[FF Freelance] Music Box (Chapter 2 – END)

musicbox-quorralicious-tifflay

Title                 : Music Box-Finale

Author             : Quorralicious

Length             : Twoshot

Rating             : PG 13+

Genre              : Happy Romance

Main Cast        : Tiffany dan Secret Male Main cast

Pairing             : Tiffany dan ????

Previous          : Chapter 1

Disclaimer       : Cerita murni khayalanku dan cast hanya milik Tuhan dan Keluarganya

Credit Poster   : Lee Yongmi @cafeposterart.wordpress.com

A.N                 : SIDERS menjauh, TRUE READERS merapat, NE? ^^

 

Tiffany POV

Aku tidak sabar dengan jawaban dari Lay, tetapi sepertinya dia tidak menggubris pertanyaanku sama sekali. Aku yang penasaran dengan jawabannya itupun langsung berlalu ke apartmentnya dan saat dia membukakan pintu untukku, aku langsung memeluknya erat sekali.”Zhang Yixing, sudah lama aku mencarimu.”lirihku sambil terus memeluknya, Lay hanya terdiam beberapa saat seperti sedang memikirkan sesuatu.”Y..ya Tiffany, aku juga tidak menyangka aku akan menemukanmu kembali.” Jawab Lay,”Ya, saat itu kita sama-sama dirumah sakit aku masih sangat mengingat semuanya, music box yang kau berikan aku masih menjaganya tahu!” serruku sambil tidak henti-hentinya menyunggingkan senyumku yang mewakili perasaanku yang membuncah didadaku, kerinduanku padanya meledak sudah. Lay mempersilahkanku duduk saat aku memasuki apartmentnya, kebetulan saat itu dia sudah membeli bahan makanan dan mulai memasak untukku dan untuknya sendiri.”Aku sangat senang bertemu lagi denganmu, kenapa kau menggunakan nama panggungmu Lay ketimbang nama aslimu Zhang Yixing kan lebih bagus!’ seruku lagi dari ruangan televisi sambil terus menonton acara kartun yang sedang tayang di televisinya.”Ah aku hanya ingin mencari suasana baru sehingga aku menggunakan nama Lay saja.” Kekehnya agak canggung entah kenapa,”Aku tahu! Aku juga, namaku sebenarnya adalah Hwang Miyoung tapi aku mengubahnya menjadi Tiffany dan lebih terbiasa menggunakan nama Tiffany.” Kataku lagi beberapa saat kemudian spagetthi carbonara spesial buatan Lay sudah siap untuk kami makan. Lay masih terlihat canggung denganku mungkin karena dia masih kaget akan identitasku, mungkin saja dia juga mencariku seperti aku yang mencarinya. Selesainya makan, aku tidak ingin menyia-nyiakan waktu lagi sudah cukup 10 tahun bagiku untuk menunggunya cinta pertamaku, akupun mencium bibirnya ringan, ciuman pertamaku yang aku simpan hanya untuknya. Dia terkaget-kaget dan wajahnya saat terkaget-kaget sangat cute dan lucu membuatku tertawa bahagia melihatnya,”Aku mencintaimu sejak dulu, kau cinta pertamaku dan itu adalah ciuman pertamaku.” Kataku membeberkan semuanya padanya membuat dia sedikit berbeda dan hanya menyunggingkan senyum yang agak canggung dan senyumnya tipis sekali dia tidka terlihat bahagia telah bertemu denganku. Aku mempoutkan bibirku, kesal dengan sikapnya yang seperti itu,”Kau seperti tidak menyukainya, my confession.” Kataku sambil melipat kedua tanganku kedada, dia gelagapan merasa bersalah akrena reaksinya yang kurang itu. “Aku juga mencintaimu Tiffany..” katanya lagi sambil memelukku lembut dan mencium bibirku dengan lebih dalam yang kemudian aku membalas ciumannya itu, sangat romantis. Sejak saat itu kami resmi berpacaran, entah kenapa moment aku berpacaran dengannya pas sekali dengan moment sutradara Park yang menginginkan aku kembali melakukan musikal ini, dia bilang hanya aku yang pas dengan karakter ini tentu saja disambut hangat olehku yang sedang berbunga-bunga dan karena aku ingin dekat dengan Lay aku kembali melakukan musikal itu.

 

Author POV

Sementara Tiffany yang sedang menerima telpon sutradara Park, Lay terlihat sangat sedih dia menggumam kecil,”maafkan aku..” entah apa maksudnya namun setelah Tiffany kembali dia tersenyum dan menutupi kesedihannya itu. Latihan musikal berlangsung sukses karena tidak ada lagi drama antara Tiffany dan Lay justru mereka sangat mesra dan terlihat saling mencintai hingga pada saat musikal adalah puncak dari hubungan mereka yang bahagia itu, Lay meminta Tiffany untuk menikahinya dengan ditonton oleh seluruh kru musikal, pemain musikal dan tentunya para penonton musikal. Lay memang termasuk orang yang romantis jika mengenyampingkan sikapnya yang agak jutek pada yeoja lain karena dia ingin menjaga hatinya hanya untuk Tiffany saja.

.

.

.

Mereka bertunangan terlebih dahulu sebelum menikah, tak terasa ini sudah menjadi natal kedua bagi mereka untuk mereka habiskan bersama saat itu Tiffany sedang keluar untuk membeli bahan makanan, dan Lay saat itu tengah sendirian memandangi sebuah foto dan menangisinya.

 

FLASHBACK ON

Lay POV

Airmataku mengalir jika ada yang menyebutkan nama itu, aku mengingat seseorang dengan jelas melalui nama itu. Nama itu adalah Zhang Yixing, nama adikku. Saat perasaanku bercampur aduk didalamnya terdengar suara ketukan pintu, saat aku buka seorang yeoja memelukku dengan erat sekali, yeoja itu adalah Tiffany.”Zhang Yixing, sudah lama aku mencarimu.” Aku tak kuasa menahan tangis saat dia menyebutkan nama itu, tapi aku bisa menahan tangis itu. Bagaimana bisa dia menyangka aku ini adalah dia? Aku yang tidak ingin merusak kebahagiaannya hanya menjawab sebagai Zhang Yixing membohonginya, sebenarnya ini begitu berat untukku karena semenjak itu aku sudah tidak bisa membedakan mana diriku yang asli dan mana diriku yang sedang berpura-pura sebagai Zhang Yixing.  Maafkan aku Yixing ah.

FLASHBACK OFF

 

Tiffany POV

Aku kembali dari pasar dan dari ruangan tamu kedengar suara tangis namja yang kupastikan adalah suara Lay tunanganku,”Maafkan aku Yixing-ah,” ujarnya sendu sambil memegang sebuah foto, saat itu aku ingin menyamankan hatinya namun saat itu dari jauh aku melihat dua orang bocah laki-laki dalam foto itu dan saat aku mendengar Lay meminta maaf pada dirinya sendiri itu merupakan suatu yang ganjil. Di foto tersebut ada Yixing yang kukenal saat dia masih bocah dan bocah lainnya yang tidak aku kenali tetapi bisa aku pastikan dia adalah kakak laki-lakinya selain karena mirip tapi juga karena dia terlihat lebih besar dan tinggi. “apa maksudmu, kau meminta maaf pada dirimu sendiri?” tanyaku tiba-tiba, Lay yang sedari tadi tidak menyadari keberadaanku langsung kaget dan segera menghapus airmatanya itu,”Eoh, Tiffany kau sudah pulang?” tanyanya polos,”Jawab aku!” seruku kesal saat dia mencoba mengalihkan pembicaraan.”Bukan apa-apa.” Jawabnya lagi,”Aku tidak yakin, ada apa sebenarnya ini?” tanyaku lagi membuat Lay terduduk diam dan menunduk sepertinya dia merasa bersalah akan sesuatu.

Hening….

Masih dengan heningnya Lay, tetapi aku langsung menuju dapur untuk memasak karena ku pikir dengan mengisi perutnya yang kosong dia bisa lebih jujur padaku mengenai hal itu, hal yang dia rahasiakan dariku. Aku ingin memasak Puyung Hai makanan kesukaannya, kupikir dia masih memerlukan waktu sendirian meski sebenarnya kau masih penasaran dan tidak mengerti apa maksudnya seperti itu tapi aku mencoba untuk bersabar dan bersikap dewasa didepannya. Dirinya masih melayang-layang didalam pikiranku membuat diriku menjadi tidak bisa berkonsentrasi saat memasak,”Auw, aduh!” jeritku saat minyak panas menyentuh tanganku, ah aku lupa tidak menutup wajannya saat memasukkan adonannya. Lay terlihat berlari terburu-buru kearahku,”Kau tidak apa-apa?” tanyanya dengan raut wajah yang khawatir sambil melihat tanganku yang sedikit melepuh karena minyak panas.”Ayo kita ke dokter.” Ujarnya sambil berlari mencari jaket dan kunci mobilnya didalam kamar tidur. Lay sangat berlebihan, hehehe. Kekehku tanpa terasa aku menertawakan tingkahnya yang konyol itu.”Tidak usah sayang, kau punya kotak P3K kan disini?” tanyaku saat melihat Lay yang sudah bersiap mengenakan jaketnya dan menyodorkan satu jaket lagi padaku, ditangan satunya kulihat dia sedang memegangi kunci mobilnya.”Tapi aku takut itu akan meninggalkan bekas, aku sangat tahu kau sangat mementingkan penampilanmu itu, aku takut kau depresi lagi.” Sergah Lay tangannya tetap menarik pergelangan tanganku menuju pintu.”Tidak usah.” Kataku lembut padanya mencoba meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja dan tidak perlu sampai harus kerumah sakit.”Baiklah kalau itu keinginanmu.” Ujarnya sambil mencari kotak P3K.

Dia mengusap lembut lukaku dengan krim untuk luka bakar sebelumnya dia sudah membersihkan lukaku itu dengan air, saat itu aku langsung memegang kedua tangannya.”Terima kasih untuk segalanya sayang.” Ucapku sambil mengecup keningnya, Lay diam kemudian dia mengucapkan kata-kata yang sampai saat ini pun aku tidak menyangka dia akan mengatakan hal ini padaku. “Selama ini aku membohongimu Tiff, maafkan aku…” lirihnya terbata-bata,”Aku bukanlah cinta pertamamu, Yixing adalah adik laki-lakiku.” Ujarnya melanjutkan kalimatnya yang tertunda tadi. Aku yang sedari tadi hanya mendengar pengakuannya itu mulai tidak bisa menahan tangisku yang sedari tadi aku tahan, bagaimana tidak merasa sakit saat mengetahui selama ini namja yang akan kunikahi telah berbohong kepadaku. “tapi perasaan cinta dan kasihku padamu bukanlah suatu kesalahan, aku tidak berbohong mengenai perasaanku hanya saja saat itu aku terpaksa berbohong. Sebenarnya sejak saat bertemu denganmu di toserba aku tahu aku sudah terpukau oleh kepolosan dan kecantikanmu, sampai detik ini aku masih belum mengerti dan mempertanyakan bagaimana bisa kau menganggap aku adalah Yixing, apakah karena jaket dan music box itu?” aku tidak menghiraukannya,”Lalu siapa kau ini? Tanyaku tidak sabar dengan jawaban yang akan dia beri.”Aku adalah kakak laki-laki dari Yixing, namaku Yifan.” Jawabnya,”Lalu kenapa kau tidak memberitahuku sejak dulu? Dimana Yixing?” tanyaku lagi sambil terisak, saat ini tidak ada yang bisa melebihi sakit hatiku, aku merasa dia khianati walaupun saat ii dia tidak sedang bersama wanita lain bahkan sakit pada luka tanganku ini sudah tidak terasa dan tidak sebanding dengan kepedihanku.”Yixing….” potongnya lirih.”Yixing sudah meninggal sejak kecil, dia tidak bisa bertahan melawan penyakit kankernya itu walau keluarga kami saat itu sudah membawanya keluar negeri untuk berobat tetapi hasilnya nihil, dia meninggal Tiff…” jawabannya itu bagai sebuah petir yang menyambar di sore hari seperti ini, tangisku semakin menjadi-jadi. Jika saja aku tidak kuat menerima kenyataan tersebut mungkin aku sudah gila dibuatnya,”Music box itu milikku pemberian dari Yixing, saat dia melawan sakit kankernya dengan mencoba segala pengobatan yang tentunya sangat menyakitkan Yixing begitu tabah menerimanya bahkan dia selalu tersenyum, jaket putih itu keinginannya saat masih kecil dia sempat berujar ingin mempunyai dan memakai jaket putih saat dia sudah sembuh dan tumbuh dewasa nanti, kami berdua tidak tahu umurnya akan sependek itu,” Lay menangis saat menjelaskan semuanya. Aku masih terisak,”Kenapa kau tidak membertahukanku lebih cepat? Kenapa Lay? Kenapa? Haruskah sekarang aku memanggilmu Yifan? Yifan-ssi? Amukanku keluar dalam tangisanku yang tidak kunjung berhenti,”Jangan kejar aku, aku ingin menyendiri dulu!” teriakku sambil berlari menjauh darinya yang saat ini menurutku sangat menyedihkan akupun keluar menuju jalan raya dan memberhentikan sebuah taksi.

 

Lay POV

Semua memoriku bersamanya berkelebat cepat, secepat tangisku saat kusadari yeoja yang sangat kucintai sudah meninggalkanku membawa rasa kecewa bersamanya. Sudah sebulan sejak kejadian itu, bisa dibilang itu adalah pertengkaran hebat dalam hubungan kami, meski begitu aku mencoba untuk move on dan mempersiapkan diriku jika ternyata Tiffany benar-benar ingin membatalkan pernikahan kami karena kebohonganku. Terakhir kali dia mengsmsku, dia menanyakan dimana Yixing dimakamkan. Aku sungguh tidak tahu bagaimana hubungan kami kedepannya yang bisa aku pastikan adalah aku akan benar-benar hancur jika dia pergi meninggalkan aku yang sudah bergantung pada senyum dna kehadirannya selama ini disisiku.

Tiffany POV

Banyaknya gundukan yang bisa terlihat dimana-mana itu tidak bisa terhitung karena semenjak tadi aku memasuki lingkungan pemakaman ini, aku hanya bisa melihat gundukan-gundukan ini. Aku mencari sebuah gundukan di bari ke 13 no. 12, gundukan itu adalah milik seorang bocah laki-laki yang merupakan cinta pertamaku yang sejak sebulan lalu aku masih mengira dia masih hidup dan sedang bahagia berada disisiku tetapi kenyataannya tidak seperti itu, dia sudah tiada didunia ini seiring dengan langkahku yang mencari baris ke 13 dan no. 12 pun kutemukan dengan mudah. Aku memandangi gundukan itu, airmataku menetes lagi kesedihan menerpaku selama sebulan ini, sebulan sejak saat aku tahu, dia bukan dirimu Zhang Yixing.”Yixing-ah maafkan aku yang terlambat mengunjungimu…. Kau.. Kau jahat!!! Kau curang!! Bagaimana bisa kau pergi lebih dahulu, meninggalkan aku sendiri disini?!!” isakku sambil memeluk gundukan tersebut aku menganggap gundukan itu adalah Yixing yang aku rindukan selama 10 tahun ini, buket bunga Lily kesukaanku aku bawa aku simpan diatas gundukan tersebut.

“Aku harus bagaimana, Yixing-ah?”

“Haruskah aku marah dan memutuskan hubungan ini? Meski kau adalah alasan aku membuka hatiku padanya alasan aku mencintainya tanpa syarat, karena aku menganggap dirinya adalah dirimu tetapi aku sangat nyaman bersamanya, dia tahu bagaimana cara membuatku nyaman dengan caranya sendiri.” Ujarku dengan tanganku yang tetap fokus menghapus airmata yang sedari tadi terus menetes membasahi pipiku.

“Yixing-ah, berilah aku restu dan berilah aku kekuatan menghadapinya. Aku pikir aku tetap mencintainya meski aku sudah tahu dia itu bukan dirimu. Hatiku sakit karena menahan rinduku padanya saat ini, sudah sebulan aku tidak bersamanya melihatnya tertawa dan tersenyum padaku membuatku cukup sesak. Bahagialah kau disurga sana, jika kita berjodoh mungkin kita bisa bersama di surga nanti.”

 

Lay POV

Malam ini kantukku akhirnya datang, beberapa hari ini aku tidak bisa memejamkan mataku untuk tidur. Namun saat ini aku sudah mulai mengantuk aku sudah bersiap berbaring dikasurku yang empuk tetapi dingin tanpa kehadiran yeoja itu disamping tempatku berbaring, aku mulai memejamkan mataku yang sudah berat ini. Tiba-tiba, tok,tok,tok, siapa yang datang malam-malam begini? “Yifan! Buka pintu ini!!” teriaknya dari luar, aku yakin itu adalah suara Tiffany.”Tiff? kau mabuk?” tanyaku ragu saat melihat Tiffany yang tengah berdiri dna terlihat mabuk itu.”Tidak! aku tidak mabuk tuan Zhang Yifan! Aku baik-baik saja!” dengusnya semabri berjalan masuk dengan terhuyung-huyung, akupun menuntunnya masuk dan duduk di sofa yang ada diruang tengah.”Tunggu sebentar, aku akan bawakan air putih untukmu.” Kataku,” Jangan!Jangan pergi!” cegah Tiffany sambil memegangi lenganku. “Dengarkan aku Yifan-ah, siapapun dirimu tetap saja yang aku cintai adalah dirimu, hanya dirimu.”ujarnya sambil menarikku untuk lebih dekat dengannya kemudian dia melumat bibirku dengan bibirnya yang lembut. Ciuman ini adalah ciuman untuk kebeberapa puluh kalinya namun disaat ini menurutku ini adalah ciuman terbaik darinya terlebih sebelumnya kami berdua tengah bertengkar, akhirnya dia memaafkan aku. Tingkahnya yang selalu berada diluar bayanganku benar-benar membuatku kaget, dia berhasil membuatku semakin yakin bahwa dia adalah wanita yang mencintaiku seperti diriku mencintainya. Sepertinya sudah saatnya dia aku perkenalkan kepada keluarga besar Zhang, aku ingin sesegera mungkin menjadikan dia istriku.

Aku juga mencintaimu Tiffany Hwang~

 

THE END

P.S: Maaf kalau kepanjangan, hehehe. Habisnya fanficnya beneran kagok banget kalau aku potong tengah-tengah. Ditengah itu sengaja aku bikin to be continue karena aku ingin menghindari SIDERS yang inginnya cuma membaca saja, padahal menurutku tidak salah memberikan komentar bukan?/plaak/ Tidak akan menghabiskan waktu banyak. Readers yang komentar dibawah dan nyambung dengan akhir ceritaku berarti dia membaca fanfic ini sampai akhir. Gomawo… bye-byee.. :*

 

5 thoughts on “[FF Freelance] Music Box (Chapter 2 – END)

  1. waaahh~ tebakanku kemaren salah semua dong
    dan ternyata… lay itu bukan yixing huhu, enggak nyangka loh
    tapi aku suka happy ending
    keren! aku suka. nice ff

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s