[FF Freelance] Haeundae Beach In Love (Chapter 1)

haeundae

|| Author : Kayot ― @xxoyot ||

|| Tittle : Haeundae Beach In Love part I ||

|| Length : Two shoot ||

|| Rated : General ||

|| Main Casts : EXO’s Xi Lu Han and Im SeeAn (OC) ||

|| Other Casts : f(x)’s Krystal Jung, EXO’s Kim Jong In and SM Family ||

|| Theme : Romance, Angst ||

|| Credit Poster : ©Yaumila at HSG ||

|| Disclaimer : All casts are belong to God and their parents. Story and plot are all mine. Do not bashing and do not copy without author’s permission. ||

|| Author’s note : FF ini sudah pernah di publish di blogpribadi saya -> here. Please leave your comment after you read this fanfiction^^ ||

Happy Reading *^^*~

 

***

 

“SeeAn-ah, kau di panggil oleh bos. Dia ada di ruangannya sekarang.”

 

“Ah, ne. Gomawo JinRi-ya!” Seseorang yang sedang menulis sesuatu di komputer tempatnya bekerja itu dikagetkan oleh suara sahabatnya yang memberitahu bahwa dia di panggil oleh bosnya. Tumben sekali, pikirnya. Segera di ambilnya cermin kecil yang selalu ada di laci meja komputernya. Di betulkannya rambutnya yang terikat rapi itu, dia tersenyum simpul ke arah cermin. Dia menyukai bosnya? Yang benar saja! Ya, walaupun pasti para yeoja tidak akan pernah menolak pesona yang di tampilkan oleh bosnya itu. Wu Yi Fan, seorang namja berdarah Chinese – Canada, tampan, baik hati, bijaksana dan tentu saja sangat kaya. Usianya baru 24 tahun, dan dia sudah memimpin perusahaan Star’s Magazine. Demi Tuhan, dia sangat sempurna bukan? SeeAn selalu berpenampilan menarik dan terlihat sopan di hadapan bosnya, agar, ya, dia menjadi salah satu orang kepercayaan bosnya ini. Dan benar saja, akibat perlakuannya yang sopan, dan pekerjaannya yang selalu tepat waktu, sekarang SeeAn merupakan salah satu orang kepercayaan Wu Yi Fan, wajahnya yang cantik mungkin juga menjadi salah satu alasan.

 

Tok tok tok.

 

SeeAn mengetok beberapa kali pintu ruangan pribadi bosnya ini.

 

“Masuk!”

 

Setelah mendapat persetujuan dirinya bisa masuk dari bosnya, barulah SeeAn masuk ke ruangan yang sangat nyaman ini. Ruangan pribadi bosnya, yang di hiasi furniture serba mewah, dengan kombinasi warna hitam dan putih. Kentara sekali bahwa ruangan ini adalah ruangan seorang namja. Terlihat Wu Yi Fan sedang duduk di meja bosnya, dengan membolak – balik beberapa dokumen.

 

“Anda memanggil saya?” tanya SeeAn setelah dia menutup pintu.

 

“Ya. Duduklah SeeAn.” Wu Yi Fan mempersilahkan SeeAn duduk, sambil meletakkan dokumen yang dipegangnya tadi.

 

Setelah SeeAn duduk. Dia langsung bertanya, “Ada apa tuan?”

 

“Begini. Aku ingin menugaskanmu untuk menulis artikel tentang pantai Haeundae. Semua biaya akan di tanggung oleh kantor. Hanya saja, kau pergi ke sana sendirian. Tidak apa-apa kan? Itu artinya, kau juga harus mengambil beberapa photo pemandangan di pantai tersebut. Kantor akan menyediakan kameranya. Jadi, kau tidak perlu mengeluarkan uang sepeser pun, SeeAn-ssi.”

 

“Begini tuan, bukannya saya tidak mau. Hanya saja… Emm… Saya bukanlah seorang photographer, saya hanya penulis artikel. Saya takut kalau photo yang saya ambil akan jelek dan merusak artikelnya tuan.” SeeAn berkata jujur dengan berat hati. Bukannya dia tidak mau pergi ke pantai itu. Oh yang benar saja. Mana ada yang tidak mau pergi ke pantai itu, gratis. Anggap saja dia berlibur sambil bekerja. Tapi, demi Tuhan, SeeAn bukanlah seorang ahli kamera, apalagi photographer. Ber – selca saja dia hampir tidak pernah. Apalagi mengamil photo pemandangan yang nantinya akan di terbitkan di majalah terkenal bersama artikelnya. Kalau hanya menulis artikel, dengan senang hati dia langsung menerima tawaran bosnya tadi. Tapi, jika disuruh memotret, mungkin dia akan berpikir dua kali. Memotret? Ayolah, jangan bercanda. SeeAn bahkan tidak pernah memegang kamera SLR dan tidak mengerti cara memakainya.

 

“Terima saja tawaran itu, SeeAn. Hanya kau yang bisa diandalkan.” Terlihat tampang memelas dari wajah tampan Wu Yi Fan itu.

 

“Bukankah masih ada Kim Jong In, tuan? Mungkin dia bisa lebih membantu untuk artikel kali ini.” SeeAn tau persis. Di kantornya yang megah ini penulis artikel kepercayaan bosnya ini hanya ada dua orang, yaitu dia dan Kim Jong In, sahabatnya.

 

“Jong In sudah aku tugaskan untuk menulis artikel tentang Namsan Tower, SeeAn-ssi. Jadi, ayolah terima pekerjaan ini. Aku tau kau bisa melakukannya.”

 

“Hmmm… baiklah tuan. Saya akan bekerja sebaik mungkin untuk artikel ini.”

 

“Baiklah. Besok kau akan berangkat. Villa, tiket dan… ini uang untukmu, bekal selama kau ada disana. Kau aku beri waktu satu minggu. Deadline – mu tepat jam 10 pagi. Kau mengerti?” Wu Yi Fan sumringah sambil menyerahkan amplop berisikan uang kepada SeeAn.

 

“Ne tuan. Saya mengerti. Kalau begitu saya kembali dulu.” SeeAn berdiri lalu membungkuk 90derajat kepada bosnya.

 

“Ne baiklah.” Bosnya memberikan senyum simpul kepada SeeAn. Lalu kembali berkutat dengan dokumennya, setelah SeeAn meninggalkan ruangannya.

 

***

 

Pagi ini dia akan berangkat ke pantai Haeundae. Senyum sumringah tidak lupa tercipta dari bibir gadis tomboy ini. Dia sekarang memakai celana jeans panjang, t-shirt berwarna putih, tak lupa dengan blazer jeans tak bertangan favoritnya. Rambut panjangnya selalu ia ikat berantakan, dia tidak suka rambut panjangnya tergerai, menambah aksen tomboynya. Kartu tanda pengenal bahwa dia wartawan juga tak lupa dikalungkannya. Sneakers berwarna ungu pemberian Kim Jong In sahabatnya, menjadi pilihannya saat ini. Dia siap pergi, saat ada pesan yang masuk dari handphonenya.

 

“Mau menemani aku sarapan sebelum ke kantor? Aku sangat lapar. Kalau mau, kau akan kujemput sekarang^^”

 

From: Kim Jong In

 

Kim Jong In sahabatnya. Sahabat yang paling berjasa dalam hidupnya. Semenjak lulus dari universitas jurusan sastra, Jong In lah yang mendapatkan pekerjaan terlebih dahulu. Lalu dia menawari SeeAn untuk bekerja juga di tempatnya bekerja. Dan, beginilah mereka sekarang. Menjadi sahabat dari High School bahkan sampai bekerja pun mereka satu perusahaan.

 

“Maaf, Kai. Aku tidak bisa. Aku sedang ditugaskan untuk pergi ke pantai Haeundae menulis artikel. Aku akan kembali minggu depan. Sampai jumpa minggu depan Kai-ah!^^”

 

Dia membalas pesan Kai. Kai?Bukankah namanya Jong In? Ya, nama Kai adalah nama yang diberikan SeeAn pada sahabatnya itu. Entahlah asalnya dari mana, yang pasti dia sangat menyukai nama itu.

 

***

 

SeeAn menghirup udara dalam-dalam, begitu dia turun dari taxi yang mengantarnya ke pantai ini.  Dia tidak pernah tahu bahwa ada pantai seindah ini di Korea Selatan. Berbagai macam ide sudah ada di pikirannya untuk dia jadikan artikel. Dia melihat arloji berwarna peach di tangannya, menunjukkan pukul 4 sore. Mungkin besok pikirannya akan lebih jernih. Sekarang adalah waktu yang tepat untuknya beristirahat pikirnya. Dia mencari villa nomor 44, villa yang dimiliki oleh bosnya, Wu Yi Fan. Wu Yi Fan rela meminjamkan villa miliknya itu untuk SeeAn, selama dia menulis artikel di pantai ini.

 

***

 

“Tak sadarkah kau Xi Lu Han? Bahwa yang membuat aku seperti ini juga dirimu sendiri!” Seorang yeoja berambut merah sebahu terlihat sedang memarahi seorang namja yang ada di belakang pedal setir disampingnya.

 

“Tidak bisa kah kau berhenti bertingkah seperti kenakan – kanakkan Krystal Jung? Kita ini sudah bertunangan, mana mungkin aku dengan mudahnya berselingkuh dengan cincin ini melingkar di jariku?” Namja itu memperlihatkan jari manisnya yang terdapat cincin pertunangan dengan pacarnya ini. Yeoja disampingnya hanya terdiam.

 

“Satu lagi! Kau boleh mengekang apapun yang aku lakukan. Tapi satu! Kau tidak bisa menyuruhku untuk berhenti memotret, memotret sudah seperti separuh hidupku, kau tau?”

 

“Arasho.” Kata yeoja yang disampingnya itu sambil keluar dari mobil, menutup pintu mobilnya dengan cara membanting pintu setirnya lalu masuk begitu saja ke dalam rumahnya. Meninggalkan namja disampingnya, yang terlihat frustasi sekrang.

 

“ARGH!!!” Lu Han mengerang keras, memukul pedal setirnya, lalu mengacak rambutnya frustasi. Tak lama kemudian, dia mengemudikan kencang mobil sport mewahnya.

 

***

 

Baru saja Lu Han menginjakan kakinya dirumah mewah ini, suara seorang yeoja kecil mengagetkannya.

 

“Lu Han Gege! Kemana saja kau? Aku menunggumu pulang.” Xi Yuan Li, yeoja berumur 13 tahun itu langsung menghambur ke pelukan gege – nya. Dan seorang Xi Lu Han ini, sangat menyayangi keluarganya, terutama adik kecilnya ini. Tentu saja dia membalas pelukan adknya.

 

“Oh ayolah Yuan Li, kau sudah besar. Haruskah kau selalu minta di manja olehku? Heung?”

 

“Tentu saja! Kau sudah bertunangan, dan mungkin saja sebentar lagi akan menikah. Nanti aku tidak akan mendapatkan waktu untuk seperti ini lagi denganmu Ge!” Ucapnya masih memeluk Gege kesayangannya.

 

DEG.

 

Bertunangan? Segera menikah? Kepalanya seperti terhunus pedang tajam. Nyilu dan sakit menggerogoti kepalanya. Lagi, dia teringat dengan Krystal Jung, tunangannya. Apakah dia tidak mencintai tunangannya itu? Tentu saja tidak! Lu Han sangat mencintai Krystal. Ya, walaupun Krystal selalu bertingkah kekanak – kanakkan yang membuatnya terkadang muak. Lalu kenapa ketika mendengar kata bertunangan dan menikah kepalanya tiba – tiba pusing? Dia sendiri tidak tau.

 

“Gege! Gege! Kenapa kau diam saja?” Yuan Li melepaskan pelukannya. Karena Gege – nya malah diam saja ketika dia ajak berbicara.

 

“Tidak, Yuan. Hanya saja, gege lelah sekali. Biarkan gege beristirahat, ya?” Dia tersenyum lembut, lalu mengacak pelan rambut adiknya itu. Menaiki tangga rumah mewahnya menuju lantai dua kamarnya.

 

***

 

“Ingin kemana kau Lu Han?” Seorang ahjumma yang menonton tv di ruang tengah tiba – tiba saja terkejut melihat anaknya membawa koper besar dari kamarnya.

 

“Aku ingin berlibur. Hm, maksudku entahlah. Aku hanya ingin membuang stress ku. Biarkan aku berlibur di villa kita di pantai.  Aku janji ini tidak aka lama, eomma.”

 

“Tapi ini sudah malam. Kenapa tidak besok pagi saja?”

 

“Anak mu ini sudah besar Nyonya Xi. Ayolah. Aku akan sampai disana jam 9 malam, dan langsung beristirahat.” Bebernya layak seorang tour guide.

 

“Baiklah. Terserah katamu.” Lu Han lalu memeluk ibunya tanda terimakasih. Tekadnya sudah bulat. Dia terlalu di pusingkan oleh kegiatan di perusahaan ayahnya, mengingat dia akan menjadi pewaris perusahaan ayahnya itu. Ditambah lagi, dia sedang bertengkar dengan kekasihnya, membuatnya semakin frustasi. Berlibur? Mungkin pilihan yang tepat pikirnya.

 

***

 

“Wow! Indah sekali! Daebak!” SeeAn tidak berhenti memuji keindahan pantai ini. Luar biasa pikirnya. Pemandangan matahari terbit yang luar biasa. Padahal ini sudah jam 8 pagi. Dia berada di tepi pantai ini sudah lebih dari 3 jam. Tapi, tetap saja, mulutnya tidak berhenti melontarkan pujian.

 

Pantai ini sudah mulai di penuhi pengunjung. Ya, pantai ini merupakan salah satu tempat wisata yang di gemari oleh turis asing. Mungkin hanya SeeAn orang Korea Selatan yang tidak mengetahui bahwa dia Korea Selatan ada pantai seindah ini.

 

Dia berlari – lari di tepian pantai. Surga dunia, benaknya. Dia sangat bahagia saat ini. Setidaknya sebelum, benda yang tergantung di lehernya itu mengingatkannya sesuatu.

 

BABO!

 

Setelah memuji keindahan pantai ini. Kini SeeAN beralih merutuki dirinya. Yang begitu saja melupakan tugasnya untuk memotret pemandangan disini. Dan yang lebih dia benci lagi. Dia lupa bertanya pada Jong In cara menggunakan kamera SLR ini. Bodoh! Kenapa dia menolak saat di ajak sarapan bersama pagi itu. Padahal dia bisa minta ajarkan pada Jong In cara menggunakan kamera bodoh ini, rutuknya penuh penyesalan.

 

Dia terlalu kesal sekarang. Kesal pada dirinya. Dia duduk di tepi pantai. Mencoba mengutak – atik benda asing itu. Tapi, nihil. Tidak ada perubahan yang terjadi pada benda itu, membuat SeeAn semakin frustasi. Demi Tuhan, dia akan mengutuk orang yang menemukan benda aneh ini. Dia mengedarkan pandangan kesana kemari, mungkin saja ada orang yang bisa dimintainya bantuan. Hingga dia menemukan seorang namja yang sedang memotret beberapa pemandangan disini menggunakan kamera SLR. Dia memandangi kamera miliknya, lalu memandangi kamera milik namja itu. Terlihat sama pikirnya. Sempurna!

 

“Excuse me, sir! Can you help me?” SeeAn mendekatinya. Karena dilihatnya namja ini bermuka Chinese, makanya dia menggunakan bahasa Inggris. Dia sama sekali tidak bisa menggunakan bahasa mandarin.

 

Lu Han hampir saja kaget ketika seorang yeoja merusak waktu damainya. Ya, waktu damai bersama kameranya. Terlebih lagi, gadis ini menggunakan bahasa Inggris. Dia turunkan kamera SLR kesayangannya itu dari mukanya. Dia lihat gadis itu dari ujung rambut sampai ujung kaki. Mengganggu saja, pikir Lu Han.

 

“Ada apa? Tidak usah menggunakan bahasa Inggris. Aku juga bisa menggunakan bahasa Korea.” Kata Lu Han tanpa memandang gadis itu. Dia malah kembali menaikkan kameranya, lalu kembali memotret.

 

“N-ne? Dari mana kau bisa tau?”

 

“Kartu pengenal yang tergantung di lehermu itu.”

 

“O-oh begitu.” Muka polos SeeAn membuat Lu Han ingin tertawa. Polos sekali gadis ini, pikirnya.

 

“Ah, begini. Hm, tuan. Bisakah kau mengajariku cara menggunakan benda ini?”

 

Lu Han tertegun heran. Aneh saja pikirnya. Bagaimana bisa seorang wartawan, tidak bisa menggunakan kamera?

 

“Bukankah kau seorang wartawan? Bagaimana mungkin kau tidak bisa menggunakan kamera?” Kali ini Lu Han menatap wajah gadis itu.

 

“Bukan. Aku hanya penulis artikel. Aku tidak pernah memotret sebelumnya.” Jelas SeeAn dengan penurunan suara di kalimat terakhirnya.

 

“Lucu sekali kau! Haha.”

 

“Yak! Kau ingin mengajariku tidak? Kenapa malah menertawaiku?”

 

“Kau yang minta tolong, kenapa kau yang marah-marah? Dasar, semua yeoja sama saja! Senang sekali marah-marah.”

 

“T-tidak. Aku hanya bercanda. Ayolah ajari aku.” SeeAn memelas. Dia sedikit ber – aegyo. Demi Tuhan, kalau bukan karena pekerjaan dia tidak akan ber – aegyo seperti ini. Hal yang menjijikkan pikirnya.

 

Lu Han menghembuskan nafas panjang. Jika sudah ada perempuan ber – aegyo seperti ini padanya, dia pasti enggan untuk menolak permintaan yeoja itu. Itu adalah salah satu kelemahan Lu Han. Dan, Krystal sudah hafal betul hal ini.

 

“Sini aku ajari. Menyalakan kameranya pencet tombol ini. Untuk mengambil gambar kau bisa pencet tombol yang ini. Untuk zoom in atau zoom out, kau tinggal putar disini. Itu saja. Kau mengerti?”

 

“Ne. Mengerti. Gamsahamnida, tuan!” Kata SeeAn sumringah sambil terus membungkuk 90derajat pada namja ini.

 

“Sama-sama. Dan, jangan panggil aku tuan!”

 

“Kalau begitu, siapa namamu?” Kata SeeAn sambil tersenyum.

 

“Hal itu tidak penting.”

 

“Baiklah. Sekali lagi, gamsahamnida tanpa nama. Sampai jumpa lain kali!” SeeAn menggerak-gerakkan tangannya, sambil berlarian kecil tanda berpisah dengan Lu Han.

 

Lu Han tanpa sadar mengembangkan sebuah senyuman di bibirnya.

 

***

 

Matahari yang bersinar terik hari ini―jelas saja karena ini musim panas, sudah berganti dengan malam yang damai. Angin malam yang berhembus, serta lampu warna-warni di sekitaran pantai, membuat pantai ini terlihat sangat indah.

 

SeeAn kesepian di kamarnya. Tentu saja, gadis anti―social seperti SeeAn pasti kesepian di villa mewahnya sendirian. Tanpa ada teman berbicara atau bersenda gurau. Dia lebih memilih keluar dari villa, lalu duduk di tepian pantai. Menikmati angin malam yang berhembus ditambah suara deburan ombak. Membuat siapa saja merasakan damai berada di pantai ini berlama-lama. Tak terkecuali gadis bernama Im SeeAn ini.

 

Tak berapa lama kemudian. Pandangannya pada pantai luas itu terhalang oleh siluet seseorang.

 

“Sedang apa kau disini?” Tiba-tiba saja Lu Han membalikkan badannya menghadap SeeAn.

 

“Bukan urusanmu, tanpa nama.” SeeAn sedikit kesal karena waktu damainya dirusak oleh kedatangan namja ini.

 

Demi Tuhan, SeeAn! Jika kau ingin tau sesuatu, inilah yang dinamakan karma. Karena kau juga sudah merusak waktu damai Lu Han tadi pagi. Kau ingat?

 

“I’m warning you, nona. Jangan memanggilku tuan!” Lu Han menatap gadis itu dengan death―glarenya.

 

“Kalau begitu, siapa namamu?” SeeAn menatap Lu Han tak kalah tajam.

 

“Bukankah sudah aku bilang, bahwa hal itu―”

 

“Tidak penting? Ya. Aku mengerti, tanpa nama.” SeeAn jengkel lalu kembali menatap lautan di depannya. Lu Han membuang nafas panjang. Dia sangat tidak menyukai wanita yang sedang merajuk. Menurutnya wanita adalah diibaratkan sebuah benda permata yang bersinar, dan paling bersih di dunia. Sayangnya, permata itu rentan sekali hancur atau retak. Makanya Lu Han selalu menghargai perasaan wanita, siapapun itu. Orang yang belum genap 24 jam di kenalnya sekalipun. Ya, seperti SeeAn ini.

 

“Xi Lu Han. Namaku Xi Lu Han. Dan kau?”

 

“Im SeeAn.”

 

“Boleh aku duduk di sampingmu?”

 

“Duduklah.”

 

Hening beberapa saat. Mereka larut dalam pikiran masing-masing.

 

“Kau seorang penulis artikel?”

 

“Begitulah.” Jawab SeeAn sekenanya, sambil terus memandangi lautan di depannya.

 

Krrroook.

 

“Haha. Itu bunyi perutmu? Kau lapar?” Tanya SeeAn sambil sedikit tertawa.

 

“Hehe. Sepertinya.” Lu Han mengiyakan sambil memegang perutnya. Tak lupa semburat merah seperti udang rebus yang mewarnai pipi putihnya sekarang. Tentu saja dia malu. Dari tadi Lu Han berusaha menjaga image cool di depan SeeAn, dan tiba-tiba saja perut kurang ajar ini memporak-porandakkan semuanya.

 

“Mau kutraktir? Anggap saja ucapan terimakasih, karna kau sudah menolongku tadi pagi. Bagaimana?”

 

“With my pleasure.”

 

***

 

Mereka sudah menghabiskan dinner mereka sekarang. Oh demi Tuhan, SeeAn! Kenapa kau begitu ceroboh? Dompet! Kenapa kau berani-beraninya mentraktir seseorang jika kau saja lupa membawa dompet yang kau tinggalkan di kamar?! SeeAn merutuki dirinya. Jelas saja dia meninggalkan dompetnya, niat SeeAn keluar rumah tadi adalah untuk berjalan-jalan sebentar saja. Bukan untuk mentraktir seseorang seperti ini. Mampuslah kau SeeAn, benaknya.

 

“Lu Han.”

 

“Ne?”

 

“Aku sangat menyesali ini. Sorry to say, but…” SeeAn menggigit bibir bawahnya. Oh ya Tuhan, memalukan sekali. Ottokaji?!?!

 

“Hm?” Lu Han menaikan satu alisnya sambil menatap heran kearah SeeAn. Ada apa dengan gadis ini. Aneh sekali, pikirnya.

 

“Aku meninggalkan dompetku di kamar. Jadi, bisakah kau yang membayarnya kali ini? Aku akan mentraktirmu lain kali, I promise.” SeeAn lalu menundukkan mukanya. Tak kuat melihat reaksi namja di depannya ini. Memalukan memalukan. Hanya itu yang ada di benak SeeAn sekarang. Tapi, dia juga sudah sedikit lega sekarang. Lega karena dia sudah berani mengatakan yang sejujurnya. Dia mengatakannya hanya dalam satu nafas. Hebat sekali bukan?

 

Sekarang dia hanya berharap, laki-laki di depannya ini mendengar dengan jelas perkatannya tadi.

 

Mendengar dengan jelas kau bilang? Kau tadi berbicara atau sedang rapping Im SeeAn?

 

Akan jadi mimpi buruk jika namja itu memintanya mengulangi perkataan paling memalukan itu lagi.

 

“Hahahahahaha.” Tawa pecah dari mulut seorang Xi Lu Han. Bagaimana ada orang se-ceroboh, se-polos, dan se-freak gadis ini, pikir Lu Han.

 

“Hehehe. Mi-mianhae.” Tawa hambar juga keluar dari mulut SeeAn dengan penurunan suara di kalimat terakhirnya itu.

 

“Baiklah. Aku akan membayarnya nanti.” Lu Han berusaha mengakhiri tawa besarnya sambil mengusap matanya yang tampak ingin mengeluarkan air mata karena tawa hebatnya tadi.

 

“Gomawo. Tapi aku janji, aku akan membayarnya. Hehe. Villa-mu nomor berapa?”

 

“45.”

 

“Ah? Itu di sebelah villa-ku. Villa-ku nomor 44.”

 

Villamu kau bilang? Tolonglah, Im SeeAn, itu villa milik Wu Yi Fan. Jangan lupakan bos mu itu, nona.

 

“Begitukah?” Lu Han sedikit kaget. Kebetulan sekali pikirnya.

 

“Ne. Kalau begitu aku permisi dulu. Sekali lagi, gamsahamnida.” SeeAn berkali-kali membungkuk 90derajat kepada Lu Han.

 

Lucu sekali gadis itu, pikir Lu Han.

 

I’m warning you, Xi Lu Han. Kau masih mempunyai Krystal Jung.

 

***

 

Besok adalah hari deadline yang ditentukan oleh Wu Yi Fan, bosnya. Dan hari ini SeeAn sedang benar-benar frustasi. SANGAT. Bukan karena tulisan atau photo untuk artikelnya yang belum selesai. Dia sudah menyelesaikannya dengan sangat rapih. Tidak salah memang dia menjadi salah satu karyawan kepercayaan Wu Yi Fan. Hanya saja, dompetnya tertinggal! Bukan, kali ini bukan tertinggal di kamar. Tertinggal sungguhan, dompet SeeAn tertinggal di rumahnya. Dia ternyata meninggalkan dompetnya dirumah. Uang yang di bawa SeeAn selama ini adalah uang pemberian Wu Yi Fan, hanya itu. Dan, uang itu sudah habis sekarang. Ini murni kesalahan dan kecerobohan seorang Im SeeAn. SeeAn memang sangat gila belanja. Tapi, belanja yang dimaksud disini adalah belanja hal-hal yang tidak penting. Bukan seperti yeoja-yeoja metropolitan diluar sana yang belanja baju, tas, sepatu dengan barang-barang ber―merk. Oh, dunia pasti akan jungkir-balik kalau SeeAN hobi berbelanja sepatu, tas, baju dan apalah sejenisnya, yang sama sekali bukan tipe SeeAn. SeeAn adalah seorang gadis cuek, dan semi―tomboy(?). Barang-barang tidak penting yang sering dia beli adalah CEMILAN. SeeAn suka sekali ngemil, menurutnya ngemil membantu kejernihan serta mendorong imajinasinya untuk lebih keluar. Di sela-sela SeeAn menulis artikel, harus ada cemilan. Sekali lagi, HARUS ADA. Yeoja-yeoja di luar sana pasti iri dengan ini. Tentu saja, SeeAN selalu menghabiskan waktu senggang-nya untuk ngemil dan lihatlah badannya itu. Tidak kelihatan gendut sama sekali. Dan dengan cemilan itulah dia menghabiskan seluruh uang pemberian Wu Yi Fan. Sebenarnya uang itu cukup untuk makan 3 kali selama 1 minggu, dan sedikit perlengkapan penting lainnya. Hanya saja, ya seperti aku bilang tadi. SeeAN memang gadis luar biasa. Dia gadis yang berpikiran pendek dan tidak berpikiran jauh.

 

Apa sekarang di dunia ini yang tidak menggunakan uang?

 

SeeAn sangat-sangat butuh uang sekarang, dia harus pulang ke Seoul. Oh Tuhan, tolonglah gadis teledor ini. Satu-satunya cara adalah meminjam uang dengan Xi Lu Han. Demi Tuhan! Tidak cukupkah dia malu dengan kejadian di malam itu? Masih beranikah dia menampakkan muka di depan namja itu dan tujuannya…. memimjam uang? Kenapa terlalu banyak kejadian memalukan dipantai ini, pikir yeoja ini frustasi. Tapi, cepat atau lambat dia harus kembali ke Seoul. Kalau tidak, pasti Wu Yi Fan akan marah. Wu Yi Fan bukanlah seorang yang pilih kasih. Dia akan selalu marah kalau ada karyawannya yang tidak menepati deadline. Dia selalu mengutamakan rasa tanggung jawab dalam diri karyawan/karyawatinya. Kalau ada yang melanggar peraturan ini, dia pasti di blacklist. Dan, gajihnya akan di potong 2 bulan. TIDAK! Memikirkannya saja, SeeAn sudah bergidik ngeri. Dia menelan ludahnya. HARUS! Namja itu jalan satu-satunya. Dia memberanikan dirinya untuk menuju villa namja itu.

 

“Hwaiting!” SeeAn menyemangati dirinya yang sudah berdiri di depan pintu villa nomor 45 ini. Villa milik Xi Lu Han.

 

Ketika SeeAn akan mengetok pintu, tiba-tiba saja Lu Han membuka pintunya dengan menggerek koper di tangan sebelah kirinya.

 

“OMO!” Lu Han terkejut setengah mati mendapati ada seorang yeoja yang berdiri di depan pintu villanya. SeeAn hanya tersenyum menghilangkan rasa malunya. Entah untuk keberapa kalinya dia harus berhubungan dengan hal yang memalukan dengan namja ini. Demi Tuhan! Lu Han terlihat sangat tampan sekarang, dengan kacamata hitam itu membuatnya terlihat lebih errr sexy.

 

“Ya! Sedang apa kau berdiri di depan pintu villaku?” Lu Han menghancurkan lamunan gila SeeAn. Entah kenapa SeeAn tiba-tiba saja menjadi salah fokus.

 

“Eh? Kau ingin kemana membawa koper itu?” SeeAn dengan polos bertanya sambil menatap koper yang Lu Han bawa.

 

“Pulang. Wae?” Lu Han memicingkan mata ke arah yeoja ini. Yeoja macam apa SeeAn ini, pikirnya.

 

“Kemana?”

 

“Kerumah, tentu saja. Wae?”

 

“Apa rumahmu di Seoul?”

 

“Matta. Wae? Ini ketiga kalinya Im SeeAn.”

 

“Ketiga kalinya?” SeeAn menatap Lu Han dengan muka bingung.

 

Lu Han membuang nafas panjangnya.

 

“Ya Tuhan! Yeoja macam apa sebenarnya kau ini Im SeeAn? Pagi-pagi sekali berada di depan villaku, dan sekarang menghujamiku dengan pertanyaan-pertanyaan tidak pentingmu itu. Ada apa sebenarnya?” Lu Han masih mencoba sopan dan sabar, karena SeeAn ini yeoja. Ya, dia seorang yeoja yang harus di jaga dan di hargai perasaannya.

 

“Begini. Aku kehabisan uang. Aku tidak bisa pulang. Padahal besok adalah deadline artikelku. Bolehkah aku menumpang denganmu? Aku tidak tau harus minta bantuan siapa lagi. Aku mohon. Aku tidak akan melupakan jasamu Xi Lu Han-ssi.” SeeAn menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya, tanda ia memohon pada Lu Han. Persetan dengan rasa malunya. SeeAn rasa, urat nadi malunya sudah putus sekarang dihadapan namja bernama Lu Han ini. Untuk yang kesekian kalinya. Hebat sekali namja ini.

 

“Baiklah. Kemasi barangmu. Kita pulang sekarang.” Manly. Manly Lu Han. Lu Han selalu saja berusaha tidak menyakiti perasaan seorang yeoja. Siapapun itu.

 

***

 

Perjalanan Haeundae Beach ― Seoul, memerlukan waktu sekitar 3 jam kalau menggunakan mobil. Mereka sudah separuh perjalan sekarang, selama 1 jam 30 menit itu pula, hening. Tidak ada yang memulai untuk berbicara. Semi―canggung mungkin. Dari tadi Lu Han diam-diam memperhatikan yeoja disampingnya ini. Tiba-tiba saja dia teringat dengan Krystal, tunangannya. Gadis ini sangat berbanding terbalik dengan Krystal. Krystal adalah gadis yang cerewet, manja dan overprotectif pada Lu Han. Terlalu overprotectif mungkin, itulah yang membuat Lu Han sering jengah, dan mereka bertengkar. Tapi, ini mungkin pertengkaran yang paling parah. Karena sudah selama seminggu Lu Han berlibur di Haeundae Beach, dan seminggu pula Lu Han dan Krystal lost contact. Rindu? Tentu saja. Sangat malah. Tapi, Lu Han hanya ingin memberi sedikit pelajaran pada gadis ini, agar dia mampu merubah perlahan sifat overprotectifnya itu. Lu Han berjanji, setelah dia sampai di Seoul, dia akan langsung menemui tunangannya itu dan meminta maaf.

 

Risih. Mungkin itu yang dirasakan SeeAn saat ini. Dia lelah, duduk di mobil ini. Tanpa ada sesuatu yang bisa dia kerjakan. Dan tidak ada lawan berbicara. Ralat, bukan tidak ada. Hanya tidak berbicara satu sama lain.

 

“Apa kau bosan?” Tanya Lu Han tiba-tiba.

 

“Eh? Tidak, tidak. Hehe. Lanjutkan saja menyetirnya.” Seen memberikan senyum yang di paksa untuk Lu Han. Akan terlihat kurang ajar kalau dia menyuruh Lu Han beristirahat dulu, setelah Lu Han memberikan tumpangan pada SeeAn.

 

“Bagaimana kalau kita beristirahat di Namsan Tower? Kau mau?” Lu Han menoleh ke arah SeeAn.

 

“Eh? Terserah kau saja, hehe.” Terimakasih Tuhan, kau mendengar doaku. Pinggangku sangat lelah. Untungnya kau adalah namja yang peka, Lu Han. Ah, bless ur beautiful heart.

 

***

 

Krystal sudah jengah. Dia sudah muak, tidak tahan. Dia sudah dibatas limitnya. Dia sangat sangat merindukan Lu Han, tunangannya. Karena itulah dia mendatangi rumah Lu Han sekarang. Dia ingin memberikan kejutan pada Lu Han. Tepat di depan pintu rumah Lu Han, dia menekan bel.

 

“Ah? Annyeonghaseyo omoni.” Krystal langsung membungkuk melihat yang membukakan pintu adalah Nyonya Xi, yang tidak lain adalah eomma-nya Lu Han.

 

“Annyeonghaseyo Krystal-ssi.”

 

“Apakah Lu Han ada dirumah omoni?”

 

“Kau tidak tau? Lu Han sedang berlibur di Haeundae Beach sekarang.”

 

“Oh begitu. Baiklah, saya kembali lagi omoni. Sampai jumpa. Gamsahamnida.” Krystal membungkuk lagi pada Nyonya Xi. Lalu beranjak meninggalkan rumah Lu Han.

 

Dia tidak menyangka bahwa Lu Han akan semarah itu padanya. Biasanya, Lu Han yang akan mengalah. Padahal, Krystal berjanji pada dirinya bahwa dia tidak akan overprotectif lagi pada Lu Han. Dia akan mencoba menerima apa adanya Lu Han. Dan ia yakin, pasti Lu Han tidak akan menghianatinya.

 

Drrt drrt.

 

Handphone Krystal berbunyi. Menandakan ada sebuah pesan yang masuk. Dia berharap itu dari Lu Han, tapi begitu dia membuka pesan itu, harapannya sirna.

 

”Kau dimana Krystal-ah? Mau menemaniku berjalan-jalan di Namsan Tower? Aku sendirian dan kesepian disini T-T”

 

From : Amber Liu.

 

Heran. Krystal terheran-heran, sejak kapan sahabat tomboy-nya ini hobi berjalan-jalan? Biasanya dia adalah orang yang paling sulit untuk di ajak berjalan-jalan, walau hanya sekedar makan di restoran sekalipun. Dan lagi, tempatya Namsan Tower? Jangan bercanda! Apa jangan-jangan Amber ingin mencari namjachingu? Krystal terkekeh membayangkannya. Dia pun pergi ke Namsan Tower, demi sahabatnya ini.

 

***

 

“Pergilah ke Namsan Tower sekarang Jongin-ssi. Deadline mu 4 hari dari hari ini? Bisa kan?” Wu Yi Fan memberikan tugas kepada Kim Jongin, salah satu karyawan kepercayannya. Dia punya sepasang karyawan/karyawati kepercayaan. Kim Jongin dan Im SeeAn.

 

“Tentu saja bisa, tuan. Baiklah, saya pergi dulu.” Jongin membungkuk pada atasannya.

 

“Baiklah.”

 

Namsan Tower? Sejujurnya dia tidak yakin bahwa dia bisa menepati deadline-nya selama 4 hari. Seminggu ini dia rasa dirinya sedang kacau. Dia kehilangan moodbosternya, Im SeeAn. Terang saja, Jongin sudah mencintai Im SeeAn sejak High School. Pria berkulit Tan ini sebenarnya laki-laki yang tampan dan gagah di kantornya, satu level di bawah Wu Yi Fan tentu saja. Pesona bosnya itu memang selalu menjadi nomor 1. Jongin bahkan mengakui hal itu, Wu Yi Fan menjadi salah satu inspirasi Jongin. Banyak yeoja di perusahaan ini yang menyukai Jongin, tapi tetap saja hati dan jiwanya sudah tertambat dan terjebak terlalu jauh di sosok seorang perempuan, bernama Im SeeAn.

 

4 hari? Bagaimana dia bisa menyelesaikan artikel selama 4 hari? Ini pertama kalinya SeeAn dan Jongin tidak ditugaskan bersama. Dulu, artikel yang ditulis couple ini selalu selesai sebelum deadline. Sekarang? Separuh jiwa Jongin hilang, rasanya. Tapi, dia memilih professional dengan tetap pergi ke Namsan Tower, paling tidak dia bisa mendapatkan beberapa angle photo yang bagus, yang bisa di muat dalam artikelnya nanti.

 

***

 

“Waw. Daebak. Aku baru pertama kali ke Namsan Tower!” Seru SeeAn terkagum-kagum.

 

“Baru pertama kali? Kau ini orang Korea Selatan atau bukan?” Lu Han juga tak kalah terkagum-kagum. Bukan pada pemandangan, melainkan pada gadis di sampingnya ini yang terlihat sumringah.

 

“Ya! Aku orang Korea Selatan asli tentu saja!” SeeAn memicingkan matanya ke arah Lu Han.

 

“Mau ke puncak tower? Disana pemandangan akan semakin indah.”

 

“Begitukah? Ayo kita kesana!”

 

―――

 

“Huwaaa daebak daebak! Indah sekali!” SeeAn melihat pemandangan dari atas tower ini. Tanpa sadar, Lu Han menyunggingkan sebuah senyuman tulus di bibirnya. Dia ikut senang karena sudah membahagiakan gadis ini.

 

15 menit. Lu Han benci ini. Dia benci tercampakkan seperti ini. Dari tadi Lu Han selalu disamping SeeAn, tapi dia malah selalu mencampakkannya, seolah dia tidak ada. Apa dia sebegitu terperangah pada pemandangan dari atas tower ini? Tidakkah dia sadar bahwa mukaku jauh lebih indah dari pemandangan itu? Pikir Lu Han.

 

Jangan katakan bahwa kau cemburu, Xi Lu Han.

 

“SeeAn?”

 

“Ne?”

 

“Apa tujuanmu ke Haeundae Beach hanya untuk menulis artikel?” Pertanyaan macam apa ini? Tidak berbobot sama sekali. Tentu saja. Ini hanyalah basa-basi karena Lu Han hanya tidak ingin di campakkan oleh SeeAn seperti tadi lagi.

 

“Tentu saja. Dan kau?” SeeAn menatap Lu Han. Kali ini pembicaraan mereka serius, finally.

 

“Hanya berlibur, menghilangkan stress.”

 

“Stress? Karena?” SeeAn mulai penasaran.

 

“Pekerjaan dan pertengkaranku dengan tunanganku.”

 

DEG.

 

Tunangan? Tiba-tiba saja dada SeeAN sesak, sakit dan nyilu. Ada apa ini?

 

“Jadi kau sudah memiliki tunangan?” Suaranya merendah, tidak sesemangat tadi. Seluruh badannya kini melemas.

 

Demi Tuhan, Im SeeAn! Apa kau mulai menyukai Lu Han?

 

“Begitulah. Dan kau? Bagaimana dengan namjachingumu?” Kau ini kenapa Xi Lu Han, berani-beraninya bertanya seperti itu. Lu Han merutuki dirinya. Tiba-tiba saja dia terlalu penasaran untuk mengetahui SeeAn sudah memiliki kekasih atau belum.

 

“Haha. Aku tidak memiliki siapa-siapa sekarang. Ya, kecuali beberapa sahabat.” Air wajah SeeAn tiba-tiba berubah sendu.

 

“Benarkah? Orang tuamu?” Lu Han menatap SeeAn. Sementara SeeAn menatap pemandangan dari atas tower ini, namun tatapannya kosong.

 

“Orang tuaku meninggal 3 tahun yang lalu karena kecelakaan, sejak saat itulah aku hidup mandiri. Dengan bekerja sebagai penulis artikel.” Mata SeeAn menerawang jauh ke 3 tahun yang lalu, saat orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Dia bahkan melihat dengan mata kepala sendiri kedua orang tuanya meregang nyawa, di dalam mobil yang mereka bertiga kendarai. Saat itu mereka ingin berlibur ke salah satu tempat wisata. Dan sejak itu, SeeAn memiliki trauma untuk bepergian ke tempat wisata. Dan ajaibnya, dia bisa mengalahkan traumanya karena Lu Han. Ya, Lu Han laki-laki pertama yang berani membawanya berjalan-jalan ke tempat wisata seperti ini. Bahkan Jongin sekalipun tidak pernah, Jongin tidak berani. Dia terlalu takut untuk membuka luka lama yang dialami SeeAn. Ketika SeeAn menangis, ketahuilah, bahwa orang yang pertama kali akan murka adalah Jongin.

 

Tidak kuat. SeeAn sudah tidak kuat lagi. Air matanya pecah. Dia menangis. Sadar atau tidak dia sekarang menangis di dalam dekapan Lu Han. Seperti yang kita ketahui, Lu Han sangat mengharga perasaan wanita. Lagi pula Lu han merasa ia lah yang membuka luka lama SeeAn. Dia berusaha menenangkan SeeAn. Dia tidak menyangka, gadis yang selalu terlihat bahagia, ternyata sangat merasa lemah dan rapuh di dalam.

 

***

 

Jongin mencoba mencari-cari pemandangan yang bagus dengan kameranya. Begitu lensa kameranya sampai pada puncak tower, dia menangkap kejadian yang sangat membuatnya marah pada lensa kameranya. Dia hafal benar siapa gadis yang berada dalam pelukan namja itu. Namja brengsek! Bisa-bisanya dia membuat SeeAn menangis. Seperti kesetanan, Jongin langsung berlari untuk sampai ke puncak tower dan bersiap untuk menghabisi namja yang sudah membuat SeeAn―nya menangis. Jongin paham betul, SeeAn adalah orang yang kuat. Dia selalu menyembunyikan masalahnya. Dia tidak ingin terlihat lemah. Kalau dia sudah berani mengeluarkan air mata seperti ini, berarti masalah itu sangatlah serius.

 

***

 

Krystal mencari-cari dimana Amber sekarang. Dari tadi dia sudah mencoba menghubungi Amber untuk menanyakan keberadaannya, tapi nihil. Amber tidak bisa dihubungi. Terpaksa Krystal harus mencari Amber sendiri dengan matanya. Dia berjalan sambil melihat kesana-kemari, mencari siluet sahabatnya itu. Sampai matanya menangkap namja yang ia rindukan selama satu minggu ini. Xi Lu Han. Tunangannya. Dan kau tau? Dia tidak berhubungan dengan tunangannya ini selama satu minggu. Dan ketika bertemu dia memeluk yeoja lain? Damn it! Hatinya panas, dia berlari-larian untuk sampai ke puncak itu. Tubuhnya sudah lemas sekarang, Krystal tidak peduli. Dia harus meminta penjelasan atas apa yang di lihatnya ini dar Lu Han.

 

***

 

Jongin dan Krystal sudah sampai di puncak Namsan Tower sekarang. Keduanya sama-sama kesal dan marah. Melihat secara dekat kejadian yang paling tidak ingin mereka berdua lihat dalam hidupnya. Dengan nafas yang masih memburu karena mereka berlari untuk sampai ke puncak tower.

 

“Im SeeAn!”

 

“Xi Lu Han!”

 

Teriak Krystal dan Jongin bersamaan. Mata mereka berempat saling berpandangan.

 

――TBC――

 

Annyeonghaseyo^^ Saya sebenarnya baru di dunia fanfic. Ini adalah fanfic pertama saya yang saya beranikan post, selain di blog pribadi T-T. Terimakasih buat yang mau baca fanfic abal ini. Terimakasih juga admin yang sudah mempost ff saya^^

 

Tolong berikan komentar, kritik, dan saran. Saya sangat tidak menyukai silent readers hihihi. Semakin banyak yang comment, semakin semangat juga buat saya menyelesaikan part II – nya.

 

Endingnya belum saya bikin. Jadi menurut kalian, lebih cocok SeeAn dengan siapa? Dengan Jongin kah atau dengan Lu Han? Comment kalian sangat sangat membantu, percayalah^^

4 thoughts on “[FF Freelance] Haeundae Beach In Love (Chapter 1)

  1. pertama2 salam kenal ni buat authornya.. .. kita sama2 baru dalam dunia perff-an…..hehhe
    ceritanya seru ni… aku suka yang ada cinta segi, segi berapa ya yang ini, segiempatkah??? hehe… soal couplenya aku pilih Luhan sama SeeAn saja…
    hwating thor^^

  2. i want to say hello with you as new authot..and congratulations…

    aku suka cerita nya, okay kok sebagai awal ini one great step🙂
    anyway, keep writting ya…selalu ciptain kopel kopel keren lagi dengan cerita keren juga ^^

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s