[Chapter 3] 2050

2050

“When you’re not a human..”

by Shinyoung

Main Cast: Kim Myungsoo & Son Naeun || Support Cast: Infinite & Apink || Genre: Fantasy, Angst, Romance || Length: Chapter 3/? || Rating: || Credit Poster: iheartpanda || Desclaimer: Official written by me. The cast belongs to God. No copy-paste. || A/n: Hello! Aku baru bisa post hari ini karena kemarin Senin-Kamis aku UTS. Dan baru free hari ini. Jadi, selamat membaca aja ya!^^

Chapter 3 – She’s Back

Teaser | 1 | 2

**

Naeun menguap lebar setelah bangun dari tidur-nya yang nyenyak dan terganggu oleh sinar matahari yang menyilaukan matanya. Kemudian ia merentangkan tangannya dan menggoyang-goyangkan tangannya. Setelah itu, ia mengucek kedua matanya untuk membenarkan pandangannya.

Ia terkejut ketika ia melihat seorang laki-laki tengah berdiri menatapnya dengan handuk menempel di kepalanya. Laki-laki itu hanya tersenyum kecil kemudian melangkah menuju Naeun dan menepuk kepala gadis itu pelan.

“Selamat pagi, gadis nyentrik.”

Naeun hanya bisa melongo menatap Myungsoo. Bagaimana bisa ia berada di tempat tidur Myungsoo?

“AAAA!!!”

Myungsoo menatapnya dengan santai kemudian pergi. Dia sudah tau, semua gadis sama saja. Selalu terkejut ketika terbangun di kamar seorang laki-laki tampan dan pasti berpikir bahwa laki-laki itu menidurinya atau melakukan sesuatu padanya semalam.

“Kenapa aku tidur di kamarmu?!”

Yang ditanya justru mengangkat bahunya sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kemudian duduk di kursinya. Lalu ia menatap Naeun. “Kau yang tidur di kursi itu,” katanya sambil menunjuk kursi yang terletak disamping tempat tidur. “Tanpa pikir panjang, aku tempatkan kau di tempat tidurku.”

“Aish!! Kau tidak melakukan hal apapun kan?” tanya gadis itu sambil mengangkat alisnya yan kiri. Myungsoo menggelengkan kepalanya kemudian tersenyum. “Yasudah, aku mau mandi,” Naeun berkata lalu beranjak pergi dari kamar itu, meninggalkan Myungsoo sendirian.

Naeun hanya bisa mengeluh kesal setelah keluar dari kamar Myungsoo. Sambil mendumal kecil, ia melangkah masuk ke dalam kamarnya. Lalu ia segera mandi dan berpakaian rapi.

“Ay!! Kenapa aku bisa tidur bersamanya?!”

Bukankah itu menyenangkan, Son Naeun? Tidur bersama seorang laki-laki tampan?

Gadis itu hanya diam. Kemudian ikut tersenyum ketika mengingat tadi malam bagaimana wajah Myungsoo ketika tertidur. Menurutnya, wajah itu sangat lucu dan terlalu kekanak-kanakkan untuk seorang laki-laki berumur 24 tahun.

Apa lagi yang kau pikirkan? Dia tengah menunggumu. Dia mau berangkat kerja bersamamu. Kau akan jadi modelnya. Tenang saja, aku sudah mem-program dirimu.

Naeun tersenyum. “Terimakasih, sekali lagi. Namjoo-a.”

Akhirnya, Naeun melangkah keluar dari kamarnya lalu menuruni anak tangga dan melangkah menuju ruang makan. Disana sudah ada Myungsoo dengan mulut penuh roti selai kacang. Laki-laki itu rupanya sedang tidak mood untuk makan makanan 4 sehat 5 sempurna.

“Oh, hai,” ujar Myungsoo menyapa Naeun ketika melihat Naeun tiba di ruang makan. Gadis itu membalas sapaan laki-laki itu dengan senyuman. “Maaf, aku tidak masak apapun hari ini. Jadi, kita makan roti saja.”

Aroma khas selai kacang bisa tercium oleh Naeun. Gadis itu mengambil salah satu kursi dan duduk disana. “Tidak apa-apa. Aku yang justru meminta maaf karena aku tidak bisa apapun, hanya bisa tidur di rumahmu.”

“Sungguh, itu bukan masalah yang besar. Oh ya, hari ini kau akan jadi model untuk projek milikku yang tertunda. Chorong akan membantumu juga. Dia bisa memberimu contoh.”

“Eung–Eung, sebenarnya tidak usah juga tidak apa-apa. Aku sudah di program untuk menjadi seorang model profesional. Kau–Kau tahu kan bahwa aku hanyalah seorang robot?”

Myungsoo menelan seluruh rotinya. Kemudian, laki-laki itu meneguk beberapa jus jeruk. Dan meletakkannya kembali. “Bagiku, kau adalah manusia. Jadi tidak usah pedulikan tentang perbedaanmu,” Myungsoo mengelus kepala gadis itu sambil bangkit dari kursi. “Kalau sudah selesai, kita berangkat.”

Hanya anggukan kepala Naeun yang menjawab semuanya. Kemudian, gadis itu menatap Myungsoo yang pergi menuju ruang tengah untuk menonton.

“M–Myungsoo?”

“Ya?” Jawab laki-laki itu sambil duduk diatas sofa dan mulai menghidupkan televisi. Myungsoo mengganti-ganti channel televisi sambil menunggu jawaban dari Naeun. “Ada apa?” tanya Myungsoo lagi.

“Apa tidak apa-apa aku tinggal di rumahmu?”

Laki-laki itu menolehkan kepalanya ke arah Naeun kemudian menatap Naeun dari atas sampai bawah. Kemudian ia kembali menatap televisi. “Tidak apa-apa,” Myungsoo mengangkat tangannya seakan-akan berkata: Terserah kau saja. “Tidak ada masalah. Kau tampak baik-baik saja. Nah–”

“Aku sudah selesai.”

Gadis itu membereskan piring-piring kotor dan mulai mencucinya se-bersih mungkin. Ia tidak mau menyusahkan Myungsoo karena ia juga menumpang di rumah Myungsoo. Tapi, lama-lama ia juga memikirkan tahun 2050 dimana ia hanya hidup sendirian tanpa teman.

Di tahun 2050 dia berteman dengan para Robolars memang. Tapi, itu semata-mata untuk menyenangkan dirinya saja. Dia lebih suka berteman dengan manusia di tahun 2050, namun tak ada yang mungkin mau berteman dengan seorang Robolars. Robolars diciptakan untuk mengantarkan barang bagi para Faylars.

Jadi, percuma saja jika ia mencoba mencari teman di tahun 2050. Nah, kalau sekarang ia punya teman seperti Myungsoo atau Chorong juga Woohyun, menurutnya ini hanya kebetulan semata saja. Kalau saja ‘Demontel’ itu menjatuhkannya di pinggir jalan atau di dekat tempat pembuangan atau di ujung dunia? Mungkin hidupnya tak akan semakmur ini.

Memikirkan hal itu saja, membuatnya pusing.

Kemudian, tanpa basa-basi lagi, ia segera menaruh piring-piring yang sudah dicuci itu kembali di tempatnya.

“Sudah selesai?”

Laki-laki itu mematikan televisinya lalu merapikan rambutnya. Kemudian menatap ke arah Naeun yang tengah menganggukkan kepalanya. Jika disuruh pilih, ia lebih suka Naeun menjawab pertanyaannya daripada menganggukkan kepalanya.

“Baguslah, kita bisa berangkat sekarang,” kata Myungsoo sambil memetikkan jarinya lalu melangkah menuju pintu depan rumahnya. Namun, ia berbalik lagi menatap Naeun dan memastikan penampilan Naeun. “Ganti baju. Pakai dress kalau kau punya.”

“A–Apa? Dress? Tapi–”

“Kau tidak punya atau tidak mau?”

“–Aku tidak mau memakainya. Aku tidak pantas memakainya. Setiap kali aku ingin memakai dress itu tampaknya tubuhku tidak pas dalam pakaian itu. Jadi aku menggunakan pakaian ini saja,” Naeun menunjuk tubuhnya.

Gadis itu memang memiliki tubuh yang pas untuk seorang model. Namun, lebih bagus lagi jika gadis itu memakai dress, menurut Kim Myungsoo. Tapi, bagaimanapun Naeun selalu cocok dengan pakaian apapun. Melihat Naeun menggunakan kemeja putih yang dimasukkan ke dalam jeans biru-nya itu membuat Myungsoo berpikir ulang pakaian mana yang akan sangat cocok dengan Naeun.

Akhirnya, laki-laki itu melambaikan tangannya ke arah Naeun. “Ganti saja. Pakai dress. Terserah kau apa saja. Itu kan menurutmu kalau kau tidak cocok, kau belum mendengar pendapatku.”

Sambil mendecak kecil, Naeun menganggukkan kepalanya kemudian kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian. Dia tidak mau membuat Myungsoo menunggu, jadi lebih baik ia cepat-cepat berganti pakaian.

Dress hitam selutut itu tampak cocok di tubuh Naeun bagi semua orang namun, jika ia melihatnya sendiri ia tampak tidak cocok. Tapi, bagaimana lagi? Ia disuruh oleh Myungsoo.

“Nah, ayo berangkat,” kata Myungsoo setelah melihat Naeun turun dengan dress hitam itu. Kemudian, gadis itu hanya menganggukkan kepalanya pasrah.

**

“Namanya Son Naeun. Dia akan menjadi model tetap mulai hari ini. Jadi, tolong kerjasama-nya.”

Para staff Myungsoo yang ada di studio itu tampak mengangguk-anggukkan kepala mereka setuju. Melihat tubuh Naeun yang sesuai dengan proposisi seorang model, tak bisa menayalahkan bahwa Myungsoo memilih model yang sangat tepat.

“Nah, Son Naeun-ssi, ayo kesini,” ujar seorang gadis yang berambut panjang lurus. Gadis itu tampak cantik dengan makeup natural yang dikenakannya. Sudah bisa, dipastikan bahwa gadis itu adalah seorang penata rias.

Naeun menanggukkan kepalanya kemudian melangkah menuju ke arah gadis itu dan mengikuti gadis itu. “Jadi, namaku adalah Jung Eunji,” kata gadis itu sambil tersenyum dan memakaikan sebuah penutup badan pada tubuh Naeun. (A/n: you know what i mean kan? Yang biasanya kalau mau potong rambut, kalian pake apa dulu di badan?)

“Nah, setelah ini kau bisa pergi ke arah gadis itu,” katanya sambil menunjuk seorang gadis berambut panjang lurus dengan tubuh yang kurus dan tinggi. Gadis itu tampak sibuk dengan ponselnya sambil tertawa sendiri. “Namanya Oh Hayoung, dia fans berat B2st. Gila dengan yang bernama Jang Hyunseung,”

“Bagus, aku juga fans berat B2st,”

Sekarang giliran Jung Eunji yang menepuk kepalanya. “Disini ada dua fans B2st. Mereka akan buat kekacauan,” ujarnya sambil menaruh eye shadow berwarna merah muda cerah pada kelopak mata Naeun.

“Oh, aku tidak akan membuat kekacauan,” Naeun nyengir sambil membuka matanya yang telah selesai diberi eye shadow. “Apa dia benar-benar heboh?”

“Tentu saja, lihat ke arahnya. Dia tidak akan mendengar kita jika sudah sibuk dengan idolanya itu. Walaupun begitu, dia adalah penata rambut profesional. Awalnya, Myungsoo tidak mau menerimanya, tapi karena dia berusaha, akhirnya Myungsoo menerimanya.”

Naeun hanya bisa tersenyum mendengarnya. Ia jadi ingat bagaimana Myungsoo langsung menerimanya menjadi seorang model. Apakah Myungsoo adalah seorang laki-laki yang dijuluki ‘cold city boy’ oleh orang-orang disekitarnya? Tapi, ia merasa bahwa Myungsoo baik-baik saja.

Jika ditanya, ia lebih baik memanggil Myungsoo dengan nama aslinya bukan ‘cold city boy’ atau juga ‘L’. Semua orang memanggilnya L karena dia memang tampak seperti pemeran dalam film ‘Death Note’.

“Apa kau senang diterima menjadi seorang model?” Eunji bertanya sambil meletakkan lip gloss di bibir Naeun.

Naeun mengangkat bahunya. “Aku hanya mencari pekerjaan saja.”

“Sepertinya, bukan itu alasanmu. Aku merasa bahwa kau punya alasan lain untuk menjadi seorang model,” Eunji menutup lip gloss itu dan mulai memakaikan maskara tipis pada bulu mata Naeun. “Tapi, yasudahlah. Aku tidak tahu itu tapi aku merasa bahwa kau memiliki alasan lain.”

“Jangan meramal di pagi hari apalagi pada orang baru,”

Naeun bisa melihat seorang laki-laki bertubuh profesional berdiri di belakangnya sambil menepuk bahu Eunji. Laki-laki itu tampaknya seorang designer atau yang lainnya?

“Aih, Hoya. Kenapa kau disini? Memangnya Myungsoo memperbolehkanmu masuk ke sini?”

Laki-laki yang dipanggil Hoya itu hanya tersenyum dan menanggukkan kepalanya. Kemudian, laki-laki itu menatap Naeun yang tengah tampak bingung diantara kedua orang tersebut. “Nah, aku Lee Hoya. Dia pacarku,” ujarnya sambil menunjuk Eunji.

Eunji hanya bisa tersenyum dengan pipi merona. Kemudian gadis itu melanjutkan menata rias wajah Naeun. “Jangan ganggu kami, pergilah.”

Aigo, kau mengusirku?”

**

Selesainya, ia segera berganti pakaian dan memakai dress yang dipilihkan oleh Myungsoo. Kemudian, gadis itu segera menjalani pemotretan yang lancar – mungkin karena ia sudah di program.

“Nah, kau memang cukup bagus hari ini. Sekarang kau bisa pilih pakaian yang akan kau pilih. Terserah.”

Naeun hanya menganggukkan kepalanya. Sedangkan staff lain bisa mengerti bahwa jika Myungsoo sudah menyuruh seorang model untuk memilih pakaian sendiri artinya model itu sudah cukup profesional.

“Terserah?” tanya Naeun sebelum masuk ke dalam ruang ganti pakaian. Ia tampak tidak yakin dengan perkataan Myungsoo yang menyuruhnya untuk memilih pakaian sendiri. Bukankah ia hanya seorang model dan Myungsoo tahu bahwa dia profesional hanya karena ia sudah di program.

Myungsoo meletakkan kameranya dan menganggukkan kepalanya. Lalu laki-laki itu melirik ke arah komputernya yang sudah mulai dipenuhi oleh foto-foto Naeun. Laki-laki itu tersenyum melihat hasil foto-foto Naeun. Tidak salah, jika Naeun tiba di rumahnya.

Jika saja, Jupal tidak berbuat macam-macam, tentu dia masih mempekerjakannya. Menurut Myungsoo, perempuan yang lebih tua darinya itu sudah profesional.

“Kau suka padanya, ya?”

Myungsoo menolehkan kepalanya ke arah Sungjong yang sudah berdiri disampingnya. “Aku suka dengan keahliannya sebagai model.”

“Oh, aku kira kau suka padanya, tampaknya dia gadis yang baik. Mengingat kau ditinggalkan oleh Krystal,”

“Jangan sebut nama gadis itu. Jika kau menyebutnya lagi, aku tidak akan segan-segan mengusirmu, Sungjong,” Laki-laki itu menatapnya tajam. “Lagipula dia sudah punya pacar,”

Sungjong hanya mengangguk-anggukkan kepalanya kemudian mata laki-laki itu tertuju pada Naeun yang baru saja keluar dari kamar ganti. Kemudian, Sungjong menyikut Myungsoo berkali-kali. Myungsoo menoleh ke arahnya bingung. Kemudian Sungjong menunjuk Naeun.

“Kau tau dia mirip siapa?” tanya Sungjong.

Myungsoo diam saja mencoba mengembalikan dirinya yang terlalu terkejut melihat Naeun. Gadis itu bukan Naeun. Gadis itu cantik. Lebih cantik daripada seorang Dewi sekalipun. Entah apa yang membuat gadis itu cantik, tapi gadis itu memang pas dengan balutan dress putih panjang dan rambut yang dibiarkan bergelombang diujungnya.

“Siapa?”

Aphrodite – Dewi Cinta dan Kecantikan,” jawab Sungjong.

“Jadi? Bagaimana?” tanya Naeun akhirnya karena kedua laki-laki itu tampak seperti orang keracunan atau kesetanan melihatnya. Ia takut jika-jika ia tampak buruk dihadapan kedua laki-laki itu.

Sungjong menampar Myungsoo akhirnya. “B–Bagus sekali. Nah, sekarang kita bisa m–mulai.”

**

Bisa-bisa Myungsoo benar-benar kesetanan jika Sungjong tidak menamparnya. Tapi, sungguh, Naeun tampak benar-benar cantik dengan penampilan tadi. Sudah bisa dipastikan, ia harus ikut lomba fotografi yang akan diadakan bulan depan.

Sepanjang perjalanan pulang, mereka berdua hanya diam-diam saja. Terutama, Myungsoo yang masih syok karena kecantikan Naeun tadi. Atau juga jantungnya yang kini ikut berdegup dengan cepat.

“Eung, Myungsoo?”

Myungsoo melirik ke arah Naeun sekilas kemudian kembali fokus ke jalan. “Ada apa?”

Naeun kembali diam. Mengingat bagaimana Myungsoo melihatnya seperti orang kesetanan tadi di studio saja membuatnya masih bingung. Kenapa Myungsoo dan Sungjong menatapnya seperti itu, adakah yang salah dengan penampilannya? Atau mereka berdua sebenarnya menertawakan dirinya. Jika itu adalah jawabannya, maka Naeun tak mau lagi memilih baju sendirian. Lagipula, dia disana hanya untuk menjadi seorang model.

Kalau-kalau, ia kehilangan pekerjaannya sebagai model, dia sudah siap mencari pekerjaan lainnya, pelayan restoran. Sangat bagus.

“Jadi, ada apa?” tanya Myungsoo lagi sambil mengendalikan jantungnya yang dari tadi terus berdegup kencang dan semakin kencang setiap ia melirik ke arah Naeun.

Akhirnya gadis itu membuka suara. “Aku minta maaf soal tadi.”

“Yang mana?” Myungsoo bingung. Laki-laki itu mematikan mesin mobilnya, setibanya mereka di rumah. Kemudian ia melangkah keluar, namun tak diikuti oleh Naeun. Tampaknya gadis itu masih ingin melanjutkan perbincangan mereka.

Myungsoo membuka pintu mobilnya dan menatap Naeun. “Yang mana?” tanyanya lagi.

“Saat aku menggunakan dress putih. Apa kau tidak menyukainya?”

“Tidak, tentu saja tidak. Aku dan Sungjong hanya terkejut saja saat melihatmu seperti Dewi Aphrodite menurut Sungjong. Jadi tidak usah meminta maaf,” Laki-laki itu tersenyum kecil kemudian menutup pintu mobilnya dan meninggalkan Naeun yang masih di dalam mobil.

Masih diikuti perasaan bersalah, Naeun melangkah keluar dari mobil Myungsoo kemudian ia menutup pintu mobil itu. Kalau benar itu yang dikatakan Myungsoo, sebaiknya ia tidak memikirkannya lagi.

Memikirkan hal-hal yang membuatnya pusing, ia pun melangkah menuju dapur dan meneguk air putih dingin yang ada di dalam kulkas. Tampaknya, kulkas itu cukup penuh, mengingat Myungsoo sering mengadakan makan-makan bersama Woohyun dan Chorong.

Kemudian, gadis itu melangkah menuju kamarnya dan merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Ia menatap langit-langit kamarnya yang bersih dan hanya ada 4 buah lampu yang menempel disana.

Dan, pandangannya pun mengabur. Gadis itu terlelap disana.

**

“Naeun!” Myungsoo mengguncang-guncangkan lengannya, kedengarannya panik. “Ayolah, kumohon! Bangun!”

Naeun membuka mata. Kamarnya tampak terang dengan lampu semua menyala. Kemudian ia melirik ke arah jendela kamarnya yang gelap. Ia masih berbaring di atas tempat tidurnya. Kapan terakhir ia menutup matanya?

Naeun duduk tegak dengan goyah, kepalanya berputar-putar. Ia menatap ke arah Naeun. Disampingnya berdiri juga Woohyun dan Chorong yang tampak ikutan khawatir. Sudah berapa lama mereka bertiga disana?

Dilihatnya juga tangan Myungsoo yang tengah menggenggam tangannya. Cepat-cepat, ia melepaskan genggaman tangan itu. Kemudian ia menghela nafas panjang.

“Sejak kapan aku tertidur?”

Myungsoo menghela nafas lega kemudian ditatapnya gadis itu. “Kau tahu, berapa lama kau tertidur? Kau tertidur dari kemarin siang. Entah semacam koma atau apa aku tidak mengerti.”

“Kemarin siang?” Naeun mengerang. “Aku tertidur selama itu?”

Myungsoo menempelkan tangannya diatas dahi Naeun seolah-olah bertanya apakah gadis itu benar-benar baik-baik saja. “Nah, kami sempat memanggil dokter dan dokter tidak tahu kenapa. Menurutnya, kau semacam koma. Dia juga tak mendengar detak jantungmu.”

“Aku bukan koma,” Naeun menghela nafas dalam-dalam. “Sepertinya aku sedang diperbaiki oleh Namjoo.”

“Eh?”

Naeun menatap ke arah Chorong dan Woohyun yang bingung. Myungsoo mendengus kecil kemudian menceritakan yang sebenarnya kepada pasangan kekasih itu. Naeun hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja menyetujui perkataan Myungsoo.

“Kuharap kau tidak seperti itu lagi. Sebaiknya kau memberitahu kami jika kau sedang diperbaiki atau semacamnya,” kata Chorong sambil tersenyum. Kemudian gadis itu menepuk kepala Naeun.

“Sungguh, aku tidak tahu. Aku pikir biasanya Namjoo memprogram diriku hanya ketika aku tidur atau yang lainnya. Aku tidak pernah seperti ini,” kata Naeun meyakinkan mereka. Kemudian gadis itu menyentuh ‘Screvisible’-nya dan menghubungi Namjoo.

Ketiga manusia itu terkejut ketika melihat Naeun bisa menghubungi seseorang ditahun 2050. “Oh, hai Naeun!”

“Namjoo, apa kau tahu kenapa aku tadi?”

Namjoo menggelengkan kepalanya kemudian ia menunjuk ayahnya yang jauh darinya tengah berbincang-bincang dengan ibunya. “Sepertinya ayahku melakukan sesuatu untuk mencari dirimu dan Bomi. Jadi kuharap kau harus berhati-hati.”

“Jadi aku kenapa?”

“Aku rasa, kau tengah menjalani proses untuk menjadi manusia asli. Sampai saat ini aku belum menemukan cara untuk menyempurnakan dirimu. Tapi, kalau kau sudah menjalani prosesnya, pasti ada sesuatu yang terjadi padamu,”

“Baguslah. Lebih cepat lebih baik,”

“Jadi, kau harus berusaha mencari jalan agar menyempurnakan dirimu. Semakin cepat kau menjadi manusia sempurna, maka ayahku tidak akan menghancurkan dirimu,” katanya kemudian menyeruput sebuah minuman. “Dan yang terakhir, apa kau tahu dimana letak perpustakaan terlarang?”

Naeun mengangkat bahunya. “Aku tidak pernah kesana. Tapi ada yang menyebut-nyebut bahwa perpustakaan itu ada di dekat rumah ayahmu. Memangnya ada apa?”

“Ya! Tentu saja untuk mencari buku tentang menyempurnakan dirimu!”

“Kim Namjoo?” Suara itu menggelegar ke dalam ruangan Namjoo sampai-sampai Naeun merinding mendengarnya. Cepat-cepat Namjoo mematikan sambungan video call-nya dengan Naeun.

Bisa Naeun mengerti bahwa menjadi seorang anak yang menentang ayahnya pasti sangat susah. Kemudian Naeun membenamkan dirinya dibalik selimut dan menatap ketiga orang yang masih di dalam kamarnya dengan tatapan bingung. Dia hanya bisa menghela nafas.

“Jadi, kalian harus membantuku mencari ‘Demontel’. Dengan begitu, aku bisa kembali ke tahun 2050 dan mencari perpustakaan terlarang itu atau membantu Namjoo.”

**

Myungsoo kembali ke kamarnya dan disana ia merenungkan perkataan Naeun.

Kembali ke tahun 2050. Perkataan itu seakan mengguncangkan tubuh Myungsoo. Laki-laki itu hanya diam daritadi. Ia khawatir kalau laki-laki yang bernama Kim Joonmyeon itu mengejar Naeun sampai ke tahun 2014. Mendengar suaranya saja, sudah membuat Myungsoo cukup merinding dibuatnya.

Jika Naeun kembali, maka dia tidak akan punya siapa-siapa lagi. Ia memikirkan kematian kedua orangtuanya, dan bulan-bulan menjelang peristiwa itu–rumah baru, dua bulan yang dihabiskannya di Seoul, melihat bagaimana rumahnya terbakar dan yatim piatu.

Myungsoo terlambat menyadari kekhilafannya. Penglihatannya menjadi gelap dan dia pun terhanyut ke masa lalu.

Rumah barunya di Seoul tidaklah semenyenangkan rumahnya di Incheon. Bagaimanapun, laki-laki yang berumur 15 tahun itu hanya menerima kenyataannya. Mencoba menjadi anak pendiam. Kehilangan teman-temannya di Incheon membuatnya cukup sedih.

Kini, ia harus berteman dengan teman-temannya yang baru di Seoul. Diejek oleh teman-temannya karena dia pendiam. Namun, tak ada gadis yang membencinya. Dia pendiam dan dijuluki ‘cold city boy’.

Sampai akhirnya ia dipaksa berpacaran dengan gadis yang bernama Jung Krystal dan ia kehilangan segalanya.

Siang itu, Myungsoo harus menemani gadis itu kemanapun seharian. Ia pikir, gadis itu hanya mengajaknya ke suatu tempat seharian. Namun, gadis itu justru mengajaknya berkeliling kota dan membeli baju-baju mahal. Ia membenci gadis itu. Tapi, kenapa dia kalah dengan gadis itu?

Krystal adalah pemilik sekolah itu. Tidak, lebih tepatnya orang tuanya adalah yang memiliki sekolah dimana Myungsoo bersekolah. Krystal menyukai Myungsoo. Dan, Krystal mengancam akan mengganggu kehidupan Myungsoo atau mengeluarkannya dari sekolah jika Myungsoo tidak menerima gadis itu sebagai pacarnya.

Brak!

Myungsoo segera meminta maaf kepada perempuan yang ditabraknya. Tiba-tiba saja ia merasa sesuatu yang aneh mengalir di darahnya. Perasaan tidak enak mengaliri tubuhnya.

“Myungsoo-ya? Kau ini kenapa? Kenapa kau menabrak orang yang tak kau kenal? Aku kan kekasihmu,” ujar gadis itu dan meneruskan celotehnya. Sampai-sampai Myungsoo ingin muntah dibuatnya.

Cukup, ia tidak mau menderita lagi.

Laki-laki itu melempar pakaian-pakaian yang dibeli Krystal dan meninggalkan gadis itu begitu saja. Ia memesan taksi dan segera menuju rumahnya. Perasaan itu. Pasti ada apa-apa dengan kedua orang tuanya.

Sesampainya disana, ia segera membayar dan keluar dari taksi. Ia melihat kerumunan orang di depan rumahnya. Dan…. mobil pemadam kebakaran. Rumahnya. Hangus.

Orang tuanya?

“Kim Myungsoo!”

Myungsoo menatap laki-laki tua itu. Dia adalah tetangga seberangnya yang bernama Kim Sooro. Laki-laki itu tampak gagah dengan tubuhnya yang besar. Walaupun begitu, ia tahu laki-laki itu tampak sedih menatapnya. Kemudian, ia menepuk bahu Myungsoo.

“Dimana Abeoji dan Eomma?” tanya Myungsoo ling-lung. Pandangannya tampak mengabur, air mata mulai menggenangi matanya. Laki-laki itu seperti orang kesetanan. “Dimana?!”

Orang-orang yang berkerumun tampak menjauh dan dari dalam rumahnya, kedua jasad orang tuanya dibawa keluar menggunakan tempat tidur beroda. Pasti. Itu pasti kedua orang tuanya.

Abeoji! Eomma!” Myungsoo berteriak sambil menangis.

**

“Myungsoo?”

Myungsoo akhirnya terbangun. Kemudian ia menatap sekelilingnya. Kosong. Ia sendirian. Kemudian, ia menatap pintu kamarnya. Pasti Naeun menunggunya. Tunggu, jam berapa ini?

Ia melirik ke arah jam dindingnya. Jarum jam panjang menuju ke angka 10 dan jarum jam pendek menuju ke angka 7. 7 lewat 10 malam. Dia pasti tertidur selama setengah jam.

Laki-laki itu mengumpat kemudian membuka pintu kamarnya. Naeun berdiri disana dengan perasaan bersalah telah membangunkannya.

“Kau sedang tidur?”

“Tidak kok, ada apa?”

Naeun mengangkat tangannya. Cepat-cepat Myungsoo menjauh. Ia mengira Naeun akan menamparnya atau semacamnya, namun gadis itu justru merapikan rambut Myungsoo kemudian tersenyum kecil.

“Maaf,” kata gadis itu. “Aku hanya ingin bertanya saja,”

Myungsoo menghela nafas pelan. Sepelan mungkin agar Naeun tidak mendengarnya. “Ada apa? Makanan?” tebaknya.

“Eung, iya. Sejak kita tidak punya makanan, kau mau makan di restoran? Aku akan membayarnya.”

“Bagus, aku menerimanya. Biarkan aku mandi dulu.”

Myungsoo segera menutup pintu kamarnya. Jantungnya tak karuan. Setiap kali, gadis itu bertindak aneh-aneh, dia tidak bisa mengendalikan jantungnya yang terus berdegup dengan kencang. Kalau sampai, Naeun tahu. Bisa-bisa gadis itu mengira bahwa Myungsoo menyukainya.

Sejujurnya, Myungsoo tidak menyukai gadis itu dalam perasaan ‘cinta’. Dia hanya tidak bisa mengendalikan jantungnya. Toh, perasaan ‘cinta’ itu masih tertinggal pada Suzy.

**

“Kau mau makan apa memangnya?” tanya Myungsoo sambil memasangkan sabuk mengamannya. Kemudian ia membenarkan posisi kaca belakangnya. Lalu, ia menatap dirinya yang sudah rapi.

Naeun tampak berpikir. Kemudian, gadis itu tersenyum. “Bisakah kita makan ramen?” tanya Naeun yang tampak tak sabar ingin melahap habis makanan itu. Sampai-sampai gadis itu mengeluarkan lidahnya.

“Ya! Masukkan lidah itu. Kau tampak seperti anjing kecil. Yasudah kalau kau mau makan itu, toh kau ini yang membayarnya.”

Laki-laki itu segera melajukan mobilnya dengan cepat dan tak lama kemudian mereka tiba di restoran langganan milik Myungsoo. Restoran itu dipimpin oleh seorang Ajumma yang sangat baik pada Myungsoo. Jadi…

Aigoo! Kim Myungsoo!” kata Ajumma itu ketika Myungsoo dan Naeun melangkah masuk ke dalam restoran. Ajumma itu tampak bahagia menyambut Myungsoo. Kemudian bola matanya tertuju ke arah Naeun. “Yah, kau sudah punya pacar rupanya.”

Cepat-cepat Myungsoo dan Naeun menolak pernyataan Ajumma itu sambil mencari sebuah tempat duduk. Kemudian, mereka memesan ramen. “Kukira kalian berpacaran, padahal kalian tampak sangat cocok–”

“Tidak kok, Ajumma. Aku hanya seorang model dari Myungsoo. Jadi aku kesini untuk menraktirnya,” ujar Naeun cepat-cepat dan ia tersenyum kecil ke arah Ajumma itu.

“–Ya! Myungsoo-ya, jangan lama-lama menyendiri. Dari dulu, kau selalu sendiri!” kata Ajumma itu akhirnya dan melenggang pergi dengan daftar pesanan mereka.

Naeun menghela nafas lega. “Apa dia selalu seperti itu?”

“Tidak. Dia seperti itu hanya jika dia bertemu denganku. Dia lebih ramah padaku daripada pelanggan yang lainnya. Mungkin, karena dia tidak punya anak. Jadi, aku terima saja jika dia menganggapku anaknya.”

“Kau memang anak yang berbakti. Ngomong-ngomong, apa benar ramennya sangat enak?”

“Tentu saja. Kau harus mencobanya.”

Naeun mengangkat kepalanya. Dilihatnya seorang gadis berambut panjang dan tampak cantik juga elegan berdiri disamping meja mereka. Kemudian gadis itu menoleh ke arah Myungsoo. “Halo, Kim Myungsoo. Lama tidak bertemu.”

Kalau tidak salah dengar, Naeun mendengar bahwa Myungsoo mengumpat kesal. Kemudian laki-laki itu menatap gadis itu. “Jung Krystal, sialan.”

**

Acara malam itu benar-benar rusak. Krystal merusak suasana hati Myungsoo. Jadi, Naeun merasa ikutan sedih melihat laki-laki itu. Kalau bisa dia menampar wanita itu, dia mungkin sudah menamparnya. Namun, ia ingin menjaga kehormatannya.

Siapa tahu, Krystal melaporkannya ke polisi atas tindakannya.

Jadi, sesudah pertemuan itu, Krystal justru ikut duduk di meja Myungsoo dan Naeun. Juga, minta dibayari. Kalau saja, Naeun bisa mengubah Krystal menjadi uang, maka ia akan mengubahnya. Atau mengubah perempuan itu menjadi keset.

“Argh!”

Myungsoo menolehkan kepalanya ke arah Naeun bingung. Gadis itu cepat-cepat menutup mulutnya. Kemudian ia melambaikan tangannya ke arah Myungsoo seakan-akan berkata: Aku tidak apa-apa, silahkan lanjutkan.

Melihat lambaian tangan Naeun, membuat Myungsoo tertawa sendiri. Kemudian, laki-laki itu itu lanjut menyetir dan mencoba fokus pada jalan. Dia takut tiba-tiba Naeun mengatakan suatu hal lagi dan dia kembali terganggu. Hanya itu.

Jika mengingat bagaimana Naeun mengubah kamarnya menjadi kamar yang luar biasa, Myungsoo juga ikut memikirkan apakah Naeun bisa mengubah Krystal menjadi sesuatu yang berguna?

“Naeun, apa kau bisa mengubah Krystal menjadi sesuatu yang berguna?”

“Aku rasa, bisa. Tapi mungkin juga itu dilarang.”

Naeun menyentuh Screvisible-nya dan menghubungi Namjoo. Kemudian, tampak wajah Namjoo di layar itu. Lalu, gadis berambut pendek itu tersenyum dan mengucapkan, “Hai!”

“Oh, Namjoo, apa aku boleh mengubah seseorang menjadi keset atau sebagainya?” tanya Naeun. Namjoo tampak berpikir.

Kemudian ia memetikkan jarinya. “Tentu! Kau bukan berada di tahun 2050. Kau ada di tahun 2014. Jadi, tidak akan ada laporan bahwa kau menyalah-gunakan kekuatanmu itu.”

“Bagus, aku pastikan akan mengubah gadis itu!” Naeun mengepalkan tangannya dan meninjunya ke langit.

“Ada apa memangnya?” tanya Namjoo bingung. “Ada seorang gadis yang kau benci bukan?”

Naeun menganggukkan kepalanya. “Sebenarnya Myungsoo yang membencinya. Tapi, aku juga membencinya.”

“Oh ya, aku sudah menemukan buku tentangmu. Tadi, aku mengendap-ngendap ke perpustakaan terlarang yang ternyata ada disamping rumah ayah. Aku mengambil buku tentangmu.”

“Lalu? Apa yang dikatakan buku itu?”

Namjoo membuka buku itu dan mendorongnya ke arah layar. Dalam waktu sekejap, buku itu sudah ada ditangan Naeun.

“Ya! Jika barang bisa lewat layar ini, kenapa kau tidak kesini saja?”

“Tentu tidak bisa untuk makhluk hidup. Hanya benda mati yang bisa. Jika kau mencobanya, maka mesinmu akan rusak semua.”

Naeun menganggukkan kepalanya kemudian memutuskan sambungan video call-nya dengan Namjoo. Lalu membuka buku tebal itu. Myungsoo hanya melirik sekilas dan tidak tertarik tentu saja.

Kemudian, gadis itu membalik-balikkan halamannya. Begitu ia menemukannya, ia langsung mencarinya.

Seorang setengah Robolars benar-benar akan sempurna menjadi manusia jika ada seseorang yang benar-benar mencintainya. Atau, Robolars itu benar-benar mencintai manusia itu.

Naeun diam kemudian menutup bukunya dan melirik ke arah Myungsoo. Myungsoo?

**

14 thoughts on “[Chapter 3] 2050

  1. Omo…omo…omoo… Udhh d riliss, jdii komentator 2 /smirkk/ ddaaee too the bak daebakkk thorr.. Duuhh jdii mkiin pnsaran sma idupnnya naeun, smga dia brubah jdi mnusian trus msa L , ~ㅋㅋㅋㅋ thorr lnjutin ne,, (ง’̀⌣’́)ง fighting trus brkarya :3

  2. bagus thor, tapi kurang feel nya waktu baca. hehe
    ngomong ngomong siapa Suzy? kok Myungsoo masih cinta sama sama Suzy? ditunggu kelanjutannya author😀

  3. Aaaahh thor kereeenn banget, nemu ff myungeun disinii seneng banget!
    Lanjut yaaa thorr;) penasaran bangeett;) semangat thorr!

  4. lanjutin thor!!!mantep banget tapi gw sebal ama krystal !ingin saja ku lempar di antartika *canda*…terusin nya..hwaiting!!

  5. wahwah,,..
    ternyata sudah di post toh kenapa baru baca sekarang?? heheheh :p
    ceritanya bagus tapi di part ini Q kurang dapet feelnya penggambaran suasana tempat ataupun perasaan tokohnya terlalu singkat jadi seperti dikejar target gitu ceritanya,..
    maaf ya thor cuma saran doang tapi keseluruhannya bagus kok
    makasih juga buat author yang udah menyempatkan diri untuk nulis fict ini ditengah kesibukan ujiannya
    keep writing and fighting ya thor!!
    author jjang!! ^_^)9

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s