I Found You [Chapter 4]

i found you 2

Author: ree

Genre: AU, thriller, action, romance

Rating: PG-15

Length: chaptered

Main Casts: Im Yoona SNSD, Lee Jonghyun CNBLUE, Lee Donghae Super Junior

Other Casts: Krystal Jung (Jung Soojung) f(x), Jessica Jung SNSD

Previous: Prologue | 1 | 2 | 3

Disclaimer: Just my imagination

 

 

 

***

Yoona menopangkan dagunya di atas meja dengan tangan kanan dan memainkan ballpoint dengan tangan kiri. Tatapannya kosong. Sesekali gadis itu menghela napas berat. Beberapa rekan kerja yang sedari tadi silih berganti mengajaknya bicara hanya dijawab sekedarnya.

Yoona mengangkat tangannya dan menyentuh bibirnya. Rasanya, kejadian semalam seperti mimpi saja. Namun bukan mimpi indah seperti yang selama ini diidamkannya. Entah kenapa, pernyataan lamaran Donghae semalam terasa datar saja baginya. Atau bahkan sebenarnya ia tidak menginginkannya?

Pandangan Yoona beralih ke arah jari manisnya. Disana sudah tersemat cincin emas putih dengan taburan berlian. Cincin itu pastilah mahal. Tapi ia tidak begitu heran karena Donghae memang berasal dari keluarga berada, jadi membeli cincin seperti itu pasti bukan masalah baginya.

“Apa yang harus kulakukan pada cincin ini?”

Ya,Yoona-ya, kau tidak makan siang?” tiba-tiba suara Soojung membuyarkan lamunannya.

Yoona menggeleng lemas, “Kau makan saja duluan.”

Melihat reaksi aneh sahabatnya itu, Soojung segera mendorong kursi beroda yang didudukinya ke sebelah Yoona, “Wae geurae? Kau kelihatan tidak bersemangat.”

“Aku tidak apa-apa.”

Soojung memiringkan kepalanya. Walaupun gadis itu bilang dia baik-baik saja, Soojung tahu pasti ada sesuatu yang terjadi. Dan sesuatu itu pastilah sangat serius.

Soojung menyodorkan kotak bekal berwarna turquoise yang dipegangnya ke arah Yoona, “Kau mau?”

Yoona melirik sekilas ke arah kotak bekal Soojung, “Itu dari Minhyuk?”

Wajah Soojung seketika berubah sumringah, “Akhir-akhir ini dia semakin rajin mengirimiku bekal.”

“Minhyuk itu masih jadi commis kan? Kalau itu buatan Minhyuk berarti buatan Donghae oppa juga.”

Soojung mengangguk-angguk, “Sepertinya begitu. Dia masih belum boleh memegang alat masak tanpa pengawasan.” Ia lalu menepuk bahu Yoona, “Apa Donghae sunbae tidak mengirimimu makan siang?”

Yoona mengedikkan dagu ke arah sudut mejanya dengan enggan. Soojung mengikuti arah pandang gadis itu. Tampak kotak bekal berwarna biru yang biasa dibawakan Donghae masih tersimpan rapi didalam tasnya. Sepertinya gadis itu sama sekali belum menyentuhnya.

Soojung meletakkan kotak bekalnya di atas meja Yoona dan memandang gadis itu prihatin, “Kalian… bertengkar lagi ya?”

Lagi-lagi Yoona menggeleng lemas, “Sama sekali tidak, Soojung-ah…”

“Lalu? Ada apa?”

Yoona tidak langsung menjawab. Ia menghela napas berat, kemudian menegakkan badannya dan menatap Soojung serius, “Soojung-ah, apa kau mau mendengarkan ceritaku?”

 

***

 

Jonghyun sedang memandang keluar jendela sambil menopang dagunya ketika bus yang ditumpanginya berhenti di salah satu halte. Ia melirikkan matanya sekilas ke arah pintu masuk, dan sedikit terkejut ketika melihat seorang gadis yang baru saja naik. Gadis itu menoleh ke kiri dan kanan, mencari tempat duduk yang kosong. Tak lama kemudian ia menemukan kursi kosong di sebelah seorang nenek tua yang membawa cukup banyak barang. Sesekali gadis itu tersenyum ramah pada sang nenek, dan tidak membutuhkan waktu lama bagi keduanya untuk mengobrol akrab layaknya seorang nenek dengan cucunya.

Gadis itu adalah Yoona. Entah kenapa hari ini ia pulang larut malam. Jonghyun sendiri baru pulang dari kerja sambilannya karena memang jadwal kerjanya sampai pukul sepuluh malam.

“Kebetulan sekali.” pikirnya dalam hati. Pandangannya terus tertuju pada Yoona yang duduk selisih tiga kursi dari tempat duduknya. Gadis itu tampaknya sama sekali tidak menyadari keberadaannya. Tidak masalah bagi Jonghyun, karena emang itulah yang ia inginkan. Ia merapatkan syal yang dipakainya sampai menutupi sebagian wajahnya dan sedikit memerosotkan badannya agar gadis itu tidak mengenalinya.

Sekitar dua puluh menit kemudian, akhirnya bus tersebut sampai di halte didekat rumah Yoona. Setelah berpamitan pada sang nenek, Yoona pun bergegas menuruni bus itu. Sengaja Jonghyun mengambil jeda beberapa saat sampai bus itu hampir kembali melaju, barulah ia turun. Dengan begitu, Yoona pasti sudah berjalan agak jauh didepannya.

Diam-diam Jonghyun berjalan mengikuti Yoona yang masih belum menyadari keberadaannya. Sesekali gadis itu merapatkan mantelnya dan menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya karena memang udara di malam itu terasa lebih dingin dari biasanya.

Ketika sampai di belokan, Jonghyun menghentikan langkahnya, namun ia masih belum melepaskan pandangannya dari gadis itu. Dengan hati-hati ia mengeluarkan sebuah pistol dari dalam jaketnya dan mengarahkannya pada gadis itu. Menurutnya, inilah saat yang tepat untuk melakukan tugasnya; membunuh Yoona.

“Kyaaaaaaaa……!!!”

Jonghyun baru saja menekan pelatuk pistolnya ketika melihat tiga orang berpakaian serba hitam yang tiba-tiba muncul dan menyerang Yoona. Gadis itu berusaha lari menghindari para penjahat itu, tapi mereka bergerak lebih cepat dan berhasil menangkapnya.

Yoona tidak menyerah, dengan sekuat tenaga ia menendang salah satu penjahat dihadapannya tepat di organ paling vital di tubuhnya sehingga penjahat itu mengerang kesakitan. Ketika penjahat lain yang mencengkeram tangannya sedikit lengah, Yoona segera melepaskan dirinya dan memukuli penjahat itu dengan sling bag-nya.

Yoona tersenyum puas saat penjahat itu terlihat kesakitan, namun tak lama kemudian rasa lega di wajahnya berubah menjadi rasa takut karena para penjahat itu kembali menangkapnya. Tidak heran sebetulnya karena kekuatan mereka yang berbeda jauh, Yoona wanita seorang diri dan tidak memiliki keahlian bela diri apapun.

Salah satu dari tiga penjahat itu memelintir tangan Yoona ke belakang sehingga sukses membuat gadis itu meringis kesakitan. Yoona terus meronta dan berusaha melepaskan dirinya, namun penjahat-penjahat itu jelas lebih kuat.

“Si…siapa kalian?! Mau apa kalian sebenarnya?!”

Salah satu dari tiga penjahat itu membungkuk dihadapan Yoona, kemudian mencengkeram dagu gadis itu, “Jangan banyak bicara, gadis kecil. Kalau kau menurut, maka kau akan selamat.” ia tersenyum sinis.

Yoona menelan ludah dan mengamati gerak-gerik penjahat itu dengan waspada. Ketika pria itu lengah, Yoona melayangkan tendangan ke bagian perut pria itu dengan sekuat tenaga.

PLAAAKKK!!!” pria itu menampar keras pipi Yoona setelah memegangi perutnya yang terasa ngilu.

“Dasar gadis kurang ajar!!”

Melihat aksi Yoona barusan, penjahat lain yang mencengkeram tangan gadis itu semakin memperkuat cengkeramannya, membuat Yoona kembali mengerang kesakitan. Ia lalu berusaha menyeret Yoona dan hendak membawa pergi gadis itu namun gadis itu bersikeras bertahan pada posisinya.

Entah apa yang mendorong Jonghyun, ketika melihat salah satu dari penjahat itu mengeluarkan sebilah pisau dari balik jasnya, ia langsung berlari menghampiri Yoona dan menghajar ketiga penjahat itu tanpa ampun. Namun sehebat apapun kemampuannya, tetap sedikit sulit untuk melumpuhkan ketiga penjahat itu sekaligus karena dia hanya sendiri.

“Tidak akan kubiarkan kau mati. Setidaknya kau harus mati di tanganku.”

“Yoona-ya, gwaenchanha?” tanyanya setelah berhasil melumpuhkan para penjahat itu. Ia berlutut dihadapan Yoona yang terduduk lemas di tanah sambil memeriksa apakah ada bagian tubuh gadis itu yang terluka.

Yoona sedikit terkejut, “Jo…Jonghyun-ssi? Kenapa kau…”

Jonghyun memperhatikan wajah Yoona dengan serius. Ketika melihat ada sesuatu yang janggal, ia segera menyibakkan rambut Yoona dan menyentuh pipinya perlahan, “Pipimu… memar?”

Belum sempat Yoona menjawab, tiba-tiba ia melihat salah satu penjahat yang dilumpuhkan Jonghyun tadi berdiri di belakang pria itu dengan sebilah pisau di tangannya. Matanya membulat.

“Jonghyun-ssi, awas!!” ia segera menarik tangan Jonghyun sebelum salah satu penjahat yang ternyata masih bisa berdiri itu menancapkan pisaunya ke punggung Jonghyun.

Dengan sigap Jonghyun menoleh ke belakang dan menahan tangan penjahat itu. Setelah berdiri, ia menendang perut penjahat itu sehingga terhempas ke tanah, dan mendaratkan bogem mentah ke wajah orang itu berkali-kali sampai tidak berdaya. Luka lebam bercampur darah segar mengalir hampir di seluruh wajah orang itu.

Setelah penjahat didepannya meringis kesakitan, Jonghyun menoleh ke arah dua penjahat lainnya yang sama-sama sudah babak belur. Awalnya mereka berniat kembali menghajar Jonghyun, tapi setelah melihat salah satu rekannya sekarat seperti itu, nyali mereka pun ciut. Dengan susah payah mereka bangkit berdiri.

“Bawa pergi juga temanmu!” perintah Jonghyun. Kedua penjahat itu mengangguk seperti orang bodoh dan membantu rekannya yang sekarat itu berdiri. Mereka pun segera meninggalkan tempat itu.

Jonghyun mengatur napas dan kembali menghampiri Yoona. Gadis itu terlihat masih shock sehingga belum mampu berkata apa-apa. Selain kaget karena diserang penjahat, mungkin dia juga kaget dengan kemampuan bela diri yang diperlihatkan pria itu.

Jika Jonghyun punya kemampuan bela diri sehebat itu, kenapa dia bisa kalah melawan para berandalan di Yongsan waktu itu?

“Yoona-ya, kau tidak terluka kan?” Jonghyun menyentuh bahu Yoona. Gadis itu menggeleng kaku.

“Tenanglah, mereka sudah pergi.”

“Me…mereka… siapa?” bibir Yoona sedikit bergetar. Ia memandangi punggung para penjahat yang sudah berlari menjauh itu. Padahal tadi ia cukup berani melawan para penjahat itu dengan segenap kemampuan yang dimilikinya, namun setelah semuanya berakhir, ia baru tersadar kalau kejadian tadi sangatlah mengerikan.

“Aku juga tidak tahu.” jawab Jonghyun, “Sudahlah, yang penting kau selamat.”

Yoona mengangguk. Tatapan matanya masih menerawang.

Ketika membantu Yoona berdiri, tiba-tiba pandangan Jonghyun tertuju pada sesuatu yang berkilat di bawah kakinya. Setelah dilihat, itu adalah pisau yang tadi digunakan salah satu penjahat itu. Jonghyun mengambil pisau itu dan memperhatikannya. Matanya terbelalak.

“Pisau ini…”

Jonghyun mengamati pisau itu dengan seksama. Tidak salah lagi, itu adalah pisau milik anggota geng yang sama dengannya. Itu bisa terlihat dari bentuknya yang khas karena memang didesain khusus untuk para anggota geng agar anggota yang lain bisa mengenali mereka. Tapi, bentuk pisau seperti ini hanya digunakan oleh para anak buah kelas rendahan, yang kedudukannya jauh lebih rendah dari Jonghyun.

Dengan cepat Jonghyun menolehkan kepalanya ke arah para penjahat tadi. Otaknya bekerja cepat menyimpulkan apa yang sebenarnya baru saja terjadi. Pasti Jung Woo yang menyuruh orang-orang itu untuk menangkap Yoona. Tapi, kenapa harus menyuruh anggota kelas rendahan? Bukankah tugas ini diserahkan padanya?

“Ada apa, Jonghyun-ssi? Apa ada luka serius?” tanya Yoona begitu melihat wajah Jonghyun yang tegang.

“Ah, tidak… Tidak ada.” jawab Jonghyun. Diam-diam ia menggertakkan giginya. Sepertinya ia sudah salah mengambil tindakan. Seharusnya ia tidak menolong gadis itu. Dan sekarang ia berada dalam masalah besar.

 

***

 

“Jonghyun-ssi, sudahlah… aku tidak apa-apa.”

“Jangan bohong. Aku tahu kau masih shock. Tangan dan kakimu masih gemetar.”

Jonghyun menggiring Yoona memasuki apartemen dan mendudukkannya di sofa di ruang tengah. Meskipun sudah berkali-kali gadis itu menolak bantuannya karena merasa tidak enak, tapi Jonghyun tahu gadis itu tidak baik-baik saja. Serangan para anak buah Jung Woo yang tiba-tiba tadi pasti cukup membuatnya kaget.

“Minumlah.” Jonghyun menyodorkan segelas air kepada gadis itu.

Yoona mengambil gelas itu dan tersenyum, “Gomawo, Jonghyun-ssi.”

Jonghyun kemudian berlutut dihadapan Yoona dan menempelkan dengan perlahan handuk kecil yang sudah dibasahi dengan air hangat ke pipi kiri Yoona yang mulai membengkak. Gadis itu sedikit meringis ketika Jonghyun menyapukan handuk itu ke pipinya.

“Lain kali kau harus lebih berhati-hati.” ujar Jonghyun pelan, “Dan kurasa, mulai saat ini kau harus mulai memanggilku Jonghyun. Hubungan kita sudah terlalu aneh jika kau terus memanggilku Jonghyun-ssi.”

Yoona tercekat. Ia menatap lekat-lekat wajah Jonghyun yang sedang serius mengobatinya. Benar juga. Rasanya aneh jika dia masih memanggil Jonghyun seformal itu jika dilihat dari kedekatan hubungan mereka sekarang.

Gomawo, Jo… Jonghyun….” tanpa sadar ia mengangkat tangannya dan menyentuh tangan pria itu di pipinya.

Jonghyun melirik ke arah tangan Yoona, dan mendapati benda kecil berkilau melingkar di jari manis gadis itu.

“Kau… pakai cincin?”

Yoona yang tersentak segera menarik tangannya dan berusaha menutupi cincin itu dengan tangan kanannya, “Ng… ini… Ah, sepertinya cincin ini terlalu bagus untuk kupakai. Aku akan segera menyimpannya.” ia pun bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju kamar sambil melepas cincin pemberian Donghae.

Jonghyun membalikkan badannya, “Kenapa harus disimpan? Itu cincin pertunanganmu kan?”

Jantung Yoona serasa berhenti mendadak. Langkahnya tiba-tiba terhenti dan cincin yang ada dalam genggamannya terlepas begitu saja dan jatuh ke lantai. “Bagaimana dia bisa menebaknya dengan tepat?

Yoona menelan ludah. Padahal Jonghyun hanya mengajukan pertanyaan biasa. Pertanyaan yang semua orang juga bisa menanyakannya. Tapi kenapa ia merasa dadanya sangat sesak?

“Kenapa hanya segitu saja reaksimu? Apa kau benar-benar rela kalau aku bertunangan dengan Donghae oppa?”

“A…aku mau tidur duluan. Kau istirahatlah.” kata Yoona dengan suara serak. Ia bergegas menuju kamarnya. Tanpa disadari, tangannya mengepal cincin itu kuat-kuat. Yoona baru sadar, sudah waktunya ia mengambil keputusan sebelum semuanya terlambat.

 

***

 

“Boleh aku duduk disini?” sebuah suara lembut membuyarkan lamunan Donghae.

Pria itu menoleh. Tampak Jessica sudah berdiri disamping mejanya dan tersenyum manis ke arahnya. Tidak seperti saat pertemuan pertama mereka, kali ini gadis itu tampil kasual dengan oversized shirt berwarna putih yang dimasukkan kedalam jeans dan high heels putih.

Donghae kembali memalingkan wajahnya ke jendela besar disampingnya. Hal itu dianggap Jessica sebagai sebuah persetujuan. Gadis itu pun menarik kursi dihadapan Donghae dan duduk diatasnya.

“Kukira kau tidak setuju dengan acara perjodohan ini.” ujar Jessica memulai pembicaraan.

“Memang tidak.” jawab Donghae dingin.

Jessica memiringkan kepalanya, “Lalu, bagaimana kau menjelaskan kehadiranmu di tempat ini? Bukankah ayahmu yang memaksamu kesini?”

“Justru aku sengaja melakukannya. Aku ingin memberikan penekanan─” kata-kata Donghae terputus begitu melihat Jessica menyeringai lebar, seolah sedang menertawakannya. Sangat kontras dengan wajah Donghae yang serius, wajah gadis itu terlihat sangat tenang dengan senyum manis yang selalu tersungging di bibirnya.

“Tanpa kau beri tahu pun, aku sudah mengetahuinya. Kau tidak perlu repot-repot. Bukankah aku tidak memaksamu untuk menyukaiku?”

Donghae menatap gadis itu lurus. Jujur ia sedikit terkejut dengan reaksi gadis itu yang diluar perkiraannya. Biasanya gadis lain akan tercekat begitu mendengar penolakan darinya dan memohon dengan mata berkaca-kaca agar ia mau menerima perasaan mereka.

“Sepertinya kau sangat tertarik dengan rencana perjodohan konyol ini.” Donghae sedikit mencibir.

“Apa kelihatannya begitu?”

Donghae tidak menjawab, karena memang menurutnya pertanyaan itu tidak membutuhkan jawaban. Entah kenapa firasatnya mengatakan bahwa gadis ini menerima rencana perjodohan yang dibuat ayah mereka hanya untuk mempermainkan perasaannya, dan jika dirinya benar-benar jatuh ke pelukannya, gadis itu akan meninggalkannya begitu saja. Yah, walaupun Donghae tidak yakin apa dirinya akan jatuh ke pelukan gadis itu. Baginya saat ini, Yoona masih berjuta-juta kali lebih baik dibanding Jessica.

Melihat ekspresi wajah Donghae, lagi-lagi Jessica mengulum senyum, “Kau terlalu serius, Donghae-ssi, kau tahu itu? Kalau kau berpikir aku menerima rencana ini karena ingin mempermainkanmu, kau salah besar.” katanya lembut namun tegas. Bukannya ia mengharapkan pria itu untuk secepatnya mengakhiri hubungannya dengan kekasihnya dan berpaling padanya. Tidak, ia sama sekali tidak berpikiran seperti itu. Hanya saja, melihat reaksi Donghae yang mati-matian menolak rencana perjodohan ini benar-benar sangat menarik.

Donghae membuang pandangannya ke luar jendela. Ia heran, hampir semua yang dikatakannya dapat ditebak dengan mudah oleh gadis itu. Apa gadis itu bisa membaca pikirannya? Atau, memang dia yang terlalu mudah ditebak?

Tiba-tiba Donghae merasakan poselnya bergetar. Cepat-cepat ia mengeluarkannya dari dalam sakunya dan melihat display-nya. Pesan dari Yoona.

From: Im Yoona

Oppa, bisa kita bicara sebentar? Aku ada di meja 18.

Setelah membaca pesan itu, Donghae langsung menoleh ke kiri dan kanan, mencari keberadaan gadis itu. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan di lantai satu kafe itu, dan mendapati Yoona sedang duduk didepan meja yang berada di pojok sebelah kanan tidak jauh dari tempat duduknya.

Donghae memandangi gadis itu sejenak, “Bagaimana dia bisa tahu aku ada di kafe ini?”

Merasa mengerti situasi, Jessica pun berujar, “Pergilah. Aku akan bilang pada ayahku kalau hubungan kita mulai mengalami kemajuan.”

Donghae melirik sekilas ke arah gadis itu, kemudian bangkit dari tempat duduknya, “Baiklah, terserah kau saja.”

 

***

 

“Ada apa? Apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Donghae begitu tiba di meja yang ditempati Yoona.

Yoona yang sedang melamun sedikit tersentak begitu melihat Donghae yang tiba-tiba sudah berdiri disampingnya. Gadis itu pun menyunggingkan senyumnya.

Donghae menarik kursi dihadapan Yoona dan duduk di atasnya, “Bagaimana kau tahu aku ada disini?”

“Tadi aku datang ke restoran ayahmu. Dia bilang kau sedang ada blind date disini.” jelas Yoona jujur.

Diam-diam Donghae meringis. Sebenarnya apa yang diinginkan ayahnya? Mengatakan bahwa ia sedang menemui gadis lain dihadapan kekasihnya. Ia bisa membayangkan wajah Yoona yang terkejut sekaligus sedih setelah ayahnya berkata seperti itu.

“Ah, itu sama sekali tidak benar. Sebenarnya aku─”

Gwaenchanha.” potong Yoona cepat. Ia tidak ingin Donghae merasa bersalah padanya karena ucapan ayahnya. Karena ia sendiri tidak merasa kecewa mendengar ucapan itu.

Ya, bahkan perasaannya biasa-biasa saja ketika mendengar bahwa Donghae akan dojodohkan dengan gadis lain.

“Ngomong-ngomong, apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Donghae kemudian.

“Oh, itu…” Yoona mengeluarkan sebuah kotak beludru merah kecil dari dalam sling bag-nya, meletakkannya ke atas meja, dan dengan ragu-ragu menyodorkannya ke arah Donghae.

Tiba-tiba saja Donghae merasakan firasat buruk. Ia segera membuka kotak itu. Benar saja, didalamnya terdapat sebuah cincin yang disematkannya ke jari manis Yoona beberapa hari yang lalu. Sekarang cincin itu kembali tersimpan rapi di kotaknya seperti sebelum ia memberikannya.

“Yoona, ini…”

“Dengarkan aku, Oppa.” potong Yoona dengan suara serak. Kepalanya sedikit tertunduk. Ia lalu menghela napas berat, seolah sedang menyusun kata-kata yang tepat.

“Aku… tidak bisa menerima… lamaranmu…” kata Yoona lambat namun tegas.

Bagaikan terkena petir di siang bolong, Donghae merasakan seolah sebuah pedang menghujam jantungnya telak. Ia sangat terkejut dengan pernyataan Yoona yang tiba-tiba. Untuk sesaat, ia tidak bisa berkata apa-apa. Lidahnya tiba-tiba saja terasa kelu.

Donghae memaksakan seulas senyum, “Ah, mungkin kau terkejut karena tiba-tiba saja aku mengatakan ingin bertunangan ya? Seharusnya aku memikirkannya lebih matang.” katanya, lebih kepada dirinya sendiri. Ia berusaha berpikiran positif untuk menenangkan hatinya.

“Tidak seperti itu, Oppa. Hanya saja…” Yoona kembali menghela napas, “Hanya saja… aku─”

Merasa mengerti apa yang hendak Yoona ucapkan, Donghae buru-buru memotong, “Jangan bilang kau…”

Yoona semakin menundukkan wajahnya. Rupanya Donghae sudah tahu. Ia merasa bersalah pada Donghae tapi di sisi lain juga tidak bisa membohongi perasaannya. Hatinya lebih memilih Jonghyun dibanding pria itu.

Mianhae… Oppa… Jeongmal mianhae…” kata Yoona lirih. Hatinya pedih karena harus mengecewakan perasaan Donghae.

Donghae menatap Yoona nanar. Dadanya terasa sangat sesak dan matanya terasa panas. Ia menggelengkan kepalanya kaku.

Andwae… Yoona-ya, kau tidak sungguh-sungguh kan? Katakan padaku kalau itu tidak benar.”

Yoona menelan ludah, kemudian mengusap pelupuk matanya yang sudah penuh oleh air mata, “Tidak, Oppa. Aku tidak bisa membohongi perasaanku. Aku… aku mencintai Jonghyun…”

“Cinta, Yoona-ya? Apa sebegitu mudahnya bagimu mengartikan perasaanmu?”

Yoona tidak menjawab. Ia hanya bisa menundukkan wajahnya sambil sesekali mengusap air mata yang susah payah dibendungnya agar tidak keluar.

Donghae menatap Yoona tidak percaya. Ia baru saja mendengar kenyataan bahwa gadis itu lebih mencintai Jonghyun dibanding dirinya.

“Apa… kau harus memiliki perasaan itu?”

“Aku… tidak bisa terus berpura-pura dihadapanmu. Kalau terus berada didekatmu… cepat atau lambat aku pasti akan melukaimu…”

“Jadi… kau ingin berpisah denganku?”

Yoona memberanikan diri menatap Donghae dan memaksakan seulas senyum, “Dengan begitu kau tidak perlu ragu lagi kan? Kau bisa memilih gadis yang dipilihkan ayahmu sekarang.”

“Apa maksudmu, Yoona-ya? Kau memintaku untuk meninggalkanmu dan memilih gadis lain?!” Donghae tidak kuasa menahan emosinya.

“Aku yakin dia gadis yang baik untukmu, Oppa. Dia pasti jauh lebih baik dariku.”

“Hentikan, Yoona-ya.”

“Kalau kita berpisah, kau tidak perlu lagi bertengkar dengan abeonim. Kalian bisa mulai menjalin hubungan yang lebih baik.”

“Hentikan.”

Yoona tersenyum hambar, “Kurasa, dia juga menyukaimu…”

“Kubilang hentikan!” bentak Donghae. Sebenarnya ia tidak bermaksud kasar, namun kata-kata yang dilontarkan Yoona terasa seperti pukulan telak baginya. Gadis itu seolah sedang mengusirnya menjauh agar leluasa meninggalkan dirinya.

Yoona terperanjat. Ia tidak menyangka Donghae akan semarah itu mendengar perkataannya, “Mianhae, Oppa… aku… hanya ingin berpisah baik-baik denganmu…”

“Kau tidak memberiku waktu untuk mempertimbangkan keputusanmu. Berarti aku juga berhak tidak memberikanmu waktu untuk berpisah denganku.” tukas Donghae.

“Ini tentang perasaan, Oppa. Perasaan tidak bisa dipertimbangkan.”

Mendengar kata-kata Yoona, Donghae menghela napas panjang, berusaha menenangkan hatinya dan menjernihkan pikirannya. Tiba-tiba saja gadis itu ingin memutuskan hubungan mereka disaat ia masih sangat mencintainya. Gadis yang sudah menjadi kekasihnya selama tujuh tahun itu, yang sudah ditetapkannya untuk menjadi pasangan hidupnya kelak. Ia mengira setelah menjalin hubungan selama itu semuanya akan selalu berjalan lancar, namun ternyata kehadiran seseorang yang tidak terduga dapat mengubah segalanya dalam sekejap. Hatinya seperti hancur berkeping-keping.

Donghae kembali menatap Yoona lekat-lekat. Berharap mendapat jawaban atas semua pertanyaan yang kini berkeliaran di pikirannya.

“Apa… kau sungguh-sungguh mencintai orang itu?”

 

***

 

Yoona terus melangkahkan kakinya di sepanjang trotoar dengan tatapan kosong. Walaupun berat, tapi ia lega karena bisa mengakhiri semua masalah dengan baik-baik. Jujur, masih ada rasa bersalah yang menghinggapi hatinya karena akhirnya ia berpisah dengan Donghae, tapi sedikit demi sedikit akhirnya pria itu bisa memahami perasaannya. Walaupun Yoona yakin, Donghae pasti merasa kecewa, marah, atau bahkan menjadi benci padanya. Tapi Yoona tidak keberatan. Ia akan menerima semua perlakuan Donghae padanya setelah ini, karena ia memang pantas mendapatkannya.

Gadis itu mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat ke udara, “Semangat, Yoona-ya! Kau sudah membuat keputusan yang tepat!” katanya pada diri sendiri.

Tiba-tiba saja Yoona merasa perutnya lapar. Terang saja, ini sudah pukul setengah delapan malam dan dia belum makan apapun sejak tadi siang.

“Ah, benar juga! Jonghyun juga pasti belum makan malam.” pikirnya. Ia mempercepat langkah kakinya mencari warung untuk membeli makan malam.

Ketika melintas didepan toko elektronik, Yoona memutuskan untuk menghentikan langkahnya dan memperhatikan etalase toko itu. Ia baru ingat, selama ini Jonghyun tidak memiliki ponsel karena semua barangnya dirampas berandalan ketika mereka pertama kali bertemu. Ia jadi sedikit sulit menghubungi pria itu. Mereka hanya bisa berkirim pesan lewat e-mail. Itu juga hanya bisa di waktu-waktu tertentu jika kebetulan Jonghyun sedang berada di kafe internet.

Yoona pun memantapkan hatinya untuk masuk ke toko elektronik itu. Ia bermaksud membelikan Jonghyun sebuah ponsel agar mereka bisa berkomunikasi dengan mudah satu sama lain.

Eoseooseyo.” ujar salah satu pramuniaga ramah ketika Yoona melangkahkan kakinya kedalam toko itu, “Ada yang bisa kubantu?”

Yoona memperhatikan kumpulan ponsel model terbaru yang berjajar rapi didalam kotak kaca. Setelah mengamati dengan seksama, akhirnya ia menemukan ponsel touch screen yang bermodel sama dengan miliknya, hanya saja miliknya berwarna merah, sedangkan yang itu berwarna hitam.

Yoona menunjuk ponsel itu dengan semangat, “Agasshi, aku pilih yang ini.”

 

***

 

“Aku pulang!” seru Yoona begitu memasuki apartemennya. Ia berusaha bersikap ceria untuk menutupi perasaannya yang masih sedikit kelabu.

Dengan sedikit tergesa-gesa Yoona berjalan menuju ruang tengah. Ia tidak sabar menunjukkan ponsel yang baru dibelinya untuk Jonghyun dan melihat senyum di wajah pria itu seperti yang selama ini ditunjukkannya ketika ia pulang ke rumah.

“Jonghyun, coba tebak aku bawakan apa untukmu?” kata Yoona bersemangat sambil mengangkat dua tas karton berukuran sedang berisi yukgaejang dan ponsel yang baru saja dibelinya. Namun ekspresinya langsung berubah begitu melihat Jonghyun tidak ada di ruangan itu.

“Kemana dia?” batin Yoona. Entah kenapa, ia merasa suasana apartemen itu sedikit berbeda. Rasanya sepi sekali.

Yoona berjalan menuju dapur. Mungkin saja Jonghyun sedang berada disana. Namun perkiraannya salah. Gadis itu kemudian menelusuri setiap sudut rumahnya, bahkan di kamarnya sendiri. Namun hasilnya nihil. Jonghyun tidak berada dimanapun. Dengan kata lain, dia tidak berada di apartemen itu.

Entah kenapa Yoona merasa sedikit cemas. Kenapa pria itu belum juga pulang? Ia melirik jam tangannya, sudah pukul setengah sebelas malam. Harusnya Jonghyun sudah pulang dari tadi.

Gadis itu kemudian merebahkan dirinya di sofa di ruang tengah. Mencoba untuk menunggu kedatangan Jonghyun. Mungkin saja sebentar lagi dia pulang. Yoona melirik sekali lagi ke arah bungkusan berisi ponsel yang dibelinya, kemudian tersenyum.

Satu jam berlalu. Jonghyun tidak juga menampakkan batang hidungnya. Yoona yang sudah lelah tanpa sadar tertidur di sofa. Suasana di tempat itu sangat sepi. Hanya bunyi detikan jam dinding yang menggema di seluruh ruangan. Membuat waktu terasa berjalan sangat lambat.

Tiba-tiba ponsel Yoona bergetar. Gadis itu tersentak. Cepat-cepat ia membuka matanya dan melihat display-nya. Wajahnya yang penuh harapan seketika berubah kecewa begitu mengetahui bahwa yang mengirim pesan padanya adalah Soojung. Gadis itu hanya mengingatkan Yoona untuk membawa ilustrasi yang akan dipresentasikan besok.

“Huh, kukira siapa.” Yoona mendengus kesal. Ia lalu melihat jam di ponselnya. Sudah pukul dua belas malam.

“Hah, aku tertidur ya?” tanyanya pada diri sendiri. Seingatnya tadi masih jam setengah sebelas.

Yoona bergegas bangkit dari tempat duduknya dan membuka pintu kamar Jonghyun. Siapa tahu pria itu sudah pulang ketika ia tertidur tadi. Tapi kalau memang benar begitu, kenapa tidak membangunkannya?

Yoona membuka pintu kamar Jonghyun perlahan. Sedikit berharap si pemilik kamar sudah berada disana, entah sedang tidur atau apa. Tapi lagi-lagi ia harus menelan pil kekecewaan karena keadaan kamar itu masih tetap kosong dan gelap seperti tadi, begitu juga dengan semua ruangan di apartemen itu.

Entah apa yang mendorong Yoona, ia pun tergoda untuk memasuki kamar itu. Ia menyalakan lampu kamar sehingga semua perabotan yang ada didalamnya terlihat. Ini pertama kalinya ia memasuki kamar yang tadinya adalah kamar tamu itu semenjak Jonghyun tinggal dengannya.

Yoona merasa sedikit janggal dengan keadaan didalamnya. Sangat rapi. Bahkan saking rapinya, hampir semua barang milik Jonghyun tidak ada disana. Keadaan kamar itu sama seperti sebelum Jonghyun tinggal di rumahnya. Yoona membuka beberapa laci yang ada di kamar itu, dan semuanya kosong. Keadaan lemari pakaian juga hampir kosong. Yang tersisa hanya beberapa potong pakaian yang dibelinya untuk Jonghyun tempo hari.

Yoona terdiam. Perasaannya tiba-tiba saja menjadi tidak enak. Ia teringat akan kata-kata Jonghyun beberapa minggu yang lalu;

“Setelah mendapatkan gaji pertama, aku sudah memutuskan untuk keluar dari rumahmu.”

Benarkah begitu? Yoona mencoba mengingat tanggal hari ini. Tidak, ini belum sebulan sejak Jonghyun mendapatkan pekerjaan paruh waktunya. Jika ingin keluar dari rumahnya, harusnya ia menunggu sampai mendapatkan gaji pertama dulu sebulan kemudian. Dan harusnya pria itu berpamitan dulu padanya. Bukannya menghilang tiba-tiba seperti ini.

Yoona mengedarkan pandangan ke seluruh sudut kamar itu. Berharap bisa menemukan sesuatu yang dapat dijadikan petunjuk keberadaan Jonghyun. Jantungnya mulai berdegup kencang ketika menemukan secarik kertas yang diletakkan dengan rapi di atas laci kecil disamping tempat tidur. Buru-buru Yoona mengambil kertas itu dan membaca tulisan didalamnya.

To: Im Yoona

Terima kasih karena kau sudah mau memberikan tempat tinggal sementara untukku. Maaf kaLau selama ini aku merepotkanmu, dan maaf karena aku keluar tiba-tiba dari rumahmu. Sebelumnya aku sudah mengatakannya padamu kaLau aku akan keluar sebulan setelah aku bekerja, tapi ternyata aku harus pergi lebih cepat dari perkiraan.

Jika kau menganggap pertemuan kita adalah suatu kebetulan, aku juga berharap itulah yang terjadi. Tapi keadaan tidak harus selalu terjadi sesuai keinginan kita kan?

Setelah ini, kuharap kau tidak mengingatku lagi, dan tidak mencariku. Anggap saja pertemuan denganku seperti sebuah takdir yang tidak kau inginkan.

-Jonghyun-

 

Hati Yoona mencelos begitu membaca tulisan itu. Surat itu dapat menjelaskan semua pertanyaan yang berkeliaran di otaknya. Dia sudah pergi.

Dia benar-benar sudah pergi.

Sedih, kesal, hampa, semua bercampur dalam perasaannya. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa, karena memang semuanya sudah terlambat.

Yoona memandangi kertas itu sekali lagi. Sedikit sulit karena air mata yang membendung menghalangi penglihatannya. Gadis itu mengedip-ngedipkan matanya, bermaksud agar penglihatannya menjadi jelas. Tapi yang terjadi justru air mata itu tumpah membasahi pipinya.

Benarkah Jonghyun yang menulis semua ini? Kenapa pria itu terkesan menyesali pertemuannya dengan Yoona?

“Tapi keadaan tidak harus terjadi selalu terjadi sesuai keinginan kita kan?”

“Anggap saja pertemuan denganku seperti sebuah takdir yang tidak kau inginkan.”

Apa maksudnya Jonghyun menulis kata-kata seperti itu? Apa itu artinya pertemuan mereka bukanlah suatu kebetulan?

Melupakan Jonghyun? Mana mungkin ia bisa melakukannya? Setelah apa yang sudah mereka lalui selama dua setengah bulan ini, dan setelah semua pengorbanan yang dilakukan Yoona demi perasaannya pada Jonghyun, mana bisa ia melupakan pria itu begitu saja?

“Dan setelah berhasil membuatku jatuh hati padamu, kau meninggalkanku, begitu? Dasar bodoh!”

Tiba-tiba Yoona merasakan ponselnya bergetar. Cepat-cepat ia mengusap air mata di pipinya begitu melihat nama yang tertera di display-nya.

Yeoboseyo, Appa?”

“Yoona-ya, bagaimana keadaanmu?” tanya suara di seberang telepon. Nada bicaranya terdengar sedikit panik.

Yoona yang tidak menyadari hal itu memaksakan seulas senyum, “Aku baik-baik saja, Appa. Bagaimana denganmu?”

“Benarkah kau baik-baik saja? Mereka belum menemukanmu?”

Dahi Yoona mengernyit mendengar pertanyaan ayahnya, “Mereka? Mereka siapa? Tidak ada yang mencariku.”

“Oh Tuhan, syukurlah kalau begitu.” suara Ayah Yoona terdengar lega.

“Appa, sebenarnya ada apa? Kau terdengar panik.”

“Dengar Yoona, adikmu…”

“Ada apa dengan Yoonji?”

“Yoonji… dia…”

“Jawab aku, Appa! Ada apa dengan Yoonji?!” desak Yoona tidak sabar. Tiba-tiba perasaannya menjadi tidak enak, apalagi setelah mendengar suara ayahnya. Ia merasakan firasat buruk. Sangat buruk.

“Yoonji…. dia… sudah meninggal… Dia dibunuh oleh penjahat yang tanpa sengaja dia temui di rumah kita…”

“A…ap…” Yoona tidak mampu meneruskan ucapannya. Jantungnya serasa berhenti berdetak. Bibir dan kedua tangannya bergetar. Ia menjatuhkan kertas dan ponsel yang dipegangnya begitu saja ke lantai, seiring dengan air mata yang menetes di pipinya. Pandangannya nanar.

“Yoonji… meninggal? Adikku satu-satunya itu… sudah meninggal?” Yoona mencoba mencerna kata-kata ayahnya walaupun ia sudah mendengarnya dengan sangat jelas. Ia sama sekali tidak ingin mendengarnya. Sama sekali tidak ingin.

“Tidak mungkin! Ini pasti mimpi kan?!” batinnya terus memberontak.

Yoona membiarkan dirinya terjatuh ke lantai, kemudian memeluk kedua lututnya. Tangisnya pun pecah. Butir-butir air mata mengalir deras membasahi pipinya. Ia menelungkupkan kepalanya dan menangis sejadi-jadinya. Tidak peduli pada suara ayahnya yang samar-samar masih terdengar di seberang telepon. Mungkin ayahnya bermaksud untuk memberitahu kronologi kematian Yoonji, tapi Yoona sama sekali tidak menginginkannya. Mengetahui kebenaran itu hanya akan membuat hatinya hancur berkeping-keping.

Yoona menempelkan dagu diantara kedua lututnya, dan memejamkan mata sambil tetap menangis. Bayangan-bayangan masa lalunya yang indah bersama Yoonji satu per satu muncul di benaknya dengan sangat jelas, seolah sedang memutar ulang video lama yang berisi kenangan mereka berdua saat masih tinggal bersama dulu. Yoona tidak menyangka Yoonji akan pergi secepat itu, dan dengan cara seperti itu. Yoonji terlalu baik, terlalu polos, dan terlalu berharga untuk meninggal di tangan para penjahat tidak berprikemanusiaan itu.

Apakah ini karma? Karma karena ia telah mengkhianati perasaan orang yang telah tulus mencintainya dan beralih ke pelukan orang lain? Tapi yang terjadi sekarang orang itu malah meninggalkannya justru di saat ia sudah yakin pada perasaannya. Membuatnya terkurung dalam kesendirian, kesepian, kehilangan, dan kesedihan yang rasanya tidak ada habisnya.

Yoona menjerit. Meluapkan segala emosinya dan membiarkan air mata berhamburan keluar membasahi pipinya tanpa sedikit pun ia berniat untuk menghapusnya. Meninggalkan sedikit rasa asin saat butir-butir air mata itu menyentuh bibirnya. Gadis itu menutup mulutnya dengan sebelah tangan, berusaha meredam isakan tangisnya walaupun itu sama sekali tidak berhasil.

Dengan masih terisak-isak, Yoona menekan dadanya. Sesak. Begitu sesaknya sampai ia merasa sulit bernapas. Ia tidak tahu kalau kehilangan tiga orang yang ia sayangi dalam satu hari sekaligus akan membuat hatinya seperih ini. Rasanya seperti ada lubang besar yang menganga di hatinya. Perpisahan dengan Donghae, kepergian Jonghyun, dan kematian Yoonji, rasanya ia tidak mampu menahan beban berat itu sendirian. Ia hanya bisa berharap ini semua hanya mimpi. Mimpi buruk yang akan berakhir begitu ia membuka mata.

Yoona kembali membenamkan kepalanya diantara kedua lututnya dan menangis tersedu-sedu. Membuat pilu siapa saja yang mendengarnya.

Sunyi. Gelap. Tanpa ada seorangpun yang berada di sisinya.

(To be continued)

19 thoughts on “I Found You [Chapter 4]

  1. Akhirnya, Yoong eonni memantapkan pilihannya u/berpisah dgn Haeppa n lbh memilih cinta yg br dirasakannya terhadap Jonghyun oppa~
    Poor u Hae oppa ku :((
    Jonghyun, gak begitu ngerti sama oppa satu ini, ttg perasaannya n sebagainya…
    Aku hanya berharap akhir yg bahagia😀

    Sippo!Keep writing n fighting!!^^
    Ditunggu kelanjutannya yaa:*

  2. jonghyun ini terlalu profesional apa gimana sih, bingung deh sama oppa yg satu ini
    datang tiba tiba, disaat yoona udah milih dia bahkan sampe mutusin donghae, eh dianya pergi
    next part soon

  3. New reader here! And yes deerburning! Honestly talking, this kind of drama is actually what has been spinning around my head when it comes to drama-action fics. Little cheesy and ewh but who cares lol.
    Tapi kasian Yoona jadi agak depressed gitu setelah tiga kejadian itu. Ugh I hope she’s getting better. Looking forward to reading the next chapter! ^^

  4. Jonghyun kmana??
    Kasian yoona,, harus kehilangan 3 org dlam 1 hari,,hmmm,,, sabar ya eonni,,,

    Next part soon,,🙂

  5. kasian DongHae oppa .. harusnya yoona tdk menyia-nyiakan cowok sebaik donghae. tp masalahnya ini jonghyun yg sama kerennya. hihi..
    pasti yoona terpukul bgt . Yoona, fighting !!

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s