[Chaptered] T(w)oday-s #1

t(w)day-s

T(W)ODAY-S

Main Cast : Suho (EXO) , Jimin (AOA) || Support Cast : Changmin (DBSK)

Genre : Action, Crime, Drama || Rating : PG-17 || Length : Chaptered

Author : ChoaiAK

Wphttp://choaichapters.wordpress.com/

Bagaimana rasanya saat alur cerita tentang cinta yang biasa kamu baca dan membuatmu meneteskan air mata terjadi dalam alur cerita hidupmu? Bagaimana rasanya saat cinta yang tumbuh dalam hatimu menjadi senjata untuk membunuhmu? Bagaimana caranya kamu harus memilih antara membunuh atau dibunuh oleh cinta yang kamu anggap tulus itu?

Saat kisah cinta Romeo-Juliet menjadi gambaran tentang kisah cinta paling abadi membuatmu terkurung dalam pilihan sulitnya hidup. Mungkinkah Juliet tidak mati karena cintanya, tapi dia mati karena keegoisan Romeo yang mempermainkan ketulusan cintanya? Tidak ada yang bertanya dan hanya menganggap ketulusan cinta mereka tetap akan menjadi cinta yang abadi…

***

Dikebanyakan cerita, adegan saat cinta akan datang dan membuat kisahnya menjadi alur cerita cinta adalah ketika seorang murid laki-laki yang bersandar malas pada mejanya di dalam kelas melihat seorang murid perempuan berjalan masuk ke kelas dibelakang guru mereka. Menegakkan kepalanya dan memperhatikan murid perempuan itu berdiri memperkenalkan diri. Tersenyum simpul lalu berjalan menuju tempat duduknya yang baru di dalam kelas. Dan kebanyakan tempat itu adalah disamping murid laki-laki itu.

 ***

Kim Suho. Murid laki-laki yang beberapa hari ini mengalami sulit tidur akhirnya baru merasakan kantuk berat saat sudah berada didalam kelas. Tapi pagi ini tiba-tiba kantuknya mendadak hilang saat melihat murid baru yang berdiri di depan kelas bersama gurunya. Dia tetap memperhatikan gadis itu tanpa menyadari kalau ternyata semua orang juga sedang memperhatikan murid perempuan itu.

annyeonghaseyo. Namaku, Shin Jimin.”

Shin Jimin.

Suho mengucapkan nama itu berkali-kali dalam kepalanya. Murid perempuan itu sama sekali tidak tersenyum dan hanya membungkukkan badannya sebelum beranjak menuju tempat duduk yang kosong disebelah Suho. Matanya mengikuti gerak Jimin saat murid itu duduk di kursi di sampingnya dan tersenyum kearahnya.

***

Sejak saat itu hari-hari di kelasnya menjadi lebih menarik. Dia menghabiskan banyak waktunya untuk melirik murid perempuan yang duduk di sampingnya namun meskipun sudah seminggu sejak dia masuk Jimin tidak pernah terlihat bicara dengan siapapun, tidak pernah berjalan dengan siapapun. Dia hanya duduk di kelas dan membaca bukunya saat jam istirahat. Suho bahkan merelakan perutnya yang kepalaran saat jam makan siang hanya untuk menemani Jimin tanpa bicara sepatah katapun. Sampai pada siang itu, dia mencoba mengajaknya bicara.

“Jimin-ah.”

Jimin mengangkat kepalanya dari buku dan menoleh melihat kearah Suho, “apa?”

“tidak ada.” Suho menggeleng cepat. “aku tidak pernah melihatmu pergi ke kantin atau kemanapun. Tidak pernah bicara dengan siapapun atau berkumpul dengan murid lain.”

“lalu?”

“ah,” melihat tidak ada reaksi apapun dari Jimin, Suho menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum salah tingkah, “tidak ada, aku hanya…”

“penasaran?” sela Jimin. Suho mengangguk cepat.

Jimin menyunggingkan senyum terpaksa, “itu bukan urusanmu.” Setelah mengatakan itu Jimin kembali menundukkan kepalanya membaca buku yang sejak tadi dia baca.

“kau,” mendengar Jimin memanggilnya dengan cepat Suho menoleh pada Jimin. “jangan berusaha untuk dekat denganku.”

“huh?”

“jangan percaya apapun yang aku katakan, jangan ikut campur apapun yang aku lakukan.” Jimin mengatakannya dengan wajah serius. “dan jangan berusaha dekat denganku.”

Setelah mengatakan itu Jimin tersenyum manis pada Suho yang masih belum mengerti apa maksud dari ucapan perempuan ini. Dia masih memandang Jimin yang sudah kembali membaca bukunya dan tidak melihat kearahnya lagi.  beberapa saat Suho hanya duduk disana tanpa melakukan apa-apa ataupun bicara apa-apa sebelum akhirnya pergi keluar dari kelasnya meninggalkan Jimin dari kelasnya.

***

Matanya mengikuti langkah Suho saat pemuda itu keluar dari dalam kelas. ‘jangan percaya apapun yang aku katakan, jangan ikut campur apapun yang aku lakukan…dan jangan berusaha dekat denganku.’ Bukan karena dia tidak ingin mempunyai teman, tapi karena tidak pernah ada orang lain yang mencoba mendekatkan diri dengannya. Sampai sekarang saat ada orang yang tiba-tiba mengajaknya bicara lebih dulu.

Jangan bicara pada siapapun dan jangan dekat dengan siapapun, Shin Jimin. Dia memperingkatkan dirinya sendiri setiap kali ada yang mengajaknya bicara.  “teman? Tidak ada teman didunia ini.” ujarnya sebelum kembali membaca bukunya namun tidak lama dia menghempaskan bukunya dengan kesal ke atas meja.

“aku pulang.” tanpa melihat kedua orang tuanya dan kakak laki-lakinya, Jimin langsung menuju kamarnya yang terletak di lantai atas.

“Jimin-ah.” Dia berhenti dan menoleh kearah ibunya yang sedang menyiapkan makan malam. “sebentar lagi makan malam selesai.”

Jimin mengangguk, “baiklah.”

“apa sebaiknya dia kembali home schooling?” Park Hyeon bertanya pada suami dan anak laki-lakinya sesaat setelah mendengar suara pintu kamar Jimin di tutup.

“dia harus tetap sekolah disana.” Shin Young Kyeong langsung menolak permintaan istrinya tanpa mengalihkan perhatiannya sedikitpun dari surat kabar yang sedang dibacanya. “kamu tidak lupa kalau dia harus mendapatkan apa yang ayahmu inginkan.”

Shin Changmin yang sedang meneguk air dari gelasnya langsung meletakkan gelas tersebut dengan bunyi keras setelah mendengar apa yang ayahnya katakan. “apa kalian masih harus membahas itu? apa uang itu terlalu penting? Sudah aku bilang aku akan melakukannya tapi jangan Jimin.”

Sambil melipat surat kabar yang sedang dibacanya dan meletakkannya di atas meja, Young Kyeong melihat kearah anak laki-lakinya. “benar, uang sangat penting untuk kita. Kalau kau tidak lemah seperti itu adikmu tidak mungkin menggantikan posisimu saat ini.”

“yeobo!” Park Hyeon mencoba membuat suaminya untuk diam, tapi Changmin yang mewarisi watak ayahnya yang tidak pernah mau kalah kembali bicara tanpa mempedulikan ibunya.

“Shin Young Kyeong-ssi, aku sakit juga karena ulahmu.” Changmin menatapnya dengan mata terbelalak sinis. “kalau kau tidak melakukan eksperimen bodoh itu kau tidak akan kehilangan kemampuanku.”

Tiba-tiba Young Kyeong berdiri dan membuat kursi yang didudukinya terjatuh kebelakang dengan suara keras, “jaga mulutmu! Itu semua salahmu kalau saja kau tidak menggangguku kau tidak akan seperti ini. Kau sendiri yang…”

Seperti dia tiba-tiba berdiri dan berteriak seperti itupula saat tiba-tiba dia terdiam dan berdiri mematung saat melihat Jimin menarik kursinya dan duduk di antara mereka.  Changmin dan kedua orang tuanya memperhatikannya tanpa bisa memberi reaksi apa-apa selain ikut duduk di kursi mereka masing-masing di meja makan.

Dia melihat tanpa memperhatikan ibunya saat sedang menghidangkan makan malam di atas meja. Tanpa ada satupun di antara mereka yang bersuara Jimin lebih dulu buka suara.

“eomma, nanti aku akan pulang terlambat.”

Ketiga pasang mata langsung melihat kearahnya, “memangnya kamu mau pergi kemana malam-malam begini?” tanya ibunya.

“halbeoji…”

Belum lagi dia sempat menyelesaikan ucapannya ayahnya sudah lebih dulu memotong pembicaraan, “baik-baik. biarkan dia pergi. Ayahmu memerlukannya jadi biar saja dia pergi.”

“yeobo!”

“Appa!” bersamaan anak dan istrinya berteriak kearahnya. “begitu saja? dia bahkan tidak terlalu mengenal Seoul dan Appa membiarkannya begitu saja?” lanjut Changmin emosi.

Park Hyeon berusaha menenangkan anaknya, “Changmin sudah-sudah. Jangan seperti ini, hm? Duduklah lagi selesaikan makan malammu.”

Menyaksikan hal yang biasa terjadi di rumah mereka sejak beberapa bulan yang lalu bagi Jimin ini bukan hal menarik yang harus terus dia saksikan. Sehingga akhirnya dia selalu akan meletakkan kembali sumpitnya dan berdiri.

“eomma aku sudah selesai.” gumamnya dan kembali naik ke kamarnya.

“Jimin.” Changmin berteriak memanggil namanya saat dia sedang menaiki tangga. “Shin Jimin!”

Kemudian Jimin berhenti dan hanya berdiri membelakangi keluarganya. “kalau kamu tidak suka maka bicara dan bilang tidak suka. Jangan diam begitu tanpa mengatakan apa-apa dan melakukan apa yang mereka inginkan.”

Apa aku harus menangis terharu mendengar Changmin oppa bicara seperti itu? aku seperti ingin menangis tapi tidak ada setetes air matapun yang keluar. Jimin menghembuskan nafas berat, “aku mau mengambil jaketku dulu sebelum keluar.”

“Shin Jimin!” dia bisa mendengar suara teriakan marah Changmin saat dia menutup pintu kamarnya.

“Shin Jimin, Shin Jimin, Shin Jimin.” Dia mengulang namanya berkali-kali saat duduk di tepi ranjangnya. “aku mulai membenci nama itu.”

Kejadian beberapa bulan lalu kembali berputar di kepalanya saat Park Byeong Su tiba-tiba datang kerumah mereka dan menyodorkan satu tas berisikan uang di hadapan ayahnya. Bagi Shin Young Kyeong uang lebih berharga daripada istri dan kedua anaknya. Park Hyeon memang melakukan kesalahan karena menikah dengan orang yang dia cintai namun ternyata hanya mencintai uang yang dimiliki oleh keluarganya.

Jimin berjalan tanpa arah dengan kepala tertunduk. Topi dan hoodie menutupi wajahnya dari penglihatan orang lain yang penasaran di sekitarnya. Lalu saat dia sedang berjalan melewati sebuah club seseorang tanpa sengaja menabraknya hingga mereka berdua terjatuh.

“maaf, maaf. aku tidak sengaja. Kamu baik-baik saja?”

Jimin mengangguk tanpa melihat orang yang menabraknya sampai jatuh kemudian dia tertegun ketika mereka sama-sama berdiri dan melihat siapa pelakunya.

“oh, Shin Jimin.”

Matanya terbelalak saat melihat Suho yang sekarang tersenyum lebar kearahnya. Cepat-cepat dia mengangkat hoodienya sampai wajahnya kembali tertutup dan berjalan meninggalkan pemuda itu. Dia berusaha melangkahkan kakinya dengan cepat tapi pemuda itu tetap mengikutinya dan berusaha menyamakan langkah mereka.

“Jimin,” panggil Suho. “Ya, tunggu sebentar. Shin Jimin. Kamu tidak akan mengadukan apa yang kamu lihat pada sekolah, kan? Tidak, kan? Shin Jimin, aku benar-benar mohon padamu jangan kadukan aku pada guru, hm?”

Dia tidak menggubris sedikitpun apa yang dikatakan Suho meskipun pemuda itu terus saja mengikutinya. Kalau begini terus itu artinya dia tidak akan bisa bertemu dengan orang suruhan Park Byeong Su.

***

Suho ikut berhenti saat Jimin tiba-tiba berhenti melangkah. Dia melihat Jimin yang menatapnya dengan tatapan sinis dibawah topi dan hoodie yang dikenakannya.

“aku tidak akan mengatakan apapun pada siapapun. Jadi berhentilah mengikutiku dan lakukan apa yang sedang dan akan kamu lakukan.” Jimin menyampaikan apa yang ingin dikatakannya dengan penekanan pada setiap kata-katanya.

Dia benar-benar tidak melakukan apa-apa saat Jimin kembali berjalan membelakanginya setelah mendengar apa yang dikatakan gadis itu. Sejak hari pertama dia melihat Shin Jimin, meskipun dia menyadari ada yang aneh dengan gadis itu tapi tetap saja ada yang membuatnya tertarik. Dia ingin mendengar gadis itu bicara dengannya, tersenyum padanya dan tertawa bersamanya. Gadis itu benar-benar membuatnya menginginkan banyak hal yang sederhana tapi sulit untuk diperolehnya.

“jangan percaya apapun yang kamu katakan, jangan ikut campur apa yang kamu lakukan dan jangan berusaha dekat denganmu.” Suho mengulang kembali kata-kata Jimin saat di kelas sambil memperhatikan punggung Jimin yang berjalan menjauh darinya. “baiklah aku tidak akan percaya satupun kata-katamu seperti yang kamu bilang, berarti aku harus berhati-hati karena kau pasti akan mengadukanku pada guru. Aish! Kenapa tiba-tiba dia muncul waktu aku keluar dari club itu? Minho ini semua gara-gara ulahmu!”

Sambil mengacak-acak rambutnya dengan frustasi Suho berjalan menghentak-hentakkan kaki karena kesal. Dia berjalan kearah yang berlawanan dari arah yang dilewati Jimin. Tapi kemudian dia berhenti dan melirik kebelakang sekali lagi melihat arah tempat Jimin menghilang.

“tapi aku benar-benar penasaran jadi aku akan mengikutimu.”

***

Dari gerbang bangunan yang belum selesai dibangun Jimin melihat beberapa orang yang dua diantaranya pernah bertemu dengannya saat Park Byeong Su mendatanginya. Tanpa rasa takut yang seharusnya dia rasakan Jimin berjalan menghampiri pria-pria tersebut.

Dua orang yang dia kenal membungkuk kearahnya diikuti dengan pria-pria yang lain. ya benar, aku lupa kalau sejak saat itu aku adalah cucu dari bos kalian dan itu artinya aku juga bos kalian.

“nona Jimin.” Lalu pria tersebut mengarahkannya pada sebuah mobil hitam di tepi jalan.

“sampaikan saja disini apa yang dia ingin aku ketahui.” Tolak Jimin. “aku sudah bilang padanya dengan sangat jelas aku tidak akan menyentuh apapun miliknya. Karena aku melakukan ini untuk ibu dan saudaraku.”

Pria tersebut mengangguk, dia lalu memerintahkan salah satu anak buahnya untuk mengambil sesuatu dari dalam mobil yang ternyata adalah sebuah amplop besar. Pria tersebut menyerahkan amplop tersebut pada Jimin yang langsung membukanya dan melihat data diri seseorang yang harus dia bawa kehadapan Park Byeong Su.

“Kim Joon Myeon?”

Setelah seminggu lebih dia mulai masuk kesekolah barunya baru malam ini dia mendapatkan nama siapa yang harus dia bawa ke hadapan laki-laki itu. Bagaimana caranya dia mencari orang yang bernama Kim Joon Myeon kalau tidak ada satu orangpun yang dia ketahui namanya disana.

hwajangnim memberikan waktu satu minggu untuk nona membawanya.”

“satu minggu?” Jimin melihat pria itu dengan dahi berkerut, bagaimana bisa aku membawa orang bernama Kim Joon Myeon kehadapan laki-laki itu tanpa mendekatkan diri lebih dulu. “apa dia benar-benar sudah gila? Park Byeong Su, aku bukannya membawa benda tapi aku disuruh membawa manusia. Itu tidak segampang yang-“

“satu minggu.” Ulang pria itu. Jimin hanya bisa menghembuskan nafas berat tanpa bisa membantah lagi.

“baiklah, satu minggu. Tapi sebelum itu jawab pertanyaanku karena aku yakin kalian pasti tau jawabannya.” Dia melihat wajah pria itu dengan sungguh-sungguh. “kenapa Park Byeong Su ingin aku membawa Kim Joon Myeon ini? apa yang akan dia lakukan setelah orang ini datang?”

“itu bukan urusan anda lagi. Hwajangnim memerintahkan anda untuk membawa orang ini kehadapannya dan selain itu tidak ada urusannya dengan anda.”

Jimin mengangguk, “dia memerintahkanku. Benar. Dan juga mengancamku. Apa park Byeong Su juga mengancam kalian untuk bersikap seperti ini?”

Tanpa mempedulikan mereka akan menjawab atau tidak, Jimin mengembalikan amplop yang tadi diberikan padanya ke dada pria di hadapannya dengan kasar. “katakan pada Park Byeong Su, tidak perlu menyuruhku untuk datang kemari hanya untuk memberikan selembar kertas bertuliskan tiga kata.”

***

Memandang berkeliling Suho mencari sosok Jimin yang tiba-tiba menghilang dari pandangannya. Sekali lagi dia melihat kearah gedung tinggi yang belum selesai di bangun.

“dia tidak mungkin ketempat seperti ini.” gumamnya lalu kembali berjalan melewati gedung tersebut.

Suho terus berjalan sambil memperhatikan sekelilingnya berharap dia bisa cepat menembukan sosok Jimin.  Dia melihat jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul 11 malam. Apa mungkin dia sudah pulang? apa tadi aku bertemu dengannya saat dia pulang atau dia baru akan pergi? Suho bertanya-tanya dalam hatinya.

“aku sudah bilang padamu berhenti mengikutiku.”

kamjjaghi!!” Suho benar-benar terkejut saat mendengar seseorang bicara dari arah belakangnya.

Meskipun jalanan tidak terlalu sepi tapi tiba-tiba mendengar suara pelan dan sinis seperti itu siapapun pasti akan terlonjak kaget. Masih memegang dadanya yang berdebar kencang Suho melihat Jimin berdiri di hadapannya dengan kedua tangan di saku jaketnya. Matanya masih terlihat sinis kearahnya.

“Jimin-ah.”

“dan jangan memanggil namaku seperti itu.” tolak Jimin. “kita tidak akrab sama sekali.” Gumamnya sebelum melangkah melewati Suho.

“Ya, kau mau kemana? Pulang? kenapa kamu masih di luar selarut ini?” Suho menyusul Jimin dan menyamakan langkah mereka.

Dia mengikuti Jimin yang tidak menjawab satupun pertanyaan yang diajukannya dan hanya berjalan menghadap kedepan tanpa pernah melirik sekalipun kearah lain. Mereka berjalan mendaki sebuah jalanan yang dikanan dan kirinya terdapat banyak rumah.

“apa kau mengikuti adikku?”

Untuk kedua kalinya Suho terlonjak kaget saat seseorang tiba-tiba muncul dibelakangnya dan bicara dengan suara pelan. “kamjjaghi!

“oppa.” dia melihat Jimin lalu laki-laki yang baru saja membuat jantungnya hampir meloncat keluar.. “apa yang oppa lakukan disini?”

Laki-laki itu berjalan melewati Suho dan berdiri disamping Jimin, “kamu kenal anak ini?”

Suho melihat dari laki-laki itu ke Jimin. “salah satu murid di kelasku. Jangan hiraukan dia, ayo pulang.”

Tanpa menunjukkan ekspresi apapun Jimin balik badan dan kembali melangkah. Suho melihat laki-laki itu masih memperhatikannya dengan tatapan mata yang tajam. “siapapun kau, jangan mengganggu adikku.”

Dia mengangguk patuh dan memperhatikan laki-laki itu kemudian menyusul Jimin dan melingkarkan lengannya di pundak gadis itu.

“ch, siapapun kau, jangan mengganggu adikku. Memangnya aku anak SD yang kerjanya mengganggu murid perempuan, yang benar saja.” dia mendecakkan lidahnya dengan kesal, “tidak heran kalau mereka kakak adik, dalam beberapa jam aku bisa kena serangan jantung karena mereka.” mengelus dadanya yang tadi berdebar kencang karena terkejut Suho akhirnya beranjak pergi dari sana.

***

Jimin berjalan masuk melewati gerbang sekolahnya pagi itu. Di saat murid-murid berjalan bersama teman mereka Jimin hanya bisa menutup rapat-rapat telinganya dengan earphones dan memutar lagi dengan suara keras. Kim Joon Myeon. Nama itu tetap berada dalam kepalanya sejak kemarin malam. Tidak ada informasi lanjut tentang siapa Kim Joon Myeon ini apalagi tentang alasan kenapa Park Byeong Su ingin orang itu dibawa kehadapanny.

“apa dia guru? Murid?” Jimin bertanya-tanya pada dirinya sendiri. “ada banyak orang sekolah sebesar ini bagaimana aku bisa mencarinya kalau aku tidak pernah bicara dengan satu orangpun.”

Dia mengeluh panjang lebar dan akhirnya memukul pelan kepalanya dengan kesal, “Shin Jimin kau memang benar-benar menyedihkan.”

Kemudian dia menyadari sesuatu yang muncul tiba-tiba dikepalanya, Kim Suho. Anak itu pasti bisa membantuku. Pikirnya. “apa anak itu benar-benar bisa membantuku? Mungkin tidak.”

“apa yang bisa membantumu dan mungkin tidak bisa membantumu?”

Jimin mendengar suara seseorang yang bertanya padanya di jeda lagu yang baru saja selesai di putar. Dia menoleh dan melihat Suho tersenyum lebar kearahnya dan mememarkan sederet giginya yang rapi. Awalnya Jimin akan mematikan lagu yang sedang dia dengar namun saat ekspresi wajah Suho yang berjalan disampingnya dia langsung mengurungkan niatnya itu dan terus berjalan menuju kelasnya.

Sebaiknya tidak usah minta bantuan anak ini.

***

Suho sedang sibuk meluruskan kerutan-kerutan di seragamnya dan memastikan rambutnya yang sudah tersisir rapi. Di sebelahnya duduk seorang pria berusia 60an, Kim Hun Myeon. Kakeknya yang seorang direktur sebuah perusahaan besar di Seoul.

“aku sudah terlihat tampan?” tanyanya pada kakeknya.

“tentu saja, cucuku memang pemuda paling tampan yang pernah aku lihat.”

Suho tertawa samar, “itu karena aku cucu kakek jadi aku selalu terlihat tampan.”

“memangnya di sekolahmu tidak ada yang mengatakan kalau kamu adalah pemuda yang paling tampan?”

“hampir semuanya.” jawabnya bangga. “tapi…” wajah Jimin tiba-tiba muncul dalam kepalanya.

“tapi?”

Dia segera menggeleng dengan cepat saat kakeknya menunggu ucapannya selanjutnya. “tidak. Tidak ada.”

Lalu Hun Myeon mengangguk mengerti, dia tersenyum melihat cucu satu-satunya itu. “perempuan? Dia tidak melihatmu sebagai murid laki-laki yang paling tampan?”

Dia mengangguk, “dia bahkan tidak mau bicara denganku.”

“itu artinya ada dua kemungkinan.” Ujar Hun Myeon. “pertama dia adalah gadis yang benar-benar baik dan kedua dia gadis yang benar-benar berbahaya.”

“aku tidak tahu pasti apa dia anak yang baik atau tidak. Tapi aku bisa pastikan dia bukan anak yang berbahaya.”

Hun Myeon mengangguk mengerti mendengar penilaian cucunya tentang gadis yang membuatnya tertarik. Tanpa disadari mereka sampai di depan gerbang sekolah Suho. Sekali lagi dia merapikan rambutnya dan menoleh pada kakeknya dengan senyumnya yang khas.

“aku pergi dulu, kakek.”

“baiklah, fighting!” dia menirukan apa yang dilakukan kakeknya dengan mengangkat satu tangannya yang terkepal dan berkata ‘fighting’ dengan semangat.

Setelah mobil kakeknya menghilang di tikungan dia berjalan masuk melewati gerbang dan melihat sosok murid perempuan yang duduk disampingnya saat berada dalam kelas. Suho setengah berlari menyusul Jimin yang berjalan beberapa langkah di depannya dan sedang berbicara sesuatu.

“dasar aneh, dia benar-benar bicara sendiri?” gumamnya pelan saat mendengar Jimin bicara pada dirinya. Kemudian tertawa geli melihat gadis itu memukul kepalanya sendiri dengan cara yang menggemaskan.

“apa anak itu benar-benar bisa membantuku? Mungkin tidak.” Dia mendengar Jimin mulai mengatakan hal-hal yang membuatnya penasaran.

Lalu dia mempercepat langkahnya dan bertanya, “apa yang bisa membantumu dan mungkin tidak bisa membantumu?”

Dia langsung tersenyum lebar memamerkan sederet giginya yang rapi saat Jimin menoleh kearahnya. Meskipun dia sudah tahu kalau Jimin tidak akan menjawab pertanyaannya tapi tetap saja melihat gadis itu berjalan meninggalkannya membuat perasaannya sedikit terluka.

Hari itu masih seperti hari-hari sebelumnya. Mereka belajar seperti biasa, Suho juga masih sering melirik ke arah Jimin seperti biasa dan Jimin juga masih tidak mempedulikannya seperti biasa. Tidak ada yang berubah. Banyak hal dari Jimin yang membuatnya tertarik sekaligus penasaran. Meskipun begitu Jimin termasuk murid pindahan yang sangat pintar untuk murid-murid di kelasnya. Dia tidak pernah benar-benar terlihat serius memperhatikan apa yang diterangkan guru di depan kelas tapi saat guru menyuruhnya untuk mengerjakan soal ke depan dia bisa menyelesaikan dalam waktu singkat.

Suho memperhatikan Jimin sambil bertopang dagu. Sejak pagi gadis itu terlihat mengerutkan dahi seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat. Hanya tinggal satu jam sebelum bel pulang berbunyi, Suho melirik kearah Jimin.

“Jimin-ah.” Panggilnya. “Shin Jimin. Shin Jimin. Shin Jimin.” Dia terus memanggil nama Jimin seperti anak kecil sampai gadis itu menoleh kearahnya.

“berhenti memanggil namaku seperti itu.” Jimin mengatakannya dengan nada sinis. “aku tidak suka.”

Suho memamerkan senyumnya seperti biasa. “tapi aku suka padamu. Lagi pula itu karena aku sudah memanggilmu sejak tadi tapi kau sama sekali tidak mau melihat kemari.”

Kemudian hal yang sama sekali tidak diduganya terjadi Jimin menopang dagu melihat kearahnya dengan serius. Suho menghindari tatapan mata Jimin hanya beberapa detik setelah gadis itu melihat kearahnya dan sesekali mencuri pandang kearah Jimin yang masih menatapnya. Dia berdeham karena salah tingkah. Lalu mendengar Jimin tertawa samar.

“oh,” Suho terpana melihat Jimin yang mengalihkan pandangannya setelah itu. “ini pertama kalinya aku melihatmu tertawa.”

Jimin sontak berhenti tertawa dan kembali memasang wajah tanpa ekspresi. “itu karena tidak pernah ada hal yang lucu yang perlu di tertawakan.” Ujarnya.

Suho mengangguk dan tersenyum memandang Jimin, “kau tau, kau terlihat sangat cantik saat tertawa. Sepertinya wajah ceria lebih cocok untukmu.”

Kali ini Jimin yang berdeham karena menyembunyikan rasa malunya. Sementara Suho melakukan apa yang dilakukan Jimin sebelumnya memandangnya sambil bertopang dagu.

Setelah melihat Jimin tertawa di kelas, Suho mengikutinya saat mereka pulang sekolah. Meskipun Jimin tidak mengatakan apapun dan hanya berjalan tanpa suara Suho sudah merasa itu adalah kemajuan. Dia tidak pernah melihat Jimin menaiki bus dan hanya berjalan kaki sampai kerumahnya. Sekarang dia mengikuti gadis itu.

“kamu benar-benar suka jalan kaki? Tidak capek?”

“karena aku perlu waktu untuk berpikir.” Jawab Jimin.

Suho mengerutkan kening tidak mengerti apa maksud ucapan Jimin. Berpikir? Memangnya apa yang dia pikirkan? Hutang negara? Keuntungan perusahaan entertainment? Berapa jumlah penggemar idol-idol di Korea?. Saat dia sedang mengajukan banyak pertanyaan di kepalanya Jimin tiba-tiba berhenti.

“ada apa?”

Beberapa saat mereka hanya berdiri seperti itu di tengah jembatan penyebrangan. “Suho.”

Suho tertegun mendengar Jimin menyebutkan namanya untuk pertama kalinya. “ya?”

“kau ingat apa yang aku bilang dihari pertama aku pindah ke sekolahmu?”

Dia mengangguk, “jangan percaya apapun yang aku katakan, jangan ikut campur apapun yang aku lakukan…dan jangan berusaha dekat denganku. Aku ingat dengan baik. Kenapa?”

“apa kalau aku bilang aku menyukaimu kau akan percaya? Kalau aku terlibat masalah apa kau akan membantuku? Kalau kau tau aku bukan dari keluarga baik-baik apa kau akan tetap dekat denganku?”

Tidak menyangka apa yang ditanyakan Jimin, Suho tidak bisa menjawab apa-apa. “aku tidak pernah punya teman dan aku tidak berniat untuk memulainya sekarang. Jadi jangan bersikap seperti ini terus.”

Setelah mengatakan itu, Jimin melangkah pergi meninggalkannya. Suho sendiri tidak berniat menyusul dan hanya memandangnya menjauh dan menghilang di tikungan jalan.

***

Advertisements

One thought on “[Chaptered] T(w)oday-s #1

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s