[FF Freelance] Lacrymosa (Chapter 1)

la1

JUDUL: LACRYMOSA #1ST

RATING: PG-17 | GENRE:ROMANCE | LENGTH: CHAPTERED  | AUTHOR : Jinnie |MAIN CAST : KIM JONGIN(EXO-K),LEE JIN-AH (OC). SUPPORTING CAST : FIND IT!

This real my story.

This my blog : www.adiezelf.wordpress.com

Please comment, Happy Reading ^-^

 

Tak perlu GPS dan alat canggih apapun untuk melacak seseorang. Bukankah  itu kemampuan menarik? Hanya mengetahui nama dan wajah orang itu tanpa perlu menatapnya secara langsung, bisa mengintip apapun yang meraka lakukan jika orang itu pernah berbincang denganmu meski orang itu mati sekalipun. Yah . . . kematian, suatu hal yang sangat aku benci didunia ini. Tepat sesaat aku menerima kekuatan ini, aku melihat ibuku mati berlumuran darah dimata dan otakku. Menjerit sendirian didalam kelas seperti orang kerasukan meminta pulang detik itu juga. Dan waktu itu umurku baru 12 tahun, dan pada akhirnya, aku mendapat trauma mengerikan. Menurut sejarah mortis, aku orang pertama yang menerima kekuatan itu diusia tidak normal, normalnya dikaum kami menerima kekuatan saat berumur 17-19 tahun.

Sehari setelah kejadian itu, aku yang belum bisa mengendalikan kekuatan itu, dikejutkan dengan kematian ayah tiriku. Dia mati terkena serangan jantung saat polisi mengejarnya. Aku yakin laki-laki setan itu tak punya riwayat penyakit jantung. Yah. . . walaupun sebenarnya aku tak akan sudi memberi keterangan tentang hal itu dan aku sedikit menyesal karna tak menulitinya sebelum dia mati. laki-laki bejat yang kucita-citakan mati tercincang. Yang dikerjakan hanya merampok membunuh dan memperkosa. Cih, sangat menjijikan jika mengingatnya, dan baru kusadari dia memanfaatkan Eomma yang kurasa memiliki kemampuan yang sama sepertiku. Ahjumma yang memberi tahuku, keluarga ku satu-satunya dimuka bumi. Dia yang memberitahuku bahwa kekuatan itu hanya bisa dimiliki perempuan. Kalaupun sampai tak melahirkan anak perempuan kekuatan itu akan tersimpan ditubuh anak laki-laki itu hingga sampai memiliki keturunan berjenis kelamin perempuan. Mungkin tuhan sedang berlaku adil.

Setelah kejadian itu, aku dititipkan dipanti asuhan karna Ahjumma tidak mungkin bisa menjagaku. Dia sakit-sakitan dan pada akhirnya di meninggal dunia setahun setelahnya. Aku keluar dari panti asuhan saat berumur 17 tahun. Dan bertemu dengan Lee Eun-ji. Dia yang memberiku tempat tinggal. Kami seperti kakak adik yNg tak terpisahkan, dan karna dia pula lah aku bisa marasakan kasih sayang orang tua yang utuh, dan kembali mempunyai keinginan menjaga keluarga kecil ini.

Aku. . . Deus Venato. Dewi pelacak. Akulah anjing pemburu yang sebenarnya.

 

~ Author POV ~

 

Inha University
13:04 p.m

 

Gadis itu duduk dibawah pohon merasakan semilir angin yang  berhembus menerpa wajahnya. Sedangkan telinganya dimanjakan oleh alunan instrument lagu.  Tangannya memegang buku tebal dengan botol soda yang tergeletak kosong disampingnya

“Jin-ah!! “ seru seseorang yang masih bisa ia dengar walaupun samar-samar. Gadis itu hanya  menoleh dan mendapati sahabatnya berlari kearahnya dengan tergesa-gesa. Melepas headphone yang sejak tadi menghiasi telinganya. Lee Eun-ji, marga yang sama seolah mereka berdua benar-benar kakak beradik

“Aish. . . kenapa kau berteriak, bodoh! Kau mengganggu! ” sungut Jin-ah yang membuat dan Eun-ji langsung memberikan hadiah berupa pukulan keras yang melayang kearah kekepala Jin-ah.

“Katakan lagi! Kubunuh kau. “sungut gadis itu sambil melanyangkan wajah kesal dan di balas wajah mengejek milik Jin-ah.

“Igeo!” Tanganya terulur menyerahkan sebuah benda yang sangat di gandrungi manusia manapun karna kegunaannya. Gadis itu menerimanya dan memasangkan benda persegi itu di telinganya

Eommanie…” terdengar suara anak kecil dari balik ponsel yang membuat wajah Jin-ah tersenyum.

“Chagi. . . Neomu bogoshipeo” ledek gadis itu dengan memasang wajah yang membuat gadis itu terlihat seperti boneka yang bergerak dengan gayanya yang sok imut.

itu menjijikan!” dengus gadis disebrang sana. Jin-ah hanya terkekeh mendengar suara kesal dari putrinya. Setidaknya, hanya itu saja yang bisa Jin-ah lakukan agar putrinya mengubah ekspresinya.

“hahaha… bagaimana sekolahmu? Bagaimana dengan appa? Apa guru disana bodoh?” pertanyaan itu langsung menyerbu gendang telinga naka itu hingga membuat anak itu menghela nafas.

“Guru disiniLumayan. . .  Appa membuatku bosan! Dia jarang menjengukku diasrama.” Grutu Gyuri

“Nanti eomma bunuh Appamu “ kekeh Jin-ah dan membuat Eun-ji melotot kearah gadis itu. sedangkan Jin-ah tetap tidak peduli dan membuat Eun-ji makin kesal.

Eommanie. . . aku mau pulang. Aku bosan” rajuk gadis itu. Rengekan anak kecil yang pertama kali terdengar ditelinga Jin-ah, bisa dibilang sangat langka. Karna untuk anak seumuran dia, biasanya akan rewel dan sulit diatur.

Jin-ah menghela nafas bingung akan permintaan putrinya ini, ada rasa ingin mengiyakan permintaan anaknya, karna dia sendiri merasakan kerinduan tersendiri pada gadis ini. Gadis kecil yang ia temukan dipinggir sungai dengan keadaan kedinginan 5 tahun yang lalu.

Benar, dia bukanlah anak kandung Jin-ah. melainkan anak angkat. Kejadian itu sudah 5 tahun berlalu, sejak pertama kali menemukan gadis kecil itu. Jin-ah menemukan Gyu-ri yang hampir mati membeku tepat ditepi sungai dengan tubuh yang basah kuyup dan tubuh yang terbalut satu kain tipis. Sebelumnya, dia mendengar seseorang merintih tepat ditelingnya dengan menyembut nama dan itu cukup membuatnya ketakutan. Bahkan kata-kata itu masih melekat di ingatannya.

“kau harus lulus dulu, baru eomma izinkan.” Ujar Jin-ah yang sekarang terlihat seperti ibu sungguhan. Terkadangdia berpikir harus bersikap lebih dewasa untuk Gyu-ri.

Baiklah 1 bulan. Kurasa itu cukup. . . “ ujar gadis itu. Dan hanya disambut senyum Jin-ah.

Tak heran. Jin-ah, Eunji dan Sehun kuwalahan menyekolahkan anak yang sekarang baru menginjak 6 tahun. Bagaimana tidak, dalam 1 tahun setidaknya anak itu sudah meloncat kesana kemari melewati benua dan samudra hanya untuk mengajari mulut anak angkat mereka. Gadis cilik itu akan mengatakan apapun yang dia rasakan.

Bahkan dia pernah berbicara pada seorang dosen di Korea yang cukup terkenal  dan kebetulan sedang mengajar di kelasnya, dan Gyu-ri memang kebetulan ada di Universitas itu untuk mencari guru. Dengan seenaknya di mengatakan ‘Ahjusshi, Kau bodoh ya? Bagaimana bisa kau mangajar seperti itu? Aku yang melihatnya beberapa menit saja sudah mengatuk’. Entah siapa ayah dan ibu kandung gadis ini hingga bisa menurunkan mulut tajamnya. Bisakah di nalar anak umur 6 tahun yang mengatakan hal seperti itu? lalu siapakah yang harus disalahkan disini?

“Makan yang teratur. . . eomma tak suka kau sampai sakit.” Jin-ah mulai mengeluarkan petuah-petuahnya dan mambuat Gyu-ri mangumam seolah menikuti ucapan Jin-ah dengan malas.

“Ne. . .”

“Singkirkan dulu komputermu dan fokus kesekolah. eomma tak suka kalau sampai kau memakai kaca mata sebelum umur 35 tahun.

Shireo! Itu sangat sulit. Aku tak mau!” kali ini Jin-ah menyerah, anak itu benar-benar sangat mencintai laptopnya maupun komputernya, dan selalu menghabiskan waktunya dengan hanya duduk didepan  komputer.

“Kau mau bicara lagi dengan Eun-ji eomma?” tawar Jin-ah. Sambil melirik Eun-ji yang memang sedang menuggu giliran bicara pada putrinya

Ani ani ani… eomma lebih crewet dari eommanie. Annyeong eommanie..”

“Ne. Annyeong..” kekeh Jin-ah puas.

“Yak! Kenapa kau matikan.” Sungut Eun-ji sambil merebut ponselnya. Dan nihil tak ada suara disana  membuat gadis itu memasang wajah sehoror mungkin agar setidaknya Jin-ah merasa takut padanya, walaupun sebenarnya sangat percuma.

“Gyu-ri sendiri yang bilang tak mau… katanya kau lebih crewet dariku.” Ujar Jin-ah dengan memasang wajah tanpa dosa.

“Huh menyebalkan!” sesaat Eun-ji merengut mengumpat-umpat sendiri dengan gumaman-gumaman yang cukup mengerikan seperti seorang penyihir yang membacakan mantra sihir.

“ ada masalah?”

“hm, cafe eomma sangat ramai dan aku lelah dengan anak-anak SMA yang seenaknya memerintah dengan bahasa yang tidak sopan. Bahkan melempar uang seenaknya saat membayar.” Dengus Eun-ji sambil menggenggam erat ponselnya seakan akan meremukannya detik itu juga. Walaupun itu sebenarnya bukan topik yang ingin dia bicarakan. Gadis itu mengempaskan tubuhnya didepan Jin-ah.

“sudahlah. . . mereka hanya anak kecil, lagipula kau juga harus sabar. Mengingat anakku mulutnya lebih mengerikan dari pada mereka.” Ujar Jin-ah  tanpa mengalihkan pandangnya dari buku yan sedang ia baca. Dan jangan berharap dia sedang belajar untuk persiapan kuliahnya, melainkan komik-komik tebal yang menumpuk dipangkuannya.

“ cih, ibu rumah tangga” ejek Eunji

“ yah, sesukamu.”

“Aish. . . aku rindu pada Sehun. . .” seru Eun-ji yang entah bagaimana bisa melayang dan mengabaikan topik yang sedang mereka bahas.

“ Aish… kau  mulai lagi. Makan Sehunmu! Menyebalkan” dengus Jin-ah sambil kembali memasang headphonenya.

“bilang saja kau iri. . .” seru Eun-ji sambil menjulurkan lidahnya dan membuat Jin-ah hanya bisa menghela nafas.

Jin-ah sedikit bingung, bagaimana bisa seorang gadis sebegitu menjijikannya  sampai keluar kata-kata memalukan hanya karna seorang pria. Dan Lee Eunji adalah satu-satunya orang yang menurutnya masih dibilang waras. Terang saja karna Jin-ah baru sekali memergoki Eun-ji melakukan ‘itu’ dengan Sehun, suaminya. Itupun dua-dua nya dalam keadaan mabuk setelah upacara pernikahan dan pesta. Menurutnya Eun-ji masih polos walaupun gadis itu memang kekanakan jika menyangkut namja dengan marga Oh itu.

Jadi, Apa seperti itukah orang jatuh cinta? Mabuk lelaki? Menyerukan perasaannya seakan mereka tak menggangu orang lain dan merasa dunia ini milik mereka tak peduli tempat umum atau tempat pribadi? Jadi berapa gadis didunia ini yang rela mati demi manusia bajingan yang meninggalkannya? Apa seks begitu penting di dunia ini? Yah. . . Jin-ah hanya memikirkan semua pertanyaan itu dan tak ada yang terjawab dengan pasti.

“Eun-ji~sii” panggil seseorang. Suara itu membuat Jin-ah merasakan  adanya sengatan listrik yang aneh dan seakan ada ribuan sayap yang menerpa telingannya dan punggungnya secara bersamaan yang menggelitik.  Padahal jelas dia sedang mengenakan Headphone dengan Volume mengerikan.

“Ne?” jawab Eun-ji sambil menoleh.

“Ah. . .  Kim Jong in. Wae?” Lanjut Eun-ji saat bertatap muka dengannya. Pria dengan wajah angkuh tanpa ekspresi, sama sekali tidak terlihat seperti orang yang mudah didekati.

“Kau meninggalkan. . .” Entah mengapa namja itu tak melanjutkan ucapannya saat melihat Jin-ah.  Yang membuat Eun-ji sedikit bingung sendiri, setahunya dari desas desus, pria itu tak pernah tertarik pada siapa pun. Lalu apa maksud ekspresi yang namja itu tunjukan? Apa hubungannya dengan Jin-ah?

Entah terpesona atau apa yang jelas kening namja itu berkerut seperti ada yang salah dengan Jin-ah. Begitu pula Jin-ah, gadis itu bahkan terpaku beberapa menit mengagumi siluet  yang terbentuk diwajah namja itu, tapi detik berikutnya Jin-ah yang menyadari arah tatapan namja itu sekarang  balik menatap tajam namja itu dengan pipi mengembung menandakan dia  sedang marah.

“ Yak!! Apa yang kau lihat hah!” Sungut Jin-ah sambil berdecak pinggang. Seolah menantang, dan sialnya jantungnya sekarang berdetak kencang membuatnya sesak nafas.

“Bodoh! Kenapa kau berteriak! Abaikan dia. Ada apa?” sungut Eun-ji sambil menonyor kepala Jin-ah dan kembali memasang senyumnya untuk namja didepannya. Walaupun butuh beberapa detik untuk mengalihakn pandangannya dari Jin-ah.

“ Notebook mu tertinggal di kantin. “ ujar namja itu datar dengan mulut terkatup seakan menahan sesuatu keluar dari mulutnya.

“Astaga. . . Gomawo” ujar Eun-ji sambil membungkuk

“Ne. . .” ujar namja itu sambil berjalan cepat meninggalkan mereka berdua dan masih sempat-sempatnya melirik Jin-ah dan langsung diplototi Jin-ah

“Yak! Kalau appa melihatmu kau pasti kena marah!” ujar Eunji. Dan hanya dibalas cibiran aneh dari Jin-ah.

“Hun~a. . .  ceraikan istrimu.” ledek Jin-ah sambil bangkit.

“JIN-AH!!!” jerit Eun-ji

***

~KAI POV~

“dimana gadis itu. . . aish”

kau akan menemukannya dan . . . kau juga akan menemukan hal yang menarik .” Ujar seseorang yang memang tak bisa dilihat dengan mata telanjang.

Perwujudan yang bisa di bilang mengerikan. Sepasang kaki yang tak menginjak tanah, tangan terlihat seperti tulang yang  menyembul dari tubuh yang terlihat seperti lembaran kain yang tertiup angin dan wajah tak terlihat karna sesuatu yang menutupinya seperti topi yang menutupi bagian mata seseorang yang memakainya. Dan sepasang sayap yang bisa dibilang adalah hal paling indah menurutku dan sangat tidak cocok untuknya. Berdiri disamping ku, dan akan tetap seperti itu selama aku masih hidup.

“Hal menarik? Apa maksudmu!” gumamku berusaha agar tidak telihat mencolok.

Kau mau dianggap gila? Bicara sendiri? Ingat. hanya Deus mortis saja yang bisa melihatku.” Kekeh makhluk disampingku. Sambil mengarahkan telunjuknya kearah gadis yang sadang ku cari dan mengepakan sayapnya kearah gadis itu.

Ya. . . dia bukan manusia, dan aku pun bisa dibilang bukan manusia biasa. Aku mempunyai kemampuan membunuh orang  hanya dengan mengetahui nama dan wajah mereka. Bukan tindakan kriminal, itu karna tugas kami. Kami? Mungkin kata ‘ kami ‘ tidak bisa menggambarkan keadaan sekarang. Bisa dibilang aku lah keturunan terakhir.  Pembantaian yang dilakukan oleh setan yang sekarang sedang aku buru. Kami biasa disebut Deus Mortis, dewa kematian. Dan setiap dewa kematian memiliki pendamping  seperti Drak dan hanya satu pendamping terus selama nyawanya berenkarnasi. Dan hanya Deus mortis yang bisa melihat para pendamping itu.

“Aish. . . aku rindu pada Sehun. . .” ujar gadis itu sambil menghela nafas yang samar terdengar. Yah menurut penglihatanku dia sudah punya suami. Apa sebegitu pentingnya menikah?

“ Aish, kau  mulai lagi. Makan Sehunmu! Menyebalkan” sungut gadis disampingnya yang  tak bisa ku lihat wajahnya. Siapa gadis itu? Auranya. . .

“Eun-ji~sii” panggil ku.

“Ne?” jawab Eun-ji sambil menoleh.

“Ah. . .  Kim Jong in. Wae?” Lanjut gadis itu. Jelas dia sekarang sedang kebingungan.

“Kau meninggalkan. . .” ucapan ku tercekat saat bertemu dengan manik mata gadis itu.

Memang biasa, tapi yang tidak biasa adalah aku tak bisa melihat namanya dan seketika membuat jantungku  berdetak mengerikan karna ketakutan bahkan aku memerlukan cukup tenaga untuk mencoba melihat namanya dan hasilnya nihil.

Apa-apaan gadis ini siapa dia? Bagaimana bisa aku tak bisa melihat namanya apa dia tak punya nama?

“Tuan Kim. . . berkedip dan sadarlah, gadis didepanmu akan meledak sebentar lagi “ kekeh Drak yang membuat ku tersadar. Dan benar saja didetik berikutnya gadis itu sudah berdecak pinggang dan menatapku tajam dan bahkan dimataku hal itu sangat menarik ? Oh tuhan. . . dimana kewarasanku!

“ Yak!! Apa yang kau lihat hah!” Sungut gadis itu

“Bodoh! Kenapa kau berteriak! Abaikan dia. Ada apa?” tanya Eun-ji. Benar, abaikan gadis itu selesaikan  dan cepat menjauh. . . aku sudah terlalu kacau jika melihat gadis itu.

Ternyata dia gadis menyebalkan? Perubahan ekspresi wajahnya  terlihat menyenangkan dan sialnya otakku berfikir bagaimana cara agar gadis itu mengeluarkan ekpresinya yang lain.

“ Notebook mu tertinggal di kantin. “ ujarku sambil menyerahkan benda berbentuk bujur sangkar.

“Astaga. . . Gomawo” ujar Eun-ji sambil membungkuk

“Ne. . .” aku dengan cepat berbalik berjalan cepat meninggalkan mereka berdua.

Aku menoleh kearah Drak yang masih berdiri disamping gadis itu dan memberi isyarat untuk menyingkir dan pada akhirnya gadis itu langsung mengarahkan bola matanya yang besar dengan wajah kesal. Percaya diri sekali dia? Dia fikir aku meliriknya?

“Bagaimana bisa aku tak bisa melihat namanya! “ dengusku

kalau dia takdir hidupmu mau kau apakan lagi? Kau bahkan tak bisa berhenti berimajinasi tentangnya nanti atau. . . itu mungkin sudah terjadi.” kekeh Drak.

“Diam kau!” umpatku dengan mulut yang masih terkatup. Sial! Apa yang sebenarnya terjadi denganku!

 

Author POV

 

Namja itu menendang pintu rumahnya dengan malas sambil berjalan masuk kedalam rumah yang bisa di bilang sangat besar dengan interior klasik gaya Roma dengan ukiran di tembok dan tiang-tiang betonnya. Dan sangat elegan.

Tak terlihat ada orang yang berkeliaran di rumah itu, seperti pembantu dan sejenisnya. Karna namja itu sangat membenci orang yang bekerja didepannya. Walaupun mereka dibayar, tapi namja itu benar-benar melarang pembantunya bekerja saat dia dirumah. Bahkan dia tak mau orang lain yang menyiapkan makanannya. Bisa dibilang sangat sensitif dengan orang lain. Karna dia berpikir, bisa saja pembantunya akan mati ditangannya karna itu tugasnya. Dan akan sangat sulit jika dia menganggap orang itu keluarganya

Berpura-pura kuliah untuk menyembunyikan identitasnya yang merupakan putra seorang konglomerat dan memiliki saham yang tak terhitung jumlahnya. Dan berusaha membalas dendam dan menghentikan pembantaian atas nama keluarganya  yang mati dalam pembantaian besar-besaran oleh buku kematian yang mereka sebut Leibe mortis. Saat itu, umurnya masih 3 tahun. Dan dia mendedikasikan hidupnya untuk memburu buku itu. Dari 3 buku yang ada didunia ini 2 diantaranya ada ditangannyan sekarang.

“wah wah wah. . . ada apa dengan wajahmu itu huh?! Kau stres? Carilah gadis untuk menghiburmu“ kekeh seseorang yang duduk di sofa dengan santai menumpuk kakinya dan bertumpu pada meja yang ada didepannya dan tangan yang asyik mengutak-atik remote TV dan mengganti setiap chanel yang ada.

Wajahnya sangat cantik untuk ukuran pria dengan mata sipit dan kulit putih susu yang terbungkus mulus oleh kemeja putih,rompi hitam yang membalut tubuh namja itu dan celana tiga per empat yang menunjukan betis kakinya. Dan tangannya yang begitu  lentik yang bisa dibilang di idam-idamkan semua wanita.

“ Kau.Byun Baek hyun. Sudah kubilang kau tak kuizinkan masuk seenaknya kerumahku. Dan  buang isi otakmu, Kau pikir aku maniak?” ujar Jong-in sambil menghempaskan tubuh disofa menarik paksa kemeja hitamnya lepas dan meperlihatkan  tubuhnya yang hanya terbalut  kaus singlet hitam yang pas dibadan dan membentuk tubuhnya.

“Ayolah tuan muda. . . aku ini lebih tua darimu sopan sedikit. Drak, kenapa dia?”

“kesal karna bertemu gadis menarik.” Jawab Drak

“Woaa. . . Kim Jong-in tertarik dengan wanita?! Nuguya?” pria itu terlihat sangat antusias.

“Aku tak tau!” ujar Jong-in gusar.

“YAK! Jangan bercanda! Kau pelit sekali.” Dengus Baekhyun.

“Dia memang tak tau. Itu sebabnya dia mengerutu seperti orang gila.”

“Jinjja? Bwahahahahaaa… menggelikan!” tawa namja itu meledak, sangat terdengar lucu di telinga pria itu.

“Drak! Kukurangi jatah anggur dan bir mu  satu bulan kalau kau terus bicara.” Ancam Jong-in dengan mulut terkatup tapi masih terdengar tajam dan mengintimidasi.

“oh. . . ayolah kau lebih hebat dariku, mana mungkin kau tak bisa melihat nama gadis itu!”

“Kau fikir aku sedang bercanda?”

“Ah. . . sepertinya aku tau apa penyebabnya. Cih, menyebalkan! Kau bertemu dengannya terlalu cepat!  Hari ini aku juga menemukan hal yang bagus” ujar Baekhyun sambil meraih remote lain yang tergeletak diatas meja dan benar saja, TV didepannya berputar masuk ke dalam dinding.

Dan membuat dinding polos. Dan lampu mulai mati satu persatu dan menampilkan layar proyektor dan dengan cepat memasukan kode secara otomatis dan cepat membuka  file-file aneh yang sangat memusingkan

“apa?” ujar Jong-in malas

“Dea Venato. Dewi pelacak terakhir, dan kuharap keturunanku lahir dari rahimnya.” Kekeh Baekhyun yang masih menuggu komputer itu berjalan. Terlihat cengiran diwajahnya seolah hidupnya ada disitu.

“Bukankah mereka sudah punah? Bukannya nyonya Park yang terakhir?.”

“kau Pikir mereka hewan, punah?  Dan jika kau tak tuli, dia dea Venato terakhir.”

“ tunjukkan padaku.”

“igeo. . . dia gadis yang dulu tinggal bersamaku di panti asuhan, cantik bukan? Aku tak tau kalau dia dea venato.” Ujarnya sesaat sebuah foto yang terpampang sangat besar dengan biodata data yang keluar disampingnya.

“gadis ini?!” ujar Jong-in kaget. Saat melihat gadis yang terpampang dilayar Proyektor.

“Woaaa gadis menarik itu. .  .” seru Drak.

“eh? Jangan bilang Jinnie ku yang kau maksud!” ujar Baekhyun tak kalah kaget. Jelas  dia sangat kaget karna gadis itu adalah gadis pertama yang menarik perhatiannya. Dan sekarang yang terjadi, gadis itu adalah takdir temannya?

“Dia milikmu? Sejak kapan?”  pertanyaan posesif itu, muncul seketika dari mulut pria itu dan tatapan tajam yang terarah pada Baekhyun yang membuat namja itu sedikit merinding.

Dengan posisi duduk tangan yang disangga oleh kedua pahanya dan jari-jari yang bertaut rapi membentuk tautan yang cukup untuk menyangga wajahnya, memudahkan baginya untuk mengintimidasinya.

“ Yak! Kau seperti mau menelanku bulat-bulat.” Ujar Baekhyun yang terdengar ragu.

“Jawab saja atau kau benar-benar kutelan” ujar Namja itu yang masih menatap tajam kearah Baekhyun

“bukan. . . aku bahkan belum sempat bertemu dengannya, dia makin cantik, kudengar dia juga sekolah di Inha.” Ujar Baekhyun kesal.

“bagus kalau begitu.”  Ujar Jong-in yang kali ini malah menujukan seringai yang sangat mengerikan.

“Yak! Kau makin membuatku takut”

“Jangan sentuh dia atau kau akan ku bunuh” Ancam Jong-in yang kembali memasang wajah datar tanpa ekspresi miliknya. Yang mengerikan.

“Woaaa…Drak apa dia benar-benar bertemu dengan takdirnya?”

yah. . . begitulah.”

“kalian bisa diam?” sungut Jong-in. Dan langsung membuat keduanya bungkam. Jadi seperti inikah? Menjijikan memang, mendengar kalimat ‘Cinta pada pandangan pertama’ tapi apa boleh buat itulah yang terjadi sekarang. Takdir? Sepertinya tidak buruk.

 

*****

“Lee Jin-ah. . .” panggil seseorang yang membuat gadis itu  mendongak  dan mendapati namja didepannya. Tak begitu terlihat jelas wajah namja itu karna matanya yang tertusuk cahaya matahari. Sedangkan gadis itu duduk bersandar dibawah pohon besar. Gadis itu melepas Headphonennya.

“Ne? Nuguya?” tanyanya.

Namja itu perlahan berjongkok dan membuat Jin-ah makin penasaran akan wajah namja itu, jantungnya bergemuruh menyambut wajah yang akan muncul itu. Dan bahkan dia lupa untuk menarik nafas, karna tak pernah seorangpun yang membutnya sekacau ini hanya dengan mendengar suaranya.

“ Kita bertemu lagi nona Lee?” ujar namja itu yang ternyata Jong-in sambil menujukan senyum miringnya yang terlihat mengandung arti tersembunyi dan kacaunya Jin-ah berpikir bahwa senyumnya itu adalah senyum terindah yang pernah ia lihat dan kelimpungan hingga sulit menarik nafas.

“KAU! Sedang apa kau disini?!” seru Jin-ah. Suaranya bahkan terdengar aneh, Jong-in makin menunjukan senyumannya, berarti efeknya bukah hanya pada dia saja, gadis itu ternyata terkena efek itu.

“Lee Eun-ji?”  tanya pria itu dengan jelas dan terang-terangan memiringkan kepala untuk melihat gadis didepannya, dan memberikan lengkungan manis yang sejak tadi terukir dibibirnya

“dia. . .”ucapan Jin-ah sedikit mengambang seperti mencari sesuatu diotaknya.

“Dia dikantin, sudah bukan? pergi lah menjauh! Menyebalkan” sungut  Jin-ah sambil kembali berusaha berkonsentrasi kembali kearah bukunya. Namun gagal karna bau namja itu. Cih dia bukan Vampir yang mabuk hanya karna bau seseorang.

“Kau baru saja melacak Eunji bukan? Jadi benar kau Dea Venato yang punah itu?” ujar Jong-in sambil mengangkat wajahnya menatap dedaunan diatas sana dan masih sempat-sempatnya melirik kearah Jin-ah untuk melihat ekspresi apa lagi yang akan di tunjukan gadis diepannya dan juga merasa tak rela mengalihkan tatapannya dari wajah polos gadis itu yang entah bagaimana bisa terlihat sangat menawan.

Jin-ah sedikit menyeringit kaget saat mendengar ucapan namja didepannya dan langsung  menyerbu tatapan tajam pada namja didepannya. Jin-ah tak habis pikir, dari mana namja didepannya ini tau padahal hanya keluarganya saja yang mengetahui tentang hal itu. Namja itu tersenyum puas seakan dia baru saja memenangkan lotre.

“Ekspresi bagus nona Lee.” Kekeh Jong-in.

“Kim Jong-in Imnida.” Lanjut namja itu sambil mengulurkan tangannya.

Alih-alih menepis uluran tangannya, Jin-ah malah menyambut tangan itu. Tapi detik berikutnya, Jin-ah mengarahkan tatapan tajam penuh ancaman kearah Jong-in. Bukan karna apa, melainkan tangannya yang malah digenggam erat dan dengan seenaknya menariknya untuk berdiri.

“Yak! Lepas.” Sungut Jin-ah.

“Apa ada yang mau kau tanyakan Ah~ya?” goda namja itu yang dengan bodohnya membuat Jin-ah salah tingkah.

“ Siapa yang kau panggil itu hah!”

“Kau bukan? Ah. . . aku lupa. Ku jelaskan, kau menyambut tanganku berarti kau terkekang denganku. . .  selamanya.” Ujarnya dengan penuh penekanan di akhir kalimat.

“Yak! Apa-apaan itu?! Apa seumur hidupmu kau tak pernah berkenalan dan saling bersalaman?! Kau gila, yang benar saja! Tak ada peraturan seperti itu didunia ini! lepas!” sungut Jin-ah yang masih berusaha lepas dari tangannya.

“Siapa bilang? Bukankah kau baru mendengarnya?”

“Lepaskan!” sungut Jin-ah yang tak henti-hentinya memberontak agar tanganya lepas dari namja didepannya

“Ikut dengnku, aku ada perlu denganmu.”

“lalu apa? Mau memperkosaku? Tak sebersitpun keinginan untuk ikut dengan mu. Lepaskan dasar idiot!” umpat Jin-ah sambil berusaha berontak. Tiba-tiba Jong-in menarik pinggang Jin-ah hingga tak ada jarak antara tubuh mereka. Dan membuat keduanya sedikit tersentak saat merasakan reaksinya walaupun kekangan itu  sebenarnya sangat kuat tak kendurkan sama sekali.

“ide bagus. Tapi sayangnya aku tak suka melakukan itu” Jong-in yang membuat jantung Jin-ah melocos hilang entah kemana dan disambut kekehan geli Jong-in.

“Siapa kau dan apa mau mu?!” dengus  Jin-ah dengan mulut terkatup yang masih terdengar tajam dan penuh ancaman

“Kau. Kau menginginkanmu. eotthe? Kita menikah?”

“Kau gila?!” Umpat Jin-ah

“Kau tak mau?”

“Jelas!  Kau pikir itu masuk akal?” semprot Jin-ah

“Yah . . . masuk akal jika kau takdirku.”

“Mwo?!” entah apa gadis itu yang salah dengar atau alasan konyol pria itu dengan menyebutkan ‘ takdir’ benar-benar tidak logis sma sekali.

“Aku tak ada waktu berdebat. Aku perlu kekuatanmu.”

“Untuk apa?! Merampok?! Tidak terima kasih!”

“Untuk apa aku merampok? aku bahkan membuang uangku.” Kekeh Jong-in

“lalu siapa kau sebenarnya! Yakinkan aku bahwa kau orang baik!”

“Orang baik kau bilang? Dengarkan baik-baik. Aku. . . Deus Mortis, Dewa kematian. Dan aku bukan orang baik karna aku bisa dengan sesuka hati ku membunuh seseorang hanya dengan keinginkanku. Jadi jangan coba-coba lari dariku atau kau akan berakhir dipeti mati Chagi. . “ ujarnya dengan seringai yang terukir  di wajahnya

“CHAGI?! KAU GILA?!” seru Jin-ah dan membuat beberapa pasang mata menoleh dan mendapati pemandangan langka. kedua makhluk yang sangat anti pada lawan jenis sekarang  malah saling berpelukan dengan lawan jenis mereka masing-masing.

“Hei . . . bukankah ini posisi yang bagus?” kekeh Jong-in, Jin-ah melotot kearah Jong-in dan berusaha lepas.

“Yak! Lepaskan!” dan anehnya tubuhnya seolah menolak perintah dan malah mendengkram kemeja pria itu.

“Anggap saja perkenalan untuk mereka.”

“Ah satu lagi” ujar Jong-in sambil mendekatkan bibirnya ketelinga Jin-ah. Jika dalam angel yang bagus, maka akan terlihat bahwa namja itu mencium leher gadis itu. Bahkan bulu kudu Jin-ah meremang saat merasakan hembusan nafas Jong-in dilehernya.

“berusahalah untuk menyukaiku “

“Kau milikku sekarang. . .”

****

Jin-ah mendengus kesal dan ingin menghancurkan seisi mobil yang ia tumpangi ini. Namja itu, Kim Jong-in, sukses menyeretnya masuk kedalam mobil Buggati Veyron hitam milik namja itu. Dan kalimat terakhir yang  namja itu ucapkan yang membuatnya berpikir keras, karna dia sangat tidak paham sama sekali.

“apa maksudmu tadi?!” ujar Jin-ah tanpa basa-basi membuka pembicaraan setelah lewat setengah jam saling berdiam diri.

“hm?” gumamnya yang masih berpura-pura fokus kedepan. Dan wajah kerasnya, datar, dan kaku itu terlihat sedang menahan sesuatu. Dan makin membuat Jin-ah kesal.

“Jelaskan semuanya. Kenapa kau menyeretku dan sebenarnya apa maksud kata-katamu?!” sungut Jin-ah yang hilang kesabaran. Namja itu hanya menyeringai dan menurunkan kecepatan mobilnya.

“sesuai dugaanku. Kau tak sabaran, kasar, kekanakan dan yang paling parah adalah, kau bodoh!”

“kau sedang mengujiku? Kau benar-benar mau mati hah?!”

“bunuh saja. . .”

 

“lalu apa yang kau inginkan dariku?”tanya Jin-ah tajam. Tahu bahwa namja itu bukan tipe orang yang suka berbelit-belit

“Kau.” Jawab namja itu singkat.

“bisa kau mengatakan sejak awal? Aku tidak memahami benar apa maksudmu dari tadi. Kau mengatakan hal yang aneh yang sulit kupahami.”

“yang ku inginkan itu kau, jadi bisa kita menikah saja?” ujar Jong-in yang kali ini membuat Jin-ah tersedak nafasnya sendiri. Tapi detik berikutnya dia bisa mengendalikan dirinya sendiri.

Mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu. Kejadian yang merenggut ibunya.

“kekuatanku ya? Apa sampai sebegitu relanya kah melepas masa lajangmu denganku hanya karna menginginkan kekuatanku berada dalam kendalimu? Maaf tuan muda, tapi aku tidak suka dikendalikan” Ujar Jin-ah sambil membuang muka kearah jendela mobil.

“ini memang sedikit menyebalkan, tapi kau ini takdirku.” Ujar Jong-in enggan.

“ Aku tak membual, dan kau harus tahu. Beberapa detik saja menyentuhmu seperti tadi, aku merasa butuh melakukan lebih dan itu membuatku mual.” Lanjutnya saat melihat ekspresi Jin-ah yang meremehkannya.

“Psikopat!” umpat Jin-ah.

“terserah kau saja!”

Sesaat Jin-ah hanya terdiam menghamburkan pandangannya keluar jendela.

“Lalu sekarang kau mau membawaku kemana tuan?”

“Rumahku.”

“YAK!” seru Jin-ah.

“satu lagi tambahan untukmu, otakmu itu parah sekali.” Kekeh Jong-in

“DIAM KAU! Memangnya kau tau isi otakku? ” seru Jin-ah.

“Itu yang seharusnya. . .”

Belum sempat membalas ucapan Jong-in, tiba-tiba ponsel Jin-ah berdering memekakan telinga dan dengan kesal menyusupkan tangannya kedalam backpack yang ia kenakan. Sedikit tersenyum melihat nama yang tertera. Dan membuat Jong-in sedikit penasaran siapa yang membuat gadis ini terseyum hanya karna menerima telphone darinya.

“Yeobseo?” ujar Jin-ah setelah menekan tombol hijau pada layar ponselnya dan menaruh benda itu ditelinganya.

Eommanie. . . Appa, tolong hubungi appa sekarang.

“Eh? Ada apa? Kau tak bisa menelphone Appa? Kenapa harus eomma?” tanya Jin-ah bingung. Jong-in yang mendengarnya pun ikut penasaran, apa yang dimaksud dengan eomma? Apa gadis itu sudah memiliki anak dan suami?

“Appa melarangku pulang, padahal Mr. Joen sudah kalah telak ada tak bisa mengekangku diasrama.” Gumam Gyu-ri yang jelas terdengar anak itu sedang kesal.

“ Apa maksudmu Gyu, baru kemarin bukan kau janji pada eomma ? Kau selesaikan dulu sekolahmu baru eomma izinkan.”

“Aku sudah selesai eomma. Aku mau pulang!”  ujar Gyu-ri yang masih terdengar datar.

“bagaimana bisa?” tanya Jin-ah syk.

aku bertaruh dengan Mr. Joen minggu kemarin. Perjanjiannya, jika aku bisamengerjakan seluruh soal ujian yang ia sodorkan, maka aku dinyatakan lulus tanpamenunggu 3 tahun lagi untuk pulang dan bertahan diasrama. Teman sekamarku ituidiot, terlalu menyembah-menyembah pria.”

“Astaga. . . kau boleh pulang kalau ijazahmu keluar.” Putus Jin-ah kehilangan akal.

“Sudah ada.”  Ujar gadis itu dan terdengar merasa menang.

Jin-ah mengacak-acak poni rambutnya dan sedikit menyandarkan lenganya di jendela mobil dan sedikit memijit keningnya

“besok, kau bolehmengambil tiket pesawat paling pagi.” Putus Jin-ah akhirnya lagi pula ini tidak buruk.

“yes! Dan eomma, aku tak mau kuliah. Aku harus sampai umur yang cukup untuk itu, menyebalkan jika berhadapan dengan wartawan.”

“Baik, baik, baik. . . terserah kau saja, hubungi appamu akan eomma suruh appamu itu membelikan tiket. Jangan bergerak sendiri, arra?”

“Eomma. . .  siapkan makanan, komputer, dan . . .”

“Eomma tau. Tak usah kau beri tahu eomma sudah tahu.” Potong Jin-ah. anak ini tak akan pernah berhenti mengoceh jika keinginannya tidak terkabul. Entah dia yang salah mendidik putrinya atau memang kelakuan putrinya seperti itu.

“ eomma, ada seseorang yang mengambil seluruh data pribadi eomma daritahun kelahiran  eomma sampai sekarang, tapi aku menyembunyikan dan berhasilmemblokir informasi tentang kau mengangkatku sebagai anak.”  Ucapan Gyu-ri terdengar serius kali ini. memebuat Jin-ah sedikit berjengit menegakkan tubuhnya  dan fokus mendengarkan ucapan putrinya.

“ kenapa harus kau blokir.”

“Dia berbahaya eomma. . .  teknologi itu”  Jin-ah hanya menghela nafas mendegar penjelasan putrinya. Jelas anak itu sedang sangat was-was. Dan Jin-ah langsung tahu siapa yang melakukannya.

“Kau yang melakukan tuan muda?” tanya Jin-ah pada Jong-in.

“ Data pribadiku” lanjut Jin-ah saat melihat wajah bingung namja itu

“ne”

“kau dengar sayang? Dia ada disini disamping Eomma.” Sambil melirik kearah Jong-in dengan wajah mengejek.

“Aku ingin bicara dengannya.”

“Aku ingin bicara dengannya.”

Ujar Gyu-ri dan Jong-in bersamaan dan sontak membuat Jin-ah langsung menoleh kearah Jong-in.

“A. .Andwae!” jerit Jin-ah.

Waeyo. . . “

“Waeyo. . . “ dan lagi mereka berbicara bersamaan.

“kenapa kalian mengatakan kalimat yang sama?! Aku bisa gila.”

“eomma. . .”  rengek Gyu-ri.

“Baiklah, setelah kau sampai dikorea kau bisa bicara dengannya.” Ujar Jin-ah pasrah.

“Menarik.” Ujar Jong-in sambil tersenyum sedikit membayangkan orang yang akan dia temui besok.

“Aku. Tidak. Bicara. Denganmu. Tuan. Kim.” Ujar Jin-ah geram dengan penuh tekanan.

“Oh. . . dan aku perlu tahu semuanya setelah ini.” Ujar Jong-in.

“Eommanie??”

“Telphone eomma nanti arra?”

“Arraso. . . eum. . .  Eomma.” ujar Gyu-ri terdengar ragu. Jin-ah bisa menebak bahwa putrinya ini  akan menurunkan sedikit gengsinya yang membuat dirinya malu. Sifat dasar yang mirip dengan Jin-ah yang jelas membuat mereka akrab.

“Ne?” tanya Jin-ah dengan tersenyum dan menebak-nebak apa yang akan Gyu-ri katakan padanya.

“Saranghae.” Putus gadis itu cepat dan membuat Jin-ah makin tersenyum lebar.

“Nado” balas Jin-ah dan terdengar suara sambungan terputus. Jelas Gyu-ri sedang mengutuki dirinya sendiri mengatakan itu pada Jin-ah, dan itu sangat mudah ditebak oleh Jin-ah sendiri.

“nah sekarang kau diam sebentar.” Ujar Jong-in sambil mengambil sebuah remote kecil dari dasbor dan menekannya mengarah ke arah rumput dan sulur yang membentuk benteng besar tanpa celah.

Jin-ah baru menyadari bahwa dia mulai kehilangan arah dan tak mungkin bisa kabur, dia tak memperhatikan jalan.

“Dimana ini?!” tanya Jin-ah yang terdengar sedikit kesal dan mengutuki dirinya yang tak memperhatikan jalan karna dia benar-benar tak mengenal daerah ini dan tak pernah kesini.

“Rumahku.” Ujar Jong-in singkat.

“oh bagus. Ini yang kau sebut rumah?” Dengus Jin-ah sambil menghentakan tubuhnya dijok mobil dengan kasar.

Rumah dia bilang? Ini lebih pantas di bilang hutan, karna tak terlihat sama sekali bangunan di balik pagar rumput itu, yang terlihat hanya pohon beringin besar yang bisa dibilang terlihat seperti tiang diantara gerbang.

Jin-ah menganga lebar saat melihat dinding itu terbuka lebar-lebar seperti sebuah mulut. Dan langsung disambut oleh rindangnya pohon cerry blossom yang belum berbunga.

Jong-in hanya tersenyum melihat ekspresi Jin-ah dan menyentuhkan tangannya tanpa sadar, dan sedikit mengacak-acak pucuk rambut Jin-ah.

“Mw. mwoya. . . “ ujar Jin-ah sambil menghindar dari tangan namja itu.

“ kau terlihat sangat menyukainya, Kau bisa jalan-jalan nanti.” Kekeh Jong-in sambil menjalankan mobilnya dan membuka  bagian atas mobilnya dan langsung disambut semilir angin dingin yang langsung menusuk tulang.

“ aku tak melihat rumah.” Ujar Jin-ah polos. Dan membuat Jong-in terkekeh geli.

“masih dua setengah kilo lagi.”

“oh. Tuhan, memangnya apa yang kau harapkan?”

“privasi.”

“orang gila!” umpat Jin-ah dan hanya mendapat kekehan ringan Jong-in.

“nikmati saja.”

Jin-ah hanya mendengus sambil membuang muka kearah luar dan menikmati pemandangan yang terlihat. Telihat air yang menetes dari pucuk daun karna barusan memang hujan, burung-burung yang bertengger mengibaskan badan mereka yang terkena air hujan. Tupai yang melompat-lompat diantara dahan. Terlihat juga beberapa kelinci yang melompat dari bawah tanah.

Ini memberikan sensasi menenangkan, pantas namja ini membiarkan lahan seluas ini sebagai kebun, tunggu mungkin lebih mirip hutan.

“hewan-hewan ini pernah masuk kedalam rumahmu?”

Pertanyaan bodoh pikir Jong-in, apa gadis ini benar-benar anggota FBI? Bodoh sekali.

“ani, disini tempat mereka. Kau tau privasi bukan? Aku tak suka diganggu.”

“lalu? Kenapa kau membawaku? Aku ini pengganggu.”

“Entahlah. . . aku hanya merasa nyaman didekatmu lagi pula aku membutuhkanmu.”

“jangan bahas tentang takdir dan semacamnya itu membuatku muak.” Ujar Jin-ah was-was.

“itu juga membuatku muak.”  Ujar Jong-in yang tak kalah kesal.

“Apa masih lama?”

“ Sudah sampai.” Ujar Jong-in saat kembail memasuki memasuki gerbang besar dan langsung disambut deretan  patung pion-pion catur berukuran besar yang memancurkan air.

Mobil berhenti tepat didepan pelataran rumah  yang cukup luas dengan dikelilingi tiang-tiang beton yang di ukir membentuk Dewi Athena dan Dewi Aprodite. Pintu depan yang terlihat seperti gerbang kematian. Berwarna cokelat kayu asli dengan ukiran-ukiran aneh. Dan tangga yang menuju kepintu itu panjangnya sama dengan tangga yang menuju kelantai dua.

“lamban!” kekeh Jong-in saat dia sendiri sudah berada diatas sedangkan Jin-ah malah baru setengah jalan karna mengamati patung Dewi Aprodite yang hampir telanjang.

“Diam!” semprot Jin-ah.

“ Kau sudah pulang. .  .” ujar seseorang yang tiba-tiba muncul dari balik pintu yang besar itu.

“kau di rumahku lagi hyung? Kau mau rumahmu itu ku bom?” dengus Jong-in wajah kakunya kembali terpasang. Wah, dia benar-benar bukan orang yang ramah, pikir Jin-ah.

“pelit sekali.” Kekeh suara itu yang membuat Jin-ah penasaran dan mempercepat langkahnya untuk menaiki tangga dan melihat siapa yang sedang berbicara dengan Jong-in.

“ Bacon oppa?” seru Jin-ah saat melihat wajah namja yang berbicara dengan Jong-in.

“Huaaa…. Jinnie.” Seru namja itu sambil berlari kearah Jin-ah dan langsung memeluk Jin-ah lalu mengangkat tubuh gadis itu seperti mengangkat anak kecil.

“Kau ini kenapa kau tak mau mencariku hah? Kau tak merasa rindu padaku ya?” dengus namja itu sambil mengacak-acak rambut Jin-ah. Wajah namja ini bisa dibilang lebih cantik dari seorang wanita. Kulit putih bersih, dan wajah yang seperti bayi yang menyamarkan umur sebenarnya.

“ Bacon pabo! Aku tak tau namamu! Mana bisa aku melacakmu. Huaaa aku rindu sekali. Kau tau aku sudah punya anak?”  ujar Jin-ah sambil memeluk namja itu lalu mendongak.

“Mwo?” tujar namja itu terlihat sangat kebingungan. Namun detik berikutnya, dia sudah mengetahui apa yang Jin-ah maksud dan melihat gambaran wajah Gyu-ri diotaknya.

“ini bukan tempat untuk reuni mengenang masa lalu. Hyung kau mau ku patahkan lehermu itu?”

ckckckck dia labil sekali.” Kekeh Drak yang sejak tadi hanya diam.

“diam drak!” sungut Jong-in. Dan membuat Jin-ah bingung setengah mati. Bicara dengan siapa namja ini.

“lebih baik kau diam drak atau kau tak akan dapat jatah darinya dan aku tak mau memberimu makan.” Timpal namja yang Jin-ah panggil Bacon itu.

Baiklah. . .

“ kalian ini bicara dengan siapa?” tanya Jin-ah kebingungan.

“kita bahas didalam. Lagipula Jinnie . . .” ujar Namja itu sambil menarik tubuh Jin-ah mendekat kearah tubuhnya dan merangkul gadis itu dengan lengannya.

“Panggil aku Baekhyun, Byun Baekhyun. Memalukan jika aku masih dipanggil dengan nama kecil ku.”

“Ne, arraseo.” Ujar Jin-ah dengan cengiran aneh sambil mencubit lengan namja itu yang seenaknya merangkulnya.

“Singkirkan lenganmu atau kubuat tanganmu lumpuh.” Ancam Jong-in tanpa menoleh sama sekali.

“Huah pelit sekali kau.” Kekeh Baekhyun

“apa maksudmu tuan Kim!”

“ dia pencemburu. Yah sikap egoisnya keluar, kau tau? Kau ini takdirnya mitos bangsa kami, Deus Mortis.

“kau juga mortis?”

“dan aku akan membunuhmu detik ini juga jika kau tak mau berhenti bicara Byun Baekhyun.” Ujar Jong-in sambil menendang pintu rumah yang terlihat sangat ringan itu hingga menjeblak dan menimbulkan bunyi yang memekakan telinga. Aneh, dia tak seharusnya cemburu bukan?

 

****

Jin-ah duduk bersila di atas sofa dengan mulut yang terisi keripik kentang. Setelah hampir satu jam memahami apa yang Baekhyun ceritakan padanya dan Jong-in yang memilih tidur disampingnya dengan seeanaknya menggunakan kakinya sebagai bantal dan mambuatnya makin kesal.

“biarkan dia Jinnie. . .” ujar Baekhyun sambil menaruh cangkir cokelat diatas meja. Dia tahu Jin-ah sama sekali tak nyaman dan dia sendiri sedikit kaget melihat Jong-in bisa tidur sepulas itu dengan posisi yang sangat tidak nyaman.

“bagaimana bisa ku biarkan? Dia seenaknya.” Dengus Jin-ah tapi masih merasa waras untuk tidak mendorong tubuh namja itu dari pangukannya

“paling tidak biarkan dia sebentar. Aku tak pernah melihatnya bisa tidur sepulas itu.”

“dia ini siapa?” tanya Jin-ah yang tanpa sadar sudah memainkan rambut Jong-in. Benar, namja ini memang tertidur dan sangat pulas.

“Adikku. Aku menganggapnya seperti itu. Dia darah murni deus Mortis, karna lahir dari sepasang Mortis. Dan keluarga tertinggi. Dan dia sudah kuanggap adikku karna dialah yang memungutku di panti asuhan.”

“dan meninggalkan ku?” dengus Jin-ah dengan menggembungkan pipinya.

“hahahaha. . . kau marah ya?” tawa Baekhyun pecah.

“benar.”

“dia membutuhkanmu Jin-ah” ujar Baekhyun dengan memasang wajah serius walaupun masih terlihat wajah anak-anaknya yang tak bisa dipungkiri siapapun.

“apa?”

Namja itu menautkan kedua tangannya membentuk kaitan untuk tumpuan wajahnya. seperti menerawang kehari itu.

“seperti yang kukatakan tadi, tentang buku kematian. Keluargannya dibunuh dan seluruh Deus Mortis pun lenyap. Hanya dia, dia yang berhasil lolos dari maut karna seorang malaikat kematian. Lalu aku waktu itu aku masih di panti dan tak tahu aku mempunyai kekuatan itu. Dia yang membawaku.”

“tugasku?”

“bukan tugas, ini kewajibanmu. Dulu, Dea Venato adalah pendamping Deus Mortis dan bertugas melacak manusia yang akan dicabut nyawanya. Namun seabad yang lalu,  tugas mereka berubah, mereka dijadikan budak untuk perang, perampokan dan sebagainya.”

“arra. Lalu aku masih menganggap dia ini gila karna selalu menyebut takdir padahal jelas sekali dia muak mengatakan hal itu dan akupun mual karna dia mempercayai hal itu.”

“aku sudah tau pertanyaan itu dari tadi tersimpan diotakmu.”

“membaca pikiran?”

“semua deus mortis, kecuali yang mortis itu bertemu dengan takdirnya. Kau itu lebih mirip alkohol baginya dan sebuah pedang yang menjunus dan siap menancapkan ujungnya di jantungnya, memabukan juga menyakitkan. “ ujar Baekhyun sambil menyunggingkan senyumnya, menyandarkan tubuhnya dipungung sofa dan menumpukan tumitnya pada meja.

“konyol.”

“itu kenyataan Jinnie. . . dan rasanya sakit menggrogoti bagian dalammu. Karna bagi seorang Mortis, tak bisa melihat nama, batas kematian, dan isi pikiran adalah mala petaka. Dan kau akan merasa ketakutan seakan orang yang tak bisa ia lihat namanya akan mati ditangan iblis atau Leibe Mortis.”

“kenapa harus difikirkan? Itu hidup mereka.”

“dan itu sifat dasar kami Jinnie. . .” senyum  terpnacar dari wajahnya. Benar-benar wajah yang tak berubah.

“aku tak suka mempunyai takdir seperti dia.”

“ kau akan menyukainya. Aneh memang, tapi aku benar-benar kagum dia tidur tanpa merasa terusik. Biasanya dia akan langsung kesal dan menyuruh siapapun tutup mulut apalagi dia belum makan. Dia tak akan bisa tidur karna kelaparan.”

“Wah Bacon~a . . . kau seperti istrinya.” Ujar Jin-ah sambil memasang wajah mengejek.

“ Kurasa sebentar lagi kau akan tinggal disini.”

“eh? Kenapa aku harus tinggal disini?”

“karna Jong-in bukan tipe orang yang membiarkan hal yang berharga baginya lepas.” Kekeh Baekhyun dan hanya mendapat cibiran dari Jin-ah

“memang aku berharga untuknya?”

“lebih. Itu yang kupikirkan.” Ujar pria itu sambil menghempaskan punggungnya di punggung sofa.

“kau yakin dia tak pura-pura tidur?” ujar Jin-ah was-was, bisa saja namja ini bangun dan dengan besar kepala bahwa dialah bintang utama dalam percakapan ini.

“sangat yakin. Pikirannya kosong dan tenang. Selagi kau tak bisa bergerak, bagaimana kau kalau kau melihat ini.”

Dengan antusias Jin-ah membuat tubuhnya nyaman sedikit mengangkat kepala Jong-in agar dia bisa meluruskan kakinya dan menatap kearah monitor besar yang bisa dibilang lebih mirip  layar  yang ada di bioskop yang di perintah dengan suara dan gerakan tangan.

“tampilkan berkas GDXC14” ujar Baekhyun.

sedang dalam proses, silahkan menunggu.”

Perlahan deretan angka keluar dengan sangat cepat. Jin-ah tau itu adalah sistem keamanan komputer dan sangat mengerikan karna beberapa kode yang harus dimasukan. Dan akhirnya hanya menampilkan tiga buah gambar buku polos .

“Buku apa ini?” tanya Jin-ah.

“Leibe mortis”

“aku kira akan akan ada gambar tengkorak atau semacamnya, ini sangat sederhana kecuali yang itu” ujar Jin-ah sambil mengarahkan jarinya kearah buku hitam yang terlihat seperti buku yang sudah usang seperti bekas dibakar.

“buku itulah yang terparah! Namun sekarang ada ditempat yang sangat aman. Jangan tanya kan dimana, aku tak bisa memberi tahumu yang jelas buku itu dan yang berwarna putih ada ditempat dan tangan yang benar. Buku Lord. Mortis itulah yang abadi, karna terbentuk oleh nyawa seorang malaikat kematian yang melanggar perintah dan dikutuk.”

“Lalu yang hitam polos itu?”

“ada ditangan Clond, kami menyebutnya seperti itu.”

“siapa dia?”

“dia yang membantai seluruh Mortis. Dia hanya manusia tapi tak pernah bisa dilacak, Jong-in mengabdikan hidupnya untuk itu dan menjadi tujuan hidupku. Dan yang membuatku heran, manusia yang menggunakan Leibe Mortis nyawanya akan terkikis dan masuk keneraka dan perlahan tubuhnya akan kering dan mati tapi dia, dia masih hidup. Entah keturunannya yang melanjutkan atau apa yang jelas ini parah.”

“tak ada foto? Apa dia benar-benar tak bisa dilacak?”

“kami menemukan beberapa identitas dan kami tak bisa menemukan nyawa disitu dan setelah kami menemukan itu mereka lenyap”

“boleh aku lihat?”

“tampilkan data Clond lengkap dengan fotonya.”

memproses data, silahkan tunggu.”

Dengan cepat, deretan wajah lengkap  muncul dengan identitas mereka. Dan semuanya dalam kondisi mati. Itu yang tertulis tapi Jin-ah menyeringit bingung saat menatap tajam kearah sebuah foto dan mulai melacak wajah itu.

“tunggu Oppa. . . kau yakin dia sudah mati?” tanya Jin-ah bingung sambil menatap kearah Baekhyun.

“aku Deus Mortis Jinnie. . . aku sangat yakin.”

“Tapi dia bergerak dan sepertinya juga berinteraksi dengan beberapa orang tidak bisa terlihat jelas memang, karna aku hanya mengetahui nama dan wajahnya. Tapi aku melihat bayangan yang berjalan diantara orang itu dan dia bergerak oppa. Aku berani bersumpah.”

“bisa kau lihat tempat apa itu?” ujar Baekhyun antusias yang langsung mengambil Keyboard dan alat-alat lain keatas meja.

“tunggu. . . itu. . . astaga dia memasang bom?” seru Jin-ah. Namun detik berikutnya wajahnya menegang seperti tercekik sesuatu

“Jinnie?” panggil Baekhyun saat gadis itu mematung dengan memasang wajah ketakutan, bahkan gadis itu menahan nafas.

“GYU-RI!” jerit Jin-ah sambil beranjak dari atas sofa hingga Jong-in terdorong dan terbangun.

“Wae?” ujar Jong-in yang masih berusaha mengumpulkan kesadarannya kembali.

“Ponselku, PONSELKU OPPA!” jerit Jin-ah wajahnya pucat, dengan tangan yang langsung membiru dan gemetar hebat saat memegang ponselnya.

“Biar aku yang melakukan.” Ujar Baekyun sambil merebut ponsel Jin-ah dari tangan Jin-ah dan mencari nama yang terngiang di pikiran Jin-ah

“Putriku . . . putriku bisa mati disana!! Oh. . tuhan”

“Yeobseo. . .” ujar Baekhyun saat Gyu-ri sudah mengangkat telphonenya. Namun Jin-ah langsung merebutnya.

“Gyu. . . lari nak! Kumohon, keluar dari asramamu! Tekan semua alarm kebakaran waktumu 5  menit oh tuhan. . . selamatkan dirimu Gyu.”

“Eomma.. . . kumohon tenang. Ada apa? Akan kulakukan, tenanglah ne?”

“BAGAIMANA AKU BISA TENANG!! KELUAR SEKARANG!” jerit Jin-ah tak sabar

Terdengar dari seberang telphone suara alarm berdering nyaring. Dan Gyu-ri langsung beranjak dari kursinya dan berlari namun dia langsung tersungkur karna terdorong oleh tubuh anak-anak lain yang berlari ketakutan.

“dimana?” tanya Jong-in singkat dia sudah berdiri mengadap proyektor dan keybord proyektornya.

“Maulen’s House.”

“Kris hyung ada disana.” Ujar Baekhyun.

“Aku tahu. Hyung. Cari gadis kecil. . .” ujar Jong-in yang entah bagaimana bisa secepat itu menghubungi seseorang, tapi tidak untuk Jin-ah, hal itu termasuk sangat lama karna nyawa putrinya yang menjadi taruhan disini. Jin-ah langsung merebut ponsel itu dari Jong-in.

“Koridor 3 lantai 2 Oh Gyu-ri. kumohon bantu dia keluar ada Bom. Waktumu 3 menit kumohon selamat putriku. . .” ujar Jin-ah yang akhirnya tak bisa menahan berat badannya sendiri dan menjatuhkan ponsel Jong-in saat melihat koridor 7 meledak. Tubuhnya bergetar hebat, dengan mata yang mulai berkaca-kaca dan nafas yang tersengkal-sengkal.

“ bomnya dikendalikan jarak  jauh. . . kumohon jangan . . kumohon jangan Gyu-ri.” Tangis Jin-ah pecah. Gadis itu menekuk kakinya dan menyembunyikan wajahnya diantara kedua kakinya. Dia benar-benar menangis sejadi-jadinya karna melihat Gyu-ri tergeletak pingsan tepat disamping bom.

Tiba-tiba Jong-in menarik Jin-ah dan memeluk gadis itu. Mengerikan, dia juga merasakan ketakutan Jin-ah bahkan tangannya serasa ingin menghancurkan sesuatu.

“sebenarnya apa yang Kris hyung lakukan.” Dengus Jong-in geram.

Tubuh Jin-ah mengelinjang hebat lalu membeku seperti batu dengan jantung yang berdetak cepat dan langsung pingsan.

“apa yang terjadi! Yak! Bangun! Sadarlah Jin-ah! bangun. SEBENARNYA APA YANG DILAKUKAN KRIS! SIALAN!”

“Kris!” seru Jong-in setelah menyambar ponselnya yang tergeletak dilantai.

“dia hanya pingsan. aku telat 1 detik saja anak ini sudah mati benar-benar memacu adrenalin. Aku kaget kenapa di asrama ini ada anak kecil. Aku sedang membawanya kerumah sakit.” Ujar seseorang dari sebrang telphone. Yang membuat Jong-in bisa sedikit merasa lega.

“bodoh! Pastikan dulu semua anak di sana keluar!”

“semua alarm berbunyi Kkamjong. Entah siapa yang melakukannya dengan cepat dan semuanya sudah selamat dan aman, bagaimana bisa aku tak tahu seluruh gedungku di bom. Astaga!!” Seru Kris dan membuat Jong-in merasakan ketakutan itu lagi.

“Wae? Dia terluka?” ujar Jong-in sambil mencengkram ponselnya erat dan tangan kanannya yang masih memegangi tubuh Jin-ah.

“ani. . . dia baik-baik saja. Yang membuat ku kaget, dia yang menyalakan seluruh alarm dengan ponselnya. Ini tidak mungkin dia baru berumur 5 tahun.”

“ bukan waktunya kagum. Hubungi ayahnya lalu bawa mereka ke Korea hyung”

bisa kau jelaskan? Aku tak tahu kau punya koneksi, tapi siapa gadis yang berteriak padaku tadi?”

“ibu anak itu dan dia akan jadi istriku.”

“Yak! Kau mau merebut istri orang??”

“jika perlu.”

ada apa denganmu huh?!”

“ sudahlah Hyung, apa aku harus menjelaskanya satu persatu? Apa semua serigala sepertimu?”

“tak usah membawa-bawa serigala. Apa Baekhyun salah memberimu makan?”

“ aku ingin anak itu selamat.” Ujar Jong-in singkat.

kurasa ini ulah Clond. Apa kau sudah menemukan Dea Venato itu?”

“ Kau baru saja mendengar suaranya. Jika dia tidak sedang melihat nama-nama Clond, mungkin semua anak di Maulen’s House akan mati.”

Wah. . . sangat menarik,akan jadi seperti apa jika Dea venato bergabung dengan Deus mortis darah murni. Sejarah baru akan muncul. Karna sepanjang riwayat hidup, Mortis tak pernah bersatu dengan Venato menjadi pasanngan. Aku jadi sangat penasaran.”

Kau, Baekhyun sama saja. Kalian banyak bicara. Kau juga drak!”

****

Jin-ah menggeliat dan merasakan nyeri dikepalanya dan detik berikutnya dia langsung bangkit dan terduduk diatas ranjang. Mengingat apa yang dilihatnya dia berusaha memfokuskan diri untuk mengetahui keadaan Gyu-ri. Sangat ketakutan tangannya bergetar hebat. Mengingat bom itu meledak dan Gyu-ri masih tergeletak disana.

“Kau sudah bangun ya?” ujar Jong-in sambil membuka pintu dengan Gyu-ri yang ada dalam gendongannya.

Anak kecil itu melompat dari gendongan Jong-in dan berlari kearah samping ranjang. Wajahnya datar, benar-benar tanpa ekspresi. Sedangkan Jin-ah tangannya benar-benar gemetaran.

“Eommanie, Gwaenchana?” tanya Gyu-ri dan langsung disambut ringkuhan Jin-ah. Gadis itu memeluk Gyu-ri erat dan berusaha meyakinkan dirinya bahwa yang ada di pelukannya ini benar-benar Gyu-ri.

“harusnya eomma yang bertanya seperti itu. Kau tak tau betapa takutnya eomma? Sedikit saja dengarkan ucapan Eomma.”

“Eommanie. . . aku sulit bernafas.” Ujar Gyu-ri sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Jin-ah. Anak itu merangkak naik keatas ranjang. Dan Jin-ah baru menyadari bahwa dia ada dikamarnya sendiri.

“Kau yang membawaku kesini?”tanya Jin-ah ke arah Jong-in yang sedang bersandar dipintu kamar dengan tangan yang terlipat didepan dada.

“Hm . . . kurasa kau tak akan mau tidur diranjangku.” Ujar Jong-in sambil berdiri tegak dan berjalan kearah ranjang Jin-ah mengangkat tubuh Gyu-ri dan mendudukannya di pangkuannya.

“Abeoji. . . aku mau naik pesawat jet itu lagi.”

“A. . Abeoji? Gyu. . . Kau tak terbentur sesuatukan? Kenapa kau memanggilnya abeoji?” ujar Jin-ah bingung.

“ Karna kau harus menikah denganku. Bisa kita menikah saja? Terlalu banyak yang harus kukendalikan, dan sialnya kau mengerikan untuk dibiarkan.”

“ kau gila?”

“Aku suka Abeoji. . . Abeoji tidak bodoh. Eomma. . . .”rayu Gyu-ri.

“kau memperalat Gyu-ri?!” dengus Jin-ah tak terima sambil melotot kearah Jong-in

“ani. . .” ujar Jong-in dan Gyu-ri bersamaan.

“Eommanie. . . Abeoji. . . kalian menikah saja.” ujar anak itu sambil meraih tangan Jin-ah dan jong-in dan menumpuknya menjadi satu.

“Gyu. . . bisa kau keluar sebentar? Appa mau bicara dengan Eomma Jin-ah.” Ujar Sehun yang tiba-tiba muncul dan diikut Eun-ji.

Anak itu mendengus kesal sambil berjalan keluar dari kamar Jin-ah.

“Mwoya?” tanya Jin-ah. Entah kenapa tubuhnya sulit untuk melakukan suatu gerakan. Semua tubuhnya terasa lemas.

“ Chagi. . . kau diluar saja, temani Gyu-ri.” Pinta Sehun sambil mengusap punggung Eun-ji

“ ada apa ini?”

“Pekerjaan.”

“Hun~a kau tak pernah begini sebelumnya, ada apa?” tuntu Eun-ji dan membuat Sehun kehabisan kata.

“Biarkan istrimu disini, toh apa ada yang rugi?” Ujar Jong-in sambil menumpukan tubuhnya dengan kedua tangannya.

Sehun menghela nafas dan menyandarkan tubuhnya di tembok sambil menarik Eun-ji agar berdiri didalam jangkauannya dan melingkarkan lengannya dipinggang istrinya.

“ Kau benar Kkamjong, Clond yang melakukan semuanya untuk memastikan seberapa besar koneksimu. Dan putriku, Gyu-ri, dia dalam bahaya saat ini.”

“ memang sangat sulit, bisa saja dia membunuh Gyu-ri sekarang tapi dia membutuhkan Gyu-ri. Itu yang mungkin ada dipikiran mereka dan dia, Clond berusaha merebutnya dariku.”

“ Kau, tak bermaksud menjadikan Gyu-ri sebagai umpan kan?” ujar Jin-ah yang terlihat sudah siap menghantam wajah namja di depannya ini.

“mana mungkin, tenanglah kurasa dia tak mengetahui identitas Gyu-ri. Baekhyun hyung sedang mengusahakan sesuatu untuk melindungi Gyu. Dia tidak aman disni.”

“ kenapa kau tak membunuhnya? Bagaimana kau tak bisa merebut buku itu!” ujar Jin-ah kesal.

“ sebenarnya apa yang sedang kalian bicarakan?! Kenapa kalian membawa-bawa Gyu?!” ujar Eun-ji. Ketakutan terlihat sangat jelas diwajahnya, bahkan matanya sudah berkaca-kaca.

“ Chagi. . . kumohon tenanglah hm? Gyu-ri aman aku berjanji tentang ini.”

“ Tapi bagaimana Gyu. . . kenapa kau tak mau menjelaskan apapun padaku huh? Hun~a kumohon jelaskan, bagaimana bisa kalian baru 2 bulan langsung pulang sedangkan Gyu masih sekolah. Kau yang bilang akan menahannya disana, lalu sekarang kau bilang Gyu-ri dalam bahaya? Sebenarnya ada apa ini?!”

“ kita bicara diluar.”

“Wae?!”

“Eun-ji~a. . . .” ujar Sehun berusaha menenangkan Eun-ji.

“Gyu-ri. . .” potong Jong-in. Lalu mendongak menatap tajam kearah Eun-ji.

“otak Gyu-ri. Anak itu bukan dibuang. Tapi diselamatkan dan disembunyikan diantara manusia.”

“maksudmu Gyu-ri bukan manusia?” tanya Eun-ji

“ Dia manusia, mengalir darah manusia. dan yang membuatku yakin dia bukan manusia adalah, batas hidup anak itu, tak terlihat. Itu yang membuatku dan Baekhyun bingung.”

“bukan takdir? Kau tak bisa melihat nama dan batas hidupku dan kau ketakutan setengah mati, dan yang paling konyol aku takdirmu. Apa Gyu tidak dikategorikan seperti itu?” ujar Jin-ah. Ada sedikit nada mengejek didalam intonasi bicaranya tadi.

“ berbeda, sangat berbeda. Kau, hanya aku yang tak bisa melihat nama, dan batas hidupmu sedangkan Baekhyun bisa melihatnya, itu tandanya kau terikat denganku. Sedangkan Gyu-ri, hanya namanya yang terlihat dan batas hidupnya yang tak terlihat.”

“Kau ini apa Jong-in?” Tanya Eun-ji. Namun Jong-in hanya tersenyum sambil bangkit dari atas ranjang.

“ Istirahatlah besok kau harus kuliah bukan? Aku kaget kau bisa pingsan.” Ujar Jong-in tanpa menjawab pertanyaan Eun-ji sambil mengusap kening Jin-ah yang sedkit berkeringat.

“Sialan!” umpat Jin-ah dan hanya dibalas kekehan renyah Jong-in.  Entah bagaimana Jin-ah menyukai senyuman namja itu, mungkin senyuman itu akan menjadi senyuman favorit Jin-ah.

“Sehun, Senang bertemun denganmu lagi.” Ujar Jong-in sambil menepuk bahu Sehun

“Aku juga.” Ujar Sehun sambil tersenyum.

“Jong-in!” seru Jin-ah saat Jongin baru saja memutar knop pintu. Namja itu menoleh dan seakan ada perasaan kesal karna meninggalkan gadis itu disini.

“aku akan membantumu. . . sesuai permintaanmu.” Ujar Jin-ah dengan wajah serius dan tatapan tajam.

Jong-in hanya menghela nafas dan menghamburkan pandangan kemanapun untuk memilih dan mencari kata yang akan dia ucapakan. Dan entah harus berapa kali dia mempermalukan dirinya seperti ini.

“Permintaanku itu kau harus menikah denganku, bukan kau membantuku. Yah terserah kau saja, aku tak akan memaksamu. . . “ ujar Jong-in sambil menatap Jin-ah dan terdiam beberapa saat sebelum membalik tubuhnya kearah pintu.

“Lagipula Ah~ya. . . “ ujar Jong-in lagi yang sepertinya memang harus dia katakan. Jong-in terdiam beberapa saat.

“Sebisa mungkin menjauh dari hal itu, aku tak mau kau terluka. Kau tau?” Jong-in menghela nafas panjang lalu membuka pintu lebar-lebar sambil memikirkan kalimat terakhir yang harus dia ucapkan.

“Kau sekarang lebih berharga dari apapun yang aku miliki termasuk nyawaku sendiri. Ingat itu.

TBC

6 thoughts on “[FF Freelance] Lacrymosa (Chapter 1)

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s