[FF Freelance] Kaisoo (Not Yaoi)

Image

Tittle         : KAISOO…

Main cast   :

  • Kim Jongin EXO
  • Cha seojin (OC)
  • Do kyungsoo❤ EXO

Length        : one shoot

Genre          : married life.. BUKAN YAOI…😀

Rating         : PG-15😀

Author        : @fb:Aisyah Nurhalida (AIKYU) a.k.a UCU ;D..

Soundtrack  : up to readers.. hiihiihii..

Summary    : a gift doesn’t always mean HAPPY thing, include this time..

OOoyy… sekolong langit maaf buat readers YKIMC.. #BOW😀

Karena ada sebuah insiden yang menyebabkan saya tidak cinta lagih kepada dobi jadi, kayanya ff itu di cancel buat waktu yang lamaaa banget..😀 tapi ada sedikit bingkisan buat kalian..

I’ll presentate my first oneshoot for all of you who wait so long for Chanyeol.. so

 selamat menikmati…!!

 

 ***

 

#Seo Jin POV

PRANG !!!..

piring-piring beterbangan di sekitar aku dan Jongin

“jangan coba-coba hancurkan rumah kalau sedang marah. Kau tak tahu piring itu sangat mahal. Ishhh !!.” ultimatum mulai aku lempar.

“aku bisa membelikanmu apapun !.” lagi-lagi raut menyebalkan itu menguasai urat-urat wajahnya.

“dengan menganggur?!. Cihh, orang gila saja tahu kau selalu kere Kim jongin !.” aku mencibir penuh kesal.

“jangan coba alihkan pembicaraan. Kau harus segera luruskan semuanya !.” ia membentakku sekali lagi.

“apa ?!!.. dosa apa yang telah aku lakukan?.”

“sebenarnya Kyungsoo itu apa bagimu?.” Suaranya makin meninggi. Aku membelalakan mata. Kyungsoo?. Lagi?.

“aku bosan kau bahas hal ini terus. Dia kakakku jongin !, kakakku !.”

Tangannya menekan meja karena posisinya berdiri agak oleng. Sepertinya darah tingginya kambuh lagi. Rasakan !. siapa suruh dia mudah marah.

“hanya tiri Seojin.” Kali ini dia duduk sambil memegangi kepalanya. Suaranya menciut. Bagian kecil hatiku ingin segera berlari mengambil obatnya di laci. Tapi sebagian besarnya menolak. Lagipula dia masih punya tangan dan kaki yang lengkap. Aku yakin dia akan baik-baik saja. Dia harus baik-baik saja. Karena aku masih belum puas memberinya pelajaran.

“geumanhaja. Aku lelah berdebat terus menerus denganmu. Lebih baik kau segera pergi ke rumah sakit, obati penyakit cemburumu yang sudah akut itu. Aku pergi dulu.”

Tanpa melihatnya lagi, dengan kecepatan penuh aku bergerak keluar rumah. Untuk bekerja menghidupi kami. entah sampai kapan aku tahan dengan kelakuannya. Mengomel, menganggur, dan menuduh.

Rasa kepemilikannya atasku begitu tinggi. Aku tidak percaya kalau dia bilang mencintaiku setengah mati. Karena tiap hari ada saja perkelahian tak wajar mewarnai kontrakan kecil nan sunyi milik kami. terutama berkat kedekatanku dengan kakak tiriku tersayang. Do Kyungsoo. Apakah masuk akal aku mencintainya?, sedangkan di sudut manapun di hati ini aku menyimpannya sebagai keluarga. Dan sampai saat ini, aku belum berhenti berharap Jongin mampu mempercayaiku. Bahkan melebihi matanya sendiri.

***

07.00 KST @Bubblegum Resto

Riak suara pengunjung memberi makan telingaku dari segala arah. Tapi tetap saja tak bisa menghentikan kelitikan didada. Akibat tatapan aneh seseorang di kursi dekat jendela. Ia tersenyum penuh rahasia dengan lensa yang berbisik mengundang. Kyungsoo melakukannya selama hampir 30 menit terhitung dari yang berhasil aku sadari. Dia terus memperhatikanku dan belum memesan sama sekali.

Sebelum mati penasaran akhirnya aku memutuskan untuk menghampirinya.

“oyy !!, apa seseorang menyantetmu?. Sejak kapan tepatnya oppa jadi gila..?.”

Aku tersenyum mengejek.

“siapa yang kau panggil gila.. beraninya menyamakan aku dengan jenismu.” Dia balas tersenyum. Aku membalas ulang dengan pukulan ringan di sisi tangan kirinya. Kemudian duduk menghadapnya.

“aku bukan sedang gila. Aku hanya tidak sabar menunggu hal luarbiasa yang akan menimpamu hari ini.”

Alisku bertaut.

“ ah.. sepertinya menyenangkan.. haha..” katanya lagi.

Kedua tangannya bertopang dagu di atas meja. Dan matanya terlihat menerawang.

“apa memangnya?.” Aku mulai masuk perangkap kata-katanya. Seperti biasa.

“mungkin setelah itu kau akan menangis, tertawa, kaget, tersenyum sendiri,sukur-sukur terlihat bodoh dan menggelikan.” Matanya masih menerawang.

“apa?.” Nadaku agak naik.

“bukan apa-apa. Cepat ambilkan aku…”

“susu coklat kan?.” Kataku sambil berlalu. Betapa mudah menebak kesukaannya. Sungguh, secara refleks lidahku beradaptasi dengan apapun dalam diri Kyungsoo. Oops maksudku oppa.

Senyumnya mengembang mendengar tebakanku (yang tak pernah salah :D). Dan di detik selanjutnya ia asik menggoyangkan kepala ulah earphone yang baru saja dipasangnya.

Tanganku asik mengocok susu coklat dingin pesanan Kyungsoo. Tapi pikiranku bercabang kemana-mana. Oppa satu ini memang jagonya soal buat penasaran. Percuma saja aku bertanya, dia tak mungkin memberi tahu kalau sudah melabelkan misteri kata-katanya dengan label “RAHASIA”. Huft..

#AuthorPOV

Rintik  hujan ternyata bukan hanya mengguyur jalan raya tepi Bubblegum resto tapi juga di hati Seojin. Dia berulang kali merutuki diri atas pertengkaran konyolnya pagi tadi dengan Jongin. Oh ya tuhan.. entah sudah sebesar apa rindunya kali ini. Seharian Jongin yang biasanya rutin mengunjunginya saat bekerja tak menampakkan diri sama sekali.

Saking rindunya gadis itu tak sadar menuliskan nama Jongin di kaca jendela yang penuh dengan uap embun. Sambil menggumamkannya berkali-kali.

Seojin terperanjat dari lamunan.

“jangan pikirkan si bodoh itu. Dia bahkan tak ingat padamu saat ini.”

Gadis itu berusaha menghapus nama Jongin dengan kekuatan penuh. Sampai jalanan terlihat jelas berkat uap di jendela yang habis bersih. Kali ini gadis itu mengucek-ngucek ke dua matanya. Apa itu?.

Di jalan besar itu mobil-mobil truk bergerak lamban melewati Bubblegum resto. Atau tepatnya melewati Seojin. Apa-apaan ini?. Seenaknya memasang nama Seojin di tubuh truk. Gadis itu bangkit dari kursinya. Apa ada merek makanan seojin di korea?. Setahunya tidak.

Makin lekat dipandangnya jalan besar itu dan sesuatu mulai teraba perlahan. Tiba-tiba saja kata-kata Kyungsoo memenuhi sudut-sudut pikirannya.

” aku bukan sedang gila. Aku hanya tidak sabar menunggu hal luarbiasa yang akan menimpamu hari ini.”

 

” mungkin setelah itu kau akan menangis, tertawa, kaget, tersenyum sendiri,sukur-sukur terlihat bodoh dan menggelikan.”

apa ini ulah Jongin?.

Truk pertama ternyata diikuti truk-truk lain di belakang dan semuanya dibuat kembar dengan nama Seojin disana. Seperti ingin gadis itu membacanya. Mereka berjalan bagai siput.

Oh dear.. apa gerangan yang terjadi dengan hati Seojin. Pipinya bersemu dan gemericik aneh memompa jantungnya, Seojin tahu pasti itu bukan darah.

Gadis itu berlari kecil keluar restoran menuju tepi jalan raya. Yang kebetulan sedang lenggang. Gerimis pasti penyebabnya, dan lagi hari mulai sore saat itu.

Tepat di seberang jalan sosok yang dirindunya tengah berdiri. Senyum Jongin masih setampan biasa. Aura tulus yang dihantarkannya lewat angin membuat Seojin mengurungkan niatnya memberi Jongin pelajaran. Mana tahan dia berlama-lama puasa bicara dengan Jongin, tidak bertemu sehari saja dia yang malah terkapar -_-. Andai lebih lama lagi resiko kematian Seojin mungkin akan meningkat. Huh.. siapa yang tak akan begitu jika nampyeonnya adalah seorang Kim Jongin.

Pria itu mengangkat telepon genggamnya dan terlihat berbicara serius namun sedetik kemudian tersenyum ke arah Seojin. Jongin menggerak-gerakan tangannya menggunakan bahasa isyarat yang biasa digunakan orang bisu. Mereka memang sering berinteraksi dari jauh lewat bahasa ini. Seojin yang mendiang ayahnya seorang tuna wicara sudah pasti menguasainya. Agar tidak repot terhalang jarak jauh Jongin memutuskan untuk memepelajarinya juga. Pasangan aneh -_-.

Tangan Jongin masih lincah mengepal, memutar, menggerakan jari, menjewer pelan kupingnya seperti orang aneh. Kira-kira begini artinya ­–lihat truk-truk ini dan dengarkan. Aku akan membayar lunas hutang-hutangku sekarang juga-.

Hutang yang mana?. Alisnya bertaut, tak mau ambil pusing akhirnya senyumnya mengembang seiring matanya yang mulai menggenang, belum apa-apa dia sudah terharu. Duhai.. pesona Jongin memang sulit ditolak.

Truk yang tadinya berhenti sebentar membiarkan kontak aneh antara Seojin-Jongin melaju lagi, masih dengan kelambatan yang sama. Kali ini masing-masing jendela truk diturunkan, menyembul lah kepala supir dengan toaknya dari balik kaca. Seperti hendak membuat pengumuman berantai.

Truk 1 “Cha seojin, wanita cantik musiman yang membuatku gila.”

..

..

..

..

Truk 2 “tombol-tombol indraku ada padanya, suka atau tidak.”

..

..

..

..

Truk 3 “gadis yang membuatku tak akan pernah bosan mencintainya.”

wanita itu membekam mulut dengan kedua tangan. Membisikkan “ya tuhan” entah yang ke berapa. Dia hampir saja menangis. Bahagia tentu saja.

Bencinya menghilang. Kesalnya menguar. Betapa cintanya untuk Jongin ternyata masih utuh. Tak menyusut apalagi hilang. Bahkan setelah tekanan hidup yang terus menerus mendera.

Baiklah.. sekarang apalagi..

Truk 4 “wanita manis yang selalu kubuat menangis.”

..

..

..

..

Truk 5 “yang selalu aku jebak dalam kesulitan bersamaku, karenaku..”

..

..

..

..

Truk 6 ”tukang marah yang menyukai angka 25.”

..

..

..

..

Truk 7 “wanita rapuh yang selalu menguatkanku.”

Klak !!..

Airmatanya terlalu banyak untuk bertahan menggenang di kantung mata. “Jangan salah sangka Jongin.. aku yang bersedia mengikutimu dengan kesulita-kesulitan di sekitarmu. Bukan. Bukan siapapun. Termasuk dirimu.” Katanya dalam hati.

..

..

..

Truk 8 “CHA SEO JIN. Yang membenci banyak hal apalagi pisang, tapi juga sangat memfavoritkan pisang punyaku.”  Supir truk 8 menahan tawa setelah selesai membaca rentetan huruf dalam secarik kertas dari Jongin itu.

MWO?. Wanita itu tercengang. Airmatanya menyurut. Amarahnya mulai menyala lagi-_-. Dia memang sedang sensitif berkat beberapa hal hari ini. Moodnya naik turun dan mungkin kali ini klimaksnya. Sihir Jongin mengalahkan kutukan tak termaafkan voldemort sekalipun😀.

Dia memfitnahku. Teriak Seojin dalam hati. Kalaupun iya Jongin tak harus kan membukanya di depan umum:D.

Sementara Seojin sibuk mengumpat, Kyungsoo terbahak di balik kaca restoran. Tanpa sepengetahuan Seojin dia bersembunyi di dapur dan menunggu untuk pemandangan ini. Tentu kata-kata ‘konyol’ tadi sudah ia duga akan ada dalam rencana kejutan Jongin. Yang memang sudah memaparkan suprisenya secara garis besar pada Kyungsoo dari jauh-jauh hari.

Kyungsoo tahu segala hal tentang Seojin. Tentang Jongin. Tentang mereka berdua. Bagaimana pertemuan singkat mereka yang tumbuh jadi cinta buta dengan begitu cepat. Bagaimana Jongin mati-matian memohon restu orangtuanya untuk menikahi adik tirinya itu. Saat mereka bersikeras bersama, dan akhirnya kabur untuk menikah tanpa restu. Kyungsoo tahu bahkan mungkin melebihi Jongin ataupun Seojin sendiri.

Suka atau tidak Kyungsoo sudah terlibat dari awal. Statusnya yang merupakan sahabat karib Jongin dan kakak tiri Seojin tidak diberi kesempatan untuk bersikap tak peduli pada hubungan mereka berdua. Bahkan Kyungsoo memiliki andil besar untuk kehidupan pasangan muda itu. Khususnya dalam hal keuangan.

Malangnya pria ini. Hidupnya hanya berkutat di sekitar Seojin dan Jongin. Tanpa sedikitpun mereka ingin tahu apa yang diinginkan Kyungsoo sebenarnya. Berjuta kali Kyungsoo ingin berteriak. Pada mereka, pada dunia bahwa yang diinginkannya dalam hidup adalah gadis cantik yang berdiri di samping Jongin dalam foto pernikahan. Apakah belum cukup miris?. ya, dia menginginkan Seojin. Melebihi apapun.

Keahlian Kyungsoo menyimpan rahasia membuat rasanya tidak pernah tercium oleh Jongin apalagi Seojin. Muncul beberapa kali niat ingin merebut. Tapi selalu urung saat melihat kebahagiaan tececar di sekeliling mereka. Meski hobby bertengkar, Kyungsoo selalu tahu kalau  pasangan ini selalu mengakhiri pertengkaran dengan adegan mesra lagi. Akhirnya Kyungsoo memilih diam. Dan  menikmati cintanya sendirian. Entah sampai kapan….

Seojin masih berkutat dengan kemarahannya sementara truk9 berbicara.

“gadis yang tanpa malu sering meminta duluan saat malam hari.”  Si supir tertawa dengan toaknya sambil melirik Seojin penuh arti. Membuat amarahnya makin naik. Dan Jongin semakin melebarkan senyum saat melihat reaksi Seojin begitu. Memang ini tujuannya. Membuat Seojin merasakan rasa yang bermacam-macam dalam satu waktu sampai nantinya Jongin akan mengakhiri dengan hadiah utama. Yaitu perasaan bahagia.  Sebahagia yang mungkin belum pernah Seojin tahu.

“ kalau ingin menghajarku, kemarilah…” truk10 menutup pesan berantai Jongin dengan anggun.

Seojin memukul-mukulkan kepalan tangan kanan ke telapak yang kiri. Seperti halnya algojo yang hendak melayangkan pukulan kepada tersangka. Tapi bukannya berlari ke arah Jongin. Seojin malah berbicara lewat bahasa isyarat lagi. Begini katanya.

“beraninya menyuruhku, kau yang harus kesini. Temui mautmu di sini!.”

Jongin tertawa lagi sebelum akhirnya menurut. Dia berjalan perlahan tapi pasti ke arah Seojin. Menyebrangi zebra cross menuju wanita yang hari ini tepat berumur 25 tahun itu. Tak ada satupun kendaraan yang lalu lalang di jalan besar itu. Jalanan sore yang begitu sepi untuk ukuran kota besar. Entah mungkin itu salah satu bagian kejutan Jongin.

Semuanya baik-baik saja sampai tiba-tiba dari arah kanan Jongin sebuah truk pasir melaju sembarangan. Dengan supir mabuk di belakang kemudinya. Akibat kecepatan yang melebihi batas normal,

BLAM !!!..lelaki yang sedang berjalan di tengah jalan itu tak sempat menghindar barang selangkahpun saat mobil besar menghantam tubuhnya.

Jongin terlempar sejauh 3,5 meter ke tepi jalan. Tepatnya ke sisi yang berlawanan dengan Seojin. Semuanya terjadi dalam sekejap mata. Tak ada waktu bahkan hanya untuk menghela nafas.

Tak ada jeritan. Tak ada raungan. Seojin dengan gemetar mencengkram terusan rok coklatnya. Bibirnya sedikit terbuka tak percaya,  membuat airmata dari ke empat sudut matanya mengalir terminum lewat bibir beberapa.

3 detik…

6 detik…

Gadis itu jatuh terduduk. Matanya kosong. Ia belum siap bernafas kembali. Otaknya masih berkelana kemana-mana. Berputar-berputar mencari tahu apa tepatnya yang sedang terjadi di hadapannya ini.

Sementara itu orang-orang yang tadinya menonton di balik kaca rumah/tokonya masing-masing sesuai perintah Jongin menghambur keluar. Berlari lalu mengerubungi Jongin penuh simpati. Tak lama setelah orang-orang tadi, dari belakang terlihat seseorang ikut berlari kemudian memaksa menembus benteng manusia yang mengelilingi Jongin. Bersimpuh di depan tubuh Jongin yang bersimbah darah. Dan dengan perasaan kacau pria bernama Do kyungsoo itu menyentuh pergelangan tangan Jongin hati-hati.

“yak !, Kim jongin..Kim jongin.. BANGUN !!. yak !, idiot !, jangan bercanda denganku.”

Dengan air mata yang jatuh satu-satu pria itu memarahi Jongin bagai kesetanan. Mengguncang-guncang tubuh Jongin kasar.

Saat pria itu mengguncang tubuh Jongin. Sesuatu terlempar dari tangan Jongin. Yang ternyata adalah sebuah kunci. Terkepal di tangannya begitu erat hingga terlempar sejauh itupun kunci itu masih tergenggam kuat.

“telepon 119 cepat. Siapa saja !!.” Kyungsoo berteriak sambil menengadah memandang orang-orang tadi.

Tangan Kyungsoo menggapai kunci yang baru ia sadari keberadaannya. lalu menyentuh pelipisnya stress. Dia masih tak percaya ending kejutan Jongin berakhir seperti ini. Ini tidak ada dalam script !. sungguh !.

***

 

 

Kyungsoo menitipkan Jongin ke petugas medis dan salah satu warga. Pria itu berjanji akan menyusul setelah menyelesaikan satu hal. Satu hal yang berakibat banyak padanya.

sepeninggal ambulance Kyungsoo berjalan mendekati Seojin. Mata gadis itu masih kosong. Hanya dua hal  yang dapat dipastikan masih hidup saat ini. yaitu paru-paru dan airmatanya, dengan nafas tersenggal butiran air itu belum mau berhenti juga.

Kyungsoo ikut terduduk. Memegang erat bahu adik tiri tersayangnya. Mencoba menguatkan walau nyatanya pria itu juga hancur.

.

.

.

“kajja.. temani dia.” Kyungsoo mulai buka mulut setelah kediaman yang cukup panjang.

Mata kosong Seojin bergerak perlahan menyelami manik mata Kyungsoo.

.   .   .

“oppa..” bisiknya pelan.

“mmmh…” Kyungsoo tersenyum. Menyembunyikan sayatan di balik wajahnya.

“Jongin…” kata Seojin lagi, namun kali ini dengan isakan yang meledak. Gadis itu tiba-tiba menjerit-jerit histeris dengan tangan di kedua telinga. Seperti menghalangi suara angin yang dari Tadi membisikan bahwa Jongin akan tiada. Lantas memukuli dada pria di depannya. Seolah ingin melampiaskan kesal pada apa saja yang dia temui.

Kyungsoo tak melawan. Bagus pikirnya. Memarpun tak apa jika itu membantu.

Lama Seojin memukulinya brutal hingga entah di menit ke berapa Kyungsoo memberdirikan paksa gadis itu dan menariknya ke dalam pelukan. Seojin meronta. Namun tenaga Kyungsoo tak dapat dilawannya. Di situlah, ya.. tepat di dada Kyungsoo, Seojin menemukan kekuatan kembali. Ia tahu akan selalu ada yang memapahnya di saat setengah dari nyawanya hampir hilang. Hilang di bawa pergi mobil serba putih menuju rumah sakit.

***

@Seoul Hospital..

Dada Seojin bertalu bagai genderang. Keringat was was tak segan lagi membuat baju plus -rompi seragam restorannya- basah. Dia sedang tidak baik-baik saja. Wanita mana yang akan tenteram jika belahan jiwanya sedang berada di ruang gawat darurat. Parahnya, belum ada tanda dokter keluar dari 10 menit lalu Jongin masuk. Sedang apa mereka di dalam?. Seojin menutupi wajahnya dengan sebelah tangan sambil menunduk.

Sementara Kyungsoo baru saja datang setelah menyelesaikan soal administrasi rumah sakit dan langsung mengambil tempat di samping Seojin. Pria itu memegang tangan Seojin hati-hati. Membisikan –Jongin akan baik-baik saja- lewat tangannya, yang masih lekat darah kering Jongin di sana.

Seojin merespon genggaman Kyungsoo tanpa sedikitpun melihatnya. Itu tak perlu. kulit Kyungsoo memiliki identitas tersendiri saat Seojin menyentuhnya.

Dokter membuka pintu. Keduanya berdiri masih dengan tangan saling bertaut.

Dokter itu menatap lekat Seojin. “pasien ingin bertemu istrinya. Silahkan.” dia membukakan pintu lebih lebar.

Mata Seojin menatap seakan meminta izin pada Kyungsoo untuk pergi sendiri. Karena Seojin tahu Kyungsoo juga merasakan hal yang sama. Ingin segera bertemu Jongin.

Kyungsoo tersenyum. Melepaskan tangan Seojin. Dia mengijinkannya.

Tiit…tiit…tiit..

Monitor jantung Jongin membuat hatinya berdebar. Takut alat itu mendengingkan bunyi panjang tiba-tiba. Hati Seojin berdarah. Dia mati-matian menahan tangis. Ingin terlihat kuat di hadapan Jongin yang saat ini tengah memandang Seojin penuh cinta.

Mata Jeongin tidak benar-benar terbuka. Untuk bernafas saja butuh kekuatan ekstra baginya. Bahkan jika tanpa alat bantu oksigen yang menutupi hampir seluruh hidung sampai daerah sekitar bibirnya, mungkin pria itu tinggal menunggu detik hingga nafasnya benar-benar habis.

Seojin buru-buru mengambil tempat di pinggiran ranjang Jongin. Ranjang besar berwarna putih yang kelihatannya muat ditiduri 2 orang sekaligus. Seojin mencondongkan badan. Seperti sedang menindih Jongin padahal bukan. Tubuhnya masih jauh beberapa centi dari tubuh lemah Jongin. Menumpuk berat badannya ke siku.

Di usap-usapnya rambut Jongin Sambil tersenyum. Pria itu menangis dengan alis bertaut (meringis). Menahan sakit di mana-mana. Terutama di bagian ulu hati.

“a—ku….min—ta…ma—af.” Bibir Jongin bergerak. Meski pelan Seojin bisa mengetahui cukup jelas lewat masker transparan itu. Dan lagi telinganya cukup dekat untuk mendengar bisikan Jongin. Tangan Seojin mengepal menahan airmatanya.

Gadis itu masih tersenyum. Tetap fokus menyisir rambut Jongin dengan jemarinya.

Jongin ingin bicara. Tapi bibir dan pita suara pria itu tak bisa menuruti perintahnya. Hingga detik-detik berikutnya mereka hanya saling menatap. Bersama suara-suara aneh alat-alat medis di sekitar, Jongin memohon dalam hati.

Seojin-ah . . . .

Aku minta maaf untuk saat pertama kali mengajakmu ke dalam kesulitan ini…..

untuk saat pertama kali membuatmu harus bekerja.. untukku..

untuk saat airmatamu jatuh tanpaku… karenaku…

dan untuk saat…

dimana aku belum bisa meminta maaf…..

seojin memejamkan mata cukup lama. Membukanya. Lalu tangis Seojin pecah.

Seakan telinganya jelas mendengar Jongin meminta maaf.

“ssstt…. jangan minta maaf kumohon.” Seojin menunduk menyembunyikan tangis dengan rambut yang tergerai menghalangi dahinya.

Saat mengangkat wajah dilihatnya Jongin menutup mata. Seojin terperangah. Buru-buru di lihatnya monitor detak jantung Jongin. Kemudian ia menghembus nafas lega. Tak ada yang aneh pikirnya, Jongin hanya ingin tidur saja. Ia kelelahan. Lelah yang teramat sangat.

Seojin meluruskan kaki. Ranjang rumahsakit yang besar membuatnya leluasa berbaring di sisi jongin. Tubuhnya dimiringkan. Mendekap Jongin penuh kelembutan.

Alunan suara tanpa irama mulai terdengar. Seojin menyanyikan lagu pengantar tidur dengan indah. Sambil tak lupa menepuk-nepuk pelan perut Jongin yang tengah didekapnya. Hanya kebiasaan lama. Saat Jongin sedang mengalami insomnia.

***

#flashback..

Seojin menunjuk yakin rumah megah bercat putih gading itu. Pekarangan yang asri, jalan setapak dengan hiasan bunga tulip di sisi kanan kirinya yang memanjang menuju pintu. Bagaikan labirin, hendak membawa masuk siapa saja menuju surga.

“kau yakin?.” Ucap Jongin ragu.

“aku sangat yakin.” Seojin membenarkan kerah kemeja serta ikatan dasi Jongin. Sambil melanjutkan.

“maka dari itu, Kau harus segera jadi duta besar. Lalu membelikan kita rumah ini di hari ulang tahunku yang ke-25.”

Jongin tersenyum lembut sambil memperhatikan wajah istrinya yang berjarak hanya beberapa centi saja. Sementara bibirnya masih terkatup. Sengaja membiarkan gadis itu berceloteh sepuasnya.

Seojin asik menari dengan dasi Jongin, lalu menepuk-nepuk pipinya kegirangan.

“ah !, serasa mimpi. Apakah aku sedang syuting sebuah drama?!. Gadis miskin yang dibawa lari pangeran tampan nan kaya raya untuk menikah karena tak direstui. Ooh.. romantisnya.” Ujarnya kemudian sambil memegangi kedua pipinya yang bersemu.

Segera jitakan Jongin mendarat di dahi Seojin.

“yak !, mana ada aktris sejelek dirimu?. Bangunlah!.” Ujar Jongin dengan nada meledek.

“apa !. lalu kenapa kau menikahiku?.”

Seojin memelototi Jongin tak lupa dengan hiasan manyun di bibirnya. Dia bena  r-benar marah !. Kenyataan bahwa hidungnya yang mungil nan lancip, kulit kuning asia, dagu V shape serta aksen chubby di pipinya belum mampu menembus batas minimal tipe ideal Jongin membuatnya begitu sebal.

“aku sendiri bingung kenapa aku memilihmu. Bisa-bisanya tuhan menjatuhkan hatiku padamu. Apa itu masuk akal?.”

“issh!, kalau begitu nikahi saja orang lain.”

Seojin mulai berjalan dengan sebal. Kekesalannya tampil dari cara berjalan yang dibuat berlebihan. Lalu Jongin ?, pria itu cekikikan sambil terus memanas-manasi Seojin. Langkahnya kewalahan mengejar di samping kiri gadis itu.

“harusnya tuhan menjodohkan wajah tampan ini dengan Kim taehee, baru cocok.”

“atau sebaiknya Han gain noona saja ya..”

“ohh aku tahu. Park shin hye pasti yang terbaik. Dia manis dan berhati malaikat..” Jongin terus mengoceh. Seojin berhenti tiba-tiba. Membelalakan matanya.

“ohh kenapa berhenti?. Kau punya  saran.. jangan-jangan kau ingin menjodohkanku dengan Park min..” #chuu.. Seojin membungkam sigap bibir Jongin lewat kecupan singkat.

Lalu bicara. “aku atau Kim taehee?.”

Jongin benar-benar bungkam. #chuu..

“aku atau Han gain?.”

#chuu sekali lagi.

“aku atau Park Shin hye, Kim Jongin?.”

Tanpa tengok sana-sini ‘ingin’nya terpancing hingga perlahan Jongin merayap. Merapatkan tubuhnya dengan Seojin. Aah… begitulah keduanya hidup. Selalu ada gelitik pertengkaran yang bersambut manisnya kasih jongin.

#flashback end..

***

#another flashback….

“appa !!!!.. malam ini kan giliranku?.” Anak berumur di bawah 5 tahun itu mendengus berkacak pinggang.

“ayolah.. besok malam appa lembur sampai pagi. Bagaimana kalau besok dan lusa giliranmu. Jadi kita impas, sama-sama dapat 2 hari bersama ibu. Setuju?.”

Seseorang yang di panggil ‘appa’ itu membujuk sambil tersenyum. Naasnya, itu sama sekali tak berhasil.

“tidaaaaak !!. Itu sudah aturannya. Biarkan saja malam ini dan besok aku bersama ibu. Baru, 2 hari setelahnya appa yang tidur dengan ibu.”

Suara cempreng anak itu menggema di ruangan berwarna serba pastel yang sering mereka sebut kamar ‘utama’.

“itu sama saja Kai..” keluh appanya gereget.

Anak itu menggeleng-gelengkan kepala kasar. “ shireo !!!.”

“dasar keras kepala !.” kata ayahnya lagi.

“itu Gen dari appa..” Kai menjulurkan lidah. ( wwkwk.. ayahnya K.O).

“bagaimana kalau kita duel. Katanya kau ambil kelas karate di taman bermain.” (gaya banget TK ada karatenyeeh :D).

“jangan marah kalau appa berdarah, OK?.” Kai membentuk O dengan tangan. Meminta persetujuan appanya.

Ayahnya tersenyum. “kemarilah.” Pria dewasa itu memasang kuda-kuda. Lalu Kai menerjangnya dengan pukulan-pukulan intens. Sambil berteriak ‘Ha!’ untuk menguatkan serangan –lebih tepatnya menjerit-. Ayahnya tak melawan. Karena pukulan tangan mungil itu memang sama sekali tidak sakit.

Kemudian dengan gerakan tiba-tiba ayahnya mengangkat kedua kaki Kai dengan sebelah tangan. Sedang tangan satunya asyik menggelitiki tubuh Kai. Anak itu dalam keadaaan terbalik sekarang. Kai tertawa. Tepatnya kegelian.

Anak itu memohon ampun sambil tertawa-tawa. Tapi ayahnya masih belum puas. Sampai akhirnya kegaduhan itu berakhir dengan satu teriakan.

“DO KYUNGSOO !!!…. DO KAISOO !!!…. BERHENTI !!!..”

Seorang wanita berdiri di ambang pintu sambil berkacak pinggang. Dengan tangan berbusa dia memelototi dua mahluk berisik itu.

“di pagi hari aku sudah berkeringat demi memasakan kalian makanan. Dan sekarang aku sedang mencuci, baju-baju kalian juga. Bukannya makan dengan damai. Kalian malah membuat keributan !!.” protesnya tanpa ampun membuat Kyungsoo dan kaisoo menciut. Dan langsung memberhentikan aktifitasnya.

Kyungsoo bahkan buru-buru menurunkan Kai, lalu menggendongnya dramatis. Mereka saling berpelukan berkat teriakan fantastis satu-satunya wanita di rumah itu.

Pipi Do kuadrat itu saling menempel. Lucu sekali saat mereka akur, sampai wanita yang bernama Seojin itu mati-matian menahan tawa. Dan sebisa mungkin tetap terlihat garang😀.

Seojin menghampiri mereka dengan jengkel. Menjewer ayah dan anak bermata bulat itu.  Kontan mereka menjerit. Dan seperti hari-hari yang lain. hari itu dimulai dengan keributan.

#flashback end….

seperti itulah hari-hariku bersama mereka di rumah cintamu.. kami bertengkar untuk bicara.. dan kami saling membentak untuk saling memaafkan.. setiap hari rasanya selalu ramai.. karena Kaisoo mungil yang membuat segalanya berbeda..

asal tahu saja, dia sangat tampan !. dia mengambil mata indah ayahnya. Dan entah kenapa senyumnya mirip sepertimu. Itu rahasia tuhan bukan…?! J

pria bodoh… kenapa merahasiakan hal sebanyak itu dariku..

seluruh sikap egoismu bisa kumaafkan.. tapi tidak untuk kepiawaian mu berakting..

tragis memang.. sebagai istrimu aku tak pernah ingin tahu bahwa ternyata kau selalu pulang pagi karena bekerja sebagai penerjemah tamu asing di Blue house.. bukannya mabuk, seperti dugaanku…

aku termakan kebohonganmu… percaya saja waktu kau bilang tak bisa bekerja karena ayahmu yang kaya raya itu memblok semua jalanmu untuk melamar…

ironisnya kau berbohong untuk kebahagiaanku..

aku bilang aku sangaaat menyukai 25.. karena aku lahir di hari ke-25 bulan januari, aku menikah denganmu juga di tanggal 25 januari. Dari situlah aku berangan-angan, di ulang tahunku yang ke-25 aku ingin berada dalam kesempurnaan, di berkati paket-paket hadiah melimpah… tapi itu dari tuhan.. bukan darimu sayang..

aku hanya ingin kau tinggal. Bukan berusaha diam-diam menabung untuk mendapatkan rumah semewah ini.

aku sangat ingat saat pertama kali kuceritakan tentang makna angka 25, kau memperhatikan begitu seksama. Tak ku sangka kau akan bertingkah sejauh ini..

aku selalu mencintaimu Kai.. buktinya aku mau memanggilmu dengan nama kecil yang selalu kau banggakan, meski dulu aku bersikeras tak mau mengucapkannya. Bagiku, Jongin jauh lebih keren..

aku mencintaimu.. juga mencintainya.. jangan tanya lebih cinta yang mana?. Karena aku tak bisa menjawab, Kai. Belum.

entah.. porsi dirimu dan dia di hati ini tampak samar. Aku tak pernah bisa membandingkan. Lebih tepatnya belum berani. Yang aku tahu cintaku takan habis untukmu, tapi juga semakin hari semakin bersemi untuknya.

Aku mebicarakan mimpi denganmu, namun melakukan semuanya dengan dia. Kalian mungkin berbeda. Hanya saja hatiku menyayangi kau dan dia dengan jalan yang sama Kai… Dengan terburu-buru. Sehingga butuh waktu yang lama untuk menyingkirkanmu, meski sekedar mengabaikan….

Aku mencintaimu Kim Jong In….

Sayang, kali ini aku harus berbagi dengan Tuhan..

Aku harap kau bereinkarnasi menjadi putera tampanku. Itu saja yang selalu kupinta.. kau tahu sendiri aku sangat sengaja menamainya Do Kaisoo. Karena kupikir kau akan hidup lebih lama lagi. Masih bersamaku, masih bersama Kyungsoo, tapi bukan di situasi yang dulu..

Tepat satu tahun setelah kepergianmu… aku menikahi kakak tiriku Kai… hal yang selalu kau takutkan… dan lagi-lagi di tanggal 25 januari. Percayalah itu bukan settingan.

Tanpa kau dan aku sadari, dia selalu menaburi kita dengan kebahagiaan, tak pernah mengeluh berapa kalipun kita meminta, atas apa saja, bahkan memintanya menahan cinta di tenggorokan. Ternyata dia mencintaiku dari dulu Kai.. jauh sebelum bertemu denganmu sayang…

Maka kali ini giliran aku yang mengabdi untuknya.. awalnya itu niatku…. tapi ternyata aku juga mencintainya dari waktu yang cukup lama.. hanya saja cinta itu terlalu samar oleh sosokmu…

Tuhan itu adil yaa.. aku dicintai 2 mahluk yang menakjubkan.. ia tak mau membiarkan siapapun tersakiti.. maka ia membuat aku jadi milikmu di hari kemarin.. dan hari ini adalah bagiannya… Kyungsooku tercinta..

Dengan begitu kita saling memiliki.. kita bertiga !. aku, Kyungsoo, dan kau.. jaring hubungan rumit membawa kita pada satu titik. Kebahagiaan. Aku sudah menemukan paket hadiahku Kai.. ini yang benar-benar aku inginkan…. keluargaku.. dan kenangan tentangmu..

Gomawoyo… kau adalah jalan terindah yang pernah kutempuh untuk menuju kesempurnaan, menuju Kyungsooku..

 

KAISOO,, KAI KyungSOO.. kupersembahkan untuk kalian…

25 Januari, 2014

Untuk Kai di surga..

Dari Cha seojin..

Di

sisi Kyungsoo yang tertidur pulas..

 

thanks to: reader pertama yang paling keceh dan cetar se kolong bangku…. Eldysa Esa Pradita..

thanks alot for your tears and comment.. (hug)😀

7 thoughts on “[FF Freelance] Kaisoo (Not Yaoi)

  1. yeeee sama-sama yoooo ucuuuuuu
    baca sambil nangis dipojokan kelas. inget yang sehun lanjutiiin.
    keep writing ucu ssi :-*

  2. hmmmm……. mw bilang apa yah???? gak bisa diungkapin pake kata” ini keren banget empat jempol buat author ye…ye…la….la…la…
    alur ceritanya itu loh menohok banget T-T
    pokonya DAEBAK…..

  3. Ff-nya keren banget…
    Gag nyangka akhirnya bakalan jadi kayak gini..
    Huaaaa lagi lagi jongin
    Nangis dipojokan sendirian

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s