[FF Freelance] Hello, Stranger!

HELLO, STRANGER POSTER

Hello, Stranger!

RATING: PG-13 | GENRE: ROMANCE, FLUFF| LENGTH: VIGNETTE| AUTHOR : beautywolf (@beautywolfff)| CAST: BAEKHYUN (EXO-K), HYERI (GIRL’S DAY)

Summary:

“Smile at strangers, and you just might change a life.”

***

Disclaimer:

Already posted at other fanfiction website.

Plot & poster originality by me.

Check our other stories at: http://beautywolfff.wordpress.com ^^

HYE RI

Aku mulai memperhatikan lelaki yang berdiri di sebelahku. Dengan hidung yang mancung, kulit seputih susu, dan rambut cokelat kemerahan yang acak-acakan, ia terlihat cukup tampan.

Bukan hanya cukup, tetapi memang tampan–kalau boleh kuakui.

Sesekali ia menguap dan kakinya bergoyang sedikit mengikuti irama lagu yang ia dengar lewat headset. Matanya terpejam seperti hanyut dalam dunianya sendiri. Lalu tiba-tiba ia membuka matanya untuk melihat sekeliling, dan pandangannya jatuh ke mataku.

 

Aku yang terkejut spontan langsung mengalihkan pandangan darinya ke arah lain. Sempat kulihat tadi, matanya berwarna cokelat. Ah, aku berusaha tak terlihat salah tingkah. Yang bisa kulakukan hanyalah diam menunduk. Aku merasa seseorang sepertinya sedang memperhatikanku, dan aku yakin seratus persen itu pasti laki-laki tadi. Mungkin ia berpikiran aku perempuan aneh…yang menatapnya dengan pandangan yang sama anehnya–Entahlah, aku tidak tahu.

Tak lama kemudian, bus yang kutunggu datang. Aku mendesah lega, akhirnya aku akan menyudahi kecanggungan ini.

Tak pernah kusangka, ia ikut masuk ke dalam bus yang sama denganku. Mataku membulat heran. Aku tak pernah melihat laki-laki ini sebelumnya. Tanpa basa-basi ia mengambil tempat duduk tepat di sebelah kursiku. Tiba-tiba jantungku berdebar cepat. Dengan santai, ia melirik ke arahku sambil tersenyum. Lalu ia bersiul-siul kecil seperti sengaja untuk menggodaku.

Aku tidak mengerti mengapa wajahku memanas. Selama perjalanan aku hanya diam seribu bahasa. Pandanganku tidak pernah lepas dari kaca bus, berusaha mengalihkan perhatian dengan memperhatikan lalu-lalang kendaraan dan wajah orang-orang diluar sana.

Saat tiba di pemberhentian pertama, ia berdiri lalu melangkah keluar dari bus. Saat mendengar suara derap sepatunya, aku berbalik memandangi arah berjalannya. Sekalipun mataku tidak pernah lepas darinya. Sebelum turun dari bus, ia menoleh sebentar ke arahku, wajahnya berbinar ceria dan ia melambaikan tangannya.

A-apa apaan?

Aku berusaha keras untuk tetap tenang. Berkali-kali kukatakan pada diriku sendiri, ia memang tampan dan wajar jika aku bertingkah seperti ini, lagipula hanya untuk sekali ini saja, kan?

Toh kita tidak akan bertemu lagi.

*****

Dan ternyata perkiraanku salah.

 

Esoknya aku menunggu lagi di tempat yang sama. Semua keluargaku sibuk dan tak ada yang bisa menjemputku pulang. Aku sudah terbiasa dengan ini.

Kulihat jam di tanganku sudah menunjukkan pukul empat sore, sementara bus yang kutunggu belum datang juga. Aku masih mengingat jelas kejadian kemarin. Masih penasaran, tetapi untuk apa dipikirkan?

Baru saja aku berpikiran begitu, tiba-tiba lelaki itu datang dari kejauhan dengan berlari kecil. Sesudah sampai, ia menghela nafas lega lalu menoleh ke arahku dan tersenyum. Aku tergagap. Ragu-ragu, kubalas senyumnya dengan anggukan pelan. Lalu seperti pertemuan kami sebelumnya, ia mengeluarkan headset dan mulai mendengarkan lagu. Ia kembali memejamkan mata dan terlihat sangat menikmati lagu yang ia dengar. Dari seragam yang ia kenakan, aku menduga dia adalah murid dari Jungwon High School. Aku kembali menunggu dalam diam sampai bus itu datang. Ia akan segera masuk bersamaku dan (lagi-lagi) entah mengapa ia kembali mengambil tempat duduk tepat di sebelahku.

Laki-laki itu menolehkan kepalanya menatapku. Raut wajahnya terlihat seperti hendak berbicara sesuatu. Wajahku memerah. Sial. Segera kualihkan pandanganku darinya.

Siapa orang ini? Mengapa ia bisa membuatku seperti ini?

Namanya saja aku tidak tahu.

*****

Sudah seminggu kejadian ini berlangsung terus menerus. Aku sudah tidak terlalu memikirkannya. Tentu saja aku tidak akan terlalu heran lagi jika ia duduk di sebelahku. Lama-kelamaan aku hafal kebiasaannya. Seperti, ia akan bergoyang kecil mengikuti irama saat mendengarkan lagu lewat headset. Kakinya juga akan bergerak mengikuti tempo lagu. Ia suka sekali memakan permen karet. Saat di bus ia akan mengetuk-ngetukkan jarinya ke kursi dan bersiul-siul pelan. Ia suka tersenyum, padaku apalagi. Sebelum turun dari bus ia akan melambaikan tangannya dahulu ke arahku. Ia senang mengacak-acak rambutnya. Dan, satu lagi, wajahnya yang baby-face itu selalu terlihat mengantuk.

 

Suatu hari ia menaiki bus lagi dan kali ini ia tidak duduk di sebelahku, tetapi ia berdiri bersama seorang laki-laki yang sama tampannya, namun ia berambut hitam dan berpostur tubuh lebih tinggi. Suaranya benar-benar berat, berkebalikan dengan apa yang kukira. Sedikit-sedikit aku mencuri dengar percakapan mereka. Sepertinya itu sahabat dekatnya.

Akhirnya aku bisa mendengarkan laki-laki itu bersuara.

 

“Apa-apaan kau? Pabo. Seorang Baekhyun? Huh, tentu saja aku lebih jago darimu!”

“Jangan bercanda, Park Chanyeol. Kau tahu siapa master-nya disini.” Ia menyeringai lalu tertawa lepas.

Oh, ternyata namanya Baekhyun.

Kusadari aku mulai suka padanya. Pada tawanya. Pada senyumnya. Pada mata sipitnya yang berwarna cokelat, yang sayu dan teduh itu. Pada rambut yang acak-acakan itu. Pada siulannya. Pada semuanya.

Rasa suka tidak bisa diperkirakan kapan dan dimana, kan?

Dan bodohnya, sampai sekarang aku tidak mengerti siapa dia sesungguhnya.

Kau tahu ini bodoh, Hyeri.

 

BAEKHYUN

Ah, semua ini gara-gara appa.

Mobilku rusak karena appa menabrakkannya dengan sukses ke pohon di depan rumah. Bagian belakangnya penyok, dan aku terpaksa harus pulang dengan bus setiap hari.

 

Aku berjalan dengan malas ke halte, saat menunggu bus datang, kukeluarkan headset dari saku dan memilih mendengarkan lagu dari iPod untuk meredakan kebosanan. Berkali-kali aku menekan tombol shuffle sampai akhirnya telingaku mendengar alunan nada yang benar-benar kuinginkan. Mataku terpejam dan kakiku bergoyang kecil mengikuti irama lagu. Saat aku membuka mata dan melihat sekeliling, yang kulihat adalah perempuan sebayaku dengan sorot mata yang menatapku penasaran.

 

Aku membalas pandangannya dan menatap matanya dalam-dalam. Lalu ia seperti salah tingkah dan mengalihkan pandangan ke arah lain. Aku ingin tertawa, tetapi setelah kuperhatikan lagi, ia cukup manis. Ia mempunyai mata berwarna cokelat tua yang besar dan bulat. Bulu matanya lentik dan alisnya tebal, sementara hidungnya kurasa cukup kecil. Rambut cokelatnya yang bergelombang itu bergerak-gerak perlahan dimainkan angin sepoi-sepoi yang lewat. Penampilan sederhananya itu terlihat selaras dengan kulitnya yang putih bersih tanpa noda. Seragamnya memperlihatkan bahwa ia adalah siswi SMA Kirin, uh-oh, SMA tetangga rupanya.

 

Bus yang kutunggu akhirnya datang, aku tak menyangka ternyata ia juga menaiki bus yang sama denganku.

Tanpa basa-basi kuambil tempat­­­ duduk di sebelahnya. Aku membenarkan jaketku dan berusaha duduk dengan rileks. Berusaha menikmati permen karet yang kumakan. Awalnya aku merasa canggung, tetapi melihat wajahnya yang terlihat kaget melihatku merebahkan badan tepat di sebelah kursinya, aku tak kuasa menahan senyum. Lalu, aku bersiul lagi untuk mencairkan suasana sambil mengikuti irama lagu yang dimainkan oleh iPod-ku. Kuketuk-ketukkan jariku di kursi. Lagu apa yang kudengarkan? Aku tidak fokus dan bahkan tidak peduli.

Aku hanya memperhatikan perempuan di sebelahku. Ia hanya diam sambil menatap jendela. Sepertinya tidak berani bahkan untuk sekedar menoleh.

Bus telah sampai di pemberhentian pertama dan aku bergegas untuk turun. Sebelum meninggalkan bus, kucoba menoleh ke arah perempuan itu, dan…Gotcha! Dia juga sedang melihatku! Haha.

Aku tersenyum dan melambaikan tanganku padanya. Spontanitas saja. Entah apa yang kupikirkan. Mungkin aku ingin melihat reaksinya. Wajahnya memerah.

Lucu.

Aku berjalan pulang ke rumah. Aku pulang dengan suasana hati yang amat baik.

 

Sudah seminggu aku bertemu perempuan ini terus. Lama-kelamaan aku menikmati waktuku bersama dengannya, meskipun selalu dalam keheningan yang sama. Namun entah mengapa, aku menyukainya. Ingin aku sekedar bertanya siapa namanya, atau mungkin lebih berani lagi, meminta nomor teleponnya. Tapi semua keinginan itu tertahan di benakku dan tidak pernah aku lakukan.

Hari ini aku menaiki bus bersama Chanyeol, ia melontarkan candaan yang sangat lucu. Tawaku lepas begitu saja. Setelah tawaku reda, aku melihat ke arah perempuan itu lagi. Tetapi kini ia sedang menunduk. Sepertinya memikirkan sesuatu.

Chanyeol yang melihat perempuan itu sedang lengah dan tidak terlihat fokus, segera berbisik di telingaku pelan.

Inikah yang kau ceritakan padaku, Baek? Astaga. Ia manis sekali! Kau harus mulai belajar menjadi pemberani, tahu. Kapan bisa maju kalau begini terus.” Lalu ia tertawa terbahak. Suara tawanya benar-benar mengganggu. Kuputuskan untuk memukul punggungnya keras-keras.

 

Tetapi, apa ya yang sedang ia pikirkan?

 

Tunggu. Ah, kenapa aku harus peduli?

 

Kusadari aku mulai menyukainya. Aku cukup nyaman dalam diam saat bersamanya. Aku suka saat ia menganggukan kepalanya untuk membalas senyumku. Wajahnya yang memerah malu hanya karena lambaian tanganku. Aku menyukainya.

Tapi apa yang bisa aku harapkan? Namanya saja aku tidak tahu.

Kau bodoh, Baekhyun

*****

Esoknya, tanpa menunggu lebih lama lagi. Aku mendatanginya. Dia hanya diam dan menganggukkan kepalanya. Aku mau ia bicara. Aku mau mendengar suaranya.

“Halo”

Permulaan yang cukup canggung. Tapi aku lega, akhirnya kata sapaan itu terlontar juga dari mulutku. Raut wajahnya terlihat heran bercampur dengan rasa terkejut. Aku berusaha menahan malu dan tetap tersenyum. Kuacak-acak rambutku pelan, lalu menghela napas berat, berusaha menenangkan diri. Suasana ini sangat canggung. Keheningan ini bertahan kurang lebih 3 menit. Aku mulai gerah.

 

Tapi pada akhirnya ia membalas sapaanku.

 

“Ah..ya, Halo”

 

Suaranya…Akhirnya.

Aku mendengar suaranya. Cukup manis, semanis wajahnya.

“Aku sering melihatmu disini, ah hampir setiap hari sepertinya.” Aku tertawa kecil. “Kalau boleh tahu, siapa namamu?”

 

HYERI

Sore yang sama. Seperti biasa. Aku menunggu di halte yang sama dan berharap lelaki itu datang lagi seperti hari-hari sebelumnya.

Ia datang dan berjalan lurus ke arahku. Wajahnya terlihat sangat ramah, dan sepertinya ia hendak mengajakku berbicara. Jantungku mulai berdetak makin keras. Hei, ada apa ini?

“Halo”

Sapaan yang kutunggu keluar juga dari mulutnya. Ia terlihat canggung. Sesekali ia mengacak-acak rambutnya yang sepertinya berfungsi hanya sebagai kamuflase untuk menutupi kecanggungannya. Aku tak bisa menahan senyum. Aku terkejut. Hening. Lalu buru-buru kubalas sapaannya.

“Ah..ya, Halo”

“Aku sering melihatmu disini, ah hampir setiap hari sepertinya.” Ia berhenti sebentar untuk tertawa. Lalu ia melanjutkan “Kalau boleh tahu, siapa namamu?”

Hei, ia menanyakan namaku?

Aku menahan nafas. Sebelum akhirnya kuberanikan diri untuk menjawab.

 

“Hyeri.”

“Ah, Hyeri. Um, kenalkan, namaku Baekhyun.  Byun Baekhyun.”

 

Byun Baekhyun.

Nama yang bagus.

Aku menyukainya.

 

BAEKHYUN

Ia bernama Hyeri.

Nama yang bagus.

 

Mungkin kita bisa lebih saling mengenal lagi, Hyeri? Tentunya, lebih dari ini.

 

August, 9th 2013. Ditemani lagu My Lady- EXO.

[edited, February 9th 2014]

6 thoughts on “[FF Freelance] Hello, Stranger!

  1. maniisssnya~ suka deh
    ngebayangin naek sama hyeri saling malu malu gitu iihh pasti lucu deh hihi
    simple tapi keren. kerasa banget feelnya. nice ff

  2. suka sama ceritanya… … tapi di sini si gaepsong lumayan diem… biasanya diakan suka banyak bacot..hehhee… jempol buat authornya..^^ nulis yg kayak gini lagi ya… tapi maunya HUNZY thor ,…hehehe

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s