Bambam

Keyunge's art

 

Title : Bambam

Storyline by Hoyagan

Main Cast : Got7 Bambam – You

Genre : Fluff

Duration : Vignette

Rating : General

Thanks to Keyunge for the super cute poster I totally love that poster hahaha. Happy Reading!

 

 

Summary :

 

Boy A Manacle , Boy A Mine

 

BAMBAM

 

Pandanganku tidak pernah lari dari namja yang satu itu, sedang memegang bola basket dan baru saja mencetak nilai. Bukan namja dengan banyak pesona seperti Im Jaebum sunbae. Bukan namja dengan banyak piala seperti Choi Youngjae sunbae. Bukan namja dengan banyak sensasi seperti Park Jinyoung sunbae. Apalagi namja dengan banyak penggemar seperti Mark Tuan sunbae.

 

Dia hanyalah namja kelahiran Thailand berusia 15 tahun, namun wajahnya terlihat seperti adikku yang berusia 5 tahun. Murid baru dengan banyak tingkah lucu yang kusukai. Aku menyukainya-terlebih sikapnya. Dia lebih senang jika dipanggil sebagai Bambam.

 

Aku menyukai Bambam yang terdiam ketika teman-temannya bekerja sama. Aku menyukai Bambam yang kebingungan ketika seseorang berbicara padanya dengan aksen korea yang cepat. Aku menyukai Bambam yang kesal ketika ia tidak bisa mengerjakan pelajaran Bahasa.

 

Terlebih aku menyukai kepolosan Bambam ketika ia diharuskan berbeda dari teman-temannya. Kesulitannya dalam berbahasa Korea membuat dirinya kurang dikenal banyak siswi-siswi sekolah, karena ia jarang berkomunikasi dengan orang lain terutama yeoja.

 

.

.

.

 

Aku sering melihat hari valentine sebagai hari dimana seorang namja mendapatkan coklat dari yeoja yang menyukai mereka. Karena banyak siswa dikelasku yang menggenggam kotak dengan kertas berwarna yang didalamnya kau sebut coklat. Tapi, bukan hanya aku yang bahkan sekedar memandangi kegiatan mereka. Bambam memperhatikan semua teman-temannya ketika didatangi oleh para gadis berisik itu.

 

 

“Tidak ada coklat untukku?” Tanyanya ketika seseorang yang duduk di sebelahnya mendapatkan coklat dari yeoja di kelas sebelah. Aku mengernyit heran. Jadi, sejak tadi Bambam memperhatikan mereka hanya karena itu?

 

 

 

Keesokan harinya aku membuatkan sekotak coklat yang hari ini ingin aku berikan kepada Bambam, walaupun hari valentine dirayakan kemarin. Aku menemukan Bambam sedang memandangi lapangan basket di pinggir pagar lantai 2. Ia menyadari kedatanganku.

 

“Selamat pagi!”

 

Bambam menyapa dengan senyum manis yang seketika terukir. Aku segera menegaskan coklat yang aku bawa padanya sambil menunduk malu. Ia membuatku terkejut, tapi juga membuatku semakin tidak yakin jika ia benar-benar berumur 15 tahun.

 

“Apa ini?”

 

“Ini…. Eung…. Se… Selamat…. H…. Hari…. Valentine”

 

“Hari valentine ‘kan sudah lewat”

 

Aku sedikit kecewa dengan pernyataannya barusan. Aku berpikir dia tidak ingin menerima coklatku. Menurutku, hanya terlewat satu hari bukanlah waktu yang lama. Masih ada suasana valentine hari ini.

 

“Kau membuatkan ini untukku?” tanyanya kemudian. Aku mengangguk masih dengan kepalaku yang tertunduk.

 

“Kenapa kau menunduk begitu? Apa aku terlihat seperti hantu?” protesnya beberapa saat. Aku malu pada diriku sendiri karena melakukan banyak hal bodoh dihadapannya. Aku pun mengangkat kepalaku untuk menatapnya dan tak lama ia menyentuh puncak kepalaku.

 

“Kau orang pertama yang memberikanku coklat di hari valentine. Terima kasih banyak”

 

Ia kembali tersenyum dan mengambil coklat yang ku pegang. Aku senang mendengar rangkaian katanya yang menunjukkan bahwa aku cukup spesial untuk hari ini. Bambam terlihat sangat senang memandangi coklat yang kini sudah menjadi miliknya.

 

 

 

 

5 May 2013

 

Aku mengingat benar hari ini. Hari ketika usia Bambam bertambah, walaupun kedewasaan diwajahnya tidak sama sekali.

 

 

Bambam datang ke sekolah dengan wajah cerianya. Menyapa teman-temannya dengan riang gembira seperti baru saja mendapatkan nilai A di ujian Bahasa. Sepanjang hari Bambam bertingkah layaknya memberikan tanda bahwa hari ini adalah hari ulang tahunnya. Tidak lelah ia mencuri kesempatan sambil bermain dengan teman-temannya, namun tetap saja tidak membuahkan hasil sampai waktunya pulang sekolah.

 

Dan kini, dia hanya bisa memangku wajahnya dari pinggir pagar lantai 2. Wajahnya sangat berbeda dengan yang ia munculkan tadi pagi.

 

 

Aku mencoba mendekatinya, ingin mengetahui isi hatinya saat ini walaupun aku sudah mengetahui jawabannya. Anggap saja aku sedang membangun kesan baik terhadap teman sekelasku.

 

“Tidak ada yang mengingat hari ulang tahunku” ucapnya tidak merubah arah pandangan.

 

Aku tersenyum mendengarnya. Rasa kecewanya terasakan dari suaranya yang sedikit parau. Aku menghela nafas panjang untuk menghilangkan rasa gugupku. Kemudian mengeluarkan sebuah hadiah dari dalam tasku. Aku sudah mempersiapkan sebuah hadiah untuk Bambam, mungkin hanya aku satu-satunya yang mengingat hal ini sejak 2 hari yang lalu. Aku memberikannya pada Bambam yang disambut dengan kebingungan di sirat wajahnya.

 

“Ini untukku?”

 

Aku mengangguk sambil tersenyum. Ia segera mengambil hadiah itu, lalu melompat kegirangan seperti adikku ketika mendapat mainan baru dari appa. Ia pun mengajakku pulang bersamanya.

 

 

 

 

Setahun berlalu dari valentine ketika Bambam mendapatkan coklat pertamanya dariku. Kali ini kurasa bukan hanya aku yang akan menjadi satu-satunya yeoja yang memberikannya coklat. Bambam berhasil lolos kedalam tim Basket sekolah yang di dalam dapat kau temukan para sunbae tampan disana.

 

Tapi ternyata, Bambam yang sekarang masihlah Bambam yang dulu. Sudah seharian ia lebih banyak berkumpul dengan para Hyung­­­-nya di tim basket, tetap saja dia adalah wajah baru diantara mereka.

 

Para sunbae cantik yang dengan setia menyaksikan waktu latihan tim basket sekolah hanya memberikan coklat valentine pada wajah lama tim basket. Bambam hanya bisa memandangi tanpa mendapatkan barang satu kotak. Kecuali ketika Jaebum sunbae melihat Bambam hanya memegang bola basket, ia segera memberikan satu coklat miliknya. Dan ketika latihan selesai, Bambam terlihat sangat kecewa ketika berjalan keluar untuk mengganti bajunya. Hanya menunduk sambil menonjolkan bibirnya.

 

 

 

Aku menunggu Bambam diluar ruang ganti pakaian. Butuh waktu 20 menit untukku sampai melihatnya menutup pintu ruang ganti. Mungkin dia masih memikirkan rasa kecewanya, sehingga malas melakukan hal lain. Aku pun berdiri menghentikan jalurnya, lalu menegaskan kotak yang kupegang seperti yang biasa kulakukan ketika memberikan hadiah padanya.

 

“Happy Valentine, Bambam-ssi” ucapku pelan karena ragu. Tidak segera mengambil hadiah miliknya, Ia memandangiku lamat. Matanya seperti sedang mengintimidasi.

 

“Kau lagi?”

 

Dia mengernyit aneh ketika memandangiku, membuatku menelan salivaku berat. Aku berpikir jika ini merupakan tindakan bodoh karena memberikan coklat sendirian pada namja yang sudah jelas sedang tidak dalam perasaan baik.

 

 

“Kau selalu menjadi orang pertama. Terima kasih”

 

Senyum itu tidak menghilang, bahkan ia mengukirnya lebih. Kami tertawa bersama, Aku senang bisa memberikan dua kebahagiaan untuknya hari ini. Bambam tetaplah Bambam yang kegirangan ketika ia mendapatkan hadiah. Aku menyukainya.

 

 

 

 

Sama seperti tahun-tahun kemarin, Bambam masih tidak mendapatkan hadiah ketika ia berulang tahun. Dan aku tetap menjadi yang pertama untuknya. Walaupun aku tahu dia selalu merasa heran, layaknya yeoja di dunia ini hanya aku seorang.

 

 

“Kau lagi?” Tanyanya ketika aku memberikan hadiah di hari ulang tahunnya.

 

Aku hanya memberi senyuman tidak berdosaku. Menutupi rasa malu lebih utama saat ini. Bambam menerima hadiahnya dengan baik, walaupun tidak seperti kemarin-kemarin yang nampak sangat kegirangan.

 

 

Sejak saat itu, aku jarang bertemu dengannya. Bahkan bertemu dengannya saja aku takut. Takut jika ia merasa terganggu nantinya. Dikelas, komunikasi kami mulai berkurang. Ketika pelajaran bahasa, Bambam tidak lagi memanggil-manggil namaku untuk meminta bantuan. Dikantin, Bambam hanya sekedar melihat-lihat. Ketika melihatku, ia menghilang entah kemana.

 

 

 

 

 

Di valentine kali ini, valentine ketiga bagi Bambam sejak ia tinggal di Korea, untuk pertama kalinya aku tidak memberikan coklat untuknya. Aku masuk ke rumah sakit dan harus dirawat selama satu minggu. Aku tidak bisa pergi kemana pun selain kamar yang aku tempati saat ini.

 

Aku senang karena tidak akan menganggu Bambam nantinya. Atau mungkin rasa bosannya terhadapku bisa hilang untuk beberapa waktu. Tapi, aku merindukan senyuman laki-laki itu, aku merindukan kekesalan laki-laki itu, aku merindukan kepolosan laki-laki itu, aku merindukan saat-saat aku memberikan coklat untuknya.

 

“Mungkin saja Bambam mendapatkan coklat dari para yeoja yang setia menyaksikannya bermain” ucapku tiba-tiba ketika mengingat para sunbae itu meneriakan nama anggota tim basket sekolah.

 

 

Sudah hampir seminggu selama aku dirawat, sejak benak itu muncul aku lebih sering melakukan kegiatanku diatas kasur. Duduk, Tidur, lalu duduk lagi, dan hanya tidur lagi. Membayangkan Bambam yang tidak bisa kulihat membuatku merindukannya sangat dalam, bahkan aku hampir menangis, jika saja tidak ada seseorang yang baru mengetuk pintu ketika aku air menggenangi pelupuk mataku.

 

Seorang namja baru saja membuka sedikit pintu kamar rumah sakit yang aku tempati. Ia mencoba memunculkan kepalanya perlahan, seperti orang dengan penuh keraguan. Aku seperti bermimpi, melihat laki-laki yang baru saja membuatku menangis sudah berada dihadapanku. Ia masih memakai seragam sekolah, dan membawa sekantung plastik berisi makanan. Memberikan senyuman yang kurindukan itu, kemudian memberi sebuah hentakan dikeningku membuatku meringis kesakitan.

 

“Apa yang kau lakukan?”

 

“Apa kau tidak ingat kemarin hari apa?”

 

“Hari rabu”

 

“Bukan bodoh. Bukankah hari itu kau selalu memberikan coklat kepadaku”

 

“Untuk apa? Lagipula kau sudah terkenal dikalangan para sunbae cantik itu. Pasti diantara mereka ada yang memberikanmu coklat valentine, ’kan?”

 

“Memang. Tapi kau tahu? Seharian kemarin aku mencarimu. Tidak biasanya kau bukan menjadi orang pertama yang memberikan coklat untukku. Bahkan kau sama sekali tidak memberikanku coklat kemarin”

 

 

Tentu saja, aku ‘kan sedang dirumah sakit bodoh!

 

 

“Lalu kau mau aku memberikan coklat padamu?”

 

“Tidak. Lagipula hari valentine sudah berlalu. Tapi karena kau selalu memberiku coklat, biarkan kali ini aku yang memberikanmu hadiah. Walaupun ini bukan coklat” Bambam memberikan kantong plastik yang ia bawa tadi. Makanan banyak sayur dan beberapa buah-buahan.

 

“Kau harus menjaga kesehatanmu! Jangan sampai aku mendengar kau berada disini lagi ketika hari ulang tahunku”

 

Aku memandanginya bingung. Tidak percaya jika namja yang sekarang berada dihadapanku adalah Bambam yang aku kenal, atau Bambam yang perlahan menjauh seperti saat-saat kemarin. Dia memperhatikanku. Bahkan dia tidak pernah memperhatikanku selama ini.

 

“Kau harus berjanji untuk memberikanku hadiah di hari ulang tahunku nanti”

 

“Aku janji” butuh waktu beberapa menit untukku menjawabnya. Tapi aku menerima tautan dari kelingking Bambam.

 

“Baiklah, aku harus pulang. Ibuku belum tahu jika aku pergi kesini. Selamat Hari Valentine!”

 

Dia pun segera menghilang dari ambang pintu. Aku tidak dapat menahan rasa senangku, sehingga aku melompat-lompat diatas kasurku kegirangan. Sampai tak lama seorang suster datang mengagetkanku.

 

 

 

 

 

5 May 2014

 

Ulang tahun namja yang sekarang sudah menginjak usia 17 tahun. Bertambah dewasanya dia, aku berharap kebiasaanya yang membuatku gemas tidak akan menghilang nantinya.

 

Aku sudah menggenggam kado berisikan sebuah handuk kecil bertuliskan “Bambam” yang aku buat sendiri. Aku mengingat ketika Bambam mengatakan bahwa ia menyukai hasil karya tanganku, apalagi coklat valentine yang selalu aku buat padanya. Aku meletakkan kado itu di dalam lokerku dan akan memberikan kepada Bambam sepulang sekolah nanti, pada jam latihan basketnya akan dimulai.

 

 

 

Namun ketika pulang sekolah tiba, kado itu sudah hilang dari lokerku. Mencarinya pun hanya sia-sia. Aku tidak tahu dimana lagi tempat aku berada sejak tadi pagi selain dikelas-banyak tugas yang harus ku selesaikan sehingga tidak bisa kemana-kemana.

 

Aku melangkahkan kakiku gontai, karena justru menemukan Bambam sedang berdiri memandangi langit di tempat biasa kami sering bertemu. Aku bingung, harus memberikan alasan seperti apa agar Bambam tidak kecewa akan janjiku yang tidak bisa aku tepati. Ia tersenyum padaku ketika aku sudah tepat berada disampingnya. Namun aku tidak mengindahkan senyum itu dan menunduk agar tidak melihatnya.

 

“Maaf… Aku tidak dapat menepati janjiku. Kado yang ku simpan diloker untukmu, sudah tidak ada ketika aku ingin mengambilnya lagi”

 

Bambam hanya diam sejak tadi. Tidak tahu apakah dia kecewa atau tidak peduli. Tapi aku melirik dari sirat wajahnya yang berubah seketika aku mengatakan hal tadi, membuat tangisanku ingin pecah kala itu juga.

 

 

Tiba-tiba Bambam memegang pundakku. Mengangkat wajahku untuk menatapnya. Ia melihat air mata yang baru saja jatuh bebas dari mataku. Mengernyit heran dan menatapku tajam. Tapi tak lama setelahnya, ia mengukir senyum manis itu dan menghapus jejak air mata di pipiku.

 

“Tidak apa. Kau mengingatnya saja aku sudah senang”

 

“Tapi, karena kau sudah berjanji, kau harus tetap memberikan hadiah padaku”

 

Ia mulai mendekatkan wajahnya padaku, membuat jantungku seakan berlari ketika menangkap manik coklatnya. Lama tidak bersamanya, aku menemukan bahwa Bambam yang dulu berbeda dengan Bambam yang sekarang. Bukan lagi Bambam yang berkeinginan besar akan sebuah hadiah. Bukan lagi Bambam yang bingung dalam berkata-kata. Bukan lagi Bambam yang tidak dikenal banyak orang. Dan Bukan lagi menjadi Bambam yang polos dan ketika berpikir dan bertindak. Ia sedang mencium bibirku. Aku terkejut namun tidak mampu bergerak melihat Bambam menutup matanya dengan tenang. Bambam Membiarkannya menyatu beberapa saat sampai akhirnya ia melepaskan kembali.

 

 

“Aku ingin hadiahku, yaitu menjadi kekasihmu”

 

 

Fin

Ah!!!!!!!! Finally well done!

Ini mengalir gitu aja sejak ngeliat banyak foto Bambam hampir semua isinya cute >_<

Semoga isinya sesuai sama genre (?)

 

And Bambam’s for Love! 😀


16 thoughts on “Bambam

  1. Bambamm~ aku juga mau:3 gila si polos bambam buang aku yang baca jadi melayang. Kata katanya itu buat aku terhanyut dalam ceritanya

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s