Misunderstanding (Part 1)

arabella-xia

Misunderstanding

By

Arabella Xia

Miss A’s Suzy, EXO-K’s Kai & Sehun || Action, Family, Romance || PG-15 || Chapter 

Credit Poter: High School Graphics

Disclaimer: Plot is mine.

‘Semua kejadian ini hanyalah kesalahpahaman yang terjadi dimasa lalu’.

Prolog

MyungZy Ver

Author’s Note: HAI!!!! AKU BALIK!!! USERNAME AKU SEBELUMNYA INTANTRIYANA YA HEHE. Maaf banget buat Naughty Girl yg part 2 nya belum di post (sebenernya udah selesai cuman aku pengen nyelesain sampe tamat dulu baru di post hehe) dan juga buat Secret Pen yg part 1 nya pun belum aku post T.T aku baru ngetik setengah 😦  sebenernya ini ff yang aku post ini udah lama bangeeeeeeetttt aku bikin, tapi gapernah berani buat post karena malu-maluin banget 😦 tapi dengan beberapa kata yang aku edit ulang akhirnya aku post deh. karena ga enak juga kali ngeliat ff ini disimpan tanpa di post gitu -_-
oke deh sekian curhatan aku, silahkan menikmati! Maaf kalau ada kata yang ga nyambung atau jelek gitu T.T aku masih jauh dari kata sempurna huaaa.

Part 1

SUZY

 

Pagi ini, cuaca kota Seoul sedang bersahabat dengan hatiku. Entahlah, aku merasa sedang bahagia. Mungkin karena kedatangan orang tua ku dari luar negeri—setelah berbulan-bulan yang rasanya bagai berabad abad bagiku—semalam. Hingga saat aku pulang—setelah asik menghibur diri di café langgananku kemarin,—dan menemukan mereka sedang duduk di sofa ruang keluarga hatiku langsung bergelonjak, perasaan senang, rindu dan terharu langsung menggebrak. Oke, mungkin ini terdengar berlebihan. Jikasaja para anak-anak senang bahkan sangat rela ditinggal oleh orang tuanya agar mereka bisa bebas, lain halnya denganku. Aku merasa hampa, dan merasa menjadi manusia tersingkirkan didunia ini tanpa keberadaan mereka yang selalu mendampingiku.

Aku melangkahkan kaki ku bersemangat. sepanjang perjalanan menuju kelas, aku terus menyapa orang-orang dengan sapaan yang sebenarnya tidak begitu penting tapi cukup membuat sepasang kekasih manapun senang mendapaat sapaan itu dari kekasihnya. “Selamat pagi, semoga harimu menyenangkan.” Dan melemparkan senyum termanisku kepada setiap orang yang kulihat. Kenal atau tidak.

Bodoh.

Padahal selama ini aku tidak pernah melakukan itu. Orang-orang terlihat heran melihat sikap ku yang agak aneh pagi ini. Tapi aku tak peduli, bukankah seharusnya mereka senang mendapat sapaan dari seorang gadis semanis aku?

Ketika langkah kaki ku sudah sampai di kelas, kedatanganku langsung disambut dengan teriakan Jiyeon yang cukup membuat telinga ku tercemar. “Suzy-ah! Kau tahu tidak? Minho Sunbae terkena skandal sedang berciuman dengan Choi Sulli!” katanya dengan syok yang berlebihan.

Aku menjawab sekenanya, “Wah, Menarik sekali.” Berlawanan arah dengan hatiku yang sebenarnya sama sekali tidak tertarik dengan itu semua. Terlebih untuk Minho Sunbae yang sudah terkenal dengan cap sebagai playboynya. Dan tentu saja gossip seperti itu sudah terlalu sering terdengar. Tapi entah kenapa, para fans Minho itu tetap kaget dengan gossip yang melibatkan ‘idola’ mereka itu. Termasuk dengan gadis yang sedang berceloteh sebal mengenai idolanya itu di depanku.

Tiba-tiba, bel tanda masuk mulai menjerit. Yes! Kau menyelamatkanku dari suara berisik Jiyeon! Jiyeon terlihat semakin sebal, kentara sekali jika ia masih ingin bercerita tentang Minho padaku. Dan dengan wajah ditekuk, Jiyeon kembali ketempat asalnya. Aku mengeluarkan buku tebal dari tas ransel putihku dengan segera, jika Park Songsaengnim sudah masuk dan belum ada buku atau perlengkapan pelajaran dimejaku, kantong ku akan kosong setelah itu.

Park Songsaengnim memasuki kelas dengan tangan penuh buku, Pria Tua itu kemudian tersenyum puas sambil menatap seisi kelas. Yah, selalu itu yang dilakukannya setiap memasuki kelas, meneliti setiap inci kelas. Tapi, mata Park Songsaengnim langsung terhenti pada satu titik, senyumannya yang mengembang tadi sudah lenyap dan digantikan oleh wajah yang terlihat kesal. Dengan melihat arah pandangannya yang mengarah ketempat dibelakang kursi ku, aku sudah bisa menebak jika Park Songsaengnim sedang menatap Kim Jongin—si pembuat onar. Semua yang ada di diri Jongin sangat dibenci Park Songsaengnim. Tataan rambut cokelatnya  yang tak rapih, kemeja yang terlihat kusut dan lengannya yang selalu digulung sampai siku, mejanya yang kosong setiap pelajaran, mulut yang terkadang penuh dengan makanan, selalu menjadi ciri khasnya, hal yang sangat dibenci oleh Park Songsaengnim.  Tapi, Park Songsaengnim hanya diam tak berniat memberi hukuman padanya. Park Songsaengnim mungkin sudah menyerah untuk menghukum Jongin, lelaki itu tidak mempan dengan hukuman. Jika kau memberinya hukuman, dia tak akan mengerjakan hukuman itu. Jika kau menegurnya, dia hanya akan menganggapmu bagai angin. Jika guru memukulnya, dia akan pasrah tanpa melawan, tapi akan sangat melawan jika yang memukulinya adalah musuh dari kelompok onarnya itu.  Mengeluarkannya dari sekolah? Park Songsaengnim tak akan pernah mau melepas siswa berotak jenius sepertinya, itu bahkan lebih merugikan baginya. Park Songsaengnim sampai pernah menuduh jika Jongin bukan manusia, “Bagaimana bisa siswa yang tidak pernah mengikuti aturan sekolah , absensisasi paling sedikit, hobi berbuat onar dengan teman sebangsanya, tidak pernah memperhatikan kelas itu termasuk dalam kategori siswa jenius? Apakah kau benar-benar seorang manusia, Jongin-ssi?” tanyanya saat itu. Bahkan Park Songsaengnim selalu kalah jika sedang berdebat tentang pelajaran dengannya.

Park Songsaengnim menghela nafas pelan, matanya menuju kearah luar kelas, menatap seorang lelaki yang terlihat rapih didepan kelas. “Oh Sehun masuklah!” Lelaki bernama Sehun itu masuk dengan menundukan kepalanya, kemudian kepalanya perlahan terangkat. Kau tahu? Wajahnya benar-benar manis! Kulitnya seputih susu, bibir merah yang menggoda. Benar-benar idaman. “Dia Siswa baru dikelas ini, ayo perkenalkan dirimu Tuan Oh.” Park Songsaengnim menjelaskan.

“Halo, Namaku Sehun. Senang berkenalan dengan kalian.” Perkenal nya sambil membungkuk, lalu memamerkan senyum manisnya yang mampu membuatku berdecak kagum. Manis sekali!

Suasana kelas yang tadinya hening, menjadi ricuh dan terdengar komentar-komentar Anak kelasku. Para gadis asik memandang Sehun dengan tatapan kagum, sedangkan para lelaki hanya berdecak kesal. Mungkin mereka kesal karena lelaki tampan bertambah satu dikelas ini.

Sehun kembali tersenyum. Benar atau hanya pikiranku, aku merasa Sehun tersenyum itu untukku. Mata hitamnya yang menawan menatapku. Kurasa.

“Baiklah Oh Sehun, silahkan duduk ditempat yang kosong.”

Sehun tersenyum kembali. Ah senang sekali melihatnya.

Kaki panjangnya mulai mendekatiku, aku masih antara sadar atau setengah sadar ketika Sehun ternyata datang menghampirku dan dengan lembutnya memohon, “Halo, boleh aku duduk disini?”

“Silahkan.” Jawabku setelah beberapa detik lamanya.

“Aku Oh Sehun, kau?”

“Suzy. Bae..! Bae Suzy! Cukup panggil Suzy,”  jawab ku malu-malu.  Gugup sekali rasanya. Ah Aku merasa melayang!

“Baiklah, Suzy Bae Bae Suzy?” Sehun mengulang nada bicara ku yang gugup sambil tertawa kecil.

“Bae Suzy!” koreksiku cemberut.

“Baik, baik! Aku tahu, aku hanya bercanda.”

Lalu aku dan lelaki manis ini langsung terjebak antara obrolan yang menyenangkan tentang melukis. Sehun sangat asik! Selain manis, tampan, dan asik ternyata dia mempunyai hobi yang sama dengan ku, melukis. Ah hari ini benar-benar hari keberuntunganku! Sepanjang pelajaran Park Songsaengnim kami terus mengobrol, sampai kepalaku sudah tiga kali rasanya terkena lemparan penghapus papan tulis!

.

.

.

Untuk kesekian kalinya, aku melirik alroji merah muda  kesukaanku yang terpasang manis di tangan kananku.  Sudah 1 jam berlalu sejak bel pulangan terdengar, Lee Ahjussi—supir pribadi ku belum juga menampakkan diri. Jika biasanya, ketika Lee Ahjussi terkena macet, Lee Ahjussi akan segera menghubungi ku jika ia akan terlambat. Tapi kali ini, tak ada kabar dari supir andalan keluarga ku itu. Aku sudah mencoba menghubungi nya puluhan kali sejak tadi, namun ternyata ponsel Lee Ahjussi sedang mati.

Aku menggigit bibirku. Aku mungkin akan pingsan! Matahari siang ini sungguh menyengritkan kulitku padahal aku sudah berlindung dibawah pohon besar. Mungkin aku harus menghapus hari ini sebagai hari terbaikku tadi. Diantara keberuntungan yang menghampiriku tadi pagi telah berganti dengan kesialan.

 “Belum Pulang?” Aku merasa terkitik dengan suara lembut seorang pemuda di telinga kiri ku. Aku menoleh untuk mencari tahu siapa pemilik suara lembut itu.

“Sehun?” Tanya ku setelah memastikan baik-baik jika orang yang disamping kiri ku ini adalah pemuda manis yang baru saja menjadi temanku tadi pagi.

“Iya, ini aku, Sehun. Tolong jangan menatapku seola-olah aku setan,” ungkap Sehun saat aku masih memperlihatkan ekspresi kaget.

“O..oh, maaf, sedang apa kau disini?”

“Aku baru saja ingin pulang, kau kenapa belum pulang?” Sehun kembali memamerkan Senyuman manisnya.

“Supirku belum datang,” Aku langsung memasang wajah cemberut kembali ketika mengingat Lee Ahjussi belum juga datang.

“Tidak baik jika kau terus-terusan menunggu disini, ayo ku antar pulang. Hubungi saja supirmu itu jika sudah sampai rumah.” Tawar Sehun lembut.

“Terima kasih, ta..pi..”

“Aku tidak ingin menerima tolakkan.”

Kemudian, Sehun langsung meraih tangan mungilku, menarikku menuju arah parkiran. Sehun membukakan pintu mobil disamping pengemudi, lalu mempersilahkan aku masuk bagaikan puteri kerajaan. Aku yang masih setengah bingung pun hanya bisa menurut. Ketika Sehun hendak menutup pintu mobil, tiba-tiba saja ada seseorang yang menarikku untuk berdiri lagi.

“Kau pulang denganku saja.” Kata orang itu singkat yang ternyata adalah si pemubuat masalah Jongin, ia menyeret tanganku paksa. Aku berteriak agar tangan besarnya itu bisa melepaskan tanganku. Apa dia gila??? Aku bahkan tak kenal dia!!! Kenapa dia memaksaku? Oke. Kalau memang dia ingin mengajakku pulang aku terima, tapi tidak dengan cara memaksa seperti ini!! Walaupun Sehun tadi memaksaku juga, tapi dia tak sampai sekasar ini!!

“Jangan paksa dia, kau ini pria atau wanita? Kasar sekali,” Tahan Sehun. Oh aku beruntung sekali! Terima kasih, Sehun! Kau penyelamatku! Tangan Sehun mencoba melepaskan tangan ku dari cengkraman kuat Jongin, namun Jongin tak mau kalah, dia malah semakin mengencangkan tangannya dan malah menyembunyikanku dibelakang punggungnya.

Oke, aku akui, aku cukup terpesona melihat punggung atletisnya ini didepanku. Walaupun masih memakai kemeja, tapi punggungnya cukup menggoda! Bahkan Jongin melingkarkan tanganku di perutnya. Terkesan seperti aku sedang memeluknya dari belakang. Pipi ku bersemu merah. Aku memang belum pernah bersentuhan dengan pria manapun.

“Jangan ikut campur, anak baru.”   Kata Jongin pada Sehun dengan nada yang menurutku sangat tajam.

Aku tak lagi berteriak untuk dilepaskan mungkin karena masih terlalu gugup setelah memeluknya tadi.  Dia kembali menyeretku meskipun tidak sekuat tadi. Aku cukup beruntung. Aku menoleh kearah belakang, menatap Sehun yang terlihat kesal. Sebenarnya aku masih berharap jika Sehun mengejarku lagi. Setelah menatapnya dan dia membalas tatapanku dengan lembut, dia kembali berlari mendatangi kami, ingin melepaskan ku lagi. Tapi Jongin langsung bertindak. Kaki panjangnya menendang perut Sehun, Sehun terjatuh sambil merintih. Tendangan Jongin cukup kuat ternyata. Aku memukul lengan Jongin, mencoba menghentikannnya yang sekarang malah ingin memukul wajah Sehun.

“KUBILANG JANGAN IKUT CAMPUR, BODOH! PULANG KE ALAM MU! JANGAN GANGGU AKU DENGAN KEKASIHKU!” teriak Jongin penuh emosi. Ya Tuhan! Suaranya begitu menyeramkan.

Lalu, Jongin kembali menarikku, meninggalkan Sehun yang masih terkapar lemah. Aku berteriak, aku tak terima Sehun ditendang seperti itu,  tapi Jongin mengiraukanku dan terus menarik tanganku. Tangannya malah kembali kuat seperti tadi.  Jongin mendudukanku secara paksa ke kursi disebelah pengemudi. Sedari  tadi mencoba melawan, akhirnya aku pasrah karna tidak sanggup melawan kekuatan Jongin yang nyatanya adalah seorang Pria.

“Pasang seatbelt mu.” Perintah Jongin.

“Tidak mau!” Jawab ku sengit.

“KUBILANG PASANG SEATBELT MU!” bentak Jongin kasar. Aku langsung menurut ketika melihat mata Jongin yang telihat kilatan marah. Dia begitu menakutkan!

Setelah aku memasang seltbeltnya, baru Jongin mulai mengemudikan mobilnya. Jongin mengemudikan mobil dengan laju.

Aku merasa takut sekali. Kedua bahuku bergetar,  rasa gugup dan rasa takut menjelajari tubuhku. Sejak kecil aku takut sekali suasana mobil yang laju seperti ini. Aku hanya merasakan kematian akan dekat dalam keadaan seperti ini.

“Tolong pelankan jalan mobilnya,” pinta ku dengan suara lemas. Jongin menoleh kearahku sekilas, menatapku dengan wajah santainya.  Dia tak begitu semarah tadi rupanya. Dia cukup baik, dan dia memelankan kecepatan mobilnya.

Selang beberapa detik, Aku mulai tenang. Aku ingin bertanya, apa maksud Jongin membawaku seperti ini. Kemana aku akan dibawa, dan akan diapakan. Tapi, mengingat kilatan marah dari mata Jongin tadi membuatku mengurungkan niatku itu.

Tiga tahun berada dalam satu kelas, baru kali aku berbicara dengan Jongin. Yah walaupun dengan teriakan seperti tadi. Belum lagi  tentang Jongin yang berkata jika aku kekasihnya dihadapan Sehun tadi. Bagaimana bisa aku dan dia yang tidak pernah saling mengenal bisa menjadi sepasang kekasih? Aku hanya sekedar mengenal Jongin karena sifatnya yang dingin dan jenius, bahkan aku tak tahu jika Jongin mengenalku.  Awalnya, aku tidak percaya tentang perkataan Jiyeon yang mengatakan jika Jongin adalah psycho, tapi kali ini aku mulai mempercayai perkataan Jiyeon itu.

Bahkan, bagiku Jongin adala orang terpsycho dari yang paling terpyscho yang pernah ada.

Empat puluh menit berlalu, Aku masih sibuk dengan pikiranku tentang lelaki gila disebelahku ini. Sesekali aku meliriknya, dia tak menoleh sedikitpun, Jongin tetap fokus menyetir dengan wajah angkuhnya. Pemangdangan hutan, pohon-pohon tinggi dan besar tiba-tiba menyapa mataku. Sudah lama sebenarnya aku tak merasakan keindahan hutan, mengingat jika di seoul sudah di penuhi dengan gedung-gedung besar, aku cukup takjub, ternyata masih ada hutan yang tersisa. Setelah beberapa detik, mataku melebar. Ya Tuhan! Aku baru sadar jika aku sedang di bawa kehutan! Pikiran negatifku mulai melayang. Untuk apa Jongin membawaku ke hutan? Sebenarnya apa maksud dan tujuan Jongin? Apa Jongin ingin membuangku? Memperkosaku? Atau membunuhku? Mataku semakin melebar. Rupanya, pikiranku mulai terlalu jauh. Aku menggeleng-gelengkan  kepalaku untuk menghapus semua pikiran negatifku.

Tiba-tiba, Jongin memberhentikan mobilnya di tengah jalan. Aku yang bingung lantas menoleh ke arah Jongin, dengan memasang raut wajah bertanya.

“Sudah sampai, keluarlah.” Perintah Jongin sambil membukakan pintu mobil.

“Kita ada dim—“

“Diamlah.”

Jongin kembali menarik tanganku dengan kasar,  aku mengusap-usap tangan ku yang dicengram Jongin. Sangat sakit! Apalagi rasa sakit yang tadi masih membekas dan ditambah denngan yang ini. Jongin benar-benar ingin membunuhku!  Dia menyeretku kepinggir jurang, dia bahkan menghiraukan rintihan kesakitan ku. Aku sudah menutup mataku, aku takut ketinggian! Pikiran pertamaku saat ini adalah Jongin benar benar ingin membunuhku dengan cara melemparkanku ke jurang. Tentu saja rasa takut menjelajari tubuhku. Ku mohon! Siapapun tolong lah aku!!!!

“Buka matamu, lihatlah ke bawah.” Kata Jongin sambil melonggarkan cengkraman tangannya ditanganku. Tangannya mulai beralih ke jari tanganku, menautkan jarinya pada jariku, entah apa maksudnya tapi aku benar-benar masih takut. Aku masih tak berani membuka mata dan menuruti perintahnya. “Tidak papa, bukalah matamu.” Kata nya lagi dengan suara yang sangat sangat sangat lembut. “Itulah alasan kenapa supirmu tidak menjemput tadi.” Lanjutnya lagi.

 Mendengar ucapannya yang terakhir tadi itu berhasil membuatku mencoba membuka mataku dengan hati-hati. Ketika mataku sudah terbuka penuh, aku menatap Jongin khawatir. Dia ikut menatapku, dia menunjukkan arah kepalanya kebawah mencoba menyuruhku untuk melihat kebawah. Dengan takut-takut aku melirik ke bawah. Mata ku membulat, jantungku berdegup kencang. Aku mencoba menutup mataku kembali, berharap jika apa yang dilihatku itu adalah kesalahan. Namun, ketika aku membuka mataku kembali, apa yang dilihatku itu benar-benar kenyantaan.

“Lee Ahjussi,” gumamku. Di bawah sana, aku dapat melihat jelas tubuh Lee Ahjussi yang bersimpah darah,  “b..bagaimana bisa?” Tanya ku. Aku melirik kearah Jongin yang sedari tadi hanya memperhatikanku.

“Seseorang telah membunuhnya.”

“Apa?” Kedua mataku yang sipit kembali membulat mendengarnya.

.

.

.

Suasana kelasku saat ini cukup bising. Jiyeon, Jieun, Soojung, Hyeri, Jiyoung, Sohyun sedang membicarakan sesuatu di pojok kiri kelas, kutebak hal yang menjadi topik pembicaraan mereka saat ini adalah tentang beberapa gossip terbaru para Boy Band idola mereka. Chanyeol, Baekhyun dan Luhan sedang menonton video dari laptop ditengah-tengah kelas, sesekali mereka menjerit kesetanan, aku  berani bertaruh jika video yang mereka tonton itu adalah video porno, karena otak mesum mereka yang selalu terlihat.  Sedangkan yang lain terlihat asik sendiri dengan aktivitas masing-masing entah itu bermain ponsel, mendengarkan lagu, membaca novel atau yang lain. Dan Aku sendiri yang terlihat asik sendiri dengan pikiranku.

Aku duduk dibangku ku dengan wajah kusut. Pikiranku sejak tadi, ah tidak! Sejak semalam tepatnya, terus-terusan terkunci tentang Supir kepercayaan keluargaku yang telah terbunuh. Aku tak habis pikir bagaimana bisa orang sebaik Lee Ahjussi bisa terbunuh, atas motif apa? Dan bagaimana Jongin bisa tahu? Sepanjang perjalanan pulang kemarin, aku sudah bertanya pada Jongin tentang itu, sudah berpuluh-puluh kali malah. Namun tak ada sahutan sedikitpun dari Jongin. Lelaki itu hanya terus memasang wajah datar, seolah-olah tak mendengarkan atau lebih tepatnya tak menganggap aku ada.

 “Hei!” Teriak seseorang tepat ditelinga ku.

Aku hampir saja jatuh dari kursi kalau tidak segera ditahan Sehun. “Ya Tuhan! Sehun! Kau mengagetkanku!” kataku sambil memasang wajah cemberut, berupura-pura merajuk. Ya Ampun! Lucu sekali. Hanya dengan Sehun aku bisa menjadi seperti ini!

“Siapa suruh kau tidak membalas sapaanku dan malah asik dengan lamunan seru mu itu, memangnya kau sedang memikirkan apa? Serius sekali,” jawabnya santai dengan kedua bahu yang terangkat.

“Supirku… meninggal.” Laporku padanya. Mungkin sangat bagus jika aku bercerita tentang masalahku dengan Sehun. Sehun kan sangat baik dan dia menyenangkan, mungkin saja dia bisa membantuku mencari tahu pertanyaan yang terus berada diotakku ini.

“Benarkah? Aku ikut berduka cita,” kata Sehun tersenyum. “lalu apa yang menjadi masalah?”

Apa dia bodoh? Kupikir Sehun akan terkejut dan bertanya-tanya kenapa, bagaimana dan kapan supirku dibunuh. Tapi dia malah tetap terlihat tenang dan tersenyum!

“Kau bodoh? Lee Ahjussi meninggal karna dibunuh! Misterius sekali!”

“Kalau begitu, serahkan saja pada polisi.” Sahut Sehun memberi saran yang sebenarnya sudah terlalu umum dan sudah dilaksanakan oleh kedua orang tua ku kemarin.

“MANUSIA BODOH!” Teriak seseorang dengan suara berat di belakangku, sontak suasana kelas menjadi hening, semua yang ada dikelas ini termasuk aku berbalik untuk melihat siapa pemilik suara yang dengan seenaknya berteriak tanpa tahu dimana dia berada. Si manusia gila itu malah sedang asik berkutat dengan psp nya, Jongin terlihat santai dan cuek. Tanpa melirik kearah kami sedikit pun, Jongin bersuara lagi dengan keras, “APA KALIAN TIDAK MEMPUNYAI KERJAAN SELAIN MELIRIKKU?”

Semua nya langsung mengalihkan pandangan masing-masing, berpura-pura tak sedang melirik Jongin.  Aku sendiri hanya memutar balikkan kepalaku kearah sebenarnya dan menatap Sehun yang sama kebingungannya denganku. Tapi tak lama, kelas yang tadinya hening kembali ricuh akibat gumaman seisi kelas. Topiknya adalah seputar Jongin yang sangat menakutkan.

“Ada apa dengannya?” Tanya Sehun pada ku. Aku mengangkat bahunya, wajahku mungkin masih terlihat bingung. “Bukankah katanya kau kekasihnya? Kemarin dia menarikmu,” tambah Sehun lagi dengan curiga.

“Lelucon macam apa itu? Dia hanya berbicara sembarangan, kami bahkan tak saling mengenal!” bantahku tak terima.

“Benarkah? Kalau aku tahu begitu, aku tak akan membiarkanmu  pergi bersamanya kemarin,” kata Sehun sambil berfikir.

“Tak apa, dia bahkan yang memberi tahu jika supirku meninggal,”

“Kalau begitu, kenapa kau tak coba tanya padanya?”

“Sudah tapi dia hanya diam seolah-olah tak menganggap ku ada. Menyebalkan!”

“Dia aneh sekali, kau bilang kalian tidak saling mengenal tapi kenapa dia tahu supirmu meninggal? Apa kau tak curiga jika supirmu meninggal dibunuh olehnya?” tebak Sehun sambil melirik kebelakang dan dengan santainya jarinya menujuk kearah Jongin tanpa takut.

“MENUDUH ORANG SEMBARANGAN ITU TIDAK BAIK.” Sahut Jongin dengan teriak yang membuat seisi kelas kembali memperhatikannya. Kurasa Jongin benar-benar gila! Dari tadi dia seperti orang kesetanan yang terus menerus berteriak. Mendengar ucapannya yang nyambung dengan ucapan Sehun tadi, aku jadi berfikir sedari tadi mungkin Jongin mendengar percakapan ku dan Sehun.

Aku menggeleng-gelengkan kepalanya, bingung dengan semua ini. Sebenarnya ada apa dengan Jongin? Siapa itu Jongin? Dan apa maksud Jongin?

.

.

.

“Hei, mau pulang bersama?” ajak Sehun dengan senyuman khasnya itu.

Aku yang sedari tadi terdiam di bawah pohon—menunggu siapa saja yang ingin mengantarku pulang—mengangguk sambil tersenyum, tapi senyumanku langsung pudar ketika mendapat tatapan garang dari Jongin di seberang tempatku berdiri. Telinga lelaki itu cukup tajam rupanya. Aku meringis, kemudian mengingat ucapan Jongin kemarin ketika dia mengantar ku pulang.

Jangan mau jika Sehun mengajakmu pergi bersama, dia berbahaya.

Sebenarnya aku sendiri masih bingung apa maksud ucapan Jongin itu. Kenapa Jongin mengatakan Sehun berbahaya? Malah dirinya lah yang berbahaya kurasa.

“Tidak bisa, ia pulang denganku.” Sela Jongin dengan penuh penekanan.  “Dan kau! Jangan pernah dekat-dekat dengan lelaki lain! Kau itu kekasihku!” tunjuk Jongin pada ku. Lalu dengan seenak kakinya dia meraih pinggangku dan mendekatkan tubuhku ketubuhnya.

“Suzy bilang kalian bukan sepasang kekasih. Kau itu aneh sekali, ada apa dengan mu?” tanya Sehun kembali bingung, matanya terlihat tajam melihat tangan Jongin yang melingkar sempurna dipinggangku. Yang kau bilang itu benar Sehun! Lelaki yang sedang merangkul ku ini orang gila!

“Kau tidak mengakui ku, chagi? Lalu apa arti waktu itu? Bukan kah kau sendiri yang sudah menerima cintaku?”  tanya Jongin sambil menatapku dengan wajah yang dibuatnya sesedih mungkin. Menjijikan.

“Kau bermimpi? Sejak kapan aku menjadi kekasihmu?” tanya ku ulang tak terima.

“Kau lupa ya? Kau sedang sakit? Kau hilang ingatan? Pokoknya aku tidak mau tahu! Kau adalah kekasihku! Dan kau harus pulang denganku!”

Tanpa menunggu balasan, Jongin langsung menarik ku dengan paksa. Aku sempat menoleh kebelakang dan melihat Sehun di kepung dengan teman-teman sebangsa Jongin.

.

.

.

“YAK! SEHUN! KEMBALI! KASIHAN SEHUN!” teriakku untuk kesekian kalinya. Dari tadi, hanya teriakan ku lah yang terdengar di mobil ini. aku berharap gendang telinga Jongin hampir pecah dan dia akan mengabulkan permintaanku untuk kembali untuk menyelamatkan Sehun.

“KAU DIAM SAJA! BIARKAN SAJA! DIA ITU BERBAHAYA!” balas Jongin ikut berteriak. Kurasa, gendang telingaku lah yang hampir pecah. Teriakannya melebihi teriakanku, mungkin Rihanna yang punya suara tinggi juga bakal kalah melawan suara kencangnya.

“APA MAKSUDMU DIA BERBAHAYA? JAWAB AKU!!!” desak ku sambil memukuli Jongin yang sedang menyetir.

“yak! Hentikan pukulanmu itu!” kata Jongin tak tahan dengan pukulanku yang menggebu-gebu. Bukannya berhenti, aku malah memukulinya lebih keras sambil berceloteh tentang Sehun. “kau mau mati, eoh?” katanya ulang.

Dengan sangat terpaksa, aku menghentikan aksi brutalku, tapi matanya masih menatap Jongin sebal. “Kembali kesekolah! Kau main keroyokan, kasihan Sehun.” Kataku penuh permohonan.

“Untuk apa mengasihani lelaki tak tahu diri itu?” sahut Jongin sarkatis. “dia hanya memanfaatkanmu. Dia punya misi terselubung untuk keluargamu dibalik sifat sok ramahnya itu.”

“Menuduh orang sembarangan itu tidak baik!” semprotku menirukan ucapan Jongin di kelas tadi.

“Yasudah kalau tidak percaya. Aku sudah baik ingin membantumu.” Kata Jongin cuek.

“Kalau begitu, turunkan aku!”

“Tidak akan!”

“Turunkan! Atau aku akan berteriak sekencang mungkin agar orang-orang tahu jika didalam mobil ini terjadi penculikan.”

Dengan santainya Jongin malah berkata, “Mobil ini sudah di desain kedap suara. Jadi kalaupun kau berbicara sekuat tenanga mu, orang lain diluar tak akan mendengarmu begitu juga sebaliknya. Jadi, coba saja nona.”

SAku mengiraukannya, masih menatapnya dengan sebal, aku menyumpahi lelaki disampingku ini dengan kata-kata serapahku. Saat itu juga, aku merasa jika dia sedang menahan tawanya. Apa-apaan dia? Di saat yang seperti ini dia malah tertawa?

“Tapi Jongin, apa maksudmu jika Sehun berbahaya?” tanya ku penasaran.

“Kan sudah ku bilang. Dia punya misi terselubung untuk keluargamu.”

“Aku masih tidak mengerti,” Aku mencoba berfikir keras untuk mengerti maksud Jongin. “Jongin-ssi! Jika benar, dari mana kau tau semua ini?”

“Kau banyak tanya, diam saja. Aku yang akan mengurus semuanya, dan membantumu. Percuma menjelaskannya, otak sempitmu itu pasti tak akan mengerti.” Kata Jongin lagi yang seperti sindiran bagi ku.

“Menyebalkan!”[]

Advertisements

19 thoughts on “Misunderstanding (Part 1)

  1. waaa penasarannn thorrr waaa sehun bales dendam gitu kw keluarga suzy????? waaaa kai baikkkk sm suzyyy 🙂

  2. aih kereeen abis
    ternyata dibalik sifat kasarnya kai itu dia ingin melindungi suzy 🙂
    seru abis thor bikin kai suzy moment yg banyak ne 🙂
    sehun kyaknya diam2 menghanyutkan nih
    next thor fighting jgn lama2 🙂

  3. keren… di tunggu kisah selanjutnya kekeke
    penasaran siapa sebenarnya sehun dan jongin..
    part 1 hanya suzy pov ya..
    author hwaitiing .. 🙂 🙂

  4. eeh aku suka banget loh sama ceritanya, penasaran sm ucapan kai yg bilang sehun pnya misi terselubung, apa masih ada sangkut pautnya sm prolognya ? aah.. penasaran ^^

    aku pengen baca yg versi ini aja deh, next next penasaran :*

  5. Omona Jongin kenapa keren banget gitu thor ??? Penasaran sebenernya siapa Jongin sama Sehun itu ? Aaaaaaahhh pokoknya penasaran, authornim cepet dipublish ne ? Fighting ❤

  6. Masih bingung dgn Alurnya
    Sebenarnya yg jahat iti sehun ato jongin ?
    Knp mlah kluarga suzy jd targetnya ?
    Ahhh mollaaaa
    Bingung
    Next partnya di tunggu thor 🙂

  7. ya ampun, ini yang jahat sehun apa Kai? judulnya misunderstanding, berari yg dianggap baik itu jahat, berarti KAI jahat gitu? ahh, penasaran.
    cepat dilanjut ya Arabella Xia 🙂

  8. omoo…
    Kai kasar bgt… Tpi nt mlh dia yg baik…
    Sehun terlalu ramah, smp suzy ngmng supir’a meninggal aj, ttp senyum…

    Next

    yg secret pen brt cast’a suzy? Suzy- kai kah??

  9. aduh ngakak banget bacanya..
    ringan dan menghibur. Sama kaya naughty girl..
    Semoga cepat berlanjut.
    Semangaaat

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s