[FF Freelance] The Eye (Chapter 1)

the eye poster

Title: The Eye (Chapter I)

Author: Itaki

Rating: PG-17

Length: Two-Shot / Chaptered

Genre: Life, Psycho

Cast: Park Bom (2NE1), Lee Seunghyun a.k.a Seungri (BIG BANG), Lee Chaerin (2NE1), Choi Seunghun a.k.a T.O.P (BIG BANG)

Disclaimer: FF ini ber-rating PG-17, harap membaca cerita sesuai dengan umur kalian. Author tidak akan bertanggung jawab untuk kejadian yang terjadi jika yang di bawah umur membaca FF ini. Jangan lupa meninggalkan komentar, no silent readers! Enjoy!

 

 

Chapter I

Seorang gadis dengan wajah asia yang disapu dengan make up tipis menghela napas berat dengan mata terpejam. Ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi yang empuk, kursi tempat ia biasa mengerjakan tugasnya sebagai jurnalis. Ya, gadis itu –masih- berada di kantornya. Jam dinding yang tak pernah berhenti bergerak sudah menunjukkan hampir pukul sebelas malam.

“Kau tidak pulang?” tanya seseorang yang baru saja memasuki ruang kerja yang berukuran 3×4 meter itu.

Gadis berwajah asia tadi membuka matanya. “Ah, kau…” ujar gadis itu pelan. Ia menegakkan duduknya. Pria yang baru saja masuk tadi menggeser kursi kosong ke arah meja sang gadis lalu duduk di sana, menatap sang gadis dengan pandangan seolah-olah ia siap mendengarkan semua keluh kesah sang gadis.

“Aku tidak apa-apa,” tukas si gadis.

“Ayolah, aku tahu si Pendek baru saja mengomelimu,” sergah si pria. “Ceritakan padaku.”

“Aku benar-benar tidak apa-apa.” Sang gadis bersikeras.

“Hei Park Bom, kau pikir aku tidak mengenalimu, hah?” Seungri tertawa.

Hening. Hanya suara detakan jam dinding yang memenuhi ruangan untuk beberapa saat.

“Ia membuang semua kerja kerasku…” Bom mulai bersuara, pelan. Seungri diam menyimak.

“Aku sudah berusaha sekuat tenagaku untuk apa yang selama ini aku kerjakan. Aku hampir kehilangan kewarasanku karena memikirkan ide gila untuk proyek yang aku kerjakan, bahkan aku hampir kehilangan nyawaku karena hampir melakukan ide gila itu. Tapi apa? Ia membuang semua hasil kerja kerasku, di hadapanku!” Tiba-tiba Bom merasa dadanya sesak. Matanya sudah berair. “Ia bahkan mencaci makiku, dan mengatakan bahwa semua hasil kerjaku adalah hasil curian dari orang lain. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang sialan itu inginkan.”

“Astaga, kenapa kau tidak memberitahuku tentang hal ini dari tadi?” tanya Seungri terkejut. Bom memang kerap dipanggil oleh bos mereka, Taeyang –yang lebih sering disebut si Pendek. Tapi kali ini Seungri tidak tahu kalau bos mereka berani melakukan hal yang menurutnya di luar batas kewajaran.

Bom hanya menggeleng. Air matanya sudah membasahi kedua pipinya. Seungri bangkit dari duduknya, menghampiri Bom dan merengkuhnya. “Tenanglah…”

***

Sudah seminggu ini Bom pulang cepat dari tempat kerjanya. Taeyang menghukumnya dengan tidak memberikan pekerjaan apapun padanya, yang artinya ia tidak akan mendapatkan gaji full bulan ini. Gaji bulanannya saja hanya bisa menghidupi Bom tidak sampai sebulan, bagaimana jika sampai dipotong? Bom tidak tahu apa yang harus ia makan bulan depan yang tinggal seminggu lagi. Apakah ia harus mengemis? Bom tersenyum pahit.

“Hei.” Seseorang menepuk pundaknya. Bom sudah familiar dengan suara khasnya, Seungri.

“Hei,” Bom balik menyapa. Seungri mendaratkan lengannya pada pundak Bom, merangkulnya.

“Kau pulang cepat hari ini?” tanya Bom. Langkah kaki mereka bergerak bersama.

Ne, aku meminta pulang cepat hari ini.”

Bom tertawa. “Kau yakin si Pendek itu memberimu izin untuk pulang cepat?”

“Tentu saja dia harus memberiku izin! Sudah hampir seminggu ini aku kerja lembur, kau tahu. Jika ia tidak memberiku izin, ia harus membayarnya.” Keduanya tertawa.

“Apa kau lapar?” tanya Seungri saat mereka sampai di halte bis.

“Aku tidak terlalu lapar, aku bisa makan di rumah. Ada yang harus kukerjakan sekarang.”

“Wah, apa kau punya pekerjaan baru? Kenapa kau tidak memberitahuku?” Seungri menyikut pelan lengan Bom.

“Aku belum mendapatkan pekerjaan baru, masih mencarinya. Sudah beberapa hari ini aku menghubungi setiap tempat kerja yang memasang iklan lowongan kerja mereka dikoran tapi belum ada hasil. Kurasa aku harus berusaha lebih giat.”

Seungri menggelengkan kepalanya, merasa takjub dengan gadis yang ada di sebelahnya. Gadis yang seharusnya menjadi kekasihnya tiga tahun yang lalu. Seungri sempat menggilai Bom dan memintanya untuk menjadi kekasihnya tiga tahun yang lalu, tapi Bom menolak. Beruntungnya, setelah kejadian itu hubungan mereka semakin dekat. Seungri tidak terlalu menyesal dengan penolakan Bom yang mengantarkan ia hingga bisa sedekat ini dengan Bom.

“Apa kau butuh bantuanku?” Seungri menawarkan bantuan. Bom menggeleng.

“Aku bisa membantumu saat weekend. Aku punya banyak waktu luang. Kurasa aku juga bisa meminta bantuan pada kerabatku di Gwangju untuk mencarikanmu pekerjaan. Kerabatku kenal dengan beberapa pengusaha.”

Bom kembali menggeleng. Ia tersenyum. “Ani, aku bisa mencarinya sendiri.”

“Ah, selama ini aku selalu penasaran denganmu,” ujar Bom saat bis yang mereka tunggu belum juga muncul. Tempat tinggal mereka satu arah.

“Kau penasaran denganku? Benarkah?” tanya Seungri cukup terkejut. Selama ini Bom tidak pernah memperlihatkan ketertarikan padanya.

Bom mengangguk. “Kenapa kau bekerja pada Taeyang? Bukankah kau orang kaya?”

“Kau tidak pernah menggunakan mobilmu, kau juga berpakaian sederhana seperti ini padahal rumahmu mewah. Kenapa?” Bom membenarkan beberapa anak rambutnya yang menutupi wajahnya karena hembusan angin sore cukup kencang.

“Kenapa? Apa orang kaya sepertiku tidak boleh melakukannya?” Seungri balik bertanya.

“Bukan seperti itu. Aku hanya penasaran. Jika aku adalah kau, aku tidak akan bersusah payah bekerja pada sialan itu dan hidup enak dengan apa yang kupunya. Kenapa kau bersusah payah membuat dirimu susah?”

“Apa kau iri denganku? Kau bisa tinggal bersamaku kalau kau mau.” Seungri tersenyum nakal yang dibuat-buat sambil mengedipkan sebelah matanya.

“Ya!” Bom memukul keras lengan Seungri.

“Aaah! Aku hanya bercanda!” Seungri meringis seolah-olah itu adalah pukulan paling kuat yang pernah ia terima. Dengan cepat Bom mengusap lengan Seungri. “Mian, mian!”

“Jadi, kenapa kau bersusah payah?” Bom mengulang pertanyaannya.

“Aku hanya ingin hidup mandiri. Kau tahu, seseorang tidak akan berada pada satu situasi yang sama selama hidup mereka. Hidup ini selalu berputar. Mungkin suatu saat nanti aku akan merasakan situasi yang sangat buruk. Aku hanya mempersiapkannya dari sekarang.”

Bom tertegun mendengar jawaban Seungri. Ia tidak menyangka bahwa Seungri berpikiran jauh lebih dewasa darinya. Kebanyakan orang tidak akan berpikiran seperti Seungri. Biasanya mereka hanya menjalankan hidup yang sudah ada tanpa memikirkan situasi terburuk. Bahkan tidak sedikit di antara mereka yang masih haus dengan harta dan melakukan hal-hal yang tidak patut ditiru untuk memuaskan hasrat mereka. Jawaban Seungri tadi berhasil membuat perasaan Bom sadar.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Seungri, membuyarkan pikiran Bom. Bom sedikit bingung lalu menggeleng. “Aku tidak apa-apa.”

“Bisnya sudah datang.” Seungri kembali merangkul Bom saat mereka ingin menaiki bis. Tapi entah kenapa Bom melepaskan tangan Seungri dan memutar tubuhnya cepat, melihat sekelilingnya. Ia merasakan sejak tadi seseorang menatapnya dari seberang.

***

Bom menghela napasnya berat dengan amplop cokelat berisi gajinya bulan ini. Tidak perlu membukanya, Bom sudah tahu gajinya tidak akan cukup menghidupinya selama sebulan ke depan. Bahkan tidak akan cukup menghidupinya untuk dua minggu ke depan. Ia masih belum mendapatkan pekerjaan. Langkahnya gontai menuju ruang kerjanya.

“Hei.” Seungri. Sudah cukup lama ia berada di ruang kerja Bom.

“Hei…” ucap Bom pelan. Ia benar-benar tidak bertenaga hari ini.

“Bukankah kau baru saja mendapatkan gajimu? Kenapa kau tidak bersemangat?” Seungri berusaha menghibur Bom tapi kemudian ia teringat sesuatu. “Ah, si Pendek itu pasti memotong gajimu…” ujarnya pelan. Ia merasa bersalah pada Bom.

“Apa kau ingin keluar? Apa kau ingin minum?” tawar Seungri.

Aku bahkan tidak akan mampu membeli tiga botol bir dari gajiku. “Tidak, aku akan langsung pulang.” Bom membereskan tasnya.

“Aku yang traktir,” ujar Seungri lagi. Bom tetap membereskan tas dan barang-barangnya sambil menggeleng.

“Ya, kau butuh sesuatu untuk menyegarkan kepalamu.”

Bom berhenti. Ia melipat tangannya di depan dada. Menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Hanya itu yang ia lakukan.

“Ikutlah denganku,” ujar Seungri kemudian. Ia mengambil tas Bom dan menarik pergelangan tangan Bom, mengajaknya keluar dari sana.

***

Dentuman musik yang keras masih terasa di ruangan yang di sewa oleh Seungri untuk menenangkan Bom di sebuah club yang tak jauh dari rumahnya. Sepertinya pengedap suaranya tidak berfungsi maksimal. Bom sudah tidak sadar. Ia sudah menelan hampir enam botol malam ini. Mulutnya terus menceracau dari tadi. Seungri hanya diam.

“Bruk.” Kepala Bom membentur meja. Kepalanya tertunduk. Bom tidak bergerak. Sepertinya tenaganya benar-benar sudah habis. Seungri yang duduk di seberangnya bangkit, pindah ke sebelah Bom. Ia menggoyangkan tubuh Bom. Bom benar-benar tidak berkutik.

Dengan pelan Seungri mengangkat kepala Bom, menempatkannya dibahunya. Keduanya kini menyandar pada sofa. Sudah tiga jam mereka berada di ruangan ini, sudah tiga jam pula Seungri mendengar ocehan Bom tentang masalahnya. Seungri merasa tidak keberatan sama sekali untuk mendengarkan semua cerita Bom, semua kepedihannya, menyewa ruangan mahal di sebuah club ternama dan semua yang ada di ruangan itu, makanan dan minuman. Itu semua untuk Bom, dan ia tidak menyesal. Sama sekali.

“Bom-ah…” ujar Seungri.

“Aku tidak tahu sampai kapan kau akan bertahan dengan situasi seperti ini.” Seungri tahu Bom tidak akan mendengar apa yang ia katakan tapi ia terus berbicara.

“Kenapa kau tidak menyerah saja? Pada situasi seperti ini menyerah adalah satu-satunya hal yang paling mudah yang bisa kau lakukan. Menyerahlah. Apa kau tidak lelah?”

Seungri memandangi wajah Bom yang kemerahan efek dari alkohol. Wajahnya tetap cantik seperti biasanya dalam keadaan apapun, meskipun dalam keadaan mabuk seperti ini. Bahkan bagi Seungri wajah Bom malam ini lebih cantik, karena ia terlihat sudah meluapkan semua masalah dan terlelap seperti seorang putri.

Sesekali Seungri mengelus pipi Bom. Ia menyingkap beberapa helai rambut yang menutupi wajah Bom. Perlahan, Seungri semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Bom. Ia mengamati wajah Bom sambil meresapi kecantikan di hadapannya. Seungri mengelus bibir Bom pelan. Saat bibir Seungri hampir menyentuh bibir Bom, Bom bergerak dalam tidurnya. Kepalanya merosot ke pangkuan Seungri.

Seungri tertawa. “Lihatlah, bahkan kau tetap menolakku meski dalam keadaan tidak sadar…”

***

Sinar matahari pagi menyilaukan Bom yang masih terlelap. Ia membuka matanya lalu mengedipkannya beberapa kali sampai pengelihatannya tidak buram. Bom berada di kamar tidur yang besar, bahkan lebih besar dari rumah lusuh yang ia sewa. Semua perabot dalam ruangan terlihat mahal. Bom memaksa tubuhnya untuk berada di posisi duduk meskipun kepalanya terlihat menentang. Efek alkohol semalam masih menyisakan pening dan mual pada dirinya.

Di mana ini? Bom sangat tidak familiar dengan tempat ini. Ia melempar pandangan ke seluruh ruangan, mengamati semua benda yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Kecuali satu. Ia melihat Seungri tidur nyenyak di sofa yang tak jauh darinya. Wajahnya terlihat lelah. Bom paham. Ia sedang berada di kamar tidur Seungri.

Bom tidak pernah singgah ke rumah Seungri meskipun Seungri berkali-kali memintanya. Ia merasa tidak nyaman jika harus singgah ke rumah orang lain jika rumahnya sendiri terlihat seperti tidak terurus. Mungkin karena Bom tidak pernah bertamu ke rumah Seungri, Seungri memutuskan untuk bertamu ke rumah Bom. Bom sempat kaget saat melihat Seungri yang tiba-tiba sudah berdiri di depan rumahnya dengan senyum lebar, seperti seorang anak yang tertangkap tangan oleh ibunya ketika memakan manisan terlalu banyak.

Ia sempat kalang kabut kenapa Seungri sampai bisa menemukan rumahnya. Ia lupa kalau Seungri yang mengurusi data diri seluruh karyawan di kantor mereka. Dengan terpaksa Bom mempersilakan Seungri masuk saat itu. Bom takut Seungri akan merasa jijik jika masuk ke dalam rumahnya, mengingat rumah Seungri sangat berbeda jauh dari rumahnya. Tapi tidak, Seungri sama sekali tidak terlihat jijik ataupun risih. Ia terlihat sangat senang bisa bertamu di rumah Bom.

“Kau sudah bangun?” tanya Seungri yang baru saja membuka matanya saat Bom berusaha turun dari kasur. Seungri langsung menghampiri Bom, membantu memapahnya untuk berdiri.

“Sebaiknya kau tidak melakukan sesuatu dulu. Kepalamu pasti masih sakit.”

“Aku harus segera kembali ke rumah.” Bom mencari tasnya dan menemukannya tak lama kemudian.

“Tidak, kau harus memakan sesuatu. Perutmu pasti kosong. Kau memuntahkan semua yang kau telan tadi malam.”

“Aku akan makan di rumah. Aku harus pulang sekarang.”

“Baiklah, aku akan mengantarmu.” Seungri meraih coat dan kunci mobilnya.

“Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri. Terima kasih untuk traktiran dan membiarkanku tidur di tempatmu.” Bom merapikan pakaiannya yang terlihat berantakan dengan bau alkohol yang menyengat. “Apa tadi malam aku mengatakan sesuatu yang buruk?” tanya Bom. Biasanya ia suka mengatakan hal buruk dalam keadaan mabuk.

“Tentu saja. Kau terus mencaci Taeyang selama hampir dua jam. Tenang saja, rahasiamu aman denganku.” Keduanya tertawa. “Aku antar kau sampai ke luar.”

***

Bom merapatkan coatnya. Entah kenapa pagi ini udara terasa cukup dingin baginya. Mungkin ia sedang tidak enak badan. Jarak rumahnya dari rumah Seungri cukup jauh jika ditempuh dengan jalan kaki. Ia harus melewati gang-gang kecil yang kumuh untuk sampai ke rumah sewaannya. Bom tidak akan sanggup untuk menyewa rumah lebih dari yang ia sewa sekarang. Biaya sewa rumah sangat mahal terutama di Seoul. Seoul sudah menjadi pusat perhatian bagi beberapa negara lain saat ini, sehingga semua yang ada di Seoul mempunyai harganya masing-masing yang tentu saja tidak murah.

Langkah Bom memasuki gang kumuh yang setiap hari ia lewati. Tiba-tiba langkahnya terhenti. Ia merasa sejak tadi seseorang mengikutinya. Bom menoleh ke belakang. Ia tidak melihat satu orang pun di belakangnya. Daerah sekitar gang kumuh memang selalu sepi. Beruntungnya jika ia pulang larut malam setelah bekerja, ia ditemani beberapa pasangan tua yang selesai dengan kegiatan mereka dari pasar.

Bom memfokuskan kembali pikirannya setelah rasa pening kembali berdenyut dikepalanya. Ia melangkahkan kakinya. Jalannya sedikit dipercepat. Ia masih harus menempuh jarak yang cukup jauh untuk keluar dari gang kumuh yang menghubungkan jalan besar ke kawasan rumah sewanya.

“Krek.” Bom mendengar dengan jelas seseorang menginjak sesuatu dari arah belakangnya. Langkah Bom kembali terhenti. Ia ragu apakah harus menoleh atau kembali melanjutkan langkahnya. Bom memejamkan matanya, ia memutuskan untuk tidak memedulikan suara yang baru saja ia dengar. Langkahnya semakin cepat. Semakin cepat Bom melangkah, semakin cepat pula ia mendengar derapan langkah kaki di belakangnya.

Bom berhenti. Ia benar-benar tidak tahan. Dengan cepat ia memutar tubuhnya untuk melihat apa yang sebenarnya mengikutinya sejak tadi. Jantung Bom berdegup semakin cepat saat perkiraannya tentang dirinya yang dibuntuti oleh seseorang tidak meleset. Ia memang dibuntuti.

Beberapa meter darinya, berdiri seorang pria yang cukup tinggi dengan wajah tidak terlihat. Pria itu mengenakan jaket hitam panjang dengan kupluk menutupi kepalanya. Wajahnya tidak terlihat karena ia menggunakan topi dan bagian sekitar dagu dan mulut ditutupi oleh kerah jaket yang sengaja diangkat. Pria itu mendunduk. Pikiran Bom kacau. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Apakah ia harus berlari? Atau memberanikan diri untuk menanyakan kenapa pria itu membuntutinya?

“Siapa kau? Kenapa kau membuntutiku?” tanya Bom setelah mengumpulkan keberaniannya.

Tidak ada jawaban. Pria tadi hanya diam. Bom berusaha melihat wajah pria yang berdiri tak jauh darinya. Beberapa helai rambut menutupi bagian mata pria tadi sehingga sulit bagi Bom untuk mengenalinya. Yang terlihat jelas hanya hidungnya yang terlihat kokoh, seperti tubuhnya yang tinggi.

Keduanya masih berdiri menghadap satu sama lain. Tidak ada yang bersuara. Bom masih memerhatikan wajah pria tadi, berusaha mengenalinya. Saat Bom sedang berkonsetrasi dengan matanya, kepalanya terasa dihantam sesuatu. Ia memejamkan matanya. Ternyata efek alkohol semalam masih bereaksi dikepalanya. Pusing kembali menyerang. Tubuh Bom terhuyung tapi dengan cepat ia menjaga keseimbangan tubuhnya. Tolong, jangan sekarang… Bom memegangi kepalanya. Ia harus pergi dari sini sekarang atau tubuhnya mungkin saja terjembab di hadapan pria yang membuntutinya dan ia tidak akan tahu apa yang akan terjadi seterusnya.

Bom mengerjapkan matanya, mencoba mengumpulkan kesadarannya saat rasa sakit dikepalanya semakin menjadi. Samar-samar ia melihat pria di hadapannya berjalan mendekat. Tidak, jangan! Bom-ah, kau harus lari sekarang! Bom benar-benar tidak bisa menahan rasa sakit yang sangat kuat berdenyut dikepalanya. Ia terhuyung, bersiap menerima hantaman jalanan yang pasti akan membekukan tubuhnya serta membiarkan dirinya jatuh ketangan penguntit yang sejak tadi mengikutinya. Tapi tunggu, ia tidak merasakan tubuhnya menghantam jalan.

Bom membuka matanya dan mendapati seseorang memegangi kedua lengannya, mencegahnya agar tidak jatuh. Pandangan mata Bom beralih dari tangan kekar yang memegangi kedua lengannya ke si pemilik tangan. Bom bisa merasakan jantungnya berdegup sangat kencang ketika menyadari pria yang membuntutinya tadi kini berada tepat di hadapannya, memegangi kedua lengannya.

Tubuh Bom sedikit bergetar, lututnya terasa lemas. Mulutnya kelu. Bola mata Bom membulat, memancarkan ketakutan yang sangat besar. Kini ia bisa melihat separuh wajah pria yang ada di hadapannya. Mata pria tadi sangat tajam, seperti kilatan pedang yang cukup memangkas hampir seluruh keberanian Bom. Terdapat bekas luka sayatan pada mata sebelah kanan pria tadi. Entah kenapa Bom merasa ia sedang berhadapan dengan seorang pembunuh keji saat ini. Lututnya bergetar semakin keras.

Hati-hati…” ujar pria di hadapannya lalu melepaskan cengkraman tangannya dari lengan Bom. Suara pria tadi seakan menusuk telinga Bom, suara yang sangat berat dan menyiratkan suatu peringatan pada Bom. Mungkinkah pria itu akan kembali lagi mencarinya? Bom tidak dapat berpikir saat ini. Dengan sisa keberanian yang hampir tersapu habis, ia mengerahkan semua tenaganya untuk mundur beberapa langkah, memutar tubuhnya dan berlari secepat mungkin.

***

Hari sudah gelap saat Bom selesai berkutat dengan koran-koran yang penuh dengan coretan dibagian iklan lowongan pekerjaan. Seharian ini Bom mengurung diri di rumahnya, menghubungi pihak-pihak perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja. Dan lagi-lagi usahanya tidak membuahkan hasil. Ada beberapa perusahaan yang nyaris menerimanya tapi harapannya kandas begitu ia ditanyai perihal menguasai bahasa asing. Ia tidak menguasai bahasa asing manapun. Ia menyesal kenapa ia tidak menerima tawaran imonya beberapa belas tahun yang lalu untuk ikut les bahasa asing saat imonya masih mampu membiayainya.

Bom menghela napasnya. Ia memijat pelipisnya. Perutnya menggeram. Ia baru ingat ia belum makan apapun hari ini setelah kembali dari rumah Seungri. Stok ramennya habis dan ia tidak berani melangkahkan kakinya keluar setelah mengalami situasi menegangkan dengan penguntit di gang kumuh tadi pagi. Ah, kenapa aku harus mengingat hal itu lagi. Bom sengaja menyibukkan dirinya dengan koran-koran lowongan kerja agar lupa kejadian tadi pagi tapi sekarang hal itu berputar kembali diingatannya, menaikkan degupan jantungnya.

Tidak mungkin pria itu berada di sekitar sini saat ini. Banyak orang yang masih berkeliaran di daerah ini jam segini. Bom bersiap keluar untuk membeli pasokan ramen yang menjadi salah satu penopang makanan paling besar baginya untuk menjaga agar ia bisa tetap makan selama beberapa bulan terakhir. Begitu membuka pintu rumahnya Bom tidak langsung bergegas keluar. Ia memandangi sekelilingnya. Lihat, masih banyak orang di luar. Aku hanya perlu melangkah ke toko dan membeli ramen lalu kembali ke sini. Tidak akan terjadi apa-apa. Bom melangkah keluar, mengunci pintu dan bergegas ke toko yang berjarak sekitar lima ratus meter dari rumahnya.

Suasana malam ini cukup ramai, sedikit berbeda dari malam biasa. Biasanya hal ini terjadi jika salah satu dari warga memenangkan lotere entah dari mana. Mereka suka merayakan keberhasilan mereka dengan mengadakan pesta rakyat kecil-kecilan dan toko Tuan Kim selalu menjadi pilihan karena itu hanya satu-satunya toko yang ada di kawasan ini. Seharusnya mereka menyimpan harta mereka. Siapa tahu hidup mereka akan berubah sepertiku nantinya. Bom tersenyum kecut.

Aigoo Bom-ah, kau datang?” tanya Lee Eunjoo, istri pemilik toko atau biasa dipanggil eomeoni oleh para warga. Eunjoo berumur kira-kira lima puluh tahun, atau mungkin hampir enam puluh tahun tapi masih sehat seperti orang kebanyakan. Bom tersenyum. “Apa ramenmu habis?” tanyanya lagi. Bom mengangguk. Dengan cepat Lee Eunjoo bergegas ke dalam, mencarikan Bom beberapa kardus ramen. Ia sudah hapal apa yang akan Bom beli jika gadis itu mampir ke tokonya. Kadang Eunjoo tidak habis pikir kenapa Bom bisa bertahan hanya dengan stok ramen di rumahnya. Sayang sekali, gadis cantik sepertinya harus menjalani hidup seperti itu.

“Nah, ini dia…” Eunjoo keluar dengan dua kardus ramen ditangannya. Ia menyerahkannya pada Bom.

“Berapa semuanya? Ah, aku akan membayar hutang ramenku bulan lalu…”

Aigoo, tidak perlu. Kau tidak perlu membayar hutangmu bulan lalu. Cukup bayar apa yang kau beli hari ini.”

“Tapi…”

“Tidak apa-apa,” potong Eunjoo tersenyum maklum. Bom merasa tidak enak meskipun dalam hatinya ia bersyukur tidak perlu mengeluarkan uang lebih mengingat gajinya bulan ini dipotong setengah.

“Ikutlah perayaan di sini. Sebentar lagi acaranya mulai. Kau tahu Goo Sang Soo? Pria tua yang tinggal di dekat pabrik sana? Ia beruntung mendapatkan lotere,” ujar Eunjoo setelah menerima uang dari Bom.

Bom menggeleng. “Kurasa lebih baik aku langsung ke rumah. Mungkin lain kali aku akan ikut perayaan seperti ini.” Ia sendiri tidak yakin kapan akan membaurkan dirinya dengan warga yang merayakan perayaan seperti ini. Meskipun Bom menyukai bir dan minuman sejenisnya, tapi ia rasa ia tidak perlu bergabung dengan mereka. Ia lebih suka berusaha merubah nasibnya yang bertahun-tahun selalu seperti ini, menyedihkan.

Bom tersenyum. Eunjoo mengangguk mengerti lalu berjalan keluar bersama Bom untuk mengurusi hal lain sebelum pestanya dimulai. Banyak warga sudah berada di sana, saling membantu menyiapkan semuanya. Para ibu-ibu menyiapkan wadah besar berisi berbagai jenis makanan kecil sedangkan para suami mereka sudah mengambil posisi di meja yang sudah digelar, siap dengan minuman ditangan mereka. Bom mempercepat jalannya menghindari kerumunan warga yang sebentar lagi akan berpesta.

Setelah keluar dari kerumunan Bom berjalan menyusuri jalan menuju rumahnya. Jalanan tidak sepi, banyak ibu-ibu yang masih berada di luar rumah. Mereka yang memilih tidak ikut berpesta sibuk bergosip tentang apapun. Kadang anak-anak mereka ikut bergabung hanya untuk membantu menghabiskan makanan yang ada.

“Bom-ah!” panggil salah seorang dari mereka saat Bom melintas. Bom berhenti.

Ne?”

“Apa kau mendengar beritanya tadi sore?” tanya nyonya Jung, tetangga yang tadi memanggilnya. Di sekitarnya ada enam sampai delapan orang temannya yang ikut bergosip tapi Bom tidak terlalu mengenal mereka.

“Berita? Berita apa?” tanya Bom tidak tahu. Ia sama sekali tidak menyalakan televisi belakangan ini. Penghematan.

“Tadi sore ada salah satu pegawai pabrik yang tertusuk perutnya di gang sana. Kau tidak melihat berita?”

Deg! Perasaan Bom mulai tidak enak. Ia menggeleng bingung.

Aigoo! Hampir seluruh warga berkumpul di gang tadi sore untuk melihat kejadiannya. Salah satu warga melihat seorang pria berpakaian serba hitam melarikan diri setelah berhasil menusuk pegawai pabrik.”

“Pria tadi mengenakan jaket hitam panjang, wajahnya sama sekali tidak terlihat,” tambah salah satu teman nyonya Jung. Lutut Bom bergetar. Pikirannya melayang ke kejadian tadi pagi di gang. Mungkinkah…?

“Beruntungnya pegawai pabrik tadi tidak apa-apa. Ia langsung dilarikan ke rumah sakit. Dua orang polisi sempat ke sini tadi, mengamankan waga, benar kan?” ujar wanita yang lain. Yang lainnya mengangguk.

“Aku sendiri heran kenapa mereka masih saja mengadakan pesta seperti itu padahal salah satu warga baru saja tertusuk perutnya. Astaga, aku tidak bisa membayangkan kalau pelakunya masih berada di sekitar sini. Untung saja…”

Bom tidak dapat mendengar perkataan nyonya Jung selanjutnya. Ia mendapati tubuhnya sudah bergegas cepat ke arah rumahnya yang berjarak beberapa rumah dari tempat nyonya Jung. Bom hampir berlari. Perasaannya diselimuti ketakutan dan was-was. Ia melihat sekitar. Sepi. Bom berlari kencang, memeluk erat-erat kardus ramennya. Ia mengunci pintu rumahnya begitu sampai di sana. Ia mengatur napasnya yang menggila.

***

Dentingan jarum jam memenuhi ruangan di rumah sewa lusuh Bom yang kecil. Jam menunjukkan pukul sepuluh malam, hampir pukul sebelas. Bom merapatkan selimutnya. Ia sudah berada dikasurnya sambil memandangi langit-langit kamar. Matanya belum juga terpejam padahal tubuhnya sudah berontak untuk menuntut istirahat. Bom masih memikirkan pembicaraan nyonya Jung dan teman-temannya tadi.

Mungkinkah pria yang menusuk pegawai pabrik tadi adalah pria yang sama yang membuntutiku tadi pagi? Apa ia berniat untuk menusukku juga? Raut wajah Bom berubah cemas. Ia yakin ia tidak akan bisa tidur malam ini. Lebih baik ia berjaga-jaga sebelum sesuatu yang tidak diinginkan terjadi saat ia tidur.

Sudah hampir sejam lebih mata Bom masih bertahan. Ia merasakan kantuk mulai menyerangnya namun ia tetap bertahan. Ia merubah posisinya menjadi duduk dikasur, menghindari tidur yang kapan saja bisa hinggap ditubuhnya. Saat mata Bom setengah terpejam dan kesadarannya setengah hilang, sebuah suara dari pintu rumahnya mengejutkannya. Sepertinya seseorang sedang berada di luar rumah, menunggu di depan pintu. Mata Bom terbuka lebar, lelah yang sejak tadi menuntut istirahat kini sirna. Perasaannya was-was. Ia bangkit perlahan dari kasur menuju pintu kamar yang sengaja ia buka agar bisa melihat suasana rumahnya.

“Duk!” Sebuah suara kembali terdengar dari pintu. Bom sudah beberapa langkah di balik pintu. Ia meraih apapun di sekitarnya sebagai senjatanya. Sapu. Tidak terlalu buruk. Tubuh Bom sudah memasang posisi bersiap-siap menyerang.

“Duk!” Suara kembali terdengar lalu gagang pintu bergerak, seolah-olah meminta dibuka secara paksa. Bom gemetar. Ia diam ditempat. “Tok, tok, tok.” Seseorang dari luar mengetuk. Tidak ada jawaban. Bom mengeratkan pegangannya pada sapu. “Tok, tok, tok!” kali ini ketukan semakin keras. Hening.

“Bugh! Bugh! Bugh!” Pintu seakan-akan ingin didobrak oleh orang yang sejak tadi berada di luar. Jantung Bom hampir meledak. Keringat mengalir deras dari dahinya. Napasnya mulai sesak. Hatinya tak henti-henti berdoa agar sesuatu yang buruk tidak terjadi. Setidaknya ia tidak ingin mati hari ini jika memang penguntit tadi yang berusaha mendobrak pintu rumahnya.

“BUGH!” Dorongan keras membentur pintu rumah Bom. Mungkin dalam beberapa dorongan lagi pintu rumah Bom akan hancur. Rumah lusuh yang ia sewa tidak mungkin mempunyai pintu yang kokoh, benar kan?

Seseorang dengan jaket tebal berdiri di luar rumah Bom sambil memutar lengannya, bersiap mendobrak kembali pintu. Ia merapatkan kupluk dikepalanya sebelum mendobrak pintu di hadapannya.

“BUGH!”

“SIAPA KAU?!” teriak seorang wanita dari dalam. Pria yang mendobrak pintu tadi tersenyum mendengar suara wanita yang berada di dalam.

“Ini aku,” ujarnya.

-TO BE CONTINUED-

Harap tinggalkan komentar, kritik dan saran.

14 thoughts on “[FF Freelance] The Eye (Chapter 1)

  1. ceritanya keren n cukup menegangkan deh >< tpi aku masi rada ga mudeng thor wkwkwk d tgu chap end nya yaaa bom knpa harus d kuntit gtu sih,apa ada hubungannya sma kerjaan dia itu? ah penasaran kan,ntar endingnya bom mau ama seungri ato top aku stju saja😀

  2. lanjutannya mana yanch……….oy ya a baru nih thor…….kemarin2 a cari ff yg ada top ma bom……..eh ketemu disini seru nih dilanjut y thor soalny a seneng banget ma couplenya top ma bom…….

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s