[TwoShot] Because, Always You…[Ch.2]

two14

Author : ChoaiAK

RATING : PG-15 | GENRE : Friendship, Romance, Life || LENGTH : TwoSHot  ||

Cast : Lee Jaehwan/Ken (Vixx), Son Hemi (OC) ||

1st Oneshot :  Here  ||  2nd Oneshot :  Here

previous Chapter : here

also at :  http://choaichapters.wordpress.com/

***

Yours, if only I have you

Strong, I can become stronger

All day, one month, one year, I can make you smile

I am confident

What do I do? – VIXX

 

Hemi memasukkan kembali ponselnya kedalam tas sambil berjalan menuju tempat tinggalnya yang akan segera dia tinggalkan dalam beberapa jam kedepan. Belum lama dia tinggal ditempat itu dia sudah banyak mengalami hal-hal tidak menyenangkan. Dua kali mereka merasa seperti sedang diikuti saat pulang pada malam hari dan sering terdengar suara orang-orang mabuk dan menggedor pintu apartemen dua lantai mereka yang memaksa masuk kedalam. Dan terakhir kali kejadian itu terjadi sekitar lima hari yang lalu, dia bahkan sampai menghubungi Jae Hwan karena tidak berani pulang sendiri kerumahnya karena Junho tidak mengaktifkan ponselnya malam itu.

Dia mengambil kembali ponselnya dan mencari nama Jae Hwan, sesaat dia ragu apakah dia harus mengiriminya pesan atau langung menelefonnya. Akhirnya Hemi memilih option yang kedua. Sambil mendengarkan lagu sebagai nada tunggunya Hemi ikut menyanyikan lagu tersebut.

“masih menyanyikan lagu di nada tungguku?”

“karena itu lagu kesukaanku.” Jawab Hemi. “aku sudah sampai di rumah. Kamu dimana?”

kamu yakin sudah sampai dirumah? Tapi aku tidak melihat siapa-siapa disini.”

Hemi berpikir beberapa detik, “lihat kedepan saat kamu jalan,” dia mendengar suara Jae Hwan menegurnya.

“aku sedang melihat kedepan.”

“kamu berjalan seperti orang yang tidak bisa melihat. Aku sudah di depan apartemenmu.”

Hemi melihat Jae Hwan sedang bersandar di pagar apartement mereka. Dua orang pemuda yang besarnya tidak jauh berbeda darinya juga sedang berdiri sambil melihat sekeliling.

annyeong..

Hemi tersenyum dan sedikit membungkukkan tubuhnya menyapa mereka. “kenapa tidak bilang dulu padaku kalau kalian sudah disini?”

“kami sedang tidak ada kegiatan apa-apa hari ini.” Jae Hwan tersenyum. “kenalkan, ini temanku. Kamu sudah pernah bertemu dengan mereka, kan?”

Hemi tersenyum pada seorang pemuda yang tersenyum lebar kearahnya seperti seorang cassanova yang bernama Cha Hakyeon dan seorang pemuda lain yang lebih terlihat seperti mannequin hidup dengan wajah tampan bernama Taek Woon.

“mereka-“

“teman satu apartementku.” Jae Hwan bisa langsung mengerti tanpa harus mendengarnya bertanya dengan lengkap. Cerita Junghee tentang teman-teman satu apartementnya ternyata memang benar. Mereka tampan dan tidak jauh berbeda dari Jae Hwan. Hemi mengangguk mengerti.

“kamu akan pindah sendiri? teman satu rumahmu?”

“dia sudah lebih dulu pindah kerumah keluarganya sebelum mencari rumah baru.”

Hemi menekan kode keamanan pintu rumahnya saat Jae Hwan mengetuk pintu tersebut cukup keras untuk memastikan. “aku tidak habis pikir kenapa memilih tinggal disini dari awal.”

“kamu akan tahu waktu melihat kedalam.”

Hemi mempersilahkan mereka masuk kedalam apartemennya yang hanya mempunyai dua kamar tidur, satu kamar mandi dan dapur kecil. Hemi tidak pernah suka ruang yang luas, karena sering membuatnya merasa takut saat sendiri. satu-satunya yang membuatnya merasa sangat nyaman adalah pemandangan yang terlihat dari ruang duduk kecil mereka yang menghadap langsung ke perbukitan. Suasana kota Seoul memang masih terlihat asing baginya yang selalu tinggal di kota lain dan kemudian pindah ke Irlandia yang sebagian besar waktunya dia habiskan di dalam lingkungan rumah sakit.

“baiklah sekarang aku mengerti.” gumam Jae Hwan saat memandang pemandangan dari jendela rumahnya. “lalu tempat tinggalmu sekarang?”

“lebih pada keamanannya dibandingkan pemandangan. Tapi aku dengar ada beberapa artis yang tinggal disana.” Dia menyeringai kearah pemuda itu. “mungkin aku bisa bertemu mereka sesekali.”

“YA!”

Hemi tertawa kecil melihat ekpresi wajah Jae Hwan. Tanpa mereka sadari, ada dua pasang mata yang memperhatikan mereka dengan tatapan serius. Hemi melirik jae Hwan kemudian beralih melihat kedua teman Jae Hwan.

“apa kalian benar-benar teman?” pemuda bernama Hak Yeon menunjuk kearah mereka dengan tatapan curiga.

“hyung!”

“aku hanya bertanya, kalau kalian benar-benar teman kenapa harus marah seperti itu.” Hak Yeon mengedengus kesal karena kaget saat mendengar suara Jae hwan yang tiba-tiba keras. “kau ini menyebalkan sekali.”

Hemi tertawa samar, “dia memang sudah menyebalkan dari sananya.”

“aku tidak seperti itu.” bantah Jae Hwan.

“benarkah?” tanya Hemi dengan wajah polos.

“aku tidak seperti itu.” ulang Jae Hwan.

“oh, baiklah. Kau ini menyebalkan sekali.” Gumam Hemi sambil meninggalkannya dan masuk kedalam ruangan yang beberapa hari lalu masih jadi kamarnya.

Hemi melirik sekilas kearah Jae Hwan yag menyusul dibelakangnya dan memandang ruangan persegi itu.

“ini kamarmu?”

“dulunya.”

“dari awal aku tidak percaya waktu melihat barangmu yang berkotak-kotak itu, tapi kalau dilihat lagi baiklah mungkin aku harus percaya kamu menghabiskan banyak tempat untuk buku-buku itu daripada pakaian.” Hemi tertawa. “jangan sampai JungHee noona tau soal ini. Dia bisa membawamu shopping berhari-hari hanya untuk mendandanimu.” Lanjut Jae Hwan.

“apa isi kotak ini?” mereka berdua menoleh pada Hak Yeon yang juga ikut masuk bersama Taek Woon.

“buku-buku kuliahku.”

“mwo? Rajin sekali, aku sudah kuliah lebih dari 2 tahun tapi bukuku bahkan tidak sampai satu kotak penuh seperti ini dan kamu baru kuliah beberapa bulan dan punya berkotak-kotak.”

“aku harus menghafalnya dari sekarang.” jawab Hemi. “atau aku bisa membahayakan nyawa orang lain nanti.”

“kamu selingkuh dari Jae Hwan? Atau kamu selingkuh dengan Jaehwan?” kali ini suara Taek Woon yang belum dia dengar suaranya dari awal mereka bertemu. Di tangan Taek Woon ada dua pigura foto Hemi bersama dua pemuda yang berbeda, Jae Hwan dan Junho.

Dia melihat Jae Hwan mengambil pigura foto mereka berdua. “ini foto waktu kamu datang kerumah waktu itu.”

“Junghee eonni yang memberikannya padaku.”

“dan ini?” Hak Yeon menunjuk foto yang lain.

“pacarku.”

Hak Yeon tiba-tiba mendecakkan lidahnya, “kenapa kamu memilih memanggil temanmu dari pada pacarmu untuk pindah-pindah seperti ini?”

“huh?”

“hyung!” melihat Hemi jadi salah tingkah seperti itu membuat Jae Hwan ingin menyumbat mulut Hak Yeon yag tidak pernah bisa menyimpan pikirannya sendiri dalam kepalanya.

“pagi tadi dia bilang kakeknya mendadak masuk rumah sakit.” jawab Hemi. “sebelumnya maaf karena sudah merepotkan kalian.”

“jangan dipikirkan, anak ini memang selalu bicara sembarangan.” Ujar Taek Woon. “ini juga bukan pertama kalinya. Setidaknya kamu sudah bisa antisipasi kalau bertemu dengan dia lagi.”

ne

Hak Yeon mendengus, “aku hanya bertanya.”

***

“kamu tinggal disini?” Jae Hwan memperhatikan gedung apartemen yang tergolong mewah untuk ukuran seorang mahasiswa seperti mereka. Tapi mengingat Hemi bukan dari keluarga tidak mampu tidak heran kalau dia bisa menyewa apartemen seperti ini.

“ini bahkan lebih bagus dari apartemen kita.” Gumam Hak Yeon sama terpesonanya. “berapa orang?”

“berdua.”

“huh?” Hemi tertawa kecil melihat reaksi JaeHwan. “kamu tidak salah? Apa pembagiannya tidak terlalu besar kalau cuma berdua?”

“aku tidak bayar sewa.” Jawab Hemi. “seniorku tinggal sendiri. jadi dia mengajakku tinggal bersamanya disini. Lagipula aku juga sudah kenal lama sejak di Jeju.”

“perempuan?”

Hemi sontak memukul kepala belakang Jae Hwan dengan kesal, “kau kira aku akan tinggal dengan laki-laki?”

“mana aku tau kamu mau tinggal dengan laki-laki atau perempuan, kamu tidak bilang.” Sebelum Hemi sempat memukul kepala Jae Hwan sekali lagi Taek Woon sudah lebih dulu memukulnya dan disusul dengan Hak Yeon yang ikut meninju lengannya.

“jangan berpikiran rendah pada temanmu.” Tegur Taek Woon lalu beralih melihat Hemi. “apa temanmu ada dirumah?”

“tidak, dia sedang ada urusan dirumah sakit. tapi aku sudah ada kuncinya.”

“kalau begitu kita masukkan barangnya sekarang saja selagi masih siang. Jadi kamu bisa langsung berkemas.” Usul Taek Woon.

Mereka semua setuju dengan usulan Taek Woon tanpa ada yang membantah. Sementara Jae Hwan hanya bisa mengelus kepala dan lengannya yang dipukul teman-temannya. Bagaimana bisa dalam beberapa jam Hemi sudah ada backup yang tak lain adalah teman-temannya sendiri. Dasar penghianat.

***

Setelah beberapa lama membantu Hemi akhirnya mau tidak mau dia harus ikut pulang bersama Hakyeon dan Taekwoon. Hakyeon masih harus bertemu dengan salah satu dosennya sementara Taekwoon harus menemui Yaena di kampus setelah mendengar kata-kata Hakyeon.

“kau yakin tidak mau aku bantu lagi?” Jaehwan bertanya sekali lagi saat mereka sudah berdiri di dekat pintu.

“tidak. Aku bisa menyusun barang-barangku sendiri.” tolak Hemi. “lagipula tidak banyak barang selain baju dan buku yang harus aku susun.”

“Ya! Lee Jaehwan,” suara Hakyeon kembali mengganggunya. Dia melihat Hemi tertawa setelah melemparkan tatapan sinis kearah Hakyeon dan membuat pemuda itu diam.

Lalu saat dia masih memperhatikan Hemi dia melihat gadis itu tersenyum pada seseorang yang baru masuk kedalam.

“eonni. Sudah pulang?”

Mereka semua melihat kearah perempuan yang baru saja disapa oleh Hemi. wajahnya terlihat lelah namun dia tersenyum ramah pada mereka semua kemudian menghampiri Hemi dan memeluknya.

“eonni? Kenapa?”

“oh aku capek sekali. Aku harus kembali ke rumah sakit. Aku lupa membawa data-data yang diperlukan.”

Beberapa saat ketiga pemuda yang masih berdiri di depan pintu memperhatikan mereka sampai Hemi tertawa samar.  “eonni. Sepertinya eonni membuat teman-temanku kebingungan.”

Perempuan itu lalu melepaskan pelukannya dari Hemi dan memutar tubuhnya melihat kearah Jaehwan dan teman-temannya.

“ini Lee Jaehwan, temanku yang aku ceritakan pada eonni. Dan yang ini teman-temannya. Jung Taekwoon dan Cha Hakyeon.” Tunjuknya. “dan ini Baek Taehee.”

Mereka melihat perempuan itu membungkuk sekali lagi menyapa mereka. “annyeonghaseyo. Ah, sebaiknya aku mengambil data-dataku dulu.”

Hemi sekali lagi tertawa melihat tingkah Taehee yang tidak seperti biasanya karena kelelahan. Kemudian dia kembali melihat kearah Jaehwan.

“kalau begitu kami pergi dulu.” suara Hakyeon yang terdengar lebih serius dari sebelumnya.

Hemi mengangguk. “kalau begitu aku pergi dulu. Hubungi aku kalau ada apa-apa.” Hemi sekali lagi mengangguk pada Jaehwan.

***

Beberapa hari setelah membantu Hemi pindah, mereka jarang berkomunikasi. Kadang saat dia menghubungi Hemi, gadis itu selalu beralasan sedang sangat sibuk sehingga tidak bisa berbicara lama-lama melalui ponselnya. Jaehwan berusaha mengerti. Hubungan mereka juga tidak lebih dari teman masa kecil. Tidak peduli seberapa besar perasaan sayangnya pada Hemi dia tetap tidak bisa mengungkapkan perasaan itu. Dia hanya berharap Hemi akan menyukainya sekali lagi.

Sore itu mereka sedang berkumpul di taman dekat kampus mereka sambil menunggu Hongbin yang sedang menemui Prof. Shim ditemani oleh Yaena. Saat sedang berbincang dengan teman-temannya dia merasakan ponselnya bergetar dari dalam kantong celananya. Dari Hemi.

“Hm Hemi-ah..”

“Bisa tidak temani aku ke suatu tempat?”

“Kapan?”

“Sekarang.”

Dia seperti mendengar ada nada sedih bercampur marah dari suara Hemi. Meski ingin bertanya ada apa namun dia memutuskan untuk menunggu sampai mereka bertemu langsung atau sampai Hemi menjelaskannya sendiri padanya.

 “Baiklah.” Ujarnya setuju. “Kamu dimana sekarang?”

Setelah Hemi memberitahu dimana tempat dia berada sekarang Jaehwan berpikir sebentar setelah meletakkan kembali ponselnya.

“Ada apa?” Dia menoleh pada Taekwoon.

“Sepertinya aku harus pergi dulu. Ada urusan mendadak.”

“Kemana?” Wonsik bertanya. Mereka semua menunggu jawabannya.

“Aku juga tidak tau. Aku cuma di ajak.” Gumamnya. “Kalau begitu aku pergi dulu.”

Dia belihat Hemi duduk sendirian dengan wajah muram di halte. Matanya memandang kebawah dengan tatapan kosong. Ada apa dengannya?

“Hemi.”

Perempuan itu menoleh kearahnya dan tersenyum kaku. Senyumnya yang jelas-jelas dipaksakan membuat Jaehwan semakin yakin ada yang tidak beres dengan Hemi. Apa penyakitnya kambuh lagi? Apa dia diikuti penguntit lagi? Atau sekarang ada masalah baru lagi?

Jaehwan duduk disamping Hemi dan memperhatikannya lekat-lekat.

“Ada apa? Kamu seperti sedang mengalami masalah berat.”

Hemi menggelengkan kepalanya dan tersenyum samar, “tidak. Aku baik-baik saja. Kamu tidak sedang sibuk, kan? Maaf sudah memintamu kemari tiba-tiba.”

“Santai saja, tadi juga aku sedang menunggu teman satu apartemenku dengan yang lain.” Dia lalu melihat Hemi sedang memperhatikannya. “Aku tahu kamu pasti sedang ada masalah. Kamu bisa cerita kalau kamu mau. Sekarang kita akan kemana?”

“Jalan-jalan.” Jawab Hemi santai. “Aku mau mentraktirmu karena sudah membantuku.”

Jaehwan tertawa, “aku sudah sering membantumu itu artinya tidak cukup kalau cuma mentraktir sekali. Lain kali aku akan hitung berapa kali sudah membantumu.”

Hemi mendengus, “aku mengerti. Ayo.”

Tidak seperti biasa, beberapa kali Hemi termenung dan bersikap berbeda dari biasanya. Sejak kecil Hemi memang tidak pernah bisa membagi apa yang sedang rasakan, apa yang sedang dia hadapi dan hanya akan menghadapinya sendiri sampai batas kesabarannya habis. Jaehwan pernah mengalami itu.

Mereka sampai di sebuah cafe yang didatangi oleh banyak pasangan. Tidak terlihat ada yang duduk sendiri di dalam cafe tersebut. Sesaat Jaehwan bertanya-tanya kenapa Hemi membawanya kemari dan berkali-kali dia melarang perasaannya untuk berharap kalau Hemi masih punya perasaan padanya seperti dulu.

“Kamu mau pesan apa?” Pertanyaan Hemi membuyarkan pikiran Jaehwan yang sibuk dengan pertanyaan-pertanyaan.

“Apa saja.” Jawabnya cepat.

Hemi mengerutkan keningnya heran, “kamu tidak suka disini?”

“Tidak. Maksudku bukan itu. Ah sudahlah, Vanilla latte saja.” Hemi tertawa melihat tingkahnya yang mendadak kebingungan dengan apa yang dia lakukan.

Setelah menyebutkan pesanan mereka pada pelayan cafe yang berdiri di belakang meja kasir mereka lalu pergi mencari tempat di sekitar cafe tersebut. Namun saat Jaehwan akan menunjuk tempat yang paling bagus di samping jendela besar yang menghadap ke taman belakang cafe Hemi langsung menarik tangannya ke arah yang berlawanan. Tempat yang dipilih Hemi terletak paling sudut cafe.

Sekarang aku benar-benar harus bertanya, pikirnya. “Hemi, sebenarnya ada apa ini?”

“Apa?”

“Sebaiknya jelaskan padaku sekarang atau aku bisa benar-benar salah paham dengan pertanyaan dan jawaban yang ada dalam kepalaku sekarang.” Kata Jaehwan. “Kita datang ke cafe yang didatangi banyak pasangan dan duduk di tempat yang paling sudut sementara kita bukan pasangan. Sebenarnya apa yang sedang kamu rencanakan?”

Hemi menatapnya lalu menundukkan kepalanya seperti anak kecil yang ketangkap tangan sedang mencuri permen.

“Kalau kamu melakukan ini karena ingin membalas apa yang dulu pernah aku lakukan sebaiknya jangan. Aku tahu kamu tidak sejahaat itu.”

“Tidak. Tidak.” Dengan panik Hemi mengangkat tangannya membantah apa yang diucapkan Jaehwan. “Aku tidak pernah berpikir seperti itu.”

“Lalu kenapa?”

Dia diam sejenak sambil menundukkan kepalanya lagi. Namun baru saat dia akan menjawab Jaehwan melihat wajah Hemi berubah tegang seperti ada yang dilihatnya. Penasaran dia ikut melihat apa yang sedang dilihatnya. Junho. Laki-laki yang sama yang dikenalkan Hemi sebagai pacarnya.

“Hemi…”

Namun Hemi lebih dulu berdiri dan menghampiri Junho dan perempuan yang sedang bersamanya saat mereka sudah mendapatkan tempat. Jaehwan cepat-cepat menyusul Hemi dan berhenti beberapa langkah di belakangnya.

“Hai oppa,” sapa Hemi ramah lalu menoleh pada perempuan bersama Junho. “Hai Min Young.”

“Hemi? Apa yang kamu-“

“Apa yang aku lakukan disini? Membuktikan ucapan oppa tentu saja. Tadi oppa bilang sedang pergi menemani ibu tapi aku tidak sangka kalau ternyata ibumu adalah orang yang beberapa waktu lalu masih menjadi teman satu flatku.”

Jaehwan tidak punya pilihan lain selain menyaksikannya dari jauh. Jadi ini alasannya kamu mengajakku kemari? Untuk membuktikan kesetiaan kekasih dan temanmu?

“Aku tidak akan mengganggu waktu kalian.” Hemi bicara dengan suara setenang mungkin. “Mungkin kalian lupa tapi aku dan Junho oppa masih punya status pacaran. Oppa kamu mau memutuskan aku sekarang atau aku yang harus memutuskanmu?”

“Hemi, dengarkan aku, aku bisa-“

“Kalau begitu aku yang akan memutuskanmu.” Potong Hemi. “Hwang Junho, kita putus.”

Barulah saat laki-laki itu berusaha menarik tangan Hemi, Jaehwan langsung turun tangan.

“Sudahlah. Dia sudah bilang putus jadi tidak ada yang perlu di dengarnya, kan?” Jaehwan memasang wajah seramah mungkin namun menatapnya dengan sinis.

“Kau-“

“Kita pernah bertemu sebelumnya.” Jaehwan mengangguk. “Dan kau akan terus bertemu denganku kalau masih berani menemui Hemi.”

Dia masih menatap Junho sinis sebelum melihat Hemi dan menarik tangannya keluar dari sana meninggalkan mereka dan orang-orang yang menyaksikan kejadian itu.

“Hemi.” Panggil Jaehwan saat mereka sudah duduk di dalam bus menuju apartemen tempat Hemi tinggal.

Mendengar Jaehwan menunggu penjelasannya, Hemi mengangkat wajahnya yang sejak tadi menunduk dan menatapnya. “Aku ingin melihat langsung dengan mataku sendiri apa yang disampaikan Taehee eonni.”

“Maksudmu?”

“Dia bilang Junho selingkuh dariku.” Hemi kemudian menarik nafas dalam-dalam sebelum kembali bicara. “Aku tidak berani membuktikannya sendiri jadi-“

“Jadi kamu mengajakku.” Potong Jaehwan. “Harusnya kamu bilang dari awal.”

“Aku tidak tahu apa yang aku pikirkan.” Gumamnya. “Aku pernah memutuskannya sebelum ini karena orang tuaku tidak percaya padanya tapi dia datang memohon agar bisa kembali denganku.”

“Kamu menyesal?”

“Mungkin lebih tepatnya bisa dibilang lega.”

 Hemi menghembuskan nafas panjang dan tersenyum saat menoleh kearahnya, “terima kasih karena kamu ada disampingku di saat seperti ini.”

***

“Dia sudah bilang begitu padamu lalu?”

Jaehwan melirik Yaena yang mengunggu jawabannya sambil sebelah alis terangkat setelah tanpa sadar cerita dengan temannya itu tentang kejadian tempoh hari dengan Hemi saat selesai rapat di ruang HPC.

“Takut? Tidak berani? Pengecut?”

“Bukan itu.” Bantah Jaehwan.

“Lalu kenapa?”

Dia menghembuskan nafas berat dan menyandarkan kepalanya di atas meja, “dia baru melihat pacarnya selingkuh dengan temannya sendiri kalau aku tiba-tiba menyatakan perasaanku bukanya tidak mungkin kalau dia pasti akan langsung menolakku.”

“Atau mungkin menerimamu.” Tambah Yaena. “Kau belum mencoba tapi sudah menyerah duluan.”

“Kau tidak mengerti…”Jaehwan bergumam pelan.

Yaena memperhatikannya sambil menopang dagu, “apa yang aku tidak mengerti? Kau sayang pada Hemi dan bukannya tidak mungkin dia juga punya perasaan yang sama padamu. Aku tau dia redhead chubby yang Taekwoon oppa bicarakan waktu itu.”

Terkejut, Jaehwan langsung menegakkan kepalanya menatap Yaena, “darimana kamu tahu? Kau memberitahu Taekwoon hyung juga?”

Yaena menggeleng, “Taekwoon oppa yang memberitahuku. Lagi pula aku bisa langsung menebaknya waktu melihat foto anak perempuan chubby dalam dompetmu setelah bertemu dengan Hemi.”

“Benarkan?” Tanya Hemi lagi setelah dia tidak menjawab beberapa saat. “Menurutku tidak masalah kalau hanya menyatakan perasaanmu padanya.”

***

Hemi menunggu sampai lift berhenti di lantai 10 rumah sakit tempat dia membantu dosennya yang seorang dokter. Jaehwan menghubunginya hampir sejam yang lalu dan mengajaknya bertemu di atap rumah sakit yang di ubah menjadi sebuah taman. Dia melihat Jaehwan duduk dengan kepala melihat kebawah.

“Ajjushi,” Jaehwan langsung mendongakkan kepalanya saat Hemi menyapanya dan duduk disampingnya. “Sudah lama? Maaf tadi aku harus minta izin dosenku dulu. Ada apa?”

“Kamu sedang sibuk?”

Hemi menggeleng, “tidak.”

Dia memperhatikan Jaehwan baik-baik. Ada yang salah dari laki-laki ini. Sikap yang biasanya ceria itu tiba-tiba berubah diam seperti ada yang disembunyikannya.

“Kenapa kamu seperti itu?” Tanya Hemi. “Kamu seperti mau membalas apa yang aku lakukan waktu itu.”

“Hemi-ah. Ada yang mau aku tanyakan padamu.” Jaehwan menghadapnya tiba-tiba. “Tapi kamu janji harus menjawabnya dengan jujur.”

Sambil tertawa samar, Hemi kebingungan dengan ucapan Jaehwan tapi tetap mengangguk setuju, “baiklah.”

Jaehwan diam sejenak menghindari tatapan Hemi padanya.

“Hwang Junho…” Gumamnya. “Apa kamu masih menyukai orang itu?” Lalu dia melihat Hemi. Memperhatikn ekspresi wajahnya yang terlihat tenang-tenang saja.

“Kamu kemari cuma mau menanyakan itu?” Hemi balik bertanya. “Awalnya mungkin. Tapi saat pertama kali aku tahu kalau ternyata dia punya pacar lain saat aku masih di Irlandia. Aku memutuskannya, aku sudah ceritakan itu padamu. Setelah itu hubungan kami cuma sebatas status. Apa aku terdengar seperti orang jahat? Tentu saja tidak, kan? Lalu saat Taehee eonni menyampaikannya padaku dan aku memergokinya aku merasa menjadi orang bodoh sekali lagi.”

“Kamu tidak bodoh sama sekali.” Bantah Jehwan. “Dia yang bodoh karena menyia-nyiakan kesempatan keduanya.”

“Aku tidak bodoh karena Junho.” Hemi lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain dan menghembuskan nafas panjang. “Aku merasa bodoh karena kamu ada disana melihatku.”

Mereka duduk cukup lama tanpa mengatakan sepatah katapun. Sampai akhirnya Jaehwan menarik nafas panjang mengisi paru-parunya sampai penuh sambil menenangkan detak jantungnya yang berdegup kencang. Dia lalu memutar posisi duduknya menghadap Hemi sampai lutut mereka bersentuhan.

“Son Hemi.” Dia menunggu sampai Hemi benar-benar memperhatikannya. “Apa…aku. Ah tidak,” dia lalu menggeleng cepat dan bicara lagi, “apa kamu bisa menyukaiku lagi? Atau mungkin aku bisa berharap kamu untuk bisa sayang padaku.”

“Aku tahu apa yang aku lakukan beberapa tahun lalu sudah menyakitimu dan aku tahu itu salah. Kamu berhak untuk marah dan membenciku. Aku tidak tahu perasaanku sendiri sampai saat tiba-tiba kamu pergi dan kemudian kamu kembali membuat aku sadar apa yang selama ini membuatku merasa kehilangan sesuatu.” Lanjutnya. Dia lalu menarik tangan Hemi dengan kedua tangannya. “Apa perasaan itu masih ada buatku? Apa kamu bisa menyukaiku sekali lagi? Karena aku sayang padamu. Dan rasanya terlalu sakit melihatmu ada di dekatku tapi aku sama sekali tidak bisa meraihmu.”

Hemi membeku menatapnya selama mendengarkan ungkapan hati Jaehwan padanya. Dia pernah membayangkan hal ini terjadi, dia bahkan berharap Jaehwan juga akan punya perasaan yang sama seperti perasaannya. Dan sekarang hal itu benar-benar terjadi. Jaehwan duduk di hadapannya dan menunggu jawaban darinya.

“Kamu…suka padaku?”

Jaehwan menggeleng cepat, “aku sayang padamu.” Katanya.

Hemi tertawa samar dengan mata berkaca-kaca. “Dasar bodoh, kenapa kau baru bilang sekarang?”

“Karena aku tidak mau mengambil resiko kamu menolakku karena saat itu kamu masih pacaran dengan Junho dan lagipula aku tidak mau merebut pacar orang.”

“Jadi kamu menungguku putus dengannya?” Jaehwan mengangguk. “Meskipun nanti aku bisa berubah menjadi gendut lagi-“

“Aku tetap sayang padamu.” Potong Jaehwan. “Taekwoon hyung menyebutku pedofil karena aku selalu memandang foto anak perempuan chubby di dalam dompetku.”

“Benarkah? Jadi itu benar?” Tanya Hemi dengan wajah tidak percaya.

“Apa yang benar?”

 Kali ini Hemi benar-benar tertawa sampai meneteskan air mata. Jaehwan memperhatikannya dengan bingung sampai Hemi tenang dan mulai bicara.

“wajar saja kalau dia berpikiran seperti itu. Dasar aneh.”

“Tapi aku tidak seperti itu. Aku hanya punya fotomu yang seperti itu dan bukannya yang seperti ini.”

“Kau sayang padaku bukan karena bentuk tubuhku, kan?”

“Son Hemi, aku ini laki-laki normal. Aku tidak mau munafik. Tapi aku sayang padamu karena semua yang ada pada dirimu. Karena kamu sudah ada disana sejak awal.”

Sekali lagi Hemi tertawa, “sepertinya Yaena eonni kalah taruhan kali ini.”

“Apa maksudmu?” Kenapa tiba-tiba dia mengatakan Yaena kalah taruhan.

“Aku pernah bertemu mereka sekali disini. Yaena eonni yakin sekali kalau kamu akan menyatakan perasaanmu padaku secepatnya meskipun aku masih punya pacar tapi Taekwoon oppa yakin kamu akan menungguku sampai aku putus darinya.”

“Lalu taruhannya?” Tanya Jaehwan penasaran.

“Aku tidak tau. Tanyakan saja pada mereka.” Balas Hemi singkat.

“Berani sekali mereka membuat perasaanku jadi taruhan. Aku pasti akan balas mereka. Pantas saja Yaena tahu kalau foto dalam dompetku itu fotomu. Kau pasti memberitahunya.

“Dia yang memberitahuku.” Bantah Hemi. “Karena itu aku tau perasaanmu. Maaf karena ternyata tanpa sadar aku membalasmu.”

Jaehwan memandangnya dan mengangguk, “jadi bagaimana dengan perasaanku?”

“Bagaimana kalau kamu minta jawabannya langsung pada ayah dan ibuku?”

Sambil menyunggingkan senyum lebar Jaehwan menegakkan tubuhnya dengan bangga, “aku sudah dapatkan jauh-jauh hari.”

“Huh?”

“Waktu kamu dan keluargamu datang kerumah pertama kali. Ayahmu bicara padaku.”

Mereka sama-sama tertawa dengan tingkah mereka sendiri. Kemudian Hemi bertanya, “lalu bagaimana? Kamu sudah tahu jawabannya sejak awal. Jadi? Kamu tidak mau mengajakku pacaran?”

Kali ini Jaehwan yang terkejut dengan pertanyaan Hemi yang langsung pada sasarannya. Dia tersenyum tulus dan mengangguk. “Kamu mau jadi pacarku, Son Hemi?”

Hemi mengangguk, “ya. Tentu saja.”

Beberapa saat mereka senyum-senyum tanpa saling pandang. Siapa bilang zaman sekarang tidak ada lagi perempuan cantik luar dalam yang sayang padanya karena dirinya. Dia menemukannya beberapa tahun yang lalu dan sekarang dia berhasil mendapatkannya.

*end*

# Because, Always you… cerita kedua dari enam cerita yang semua castnya keenam personil VIXX. yang pertama tentang Leo bisa dibaca dengan judul ‘Namehwa’ here , here. selanjutnya cerita ketiga tentang maknae Hyuk.🙂

3 thoughts on “[TwoShot] Because, Always You…[Ch.2]

  1. Thor keren! Kapan2 buat tentang honbgin dan taeyeon dong terus masalhnya gara2 krystal pliss thor kalo bisa ceritanya jangan one shoot pliss y thor:)

  2. Annyeong, i’m a new reader here.
    Author-nim, aku cuma bisa komen 1 kata.. daebak!! ^^
    Aku suka karakter Ken yg lemot tapi setia. Hihi. Manis..
    Karakter Hemi nya jg bagus. Cuma aku agak berpikir, buat apa Hemi takut pulang sendiri pdhl dia jago bela diri (di ‘a chance to say’). Tapi jadi bisa dianter pulang Jaehwan sih.. ^^
    Part kemunculan Hakyeon oppa entah kenapa selalu bikin ngakak. ^^

    Ditunggu yg selanjutnya.
    Fighting, author-nim. ^^

  3. aaaa tidakkk~~ mati mati, aku mati bacanyaaa. huwaaa jaehwanii berhasill woahhh jinjja~ sumpahhh, terbang bacanyaa. hikss komentarnya kok dikit sih. padahal cerita bahasa ya bagus bgtt. aku ikut sedihhh. sumpahh tepuk tanga bgt sama ceritanya hahhahiiiii johta pokoknyaaa. kiss buat authornyaa h ah hahaha

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s