[FF Freelance] A Late Regret (Chapter 6)

coveralr

Title : A Late regret (Chapter 6)

Author : DkJung (@diani3007)

Main casts :

  • [Infinite] Kim Myungsoo
  • [A Pink] Son Naeun
  • [Miss A] Bae Sooji
  • [BTS] Kim Seokjin

Genre : Romance, School life, Angst

Rated : Teen

Length : Chaptered

Previous :  Chapter 1Chapter 2Chapter 3Chapter 4, Chapter 5,

Disclaimer : ff ini ngga terinspirasi dari manapun. Idenya muncul tiba-tiba. Masalah endingnya MyungZy/MyungEun? Still secret! >.< pokoknya ngga bakal ketebak! /sok misterius/ oh iya, untuk ‘Bloody School’ maaf belum update sampe sekarang, karena kena writer’s block… tapi pasti aku lanjutin kalo udah ada ide!

Summary :

Penyesalan. Ya, penyesalan memang selalu datang di akhir. Jika penyesalan itu belum datang, kau tidak akan pernah berhenti dan menyadarinya, sampai ada pihak yang terluka atau bahkan pergi meninggalkanmku.

 

~Chapter 6~

“Aku harap kau tidak keberatan, Sooji-ya. Aku tidak bermaksud mengorbankanmu. Aku hanya ingin kau menolong Naeun,” ucap Seokjin.

Sooji hanya bisa merenung. Jika seseorang bertanya padanya apakah ia masih mencintai Myungsoo atau tidak, ia pasti akan menjawab dengan mudah, tidak. Tapi di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia masih menyimpan rasa itu, dan mungkin tidak akan pernah hilang.

“Beri aku waktu untuk berpikir.”

Seokjin mengangguk. Ia bisa memakluminya. ia baru saja berniat untuk pergi ketika teringat sesuatu untuk ditanyakan pada Sooji. “Apa Myungsoo benar-benar mencintaimu?”

~***~

“Apa kau benar-benar mencintaiku?” Tanya Naeun untuk yang kesekian kalinya. Lama-kelamaan ia bisa jenuh karena Myungsoo terus saja diam.

“Jawab aku, Myungsoo-ya!”

“Kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu?”

“Aku, aku hanya ingin kau berada di sisiku sampai aku mati.”

“Apa maksudmu?”

“Jawab saja–”

“Aku tidak akan meninggalkanmu,” jawab Myungsoo spontan.

Jinjja?”

Myungsoo menatap Naeun lekat lalu mengangguk mantap.

Yakseok?” Tanya Naeun sambil mengulurkan jari kelingkingnya, meminta Myungsoo untuk menautkannya dengan jari kelingkingnya.

Yakseok.”

~***~

“Apa Myungsoo benar-benar mencintaimu?”

Sooji menatap Seokjin tajam. Entah mengapa ia merasa tersinggung dengan pertanyaan itu. Tentu saja ia sangat pesimis jika ditanya Myungsoo mencintainya atau tidak. Apalagi setelah melihat kedekatan Myungsoo dengan Naeun.

“Apa kau perlu tahu?” balas Sooji.

“Apa kau tidak yakin?”

Mwo?”

“Apa kau tidak yakin Myungsoo benar-benar mencintaimu?”

Sooji kebungungan bagaimana ia harus menjawab Seokjin. Sooji mengerutkan dahi, terlihat memikirkan jawaban apa yang akan ia berikan pada Seokjin. Hingga tiba-tiba, dering ponsel menyelamatkannya.

Yeoboseyo? Ne, Eomma…

Sooji pun berlari kecil menjauhi Seokjin untuk menjawab telepon. Sementara Seokjin hanya tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya pelan.

“Sepertinya Myungsoo memang mencintaimu. Kau, yeoja yang menarik.”

~***~

Myungsoo tidak melepaskan genggaman tangannya dari tangan Naeun. Sesekali ia melirik ke arah wajah Naeun yang terlihat lebih ceria, selama perjalanan pulang dengannya. Myungsoo memang sengaja ingin mengantar Naeun pulang bersamanya. Entah mengapa, ia ingin menepati janjinya, ia tidak akan pernah meninggalkan Naeun.

“Sudah sampai, masuklah,” ujar Myungsoo.

Naeun tersenyum. Ia lalu melepaskan genggaman Myungsoo di tangannya. “Gomawo, sudah mengantarku pulang.”

Keurae. Masuklah, ini sudah sore.”

Arra, aku akan masuk. Annyeong.”

Naeun pun memasuki rumahnya dengan hati yang berbunga-bunga. Setelah melihat perlakuan Myungsoo hari ini, ia yakin hubungannya dengan Myungsoo bukanlah hanya sekedar sahabat. Ia baru akan memasuki kamar begitu kaget melihat tetesan darah di lantai rumahnya. Ia baru sadar, ia merasakan cairan hangat melintas keluar dari hidungnya.

“Naeun-ah? Kau sudah pulang?” seru Nyonya Son.

Begitu mendengar suara ibunya, Naeun langsung berlari memasuki kamarnya sambil terus menyumbat lubang hidungnya dengan tangannya sendiri.

Sesampainya di kamar, Naeun segera ke kamar mandi lalu mencuci darah yang sedikit mengotori seragamnya juga mengelap hidungnya. Ia terdiam sambil menatap cermin wastafel. Matanya berair sebelum akhirnya air yang menggenangi matanya itu akhirnya jatuh juga.

“Ya Tuhan, kenapa darah ini tidak berhenti keluar?” gumam Naeun, di sela-sela tangisannya.

~***~

Seokjin tersenyum sambil berdiri di balik tembok di ujung jalan. Diperhatikannya Naeun yang begitu bahagia diantar pulang oleh Myungsoo. Jauh, jauh lebih bahagia daripada diantar olehnya.

“Kau mengikutiku, ya?”

Seokjin menoleh. “Sooji?”

“Kenapa kau selalu mengikutiku? Kenapa kau selalu tahu dimanapun aku berada?”

Seokjin tersenyum melihat tingkah Sooji yang begitu percaya diri. Dia, gadis yang lucu.

“Kenapa kau begitu yakin aku mengikutimu?” tanya Seokjin. Sooji mengerutkan alisnya.

Tanpa mempersilakan Sooji membalas perkataannya, Seokjin sudah pergi lebih dulu dengan senyuman yang sulit dilunturkan dari wajahnya. Sementara Sooji hanya memasang wajah bingung.

Namja aneh. Apa maksud perkataannya itu?”

Sooji memilih untuk tidak menghiraukan Seokjin dan kembali melanjutkan kegiatannya, memperhatikan Myungsoo.

~***~

Bel masuk yang berbunyi cukup keras itu membuat Naeun dan Myungsoo harus menghentikan pembicaraan mereka. Mereka pun saling melempar senyum sebelum Myungsoo kembali ke bangkunya. Tak lama setelahnya, guru Kim masuk dengan senyuman manis khasnya. Para murid pun bangkit dari duduknya untuk memberi salam.

“Minggu depan, kalian akan melaksanakan ujian akhir kenaikan kelas, kan? Sonsaengnim harap, kalian bisa belajar dengan tekun, terutama di mata pelajaran saya ini.”

~***~

Sooji menatap sekeliling. Kelasnya kosong. Bel istirahat baru saja berbunyi dan kurang dari satu menit, kelasnya sudah kosong. Jujur, Sooji lebih suka suasana tenang seperti sekarang ini. Lagipula, ia tidak terlalu akrab dengan teman sekelasnya, apalagi sampai mempunyai sahabat. Beberapa lama kemudian, Seokjin memasuki kelas.

“Sudah lihat mading?” tanyanya. Sooji hanya menggeleng.

“Lebih baik kau lihat sekarang, mumpung sedang sepi. Pengumumannya baru ditempel tadi, jadi belum banyak siswa yang melihat.”

“Memangnya penting sekali sampai aku harus melihatnya?”

Seokjin hanya mengangkat bahunya. Namun, sikap Seokjin membuat Sooji penasaran. Ia pun akhirnya memutuskan untuk keluar kelas menuju papan mading yang berada di koridor utama sekolah. Sesampainya di sana, Sooji menegang. Ia terlihat begitu terkejut saat melihat dua orang yang sedang membaca pengumuman itu. Sooji mngepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih, ia menggigit bibir bawahnya, berusaha meredam emosinya.

Karena tak kuat lagi disuguhi pemandangan seperti itu, Sooji pun berlari kencang kembali ke kelas. Sesampainya di kelas, ditatapnya Seokjin penuh kesal. Sementara Seokjin yang tadinya tersenyum cerah kini mulai mehilangkan senyumannya.

Wae?” tanya Seokjin.

“Apa maksudmu?”

“Maksudku? Maksudku apa?” Seokjin tidak mengerti.

“Kau sengaja menyuruhku melihat mading, huh? Atau mungkin lebih tepatnya menyuruhku untuk melihat sepasang kekasih yang sedang melihat mading, begitu? Kau ingin membuatku cemburu, Kim Seokjin? Keurom, chukkae, usahamu berhasil!” seru Sooji lalu berlari keluar kelas.

Seokjin yang masih tampak kebingungan itu berlari mengejar Sooji. Sooji berlari kencang sekali hingga ia kesulitan untuk mengejarnya. Hingga ketika ia sampai di depan mading, langkahnya perlahan terhenti. Bahkan, ia terlupa sejenak untuk mengejar Sooji. Ditatapnya kosong Myungsoo yang sedang merangkul bahu Naeun. Keduanya sesekali tertawa sambil membaca pengumuman di mading. Ia mencoba untuk menenangkan diri, walau sebenarnya ia merasa sangat iri dengan Myungsoo.

Mianhae, Sooji-ya, aku tidak tahu kalau kau melihat ini.”

~***~

Myungsoo berhenti tepat di depan pintu masuk utama sekolahnya. Hujan yang turun begitu lebat membuatnya tidak bisa melanjutkan langkah sampai ke tempat parkir. Dengan helaan nafas kesal, Myungsoo pun memutuskan untuk menunggu hujan reda. Sekolah memang belum sepenuhnya sepi, masih ada beberapa murid lainnya yang tidak bisa pulang karena hujan. Myungsoo tergerak untuk melirik beberapa temannya yang menunggu di tempat yang sama dengannya, hingga ia menemukan, Sooji.

Awalnya Myungsoo mencoba untuk tidak menghiraukan keberadaannya. Namun, semakin ia berusaha untuk menghiraukan, ia jadi semakin ingin menghampiri Sooji. Akhirnya, ia memilih untuk menghampirinya saja.

“Mau pulang, ya?” tanya Myungsoo basa-basi.

“Bukankah sudah jelas?” Sooji terlihat tidak begitu tertarik untuk mengobrol dengan Myungsoo.

Uh, sudah lihat pengumuman di mading?” Sooji menggeleng.

“Kau belum lihat? Setelah ujian akhir nanti, sekolah kita akan mengadakan prom night. Sebenarnya bukan sekolah, lebih tepatnya siswa-siswa yang menjadi panitianya. Kau akan ikut?”

Sooji menghela nafas. Harapannya agar Myungsoo segera pergi sepertinya sirna sudah. Mereka berdua kini bahkan sudah mempunyai topik pembicaraan baru.

“Bukankah prom night harus datang bersama pasangan?”

“Kau bahkan tidak tahu kalau prom night ini juga merupakan pesta topeng? Kita datang dengan memakai topeng, tidak akan ada yang mengenali kita, termasuk pasangan kita. Saat lampu dimatikan, kita harus bisa mencari pasangan kita. Pasti akan menyenangkan. Apa kau tidak akan ikut?”

“Untuk apa datang ke acara tidak berguna seperti itu? Membuang waktu saja.”

Selang beberapa menit setelah ucapan Sooji, tidak ada lagi tanggapan dari Myungsoo. Hal itu membuat Sooji lega. Hujan pun sudah reda. Sooji mulai melangkahkan kakinya meninggalkan Myungsoo. Namun, tak sampai dua langkah, Myungsoo menahan lengan Sooji.

“Aku harap kau datang,” ucap Myungsoo. Sooji hanya diam lalu melepaskan genggaman Myungsoo dan mulai berjalan pulang. Sementara itu, Seokjin yang memperhatikan mereka dari jauh hanya menggelengkan kepala.

“Brengsek. Sebenarnya siapa yeoja yang kau cintai?”

~***~

Ujian akhir kenaikan kelas pun terus berlangsung. Para siswa sma Jikwon high school belajar dengan serius dan mengerjakan ujian dengan sungguh-sungguh.

Pelajaran terakhir. Di jam ujian mata pelajaran terakhir ini, Naeun terlihat pucat. Berkali-kali hidungnya mengeluarkan darah, namun terus ia lap dengan tisu dari saku seragamnya. Hingga tanpa disadarinya, salah satu tetesnya mengenai lembar jawabannya. Naeun terlihat panik, namun Myungsoo yang duduk tak jauh darinya segera menarik tangannya untuk berjalan menghampiri guru. Setelah mendapat izin, Myungsoo membawa Naeun ke ruang kesehatan sekolah. Untungnya, Myungsoo sudah selesai mengerjakan ujiannya.

~***~

Naeun keluar dari kamar mandi yang berada di ruang kesehatan dengan langkah pelan. Tenaganya seolah terkuras hanya karena mimisan itu. Myungsoo yang sedang duduk di ranjang ruang kesehatan itu pun segera berdiri lalu menghampiri Naeun.

“Ada apa sebenarnya denganmu? Apa kau sakit?” tanya Myungsoo cemas. Naeun menggeleng sambil tersenyum, bibirnya masih saja pucat.

Gwenchana, aku tidak sakit, kok. Aku hanya kelelahan.”

Gotjimal.”

Aniya, aku bersungguh-sungguh.”

Keunde, wajahmu masih terlihat pucat.”

“Aku baik-baik saja, percayalah.”

Myungsoo sebenarnya tidak mempercayai ucapan Naeun. Ia masih merasa ada sesuatu yang tidak beres. Ditariknya Naeun ke dalam pelukannya.

“Berjanjilah padaku untuk terus baik-baik saja.”

~***~

Eomma,” panggil Sooji sambil memperhatikan ibunya yang sedang memasak.

Waeyo?”

“Apa Eomma pernah pergi ke prom night sebelumnya?”

Nyonya Bae berhenti memotong sayuran lalu menatap kedua manik anaknya itu.

“Memangnya kenapa? Apa sekolahmu mengadakannya?” Sooji mengangguk.

“Apa kau ingin ikut?”

Sooji terdiam. Ia belum meyakinkan dirinya apakah mau ikut atau tidak. Tetapi, mengingat perkataan Myungsoo seminggu yang lalu, Sooji merasa terdorong untuk tidak melewatkan acara prom night itu.

“Mungkin, aku akan ikut.”

“Kalau begitu, kau harus memakai gaun yang cantik. Kapan acaranya?”

“Besok malam.”

“Akan Eomma siapkan untukmu.”

Gomawo.”

Sooji merasa tenang karena ibunya akan memilihkan gaun yang cantik untuknya. Tetapi, ia sendiri masih bingung, akan pergi atau tidak. Kalaupun aku pergi, Naeun pasti bersama Myungsoo, pikirnya.

~***~

Naeun menyibakkan selimutnya lalu berjalan keluar kamar. Hari ini hari Minggu, dan nanti malam adalah acara prom night.

“Apa hari ini kau jadi pergi?” tanya Nyonya Son begitu Naeun sampai di dapur untuk mengambil segelas air.

“Jadi,” jawab Naeun setelah menelan air di dalam mulutnya lalu meletakkan gelas di atas meja makan.

“Apa kau tidak takut dengan kondisimu?”

“Kondisi apa, Eomma? Aku baik-baik saja.”

“Naeun-ah, Eomma takut terjadi sesuatu saat kau pergi ke prom night.”

“Tidak akan, Eomma, percayalah padaku. Aku bahkan sudah merasa lebih baik sekarang.”

Nyonya Son diam sejenak, memperhatikan anak semata wayangnya yang masih belum mau mengakui keberadaan penyakitnya.

“Kau masih belum mau chemo?”

Eomma, tidak bisakah kita membahas hal lain?”

“Naeun-ah,” ucap Nyonya Son sambil meraih kedua tangan anaknya. “Pikirkanlah kesehatanmu, kau sedang menderita Leuki–“

“Cukup Eomma! Kenapa Eomma begitu percaya perkataan dokter? Dokter pasti berbohong! Buktinya, aku masih sehat sampai sekarang!”

“Kau sering pingsan dan juga mimisan, sehat apanya, Son Naeun?”

Keurom, Eomma lebih ingin melihatku dichemo? Melihat tubuhku semakin kurus, melihatku terbaring lemah di rumah sakit karena obat-obat chemo dan melihat kepalaku botak? Setelah itu, Eomma ingin melihatku mati?”

PLAKK

Naeun memegangi pipi kirinya yang mulai terasa panas. Pertama kali dalam hidupnya, ibunya menampar pipinya, dan sampai sekeras ini.

“Apa yang baru saja kau katakan?! Kenapa kau menyerah begitu saja? Kalau penyakitmu dibiarkan semakin lama akan semakin parah!”

Naeun tak kuasa menahan genangan air matanya, begitu juga Nyonya Son.

Jebal, Naeun-ah, setidaknya, kalau kau mau melakukan chemotherapy, kau masih memiliki kemungkinan untuk sembuh,” ujar Nyonya Son lalu menarik Naeun ke dalam pelukannya.

~***~

Myungsoo tak henti-hentinya mengoreksi penampilannya di depan cermin. Celana hitam panjang, senada dengan tuxedonya, dan kemeja putih di baliknya.

Aku tak sabar ingin segera berdansa dengan Naeun dan Sooji, batinnya tanpa sadar.

Naeun dan Sooji? Bagaimana bisa aku memikirkan dua orang gadis di saat yang sama?

Setelah melamun cukup lama, akhirnya Myungsoo pun berangkat ke prom night, yang berlokasi di aula sekolah.

~***~

Seokjin berkali-kali melihat jam tangannya. Sudah hampir jam delapan malam, dan acara akan segera dimulai. Berkali-kali juga ia berdecak dan menghela nafas. Seharusnya, Naeun sudah datang setengah jam yang lalu, waktu kumpul sebelum acara dimulai.

“Atau mungkin dia sudah datang?” gumamnya sambil terus melihat sekeliling.

Namun, setelah jarum jam tepat mengarah ke angka delapan, belum ada tanda-tanda kedatangan Naeun.

“Sebenarnya dia kemana?”

Karena merasa gelisah, Seokjin memutuskan untuk menelepon Naeun.

~***~

Naeun terlihat cantik dengan gaun berwarna merah muda selutut yang dikenakannya. Di sebelahnya, Nyonya Son berdiri menatap putrinya cemas. “Mengapa kau tetap ingin pergi?”

Naeun tersenyum lalu memeluk ibunya. “Eomma baik-baik ya di rumah, sebentar lagi Appa pulang, kan?”

Nyonya Son melepas pelukan Naeun. “Bukan itu masalahnya.”

“Aku bisa jaga diri, Eomma.”

Setelah berpikir cukup lama, Nyonya Son akhirnya mengangguk. “Hati-hati.” Naeun tersenyum mengiyakan. Namun, baru saja Naeun mencapai pintu depan, ia sudah ambruk.

“SON NAEUN!”

Belum sempat Nyonya Son menghampiri Naeun, tiba-tiba telepon rumah berbunyi. Dengan berlari cukup kencang, Nyonya Son segera mengangkat telepon.

Ne, yeoboseyo?!” jawabnya panik.

Nyonya Son, apa Naeun masih di rumah?”

“Seokjin-ah? Bisa kau ke rumah Naeun sekarang? Ini darurat!”

Darurat?! Baik, aku akan segera ke sana!”

~***~

Aula sekolah sudah penuh oleh para siswa yang datang mengenakan topeng masing-masing. Mereka terlihat saling mengobrol dengan beberapa orang yang bisa mereka dikenali, dan mungkin sebagian tidak, karena memakai topeng.

Myungsoo membetulkan posisi topengnya. Topeng yang ia kenakan hanya menutupi wajah bagian atasnya, sehingga ia harap Naeun masih bisa mengenalinya. Namun, tiba-tiba saja lampu meredup dan lama-kelamaan mati. Myungsoo tidak terlihat bingung karena ia sudah tahu apa yang akan terjadi setelahnya.

“Untuk kalian yang sudah hadir, silakan kalian cari pasangan kalian untuk diajak berdansa. Setelah lampu menyala nanti, kalian tidak boleh berganti pasangan. Dan pasangan yang paling serasi akan mendapat hadiah! Baikalah, mulai!” seru pembawa acara yang tidak terlihat sama sekali oleh Myungsoo.

Dengan langkah pelan, Myungsoo mulai berjalan mencari Naeun. Ya, mereka memang sudah berjanji akan berpasangan saat prom night. Myungsoo mulai memanggil-manggil Naeun dengan suara pelan, hingga tiba-tiba seseorang menabrak punggungnya. Karena reflek, Myungsoo tidak tinggal diam. Ia segera berbalik lalu menggenggam tangan orang yang menabraknya itu.

Tangannya halus, sepertinya ini tangan yeoja, pikir Myungsoo. Ia mulai membayangkan yang berada di hadapannya adalah Naeun dengan gaun merah muda yang cantik.

“Baiklah, akan aku hitung, hana, dul, set!”

Lampu aula menyala.

~To Be Continued~

 

Leave you comment please^^

Sorry karena lama update

 

 

 

 

 

19 thoughts on “[FF Freelance] A Late Regret (Chapter 6)

  1. Aigoo makin merarik. Dan aku ga tau dilihat dari mananya yah seokjin bilang. Soo oppa mencintai jii eonni atau gak. Hehehe hmmm itu jii eonnie apa naeun yah? Aaigoo penasaran
    MyungZy jjang! Author Jjang!

  2. itu yg dipegang myungsoo tangan suzy kaaann?? endingnya myungzy ya thoor. kasian suzy kalau ga sama myungsoo *apa?–“*
    heheeh. bagus loh thor. tp ini terlalu pendek hihi😀

  3. Myungeun jjang kerna liat nma cast naeun ama myungsoo dkat..bkan nya berarti pasngan gitu..ya biasa aku liat gitu..lgipun kesihankn naeun pnderita leukimia.aku hrp akn ada keajaiban di situ.myungsoo tu juga sbnrnya sih naksir ama siapa suzy atau naeun.kan kesihan am ueoja itu dipermain trus.myungeun jer jjang.aku tahu kl aku agak egois gitu tpi kan kesihan..please i want myungeun only..

  4. TBC nya berhenti di saat yg pas. Meskipun udah tau siapa orang yg tangannya dipegang myungsoo. Kasian Naeun. Tolong jgn bikin dia meninggal authornim. Kalo naeun meninggal jin udah pasti nggak sama siapa2 dong.

  5. heh, Myungsoo player! masa suka sama dua cewek sekaligus, sebenernya cintanya sama Naeun atau Sooji, tapi aku berharapnya cintanya sama Naeun atau mungkin Myungsoo sama Jin aja. hahahah
    itu yg digandeng tangannya sama Myungsoo pasti Sooji *sotoy
    ditunggu kelanjutannya thor😀

  6. suzy kasian ya ga ditungguin sama siapa siapa diacara prom ini dan nnti juga di harus kehilangan perhatian myung klo si myung tau si naeun sakit -.-‘
    pokoknya harus happy end buat suzynya tanpa ngelukaiin siapa2.

  7. lanjut thor!^^
    aku sih trsrah author mau jd sma sapa. yg pnting happy ending ya thor ksian sm mrka klo gk happy ending hehe

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s