisa kemari, tidak? Tiba-tiba aku merasa…”

Belum sempat dia selesai bicara dia seperti mendengar Jaehwan sedang mengambil sesuatu, “jangan kemana-mana dan tunggu disana. Aku segera kesana.”

Dalam waktu sepuluh menit, tepat sebelum bus berhenti di halte untuk membawa semua orang yang menunggu dia melihat Jaehwan berjalan terburu-buru kearahnya. Dengan wajah khawatir pemuda itu menghampirinya. Hemi yang semula mulai ketakutan merasa sangat lega hanya dengan melihat pemuda itu ada disana.

“kamu sudah lama?”

Hemi menggelengkan kepalanya cepat-cepat saat Jaehwan sudah benar-benar berdiri di depannya. Dia seperti akan menangis hanya dengan melihat pemuda itu.

“kamu seharusnya tidak pulang sendiri, Seoul tidak seperti tempat kita tinggal dulu.”

“aku tidak tahu kalau akan semalam ini pulangnya.” Jawabnya. dia hanya bisa menundukkan kepala tanpa berani melihat kearah Jaehwan yang kemudian hanya bisa menghembuskan nafas panjang.

“baiklah. Lain kali kalau kamu akan pulang semalam ini dan tidak ada teman pulang hubungi aku jangan tiba-tiba menelefonku tanpa bicara yang jelas kamu hampir membuatku mati berdiri karena kahawatir.”

“maaf.”

Jaehwan tiba-tiba membelai pelan kepala Hemi, “tidak apa-apa. yang penting kamu baik-baik saja.”

Mereka berjalan berdampingan menuju flat yang di tempati Hemi bersama dengan temannya yang juga mahasiswi baru sama sepertinya. Mereka tidak bicara apapun selama berjalan. Baru saat seekor kucing tiba-tiba meloncat keluar dari sisi jalan di samping Hemi, dia menjerit ketakutan dan sontak memegang lengan Jaehwan sangat erat seakan-akan baru saja melihat hantu.

“itu hanya kucing.” Ujar Jaehwan.

“aku tidak suka situasi seperti ini.” balas Hemi dengan nafas tersengal-sengal karena kaget bercampur takut. “aku tidak mau tinggal di tempat seperti ini.” ujarnya.

Matanya mulai berkaca-kaca karena ketakutan. Jaehwan melingkarkan lengannya di pundak Hemi dan menarik gadis itu mendekat.

“tenang saja.” Jaehwan membujuk Hemi untuk tidak menangis. “kamu tidak lihat aku disampingmu?”

Hemi menoleh menatap Jaehwan dalam-dalam kemudian tersenyum samar, “benar juga.”

***

Apa seperti ini rasanya? Berada di dekatmu tapi tidak pernah bisa meraihmu. Apa seperti ini rasanya tidak bisa melakukan apa-apa sementara kamu berada dekat denganku?

Jaehwan menegakkan kepalanya saat sadar Wonsik dan Hakyeon sudah duduk dihadapannya dan sedang memperhtikannya dengan wajah serius. Suasana kantin yang ramai bahkan tetap bisa membuatnya melamun untuk beberapa saat. Sambil bertopang dagu mereka memperhatikan Jaehwan lekat-lekat.

“Taekwoon bilang jangan bicara sepatah katapun kalau kamu sedang diam tidak bergerak seperti itu.” Jaehwan tertegun mendengar ucapan Hakyeon sebelum tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.

Hakyeon dan Wonsik saling bertukar pandang dengan perasaan heran melihat Jaehwan tanpa tahu apa yang lucu dari ucapan Hakyeon.

“sepertinya dia memang mulai gila.” Gumam Wonsik. “Taekwoon hyung benar, Jaehwan hyung sudah mulai gila.”

Setelah berhenti tertawa akhirnya Jaehwan kembali melihat kedua temannya, “maaf. aku sendiri tidak tau kenapa aku tertawa seperti ini.”

“sudah aku duga.” Hakyeon menggeleng-gelengkan kepalanya. “dia benar-benar gila.”

Tidak lama Yaena dan Taekwoon datang dan bergabung bersama mereka. Melihat tingkah keduanya yang mesra membuat Jaehwan, Hakyeon dan Wonsik berdecak kesal.

“apa kalian tidak bisa bermesra-mesraan di tempat lain?” Hakyeon yang lebih dulu mengeluarkan keluhannya. “mungkin kalian lupa tapi kami bertiga ini masih single. Jadi Yaena, kalau kamu tidak punya teman perempuan yang bisa dikenalkan pada kami sebaiknya jangan pacaran di depan kami.”

Sebelum Jaehwan sempat membantah Taekwoon sudah lebih dulu bicara, “tapi Jaehwan sudah punya gadisnya sendiri.”

“benarkah?” tanya Wonsik. “pantas saja dia bersikap aneh seperti tadi.”

Yaena mengangguk setuju, “aku bahkan hanya bertanya dengan suara datar dia malah terkejut seperti habis melihat hantu. Apa wajahku menyeramkan?” gadis itu menunjuk wajahnya kearah Taekwoon yang langsung menggeleng.

“aku tidak seperti itu.” bantah Jaehwan. “itu hanya perasaanmu saja.”

Yaena tertawa samar, “perasaanku saja, mungkin juga perasaan teman-teman yang lain juga. Kau memang aneh belakangan ini.”

“wajar saja, dia sedang jatuh cinta.” Tegas Hakyeon. “siapa?”

“chubby readhead?” semua menoleh kearah Taekwoon.

“Hyung!!” seru Jaehwan dengan suara keras. “aish! Kenapa kau selalu menyebutnya seperti itu.”

Taekwoon mengangkat bahu dengan wajah polos, “karena hanya nama itu yang aku tau, aku kan tidak tau siapa namanya.”

Baru saja dia akan membalas Taekwoon, ponselnya berbunyi dari dalam saku jaketnya. Tanpa melihat siapa yang menghubunginya dia langsung menjawab.

yeoboseyo?”

Jaehwan-ah.

“Hemi?”  tanyanya lalu melihat layar ponselnya. Benar, Hemi yang sedang menghubunginya. “ada apa? orang itu mengikutimu lagi?”

tidak-tidak, aku cuma mau memberitahumu kalau aku akan pindah apartemen ke tempat lain yang lebih dekat dengan kampus dan rumah sakit.”

Jaehwan melihat teman-temannya yang memperhatikannya dengan serius sebelum berdiri dan menjauh dari sana. “kamu yakin apartemen itu lebih aman dari yang sebelumnya? dengan siapa kamu disana?”

“dengan sunbaeku di kampus. Dia mahasiswi kedokteran sebenarnya. Tapi dia mengajakku tinggal dengannya karena minggu lalu semua keluarganya pindah ke Australia jadi sekarang dia tinggal sendiri.”

“apa itu rumah temanmu yang mengajakmu menginap disana setiap kali pulang malam?”

“hm-hm. Dia mengajakku tinggal dirumahnya. Dia bilang aku tidak perlu bayar uang sewa cukup bersikap seperti tinggal dirumah sendiri.”

“baik sekali dia. Baiklah kalau begitu, lain kali aku akan melihat rumah barumu. Kapan kamu pindah?”

“mungkin akhir minggu ini.” Jaehwan diam sejenak, meskipun dia ingin menawarkan diri untuk membantu Hemi memindahkan barang-barangnya tapi dia tidak mau mengambil resiko untuk bertemu dengan kekasih Hemi yang pasti akan membantunya juga.

***

Hemi baru keluar dari rumah sakit saat melihat seorang pemuda sudah berdiri disana dengan kedua tangan yang dimasukkan kedalam saku celananya. Dia tersenyum saat berjalan menghampirinya. Hwang Junho, laki-laki yang sudah menjadi kekasihnya sejak beberapa tahun yang lalu.

“sudah lama, oppa?”

Junho berbalik dan melihatnya, “tidak, aku juga baru sampai. Kamu sudah selesai?”

Sambil menganggukkan kepalanya Hemi langsung melingkarkan tangannya di lengan Junho saat mereka mulai berjalan. Sebelumnya mereka menjalani hubungan jarak jauh dengan Hemi yang masih tinggal di Irlandia dan Junho di Korea. Tapi sekarang mereka bisa melewati masa-masa pacaran seperti pasangan yang lain. mereka menuju sebuah café yang terletak tidak jauh dari rumah sakit.

“kamu mau pesan apa?” tanya Junho.

Hemi melihat-lihat menu yang terpajang di dinding di belakang kasir. “greentea latte.”

Dia melihat Junho tersenyum pada perempuan muda yang berdiri dibelakang mesin kasir, “vanilla latte dan green tea latte.”

“sebaiknya kamu cari tempatnya, di atas?” usul Junho. Hemi hanya melihatnya beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk.

“baiklah. Aku cari tempat di atas, hm?”

Dia naik ke lantai dua café. Tidak terlalu ramai sore itu. Hanya ada beberapa pasangan dan kumpulan remaja yang duduk disana. Hemi langsung menuju tempat yang dekat dengan teras café saat melihat seseorang yang sangat dikenalnya. Sambil tersenyum dia menghampiri orang itu dan menyapanya.

“Jaehwan,”

Tidak hanya orang yang dia sapa yang menoleh kearahnya tapi lima orang yang lain juga ikut melihat kearahnya. Jaehwan jelas memasang ekspresi kaget melihat dia disana.

“Hemi?”

Hemi membungkukkan tubuhnya menyapa teman-teman Jaehwan. Dia melihat satu-satunya perempuan diantar mereka tersenyum ramah padanya. Meski baru pertama kali melihat mereka tapi Hemi bisa dengan jelas melihat perempuan itu sangat menarik dan terlihat sangat dikagumi.

“Jaehwan-ah, kamu tidak mau mengenalkannya pada kami?” laki-laki dengan kulitnya yang terlihat lebih gelap diantara mereka tersenyum manis kearahnya.

Hemi melirik kearah Jaehwan yang menggaruk kepalanya dengan salah tingkah sebelum memperkenalkan mereka. “ini Son Hemi. Hemi ini teman-temanku, Hakyeon hyung, Wonsik, Hongbin, Taekwoon hyung dan pacarnya Yaena.”

annyeonghaseyo.”

Dia melihat perempuan bernama Yaena itu melambai kearahnya. Kalau saja Jaehwan tidak menyebutkan Yaena adalah pacar Taekwoon mungkin dia akan heran kalau Jaehwan sama sekali tidak mmenaruh hati pada perempuan itu. Tapi setelah melihat bagaimana Taekwoon dan Yaena bersama, dia bisa melihat dengan sangat jelas kalau tidak ada seorangpun yang bisa menggoyahkan perasaan mereka masing-masing.

“kamu dengan siapa kesini?” dia kembali melihat Jaehwan saat pemuda itu bertanya padanya.

“aku dengan-“

“Hemi-ah,” mereka semua menoleh pada seorang pemuda yang membawa dua pesanan minuman.

“…pacarku.” Hemi menyelesaikan ucapannya. “kalau begitu aku permisi dulu senang berkenalan dengan kalian.” lalu menoleh pada Jaehwan. “sampai jumpa.”

***

“Jaehwan!! Lee Jaehwan!!”

“YA! Berhenti meneriaki namaku hyung!” Jaehwan balas berteriak kearah Hakyeon yang baru datang menghampirinya yang sedang makan siang di tengah café kampus yang cukup ramai.

Belum apa-apa Hakyeon tiba-tiba melingkarkan lengannya di leher Jaehwan dengan gemas dan membuatnya meringis karena kesulitan bernafas, “ya, Lee Jaehwan. Tadi kau bilang masih ada di kelas dan aku menunggumu disana hampir satu jam lebih tapi ternyata kau sudah makan siang duluan disini. Apa kau tidak tahu kalau aku mau mengajakmu makan siang bersama?”

“hyung…hyung, le…lepaskan. Aku…tidak bisa…bernapas.”

“ups!” Hakyeon langsung melepaskan tangannya dengan cepat. “maaf.”

Jaehwan mengusap lehernya yang sakit dan merengut melihat Hakyeon. “itu karena aku kesal sekali! Aku sendirian disana kelaparan menunggu kau yang tidak muncul-muncul. Belum lagi mahasiswi disana mengerikan sekali. Mereka tidak membiarkanku duduk tenang semenitpun.” lanjut Hakyeon.

“benarkah?” lalu Jaehwan tertawa geli membayangkan Hakyeon harus menghadapi banyak perempuan sekaligus yang sebenarnya bukan hal aneh karena dia termasuk mahasiswa yang diidolakan banyak  perempuan maupun laki-laki.

“mungkin karena hyung terlalu tampan saat berdiri disana.”

“aku sudah tampan dari sananya.” Gumam Hakyeon percaya diri.

Jaehwan yang belum selesai menghabiskan ramyunnya akhirnya menggeser mangkuk besar itu kehadapan Hakyeon yang dari tadi melihat lurus makanan tersebut. Benar dugaannya, Hakyeon sepertinya memang menunggunya dengan perut kelaparan.

“ponselmu.” Tunjuk Hakyeon tiba-tiba.

“huh?”

“ponselmu berkedap-kedip.” Tunjuk Hakyeon sekali lagi pada ponselnya yang ditelakkan di atas meja.

Dia membuka pesan masuk dari Hemi dan membacanya.

< Jaehwan-ah, akhir minggu ini aku akan pindah apartemen. Kalau tidak merepotkan boleh tidak bantu aku pindahan? >

Memangnya pacarnya kemana? Dia bukannya tidak ingin membantu tapi mengingat kalau sekarang Hemi sudah mempunyai kekasih dia sadar kalau dia tidak lagi bisa selalu berada disamping Hemi kapanpun dia mau karena itu bisa menimbulkan salah paham. Tapi kalau Hemi sendiri yang memintanya, tentu saja dia tidak akan menolak.

< baiklah. Kapan dan dimana? >

Hemi mungkin tidak punya perasaan padanya seperti saat mereka masih kecil dulu atau tepatnya empat tahun yang lalu. Sejak bertemu lagi dengan gadis itu, Jaehwan sadar betul dengan kesalahannya yang sekarang membuatnya sangat menyesal tapi setidaknya Hemi tidak membencinya dan masih tetap mau menjadi temannya, teman baiknya. Dia pernah bertemu dengan pemuda bernama Junho yang menjadi kekasih Hemi. Namun setiap kali Hemi menyebut nama laki-laki itu yang terlintas di kepala Jaehwan adalah pesan yang disampaikan Son Byung Hee, ayah Hemi padanya. ‘…jaga Hemi baik-baik kali ini atau paman dan bibi tidak bisa mempercayaimu lagi…’

“siapa? Hemi?” Hakyeon bertanya padanya dengan raut penasaran. “kau yakin dia hanya temanmu?”

“siapa?” Jaehwan balik bertanya. “Hemi? dia sahabatku.”

Hakyeon menganggukkan kepalanya, “sanghyuk juga mulai stress belakangan ini karena temannya. Mungkin kamu selanjutnya.”

Lalu dia melihat Hemi mengirimkan alamat tempat tinggalnya yang baru. Anak ini benar-benar tidak bisa tinggal jauh dari kampusnya? Setelah membalas ‘OK’ dia menyadari kalau Hakyeon sedang memperhatikannya dengan heran.

“tingkahmu mencurigakan.” Gumamnya. “baiklah, sepertinya kau memang sudah berubah semakin aneh. Pandangi saja foto anak perempuan chubby yang ada dalam dompetmu itu sampai matamu keluar dan orang akan menganggapmu pedofil. Mungkin itu lebih baik daripada kau dikira gay.”

“Hyung!!”

“makanya cepat cari pacar!” Jaehwan hanya bisa menggelengkan kepalanya pasrah dengan apapun yang dikatakan Hakyeon. “orang pasti akan berpikir kau ini benar-benar gay karena sampai sekarang tidak pernah terlihat tertarik dengan satu orang perempuanpun.”

Pasrah, Jaehwan hanya bisa menutup wajahnya dengan kedua tangan lalu melihat Hakyeon dengan ekspresi serius, “aku tidak mau pacaran hanya karena takut dikira gay atau pedofil. Aku hanya akan pacaran dengan perempuan yang aku sayang dan juga sayang padaku apa adanya. Cantik luar dan dalam.”

Hakyeon melihat kasihan padanya sambil mendecakkan lidah, “perempuan seperti itu tidak ada, Lee Jaehwan.  Jangan berpikir terlalu polos seperti itu? perempuan seperti itu jelas tidak ada.”

“tentu saja ada. Coba saja lihat Taekwoon dan Yaena.”

“kau pikir mereka pacaran karena Yaena suka padanya?” tanya Hakyeon lalu menggelengkan kepalanya.

“jangan bicara sembarangan tentang Yaena.” Potong Jaehwan. “kalau Taekwoon hyung dengar bisa-bisa hyung jadi telur dadar untuk sarapan pagi.”

Mendengar apa yang dikatakan Jaehwan ada benarnya, ekspresi wajah Hakyeon langsung berubah. “baiklah-baiklah, aku tarik lagi kata-kataku. Tapi aku memang dengar mereka bilang seperti itu.”

“hanya karena Yaena langsung menerima Taekwoon hyung yang dia tidak kenal bukan berarti Yaena tidak menerima Taekwoon hyung apa-adanya. Jangan langsung percaya dengan apa yang di katakan oleh ‘mereka’ ini. karena bisa jadi ‘mereka’ hanya kumpulan penggemar Taekwoon atau Yaena yang gagal menjadi pacar.”

“dia bahkan tidak pernah bicara lebih dari satu kalimat dengan kita.”

“dia sudah seperti itu darisananya mau bagaimana lagi.” balas Jaehwan. “aku sudah tinggal satu kamar dengannya lebih dari satu tahun jadi aku bisa mengerti.”

“dan aku sudah tinggal dengannya lebih dari dua tahun tapi aku tidak bisa mengerti sama sekali.” Ujar Hakyeon tidak mau kalah.

“atau mungkin dia lebih banyak bicara dengan Yaena daripada kita.” Kata Jaehwan. “Yaena tidak pernah bisa diam. Makanya semua urusan yang menyangkut dengan orang yang tidak diduga selalu diserahkan dengan anak itu.” Jaehwan selalu membicarakan Yaena dengan nada bangga seakan-akan dia sedang membicarakan anaknya sendiri karena berhasil mematahkan semua rumor tentang Taekwoon seorang gay dengan sikapnya yang begitu menyayangi Yaena.

“hyung sendiri bagaimana?”

“apa yang bagaimana?”

“hanya karena semua perempuan mengidolakanmu dan hyung sendiri juga bersikap seakan mereka semua adalah pacar hyung bukan berarti tidak ada rumor buruk tentang hyung.”

“memangnya ada rumor apa tentangku?”

Jae Hwan menggelengkan kepalanya, “hyung pasti tidak mau mendengarnya.”

“cepat katakan saja.” desak Hak Yeon.

“maniak”

“huh? Apa-apaan itu?!”

Jae Hwan tertawa melihat Hak Yeon yang mendengus kesal saat mendengar apa yang selama ini dikatakan orang tentangnya. Sikap Hak Yeon yang memang selalu ramah pada semua orang tanpa peduli perempuan atau laki-laki, tua atau muda tidak lantas membuat semua orang kagum padanya. Ada juga beberapa yang mengatakan hal buruk juga tentangnya.

Jae Hwan melihat jam tangannya, “sebaiknya aku ke ruang Humanity sekarang.”

“kamu masih bergabung dengan perkumpulan itu? sebaiknya pindah saja ke klub musik.”

“aku mempelajarinya setiap hari, setidaknya aku bisa punya keahlian lain kalau bergabung dengan klub diluar musik. Lagipula, Yaena adalah partner yang luar biasa.”

“aku tidak habis pikir apa yang dilakukan Yaena sampai semua orang mengagumi anak itu.”

“tanyakan pada Taekwoon hyung.”

“aku akan tanya. Tenang saja aku akan tanyakan langsung pada sumber yang sedang dibutakan oleh cinta.”

Jae Hwan tertawa mendengar ucapan Hak Yeon. Dia bangkit dari tempat duduknya yang nyaman di sudut café kampusnya yang terlihat elegan untuk segera beranjak ke ruang Humanity. “sampai nanti hyung.”

“hm…” Hak Yeon melambai malas-malasan kearahnya yang melangkah menjauh.

***

maafkan aku,”

“aku sudah bilang tidak apa-apa.Temanku yang kebetulan tinggal di Seoul akan membantuku pindahan. Jadi kamu tenang saja menemani kakekmu di rumah sakit.”

benar-benar tidak apa? mungkin aku bisa membantumu se-“

“Oppa, aku bilang tidak apa-apa. Jadi jangan berpikir yang aneh-aneh. Mengerti? tadinya aku kira akan membuatnya lebih ringan tapi semoga saja dia membawa temannya yang lain.”

temanmu laki-laki?”

Hemi tertawa kecil mendengar suara kaget Junho saat terlambat menyadarinya, “kalau perempuan tetap saja tidak akan bisa mengangkat buku-bukuku yang banyak itu jadi tentu saja temanku laki-laki.”

apa dia benar-benar temanmu? Tidak lebih?”

“dia temanku sejak kecil bahkan ayah ibuku lebih menganggapnya sebagai putra mereka sendiri.” tidak ada respon dari Junho. “Oppa, dia temanku.”

baiklah-baiklah. Dia temanmu. Dan aku pacarmu. Jadi aku percaya padamu.” Hemi tersenyum mendengarnya.

“jangan sampai ikut sakit seperti halbe, hm?”

“akan aku usahakan.”

*next Part.

Advertisements

2 thoughts on “[TwoShot] Because, Always You…[Ch.1]

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s