[FF Freelance] Decorate

decorate-poster

Title: DECORATE

| RATING: PG-15 |

| GENRE: Drama, Slight!Angst |

| LENGTH: Vignette |

| MAIN CAST: Huang Zitao (EXO-M), Mengjia (Miss A) |

*

DISCLAIMER: Plot&Storyline original by beautywolfff®

*

SUMMARY:

So you decided to see me out of the blue

Should I let you come over

I think you’re doing fine

That girl in your arms does she know, where you come from?

***

P.S: try to read this ff and listen to the music: YUNA-DECORATE//for the stronger feels.

Mengjia tidak pernah mengira bahwa suatu saat, laki-laki bermata tajam bernama Zitao itu akan menjadi salah satu bagian terpenting dalam hidupnya.

Mengjia bertemu dengannya untuk pertama kali di dalam sebuah kereta, di masa-masa saat ia masih berada di tingkat Sekolah Menengah. Saat itu keadaan kereta benar-benar penuh sesak dengan orang-orang yang saling berebutan untuk masuk ke dalamnya. Mengjia mungkin saja jatuh terdorong jika sebuah tangan tidak menyelamatkan dirinya dan menariknya keluar.

Di name tag yang terpasang di dada kanannya, terukir sebuah nama: Huang Zi Tao. Belum sempat Mengjia mengucapkan terimakasihnya, ia sudah pergi begitu saja.

Dan Mengjia berjanji dalam hati, ia akan terus mengingat nama laki-laki itu.

Tidak butuh waktu yang lama, mereka bertemu lagi tepat esok harinya. Semua karena Zitao ternyata dikenalkan sebagai murid baru di sekolahnya.Mata Mengjia membulat lebar sekali saat melihat Zitao berjalan santai menuju kursi kosong yang berada di sebelahnya.

Dari situ, kisah mereka dimulai.

Begitulah awalnya. Oh, mungkin kau akan langsung berpikir bahwa pertemuan pertama mereka—ugh, so cliché.

Memang—kalau boleh dikatakan, pertemuan mereka memang sedikit klise dan sudah terlalu sering diperagakan di dalam drama-drama yang sedang menjamur sekarang. Dengan sedikit musik pengiring dan slow motion di sana-sini, BAM! Jadilah suatu pertemuan dramatis yang akan mengikat kedua tokoh utamanya hingga berakhir dengan happily ever after.

Tapi tidak untuk Mengjia dan Zitao.

Mengjia tentu saja masih mengingat rasa sakit itu.

Saat itu bulan Agustus, musim gugur baru saja tiba, dan tetap saja Mengjia tidak peduli.

Ia membenci musim gugur. Tepatnya—ia membenci semua yang ada pada hidupnya, termasuk semua rutinitas dan kebiasaan yang membuatnya muak.

Dirapatkannya lagi coat krem yang sedang ia kenakan. Terdengar suara yang sedikit mengganggu seiring dengan ia berjalan dari derap sepatu hak yang sedang ia pakai. Rambut panjangnya yang indah itu ikut bergoyang pelan ditiup angin musim gugur. Sejauh mata memandang, yang bisa Mengjia lihat hanyalah pohon-pohon di sisi kanan dan kiri yang berubah warna menjadi merah atau kuning, sementara jalanan sudah dipenuhi oleh dedaunan yang jatuh berguguran ke tanah.

Kedua bola mata Mengjia menangkap sepasang kekasih yang sedang berjalan dua langkah di depannya. Mereka terlihat bahagia dengan tawa yang menggema dan masuk melalui gendang telinganya. Sesekali mereka saling menggoda dengan menggelitik perut satu dengan yang lainnya.

Uh, please. Gross.

Mengjia tidak peduli dengan semua yang berada di sekitarnya. Yang ia inginkan sekarang hanyalah pulang ke rumah.

Sekitar sepuluh menit ia berjalan, tibalah ia di depan sebuah rumah minimalis dengan dominasi warna netral hitam dan putih. Warna kesukaan Zitao—Mengjia tersenyum miris. Digesernya pelan pintu pagar dan ditutupnya kembali dengan hati-hati. Rumah ini selalu mengingatkannya pada laki-laki itu karena hampir semua yang ada di dalamnya berhubungan dengan Zitao. Ia selalu menyukai suasana di dalam rumah kecilnya itu.

Tetapi kini tidak lagi—tepat setelah Zitao pergi meninggalkannya. Untuk… entahlah. Ia juga tidak tahu.

Mengjia kembali melangkah lurus masuk ke pekarangan. Langkahnya terasa berat. Sudah berbulan-bulan ia tidak kembali ke sini. Ia tidak ingin kembali, tetapi hari ini pengecualian. Entah mengapa keinginannya untuk datang begitu kuat. Mungkin karena ini tanggal dua belas?

Saat baru saja ia hendak melepaskan alas kakinya, terdengar suara seseorang memanggil namanya.

“Mengjia?

Seketika itu juga gerakannya terhenti. Tubuhnya membeku secara refleks.

 

Suara itu—

Ya Tuhan, tentu saja ia belum melupakannya! Suara yang sedikit serak dengan logat Korea yang kaku. Siapa lagi kalau bukan laki-laki yang selama ini Mengjia tunggu kedatangannya?

“Z-zitao?”

Suaranya bergetar hebat. Dengan takut-takut, Mengjia berusaha memberanikan diri untuk menolehkan kepalanya ke arah sang pemilik suara.

Perkiraannya benar.

Kali ini seseorang itu sedang berdiri santai dengan pandangan mata tajamnya yang biasa. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku. Rambut pirangnya yang acak-acakan masih tetap tidak berubah, masih sama. Piercing perak di telinga kanannya pun masih ada.

Ia masih Zitao yang sama saat terakhir kali Mengjia melihat wajahnya. Bedanya kini ia lebih terlihat dewasa. Sial.

“Kau masih tinggal disini rupanya.” Zitao terlihat senang. Perlahan-lahan ia mulai melangkah mendekat ke arah Mengjia. “Kukira kau sudah lama pergi meninggalkan Seoul…Aku mencarimu, tetapi kau tidak bisa kutemukan dimanapun. Rumah ini juga sering kosong.”

“Uh, tidak, aku—“

“Maafkan aku, Mengjia. Aku tidak benar-benar bermaksud untuk menyuruhmu pergi. Saat itu, aku hanya…tidak tahu harus berbuat apa.”

Saat ini, Zitao hanya memakai kemeja putih polos yang dipadukan dengan celana panjang berwarna hitam. Aroma mint menguar lembut dari tubuhnya seiring dengan mengecilnya jarak di antara mereka. Ekspresi wajahnya menyiratkan penyesalan yang amat dalam. Mengjia mulai merasakan degup jantungnya yang berdetak semakin cepat.

Mengjia berusaha mengontrol dirinya dengan mengingatkan pada dirinya sendiri: laki-laki ini brengsek, Mengjia. Kau harus berhati-hati.

“Yeah.” Mengjia hanya merespon seadanya. “Aku memang jarang ada dirumah. Dan…mengenai masalah itu. Ah, lupakan saja. Itu sudah lama berlalu.”

Pikirannya kembali melayang ke masa lalu, tepat di saat laki-laki di depannya ini masih menjadi seseorang yang penting untuknya. Saat itu mereka sedang bertengkar hebat, dan tanpa diduga, Zitao melontarkan kata-kata kasar yang bahkan tidak pernah terlintas sedikitpun dalam benak Mengjia.

‘Pergilah jauh-jauh! Aku tidak butuh kau, Mengjia. Kau sama saja seperti orang-orang bodoh di sekitarku yang terus saja menasihatiku dengan kata-kata yang tidak berguna!’

Itu benar-benar kalimat yang menyakitkan, bukan?

Almost made me move out of town

You don’t want me to be around

But I stayed anyway, just in case.

 

Finding reasons to hate you, more than before

Like how you said you would call, but never at all

Got rid of your number, that I know by heart

 

You left your things at my place

As if I have all the space

But you know I don’t mind

 

Just come back when you think it’s time

“Bagaimana kabarmu?” Zitao kembali melanjutkan kalimatnya, membuat Mengjia kembali sadar dari nostalgia lamanya. Ia baru menyadari betapa dekat jarak mereka berdua sekarang. Aroma dari tubuhnya semakin kuat merasuk ke dalam hidung Mengjia.

Kini mereka sedang berdiri berhadap-hadapan satu sama lain.

“Baik.” Mengjia menjawab singkat. Ia berusaha menahan emosi yang bergolak dalam dirinya. “Ada apa tiba-tiba kau datang..”

“Ah iya, aku lupa. Kau pasti terkejut melihatku.” Zitao terkekeh. “Aku hanya ingin datang saja…Kau tahu, terkadang aku masih merindukan rumah ini, jadi aku sering melewatinya sepulang kerja. Dan kali ini, saat melihat gerbangnya terbuka, aku memutuskan untuk masuk. Ternyata ada kau disini.”

“Um, senang bertemu denganmu.” Mengjia berusaha membangun kembali percakapannya dengan Zitao.  “Kau terlihat amat baik.”

Jika Mengjia mengatakan ia membenci Zitao, sama saja dengan membohongi perasaannya sendiri. Karena kenyataannya berbalik seratus delapan puluh derajat. Tentu saja tidak. Ia masih mengingat semua tentang Zitao hingga detail terkecilnya.

Bahkan kalau boleh jujur, hati kecilnya masih berharap. Paling tidak ia masih berharap Zitao akan menyadari kesalahannya dan mengerti sedikit demi sedikit bahwa Mengjia adalah satu-satunya orang yang pantas menjadi berada di sisinya.

“Tentu saja aku datang kembali, Mengjia. Sudah dua tahun kita tidak bertemu.” Zitao membalas dengan senyum lebar. “And yes, I’m perfectly fine. Don’t worry.

 

Tentu saja Mengjia masih mencintai laki-laki itu. Dua tahun itu bukan apa-apa.

Good.” Mengjia membalas dengan gumaman kecil.

“Oh ya, Mengjia.”

Saat Zitao memanggil namanya untuk yang kesekian kali, ia merasakan sedikit sensasi menyenangkan yang membuatnya ingin mendengar suara Zitao lagi dan lagi.

“Aku mau memberimu ini. Kebetulan sekali bukan kita bertemu?”

Ia mengambil sesuatu dari kantongnya dan menyerahkannya pada Mengjia. Sebuah kertas bertekstur halus, berwarna biru toska, dengan hiasan renda dan bunga-bunga di sekelilingnya.

‘The Wedding.

Zitao & Victoria.’

Mengjia tidak pernah mengira hari seperti ini akan datang.

Seketika juga harapannya pupus bersamaan dengan daun-daun musim gugur.

Apa kau mengetahui bagaimana rasa sakitnya melihat laki-laki yang kau sayangi meninggalkanmu begitu saja, tanpa alasan. Dan saat ia baru saja kembali, ternyata ia akan menikahi orang lain?

Wow, hidupku benar-benar penuh drama.

“Aku merindukanmu, Mengjia. I miss our talks and jokes. Kuharap kau datang. Aku pasti akan sangat senang melihatmu disana. Sebenarnya aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu lagi.” Zitao kembali berbicara setelah melihat respon Mengjia yang hanya terdiam lama. “Kukira kau sudah membenciku.”

Mengjia tetap diam. Matanya tidak lepas dari undangan yang berada di genggaman tangannya. Berusaha memastikan bahwa ini semua nyata.

Membencimu, katanya? Apa dia selalu sebodoh ini?

“Uh, Mengjia?” Zitao memanggil namanya sekali lagi. Mungkin ia merasa bingung melihat Mengjia yang tidak mengindahkan kalimatnya dan terlihat sibuk dalam dunianya sendiri.

“Aku sudah menceritakan tentangmu padanya—pada Victoria, maksudku. Dan ia berkata ia ingin bertemu denganmu. Kau akan datang kan?”

Pertemuan-pertemuan klise layaknya salah satu adegan dalam drama picisan tidak selalu berakhir dengan happy ending, sayang. Lihat saja aku.

Dan inilah salah satu alasan mengapa aku tidak pernah menyukai musim gugur.

“Tentu saja.” Mengjia berusaha menguatkan diri dengan senyuman terpaksa. “Datanglah lagi kapan-kapan jika kau merindukan tempat ini. Rumah ini memang kudekorasikan khusus untukmu, kan. Aku juga merindukanmu.” Mengjia terdiam sebentar untuk menarik napas. Dadanya sesak.

“Selamat atas pernikahanmu, Zitao. Victoria benar-benar perempuan yang beruntung.”

***

I’m all black and white inside

Monotonous from left to right

I decorate my house with things you love

Just in case you show up

In case you show up

 

-Decorate, by Yuna.

FIN

 

I made it special for my partner in crime, Gita as a tao-jia shipper.

Ok the ending is kinda frustatin, but I hope you liked it anyway xoxoxoxoxo.

Leave a comment, maybe?

Visit: http://beautywolfff.wordpress.com for another stories:D

 

Advertisements

7 thoughts on “[FF Freelance] Decorate

  1. Oh God, I’ve been craving for time to time.. susahbanget nyari ff yg jia jadi maincast nya, dan akhirnya baca disini. Great story line, tapi sayang jianya miris. ᄏᄏ overall keren thor.

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s