[Chapter 2] 2050

2050

“When you’re not a human..”

by Shinyoung

Main Cast: Kim Myungsoo & Son Naeun || Support Cast: Infinite & Apink || Genre: Fantasy, Angst, Romance || Length: Chapter 2/? || Rating: || Credit Poster: iheartpanda || Desclaimer: Official written by me. The cast belongs to God. No copy-paste. || A/nEung. Hai hai! Maaf sekali aku comeback dengan fanfiction ini lama banget. Tadinya mau aku post tanggal 15 Februari. Tapi, pas aku lihat part ini kurang memuaskan. Jadi aku edit lagi sampai hari ini dan aku sedang disibukkan dengan try out-try out. Minggu depan aku harus mengikuti UTS di sekolah. Jadi tolong doakan aku ya! Hehe.

Untuk part selanjutnya akan aku publish tanggal 1 kalau aku bisa. Jadi, aku sudah jadwalkan kalau aku akan posting setiap tanggal 1 dan tanggal 15. Kalau aku sempat buka laptop menjelang UN nanti dan dapat izin tentunya -_-)/ Jadi silahkan tunggu!~ Dan selamat membaca. Maaf aku banyak ngomong ya? Kkkk~

**

Chapter 2  The Fact

Teaser | 1

Seoul, 2014

Naeun melangkahkan kakinya mendekati Myungsoo. Kemudian, gadis itu menyodorkan tangannya ke arah Myungsoo dengan pasti. Walaupun sebenarnya hatinya sedikit tidak yakin terhadap laki-laki itu.

Kim Myungsoo. 25 tahun. Pekerjaan fotografer. Laki-laki yang baik. Tengah mencari seorang model.

Perkataan Screvisible, membuat Naeun langung terprogram sendirinya. Gadis itu mencoba menunggu balasan tangan dari Myungsoo. Akhirnya, dengan sedikit ragu, Myungsoo mencoba menggenggam tangan Naeun. Kemudian, cepat-cepat ia menjabatnya dan melepasnya.

“Kau siapa?”

Maka, pertanyaan itulah yang muncul dari bibir Myungsoo sambil menatap Naeun sedikit bingung. Bagaimana bisa seorang gadis muncul di kamarnya. Tunggu! Gadis itu!? Gadis yang muncul dalam mimpiku!, pikir Myungsoo. Myungsoo langsung menatap gadis itu dengan kedua matanya lebar-lebar.

Jangan beritahu dia!

Screvisible mengatakan. Sudah pasti, itu Namjoo yang menyuruhnya. Karena mulai saat ini, hanya Namjoo yang bisa memprogramnya. Naeun tersenyum, kemudian dengan santai ia duduk diatas sofa Myungsoo. Kemudian, gadis itu meletakkan kakinya yang kiri diatas kakinya yang kanan. Dan, melipat kedua tangannya. Sebenarnya, Naeun tidak yakin apa ia bisa menjadi santai di hadapan Myungsoo. Ah, benar! Dia mencari seorang model!

“Aku ke sini untuk menganjurkan diriku menjadi seorang model.”

Myungsoo melebarkan kedua matanya. “Kau seorang model?”

“Tentu saja,” Naeun tersenyum kecil. “Ada yang salah?” Gadis itu memberikan tatapan tajam ke arah Myungsoo.

Karena takut, akhirnya Myungsoo menggelengkan kepalanya. “Tidak, hanya saja. Aku bingung bagaimana caranya kau berada di dalam kamarku?”

“Apa yang harus kulakukan agar aku diterima menjadi modelmu?” Naeun mencoba mengalihkan pembicaraan Myungsoo. Ia tidak tahu harus menjawab apa jika Myungsoo bertanya seperti itu padanya.

Akhirnya, Myungsoo melangkah menuju meja kerjanya dan mengambil sebuah formulir. Kemudian ia memberikannya ke arah Naeun. “Isi saja itu. Kalau bisa, secepatnya.”

Naeun tersenyum lebar kemudian ia menganggukkan kepalanya. “Apa kau baru pulang?”

“Begitulah. Aku harus mandi. Kau, jangan sentuh apapun yang ada disini. Atau mencuri.”

“Kau pikir aku pencuri?”

“Tidak, hanya saja. Aku heran padamu.”

“Kalau begitu, aku tidak jadi–.”

Cepat-cepat Myungsoo menahan tangan Naeun ketika Naeun hendak berdiri meninggalkan ruangannya. Naeun menatap pergelangan tangannya yang hampir merah karena Myungsoo terlalu kuat menahannya. Myungsoo juga ikut menatap ke arah Naeun yang tampak kesal tangannya digenggam. Akhirnya, Myungsoo melepaskan tangannya.

“Maafkan aku. Formulirnya–Oh ya, formulirnya tidak usah diisi. Aku anggap, kau sudah diterima. Jadi, isi saja yang halaman belakang. Tentang informasimu.”

Naeun menganggukkan kepalanya. Kemudian, Myungsoo melangkah menuju kamar mandi, meninggalkan gadis itu sendirian. Namun, gadis itu hanya diam sambil menatap formulir yang harus diisinya.

Hei, Son Naeun! Isilah formulirnya. Toh, dia hanya menanyakan nama, umur, dan nomor ponselmu. Yang lainnya kau bisa isi bukan?

Naeun yakin itu adalah suara Namjoo yang berada di ‘Screvisible’ yang sudah dibuatnya menjadi invisible, sehingga Myungsoo atau orang lain tidak dapat melihat layar itu. Dan, tentu saja Naeun dapat melihat layar invisible itu.

“Oke. Umur?”

Isi saja 22 tahun! Dan nama panggilanmu, isi saja Caroline.”

“Apa kau gila!?”

Myungsoo menghentikan shower-nya dan membuka sedikit pintu kamar mandinya. “Son Naeun? Kau berbicara dengan siapa?” tanya laki-laki itu bingung.

“Ti–Tidak! Aku hanya berlatih untuk menjadi seorang aktris. Lanjutkan saja!”

“Oh, baiklah.”

Setelah berkata seperti itu, Myungsoo hanya mengangkat bahunya dan masuk kembali ke dalam kamar mandinya dan melanjutkan aktifitasnya. Dan, Naeun sendiri melanjutkan kegiatannya untuk mengisi formulir. Dengan mudah, ia mengisi formulir itu. Tentu, karena Namjoo sudah menyesuaikan program-program-nya.

Hei, setelah ini kau harus membeli ponsel dan kita harus berteleportasi dengan cepat. Atau setidaknya kita biarkan waktu Myungsoo berjalan selambat-lambatnya jadi kita kembali dengan ponsel sudah di tanganmu.

Naeun hanya bisa mendengus kecil, jika mereka gagal maka Myungsoo akan tahu segalanya. “Kau memang cukup gila. Oke, aku mau.”

Bersiaplah. Ini akan menjadi perjalanan yang sangat cepat.

Naeun menganggukkan kepalanya. Dan dalam beberapa detik, ia sudah sampai di tengah kota Seoul alias di dalam kamar mandi sebuah gedung.

“Kenapa kamar mandi?!” ujar Naeun sambil berbisik.

Daripada kau muncul tiba-tiba di tengah toko ponsel. Nah, ini kamar mandi salah satu Mall. Jadi kau tinggal keluar dan menuju toko ponsel. Aku sudah mem-program dirimu. Jadi, kalau kau mau bicara denganku, cukup pikirkan saja. Nanti, aku balas lewat pikiranmu juga. Setidaknya, dengan seperti ini kau tidak dianggap gila karena berbicara sendiri.

Naeun hanya bisa menghela nafas dan menyisir rambutnya dengan jari-jari tangannya. “Baiklah, aku setuju dengan pendapatmu,” ujar Naeun dalam pikirannya sambil membuka pintu bilik toilet. Dengan santai ia berjalan keluar dan menghindari sikap berlebihan.

Dia membenarkan gulungan kemejanya lalu berjalan segera menuju ke arah sebuah toko ponsel. Tanpa ia sadari di lengannya sudah ada sebuah tas tangan kecil yang diberikan Namjoo entah melalu Screvisible nya mungkin.

Gunakan kartu kredit yang ada di dalam dompetmu itu. Aku sudah mengatur segalanya.

“Baiklah, aku sudah mengerti. Jadi nanti aku tinggal bayar ke bank kan setiap bulannya?”

Baguslah, kau memang cepat mengerti. Kau adalah Robolars terbaik yang pernah ada.

“Terimakasih,” kata Naeun dalam pikirannya lalu berjalan masuk. Namun, dengan cepat seorang satpam menahannya.

Naeun menatap satpam itu heran. “Maaf, anda harus mengambil nomor antrean, Nona.”

Katakan padanya bahwa kau hanya ingin membeli ponsel. Bukan untuk pengaduan.”

Naeun tersenyum kemudian ia menatap satpam itu. “Aku hanya ingin membeli ponsel bukan untuk pengaduan ponsel-ku.”

Dengan cepat laki-laki itu menunduk kemudian ia mengangkat kepalanya. “Oh, maaf. Silahkan, menuju ke arah sana. Disana Nona bisa berbicara dengan Nona Hong,” katanya sambil menunjuk seorang gadis muda dengan rambut sebahu yang tengah sibuk dengan ponselnya menunggu pelanggan.

“Baiklah, terimakasih.”

Naeun segera berjalan ke arah sana dan duduk didepan gadis yang bernama Hong Yookyung itu – papan namanya. Gadis itu segera menyimpan ponselnya kemudian ia menatap Naeun dan tersenyum. “Oh, apakah Nona ingin membeli ponsel?”

“Tentu. Aku akan langsung beli ponsel merk terbaru disini,”

Gadis itu menganggukkan kepalanya kemudian ia mengeluarkan sebuah kotak ponsel yang masih dibungkus plastik. “Nah, ini yang paling baru. Samsung Galaxy Note 3.”

“Oke, aku akan ambil itu,” kata Naeun lalu membuka tasnya dan mengambil dompetnya. Kemudian ia mengeluarkan kartu kreditnya. “Ini dia,” Naeun memberikan kartu kreditnya pada Hong Yookyung.

Dengan cepat dan sambil tersenyum, Yookyung mengambil kartu tersebut dan berjalan menuju ke arah kasir. Tak lama kemudian, gadis itu kembali dengan sebuah kantung belanja dan juga kartu kredit milik Naeun.

Gadis itu memberikannya pada Naeun dan segera membungkuk. “Terimakasih sudah membeli. Silahkan datang kembali.”

Naeun tersenyum. Lalu, gadis itu melangkah keluar dan dengan cepat ia berjalan kembali menuju kamar mandi. Melihat keadaan kamar mandi yang hanya beberapa orang. Ia menatap cermin dan mencoba merapikan rambutnya. Menunggu orang-orang itu keluar.

Perempuan-perempuan itu melangkah keluar dan Naeun segera menjentikkan jarinya. Menghilang.

**

“Oh, apa kau sudah menyelesaikan formulirnya?” kata Myungsoo sambil melangkah keluar dari kamar mandinya menggunakan pakaian longgar dan celana panjang. Naeun hanya menganggukkan kepalanya.

Dia sudah mengisi seluruh formulirnya. Juga dengan nomor ponselnya. Mungkin, Namjoo sudah membelikannya nomor entah yang didapatnya darimana. “Yap, begitulah. Aku sudah menyelesaikannya dari tadi,” jawab Naeun berbohong padahal ia baru menyelesaikannya karena ia baru saja sampai dan segera mengisi nomor ponselnya.

“Baguslah, kalau begitu–,” Myungsoo terdiam kemudian menatap formulir gadis itu. Lalu meletakkannya. “Kau bisa pulang,” kata Myungsoo sambil tersenyum kemudian ia menunjuk pintu kamarnya.

Naeun hanya terdiam.

Aku bilang juga apa! Katakan saja sejujurnya padanya.

Naeun mendengus kecil. “Kalau dia tidak mengerti?!” ujar Naeun dalam pikirannya membalas perkataan Namjoo. Akhirnya, Naeun menatap lelaki itu dan berpikir sejenak.

“Ah, begini, Kim Myungsoo-ssi. Aku kabur dari rumahku dan… Kalau bisa, apakah kau bisa memberikanku tumpangan?”

“Eh?!” Myungsoo terkejut. Akhirnya laki-laki itu duduk di sofa yang berada di seberang Naeun. Kemudian, laki-laki itu meneliti wajah gadis itu. “Oke. Tapi, barang-barangmu?”

Naeun tersenyum kecil. “Tenang saja, aku sudah menyuruh supirku untuk membawakannya kesini. Jadi, kau tidak usah khawatir. Jadi?”

“Oh ya–Oh, jadi, kau bisa tinggal disini. Dan, kamar yang kosong satu-satunya hanya ada di seberang kamar ini,” kata Myungsoo sambil bangkit dari tempat duduknya. “Ayo, aku antar.”

Tanpa basa-basi, Naeun segera bangkit dan menganggukkan kepalanya. Lalu, mereka melangkah keluar dan Myungsoo segera menunjuk sebuah pintu kamar yang berada di hadapan mereka.

“Ini, jadi kuncinya ada di dalam. Kalau kau ada perlu? Kau bisa mengetuk pintu kamarku dan kalau aku tidak bangun artinya aku terlelap dalam tidurku. Jika, masalahnya sangat penting, kau bisa langsung menerobos masuk ke dalam kamarku. Aku tidak akan mengunci pintunya,” Myungsoo berhenti berbicara kemudian ia menarik nafas dalam dan menatap gadis itu. “Aku yakin, kau adalah orang baik. Jadi, aku harap kau tidak macam-macam. Aku hanya membutuhkan seorang model.”

Naeun menganggukkan kepalanya dan membuka pintu kamar itu. Lalu, ia menutupnya. Dan, membukanya lagi sebelum Myungsoo pergi. “Maaf, aku lupa mengucapkan terimakasih.” Myungsoo membalikkan tubuhnya dan menatap gadis yang berdiri di balik pintu. “Oh ya, apa aku bisa menjadi temanmu?”

“Eh?” Myungsoo tentu saja terkejut. Kemudian ia hanya menganggukkan kepalanya. “Tidak ada yang melarangmu untuk berteman denganku,” kata laki-laki itu. “Oh ya, besok akan aku perkenalkan kedua temanku.”

“Eung, baiklah. Terimakasih.”

**

Naeun segera naik ke atas tempat tidurnya setelah mengatur baju-bajunya. Tentu saja, dengan Screvisible, seluruh keperluannya langsung terpenuhi. Kecuali uang. Kini ia hanya memiliki 10 juta Won yang tersimpan di bank-nya. Entahlah, bagaimana caranya Namjoo mengubah uang tahun 2050 itu menjadi Won. Dan entah bagaimana caranya, Namjoo sudah menyimpan uangnya di bank. Yang artinya, kini Naeun sudah memiliki akun di sebuah bank.

“Jadi? Bagaimana kau melakukan itu semua?”

Em, sebenarnya aku hanya melakukannya dengan mudah. Aku me-manipulasi pikiran mereka. Jadi, aku bisa langsung membuatkanmu sebuah akun di bank. Dan, tentu saja dengan tanda tangan asli milikmu. Aku–Aku bisa menirunya.

“Eh? Ngomong-ngomong bagaimana kau me-manipulasi mereka? Kau muncul di hadapan mereka?”

Yap, begitulah. Tapi, aku hanya bisa melakukannya jika keadaan terpaksa. Seorang Faylars sebenarnya dilarang untuk menggunakan banyak sihir. Tapi aku terpaksa melakukannya untukmu dan seorang Robolars yang lain.”

Naeun hanya bisa tersenyum senang. Sebenarnya ia tidak mengerti kenapa Namjoo begitu ingin membantunya. “Kenapa kau ingin membantuku? Dan siapa Robolars yang lainnya?”

Eh? Sebenarnya, aku hanya ingin membutuhkan seorang teman. Selama ini, para Faylars menjauhiku. Dan, aku–aku adalah anak dari Kim Joomyeon.”

Naeun terkejut bukan main. Namun, akhirnya ia hanya bisa tersenyum kecil karena ternyata anak dari Kim Joonmyeon ini sangat baik hati padanya. “Lanjutkan,”

Ayah juga membenciku. Entahlah. Aku tidak mengerti. Robolars yang lainnya? Dia adalah Yoon Bomi. Suatu hari kau bisa bertemu dengannya.

Naeun tersenyum senang. “Terimakasih, Namjoo-a.”

Tapi, apa kau merindukan tahun 2050?”

“Aku tidak yakin. Tapi, cepat atau lambat aku harus kembali dan bekerja. Dan, yang pasti aku harus berubah menjadi seorang manusia. Aku tidak mau menjadi setengah Robolars. Aku takut–Aku takut mereka mencariku dan membunuhku.”

Menghancurkanmu,” kata Namjoo membenarkan.

Naeun mendengus kecil. “Sudahlah, aku ingin tidur. Dan kau harus memprogramku untuk menjadi seorang model.”

Baiklah. Lagipula memprogram-mu adalah pekerjaan yang mudah.”

“Terimakasih. Aku tidur duluan.”

**

“Jadi ini adalah Son Naeun.”

Woohyun dan Chorong segera menatap gadis itu dari atas sampai bawah. Naeun menatap kedua manusia itu ngeri. Bagaimana bisa kedua manusia itu menatapnya dengan detil.

Jangan tatap mereka seperti itu.

“Eh iya,” Naeun menjawab Namjoo melalui pikirannya. Kemudian, Naeun menyodorkan tangannya ke arah Chorong. Dengan cepat, Chorong menerima sodoran tangan Naeun.

“Park Chorong,” ujar Chorong mendahului perkataan Naeun. Naeun tersenyum kemudian mengayunkan tangannya. Kemudian, ia mengalihkan pandangannya ke arah laki-laki di samping Chorong, Nam Woohyun.

Nam Woohyun segera memberikannya sodoran tangan dan Naeun menerimanya dengan senyuman khasnya. “Nam Woohyun. Senang berkenalan denganmu,” kata Woohyun.

“Jadi, kita akan makan apa?” tanya Chorong setelah beberapa detik keheningan diantara mereka berempat. Mungkin karena masih canggung.

Myungsoo memetikkan jarinya. “Oh, aku harus membeli beberapa minuman. Jadi, Naeun-ssi? Bisakah kau–Eh–.”

“Menemanimu?” tanya Naeun membenarkan.

Myungsoo hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian, dengan cepat ia keluar dari rumahnya dan menuju ke arah garasinya. Tanpa ini dan itu, ia langsung masuk ke dalam mobilnya dan mengeluarkan mobil itu segera. Naeun hanya menunggu dari dekat pinggir jalan.

Setelahnya, Naeun masuk ke dalam. “Pakai sabuk pengaman,” kata Myungsoo kepadanya.

“Eh, untuk apa? Bukankah tokonya dekat?”

“Untuk jaga-jaga saja, Naeun-ssi.”

Naeun mengerutkan dahinya. Dan membuka mulutnya. “Jadi, kau maksud kita akan kecelakaan?!”

“Eh, tidak begitu. Tapi, yasudahlah kalau kau tidak mau.”

Akhirnya, Naeun hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Sebenarnya, dia cukup tersentil karena perkataan Myungsoo. Juga, Myungsoo hanya diam saja sejak perbincangan mereka tadi. Namun, Naeun memberanikan dirinya.

“Chorong dan Woohyun sunbaenim–Mereka bekerja dimana?” tanya Naeun akhirnya. Boleh dibilang, Naeun penasaran dengan kedua orang yang tampak seperti sepasang kekasih itu.

Myungsoo menghentikan mobilnya di depan mart tersebut. Kemudian melepaskan sabuk pengamannya. Dan, menatap Naeun. “Kau tidak mau turun?”

“Eh, iya. Tapi, aku menunggu jawabanmu.”

Bukannya menjawab, Myungsoo justru keluar dari mobilnya dan membukakan pintu untuk Naeun. Naeun menatapnya heran namun, akhirnya ia keluar dari sana dan berdiri di samping Myungsoo.

“Jadi, Chorong adalah seorang model dan Woohyun adalah seorang CEO di perusahaannya.”

“Apa?! Berarti Woohyun sunbaenim sangat kaya?”

Myungsoo menganggukkan kepalanya sambil mengambil sebuah keranjang belanja dan memberikannya pada Naeun. Cepat-cepat, Naeun mengambil keranjang itu. Kemudian, mengikuti Myungsoo dari belakang.

“Jadi, kita akan beli apa saja?” tanya Naeun penasaran. Maklum, dia belum pernah belanja di tahun 2014. Dia pernah belanja, tapi di tahun 2040. Dimana dia bisa membelinya darimana saja tanpa perlu ke tokonya.

Myungsoo memperhatikan rak botol-botol anggur dan cocktail. “Apa kau minum bir? Atau anggur?”

“Eh? Tentu saja tidak! Aku harus menjaga tubuhku,” jawab Naeun cepat.

Kemudian, Myungsoo hanya mengangguk-anggukkan kepalanya dan memperhatikan ke arah botol anggur paling mahal. Lalu ia mengambilnya dan memberikannya pada Naeun. Dengan cepat, Naeun menerimanya dan memasukkannya ke dalam keranjang belanja.

“Jadi, kau punya uang yang cukup banyak untuk membeli barang ini?”

Myungsoo hanya menggelengkan kepalanya sambil meneliti kembali botol-botol minuman bir itu. Botol-botol itu tampak disusun rapi sedemikian rupa agar menarik perhatian orang. “Tentu saja Woohyun yang membayarnya,” kata Myungsoo sambil mengambil sebuah botol lagi.

“Oh, baguslah. Kukira kau juga ikut minum anggur.”

“Tentu saja aku minum, sedikit. 1 tenggak cukup untukku.”

Naeun hanya bisa memutar bola matanya. Kemudian Myungsoo berjalan menuju kasir dan dari belakang Naeun mengikutinya seperti anak ayam bersama induknya, dan takut kehilangan induknya.

**

“Hei, Naeun-ssi, aku ingin bertanya sesuatu padamu,” kata Myungsoo pada suatu malam ketika mereka sedang makan malam. Hanya berdua. Woohyun yang mabuk anggur sudah pulang diantar oleh Chorong yang ikut heboh.

Naeun mengunyah dagingnya dan menatap Myungsoo. “Hm? Ada apa?” Kemudian Naeun mengambil lagi sebuah daging asap dan menaruhnya diatas piringnya. Gadisi itu memutar daging itu diatas saus barbeque.

“Apa kau datang dari masa depan?”

Mendengar pertanyaan itu, Naeun langsung diam dan berhenti memainkan dagingnya. Gadis itu menatap Myungsoo lekat-lekat. Bagaimana bisa dia menebak aku dari masa depan?

“Tentu saja tidak. Kau ini bicara apa sih? Aku adalah aku. Aku hanya kabur dari rumahku dan aku tidak tahu bagaimana bisa menemukan rumahmu, seorang laki-laki yang tengah mencari model.”

Myungsoo hanya menganggukkan kepalanya dan mengangkat bahunya. Lalu, ia melanjutkan makan malamnya.

“Ada apa? Kau punya masalah?” tanya Naeun. Myungsoo menggelengkan kepalanya kemudian ia memasukkan sebuah sayur ke dalam mulutnya.

“Hanya saja, aku pernah bermimpi sesuatu tentangmu.”

“Eh?”

“Lupa–Lupakan saja.”

Naeun menganggukkan kepalanya. Kemudian ia menyelesaikan makanannya dan bangkit dari tempat duduknya. “Tinggalkan saja disitu, biarkan aku yang mencucinya. Kau–Kau tidur saja.”

“Baiklah.”

Setelah Myungsoo pergi, barulah Naeun menghela nafas panjang sambil menatap piring-piring kotor yang berada di wastafel itu. Kemudian ia menyenderkan dirinya ke arah kulkas dapur.

“Benarkah dia memimpikanku?”

Aku rasa benar. Karena dia ternyata mimpi tentangmu dan kau berkata kalau kau berasal dari masa depan alias tahun 2050. Di mimpinya, kau dan Myungsoo adalah sepasang kekasih dan kalian–Kalian terpisahkan oleh kekuatan yang besar dan datang dari tahun 2050.

Naeun hanya bisa diam mendengar perkataan Namjoo. Karena itulah, Namjoo pun muncul di hadapan Naeun. Lalu, gadis berambut pendek itu menepuk pundak Naeun. Akhirnya, Naeun tersadar dari lamunannya.

“Oh, hai, Namjoo-a.”

“Apa kau tidak apa-apa?” tanya Namjoo lalu membalikkan  tubuhnya dan menatap piring-piring kotor itu. Ia menggerakkan tangannya dan dalam sepersekian detik, piring-piring itu sudah bersih dan sudah tertata rapi disana.

“Aku–Aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi aku takut jika benar-benar ada yang datang dari tahun 2050. Aku adalah tahanan yang kabur.”

Namjoo membalikkan tubuhnya dan menatap Naeun tajam. “Kau bukan KABUR! Oke? Kau hanyalah Robolars yang berusaha untuk melarikan diri. Jadi kuharap kau tidak menyesali hal itu.”

“Aku benar-benar tidak mengerti,” kata Naeun lalu mengangkat kepalanya dan menatap Namjoo. “Kenapa ayahmu ingin menghancurkan setengah Robolars? Apa mereka berbahaya?”

Namjoo terdiam. Kemudian ia menatap Naeun dengan rasa iba. “Kau berbeda, Son Naeun.”

“A–Apa maksudmu?”

Nafas panjang dikeluarkan oleh Namjoo. Akhirnya gadis itu mendeham kecil dan berjalan bolak-balik di depan Naeun sambil menggosok-gosok hidungnya – tanda bahwa ia sedang bingung.

“Bagaimana aku mengatakannya padamu, ya?” tanya Namjoo sambil sesekali melirik ke arah Naeun yang diam berdiri membelakangi kulkas. “Aku takut, kau terlalu muda untuk mendengarnya.”

“Ceritakan saja yang sebenarnya!” tukas Naeun akhirnya. Ia tidak sabar mendengar jawaban dari Namjoo. Dia tidak suka mendengarnya namun, ia tidak tahu ia harus apa lagi jika ia tidak mendengarkan cerita sebenarnya.

Namjoo berhenti kemudian ia berdiri di depan Naeun. “Kau punya kemungkinan untuk menghancurkan dunia. Juga dengan Yoon Bomi.”

“Eh?” Naeun menatap Namjooo bingung. “Aku tidak mengerti.”

“Intinya adalah seorang robot yang hanya bisa berubah setengah tidak seharusnya ada. Mereka adalah penghancur dunia di masa depan. Jika kau kehilangan sesuatu yang berharga maka kau akan kehilangan kendalimu dan kau berubah menjadi sebuah robot yang bisa menghancurkan dunia. Begitulah.”

“Apa kau gila? Aku bahkan tidak tahu bagaimana mengubah diriku menjadi robot super besar yang akan menghancurkan dunia.”

Namjoo menggelengkan kepalanya. “Kau akan berubah dengan sendirinya jika kau sangat marah tau kemarahanmu kehilangan kendali.”

“Tidak mungkin!”

“Mungkin saja, Son Naeun! Aku tahu karena ayahku adalah Kim Joonmyeon!” seru Namjoo sambil menatap Naeun dengan berkaca-kaca.

Akhirnya Naeun terjatuh disana dan menatap kaki Namjoo kosong. Dia tidak tahu harus bagaimana. Tapi, Namjoo benar. Tentu saja, Namjooo tahu karena ayahnya alias Kim Joonmyeon-lah yang menciptakan dirinya. Pastilah, Kim Joonmyeon tahu bagaimana berbahayanya seorang setengah Robolars.

Namjoo akhirnya mendekati Naeun dan ikut berjongkok di hadapan Naeun. Gadis itu menyentuh bahu Naeun dan menepuknya berkali-kali.

“Karena itu, kau harus mencari cara agar bagaimana kau bisa mengendalikan amarahmu.”

Rasanya sangat berat untuk berkata ‘iya’ pada Namjoo setelah mendengar apa kemungkinan terbesarnya – Menghancurkan dunia. “Aku rasa, sepertinya kau harus mencari Demontel-mu yang hilang,” kata Namjoo akhirnya. “Kau bisa kembali ke tahun 2050 dan kau akan dihancurkan.”

“Aku? Dihancurkan?” tanya Naeun. Gadis itu berpikir panjang dan menatap Namjoo. “Baiklah, memang seharusnya aku dihancurkan. Sebaiknya aku segera mencari Demontel itu dan tidak berlama-lama disini.”

“Eh, Naeun. Kurasa Demontel-mu hilang saat kau tengah melakukan teleportasi. Apa kau benar-benar lupa menaruhnya dimana?” tanya Namjoo.

Naeun mengangkat bahunya. “Seingatku, aku menaruhnya tepat di genggaman tanganku dan tak pernah terlepas.”

“Aku rasa, aku bisa membuatnya lagi. Tapi, membutuhkan waktu yang lama. Karena Demontel adalah alat yang paling rumit.”

Naeun hanya bisa menganggukkan kepalanya pelan dan melangkah keluar dari dapur dengan kepala tertunduk. Namun, kakinya langsung berhenti ketika ia melihat sebuah sandal putih berbulu yang menghalangi jalannya.

Akhirnya, ia mengangkat kepalanya dan melihat wajah Myungsoo yang tampak lebih dingin dari biasanya.

“Myungsoo?”

**

“Aku minta maaf.”

Hanya kata-kata itu lah yang bisa keluar dari mulut seorang Son Naeun setelah ia menceritakan segalanya dari bagaimana ia tiba di kamar Myungsoo dengan tiba-tiba dan membuat laki-laki itu sedikit heran. Ia tidak tahu harus berkata apa selain minta maaf pada Myungsoo. Myungsoo yang daritadi diam menatapnya entah marah atau diam tidak tahu berkata apa.

“Tidak apa-apa,” kata laki-laki itu akhirnya. “Aku sudah mendengar semuanya darimu. Jadi kau benar-benar berasal dari tahun 2050?” tanya Myungsoo sambil berdiri dari kursinya. Kemudian laki-laki itu menatap langit malam.

Naeun membuka mulutnya. “I–Iya. Aku benar-benar dari tahun 2050.”

“Apa yang kau lakukan disana? Apa pekerjaanmu?”

“Aku hanyalah seorang robot yang membantu para peri untuk membawakan barang-barang mereka dari tengah-tengah dunia dan membawakannya pada mereka yang rata-rata berada di pinggir dunia bagian untuk menjaga perbatasan.”

Myungsoo membalikkan tubuhnya. “Kau? Robot? Tidak mungkin.”

“Aku setengah robot.”

“Oh, pantas. Jadi, apa yang kau bisa buktikan padaku bahwa kau benar-benar dari tahun 2050?”

“Eung… Aku bisa mengubah barang-barangmu menjadi barang-barang moderen dan mempermudah pekerjaanmu. Juga, kameramu kalau boleh.”

Gadis itu menunjuk kamera Myungsoo yang tertata rapi diatas meja kerja Myungsoo. Namun, akhirnya ia menyerah dan menunjuk sebuah bunga mawar merah palsu. “Aku bisa mengubah itu menjadi bunga asli.”

“Itu bukan mengubah barang menjadi moderen, bodoh.”

“Eh, baiklah. Kalau begitu, katakan saja, apa yang ingin kau ubah menjadi moderen?” tanya Naeun akhirnya menyerah.

Dia sebenarnya tidak tahan diperlakukan dingin oleh seorang Kim Myungsoo. Ia kira Myungsoo akan berlaku baik padanya setelah mengetahui bahwa ia hanyalah setengah robot alias manusia tidak sempurna. Dia hanya menginginkan seorang teman. Teman.

Myungsoo berpikir sejenak kemudian ia menatap seluruh kamarnya. “Kalau begitu ubah saja seluruh kamar ini menjadi kamar moderen.”

“Eh? Kameramu?”

“Jangan. Aku tidak mau kau mengubahnya menjadi pesawat jet terbang. Aku mencintai kameraku.”

“Eung. Baiklah.”

Naeun menampilkan Screvisible-nya. Dan sekarang, layar transparan itu dapat dilihat Myungsoo. Myungsoo sedikit terkejut ketika melihat layar transparan itu terbang di depan wajah Naeun. Lalu, gadis itu menekan-nekan layar transparan itu. Entah, dia sedang apa, yang pasti dia sedang merancang kamar moderen tanpa mengubah tata letak kamar Myungsoo.

Dan, akhirnya ia menekan sebuah tombol hijau.

Aktivasikan kamar moderen milik Kim Myungsoo?” tanya Screvisible itu. Naeun tersenyum kemudian ia menekan tombol ‘Yes’ yang ada disana.

Dan, dalam sekian detik kamar itu berubah. Kini, jendela kamar Myungsoo yang sebelumnya bisa melihat seluruh keadaan kota Seoul berubah menjadi jendela yang bisa menampilkan gambar laut. Ia merasa benar-benar tinggal di dasar laut.

“Oh, kalau kau ingin menggantinya. Kau bisa menekan tombol itu,” kata Naeun sambil menunjuk sebuah tombol di dekat tempat tidur Myungsoo. “Kau bisa mengubah latar gambar jendelanya. Dan, tentu saja orang di luar sana menganggap bahwa jendela kamarmu masih normal-normal saja.”

“Kau? Benar-benar bisa mengubahnya dalam waktu sekian detik?”

Naeun menganggukkan kepalanya. “Kau menganggap bahwa aku bercanda? Tentu saja aku bisa mengubahnya dengan mudah. Tanpa hambatan. Dan, kalau kau ingin belanja, kau bisa membelinya disini.” Naeun menunjuk layar Screvisible-nya. “Kau bisa membayarnya lewat kartu kreditmu.”

“Kau serius?”

“Tentu saja aku serius,” kata Naeun sambil menatap Myungsoo datar. Kemudian, gadis itu melangkah pergi meninggalkan Myungsoo. Namun, cepat-cepat Myungsoo menarik tangan gadis itu.

Naeun membalikkan tubuhnya. “Ada apa?”

“Jangan pergi.”

“Apa maksudmu?”

“Sebenarnya, aku selalu meminta Chorong untuk menemaniku setiap tanggal ini,” kata Myungsoo kemudian melepaskan tangan Naeun. Lalu, laki-laki itu menatap gadis itu. “Hari ini adalah hari kematian kedua orang tuaku. Dan aku selalu tidak bisa tidur di tanggal ini. Jadi–.”

“Aku pikir kau marah denganku.”

Myungsoo menggelengkan kepalanya kemudian laki-laki itu tersenyum kecil. “Aku hanya tidak terbiasa berteman dengan seorang gadis kecuali Chorong.”

“Eung. Baiklah. Aku tidak keberatan. Aku akan menemanimu sampai kau tertidur, setelah itu aku akan kembali ke kamarku.”

“Terimakasih.”

Laki-laki itu mendekati Naeun, namun cepat-cepat Naeun mundur. Namun, Myungsoo hanya menepuk kepalanya pelan dan mengacak rambutnya. “Aku hanya ingin menepuk kepalamu. Kau pikir aku akan mencium-mu?”

Wajah Naeun langsung merona. “Apa? Tidak mungkin. Tentu saja aku hanya takut kau akan berbuat sesuatu padaku. Kau adalah laki-laki dan aku perempuan. Jadi wajar saja jika aku takut padamu.”

“Kau hanya setengah robot, Son Naeun.”

“Eung. Maaf, aku lupa.”

Myungsoo tersenyum kecil kemudian melangkah menuju tempat tidurnya dan berselimut dibaliknya. Kemudian laki-laki itu menatap Naeun bingung. “Kenapa? Kau tidak mau menemaniku?” tanya Myungsoo. Cepat-cepat gadis itu menggelengkan kepalanya. “Kau bisa duduk disini,” Myungsoo menunjuk sebuah kursi yang berada di dekat tempat tidurnya.

Kemudian, gadis itu menatap kursi empuk itu. Akhirnya, ia berjalan ke arah sana dan duduk diatasnya. “Jadi? Kau tidak pernah mengenal gadis?”

“Eh, tentu saja pernah tapi bukan sebagai temanku. Chorong adalah satu-satunya gadis yang kukenal. Sejak kecil, ayahku menyekolahkanku di rumah. Sampai aku lulus SMA. Dan, akhirnya aku kuliah. Tanpa seorang teman dan aku bertemu Woohyun. Chorong yang sudah menjadi sahabatku sejak kecil, juga berteman dengan Woohyun. Kami kuliah di universitas yang sama namun aku dan Woohyun berbeda. Sedangkan aku dan Chorong sama.

Dan, akhirnya aku berkenalan dengan seorang gadis yang juga satu jurusan denganku. Kami berpacaran dan putus. Dia tidak mau berpacaran dengan seorang laki-laki aneh sepertiku. Namanya, Bae Suzy.”

“Nama yang bagus,” ujar Naeun sambil tersenyum. Myungsoo hanya tertawa kecil melihat Naeun tersenyum. “Apa yang lucu?”

“Entahlah. Kalau kau?”

“Maksudmu? Aku yang bercerita?” tanya Naeun.

“Tentu saja. Kenapa tidak?”

Naeun mengangkat bahunya. “Aku tidak punya cerita. Tahun 2050 hanyalah tahun-tahun yang bosan bagiku. Tapi, sejak aku berada di tahun 2014, aku bisa hidup dengan berbagai aktifitas. Disini, aku bisa pergi dengan damai tanpa ada Lee Sungyeol. Lee Sungyeol adalah ketua dari Robolars. Dia selalu menyuruhku untuk menyelesaikan pekerjaanku dulu setelah itu aku baru bisa pulang ke rumah. Terakhir kali dia hampir mengirimku pada Kim Joonmyeon untuk dihancurkan. Seperti yang kau ketahui, aku ditakdirkan untuk tidak ada di dunia ini.”

Gadis itu berhenti kemudian menatap laki-laki yang sudah tertidur itu. Kemudian, ia tersenyum. Namun, ketika ia hendak bangkit, ia baru menyadari bahwa Myungsoo menggenggam erat tangannya.

“Aish, bagaimana bisa aku tidur jika dia menggenggam erat tanganku?”

Akhirnya Naeun memutuskan untuk tidur diatas kursi empuk itu dan mematikan seluruh lampu kamar lalu menyisakan lampu meja yang berada di samping tempat tidur Myungsoo.

Tanpa disangka, Myungsoo terbangun dan menatap gadis yang sudah tertidur nyenyak di kursi itu. Kemudian, laki-laki itu melepaskan tanganya dan menggendong Naeun dan meletakkan gadis itu diatas tempat tidurnya. Kemudian, laki-laki itu tidur disampingnya dan menatap gadis itu sambil merapikan rambut gadis itu.

“Gadis aneh. Selamat tidur.”

**

 

13 thoughts on “[Chapter 2] 2050

  1. Wah !keren banget !!!!!!lanjutin thor.aku tahu ini trlalu awal untk aku bicara tpi aku harap happy ending nya..fighting gak untuk pljarannya thor..MYUNGEUN !!

  2. huaaaaa Lanjut Thor .!!!!!!
    Ceritanya Makin Seru >_< .
    FFnya selalu Saya Tunggu …..
    Faighting Buat FFnya Thor ^_^

  3. Ini kereeenn thor sumpah…
    Dapet inspirasi dari mana sih author bisa buat ff keren gini??
    Kira2 ceritanya ampe part berapa ya thor??
    Kalo bisa gak usah banyak2 tapi tiap part ceritanya dibuat lebih panjang #halah reader banyak kompain ^_^v
    Oke deh good luck for your exam ya thor
    Keep writing!! ^_^)9

  4. Inii ciuss critaanya beda drii yg lainn,, ~ㅋㅋㅋㅋ mian bru comen d part inii,, soalnya bruu ne akuu trsesat dan akhirnya mmpir dsnii, hahaha taraaaa.. Okeesiipp.. Lnjut yah thor, aws ajaah klo ga rampung² nnti jdii rempong /? Peluk kris /eehh,, fighting thoorr (ง’̀⌣’́)ง truslah brkarya :3

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s