[FF Freelance] Left Alone

sampfdbe925816bccb5c

  • Title                    : Left Alone
  • Author               : Vhaerizz
  • Rating                 : PG-15
  • Length                : Oneshoot
  • Genre                  : Romance, Siblings, Sad
  • Main Cast          : Yoon Hyunjung (OC) & Kim Himchan BAP
  • Support Cast    : Park Lee Ahn (OC), Xi Luhan EXO & Yoon Doojoon B2ST
  • Disclaimer         : Ini ff pertama yg aku kirim ke read fanfiction. ini murni hasil pemikiran aneh aku, jadi kalau missal ada ff sejenis atau dengan jalan cerita yg hamper mirip, itu mungkin unsur ketidak sengajaan. Tapi aku pernah post ff ini di notes fb pribadi https://www.facebook.com/vhaekerox

Mungkin ini aja, Selamat membaca!!!

 

Wanita itu kembali membenarkan letak kacamatanya agar tetap bersarang manis di pangkal hidungnya. Matanya sendiri masih belum lepas dari partitur di meja kerjanya. Tangan kanannya sedikit menggoyang-goyangkan pensil yang sudah berkali-kali dirautnya. Komposer muda itu tengah berpikir keras sekarang.

“Hyunjung-ah,” suara seseorang yang dikenalnya sedikit membuyarkan konsentrasinya. Hyunjung mendongak, menatap lelaki berwajah manis yang baru saja memasuki ruangannya –tanpa mengetuk pintu.

“Lain kali ketuk pintu terlebih dahulu, Luhan-ah.” Lelaki itu hanya menampilkan cengiran khasnya. Lalu duduk di kursi di seberang Hyunjung. Memangku kepalanya dengan kedua tangannya.

Arraseo. Apa itu laguku?” Luhan menunjuk kertas partitur yang tengah Hyunjung coret-coret.

“Belum. Lagu ini belum selesai, juga aku belum tentu menyerahkannya padamu.”

“Itu pasti untukku. Aku tahu deadline yang CEO berikan untukmu mengerjakan laguku.” Luhan tersenyum bangga. Dalam hidupnya, menyanyikan lagu ciptaan Hyunjung adalah salah satu harapan terbesarnya.

Hyunjung meletakkan pensilnya. Menatap lekat lelaki yang pernah menjadi kekasihnya ketika ia dan Luhan berada di bangku SMA. “Dan itu merepotkan. Dari sekian banyak agensi yang menawarimu pembuatan album Korea kenapa kau memilih agensiku yang terhitung masih baru? Kau malah menolak tawaran SM Entertainment yang sejak dulu kau impikan ingin bekerja di agensi itu.”

“Kau masih ingat itu?”

“Jawab saja, Xi Luhan.”

“Karena ada kau di sini.” Jawab Luhan enteng.

“Kau tidak sedang merayuku, kan?”

Ani. Memang karena itu.”

“Kalau Lee Ahn mendengarnya aku yakin tatanan rambut mahalmu itu akan rusak seketika.” Cibir Hyunjung. Luhan justru tertawa kecil mendengarnya.

“Ini salah satu mimpiku, Hyunjung-ah. Menyanyikan lagu ciptaan siswi terbaik SMA Jungshin. Waktu itu aku tidak tahu apa isi otakmu sampai bisa mendapatkan nilai A dari guru Jung ketika ujian membuat lagu.”

“Impian yang aneh.”

“Aneh apanya? Bukankah bagus dapat menyanyikan lagu komposer berbakat sepertimu?” Puji Luhan berlebihan.

“Cukup, Luhan. Kau bisa membuat kepalaku membesar.” Lalu keduanya tertawa. Berpisah hampir lima tahun setelah kepindahan Luhan ke Hongkong karena mengikuti ayahnya yang pindah tugas ke negara itu tidak membuat hubungan keduanya merenggang. Meski status hubungan berbeda, itu bukanlah masalah bagi mereka.

“Kapan laguku selesai?” tanya Luhan kemudian. Hyunjung terlihat berpikir sejenak.

“Tidak akan lama lagi. Kupastikan tidak akan lebih dari seminggu.”

“Itu memang batas deadline-mu.” Hyunjung meringis. Ia melupakan satu hal, Luhan tahu batas deadline-nya.

Arraseo. Secepatnya. Jika sudah selesai aku akan menyerahkannya padamu dulu sebelum kuberikan bagian rekaman.”

©©©

“Kalau begitu kembalilah pada Jihyun.” Himchan mendengus pelan. Berusaha sepelan mungkin supaya wanita yang duduk di hadapannya tidak mendengarnya. Tidak mendengar keputus asaannya. Sungguh, bukan kalimat itu yang ingin didengarnya. Himchan tidak ingin wanita ini melepaskannya.

“Aku tahu kau masih menyukai Jihyun, Himchan. Kembalilah dan penuhi janjimu padanya. Aku merasa tidak enak jika Jihyun sampai harus meminta pendapatku tentang semua ini. Kita bahkan tidak sedang dalam suatu hubungan apapun selain teman.” Dan Himchan menyesali itu. Himchan sendiri bingung akan perasaannya. Ia senang Jihyun kembali padanya. Dulu, Jihyun adalah hidupnya. Himchan masih mengingat dengan jelas seterpuruk apa hidupnya ketika Jihyun pergi ke Paris untuk meneruskan pendidikannya. Juga ketika Himchan mendengar Jihyun sudah memiliki penggantinya di sana. Dan sekarang, hidupnya telah kembali. Tapi di sisi lain, Himchan merasa ada sesuatu yang hilang ketika Hyunjung –wanita di hadapannya- melepasnya untuk Jihyun.

“Kalau begitu aku pulang dulu. Cepat katakan keputusanmu pada Jihyun. Jangan membuat perempuan menunggu lama, tidak baik.” Hyunjung menyampirkan tas kecilnya di pundak kanannya lalu berdiri.

Annyeong.” Kata terakhir Hyunjung sebelum benar-benar pergi meninggalkan Himchan yang masih tidak mengeluarkan sepatah katapun. Mata tajamnya mengamati punggung Hyunjung sampai wanita itu benar-benar menghilang dari jangkauan matanya.

Mata Himchan beralih pada gelas berisi vanilla latte milik Hyunjung yang sama sekali belum berkurang sejak minuman itu di pesan. Minuman itu membawa Himchan pada kenangan saat ia dan Hyunjung pertama bertemu. Setahun yang lalu. Di cafe tempat Himchan berada sekarang. Dan juga di kursi yang sama.

Himchan masih mengingat dengan jelas wajah malu-malu Hyunjung ketika meminta ijin padanya untuk duduk di kursi di hadapannya –kursi yang tadi diduduki Hyunjung. Waktu itucafé penuh, tidak ada kursi kosong selain kursi di hadapannya. Dengan tangan kanan memegang beberapa kertas partitur, tangan kiri membawa segelas vanilla latte dingin yang sudah Hyunjung pesan sebelum menghampiri mejanya. Himchan masih mengingat semuanya.

Klise memang. Bahkan Lee Ahn –adik sepupunya- mencibirnya habis-habisan ketika Himchan menceritakannya. Kisahnya terdengar seperti drama atau cerita novel romansa remaja. Himchan terkikik geli ketika menyadari itu. Bertemu tanpa sengaja di suatu café dan bertemu lagi di café yang sama beberapa kali sampai keduanya berteman akrab. Dan mungkin memiliki perasaan lebih dari seorang teman.

Tapi sayang ceritanya tidak berakhir manis seperti di drama, novel romansa atau berbagai cerita picisan lain. Tidak akan berakhir seperti itu karena keraguan Himchan akan perasaannya sendiri pada Hyunjung. Karena kebingungan hatinya menentukan pilihan ketika Jihyun kembali ke hidupnya.

Himchan menyayangi Jihyun. Dulu. Sekarang pun begitu. Tapi Himchan merasa ada yang berbeda ketika ia bersama Hyunjung. Jadi sebenarnya hatinya untuk siapa? Jangan tanyakan pada Himchan. Ia juga tidak tahu pasti jawaban akan pertanyaan itu.

©©©

“Aku pulang.”

Suara gadis manja itu membuahkan senyum di bibir lelaki yang tengah memotong beberapa sayuran di dapur itu. Lelaki itu tadi sempat cemas karena gadis itu belum pulang ketika sejam yang lalu ia sampai di rumah. Lelaki bernama Doojoon itu terlalu overprotective pada gadis yang tidak lain adalah adik perempuannya. Satu-satunya keluarganya yang ia miliki setelah kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan di jalan tol.

“Kau masak lagi?” tanya gadis itu sambil membuka pintu kulkas untuk mengambil air mineral.

Doojoon mengangguk. “Memangnya kau tidak mau makan kalau aku tidak memasak?”

“Restoran cepat saji di Seoul belum bangkrut, oppa,” jawab gadis itu enteng begitu menghabiskan air mineral yang diambilnya tadi.

“Itu tidak baik untuk kesehatanmu, Hyunjung-ah.

“Aku tahu.”

“Kenapa baru pulang?” Tanya Doojoon setelah selesai memotong semua sayuran dan memasukkannya ke dalam panci yang sudah ia isi dengan air. Kemudian menyalakan kompor setelah meletakkan panci di atasnya.

“Emm… Ada lagu yang harus kuselesaikan.” Hyunjung berbohong. Ia tak mungkin memberitahu Doojoon jika ia baru saja bertemu Himchan. Juga permasalahan mereka. Lagipula itu bukan masalah besar. Ya, itu bukan masalah besar dan ia akan baik-baik saja.

“Benarkah? Biasanya kau membawanya pulang kalau tidak selesai.”

“Terlalu sedikit untuk ditinggal dan kukerjakan di rumah. Hanya menyelesaikan melodinya. Masih ada lirik yang belum kukerjakan.” Doojoon mengangguk tanda mengerti. Sama sekali tidak menangkap kebohongan Hyunjung yang selama ini selalu mudah ditebaknya.

“Begitu. Tadi kau tidak lupa obatmu, kan?” Hyunjung menggeleng. Doojoon tersenyum lega dibuatnya.

“Kalau begitu kau mandi dulu. Akan kupanggil jika makan malam siap.” Hyunjung mengangguk cepat. Lalu berbalik dan bergegas ke kamarnya. Doojoon tersenyum lebar. Usia adiknya sudah hampir 23 tahun. Tapi tingkahnya akan selalu seperti bocah sepuluh tahun jika bersamanya.

©©©

Hyunjung membenturkan keningnya ke meja kerjanya di kamarnya. Sudah satu jam berlalu sejak ia mulai melanjutkan mengerjakan lagu Luhan, selama satu jam itu pula Hyunjung tidak menghasilkan apapun.

Hyunjung tidak pernah seperti ini. Biasanya sepenuh apapun pikirannya, seberat apapun beban yang tengah ditanggungnya, itu tidak pernah mengganggu kerjanya. Lagunya selalu selesai tepat waktu dan tidak pernah tidak menhasilkan apapun seperti saat ini.

Hyunjung tahu apa yang memenuhi pikirannya. Semuanya tidak lain adalah Himchan. Himchan, Himchan dan Himchan. Seorang lelaki yang dikenalnya sejak setahun yang lalu. Seorang teman yang selama ini berperan penting mengisi hari-harinya yang terkesan monoton. Dan seseorang yang beberapa jam yang lalu ia lepas untuk kembali ke mantan kekasihnya. Mungkin melepas bukanlah kata yang tepat. Mengingat ia dan Himchan tidak memiliki hubungan apapun selain berteman. Tapi mengapa merelakan Himchan kembali pada Jihyun seolah menjadi beban yang berat baginya?

“Kim Himchan,” gumamnya lirih. Masih dengan posisi yang sama. Menunduk dengan kening bertemu dengan permukaan meja. Hyunjung tidak mau seperti ini –lagi. Hyunjung tidak mau terpuruk lagi sama seperti ketika Luhan meninggalkannya ke Hongkong.

Klekk…

Suara pintu kamarnya yang terbuka tak dihiraukannya. Saat ini kepalanya terasa begitu berat walau hanya sekedar untuk diangkat. Lagipula Hyunjung tahu siapa yang memasuki kamarnya tanpa harus melihatnya.

Dengan membawa segelas susu coklat hangat kesukaan adiknya, Doojoon yang baru saja memasuki ruangan berukuran 5×6 m itu mengkerutkan keningnya. Dan beberapa detik kemudian Doojoon bergegas menghampiri adiknya. Posisi adiknya terlihat mengkhawatirkan di matanya.

Doojoon meletakkan susu coklat yang dibawanya di meja, lalu kedua tangannya menyentuh perlahan kedua sisi bahu Hyunjung.

“Hyunjung-ah,” panggilnya pelan.

“Junnie-ya,” balas Hyunjung lirih. Sangat lirih. Doojoon yang samar-samar mendengarnya dapat sedikit benafas lega sekarang. Doojoon yakin adiknya tidak baik-baik saja. Tapi paling tidak Hyunjung tidak pingsan seperti yang dugaannya tadi.

Hyunjung mengangkat kepalanya perlahan, lalu menatap Doojoon yang sudah berjongkok di sampingnya. Doojoon benar, Hyunjung tidak baik-baik saja. Matanya sayu, wajahnya menyiratkan seolah ia tengah menanggung beban yang berat.

“Ada apa, Jungie?” tanya Doojoon lembut.

Mianhae.” Doojoon sedikit mengkerutkan keningnya. Ia tidak tahu apa yang dilakukan adiknya sampai adiknya meminta maaf padanya.

“Untuk apa?”

“Aku berbohong padamu.” Doojoon terdiam. Menunggu Hyunjung melanjutkan kata-katanya. Ia tidak tahu kebohongan apa yang Hyunjung perbuat padanya.

“Aku tadi pulang terlambat bukan karena menyelesaikan laguku. Aku… aku bertemu Himchan.” Doojoon tersenyum tipis. Ternyata itu. Hyunjung memang tidak pernah berbohong padanya. Itu adalah kebohongan pertama Hyunjung padanya. Tapi Doojoon yakin jika beban Hyunjung bukan karena telah membohonginya.

Gwenchana. Aku tidak akan memarahimu hanya karena itu. Lalu kau kenapa?” Tanya Doojoon dengan penuh kesabaran.

Hyunjung menunduk. Memikirkan kembali apakah ia akan menceritakan tentang ia dan Himchan pada Doojoon atau tidak. Ia berbohong pada Doojoon tadi karena ia pikir ini bukan masalah besar dan ia akan baik-baik saja. Tapi nyatanya, ia sama sekali tidak baik-baik saja.

“Himchan,” gumam Hyunjung akhirnya.

“Himchan? Himchan kenapa?” Doojoon tahu siapa pemilik nama itu. Salah satu teman Hyunjung yang selalu Hyunjung ceritakan padanya.

“Himchan akan pergi. Himchan akan kembali pada Jihyun.”

“Jihyun? Nugu?” Doojoon tidak pernah mendengar nama itu.

“Jihyun… mantan kekasih Himchan.”

“Lalu?” tanyanya memancing Hyunjung berbicara lebih banyak. Meski Doojoon sudah tahu sedikit banyak duduk permasalahan Hyunjung. Dan Himchan.

“Jihyun menagih janji Himchan. Janji Himchan untuk kembali padanya kapanpun Jihyun datang. Bahkan Jihyun meminta pendapatku apakah Himchan boleh kembali padanya.”

“Lalu apa jawabanmu?”

“Aku… aku tentu memperbolehkannya. Aku dan Himchan hanya berteman. Aku tidak punya hak untuk melarangnya.” Doojoon perlahan memeluk adiknya. Sekarang semua jelas di matanya. Hyunjung menyukai Himchan. Inilah beban adiknya. Melepas Himchan meski itu berlawanan dengan hatinya.

Oppa, aku tidak salah, kan?” Doojoon menggeleng. Menguatkan adiknya dengan membenarkan keputusan yang telah diambil. Hyunjung memang telah melakukan hal yang benar. Hyunjung tidak memiliki hak menahan Himchan meski perasaannya berkata lain.

“Tidak. Kau tidak salah. Kau sudah melakukan hal yang benar.”

©©©

                Kening Lee Ahn mengekerut bingung. “Himchan? Baru saja aku mau menutup galeri.”

Himchan mengayunkan tangannya. Mengisyaratkan Lee Ahn untuk tidak melakukannya. “Tidak perlu. Biar aku yang menutupnya nanti. Kau pulang saja.”

“Nanti? Kapan? Ini sudah jam sembilan lebih.”

“Sudahlah. Kau pulang saja. Masih ada lukisan yang harus kuselesaikan,” bohong Himchan.

Lee Ahn berdecak. “Terserah kau saja,” ujarnya akhirnya. Tidak mau ikut campur masalah Himchan. Ya, Himchan sedang memiliki masalah. Lee Ahn tidak tahu pasti. Tapi yakin jika ada hubungannya dengan wanita yang bernama Jihyun yang mendadak muncul beberapa hari yang lalu. Lagipula, Himchan sedang tidak memiliki lukisan apapun yang harus diselesaikannya.

“Eh?” Baru saja Lee Ahn keluar gerbang galeri. Sebuah mobil BMW putih memasuki halaman galeri. Lee Ahn berhenti. Melihat siapa yang datang malam-malam begini ke galeri. Mobil itu asing bagi Lee Ahn.

Seorang wanita dengan dress putih selutut keluar dari mobil itu. Lee Jihyun. Lee Ahn mencibir. Jujur, ia tak suka dengan wanita itu. Ditambah ia mendadak kesal pada Himchan. Tidak tahu kenapa.

“Ini lukisan yang harus kau selesaikan. Cih, Kim Himchan.”

©©©

Five days later…

“Hah, kenapa rusa itu lama sekali?” Lee Ahn memang tidak pernah sabaran. Luhan baru terlambat lima menit dari waktu janjian mereka. Tapi gerutuan sudah berulang kali keluar dari mulutnya.

“Ahn-ah.” Suara itu terdengar. Suara Luhan. Lee Ahn bersiap memasang wajah cemberutnya.

Luhan duduk di hadapan Lee Ahn. Memasang wajah memelas.

“Ahn-ah, mianhae. Tadi aku ada rekaman yang harus ku…” kalimat Luhan terputus. Ia menyadari sesuatu yang lain dari Lee Ahn.

Ya, ada apa dengan keningmu?” tanya Luhan sedikit heboh. Tangan Luhan terulur menyentuh perban kecil di kening Lee Ahn. Wajah cemberut Lee Ahn memudar tanpa sadar. Rencana pura-pura marahnya gagal karena sikap Luhan.

“Kenapa diam? Ini kenapa?” Tanya Luhan tidak sabar.

“Gara-gara Himchan,” jawab Lee Ahn.

Kening Luhan berkerut. “Himchan? Memang apa yang dia lakukan padamu? Himchan memukulmu?” Lee Ahn menggeleng.

“Himchan melamun.”

“Eh?”

“Tadi aku berangkat ke galeri bersama Himchan. Himchan melamun, lalu mobil menabrak pembatas jalan. Kepalaku terbentur dashboard.” Lee Ahn menjelaskan. Luhan terlongo. Himchan melamun saat menyetir? Luhan memang tidak begitu dekat dengan Himchan. Tapi cukup tahu jika Himchan adalah orang yang selalu fokus pada apapun.

“Dia yang patah hati. Aku juga yang ikut celaka,” celetuk Lee Ahn.

“Patah hati? Himchan?” Lee Ahn mengangguk.

“Himchan menyukai Hyunjung eonnie, aku yakin itu. Sekarang mereka berpisah. Dan Himchan patah hati. Sederhana, kan? Tapi kepalaku yang jadi korban.” Luhan mengerti. Ia tahu sedikit apa yang terjadi antara Himchan, Hyunjung dan seorang wanita yang bernama Jihyun.

“Masalahnya tak sesederhana itu, Ahn-ah. Tidak tepat juga kalau menyebut Himchan dan Hyunjung berpisah.” Lee Ahn tidak mengerti maksud Luhan.

“Himchan dan Hyunjung tidak dalam suatu hubungan khusus selain teman. Mereka mungkin saling menyukai, tapi mereka tak punya hak untuk menahan satu sama lain,” lanjut Luhan.

“Ah, kau benar.”

“Itu kepalamu tidak apa-apa? Sakit tidak?” Luhan masih khawatir.

Lee Ahn meraba keningnya. “Sudah tidak apa-apa. Tenang saja.”

Luhan mengangguk, meski rasa khawatirnya masih belum hilang. “Lalu bagaimana dengan Himchan? Dia tidak apa-apa?”

Lee Ahn mengangguk. “Sama denganku. Hanya kepalanya yang luka karena terbentur kemudi. Tapi aku mengkhawatirkannya. Sungguh, sejak Hyunjung eonnie melepasnya, Himchan tidak pernah fokus pada apapun. Lukisannya yang biasanya selesai sehari, ia tak menyentuhnya sama sekali. Himchan juga sering melamun akhir-akhir ini. Lukaku buktinya. Pokoknya Himchan berbeda sejak Hyunjung eonnie tidak pernah menemuinya. Tidak ada bedanya Himchan dengan patung pahatan Kyungsoo.”

Luhan terkekeh. Tidak ada nada khawatir sedikitpun dari penjelasan Lee AHn yang cukup panjang itu. Lalu Luhan membuka tasnya begitu ingat sesuatu. Mengambil selembar kertas dan menyerahkannya pada Lee Ahn.

Lee Ahn bingung. “Ini apa?”

“Baca saja.”

Lee Ahn menurut. Membaca apa yang tertulis di kertas yang Luhan berikan padanya. Matanya membulat seketika.

“Puisi? Sejak kapan suka membuat puisi? Bukankah kau bilang nilai sastramu selalu buruk? Dan juga, yang patah hati itu Himchan. Bukan kau, Luhan.” Cecar Lee Ahn tanpa jeda.

“Jangan mengungkit nilai sastraku! Itu bukan buatanku. Itu lirik lagu yang Hyunjung tulis untukku.”

“Lagu untuk album Koreamu itu?” Luhan mengangguk. Lee Ahn mengamati sekali lagi lirik lagu di tangannya. Mencoba menganalisa tujuan Luhan memperlihatkan padanya.

“Tahu sesuatu?” tanya Luhan tidak sabar. Lee Ahn terlalu lama berpikir. Lee Ahn menggeleng.

“Meski nilai sastraku buruk” Luhan menekan kata-kata itu, “Aku cukup tahu arti dari lirik itu. Kehilangan. Kehilangan seseorang yang kenyataannya bukan miliknya. Tak bisa menahan sesuatu yang bukan miliknya meski dia ingin.”

“Jadi… Hyunjung eonnie menyukai Himchan, begitu?” Lee Ahn sedikit ragu.

Luhan mengangguk. “Sudah jelas. Sejak dulu Hyunjung selalu menulis lirik lagu sesuai dengan pengalaman atau yang dialaminya.”

“Kau sangat mengenalnya, ternyata.”

“Bukan waktunya mempermasalahkan itu, Nona Park. Sekarang tidak ada jalan lain selain membantu mereka bertemu lagi. Hanya bertemu. Mau bersatu atau tidak itu urusan mereka. Lalu yang namanya Jihyun itu bagaimana?”

“Kita? Bersikap pahlawan lagi, Tuan Xi? Jihyun kembali ke Paris. Katanya ada fashion showyang harus diurusnya. Aku tidak terlalu tahu.”

“Bagaimana hubungannya dengan Himchan?”

“Himchan mengabaikannya. Setiap Jihyun datang Himchan lebih sering melamun. Menolak secara halus, kurasa.”

“Baguslah. Himchan urusanmu. Aku yang mengurus Hyunjung. Aku baru tahu tadi kalau Hyunjung mengundurkan diri dari agensi setelah menyelesaikan laguku dua hari lalu.”

Ya, Luhan. Kau serius kita ikut bertindak? Juga kenapa mesti kau yang mengurus Hyunjung eonnie? Kenapa bukan aku saja yang sama-sama perempuan?”

“Park Lee Ahn.”

Lee Ahn berdecih. “Arraseo!”

©©©

Luhan menatap ragu pintu di hadapannya. Sudah lima tahun lebih ia tak memasuki rumah yang terasnya diinjakknya sekarang. Setelah meyakinkan dirinya, Luhan menekan bel rumah itu. Luhan juga sudah menyiapkan segala kalimat basa-basinya. Baik untuk Hyunjung, ataupun orang yang sebisa mungkin dihindarinya, Doojoon.

Klekk…

Pintu terbuka. Luhan mendongak. Orang yang dihindarinya, Doojoon yang membukanya.

“Luhan?”

Luhan tersenyum kikuk. “O-oh, hyung. Annyeonghaseyo.

Doojoon tersenyum tipis. Sangat tipis. Luhan tidak menyadarinya. “Masuklah.”

©©©

Ya, Himchan. Apa yang kau lakukan?” tanya Lee Ahn kaget.

“Kau tidak lihat?” Himchan balik bertanya tanpa menatap Lee Ahn.

“Aku lihat. Tapi kenapa kau mengemasi barang-barangmu? Kau mau kemana?” Lee Ahn panik.

Himchan menghentikan aktivitasnya. Lalu duduk di pinggiran tempat tidurnya. “Aku akan pulang ke Daegu malam ini. Ibu memintaku pulang.”

Gotjimal. Bisa-bisanya kau menggunakan ibumu untuk membohongiku.”

“Terserah kau mau percaya atau tidak. Yang pasti aku pulang malam ini. Hanya seminggu. Tolong kau urus galeri sementara aku pulang.”

Lee Ahn menghampiri Himchan. Lalu duduk di sampingnya.

“Sampai seperti ini kau ingin melupakan Hyunjung eonnie?” tanyanya.

Himchan terhenyak. Tak mungkin ia mengatakan iya, meski kenyataannya memang seperti itu.

“Aku tidak tahu banyak tentang masalah seperti ini. Kalau menurut istilahmu, aku mungkin terlalu ingusan. Tapi aku cukup tahu jika nantinya kau akan semakin sulit melupakan Hyunjung eonnie jika ka uterus menghindarinya.”

“Aku tidak peduli. Itu urusan nanti. Aku hanya ingin pulang sekarang.”

©©©

“Aku mau keluar sebentar. Mau menitip sesuatu?”

Aniyo, hyung. Khamsahamnida.

“Tidak perlu terlalu formal begitu, Luhan. Anggap saja aku kakakmu, seperti dulu. Kalau kau tak keberatan.” Doojoon masih merasakan kecanggungan Luhan padanya.

Luhan menggeleng kaku. “Tentu aku tidak keberatan, hyung. Gomawoyo.”

Doojoon tersenyum. Lalu berbalik dan keluar dari ruang kamar inap rumah sakit itu.

Luhan kembali fokus. Fokus pada seseorang yang tengah tertidur dengan peralatan medis menempel di badannya. Dengan masker oksigen yang berada di wajahnya. Luhan kehilangan katanya. Ia terlalu kaget. Tentu saja. Bertahun-tahun ia mengenal orang ini, ia tak pernah tahu jika orang yang dikenalnya kuat ternyata selemah ini.

Paboya. Kau merahasiakan ini dariku, Jung-ah. Bertahun-tahun,” ujar Luhan lemah pada orang yang terbaring itu. Bahkan Luhan memanggilnya ‘Jung-ah’, panggilan akrabnya dengan Hyunjung. Ya, yang terbaring adalah Hyunjung. Yoon Hyunjung.

“Jadi ini alasanmu tidak mendaftar kelas tari dulu? Karena jantungmu.” Tersirat sedikit penyesalan. Bahkan, Luhan merasa seperti orang bodoh sekarang.

“Kenapa kau tak mengatakannya, Jung-ah? Aku jadi merasa bodoh, dulu aku sama sekali tidak bisa melindungimu. Mianhae. Jeongmal mianhae, Jung-ah,” sesal Luhan. Sekarang, Luhan tahu semua. Tentang jantung yang lemah, kelainannya sejak lahir. Juga kesakitan Hyunjung ketika dulu ia pergi ke Hongkong. Dulu, Luhan sama sekali tidak tahu jika kepergiannya sempat berdampak buruk bagi Hyunjung.

“Pipimu semakin tirus. Pasti berat badanmu turun banyak. Bangunlah, Jung-ah. Kau harus mendengar permintaan maafku. Kau harus melihat proses rekamanku. Kau menjanjikan itu dulu.” Luhan kembali bermonolog. Matanya dirasakan memanas.

Lupakan tujuan utamanya menemui Hyunjung. Itu bisa diurus nanti. Tidak peduli bagaimana terpuruknya Himchan. Hyunjung jauh lebih lemah dari Himchan sekarang. Sejak dulu.

©©©

“Himchan pulang ke Daegu.” Lee Ahn pertama membuka suara. Ia sedang bersama Luhan sejak sepuluh menit yang lalu di café tempat biasa mereka biasa bertemu. Tak jauh dari gedung agensi Luhan.

Luhan mengaduk coklat panasnya. Berpikir kembali apakah ia akan memberitahu keadaan Hyunjung sekarang pada Lee Ahn.

“Lu? Kau sudah menemui Hyunjung eonnie, kan?”

Luhan mengangguk. Sepertinya ia memang harus mengatakannya. Ini salah satu jalannya untuk membantu Hyunjung. Menebus kesalahannya dulu. Mungkin.

Lee Ahn meraih gelas cappuccino-nya. Lalu meminumnya. “Lalu?”

“Hyunjung di rumah sakit.”

Lee Ahn tersedak. “M-mworago?”

“Hyunjung memiliki sakit jantung. Kelainan sejak lahir. Dan aku baru tahu kemarin,” ujar Luhan lemah. Lee Ahn dapat menangkap kesedihan dari suara Luhan. Juga penyesalan.

Untuk kali ini, Lee Ahn dapat menempatkan dirinya dengan baik. Tidak cemburu tanpa alasan seperti biasanya. Ia tahu apa yang Luhan rasakan.

“Lalu bagaimana?”

Luhan menunduk. “Entahlah.”

Lee Ahn terdiam. Jawaban itu seperti kata mati yang tak bisa dibalas lagi. Ia sendiri juga tidak tahu harus berbuat apa lagi. Himchan tidak akan sampai mengasingkan diri ke kampung halamannya jika tidak merasa begitu terpuruk. Dan sekarang Hyunjung justru mengalami hal yang lebih parah. Sesuatu yang tak pernah ia duga. Jangankan Lee Ahn yang baru mengenal Hyunjung beberapa bulan. Luhan saja tidak tahu sama sekali. Setelah bertahun-tahun saling mengenal dan pernah menjadi sepasang kekasih.

“Apa kita beritahu Himchan saja?” usul Lee Ahn.

Andwe!

Nde?

“Jangan beritahu Himchan. Tidak saat ini. Himchan pasti akan merasa sangat merasa bersalah.”

“Tapi Himchan harus tahu, Lu.”

“Aku tahu. Tapi tunggu waktu yang tepat. Tunggu sampai keadaan Hyunjung membaik. Mungkin situasinya akan lebih mendukung untuk mereka.”

Lee Ahn mengalah. Luhan benar. Keadaan memang akan lebih baik jika keadaan Hyunjung juga lebih baik.

©©©

A week later…

Kedua tangan itu masih menggenggam tangan pucat milik Hyunjung. Ini sudah seminggu lebih adiknya dibawa ke rumah sakit setelah malam itu jantung Hyunjung kembali melemah. Dan sejak itu, Doojoon belum melihat Hyunjung membuka matanya. Barang sedetik.

Lingkar hitam matanya mulai terlihat. Hampir setiap malam ia terjaga untuk menjaga adiknya. Berharap adiknya akan segera sadar. Tapi nihil, meski seminggu telah berlalu.

“Jungie-ya, jebal ireona,” mohonnya. Entah sudah berapa kali ia mengatakan itu.

Doojoon menyayangi adiknya. Sangat. Ia hanya memiliki Hyunjung di hidupnya setelah kedua orang tuanya meninggal. Saat kedua orang tuanya masih ada pun, Doojoon sangat menyayangi adiknya. Ia tahu jika adiknya tak sekuat orang lain. Ia harus melindungi adiknya. Ia tak mau terjadi sesuatu yang buruk pada adiknya.

Klekk…

Doojoon menoleh pada pintu yang terbuka. Luhan datang. Seperti biasa.

Sejak tahu keadaan Hyunjung, Luhan tidak pernah absen menjenguk Hyunjung setiap harinya.

“Kau datang?”

Luhan mengangguk. Lalu duduk di kursi yang sudah ada di samping Doojoon.

“Belum bangun juga?” tanyanya. Doojoon mengangguk.

Luhan menghembuskan nafasnya berat. Lalu menoleh pada Doojoon. “Hyung, tadi aku bertemu dokter Choi di depan. Dia memintamu menemuinya di ruangannya.”

Jinjja?” Luhan mengangguk.

“Kalau begitu aku menemui beliau dulu. Bisa tolong jaga Hyunjung sebentar?” pinta Doojoon.

Luhan mengangguk lagi. Mengiyakan. Tentu ia tak keberatan melakukannya.

Doojoon berdiri. Lalu berjalan keluar. Perasaannya campur aduk. Pikirannya bersahutan berbagai kemungkinan yang akan dokter Choi katakana padanya. Semoga bukan hal yang buruk.

Tangan Luhan berganti menggenggam tangan pucat Hyunjung. Tak jauh berbeda dengan Doojoon. Luhan sangat mengharapkan Hyunjung segera bangun.

“Jung-ah, seingatku dulu aku yang suka tidur di kelas. Kau tidak pernah suka tidur lama. Aku tahu itu. Jadi, bisakah kau bangun sekarang?” Luhan tak pernah berhenti bermonolog setiap menjenguk Hyunjung. Luhan selalu mengatakan sesuatu, meski hanya satu kalimat. Dengan inti yang sama. Meminta Hyunjung segera membuka matanya.

©©©

“Himchan?” Lee Ahn kaget. Sejak Himchan pulang ke Daegu, tak pernah ada yang datang ke galeri lebih awal darinya. Tidak ada yang memiliki kunci galeri selain dirinya dan pemiliknya sendiri, Himchan.

Mendengar namanya dipanggil, Himchan menoleh. Lalu tersenyum tipis pada Lee Ahn.

Lee Ahn bergegas menghampiri Himchan yang tengah duduk di bangku taman belakang galeri. Tangan kanannya memegang secangkir vanilla latte hangat. Minuman kesukaan Himchan. Dan Hyunjung.

Lee Ahn duduk di samping Himchan. “Kapan kau datang?” tanya Lee Ahn tanpa basa basi.

“Belum lama. Setengah jam, mungkin. Kau sendiri dari mana saja? Kau terlambat membuka galeri.”

“Biasa. Alarmku tidak terdengar. Ada kau ini yang sudah membukanya.” Jawab Lee Ahn enteng.

Himchan menjitaknya pelan. “Iya kalu aku datang, kalau tidak?”

“Aish, arraseo. Kenapa pulang kampungmu cepat sekali? Ini baru seminggu dan kau sudah kembali.”

“Kenapa? Tidak suka?”

Ani. Kau tak pernah pulang ke Daegu kurang dari dua minggu. Kenapa? Merenungu gagal?”

Himchan menggeleng. “Tidak ada yang gagal. Lagipula siapa yang merenung?”

Lee Ahn mencibir. “Kau yang merenung, Kim Himchan. Jangan mengelak lagi. Kantung matamu semakin menghitam sekarang. Itu artinya kau gagal. Tujuanmu pulang tak tercapai. Dan jangan mengelak lagi.”

Himchan mengacak puncak kepala Lee Ahn. Gemas. “Ketahuan ternyata.”

“Tentu saja. Aku juga yakin kau tak bisa berhenti memikirkan Hyunjung eonnie selama di rumah.”

Himchan berdecih. “Kau seperti paranormal saja.”

“Tapi aku benar, kan?”

Himchan tersenyum kecut. Lalu mengangguk. Tak mungkin dipungkiri lagi. Ia merindukan Hyunjung. Sangat.

“Emm, aku merindukannya. Eottokhe?” gumam Himchan. “Aku sama sekali tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang. Aku tidak tahu dimana aku bisa menemukan Hyunjung. Dia sudah tidak bekerja lagi di agensi itu.”

“Bagaimana kau tahu Hyunjung sudah tidak bekerja lagi di sana?”

“Aku ke kantornya sebelum kesini.” Lee Ahn diam. Ia tahu dimana Hyunjung. Tapi keadaan Hyunjung sama sekali belum membaik. Tak mungkin baginya memberitahu Himchan. Begitulah yang Luhan katakana padanya. Dan sejauh ini ia sepaham.

“Memang apa yang akan kau lakukan jika bertemu dengan Hyunjung eonnie? Kau bilang kau tak tahu apa yang akan kau lakukan sekarang.”

Himchan menyesap vanilla latte-nya. “Entahlah. Yang pasti aku ingin meminta maaf padanya. Aku tidak tahu kenapa, aku selalu merasa bersalah padanya.” Himchan menengadah. Menatap langit Seoul yang mendung sejak semalam. “Dan jika mungkin, aku akan memintanya tinggal. Tinggal di sisiku. Aku tak ingin melepasnya. Aku mencintainya. Aku… membutuhkannya.”

Posisi Lee Ahn sedikit sulit. Berada di dua situasi, memberitahu keadaan Hyunjung atau tidak. Ia tak pernah melihat Himchan serapuh ini. Mungkin akan semakin rapuh jika tahu apa yang terjadi pada Hyunjung. Rasa bersalahnya akan semakin besar. Lee Ahn yakin itu.

Ponsel Lee Ahn berdering. Membuyarkan sedikit apa yang tengah ia pertimbangkan.

Himchan menoleh. “Nugu?” Sikap sok ingin tahunya kembali muncul.

“Luhan.”

“Hahh, mengajak kencan lagi. Lama-lama kau akan mirip rusa jika bersamanya terus.”

Lee Ahn mengabaikan perkataan Himchan. Lalu mengangkat teleponnya. “Wae geurae?… Eh? Wae?… Mworago?… Ah, ne… Aku di galeri. Nanti aku ke sana… Ne, annyeong.” Wajah Lee Ahn mendadak panik. Lalu menoleh pada Himchan.

Kening Himchan berkerut. “Wae?”

©©©

Lampu merah menyala di atas pintu itu. Sebagai tanda, operasi tengah berlangsung sekarang. Lampu itu menyala sejak 30 menit yang lalu. Dan entah kapan orang di dalamnya akan mematikannya.

Doojoon dan Luhan. Dua pria itu sama sekali tidak tenang. Seseorang yang penting bagi mereka tengah dipertaruhkan hidup dan matinya di ruang operasi. Terutama Doojoon, apa yang ditakutkannya seumur hidupnya terjadi juga. Ia tahu jika Hyunjung pasti akan berada di ruangan itu jika keadaannya semakin memburuk.

Katup jantung Hyunjung semakin tidak mendukung fungsi jantung dengan baik. Semakin memburuk dengan tekanan yang Hyunjung alami beberapa hari terakhir.

Ribuan doa tak terucap berasal dari kedua pria itu. Berharap operasi yang sudah dua jam berlangsung itu akan berhasil.

“Jungie-ya,” gumam Doojoon. “Kumohon.” Entah apa yang ia ingin dari Hyunjung. Mungkin berharap Hyunjung akan selamat. Ya, kemungkinan besar itu.

Luhan yang duduk di sampingnya menoleh. Sisi lemah Doojoon terlihat jelas di matanya sekarang. Tidak ada lagi si kuat Ketua Klub Taekwondo Universitas, gelar yang pernah Doojoon miliki sewaktu kuliah. Yang ada hanya seorang Yoon Doojoon yang menyayangi adiknya. Adik semata wayangnya. Yang ada hanya Doojoon yang tak mau kehilangan adinya, satu-satunya keluarganya.

Tangan kanan Luhan menepuk pundak Doojoon. Bermaksud menguatkan. Doojoon tetap menunduk. Memanjatkan ribuan doa. Berharap bukan sekarang waktu Hyunjung menyusul kedua orang tuanya.

Koridor tenang itu mendadak menggemakan suara. Langkah seseorang. Ah, tidak. Ini lebih dari dua orang. Doojoon mengabaikannya. Tapi tidak dengan Luhan. Tak berselang lama. Luhan melihat dua sosok mendekat kearahnya dan Doojoon. Luhan tahu siapa sosok yang lebih pendek dari sosok yang lain. Dia Lee Ahn. Tapi yang satunya lagi…

“Himchan,” gumam Luhan tanpa sadar. Doojoon mendengarnya. Mendongak lalu mengikuti arah mata Luhan.

Bersamaan dengan itu, lampu merah di atas pintu mati.

©©©

Inilah alasan mengapa Doojoon sangat membenci hitam. Baginya, hitam selalu membawa seseorang yang dicintainya. Membawa pergi orang yang berarti baginya. Dua tahun lalu, kedua orang tuanya. Sekarang, adiknya, satu-satunya keluarga yang ia miliki.

Berbeda dengan Hyunjung, Doojoon tak pernah menyukai bunga. Kenangan bunga di pikirannya hanya bunga yang ia taburkan di atas makam kedua orang tuanya.

Pemakaman tak begitu ramai. Hanya paman Doojoon yang datang dari Busan pagi tadi, satu-satunya kerabat orang tuanya yang ia tahu. Juga Luhan dan Lee Ahn. Mereka tak lepas dari Doojoon sejak semalam, sejak Hyunjung pergi. Beberapa karyawan agensi tempat Hyunjung dulu bekerja juga datang. Dan, Himchan. Matanya sama sekali tak lepas dari foto Hyunjung.

“Jungie-ya, kajima,” gumam Doojoon. Sejak Hyunjung meninggal semalam, hanya itu yang selalu Doojoon katakan. Semua menatapnya prihatin.

Air mata Doojoon menetes kembali. “Kajima. Kau satu-satunya yang kumiliki. Kajima, jebal kajima.

Luhan mendekat. Meraih bahu Doojoon. Menguatkannya, lagi. Mengesampingkan rasa kehilangannya. Luhan sangat tahu jika Doojoon pasti jauh lebih kehilangan daripadanya. Juga mungkin… Himchan.

Uljimayo, hyung. Hyunjung takkan menyukainya.” Klise. Hanya kalimat klise itu yang mampu ia katakana pada Doojoon. Ia juga sempat menangis semalam. Dan Lee Ahn yang menguatkannya.

“Kita pulang, hyung. Sebentar lagi salju akan turun.” Doojoon bergeming. Ia belum mau meninggalkan Hyunjung.

Hyung,” panggil Luhan lagi. Kali ini Doojoon menoleh. “Kita pulang. Besok kita kesini lagi.” Luhan menggiring Doojoon untuk pergi. Kali ini Doojoon menurut. Dia bukan sosok melankolis yang akan menunggui makam seseorang di tengah hujan salju yang sebentar lagi akan turun. Doojoon tahu jika Hyunjung pasti tidak akan menyukai.

Pelayat yang lain berangsur pergi. Tertinggal Lee Ahn dan Himchan.

Lee Ahn menepuk bahu Himchan. “Kau tidak mau pulang?” Himchan bergeming. “Ya sudah. Hati-hati. Jangan terlalu lama, salju sebentar lagi turun. Kutunggu di galeri.” Lalu Lee Ahn berbalik dan pergi. Hanya Himchan yang tersisa.

Himchan masih terdiam beberapa saat. Tapi matanya mulai memerah. Berair. Kemudian air matanya menetes. Sungguh, Himchan tak mampu mengatakan apapun saat ini. Apa yang dicintainya, apa yang dibutuhkannya sudah pergi. Tak mungkin kembali. Sampai kapanpun.

“Hyunjung-ah,” gumamnya akhirnya. “Yoon Hyunjung,” lanjutnya. “Komposer Yoon,” panggilnya lagi. “Nona Vanilla.” Himchan memanggil Hyunjung dengan semua panggilan versinya.

Sunyi. Tidak ada lagi yang akan menyahut panggilannya. Tidak ada lagi pipi merona setiap ia memanggil komposer Yoon. Hyunjung pergi. Benar-benar pergi.

Mianhae. Jeongmal mianhae.” Sekarang Himchan tahu apa yang membuatnya merasa bersalah beberapa hari terakhir pada Hyunjung. Jawabannya jelas di depan matanya.

Lalu Himchan berbalik. Menjauh. Himchan takkan mungkin mampu bertahan lama di dekat makam itu. Ia tak sekuat itu. Sisi rapuhnya akan sangat terlihat jika ia berlama-lama di sana.

©©©

Café tak begitu ramai. Cuaca yang begitu membekukan membuat orang enggan keluar rumah. Situasi ini sedikit menguntungkan bagi Himchan. Setidaknya tidak banyak pasang mata yang memandang aneh ke arahnya. Ke arah seorang Himchan dengan wajah berlinang air mata.

Himchan kembali menangis. Café tempatnya sering bertemu dengan Hyunjung dulu adalah satu-satunya tempat yang ingin dikunjunginya begitu meninggalkan pemakaman. Dengan memesan dua vanilla latte hangat. Himchan duduk di tempat yang biasa ia dan Hyunjung tempati.

Himchan menatap kursi kosong di hadapannya. Bayangan itu muncul. Seorang wanita dengan jepitan rambut bunga sakura di atas poninya tengah sibuk dengan kertas partiturnya. Himchan tersenyum miris. Hyunjung benar-benar memenuhi kepalanya.

“Hyunjung-ah,

“Yoon Hyunjung,”

“Komposer Yoon,”

“Nona Vanilla.” Lagi. Himchan mengucapkan empat panggilannya untuk Hyunjung. Bayangan itu mendongak. Kali ini tersenyum. Manis. Sangat manis.

Himchan terisak. Hyunjung selalu mendengus kesal setiap ia memanggilnya empat kali dengan panggilan yang berbeda. Bukan tersenyum manis seperti bayangan di hadapannya.

“Kau bahkan harus pergi dulu baru bisa tersenyum semanis itu padaku,” ujarnya di tengah isakannya yang tak begitu kentara.

“Hyunjung-ah,

“Yoon Hyunjung,”

“Komposer Yoon,”

“Nona Vanilla.”

Dan bayangan itu hilang. Benar-benar hilang. Tidak ada lagi gerutuan maupun senyuman manis Hyunjung menanggapi panggilannya.

Isakan Himchan semakin keras. Hampir seluruh pengunjung café memperhatikannya. Himchan tak peduli. Tak mau peduli.

Hyunjung pergi. Pergi dari hidupnya. Dan takkan kembali sampai kapanpun.

FIN.

One thought on “[FF Freelance] Left Alone

  1. Hiks hiks hiks..
    Himchan yang sabar yah..
    Apa yah jadinya kalo luhan mgasih tau himchan seminggu yang lalu???

    Ini ff bikin nangis
    Great job

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s