[FF Freelance] Genosida – Illusion Forest (Part 6)

PART 1

GENOSIDA

 

Scriptwriter: April (@cici_cimol) | Main Cast: Kwon Jiyong (G-Dragon Of Big Bang), Sandara Park (2NE1) | Support Cast:  Find the other cast while reading^^ | Rating: PG-15 | Genre: Fantasy, Mistery, Romance | Length: 8 Part

PreviousPart 1Part 2Part 3Part 4, Part 5,

Disclaimer:

Human and thing belong to God. I only own the plot. Terinspirasi dari Novel Harry Potter dan The Hobbit.

GENOSIDA

Sebuah dunia dari dimensi lain yang sedang dalam tahap percobaan gila. Menarik manusia untuk menjadi bagiannya. Genosida merupakan pembantaian besar-besaran secara sistematis pada suatu kelompok dengan maksud memusnahkan. Siapakah diantara mereka yang berhasil keluar hidup-hidup?

 

Previously at Genosida:

Perasaan Sandara kepada Kwon Jiyong semakin jelas, Mereka berdua berusaha untuk melindungi satu sama lain. Disaat menjalankan Misi semester ke-3, Sandara bersama kelompok api dan satu pengendali udara yang bernama Ailee memasuki gua yang dihuni Troll untuk mendapatkan berlian kehidupan yang dapat membuat Sandara terbebas dari ancaman Genosida. Tetapi, disaat mereka semua bertempur, Troll yang bernama Egror memakan Jiyong dan tanpa disadari, Sandara dapat mengeluarkan api! Sekarang Sandara benar-benar seorang pengendali api.

 

PART 6  [SEMESTER 4: ILLUSION FOREST]

 

“Sepertinya, aku jatuh cinta…

Terimakasih sudah memberikan perasaan indah ini padaku,

Aku tidak akan melupakanmu,

Karena kehadiranmu, untuk pertamakalinya aku bersyukur bisa hidup didunia ini,

Karena kehadiranmu, aku bersyukur bisa bangun dari tidurku setiap hari,

Karena aku mencintaimu, teruslah hidup bahagia. Lihatlah aku tersenyum dan jangan menangis lagi selamanya…”

Sandara masih tersungkur pada tanah lembab, matanya yang nanar terus menatap kearah Egror yang sudah tidak bergerak lagi. Perlahan, air mata gadis itu meluncur. Air mata yang hanya ia tujukan pada seseorang. Pada Kwon Jiyong.

Air mata yang menggenangi mata Sandara membuat penglihatannya kabur, dia hanya merasakan dadanya yang sesak dan cahaya aneh yang sekarang bersinar ditubuh Egror. Cahaya itu berwarna hitam pekat, lama-kelamaan, cahaya itu menuju kearah Sandara yang masih diam tak bergerak. Sandara dapat melihat sebongkah Diamond melayang ditengah-tengah cahaya itu. Menuju ketubuhnya, kemudian masuk kedalam dirinya melalui pori-pori kulit di dahinya. Sandara memejamkan matanya, merasakan energi aneh menjalar ditubuhnya, merasakan kehangatan yang tiba-tiba muncul didalam dirinya.

“Tidak…” Sandara merintih “Aku tidak butuh lagi Diamond ini, tidak…” Yang ada didalam pikirannya saat ini adalah Jiyong. Pria brengsek yang sudah berhasil masuk kedalam hatinya, pria brengsek yang membuatnya berpikir tidak bisa lagi hidup tanpa kehadirannya.

Kwon Jiyong tidak mungkin pergi semudah itu. Laki-laki itu berjanji untuk melindunginya dan Sandara tahu kalau dia tidak mungkin berbohong, Dia percaya dan yakin dengan setiap kata yang Jiyong pernah ucapkan padanya, dia yakin kalau semua itu bukan Bullshit yang biasa dikatakan oleh orang-orang  di sekitarnya. Dengan lemah, Sandara bangkit dan berjalan gontai kearah tubuh besar Egror.

“Dara-yaaa!” Seungri berlari mendekati Sandara dan memegang lengan gadis itu. “Hentikan! Dia tidak mungkin selamat.” Sandara berhenti dan menatap kosong kearah Seungri. Pria itu menatapnya dengan sedih. Tidak, dia percaya Jiyong masih hidup. Jika dia mempercayai sesuatu, itu pasti benar. Jiyong masih hidup, Sandara tahu itu.

Dengan marah Sandara menepis tangan Seungri dan terus berjalan kearah kaki Egror yang kotor. Dengan penuh tekad, Sandara mulai memanjat naik, berusaha menekan perasaan sesak didadanya yang membuat lehernya seperti dicekik, berusaha menahan setiap tetes air mata yang semakin lama semakin menetes deras dipipi kotornya. Seungri mulai mengikuti Sandara, jika memang Jiyong masih hidup… Jika memang mereka bisa menyelamatkannya…

Pengendali api yang lain mulai ikut memanjat keatas tubuh Egror sambil terseok-seok, pandangan mata Sandara tertuju pada wajah hangus Egror. Wajah hangus itu mengeluarkan lendir hijau yang meleleh akibat bola mata Egror yang pecah dan bau daging panggang yang busuk. Sandara terus berusaha mencapai wajah itu, mencari dimana letak mulut Troll sialan itu  sambil terus terisak menahan emosi yang semakin lama sulit dikendalikan olehnya. Seluruh tubuhnya bergetar hebat, dan tidak ada sepasang tangan hangat Jiyong yang memeluknya dan mencoba menenangkan pikirannya yang hampir gila. Tidak ada Jiyong yang memegangnya dan berteriak marah padanya, tidak ada Jiyong yang menyuruhnya untuk berpikir jernih, tidak ada Jiyong… tiba-tiba, kaki Sandara terasa begitu lemas hingga tidak sanggup menahan berat tubuhnya lagi. Gadis itu tersungkur ditengah tubuh abu-abu Egror yang sudah tidak bernapas. Menangis dalam diam sambil memegangi hatinya. Hatinya yang terasa sangat sakit. Apa seperti ini? Apa sesakit ini? Kalau begitu aku tidak mau mencintai seseorang. Kalau rasa sakitnya sampai seperti ini, aku memilih hidup kesepian dari pada merasakan sakit saat kehilangan orang yang kucintai…

“Dara-yaa, kau percaya dia masih hidup?” Ailee berjongkok dan memegang bahu Sandara dengan lembut. Dibelakangnya, Sandara melihat Bom dan Minzy yang saling bertukar pandang dengan suram. Sandara hanya mengangguk sambil terus berusaha mengatur napasnya yang tersengal-sengal akibat emosi yang meluap. “Kalau kau percaya, kau harus kuat. Kita akan mengeluarkan dia dari tubuh Egror.” Ailee membantu Sandara bangkit dan menopang berat tubuh gadis itu agar tidak terjatuh. Sandara menjejak daging lembek Egror, kemudian menengok kebelakangnya, berusaha mencari seseorang yang mau membantunya. Yongbae berlari cepat kearah Sandara sambil memperhatikan keadaan sekitarnya. Api yang Sandara semburkan jelas sangat besar dan kuat sehingga wajah Troll itu sangat hancur.

“Itu letak mulutnya.” Yongbae menunjuk sebongkah daging gosong yang sedikit mengeluarkan asap panas. “kau diam disini, aku dan yang lain akan mencoba memotong mulut itu untuk mengeluarkan Jiyong.” Yongbae menatap tajam pada Sandara yang masih terus terisak. “Tenanglah, kau yang percaya dia masih hidup kan? Teruslah percaya.” Yongbae mengambil belati tajam, mata dinginnya penuh amarah. Pria itu benar-benar benci melihat Jiyong dengan mudahnya masuk kemulut busuk Troll itu, dia benci melihat gadis yang sekarang memberikan semangat dan kebahagiaan untuk teman baiknya terus mengeluarkan air mata dengan tubuh gemetaran.

“Kita harus mengeluarkan Jiyong, aku rasa, Troll itu belum sempat menelannya.” Tablo berkata tenang. Pria itu menatap kearah Sandara dan Ailee “Lebih baik kalian turun dan tunggu dibawah.” Tablo tersenyum lemah, berusaha menenangkan Sandara dan juga dirinya sendiri. Jika mereka kehilangan pemimpin mereka. Maka mereka akan berakhir, mereka tidak mungkin bisa bertahan. Hanya Jiyong yang tahu seluk-beluk Genosida.

Sandara menggeleng kuat, tidak, dia akan menunggu Jiyong disini. Dia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri keadaan Jiyong. Seburuk apapun itu.

“Tunggulah disini.” TOP berkata pelan. Dan mulai berjalan cepat menghampiri Yongbae dan Tablo. Seungri hanya mengikuti dalam diam, hatinya terasa kacau saat melihat Sandara menangis seperti itu. Dengan kesal, Seungri mengeluarkan sebuah parang dari ranselnya dan menyabet asal ketubuh mati Egror.

Yongbae, TOP, Tablo, dan Seungri sekarang menatap daging hitam lembek yang mereka injak. Mata Yongbae menyipit, berusaha memutuskan bagian wajah mana yang harus dirobeknya.

“Aku tidak peduli” Seungri berkata marah “Hyung-ku harus keluar dari sana.” Seungri mengibaskan senjata tajamnya dan mulai merobek daging tebal Egror yang masih sedikit mengeluarkan asap. Gigi hitam Egror mulai terlihat. Untungnya, gigi-gigi itu sedikit retak dan tidak rata sehingga Seungri dapat melihat keadaan didalam mulut Egror, lidah hijau Egror berkelit seperti Jelly ditengah mulutnya. Pria termuda dalam kelompok api itu membuka mulutnya lebar-lebar saat dilihatnya sesosok orang dengan Jaket hitam masih tergeletak ditengah kekacauan mulut Egror. “H-Hyung!!!” Seungri berteriak panik, berusaha memanggil Jiyong yang sama sekali tidak bergerak.

“Egror benar-benar belum sempat menelannya?” Tablo berkata sambil memukul-mukul gigi hitam Egror, membuat celah agar mereka bisa masuk dan membawa Jiyong keluar.

Yongbae masuk melalui celah yang berhasil dibuat oleh teman-temannya, mulut Egror penuh lendir dan berbau sangat amis. Sambil menahan diri untuk tidak muntah, Yongbae berjalan diantara air liur Egror dan menarik Jiyong yang tidak sadar. Diam-diam Yongbae merasa salut dengan pria yang sekarang sedang tergolek lemah dan terlihat sangat kacau itu, bagaimana mungkin dia bisa bertahan didalam mulut terkutuk ini dan tidak tertelan? ini benar-benar mustahil. Tapi Jiyong berhasil, dia berhasil bertahan. Dan Yongbae tahu, kalau teman baiknya ini tidak akan mati menyedihkan dengan cara masuk kedalam mulut monster.

TOP, Tablo, Dan Seungri membantu Yongbae mengeluarkan Jiyong. Dan mereka benar-benar merasa sangat lega mengetahui bahwa pemimpin yang selalu mereka andalkan itu masih bernapas.

“DARA-YAA!” Seungri berteriak senang. “KAMI BERHASIL MEMBAWA JIYONG KELUAR!”

Sandara yang mendengar Seungri sempat mengira kalau dirinya sedang dalam mimpi. Jiyong masih hidup? Dengan wajah senang, Sandara bangkit, dibantu dengan Ailee mereka berjalan menuju kearah teman-temannya yang sedang memeriksa kondisi Jiyong.

“Dia tidak sadarkan diri.” Yongbae melapor pada Ailee.

“Tentu saja dia tidak Sadarkan diri. Bertahan didalam mulut itu untuk tidak tertelan pasti sangat sulit. Kalau aku pasti sudah ada didalam perut buncit ini.” Seungri berkata sambil memukul perut buncit Egror. Kemudian menoleh kearah Sandara yang matanya kembali digenangi oleh air. Dia menghela napas. Bisa tidak sih, cewek bermata besar itu berhenti menangis. Benar-benar menggangguku. Seungri berkata dalam hati sambil mengerutkan kening menatap Sandara. “Dara-yaa! Kepercayaanmu menang! JJang!!!” Seungri tersenyum lebar sambil mengacungkan ibu jarinya. Gadis itu hanya menjawab dengan anggukan cepat sambil menghapus air matanya dengan kasar.

“Kondisinya sangat lemah. Kita harus segera merawatnya.” Ailee berkata sambil mengecek keadaan Jiyong.

“Ayo, lebih baik cepat pergi dari sini, sebelum Troll lain menyadari kita ada disini.” Bom berkata khawatir.

Sandara menyentuh tangan Jiyong yang tergeletak lemah dan penuh lendir. Dingin. Tangan yang biasanya melindunginya, tangan yang memeluknya. Dingin. Dan itu semua karena dirinya. Karena Sandara. Sandara menatap wajah Jiyong, tiba-tiba Sandara sadar, dia sama sekali tidak mengenal Jiyong. Dia sama sekali tidak tahu apa-apa mengenai pria itu.

.

.

“Semester ke-empat. Misi untuk para Caedere yang bertahan dalam kelompoknya. Lewati hutan ilusi”

Sandara terbangun saat suara itu bergema. Genosida melanjutkan misi? Mereka menyerah pada Sandara? Itu tidak mungkin, ada yang aneh. Apakah karena Diamond itu? Apakah Genosida tidak curiga? Jelas-jelas mereka berniat memberontak, walaupun mereka belum melakukannya secara terang-terangan, tetapi sebagai seorang genius yang menciptakan dunia gila ini, Pasti sudah langsung mengetahui sesuatu yang janggal sedang terjadi.

Sandara menatap tangan mungilnya yang sedang menggenggam tangan Jiyong. Jiyong masih belum sadarkan diri. Perlahan, gadis itu bangkit dan membetulkan letak selimut pada tubuh Jiyong. Jika diperhatikan, pria ini benar-benar terlihat lugu. Entah luka seperti apa yang menjadikannya seperti ini.

Masing-masing manusia berusaha menjalani hidup mereka dengan baik, dengan cara mereka sendiri-sendiri. Sandara tahu, Jiyong mungkin juga sudah berusaha keras untuk menjalani hidupnya dengan baik, untuk membuat dirinya menjadi seorang manusia yang baik. Mungkin dia belum berhasil. Mungkin kebanyakan orang seperti itu – termasuk dirinya sendiri – Belum berhasil.

Disaat Sandara mulai tenggelam dalam lautan renungannya, tangan Jiyong bergerak perlahan, dengan terkejut Sandara memperhatikan wajah Jiyong yang sedikit berkerut akibat pening yang dirasakannya, detik berikutnya, mata cokelat milik Jiyong terbuka perlahan.

“Ji…, kau baik-baik saja?” Sandara mencoba membuat Jiyong kembali pada kesadaran penuh. “Aku akan panggil Ailee.” Sandara mencoba bangkit dari duduknya saat dirasakan tangan Jiyong menyentuhnya. Menahannya untuk pergi. Dengan bingung, Sandara menatap Jiyong yang sekarang mengerang sambil mencoba bangkit dari tidurnya. Sandara langsung membantu Jiyong untuk bangkit.

“Aku hanya butuh minum.” Jiyong berkata dengan suara parau.

Sandara langsung mengambil air mineral dalam botol dan menuangkannya kesebuah gelas porselen, kemudian dengan cepat menyodorkannya pada Jiyong. Jiyong minum dengan rakus, seolah dia belum pernah minum selama se-abad lamanya.

Sambil mengerutkan kening, pria itu mulai mengecek keadaannya. Kakinya patah dan di perban dengan tebal, juga ada perban disekeliling keningnya. Jiyong mendengus kesal, tidak suka dengan keadaannya sendiri.

“Kau harusnya bersyukur masih hidup.” Sandara tersenyum menatap wajah Jiyong yang  terlihat semakin kesal.

“Aku seperti mumi, terlalu banyak perban.” Jiyong menatap Sandara yang tersenyum geli padanya. “Aku senang bisa melihatmu lagi.”

“Kau bodoh.” Sandara meninju lengan Jiyong dengan lembut. “Bagaimana mungkin Kwon Jiyong yang keren bisa masuk kedalam mulut busuk Troll? Sangat mengecewakan.” Sandara menyentuh tangan Jiyong lembut. “Aku sangat sangat senang kau baik-baik saja.”

Mereka berdua terdiam. Mendengarkan hembusan angin malam yang membuat tenda bergesek berisik. Perlahan Sandara menoleh dan menatap Jiyong yang juga sedang menatapnya.

“Apa yang sedang kau pikirkan?” Sandara bertanya pelan saat melihat senyum tersungging diwajah Jiyong.

“Aku hanya sedang berpikir, Jika aku ada di Seoul, aku akan mengajakmu ke rumahku, main bersama teman-temanku, dan berkencan.” Jiyong berkata pelan, nada suaranya menyiratkan harapan. Harapan untuk menjadikan kata-kata yang baru saja dikeluarkannya menjadi kenyataan.

“Ceritakan tentang dirimu.” Sandara menatap Jiyong yang sedang menyentuh pelipisnya yang diperban. “Berapa usiamu? Apa pekerjaanmu? Dan seperti apa kehidupanmu?”

“Kenapa kau ingin tahu?”

“Karena aku baru sadar, kalau aku benar-benar tidak mengenalmu.” Sandara berkata lirih. “Aku hanya tahu kau, Kwon Jiyong. Pemimpin dari kelompok api yang keras kepala dan tidak punya hati dan sangat egois.” Sandara terdiam, gadis itu menunduk menatap selimut putih yang melindungi kaki Jiyong dari dingin “Dan, bagaimana kau bisa masuk kesini? Bagaimana kau mengenal CL? Bagaimana kau bisa jatuh cinta padanya? bagaimana dia bisa mengkhianatimu? Bagaimana kau bisa terikat sumpah hidup dan mati pada Genosida?” Sandara mengangkat wajahnya dan menatap wajah dingin Jiyong. “Kau… terlalu misterius dan brengsek, tapi aku suka”

“Payah…” Jiyong tertawa sambil mengacak-acak rambut Sandara, kemudian dengan kedua tangannya, dia menangkup wajah Sandara agar sejajar dengan wajahnya, mata bulat dan besar gadis itu menatapnya dengan gugup. “Kau tinggal masuk kedalam kenanganku kalau kau mau kan?”

“aku tidak melakukan itu lagi.”

“kenapa?”

“karena kau tidak menyukainya, dan kau akan marah padaku. Lagi pula, kepalaku jadi sangat sakit saat aku melakukan itu.”

“Benar…” Jiyong mendekatkan wajahnya. “Aku memang tidak suka…” Jiyong berbisik, detik berikutnya, bibir pria itu menyentuh bibir Sandara, menyebarkan aliran listrik berjuta volt kedalam diri Sandara. Kali ini gadis itu membalas ciumannya. Kali ini gadis itu membalas pelukannya.

“Aku akan memberitahumu…” Jiyong terengah sambil menempelkan keningnya yang penuh perban ke kening Sandara. “Aku akan memberitahu dan menceritakan semuanya saat kita benar-benar bisa berkencan… di Seoul…”

“Aku akan tunggu…” Sandara terkekeh “Aku akan tunggu saat itu tiba…”

Jiyong menarik selimutnya dan menatap Sandara, menyuruh gadis itu ikut masuk kedalam selimutnya. “Aku butuh istirahat.”

“K, kalau begitu… a, aku akan kembali ketendaku.” Suara Sandara sedikit bergetar karena gugup.

“Tidak, aku ingin kau ada disampingku saat aku bangun.” Jiyong menarik tangan Sandara hingga gadis itu terjerembab dan berbaring disampingnya. “Hanya temani aku.” Jiyong berbisik dan mulai menyelimuti tubuh Sandara.

Sandara terdiam sambil berusaha menenangkan sekujur tubuhnya yang dipenuhi perasaan yang aneh. Sandara menatap Jiyong yang tersenyum dan mulai memejamkan matanya. Sepertinya, malam ini Sandara tidak bisa tidur dengan tenang. Dia harus mulai menyingkirkan pikiran-pikiran anehnya sambil terus menghitung jumlah domba yang semakin lama malah berubah menjadi bentuk wajah Jiyong. Dia benar-benar tidak waras.

.

.

“Melewati hutan ilusi, Genosida melanjutkan misi dan melepaskan Sandara. Sepertinya bukan hanya kita yang sedang menyusun rencana, tetapi mereka juga sedang merencanakan sesuatu.” Minzy berkata kesal sambil terus mengaduk kentang tumbuk didalam baskom.

“Aku rasa, jika kita bersatu, kita benar-benar bisa terbebas dari sini selamanya. Kelompok udara tidak punya masalah dengan kita.” Bom berkata sambil mengunyah jagung rebusnya, sudut matanya memperhatikan Ailee yang sedang merebus obat herbal untuk Jiyong. “Masalah parahnya adalah kelompok air. Sepertinya akan sulit membujuk mereka.”

“Well, kita tidak punya pilihan lain. Jika mereka memang tidak berniat membantu, setidaknya kita mendapatkan Jo Kwon. Dia kunci yang kita miliki satu-satunya.” Ailee berkata tenang. “Kelompok udara pernah punya pikiran sama seperti kalian, jadi tidak akan sulit untuk berbicara dengan mereka. Aku juga pernah bertemu dengan pengendali tanah. Sepertinya, mereka juga tidak akan sulit untuk diajak bekerja sama.”

“Ngomong-ngomong, Hutan ilusi itu apa?” Minzy mengerutkan keningnya dan terlihat bingung.

“Tanyakan pada Jiyong. Hanya dia yang tahu.” Bom menyahut, tangan kanannya kembali mencomot Jagung rebus yang masih mengeluarkan uap hangat.

“Benar, ini sudah pagi dan dia masih belum sadar. Sandara unni juga belum keluar dari tenda Jiyong oppa.” Minzy melongok keluar tenda dan memperhatikan tenda Jiyong yang masih tertutup rapat.

“Omo, apa mereka tidur bersama?” Bom ikut melongok keluar tenda. “Tsk… padahal Jiyong sangat sulit untuk dekat dengan wanita. Dia selalu dihantui Chaerin… aigooo…” Bom menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Ya! Seungri oppa! Kenapa dia tiba-tiba masuk kedalam tenda Jiyong oppa!!!” Minzy berkata heboh, Ailee yang penasaran ikut mengintip.

Mereka bertiga menahan napas sambil memperhatikan tenda Jiyong yang baru saja dimasuki Seungri, detik berikutnya Seungri berlari keluar sambil berteriak-teriak seperti baru saja memenangkan undian.

“HYUNG!!! YA HYUNG!!! AYO LIHAT INI!!!” Seungri berteriak dengan segenap jiwa raga dan  suara yang dia miliki, memanggil Tablo, Yongbae, dan TOP yang sedang sibuk merebus air hangat. Matanya menangkap tiga gadis yang menyembulkan kepala mereka dari tenda khusus untuk kegiatan memasak. “YA! YOROBUN! KALIAN HARUS LIHAT INI!!!”

Beberapa menit kemudian tenda Jiyong dipenuhi oleh wajah-wajah mesum yang menatapnya dengan senang.

“Kenapa kalian berjejalan didalam tendaku?” Jiyong berkata dengan wajah datar. Tendanya sangat sempit sekarang. Sandara yang sedikit demi sedikit menjauhkan tubuhnya dengan wajah merah padam hanya bisa menunduk malu.

“Sepertinya kau sudah sangat sehat sekarang.” Yongbae tersenyum sangat lebar, melebihi lebar bokongnya. “Kami hanya berniat menanyakan misi padamu.” Kata-kata Yongbae disambut anggukan cepat dari teman-temannya.

“Hyung, Apa mungkin membahasnya disini?” Seungri menggerutu dari bawah ketiak TOP. Kepalanya benar-benar terjepit disana. “Aku dalam posisi yang kurang nyaman sekarang.”

“Tentu saja harus dibahas disini.” Jiyong yang terlihat senang akan penderitaan Seungri buru-buru berkata sambil menepuk-nepuk kakinya yang masih diperban. “Aku kan masih belum bisa berjalan keluar.”

“Aigooo, Hyung ini, bagaimana mungkin dia bisa menjadi anak manja dalam semalam.” Seungri kembali menggerutu.

“Hutan ilusi.” Minzy mencicit dari balik bahu Bom. “Misi semester berikutnya, kita harus melewati Hutan ilusi, Genosida melanjutkan misi dan melepaskan Dara unni.”

“Sudah kubilang, mereka tidak bisa membunuh Sandara atau menangkapnya jika dia memiliki Diamond itu, itu sebabnya Genosida melanjutkan misi, mereka tidak punya pilihan lain” Jiyong mengangguk. Sandara benar-benar tidak menyadari seberapa hebatnya Diamond kecil yang sekarang bersarang ditubuhnya. “Hutan ilusi berada diseberang padang rumput. Hutan itu diselimuti kabut tebal yang membuat orang yang masuk kedalamnya mengalami suatu ilusi. Mereka lebih sering terjebak dalam kenangan mereka sendiri dan tidak pernah keluar lagi selamanya.”

Seluruh anggota kelompoknya terdiam, mereka benar-benar tidak menyangka kalau misi kali ini melibatkan psikologis. Tidak ada gunanya mereka menyiapkan berbagai macam senjata untuk melindungi diri. Yang bisa menyelamatkan mereka adalah ketahanan psikologis masing-masing.

“Hutan itu ada diseberang padang rumput?” Sandara bertanya sambil menatap Seungri, apakah padang rumput yang dimaksud adalah padang rumput dimana Sandara untuk pertamakalinya menjejakan kaki di Genosida? Awal dia terdampar di dimensi ini?

“Yeah, padang rumput ketika kau menebas Pioca saat semester pertama. Awal kita bertemu.” Seungri menjawab sambil menghembuskan napas berat. Dia yang pertama kali menemukan Sandara dan menolongnya, tetapi bagaimana mungkin Sandara lebih memilih Kwon Jiyong yang jelas-jelas brengsek dan awalnya berniat untuk membunuhnya? Cinta memang rumit.

“Hutan itu tidak terlalu lebat dan luas, tetapi untuk keluar dari sana akan sulit sekali.” Jiyong berkata pelan. Matanya menatap wajah-wajah cemas yang sekarang ini sedang memenuhi tendanya. “Kalian bisa kan? Guys! Aku yakin kalian bisa melewatinya. Hanya yakinkan diri kalian kalau semua itu hanya ilusi, kalian harus bisa membedakan mana yang ilusi dan mana yang kenyataan. Kita pasti bisa melewatinya.” Jiyong berusaha menenangkan teman-temannya.

“Tentu saja.” TOP berkata dengan suaranya yang berat, dia semakin menjepit kepala Seungri di ketiaknya. “Kita sudah menghadapi Troll dan makhluk mengerikan sialan lainnya. Kita bisa melewati ini.”

“Kita juga harus menemukan kelompok lainnya untuk berbicara mengenai rencana kita. Juga harus secepatnya meminta keterangan Jo Kwon.” Tablo berkata dengan suara tergencet. Dia benar-benar tergencet diantara Minzy dan Yongbae.

“Aku harap bisa secepatnya bertemu dengan pengendali air. Berapa kelompok yang tersisa?” Bom memicingkan matanya melihat Jiyong yang tampaknya tidak fokus karena pemandangan aneh disekelilingnya.

“8 Kelompok.” Jiyong berkata suram “2 kelompok air, 1 kelompok udara, 2 kelompok tanah, dan 3 kelompok api.”

Ailee terdiam. Dia berharap kelompoknya yang bertahan sekarang. “Sepertinya melawan Troll sangat sulit.”

“Jika misi ini berlanjut, dan semakin sedikit kelompok yang tersisa… maka akan sulit menghancurkan Genosida.” Tablo berkata pelan. “Kita harus bergerak cepat.”

“Guys… sepertinya Jiyong Hyung sudah sangat kelelahan. Bisakah kita keluar sekarang?” Seungri meneriakkan protesnya dengan suara aneh. Dia sedang menahan napasnya. Ternyata, TOP malah semakin menggencetnya.

“Kita akan segera bergerak ketika aku merasa baikan.” Jiyong menutup pembicaraannya sambil terus menyunggingkan senyumnya. “aku berharap aku memegang ponselku sekarang. Pemandangan ini jarang sekali terjadi.”

“Benar, sedari tadi tanganku gatal. Ingin sekali memfoto mereka dan memasukannya ke akun instagramku.” Sandara berkata serius yang disambut protes dari berbagai arah.

.

.

Sandara mentatap hamparan padang rumput yang membentang luas dihadapannya. Angin kencang menerbangkan rambutnya dan membawanya mengenang kembali saat dia baru saja menjejakan kakinya diGenosida. Kejadian itu seperti baru saja terjadi beberapa jam yang lalu. Sandara tersenyum sedih memikirkan dirinya yang begitu senang menerima undangan Genosida dan menyangka dirinya diterima disebuah universitas yang terkenal. Membayangkan dirinya menjadi mahasiswa dan bertemu dengan teman-teman baru, dengan bangga duduk di dalam Midnight bus. Sampai detik ini dirinya masih menyedihkan, sama seperti dulu, saat dia hanya bisa bersembunyi didalam tumpukan buku disaat semua teman-temannya menikmati masa muda mereka.

“Aku berharap segera melihat kelompok yang lain.” Tablo berkata suram. “Kita belum memulai apa-apa untuk menghancurkan Genosida dan malah terus ikut dalam permainan mereka.”

“Aku ingin bertemu kelompok air.” Sandara berkata sambil berjalan mendekati Jiyong. Kaki Jiyong masih belum sembuh total dan jalannya masih belum normal, tapi dia keras kepala untuk segera mengikuti misi. Sebenarnya Sandara merindukan teman-temannya dari kelompok air, anggota kelompok air memang lebih lembut dan perhatian. Dan yang paling Sandara sesali dalam hidupnya adalah kepergian Lee Ha Yi. Gadis kecil itu, sampai kapanpun akan tetap tersimpan hangat didalam hatinya.

“Well, karena kelompok air adalah satu-satunya harapan kita.” Bom menyahut, “Jo Kwon adalah satu-satunya harapan kita untuk bebas.”

Mereka semua mulai terdiam sambil menatap hamparan hijau rumput dihadapan mereka. Saat ini Sandara masih berdiri dibayang-bayang pepohonan rindang. Diseberang mereka, terlihat lebatnya pohon cemara dan pinus. Hutan itu sedikit menakutkan karena kabut tebal yang menyelimuti pinggir hutan.

“Persiapkan diri kalian masing-masing.” Jiyong berkata tegas “Guys, aku tidak ingin melihat ada anggota yang tertinggal didalam hutan. Kita semua harus bertemu kembali diseberang hutan itu.”

Dalam diam mereka mulai menginjakan kaki ke rerumputan yang basah. Sandara menatap Jiyong yang berjalan sedikit pincang dan berlari kesampingnya.

“Kau yakin bisa melanjutkan?” Sandara bertanya khawatir.

“Kau pikir aku tidak bisa? Aku bahkan pernah mengalami cedera yang lebih parah dari ini. Jadi jangan buang tenagamu untuk mengkhawatirkanku. Sekarang pikirkan dirimu sendiri.” Jiyong berkata tegas, pandangannya fokus pada hutan diseberang sana yang semakin lama semakin terlihat menakutkan dimata Sandara.

Sandara hanya bisa menghela napas sambil mengangguk. Dia memang harus menurut dan berhenti memikirkan kondisi Jiyong. Dengan terpaksa, Sandara berusaha fokus pada misi yang harus dijalaninya. Semakin lama, jarak antara dirinya dengan bibir hutan semakin dekat. Sandara tidak dapat mendengar kicau burung yang biasa menyambutnya saat akan memasuki area hutan. Hutan itu, seperti hutan mati. Bahkan daun-daun cemara, pinus, dan rumputnya sama sekali tidak bergerak walau ditiup angin.

Sandara menghentikan langkahnya saat berada ditengah-tengah padang rumput, matanya memicing menatap hutan berkabut tebal itu, seingatnya, dia sama sekali tidak pernah melihat hutan itu saat dirinya pertama kali ada disini. Tepat dimana Sandara menginjakkan kakinya sekarang adalah tempat ketika dirinya mendarat di Genosida dan mendengarkan jeritan mengerikan dari para korban Pioca. Dan dia sama sekali tidak pernah melihat hutan yang diselimuti kabut sangat tebal itu. Sandara mengedarkan pandangannya pada semua teman-temannya yang mulai berpencar. Keberanian mereka benar-benar harus diacungi jempol. Mereka semua terlihat percaya diri dan tidak takut mati. Walaupun Sandara mengingatkan dirinya sendiri kalau dia tidak akan mati karena Diamond yang dia miliki, tetap saja, jika dirinya terjebak disana selamanya, dia akan tetap hidup. Hidup sambil terus berputar-putar pada ilusinya sendiri. Itu lebih menakutkan, dia memilih mati secara mengenaskan daripada harus terus hidup dalam ilusinya sendiri.

Mereka semua berdiri sejajar saat sampai dibibir hutan. Sandara menengadah menatap pepohonan yang hanya seperti benda mati, atau terlihat seperti lukisan. Tidak bergerak sama sekali. Kemudian, tangannya menggapai pelan kabut putih yang menari diudara. Kabut itu terlihat seperti asap putih yang mengepul dari berbagai arah.

“Aku… akan melihatmu lagi kan?” Sandara menatap Jiyong yang berdiri disampingnya dalam diam. Pria itu tersenyum dan menggenggam tangan Sandara.

“Tentu” Jiyong mengangguk yakin. “Sampai ketemu lagi.”

Sandara terdiam, dia pernah mengalami perpisahan seperti ini denga Lee Ha Yi. Dan, dia tidak pernah bertemu kembali dengan gadis itu. Rasa takutnya kembali muncul, dengan gugup dia meremas tangan Jiyong. Jiyong menoleh dan kembali menatap Sandara.

“Kita pergi bersama saja.”

“Tidak bisa, ilusi yang akan menyeretmu adalah kenangan yang paling ingin kau lupakan. Jika kita pergi bersama sambil berpegangan tangan, kemungkinan besar, kau akan masuk kedalam ilusiku dan aku akan masuk kedalam ilusimu. Kita bisa bertukar tempat. Itu tidak boleh.”

Dengan berat, Sandara melepaskan tangannya. Dia kembali memandang kedalam hutan gelap penuh kabut putih tebal dan memantapkan hati kalau semuanya akan baik-baik saja. Sandara melihat Yongbae melambaikan tangan pada mereka dan mulai melangkahkan kakinya memasuki area hutan. Dia tidak terlihat lagi.

“Kita tidak boleh buang-buang waktu. Ingat, kita harus menemukan kelompok yang lain secepatnya dan meminta bantuan mereka. Kita juga harus berhasil menemukan Jo Kwon.” Jiyong berkata pada Sandara. Kemudian, pria itu tersenyum padanya dan melambaikan tangan pada teman-temannya yang lain. Jiyong mulai melangkahkan kakinya, Sandara menatap punggung Jiyong yang semakin menjauh darinya, perlahan sosok Jiyong menghilang kedalam hutan, ditelan kegelapan dan kabut asap yang tebal.

Sandara menoleh dan melihat satu persatu anggota kelompok api mulai memasuki hutan, Bom dan Minzy mengacungkan ibu jarinya pada Sandara sambil meneriakan kata “FIGHTING”  dan menghilang kedalam hutan.

Sandara menghela napas dalam, menenangkan dirinya dan mulai melangkahkan kakinya ke tanah lembab yang berwarna sangat hitam. Hal pertama yang dilihatnya saat dia memasuki hutan adalah kabut. Kabut itu benar-benar tebal dan memenuhi seluruh area hutan. Sandara mendongak menatap pepohonan yang lebat. Sinar matahari yang tidak bisa menembus pepohonan lebat menyebabkan banyaknya sulur liar dan juga lumut yang menempel dibebatuan dan batang-batang pohon mati.

Sandara bergerak secara hati-hati dan memasang pendengarannya dengan tajam. Sunyi, tidak ada tanda-tanda kehidupan disini. Seolah tempat itu hanya ruangan kosong yang dipenuhi benda mainan, Sandara semakin mempercepat gerakan langkahnya. Menuju ke arah selatan, tempat mereka bisa keluar dari hutan itu. Tiba-tiba kakinya tersandung akar pohon lembab yang sudah keropos, Sandara terjatuh dengan wajah menempel pada tanah lembab. Ada yang aneh, tanah itu berbau kimia. Sandara bangkit perlahan, mencoba melihat tanah yang disentuhnya diantara kabut tebal. Dia mengambil sejumput tanah dan menciumnya. Ini jelas bau kimia, hutan ini hanya hutan buatan, hutan buatan yang dikendalikan oleh tekhnologi canggih.

Disaat Sandara tengah berpikir keras mengenai penemuannya, suara yang sudah tidak asing lagi terdengar. Sandara bangkit dan menoleh dengan cepat. Dan disanalah dia terbaring. Dengan tubuh ringkih dan kulit pucat. Ibunya menatapnya dengan sedih, memanggil-manggil namanya. Jantung Sandara berdegub dengan kencang, mata ibunya menatapnya dengan memohon, memohon padanya untuk datang mendekat.

Sandara membeku. Tubuhnya bergetar hebat, rasa takut menyerangnya, rasa takut itu membuat pendengarannya berdenging. Dia tetap berdiri diam pada tempatnya, ibunya masih terus memanggil namanya.

“Dara-yaaa… Dara… t, to, tolong Dara-yaa…” Ibunya merintih kesakitan.

Sandara mulai merasa sesak, Tenggorokannya tercekik dan air matanya meleleh, dia menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Berusaha mengusir gambaran yang terasa begitu nyata dihadapannya. Napas ibunya mulai terdengar pendek-pendek. Ibunya sedang meregang nyawa sambil terus memanggilnya. Meminta tolong padanya.

“O… Omma…” Sandara terisak, kakinya mulai bergerak menghampiri tempat tidur, tempat ibunya sedang berusaha bernapas, wajah ibunya dipenuhi penyesalan dan terlihat ketakutan. Mulutnya terbuka lebar, berusaha mengambil oksigen, air matanya mengalir perlahan sambil menatap Sandara.

“Omma!!!” Sandara mengangis dan berlari menghampiri ibunya, tangan ibunya menggapai-gapai udara kosong. Tangan ibunya ingin menyentuh Sandara. “Omma! Bertahanlah! Omma!!!” Sandara terus berteriak ketakutan.

Akan tetapi langkahnya tiba-tiba berhenti. Disaat dua langkah lagi dia mencapai sisi ranjang ibunya, dia menghentikan langkahnya dan menggeleng kuat-kuat. Tidak, ini tidak benar. Omma sudah pergi, dia sudah pergi meninggalkan aku, ayah, dan adikku. Omma tidak akan memohon seperti pengemis padaku, dia tidak akan membuat wajah menakutkan seperti itu saat dia akan pergi meninggalkanku selamanya. Sandara mengulangi kata-katanya lagi sambil menatap ibunya yang terus menggapai udara kosong untuk menyentuhnya.

“TIDAAAK!!!” Sandara berteriak nyaring sambil menutup kedua telinganya rapat-rapat. “BOHONG! KAU TIDAK AKAN MENINGGAL DENGAN CARA MENYEDIHKAN SEPERTI ITU!!!” Sandara meraung, tubuhnya terus menggigil saat tangisnya pecah, perlahan gadis itu tersungkur ke tanah. Sandara menangis sejadi-jadinya. Merasakan hatinya begitu sakit, merasakan kerinduan pada ibunya, menahan segala keinginannya untuk berlari keranjang itu dan menarik ibunya kedalam pelukannya. Sandara terus menangis dan menangis sambil menutup kedua telinganya.

Entah sudah berapa lama gadis itu menangis, hingga rasa pening dan lelah menyerang Sandara. Sandara menengadah dan menatap kosong kehadapannya. Sudah hilang. Ibunya tidak ada disana lagi. Sambil terhuyung dia bangkit dan berlari kearah tempat ibunya tadi berbaring. Ilusi, apa yang baru saja Sandara lihat tadi adalah ilusi. Sambil menghapus air matanya yang masih turun dan berusaha menenangkan dirinya, Sandara kembali melangkah, kali ini gadis itu malah berlari, dia terus berlari menembus pepohonan, bebatuan, dan sulur-sulur. Sandara takut, jika dia menghentikan langkahnya, maka dia akan kembali terjebak dalam ilusinya sendiri. Karena itu dia terus berlari dan tidak menoleh kebelakangnya.

Kakinya terhenti saat dia melihat sosok tidak asing ditengah pohon rindang sedang berdiri diam bagai patung. Sandara menyipitkan matanya, berusaha melihat siapa sosok itu. Jiyong. Sandara berusaha meyakinkan dirinya kalau yang dilihatnya itu bukan Jiyong, dia bergerak mendekati sosok itu. Jiyong. Kwon Jiyong berdiri diam bagai patung, kulitnya mulai pucat dan matanya terus terbuka dan tidak berkedip sedikitpun.

“Ji!!!” Sandara mendekati Jiyong, kabut putih bagai asap itu seolah menghalanginya untuk mendekat. Sandara terus bergerak, berusaha menggapai sosok Jiyong, hingga ujung tangannya menyentuh jaket Jiyong dan detik berikutnya Sandara ternganga dengan apa yang sedang dilihatnya.

Dihadapannya berdiri Lee Chaerin. Gadis itu sedang memohon pada Jiyong dengan berurai air mata. Disampingnya, terdapat gadis yang lebih kecil. Gadis dengan rambut ikal itu sedang sekarat. Dan Jo Kwon, sedang menatap Jiyong sambil menarik anak panahnya.

Sandara menatap pemandangan dihadapannya sambil ternganga. Ini adalah ilusi milik Jiyong. Kenangan milik Jiyong. Dan pria itu sedang terjebak dalam kenangannya sendiri.

TO BE CONTINUED

 

 

 

Note:

Untuk beberapa orang yang nanya “kenapa Sandara bisa ngeluarin api?” itu karena di part 4, Jiyong undah ngejadiin Sandara anggotanya dengan menukar Jaket mereka, nah, untuk ngejadiin Sandara masuk elemen api, Jiyong harus ngelanggar aturan Genosida, makanya umur Jiyong diambil 5 tahun. Untuk Sandara yang juga ngelanggar aturan Genosida, dia harus ditangkep dan dijadiin pemimpin kelompok. Tapi, karena dia punya diamond yang bikin dia terus hidup. Genosida gak jadi nangkep dan terpaksa ngelanjutin misi. Untuk Jo Kwon, dia sebenernya mata-mata yang sengaja Genosida taruh diantara Caedere. Jadi, Jo Kwon itu tahu siapa orang dibalik Genosida, dan juga tahu gimana caranya ngancurin Genosida. Hehe J diharap maklum ya, jika penyampaian dalam FF sedikit membingungkan. Ini karena author pengen nyoba sesuatu yang baru dan jadinya seperti ini. Mohon maaf^^ untuk part ini dimohon komentarnya juga! Maaf juga kalo typo bertebaran!!! TERIMAKASIH BANYAK!!! 🙂

Advertisements

22 thoughts on “[FF Freelance] Genosida – Illusion Forest (Part 6)

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s