[FF Freelance] Finding Happiness (Chapter 1)

POSTER [FF FREELANCE] FINDING HAPPINESS

Title              : Finding Happiness (chapter 1)

Author         : @leenami0203

Rating           : PG-13

Length          : Chaptered

Genre            : Angst, Hurt, Family

Main Cast    : Lee Nami (OC), Cho Kyuhyun (super junior), Shin Yong Ra (OC)

Support Cast  : Cho Ahra, Lee Hyukjae, Cho Hana, dll

Disclaimer      : Ini adalah FF pertama yang author bikin dan udah pernah di posting di http://leenami0203.wordpress.com/ tapi sedikit ada yang beda karena yang ini udah direvisi. Maaf kalau terlalu banyak kekurangan. FF ini terinspirasi dari film-film Indonesia. Author menerima kritik dan saran dari para readers, tapi ingat “pakai bahasa yang sopan yaa”.

Happy Reading !!

 

Bahagia adalah tujuan hidupku saat ini. –Lee Nami–

Aku ingin melangkah sesuai harapanku, tapi jika gagal aku akan mencoba tetap bersyukur dan menjalaninya agar bahagia. –Cho Kyuhyun–

Author POV

“EOMMAAAAAAAAAAAAAA……” seorang gadis tengah berteriak dari sambungan telepon yang tertempel di telinga kirinya.

“Aigoo chagi, kenapa kau berteriak seperti itu? Kau tahu, telinga Eomma bisa pecah mendengarnya,” ucap wanita paruh baya diseberang sambil terkekeh.

“Ada apa?”

“Eomma… Lusa adalah hari kelulusanku, Eomma dan Appa harus datang karena aku akan bernyanyi disana, kalian harus melihat penampilan spektakuler ku hahaha,” sejenak terasa hening tanpa ada suara, “Eomma? Eomma? Apa kau masih disana?”

“Maaf chagi, sepertinya Eomma dan Appa tidak bisa datang ke acara kelulusanmu karena pekerjaan disini belum selesai, tapi Eomma berjanji setelah semuanya selesai Eomma dan Appa langsung pulang,” jawab wanita tersebut dengan penuh penyesalan.

“Tapi Eomma__,” belum sempat gadis itu menyelesaikan perkataannya, wanita yang dipanggilnya Eomma sudah memotongnya.

“Kau bisa mengajak Han Ahjumma untuk menemanimu chagi,” mendengar penuturan Eommanya gadis itu menjadi marah.

“AKU TIDAK MAU MENDENGAR APAPUN ALASAN KALIAN, EOMMA DAN APPA HARUS DATANG TITIK!!.” Flip! Gadis itu langsung mematikan teleponnya secara sepihak.

Wanita diseberang hanya menghela nafas, “Anak itu sudah berumur 18 tahun tetapi kenapa sifat manjanya tidak pernah hilang juga,” gumamnya pelan tapi tetap terdengar oleh orang yang duduk dibelakangnya.

“Ada apa?” tanya seorang pria yg umurnya sudah mencapai hampir setengah abad.

“Lusa adalah hari kelulusannya, dia meminta kita untuk datang, bisakah kita datang? Aku tak ingin mengecewakannya karena kudengar dia  akan tampil menyanyi.”

“Ara..ara, aku akan mengatur ulang jadwal rapatnya agar kita bias seceptnya kembali.” jawab pria itu sambil tersenyum.

Wanita tersebut menyunggingkan senyumannya sambil mengetikkan beberapa kata di HP yang di pegangnya.

***

Lee Nami POV

Annyeong ! namaku Lee Nami, usiaku 18 tahun. Lusa adalah hari kelulusanku, aku sangat senang dan tidak sabar menantikannya karena dengan begitu aku terbebas dari angka-angka matematika mengerikan dan segala macam pelajaran yang menyebalkan. Bisa dibilang nilaiku pada pelajaran exact sangat menyedihkan dan aku sudah sangat bersyukur bisa lulus walaupun dengan nilai yang pas-pasan. Sejujurnya aku lebih tertarik pada pelajaran seni, entah seni musik ataupun seni rupa, oleh karena itu aku ingin melanjutkan studi ku di jurusna seni.

Hari ini aku sedikit kecewa dengan orang tuaku karena mengatakan bahwa mereka tidak bisa datang. Orang tua macam apa itu yang selalu mementingkan pekerjaannya dari pada anaknya, dan lebih parahnya lagi mereka menyuruh Bibi Han untuk mewakilkan. Bukannya tidak mau, hanya saja semua teman-temanku didampingi orang tuanya dan aku ingin seperti mereka.

Bibi Han adalah tetangga satu komplek denganku, walaupun rumah kami tidak terlalu dekat tapi aku sering main kesana karena aku suka bermain dengan anak laki-lakinya, bahkan aku sudah mengganggap seperti Ibu dan Adikku sendiri.

Drrrrrtt drrrrrrt

From : Eomma

Chagi, kami akan datang pada hari kelulusanmu jadi sekarang jangan marah lagi.

“YEEEEEEEYYYY, AKHIRNYA MEREKA BISA DATANG!” aku berteriak sangat kencang karena terlalu bahagia, saking bahagianya tubuhku rasanya hampir meledak.

To : Eomma

Gomawo Eomma. LOVE YOU

***

Author POV

Akhirnya hari kelulusan Nami tiba. Orang tuanya mengatakan akan berangkat langsung dari bandara menuju sekolah. Tiba-tiba ponsel Nami berdering menandakan ada sebuah panggilan masuk.

Tralala trilili

“Yeoboseyo,”

“…….”

“MWO?”, seketika itu mata Nami melebar, kakinya terasa lemas sehingga tidak dapat menopang tubuhnya dan jatuh terduduk, air matanya mengalir deras. Dia berharap siapa saja untuk mengatakan bahwa ini semua hanya mimpi atau lelucon konyol.

Tapi sayangnya semua itu adalah nyata.

Bibi Han yang kebetulan baru pulang dari belanja melihat Nami terduduk di teras sambil menangis, beliau berjalan menghampirinya.

“Nami-ah, apa yang terjadi? Kenapa kau menangis?” tanya Bibi Han bingung.

“Eomma dan Appa Bi…Hiks,”

“Waeyo?”

“Pasawat…hiks…jatuh,”

“MWO?” Bibi Han membelalakkan matanya, “Lalu bagaimana keadaanya sekarang?”

Nami menggelengkan kepalanya, “Pihak rumah sakit hanya mengatakan itu Bi. Bisakah Bibi mengantarkan aku ke rumah sakit sekarang?”

“Tentu saja,kajja” Bibi Han membantu Nami berdiri.

Mereka langsung menuju rumah sakit, bahkan Nami sudah melupakan acara kelulusannya.

***

Hospital

Nami hanya duduk di ruang tunggu bersama keluarga korban lainnya dengan tatapan kosong, disebelahnya ada Bibi Han yang merangkul dan berusaha menenangkannya. Dia belum diperbolehkan melihat orang tuanya karena sedang diberikan perawatan.

Beberapa saat kemudian dokter keluar.

“Apakah ada yang bernama Lee Nami?” dengan gerakan reflek Nami berdiri dan menyodorkan pertanyaan kepada dokter, “Bagaimana keadaan Eomma dan Appa dok? Apakah aku sudah boleh melihatnya?”

Dokter tersebut hanya meghela nafas sambil mengangguk, ”Masuklah, Eomma mu ingin bertemu denganmu.”

Dengan cepat Nami langsung masuk diikuti Bibi Han dibelakangnya.

“Eomma, apa yang terjadi? Dimana Appa?” Nami mulai terisak kembali melihat keadaan Eommanya. Sangat miris melihat perban dimana-mana, suara yang serak, serta tubuh yang lemah.

“Appa sudah berada di surga nak,” jawab Eomma Nami sambil tersenyum.

“Hiks andweee, Appa tidak boleh meninggalkan kita,” air mata Nami semakin deras, dada nya semakin sesak mendengar kenyataan ini.

“Ssssttt…uljima, maukah kau berjanji satu hal pada Eomma?”.

“Berjanji apa Eomma?” jawab Nami masih dengan isakan dan air mata dipipinya.

Eomma Nami menghela nafas sebentar, “Berjanjilah untuk menjadi anak yang mandiri dan tegar, hilangkan sifat manja dan cengeng mu nak. Hiduplah dengan bahagia. Arra?” Nami mengangguk mantap.

Lalu Eomma Nami mengalihkan pandangan ke Bibi Han yang dipanggilnya eonni itu, “Eonni, aku titipkan Nami kepadamu…tolong jaga dia, kadang memang manja tapi percayalah dia anak yang manis dan baik.”

Bibi Han hanya menjawabnya pelan, “Ne. Aku akan menjaganya”

“Jika sudah begini Eomma bisa pergi dengan tenang. Eomma dan Appa mencintaimu chagi.” Perlahan-lahan Eomma Nami menutup mata dan menghembuskan nafas terakhirnya.

“Eomma… Eomma… Jebal irona, Eommaaaaa jangan tinggalkan aku, EOMMAAAAAAAAA…”

Bibi Han yang ada dibelakan Nami tidak kuasa menahan kesedihan, merasa ikut sakit mendengar teriakan Nami, bahkan air mata nya ikut menetes semakin deras.

***

Sunyi, tenang dan damai mungkin adalah kata yang tepat untuk menggambarkan tempat ini. Tempat dimana Appa dan Eomma Nami diistirahatkan. Nami hanya diam seribu bahasa dengan tatapan kosong tanpa air mata karena air matanya telah habis entah kemana, disamping kanan ada Bibi Han bersama anaknya hanya bisa menunduk ikut merasakan kesedihan yang dialami Nami.

2 jam telah berlalu, Nami tetap tidak bergerak sama sekali dari tempatnya hingga sebuah suara mengalihkannya.

“Nuna,apa Nuna tidak lelah? Kajja kita pulang,” suara dari laki-laki berumur sekitar 17 tahun bernama Han Seung Ji tersebut membuyarkan lamunannya.

Merasa diajak berbicara Nami menoleh, lalu tersenyum dan mengangguk.

***

Cho kyuhyun POV

Mwo, menikah? Aisshhh Eomma selalu saja merecokiku dengan rencana pernikahan konyolnya. Bahkan sekarang dia mengancamku akan menyita semua gadget dan game ku jika aku menolaknya. Eottohke ? Aku bingung,  sebenarnya aku mencintai seorang yeoja cantik yang merupakan tetangga sekaligus sahabatkuku sejak 3 tahun lalu dan aku belum mengungkapkan perasaanku padanya.

Dan sekarang ditambah lagi Eomma memintaku menikah dengan calon pilihannya. Apa tidak salah? Bahkan Eomma bilang aku mengenalnya. Aku harus berusaha menyelamatkan gadget, game, dan masa depanku, tidak mungkin kan aku menghabiskan sisa hidupku bersama seorang wanita yang tidak ku cintai. Mungkin aku harus cepat-cepat mengungkapkan perasaanku kepada Yong Ra­, siapa tahu dia membalas perasaanku dan bisa memberikan solusi agar pernikahan batal.

“Ra-ya kau tahu, aku akan menikah,” ucapku tanpa basa-basi.

“Mwo menikah? Hahahahaha,” Yong Ra tertawa keras tanpa memperdulikanku yang kebingungan dengan tingkahnya, “Oppa kau pantas menikah, lihatlah kau sudah tua hahahahaha,” apa dia bilang? tua? Aiiisss yeoja ini benar-benar, adahal umurku baru 23 tahun.

“Tapi aku mencintaimu Ra-ya. Aku Cho Kyuhyun benar-benar mencintaimu dan aku hanya ingin…menikah denganmu,” seketika Yong Ra menghentikan tawanya. Aku sedikit ragu sebenarnya mengungkapkan perasaanku padanya karena dia tak kunjung merespon perkataanku.

“Apakah Oppa berkata serius?, mmm… sebenarnya seminggu yang lalu Sungmin Oppa menyatakan perasaannya padaku, dan aku sudah menerimanya. Maafkan aku Oppa, sepertinya aku tidak bisa membalas perasaanmu. Lebih baik kau menerima pernikahanmu…lagipula aku belum ingin menikah, umurka baru 18 tahun.”

Bagai tertimpa beban ber ton-ton, kalimat Yong Ra sungguh membuatku cukup tertekan. Apa artinya ini? Dia menolakku? Yong Ra menolak pria setampan diriku dan lebih memilih Sungmin Hyung? Baiklah, aku mencoba untuk tetap sabar dan tersenyum.

“Arraseo, setidaknya aku sudah mengungkapkan perasaanku dan aku sedikit lega jika Sungmin Hyung yang menjadi kekasihmu.” Yong Ra terus menunduk dan tidak mau menatapku.

Akhirnya dengan berat hati aku menerima perjodohan memuakkan ini karena sudah tidak ada pilihan lain. Lagi pula aku yakin Eomma bisa memilihkan yeoja yang tepat untukku.

Dengan iseng aku bertanya kepada Eomma siapa calon pengantin wanitanya, betapa terkejutnya ketika Eomma mengatakan bahwa Lee Nami yg akan menjadi calon istriku.

“Mwo? Lee Nami si gadis jelek, menyebalkan, manja, dan cengeng itu? Aigoo,apakah tidak ada yg lebih buruk Eomma? Kukira calonku adalah seorang yeoja cantik, sexy,___”, belum selesai aku melanjutkan perkataanku, sebuah koran yang digulung sukses mendarat tepat dikepalaku. Haish.

Aku benar-benar ingat bagaimana menyebalkannya dia ketika diajak keluargaku ke taman hiburan, pada saat itu umurku 13 tahun dan dia 8 tahun.

Flashback

10 tahun yang lalu Nami tengah merengek meminta Kyuhyun untuk menemaninya berkeliling taman bermain, tapi Kyuhyun tidak memperdulikan Nami karena serius bermain benda kesayangannya yang biasa disebut PSP. Nami akhinya marah dan merebut PSP dari tangan Kyuhyun lalu membantingnya hingga pecah.

Betapa kesalnya Kyuhyun melihat hal tersebut, sehingga Kyuhyun memukul kepala Nami. Nami merasa kesal dan mengadu kepada Eomma Kyuhyun sambil menangis, hingga Kyuhyun disuruh meminta maaf pada Nami, tetapi Kyuhyun tidak mau meminta maaf dan malah menjulurkan lidahnya sambil mengejek Nami, akirnya Kyuhyun terkena omelan dari Eommanya dengan ancaman tidak diberi uang saku selama seminggu.

Flashback end

***

Author POV

Sebulan telah berlalu, semenjak kejadian naas itu Bibi Han menyuruh Nami untuk tinggal dirumahnya, karena khawatir Nami merasa kesepian dan melakukan hal yang diluar batas kewajaran.

Semenjak itu pula Nami berubah menjadi lebih pendiam dan menutup diri,bahkan sering berdiam diri di balkon dengan pandangan kosong sambil melamun. Tidak bisa disebut sebagai manusia lagi karena lebih mirip dengan mayat hidup. Setiap kali Seung Ji atau Bibi Han mengajaknya bicara dia selalu menjawabnya dengan singkat atau hanya sebuah gumaman.

Ketika sedang melewati rumah lama Nami, Seung Ji melihat sosok yeoja paruh baya mengetuk pintu rumah Nami, karena penasaran Seung Ji berjalan mendekat.

“Nuguseoyo?”

Wanita itu berbalik dan tesrenyum, “Apakah kau tetangga Lee Nami-ssi?”

“Ne, ada yang bisa saya bantu?”

“Aku Cho Hana sahabat dari Lee Hwakyo –Ibu Nami– . Apakah kau tau sekarang Lee Nami-ssi tinggal dimana?” tanya yeoja itu dengan ramah.

Sejenak Seung Ji memandanginya dari atas hingga bawah. Oke, sepertinya bibi ini adalah orang baik-baik dan tidak membahayakan bagi Nami, pikir Seung Ji.

“Nami Nuna sekarang tinggal dirumah Saya, mari Saya antarkan,”

“Gamsahamnida. Siapa namamu nak?”

“Seung Ji, Han Seung Ji.”

Setelah sampai rumah, Seung Ji memberi kode ke Eommanya kalau dia membawa seseorang untuk bertemu Nami.

“Nuguseoyo?” Bibi Han melihat Cho Hana dari ujung kaki hingga kepala seperti yang dilakukan Seung Ji.

“Kenalkan, aku Cho Hana sahabat dari Lee Hwakyo –ibu Nami–“  Cho hana menjabat tangan Bibi Han sambil tersenyum.

“Mari kita berbicara didalam saja. Apa kau sudah mendengar berita tentang Lee Hwakyo?”

“Ne, aku sudah mendengar beritanya, aku turut berduka atas kejadian tersebut. Aku sungguh tidak menyakngka bahwa Hwakyo akan meninggal secepat itu. Bagaimana keadaan Nami?”.

“Keadaannya bisa dibilang menyedihkan, dia berubah 180 derajat semenjak orang tuanya meninggal. Kami sudah melakukan segala upaya untuk mengubahnya kembali tapi sepertinya sulit.”

“Sebenarnya maksud kedatanganku kesini adalah untuk mengajak Nami tinggal dirumahku dan menikahkannya dengan putraku, mungkin dengan cara itu bisa mengembalikan keadaan Nami seperti semula.” Bibi Han terkejut mendengar ucapan yang dilontarkan Cho Hana, sebenarnya ada perasaan tidak rela jika Nami tinggal bersama orang lain, tapi semua keputusan ada di tangan Nami dan hanya Nami yang berhak memutuskannya.

“Bibi Cho” gumam Nami ketika melihat siluet seorang yeoja yang dikenalnya.

“Annyeong Nami, sudah lama kita tidak bertemu. Bagaimana keadaanmu?” Nami membungkukkan badan 45 derajat.

“Ah ne… Begitulah,”

“Mungkin langsung saja karena aku tidak mau berlama-lama, Nami apakah kau masih mengingat Cho Kyuhyun? Apakah kau bersedia menikah dengannya dan tinggal bersama kami?” Mata Nami benar-benar membulat, mulutnya menganga lebar. Ya, siapa yang tidak mengenal Cho Kyuhyun, si namja tampan dan lebih tepatnya –cinta pertama Nami–

“Mwo? Menikah? Cho Kyuhyun?, NEEE!” Nami menjawabnya dengan penuh semangat, kilatan kebahagiaan terpancar di mata Nami dengan sangat jelas.

Bibi Han yang melihat hal tersebut hanya bisa tersenyum senang dan merasakan firasat baik, karena akhirnya Nami menemukan kebahagiaannya.

“Yasudah bergegaslah rapikan pakaian mu yang ingin kau bawa, karena kau akan pindah hari ini juga.”

***

Lee Nami POV

“Mwo? Menikah? Cho Kyuhyun?, NEEE!”. Bagaikan mendapatkan uang sebanyak 100 miliyar won,aku sangat bahagia dan langsung menerima tawaran Bibi Cho tanpa berpikir panjang.

Bibi Han dan Seung Ji melambaikan tangan padaku, aku membalas melambaikan tangan pada mereka. Sejenak ada sebuah perasaan mengganjal dalam diriku, beberapa pertanyaan tiba-tiba muncul di benakku, kenapa Bibi Cho tiba-tiba ingin menikahkanku dengan anaknya? Apakah Kyuhyun mau menerimaku? Kami –aku dan Kyuhyun– hanya pernah bertemu sekali saja, itu pun bukan sebuah pertemuan yang menyenangkan, aku tahu Kyuhyun pasti akan membenciku mengingat dulu aku merusak PSP kesayangannya. Aku hanya menunduk gelisah sambil merutuki diriku sendiri karena tidak memikirkan terlebih dahulu tawaran Bibi Cho.

“Nami, kita sudah sampai ayo turun,” Bibi Cho membuyarkan lamunanku. Aku hanya membalasnya dengan mengangguk.

Lagi-lagi aku bertanya dalam hati, apakah aku bermimpi? Rumahnya keluarga Cho sangat besar, diluarnya terdapat taman yang luas serta bermacm-macam bunga, di bagian samping terparkir berbagai jenis mobil mewah. Aku baru tahu bahwa keluarga Cho sangatlah kaya.

Aku memasuki rumahnya dengan perlahan, kembali aku dibuat kagum dengan interior di dalam rumah ini. Sebuah ruang tamu luas dengan segala perabotan yang terlihat mahal, tangga melingkar dengan ornamen indah di sisi kiri rumah. Bahkan mulutku bertambah lebar karena takjub dibuatnya.

“Tutuplah mulutmu, dasar kampungan,” sebuah suara berat dari arah belakang mengagetkanku.

TBC

Heuh , part 1 berhasil selesai juga. Terima kasih buat para readers yang sudah mau menyempatkan diri untuk mampir dan membaca FF membosankan ini. Jangan lupa coment! #authormaksa. Hehe #garinglagi

4 thoughts on “[FF Freelance] Finding Happiness (Chapter 1)

  1. anyeong…ikut bac saengi….ahahha…nami langsung kembali k alam sadarnya bgt denger nama kyuhyun

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s