[FF Freelance] Planet Lumina (Chapter 1)

matoki_wallpaper_by_akumanoheya-d4xa10f

Title : Planet Lumina

Author : tata-chan

Main Casts :

  • [B.A.P] Kim Himchan as Azura
  • [B.A.P] Bang Yongguk
  • [B.A.P] Moon Jong Up as Dr. Moon
  • [B.A.P] Jung Dae Hyun

Genre : Fantasy, Friendship..

Rated : PG 15

Length : Chapter

Disclaimer : FF ini sudah pernah diposting di blog saya.. titaastuti160494.wordpress.com

maaf saya masih amatiran dan butuh banyak belajar, ini kali pertama saya memposting FF jadi tolong berikan komentar agar saya dapat memperbaharui kesalahan.

Selamat membaca🙂

***

 

 

Alien.. mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan kehidupan di bumi. Mereka tidak seperti kami yang hidup dengan segala kemudahan, untuk keliling bumi saja mereka menggunakan benda besi yang beratnya berton-ton bukan hanya itu mereka berjalan menggunakan kaki argh melelahkan sekali (kami mendengar gerak gerik mereka dari penghuni planet Dumbo, sebuah planet kecil yang lebih maju dari planet Lumina).

Jarak planet Lumina dengan Bumi  masih belum bisa dipastikan. planet kami tidak berada dalam lintasan orbit, leluhur kami sengaja memisahkannya untuk kepentingan militer. Pencapaian mengejutkan terjadi beberapa bulan lalu saat seorang profesor membuat mesin pengubah bentuk agar kami bisa pergi ke Bumi dalam sebuah misi. Kami ingin mengetahui kehidupan di Bumi, seberapa majukah peradaban di Bumi? Tentu banyak perbedaan karena menurutku peradaban di planet kami sangat maju, terbukti kami (orang-orang di planet Lumina) mampu menjelajahi antariksa tanpa perbekalan apapun. Kami hanya memerlukan latihan terbang selama 4 jam per hari selebihnya kami menyesuaikan gaya gravitasi dengan menggunakan sebuah gelang, mereka menyebutnya “gelang gravitasi” tapi semua peralatan yang kami buat mempunyai kekurangan disinilah kenapa kami sangat tertarik dengan Bumi, gelang gravitasi ini tidak mampu menembusnya. Cerita ini bermula saat seorang ahli matematikawan memakai gelang gravitasi dan pergi ke Bumi, belum sempat dia menembus permukaan paling atas tubuhnya sudah terlempar ke planet Mars. Sungguh kami di buat penasaraan, kami pun tidak henti membuat teknologi penembus bumi dan di bulan Januari kami berhasil menciptakan “beberapa mesin pengubah bentuk”.

***

Orang-orang berkumpul di balai desa mendengarkan pidato pak walikota tentang penemuan terbaru kami. Hal yang perlu digaris bawahi dari pidatonya adalah para ilmuan mencari seseorang yang mampu mengemban misi pergi ke planet Bumi, hanya 3 orang yang mereka butuhkan. Mereka akan membayarmu 4000 golden, uang itu sangat banyak kami bisa membeli 30 rumah, 300 alat komunikasi dan 10 Jumi (kendaraan khas Planet Lumina seperti mobil tetapi memiliki sayap dan bisa berjalan di atas air).

Keesokan harinya

Orang-orang yang kemarin mendengarkan pidato Pak Walikota berdatangan lagi termasuk Azura. Mereka ribut membicarakan hadiahnya bukan misinya. Azura sedikit menjauh dari kerumunan itu, mendengar hadiahnya saja membuatnya merinding dan bertanya-tanya benarkah para ilmuan bisa membayar 4000 golden kepada 3 orang yang diutusnya? Mampukah mereka (ketiga utusan) menjalankan misi di Bumi? Dan yang paling membuatnya menggelengkan kepala seberapa beratkah misi itu sampai-sampai para ilmuan menyebutkan hadiah dengan nominal yang sangat tinggi.

Satu persatu dari mereka memasuki ruang laboratorium yang disediakan balai kota untuk menunjang penelitian. Hari menjelang siang mereka yang sejak awal antusias kini berubah kesedihan tidak ada yang diterima. Oh yang benar saja.. para ilmuan kecewa, mereka terus berdiskusi membicarakan sesuatu yang tidak kami ketahui. Azura semakin heran dan memutuskan untuk masuk ke ruang laboratorium.

Seorang ahli fisika keluar dari ruangan dan terkejut melihat Azura menundukan kepala “aku kira semua orang sudah diseleksi.. masuklah siapa tahu kau bisa berjalan”

Berjalan?? Satu kata mengerikan untuk didengar, Yaa!!.. kami mempunyai sayap kenapa harus berjalan. Azura menepuk kening pelan mengingat perkataan penghuni planet Dumbo kalau makhluk hidup di Bumi menggunakan kakinya untuk berjalan, mereka tidak mempunyai sayap.

“Dr. Moon.. bantu dia melipat sayapnya” perintah kakek tua, dia duduk dikursi roda. Azura mengenalnya dialah pencipta mesin-mesin tercanggih yang ada di Planet Lumina. Oh prof. Wu, Azura mengidolakanmu bahkan dia membuat mesin persis seperti yang kau buat hanya saja tidak pernah berhasil.

Dr. Moon ahli matematikawan yang kemarin gagal menembus bumi. Setelah menjalani beberapa kali operasi akibat benturan hebat dia akhirnya kembali, pemuda itu bisa dibilang tangan kanan sekaligus calon menantu sang kakek. Beruntung sekali hidupnya.

Jaket tebal melekat dibadan Azura, jaket itu mengunci seluruh syaraf yang ada di sayap sontak Azura terjatuh kelantai dan meringis kesakitan.

Dr. Moon menghampirinya, dia membantu mengangkat tubuh Azura yang lemah “bangunlah dan mulai berjalan.. waktu kami tidak banyak”

Satu langkah.. dua langkah.. tiga langkah.. tidak buruk juga, dia bisa berjalan dua puluh langkah. Azura berteriak senang, mengira-ngira apakah dia akan diterima dalam misi ini atau tidak, bukan hanya dia yang senang mereka (para ilmuan) melempar berkas-berkas, terbang mengelilinginya seperti para kurcaci putri salju.

Seorang ilmuan lain menepuk pundaknya dan melepas jaket tebal yang dia pakai “akhirnya kami menemukan apa yang kami cari, kau bisa bertahan dua puluh langkah tanpa sayap.. luar biasa, detik ini juga kami akan memberikanmu misi.. emmm, maksudku prof. Wu”

Azura mengagguk girang seperti mimpi yang menjadi kenyataan bisa berbicara langsung dengan Prof. Wu berdua.. hanya berdua saja.

Private Room

Ruang pribadi Prof. Wu sangat luas dipenuhi buku-buku dan mesin-mesin buatannya. Dia memberikan Azura sebuah kotak hitam, ransel, jaket pengikat sayap yang tadi dipakainya dan beberapa catatan penting tentang Bumi.

“berhati-hatilah.. kami akan mengirimmu ke Bumi besok selama tiga bulan kau harus melaporkan keadaan di bumi pada kami, minimal satu minggu dua kali”

Azura memasukan barang-barang pemberiannya ke dalam ransel “maksudmu misi yang Pa Walikota bicarakan kemarin adalah menjadi seorang mata-mata? Ta..tapi Bukankah kau akan mengutus tiga orang kenapa di ruangan ini hanya ada aku dan kau saja, dua orang lagi dimana?”

Prof. Wu memijat keningnya yang terasa ngilu, meskipun semua cara sudah dilakukannya untuk mendapatkan tiga orang utusan tapi kenapa yang bertahan hanya satu orang “kalau kau terus berada disini aku tidak bisa bekerja.. pulanglah dan istirahat yang cukup, semua orang yang kami tes tidak memenuhi syarat.. mereka tidak bisa bertahan melawan gravitasi Bumi kecuali kau..” katanya di sela-sela kepergiannya.

“A..aku kenapa?”

“Dr. Moon, tolong bawa anak ini pulang.. pastikan dia beristirahat dan besok bersiaplah jam 7 pagi kau sendiri yang akan mengantarnya ke Bumi.. hanya kau yang pernah terbang ke Bumi” perintah Prof. Wu.

Dr. Moon mengangguk, dia merangkul tangan Azura menyusuri gang-gang sempit. Mengatakan kalimat penting tentang makhluk Bumi jangan percaya pada siapapun, kau boleh berteman tapi kau jangan pernah percaya pada perkataan mereka.. gunakan alat-alat yang ada ditas sesuai kebutuhan.. tiga bulan bukan waktu yang sebentar untuk mu karena kau akan menjadi makhluk asing.

***

07.00 waktu planet Lumina

Dr. Moon melirik jam yang terpasang di tangan kanannya, ia berharap orang yang akan diantarnya ke Bumi sudah siap terlebih 4 jam sebelum penerbangannya menuju Bumi dia harus melatih sayapnya. Sayap mereka memang kuat mengelilingi planet Lumina tapi saat seseorang pergi ke planet lain mereka harus memastikan sayapnya benar-benar kuat karena gravitasi setiap planet berbeda-beda.

“maaf saya terlambat,, kau sudah menunggu berapa lama?” tanya Azura agak sedikit takut melihat ekspresinya yang mulai sangar.

Dr. Moon menghela nafas lebih baik tidak berdebat di pagi hari dari pada wajahnya akan tampak mengkerut ketika berkencan dengan tunangannya.

“aku yakin kau terlambat karena kau sibuk berlatih untuk penerbangan ke Bumi kan.. kami tidak salah memilihmu, kau sangat pekerja keras”

“eh.. a..em.. i.. iya”

Dua puluh jam berlalu, mereka terbang tanpa henti menjelajah semua planet dan berhenti di satu planet yang menurut Azura sangat indah memancarkan cahaya damai. Sungguh planet terindah yang pernah dia lihat selama 19 tahun usianya saat ini.

“Azura, aku hanya bisa mengantarmu sampai sini.. Bumi mengingatkanku pada kejadian itu dan aku masih belum bisa melupakannya” ucap Dr. Moon, raut wajahnya menampakan sebuah ketakutan atau lebih tepatnya trauma akibat benturan yang terjadi tempo dulu.

“tenanglah.. kau tinggal menunggu kabarku saja dari Bumi”

Dr. Moon menepuk kedua pundak Azura. Baru pertama kalinya dia tersenyum dan menyebut nama “Azura” biasanya dia selalu bersikap serius ketika bertemu di kedai kopi “bertahanlah,, misi ini hanya tiga bulan dan jangan melupakan pesanku tentang makhluk Bumi”

Azura mengangguk yakin “percayalah padaku.. aku tidak akan mengganggu makhluk bumi karena Planet Lumina menjunjung tinggi perdamaian”

“oy aku lupa sesuatu.. sebelum kau pergi” Dr. Moon merogoh jaketnya dan memberikan Azura tiga buah pil “Pil ini akan mengembalikanmu ke bentuk semula tapi ketiga pil ini akan bekerja hanya dalam keadaan darurat saja, aku mencurinya dari ruang pribadi Prof. Wu, kau harus memanfaatkannya karena tidak selamanya jaket pengikat sayapmu bekerja dengan baik. Jika kau sudah sampai Bumi hubungi aku secepatnya dan jangan takut melihat wujudmu berubah menjadi makhluk Bumi”

Azura kembali mengangguk. Anggukannya kali ini menandakan sebuah perpisahan. Mungkin tiga bulan bagi orang-orang Planet Lumina cukup singkat tapi baginya yang harus hidup sendiri sebagai makhluk asing di Planet lain sangat menyesakan.

Satu detik kemudian tubuhnya merasa tenang dengan pelukan dari Dr.Moon, dia memeluk Azura sangat erat. Rasa sesak seketika hilang saat Dr.Moon mengucapkan kalimat indah untuknya.

Pulanglah dengan selamat.. kami akan menunggumu di Planet Lumina kalau perlu aku akan terbang ke Bumi untuk menemuimu.

***

Bumi 2014

Breaking News

Sebuah benda asing diperkirakan akan mendarat di Seoul, tidak ada yang mengetahui dari mana benda asing itu berasal. Bagi anda yang berada di dalam ruangan segera_____

Kliik.. seorang namja mematikan TV tanpa melihatnya, dia terlalu sibuk untuk menonton Tv. Pikirannya tertuju pada komputer, jari jemarinya tidak henti mengetik artikel tentang makhluk luar angkasa. Orang lain boleh menganggapnya gila tapi dia yakin makhluk luar angkasa itu ada dan dia akan menangkapnya sendiri.

“BANG YONGGUK!!!” teriak seorang namja lain dari ruang tamu, dia menghampiri Bang Yongguk. Baru 2 menit dia meninggalkan Tvnya sudah ada yang mematikan siapa lagi kalau bukan hyung nya.

“pergilah keluar.. hari ini aku sangat sibuk” katanya yang masih menatap layar komputer.

“hyung mau sampai kapan kau mencari tahu tentang alien.. sudah berapa kali aku katakan di dunia ini tidak ada alien kalau pun ada aku berharap benda asing yang diberitakan itu jatuh di belakang rumah kita”

BRRRRUUUKKKK… Dae Hyun adik dari Bang Yongguk terlonjak kaget. Rumah dua lantainya kini terasa memanas seperti terbakar dan tercium bau tidak sedap dari belakang rumahnya. Ia menarik nafas dalam mengambil senjata api yang tergantung di dinding lantas berjalan ke belakang rumah. Hal yang sama dilakukan Yongguk, dia sudah lebih dulu berada di belakang rumah mengangkat senjatanya ke arah makhluk asing. Senyum penuh kemenangan terpancar dari raut wajahnya, akhirnya media akan segera mengetahui kalau dia tidaklah gila makhluk luar angkasa itu ada. Dia tinggal menghubungi SWAT dan urusannya selesai.

“TOLONG” rintih Azura kesakitan dengan bahasa Planet Lumina. Kedua sayapnya begitu panas serasa terbakar.

“hyung.. makhluk apa itu? Dia berbicara apa??” tanya Dae Hyun

Yongguk menggelengkan kepalanya “kau tetap dibelakangku dan mengambil jarak darinya, aku takut dia akan bertindak diluar dugaan kita”

Daehyun mendekatinya, menyentuh sayap Azura yang lembut. Terdengar erangan kesakitan dari makhluk yang pertama kali dia temui. Makhluk itu tidak jauh berbeda dari manusia hanya saja telinganya berbentuk telinga kelinci dan mempunyai sayap yang sangat lebar.

“Dae Hyun-ah kau tidak mendengarkanku” Yongguk semakin mengacungkan senjatanya ke kepala Azura “MENJAUH DARINYA!!!”.

“Yongguk hyung hentikan, kau menyakitinya” Daehyun mengambil paksa senjata yang digenggam Yongguk “bukankah kau ingin membuktikan pada dunia kalau makhluk luar angkasa itu ada.. kau akan semakin terkenal jika buruanmu masih hidup, sabarlah sebentar”

***

Planet Lumina..

Dr. Moon berbaring dipadang rumput nan hijau ditemani aroma bunga dan langit biru. Jari telunjuknya tidak henti menorehkan sebuah pola hingga membentuk sebuah nama AZURA sahabat masa kecilnya kini berada diluar pengawasan terasing di planet lain. Entah kenapa dia merasa sedih saat berpisah dengannya seperti tidak akan pernah melihatnya lagi.

“aku sangat menyesal membiarkanmu mengemban misi seorang diri.. kau memutuskan hidupku menjadi seorang matematikawan tapi kenapa kau menyia-nyaiakan dirimu sendiri, melepas cita-citamu menjadi seorang professor untukku”

#flash back

Penerimaan mahasiswa baru sebuah titik awal menembus cita-cita. Mereka mempersiapkan diri mengikuti ujian tahunan, bekerja keras tanpa lelah bahkan 24 jam terasa tidak cukup untuk belajar berbagai materi ujian.

“Hei kau!!” seorang pria berbadan besar menghadang dua namja yang sedang berjalan ke arah Universitas “wah nama yang bagus Moon dan Azura.. apa kalian akan mengikuti ujian masuk universitas” dia melihat nametag yang terpasang didada kiri ke dua namja itu.

“permisi kami mau lewat” Azura menarik tangan Moon dan berjalan melewati namja bertubuh besar itu.

“YA!! Aku belum selesai” namja itu juga menarik tangan Moon.

“maaf tuan kami tidak mempunyai banyak waktu, sebentar lagi ujian dimulai” terang Moon sopan.

“kurang ajar sekali kalian.. kalian mau mempermainkanku HA!!” bentak pria itu

Aroma alkohol tercium dari mulutnya. Sungguh kepala Moon dan Azura pusing dibuatnya, berapa gelas yang dia mimum. Tidak bisa dibenarkan, Azura memberanikan diri memukul tubuh pria itu hingga tersungkur. Sekali dia mencium sesuatu yang membuatnya muak dia tidak bisa mengendalikan dirinya.

“menjauh dari kami!!!” bentak Azura tidak mau kalah.

Namja itu berdiri mengusap darah yang mengalir dari mulutnya dan mengelapnya dengan kemeja putih yang dipakai Azura “siapa nama mu tadi? Azura.. berani sekali kau”

Buuuk.. pukulan telak mendarat dipipi Azura, dia masih mampu berdiri “hanya sebesar ini kemampuanmu tuan” Azura membalas pukulannya.

Kata-kata Azura berhasil memancing emosi pria itu. Dia mendorong Azura ke sebuah tempat sepi, memukulnya tanpa henti dan tidak membiarkan Azura mengambil celah sedikit pun.

“Moon pergilah.. aku akan menyusulmu nanti” kata Azura tenang meskipun tubuhnya sakit tapi dia tidak ingin terlihat lemah di dapan Moon.

“tidak.. aku akan meminta bantuan.. bertahanlah”

“MOON!! Jika kau tidak mengikuti ujian kau bukan sahabatku lagi, aku tidak mengharapkan bantuan darimu jadi pergilah”

#flash back end.

“ternyata benar kau disini”

Suara seorang yeoja membuyarkan lamunan Moon. Dia memiringkan kepalanya dan mendapati tubuh yeoja itu sudah berbaring disampingnya. Aroma bunga yang ia cium tadi terkalahkan dengan aroma tubuhnya, dia seperti peri Bunga dalam cerita dongeng tampak indah dan cantik.

“k..kau”

Bersambung….

 

One thought on “[FF Freelance] Planet Lumina (Chapter 1)

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s