Spring’s Agitator [Chapter 2]

spring

Spring’s Agitator

by Atikpiece

Main Cast : T.O.P as Choi Seunghyun (BIGBANG), Lee Parkbom (2NE1) | Support cast : SE7EN as Choi Dongwook, Park Hanbyul | Genre : Romance, Psychology, Hurt/Comfort, Life | Rating : PG-15 | Length : Chaptered | Desclaimer : Plot and story is mine. Don’t copy or repost without permission!

©2014

Spring’s Agitator : [Prolog] | [Chapter 1]

[Chapter 2] – Another Uncertainty

Langit biru di angkasa terbentang luas diikuti arakan awan berseliweran silih berganti. Matahari yang kini berada tepat di atas puncak kepala para pejalan kaki semakin memancarkan sinarnya hingga panas menyengat. Siang itu, ribuan para pengunjung pun makin memadati kawasan rumah sakit meski mereka tahu sebagian dokter sedang menjalankan libur akhir pekan dan terbebas dari jadwal praktek. Sama halnya dengan si dokter berambut merah yang batinnya kini seolah diguncang gempa ribuan skala richter hampir meluluhlantakkan pendiriannya akibat memperhatikan kedua bola mata itu. Bola mata sosok yang membuatnya harus rela menekan rasa takutnya berulang kali. Oke, ini cukup berlebihan, tetapi nyatanya, kedua tangan sedikit gemetaran dan keringat dingin yang meluncur bebas dari dahinya telah membuktikan segalanya.

Sementara pria di hadapannya, cuma bisa melihat gerak-gerik Parkbom dengan manik cokelatnya, menatap kosong wanita itu layaknya sosok yang sedang dirundung banyak masalah dalam satu waktu. Tubuhnya membeku di tempat, pun kedua tangannya menggenggam celananya kuat-kuat hingga kusut seketika. Mulanya nampak baik-baik saja, namun satu menit berlalu, gerak matanya langsung bergerak liar, kemudian menunduk lagi akibat kegugupan yang tiba-tiba saja menyerangnya.

Kelopak mata Parkbom membola.

Pria ini sepertinya agak…

Ah, mungkin sebaiknya aku harus menjaga mulutku agar aku tidak salah bicara.

Sekejap saja desahannya mengudara kala suara kursi berderit memecah keheningan.

“Jadi…” Parkbom mengawali. “Siapa… namamu?”

Pria itu membisu, membiarkan bibir pucatnya mengering ditimpa cahaya lampu di atasnya. Beberapa detik berlangsung, tetapi pria itu tidak kunjung menjawab. Sedangkan wanita yang kini meletakkan tangannya di meja, memiringkan kepala dan memandang bingung.

“Siapa… namamu?” Parkbom mengulangi.

Tetap sama, pria itu tidak membuka suara. Kedua alis Parkbom mengernyit, berusaha menerka sesuatu yang terus membayanginya semenjak mendatangi pria itu. Walau pada kenyataannya dia tidak akan bisa menemukan jawabannya untuk saat ini, tetapi mengapa sosok di hadapannya kini terlihat sangat aneh di matanya?

Apakah semua penderita ekshibisionis akan bersikap seperti ini ketika ditanyai seseorang?

Meski sedikit gugup, dokter Parkbom berinisiatif menyondongkan wajahnya di depan si pria.

“Kau baik-baik saja, kan?”

Tidak ada jawaban.

“Ng, atau jangan-jangan…” Parkbom menyipitkan matanya, melayangkan pandangan menyelidik.

“Kau… tidak ingat namamu?”

Ups.

Sepertinya Parkbom sudah salah bicara.

Wanita itu sedikit menutup mulutnya seraya mengumpat dan memaki diri sendiri. Entah mengapa ia bertingkah seperti orang bodoh akibat terlalu banyak memendam gugup. Tapi apa pedulinya, keadaan pun masih sama, tidak ada suara menyahut dan hanya direspon dengan tundukan kepala si pria yang semakin lama semakin dalam. Alhasil, Parkbom pun sedikit gusar.

“Hei, aku sedang berbicara padamu, Tuan—“

“Seung…hyun…”

Parkbom membeku. Mengedipkan matanya dua kali ke arah seseorang yang saat ini tengah mengusahakan pupil matanya bergerak leluasa menatap Parkbom. Namun lagi-lagi, ia meremas celananya.

“Aku… Choi Seunghyun…”

Kening Parkbom berkerut samar seraya menajamkan indera pendengarnya kalau-kalau ia memang tidak salah dengar pria ini berbicara. Bagaimana tidak, mendengar suara bariton yang menimbulkan kesan lembut itu jelas-jelas telah menghancurkan rasa gugup yang sedari tadi menjalarinya secara perlahan. Entah apa itu, namun Parkbom mengabaikannya.

“Namamu Choi Seunghyun?”

“Ya…”

“Benar itu namamu?”

“Ya…”

“Bukan nama ayahmu?”

“Bukan.”

“Kakekmu?”

“Bukan.”

“Pamanmu?”

“Bukan.”

“Adikmu?”

“Bukaaan!”

Parkbom terlunjak, sempat kaget bila pria bernama Seunghyun sanggup berteriak sekeras itu di hadapan seorang wanita yang belum ia kenal, meskipun tidak sekencang ketika ia diseret paksa oleh Dongwook. Apalagi ketika melihat kedua alisnya menyatu, memandang tajam Parkbom meski auranya tidak memancarkan bahwa ia sedang marah. Seolah-olah hendak meyakinkan jika dia bukanlah orang tidak waras bahkan dengan sudi melupakan namanya sendiri.

Tetapi kini, wanita itu ia juga baru menyadari jika Seunghyun kemungkinan tidaklah seperti apa yang ia pikirkan sebelum memasuki ruangan. Ia pikir, Seunghyun adalah pria menakutkan selayaknya sosok yang dapat menerkam siapa saja bagi siapapun yang melihat. Namun nyatanya tidak. Seunghyun tampak baik-baik saja sekarang, dan sama sekali tidak terlihat seperti orang yang sedang mengalami gangguan mental. Walau fakta mengatakan jiwanya memang agak terganggu.

“Ng, baik, maaf atas pertanyaan tidak penting barusan hm… ngomong-ngomong, berapa usiamu?”

Seunghyun membisu beberapa saat, memandang kedua pahanya kembali. Tetapi anehnya, irisnya bergerak tak beraturan lantas meremas kuat-kuat celananya lagi untuk yang kesekian kalinya.

“25.”

Ah, sudah kuduga, dia lebih muda dariku.

Parkbom sekali lagi meletakkan tangannya di atas meja. Entah mengapa rasa gemetar yang ia dapati sebelumnya sudah benar-benar tidak dirasakannya lagi. Ditambah, ia juga sudah merasa lebih tenang dibanding ketika baru pertama kali bertemu dengan Seunghyun.

“Oke, Seunghyun-ssi,” Parkbom berkata dengan nada lembut. “sebelum aku bertanya lebih lanjut, aku ingin bercerita sedikit tentang kasus yang terjadi beberapa jam yang lalu.”

Seunghyun tak berkutik, tetap bergeming seraya menunduk, kemudian mendongak kembali memandang Parkbom. Karena sepertinya Seunghyun memang tidak ingin menyahut, akhirnya wanita itu memulai penjelasan.

“Sebenarnya tadi pagi aku tidak benar-benar melihatmu karena mungkin… yah, aku sedang melamunkan sesuatu sehingga aku tidak menyadari kalau kau tengah melewatiku.” Parkbom kemudian berdeham sejenak, memastikan jika Seunghyun tengah memandang dan mendengarkannya dalam diam. Hingga ketakutan itu sedikit menerjang tubuhnya kembali.

“Tetapi setelah itu, ketika aku mendengar banyaknya jeritan histeris dari para tetanggaku, aku sangat terkejut. Aku bahkan hampir tidak memercayai mataku kalau saja aku tidak benar-benar sedang melihatmu tidak memakai baju kemudian… kau… tengah… memainkan… hm…”

Parkbom berhenti sebentar, menunggu Seunghyun yang sudah dipastikan tidak akan bereaksi sama sekali walau kemungkinan dia tahu wanita ini enggan melanjutkan kalimat yang kesannya memang tidak baik untuk dilanjutkan lagi. Terlebih inti pembicaraan ini hampir menjurus ke hal-hal yang tidak memungkinkan dan sangat teramat mustahil dicerna dalam otak.

“K—kau… mengerti… maksudku, kan, Seunghyun-ssi?”

Desau angin menerpa pakaian rumah sakit yang dikenakan Seunghyun hingga menelusup ke sekujur tubuhnya yang kian mendingin. Sorot maniknya mengarah ke bawah, menatap kosong kedua kakinya sendiri hingga menarik perhatian Parkbom untuk memperhatikannya. Kerutan di keningnya semakin bertambah saja, disusul kedua matanya memandang lekat-lekat wajah Seunghyun. Sejujurnya wanita ini bingung, melihat tingkah laku Seunghyun yang sebentar-sebentar kelihatan normal, namun tiba-tiba berubah 180 derajat menjadi gugup, takut, ditambah menatap kosong Parkbom maupun kakinya sendiri. Bahkan, ini sudah kedua kalinya Parkbom melihat tatapan kosong itu, yang tak lain adalah seorang pasien penderita penyakit langka dengan segala tingkah anehnya.

“Ng… Seunghyun-ssi?”

“…”

“Halo? Seunghyun-ssi?”

“…”

“Seunghyun-ssi, kau baik-baik saja?”

“…”

“Seunghyun…”

“…”

“Tuan Seunghyun! Tolong jawab a—”

“Aku tidak melakukannya!”

Suara menggelegar Seunghyun menerjang telinga Parkbom disertai napas terengah yang mengudara ke segala penjuru ruangan. Kelopak Parkbom melebar, melihat Seunghyun tak ada upaya membuat dirinya lebih tenang. Bahkan yang lebih membuat wanita itu tercengang, iris Seunghyun bergerak liar memandangnya, disusul perilakunya menjauhkan tubuh dan tatapan tajamnya dari manik Parkbom yang semakin membuat Parkbom mengerutkan alisnya.

“Aku tidak melakukannya. Tidak…” Seunghyun menggeleng tidak wajar. “Tidak! Aku tidak melakukannya!”

Parkbom berdiri, memandang aneh sekaligus tak percaya, lantas berjalan mendekat perlahan ke arah Seunghyun alih-alih pria itu berhenti menatapnya seperti sosok yang sangat menakutkan seperti monster. Namun gagal, sesuatu yang buruk telah terjadi.

“Jangan dekati aku!”

Parkbom menghentikan langkahnya, begitu mendapati tubuh Seunghyun gemetaran sampai kursi yang ia duduki hampir terjatuh. Kilat matanya menyiratkan ketakutan luar biasa, hingga membuat Parkbom tak habis pikir apa hal yang bisa membuat Seunghyun berubah drastis seperti ini. Ditambah dadanya terasa sakit ketika mengetahui Seunghyun berdiri dan berjalan mundur menjauhinya disertai jantungnya yang berdetak tidak normal.

“Seunghyun—ssi, aku hanya…”

“Kumohon, aku tidak melakukannya! Aku tidak ingin melakukannya! Kumohon, jangan dekati aku! Tidak!”

“Tuan Seunghyun, kau—“

“Pergi! Pergi! Jangan dekati aku! Aku tidak melakukannya! Tidak! Jangan dekati aku!”

Seunghyun kembali menggeleng tidak wajar, pun deru napas terengahnya yang kini kian menjadi. Dan entah mengapa, ketika Parkbom mulai melangkahkan kakinya kembali, Seunghyun makin berteriak hingga menarik perhatian salah satu pengunjung rumah sakit untuk menggedor pintu ruang kerja dokter Choi dengan keras.

“Parkbom-ah! Kau baik-baik saja??”

Parkbom terkesiap, gemetaran, kemudian memutar kepalanya ke arah pintu.

“Dongwookie.”

“Ayahku menelepon dan memberitahuku bahwa kau ada di sini.” Dongwook memperkeras suaranya sembari melekatkan telinga kirinya ke daun pintu dan mencoba memutar kenop berulang kali. “Kau tidak mengunci pintunya, kan? Kenapa ini susah sekali dibuka? Apa yang terjadi?? Apakah orang gila itu menyakitimu??”

Kedua mata Parkbom kembali bersirobok dengan Seunghyun, memandang lekat irisnya yang masih menyiratkan ketakutan walau di mata Parkbom aura di wajahnya kembali menggambarkan kekosongan. Posisinya masih tetap seperti sebelumnya, hampir meletakkan punggungnya ke dinding kalau saja Parkbom kembali menggerakkan kaki kanannya untuk mendekat.

“A—aku baik-baik saja… kau tidak perlu khawatir.”

Parkbom sedikit mengencangkan suaranya untuk meyakinkan Dongwook.

“Tidak ada yang menyakitiku. Semuanya baik-baik saja.”

Setelah Parkbom menengok ke pintu dan tidak mendapat jawaban apapun dari Dongwook, ia kembali menatap Seunghyun dengan senyum tipis disertai sorot mata yang sulit untuk didefinisikan. Antara takut, bimbang, dan iba. Takut untuk menghadapi Seunghyun lebih lama lagi, bimbang ketika harus mengambil keputusan untuk meninggalkannya sejenak atau tidak, dan iba melihat kondisi jiwa Seunghyun yang sangatlah labil dan tidak terkontrol.

Namun untuk kali ini, sepertinya ia harus membiarkannya menenangkan diri terlebih dahulu, jika ia tidak ingin sesuatu yang lebih buruk terjadi padanya, juga Seunghyun.

“Maaf,” lirihnya seraya tidak melepaskan pandangan seincipun dari pria di tepi dinding itu. “Maaf sudah membuatmu takut. Sebenarnya aku ingin menanyakan lebih banyak tentangmu, tapi, mungkin sebaiknya aku harus membiarkanmu sendiri untuk beberapa saat. Oh, iya, namaku Lee Parkbom. Kalau kau butuh bantuan, aku ada di ruanganku. Kau bisa meminta tolong perawat jika kau kesulitan mencari ruang kerjaku…” Kemudian membungkuk pelan dan bergegas memutar kenop pintu. Tidak lupa senyum kecil tersungging di wajahnya.

“Sekali lagi aku minta maaf. Aku permisi dulu. Sampai nanti.”

Pintu tertutup dengan bunyi debaman keras, hingga menyisakan sosok yang kini diam membisu sembari menatap pintu dengan raut hampa.

*****

“Hah, menyebalkan.”

Dongwook mendudukkan pantatnya di kursi dengan sekali hentakan, kemudian mendengus sembari menopang kaki kanan di atas kaki kirinya dan melipat kedua tangannya di belakang kepala.

“Kenapa kita harus bertemu dengan orang gila itu, huh?” kata Dongwook, kemudian menatap Parkbom yang duduk berhadapan dengannya. “Seharusnya kita sedang berkencan sekarang, berjalan-jalan di pinggir kota, membeli es krim bersama, melihat atraksi lumba-lumba, menaiki roller coaster di Dream Land dan berakhir berfoto bersama dengan Mickey Mouse. Dan aku pun sudah menyusun jadwalnya secara matang juga tepat waktu,” tambahnya, sekaligus mengungkapkan rencana berkencannya yang tidak diketahui oleh Parkbom dengan sengaja dan tanpa basa-basi. Sementara wanita itu memandanginya dengan raut lesu.

“Tapi, karena bocah sinting itu, ng, siapa namanya?”

“Choi Seunghyun.”

“Ya! Karena si bocah Seunghyun itu, semuanya jadi kacau!”

Kalimat menggertak Dongwook sejurus saja menyebabkan bunyi gema di dalam ruang kerja Parkbom, hingga Parkbom mau tak mau harus menutup telinganya.

“Ah, sudahlah, Dongwookie. Tidak apa-apa, kok. Kita bisa melakukannya lain kali.” Parkbom mencoba tersenyum, menatap Dongwook yang kini mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan lalu berakhir memandang ke arah lain. “Lagipula, kau juga sudah merelakan waktumu demi menyeretnya kemari. Bukankah itu sesuatu yang hebat? Setidaknya kau telah berjasa membantunya mendapatkan perawatan intensif dan pemulihan secara menyeluruh di sini.”

Dongwook memutar bola matanya, diam sejenak lantas tersenyum seraya mengangkat bahu. “Ya, aku tahu. Tapi tetap saja, ini menyebalkan bagiku.”

Tangan kanan Parkbom menopang kepalanya dan diletakkan di atas meja, menengok ke arah jendela dan memperhatikan para pengunjung yang berlalu lalang melewati ruang kerjanya. Mulanya ia mendesah, bergeming sesaat dan membiarkan kesunyian menguasai tiap sudut ruangannya, sekaligus membiarkan Dongwook bermain bersama pemikirannya sendiri sesekali berceloteh tentang seseorang bernama Choi Seunghyun. Hingga tiba-tiba saja ia teringat akan kejadian satu jam lalu, ketika sosok Seunghyun menatapnya dengan tak wajar, berteriak tidak jelas seraya berjalan mundur menjauhinya. Parkbom ingat betul, bila di kedua mata Seunghyun, benar-benar menyiratkan rasa takut yang teramat sangat sampai-sampai bergerak liar tidak terkendali.

Sejujurnya ia kasihan melihat Seunghyun memekik bahkan hampir menumpahkan air matanya, ditambah batinnya yang teramat terguncang ketika Parkbom mendekatinya. Entahlah, dada Parkbom terasa nyeri sekali ketika mengingat hal itu.

“Seunghyun itu…” Parkbom berucap lirih. “Dia kelihatan sangat aneh.”

Dongwook memutar kepalanya. “Ya, dia memang aneh. Aneh dan gila.”

“Tapi, bukan aneh dalam arti seperti yang orang gila kebanyakan lakukan, Dongwookie,” kata Parkbom. “Ini agak lain.” Kemudian mendesah, masih memperhatikan jendela dengan tatapan sendu. Membiarkan sunyi senyap menyergap dalam sekejap.

“Suatu saat aku melihatnya gugup setengah mati, lalu tiba-tiba berperilaku seperti orang-orang pada umumnya. Tapi beberapa menit setelahnya, dia gugup lagi, dan berubah lagi, gugup lagi, berubah lagi, tidak menentu. Aku juga melihatnya selalu menatap kosong apa saja yang dilihatnya setiap saat. Seakan nyawanya sedang melayang entah ke mana, sehingga ketika aku bertanya, terkadang butuh waktu lama bagi Seunghyun untuk menjawabnya,” jelas Parkbom seraya memperhatikan wajah tirus Dongwook yang tengah terdiam. “Bahkan setelah aku bercerita akan kejadian yang menimpanya pagi tadi, entah mengapa reaksinya berubah. Dan ketika aku mulai mendekatinya, dia langsung berteriak dan menyuruhku menjauhinya.“

Suara riuh di luar sana semakin lama semakin tidak terdengar. Hanya menyisakan derapan kaki satu sampai dua orang disertai bunyi kursi roda berjalan dan beberapa roda ranjang rawat inap yang hendak dipindahkan oleh beberapa perawat.

“Jadi yang tadi itu memang teriakannya?” Dongwook membuka suara, mendengus kecil. “Sudah kuduga, karena suaranya memang sudah tidak asing lagi buatku.”

Parkbom tersenyum tipis lalu mengangkat bahu.

“Tapi, kurasa memang seperti kata dokter Choi.” Kening wanita itu berkerut seiring mendekatkan kursinya ke meja. “Mungkin dia seperti itu, karena ada masalah pribadi.”

“Masalah pribadi?”

“Mungkin.” Parkbom kembali menyorot ke arah jendela, mencoba mengingat sekali lagi tatapan menakutkan yang terpancar dari bola mata Seunghyun. “Masalah pribadi yang bisa saja telah menghancurkan hidupnya? Masalah yang membuatnya mengalami tekanan batin sehingga membuat mental dan psikisnya terganggu. Dan di saat itulah, Ekshibisionisme menyerangnya. Entahlah, aku hanya berspekulasi saja.”

“Penyakit Ekshibisionisme? Hei, aku pernah mendengarnya dari ayahku.” Dongwook berkata dengan wajah berseri, tetapi kemudian berubah lesu. “Setahuku, itu penyakit menjijikkan yang diderita kaum pria. Sejujurnya aku tidak begitu mengerti kalau penyakit ini ada hubungannya dengan permasalahan keluarga. Kupikir kau sudah tahu apa itu, jadi aku tidak perlu menjelaskannya.”

“Belum,” jawab Parkbom singkat, membuat kelopak Dongwook melebar. “Maksudku, hanya sedikit. Aku bahkan baru tahu setelah dokter Choi memberitahuku. Yah, karena dia bilang ini jarang ditemui di Korea, mungkin itulah penyebab ketidaktahuanku. Oh, iya, dia juga memberikanku buku yang membahas tentang penyakit itu untuk kubaca. Kurasa aku harus menyelesaikannya malam ini.”

Dongwook terdiam sejenak, kemudian mengangguk beberapa kali dan tersenyum. Ia senang, mendapati wanita pekerja keras seperti Parkbom. Namun di sisi lain, ia kecewa, karena kasus Seunghyun kali ini telah menyebabkan rencana berkencannya gagal total. Tetapi tak apa, asalkan itu tidak membuatnya terpisah dari wanita idamannya, ia tidak akan apa-apa.

“Jadi, malam ini kau sibuk?”

Parkbom mengangkat kepalanya dari sandaran tangan. “Tidak juga, tapi mungkin setelah ini aku ingin mengecek keadaannya lagi. Kuharap dia sudah lebih baik.”

“Baiklah.” Dongwook menilik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.

“Hm, dan sepertinya aku harus cepat kembali.”

“Oh,” Parkbom terhenyak. “Kenapa buru-buru sekali?”

“Besok aku ada jadwal shooting musik video terbaruku. Aku butuh persiapan dan aku tidak boleh terlambat.” Dongwook tersenyum cerah, beranjak dari kursinya diikuti Parkbom yang kini sudah berada di samping pria itu untuk mengantarkannya sampai ke luar ruangan. Parkbom lambat laun ikut menyunggingkan senyumnya ketika ia sudah berdiri tepat di hadapan Dongwook yang telah memasukkan tangan kanannya dalam saku jaket dan mendesah pelan.

“Jaga dirimu baik-baik. Kalau kau terjadi sesuatu dengan si bocah gila itu, segera hubungi aku, oke?” Dongwook berujar pelan dan disambut anggukan kepala Parkbom dan senyuman hangatnya. “Dan maaf, karena sepertinya seminggu yang akan datang aku tidak bisa menemuimu. Jadwalku sangat padat, dan kurasa managerku juga tidak bisa memberiku waktu libur.”

“Tidak apa-apa,” jawab Parkbom. “Yah, meskipun aku sendiri masih sedikit takut menghadapinya, tapi jika sudah terbiasa, sepertinya tidak apa-apa.” Parkbom membiarkan maniknya bergerak memandang wajah Dongwook lekat-lekat disela ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jas. “Semoga berhasil untuk musik videonya.”

Ne.”

Sinar matahari kini berada tepat di belakang gedung rumah sakit, menerobos ke dalam kusen jendela sebagian kamar rawat inap, terutama pada ruang kerja dokter Choi yang kini tengah ditempati oleh sosok Seunghyun yang memandang diam arakan awan di atas sana, disertai merasakan sore yang telah bertandang. Lalu desahannya mengudara diterpa embusan angin.

“Oh, Dongwookie, tunggu!”

Dongwook menghentikan langkahnya, kemudian berbalik menatap Parkbom dengan mata teduhnya disertai senyum kecil menghias parasnya. Sementara Parkbom menunduk sejenak dan berkata,

“Terima kasih.” Kemudian tersenyum.

“Terima kasih sudah membawa Seunghyun ke sini.”

Pria itu tak berucap apapun, cuma menatap Parkbom yang kini tengah tersenyum lebar. Lalu dibalas dengan anggukan kecil.

“Dan terima kasih… sudah mengkhawatirkanku.”

Dongwook tidak berkutik, membiarkan detak jam menggema di sepanjang koridor rumah sakit dan membiarkan detak jantungnya berhenti dalam hitungan detik. Namun beberapa saat kemudian ia pun kembali bernapas normal, memasang senyum terhangatnya sembari melambai kecil diikuti langkahnya yang semakin menjauh.

“Sampai jumpa.”

*****

Matahari kini telah kembali ke peraduan, menyisakan pekatnya malam ditemani cahaya bulan dan banyaknya bintang bertabur di langit. Angin semilir membawa awan hitam bergerak dengan kecepatan sedang, hingga menggerakan beberapa dahan pohon yang semakin lama semakin menggugurkan daunnya sampai melayang menerpa beberapa kaca jendela yang berjajar rapi dalam satu gedung. Saat ini, Lee Parkbom masih terjaga di dalam ruangannya semenjak ia telah berjanji pada dirinya sendiri akan membaca buku merah marun pemberian dokter Choi sampai selesai. Manakala untuk mengisi waktu luang dan menghilang sejenak dari kehidupan apartemennya.

Suasana di sepanjang koridor rumah sakit tampak lengang. Tidak ada satupun terdengar suara derapan kaki baik dokter, perawat maupun pengunjung rumah sakit yang hendak membesuk anggota keluarganya. Kemudian ia melirik jam dinding di atasnya dan terkejut, karena waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam, sementara masih banyak halaman buku yang tersisa dan harus segera dibaca. Namun entah mengapa, tiba-tiba Parkbom kehilangan mood, dan bergegas menutup buku itu lalu dimasukkan ke dalam saku jasnya, tidak jadi menyelesaikan bacaannya malam ini juga. Kemudian beralih memandang koridor lewat jendela. Oh, pantas saja rasanya sepi sekali, karena ini memang sudah waktunya para pasien untuk tidur.

Tapi…

Parkbom tiba-tiba teringat sesuatu, lantas beranjak dari kursinya dan melangkah lebar-lebar keluar dari ruangannya. Dengan raut resah, ia semakin mempercepat langkahnya menyusuri koridor hingga menciptakan bunyi derapan yang kian kentara. Meski rasa gugup dan takut sedikit menerjangnya, namun ia tidak ambil pusing, dan membiarkan deru napasnya semakin jelas terdengar menyatu dengan partikel udara di sekitar.

Sampai akhirnya langkah high heels hitam itu terhenti di depan pintu ruang kerja dokter Choi. Dan ketika Parkbom menengok ke arah jendela, tidak ada cahaya lampu ruangan.

Dokter Choi belum kembali.

Parkbom mendesah pelan, kemudian menunduk dan memejamkan matanya sebentar. Ia sudah bersusah payah mempercepat langkah hanya ingin menemui dokter Choi, tetapi usahanya tidak membuahkan hasil, dan malah mendapati dokter psikologi itu tidak ada di dalam. Padahal sejujurnya ia hendak menceritakan peristiwa yang terjadi padanya siang tadi dengan bocah aneh itu tapi…

Ah, tunggu dulu!

Kelopak Parkbom membola, terkesiap dengan ingatan yang baru saja melintas di otaknya, lalu bergegas membuka pintu ruang kerja dokter Choi lebar-lebar hingga menimbulkan bunyi berderit. Gelap. Semuanya gelap. Tidak ada suara menyeruak. Tidak ada tanda-tanda kehidupan.

Lantas Parkbom memasukinya dan menghidupkan sakelar lampu. Kemudian mengedarkan pandangan ke sekeliling. Wanita itu terhenyak.

Ruangan ini kosong. Tidak ada siapa-siapa.

Seunghyun…

Bocah itu…

Di mana dia?

*****

“Suster.”

Seorang perawat menoleh ke asal suara, lalu berdiri ketika mendapati dokter Parkbom sudah berada tepat di hadapannya. Untuk beberapa saat perawat itu menilik raut wajah Parkbom yang sepertinya dirundung sedikit rasa panik, namun berusaha untuk bersikap lebih tenang.

“Ada yang bisa saya bantu, dokter?”

“Apa kau melihat pasien bernama Choi Seunghyun berkeliaran di sekitar sini?” tanya Parkbom, dan dibalas oleh kening si perawat yang berkerut samar.

“Choi Seunghyun, pasien yang ditempatkan di ruang kerja dokter Choi Donghyuk pagi tadi.”

“Ng, maaf dokter, saya tidak melihatnya.”

“Yang benar saja. Choi Seunghyun, berusia 25 tahun, tubuhnya kurus, tinggi, rambutnya pendek, kulitnya putih pucat dan sorot matanya tajam.”

“Maaf dokter, saya benar-benar tidak melihatnya.”

Parkbom mendesah keras dan berdecak, hampir saja mengeluarkan kata-kata pedas ke arah perawat itu karena tidak peduli terhadap orang-orang yang keluar masuk rumah sakit malam ini. Namun beberapa saat kemudian ia kembali memutar kepalanya kesana kemari, mencari batang hidung Seunghyun yang menghilang entah ke mana, alih-alih ia cuma berniat berjalan-jalan di sekitar rumah sakit untuk mencari suasana baru dan tidak akan mungkin hendak menakuti para pasien dengan tatapan kosongnya yang cukup menakutkan. Tetapi hasilnya nihil. Parkbom tidak menemukannya.

Astaga, di mana dia?

Jangan sampai dia berulah dan melakukan hal menjijikkan itu lagi di sekitar sini.

“Tapi, sekitar satu jam yang lalu, sepertinya saya melihat ada seseorang yang keluar dari pintu utama rumah sakit dengan tangan kosong.”

Parkbom langsung menyirobokkan pandangannya pada si perawat, meminta kepastian bahwa ia memang tidak salah mencerna kalimat yang keluar dari bibir perawat ini.

“Saya melihatnya dari kejauhan karena saat itu saya baru saja keluar dari toilet. Saya tidak ingat bagaimana bentuk wajahnya, tapi, sepertinya dia memakai piyama rumah sakit yang sedikit lusuh, dan sepertinya dia mengalami sedikit masalah pada dirinya. Atau mungkin pendengarannya? Karena sewaktu saya memanggilnya, dia tidak menjawab, dan terus saja berjalan, menatap ke depan sampai dia keluar dari sini.”

Itu dia!

“Baik, terima kasih banyak, suster.”

Parkbom bergegas keluar dari pintu utama rumah sakit dan mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru jalanan yang gelap, hanya ditemani oleh cahaya lampu-lampu jalan yang temaram. Suasana di luar sini sangat sepi, tidak ada seorangpun yang melintas di hadapannya. Di sini hanya terdapat taman bunga yang kosong disertai lahan parkir yang cuma terisi oleh dua mobil pengunjung dan satu motor dari salah seorang karyawan rumah sakit. Angin malam yang dingin menelusup di sela kemejanya, dan hal itulah yang membuat sesosok Parkbom terserang kepanikan yang luar biasa hingga ia harus memutar kepalanya berulang-ulang demi menemukan seorang Seunghyun.

Dia tidak ada di sini.

Kemudian Parkbom memperlebar langkahnya menelusuri jalan setapak yang sepi dan nampak mencekam. Namun wanita itu tidak menghiraukannya dan masih terus saja mengedarkan pandangan. Ia takut. Ia takut terjadi sesuatu pada Seunghyun, karena dia adalah pasien dokter Choi, dan dokter Choi telah mempercayakannya untuk menjaga dan lebih memperhatikan keadaan bocah itu sementara dokter Choi tidak ada di rumah sakit. Namun kini, bocah itu menghilang, dan ia tidak tahu ke mana ia harus mencarinya.

Ya Tuhan. Aku harus bagaimana?

Kuharap dia tidak pergi terlalu jauh dari rumah sakit.

*****

Di bawah cahaya lampu yang kini bertengger di atasnya, Seunghyun terduduk di bangku panjang yang kosong dan mengarah ke danau dengan airnya yang bergerak tenang. Wajahnya nampak lesu, disertai kantung matanya yang hampir menghitam karena kurang tidur. Sembari membiarkan semilir angin menerpa tubuhnya, ia menatap kosong ke arah danau yang kini tengah memantulkan wujudnya bagai cermin. Kedua kakinya berayun bergantian seraya sesekali menendang batu yang berada di depannya. Saat ini malam semakin larut, namun ia masih tetap terjaga dan beruntungnya telah berhasil mengeluarkan tubuhnya dari hawa dingin rumah sakit yang terus mendekapnya tiada henti. Ditambah perawat-perawat yang menggunjingnya bahwa dia gila, tidak waras, atau semacamnya.

Kini, ia tengah melamunkan sesuatu sembari tidak melepaskan pandangan seincipun dari pantulan dirinya di danau. Meski begitu, di dalam batinnya, ia merasa hampa. Ia kosong, seakan tidak ingin memikirkan beban berat yang menderanya selama ia menjalani alur kehidupannya yang kian menyiksa. Dadanya seolah tertohok bagai tertancap belati amat dalam. Sebab semenjak peristiwa itu, ia tidak lagi merasakan apa itu kebaikan, apa itu kasih sayang,

Dan apa itu cinta.

Hingga ia merasa takut jika harus memaksa ingatannya menerobos di dalam otaknya, membelenggu seolah membuatnya merasa tertekan dan menyebabkan tubuhnya menggigil. Bibir pucatnya bergetar, lalu memeluk tubuhnya sendiri, sementara pantulan dirinya di danau masih sama seperti sebelumnya. Nampak tenang namun memilukan.

“Ibu…”

Desau angin menyapa sahutan Seunghyun.

“Aku…” Kerutan di keningnya kian menjadi. “Aku takut…”

Tidak ada jawaban.

“Ibu jangan pergi… aku takut…”

Kedua bola matanya memanas, sedangkan bibirnya semakin bergetar hebat.

“Jangan tinggalkan aku… aku takut… jangan… pergi…”

“Seunghyun-ssi!”

Jantung Seunghyun serasa berhenti berdetak, kemudian dengan perlahan menoleh ke asal suara, dan terhenyak ketika mendapati sosok wanita berambut merah berdiri tidak jauh darinya, mencoba menekan penat yang menggerayangi hingga bergeming, tidak tahu harus berbuat apa, selain memandangi seorang Seunghyun dengan tatapan menyesakkan hingga membuat dadanya terasa nyeri yang kian menusuk. Sosok yang telah ditemuinya semenjak si raja siang menguasai, sosok yang berbicara padanya dalam keadaan gugup.

Dan sosok yang kini telah membuat hatinya mencelus dalam hitungan detik.

 

-to be continue-

A/N : Haaai xD apakah masih ada yang menunggu kelanjutan ff ini?😀 maaf ya update-nya lama, soalnya minggu kemarin saya lagi UTS, dan alhamdulillah sekarang udah selesai. Gimana ff-nya menurut kalian? Apakah tambah aneh? ._. maaf ya kalau kurang memuaskan, dan rencananya ff ini bakal dilanjut setelah saya pulang dari study tour ke Bali😀 jadi, mohon bersabar ya.

Mind to leave your comment? Thank you❤ xD

44 thoughts on “Spring’s Agitator [Chapter 2]

  1. yg study tour cepetan pulang yuk biar bisa lanjut ni part nya. keren bgt ini pemilihan tema nya, daebakk.. ditunggu pokoknya :*

  2. Penasaran sama kondisinya Seunghyun, penasaran ada apa di masa lalunya yang bikin dia di kondisi yang sekarang. Eonni suka cara kamu gambarin Seunghyun yang tertekan dan punya gangguan mental. Gimana rapuhnya dia karena sesuatu di masa lalunya itu. Ah, eonni pengen cepet2 kamu bongkar bagian itu saeng. Penasaran😀 Terus sama bom juga. Hehehe :]

    • Penasaran? Penasaran? Unni penasaran?? *plok* haha
      Makasih banyak unni ;D tapi sebenernya sih, dalem hati aku, aku sendiri ngga tega ngebikin bang Tabi tertekan kayak gitu huhu T^T Dan kalo dipikir baik-baik juga kayaknya agak gimana gitu ngebikin Tabi orang ngga waras. Kan mukanya sangar, unn, jadi agak-agak nggak ngeh aja hahaha xD

      Tapi ngga apa-apa deng, toh, SEKALI AJA AKU PENGEN NISTAIN BANG TABI DI FF HAHAHA~ #slapped

      Makasih banyak rebecca-unn~! xD *peyuk lagi*

      • Kamu nggak tega lah aku udah bolak balik nistain dia. Paling parah yg ff No More You itu, sepaket nistain jidi juga xD
        Siapa bilang, mukanya bingu tu fleksibel, dia keren jga klo dpt peran2 yg kesan depresi, ekspresi kosongnya dia tu dpt bgt,, makannya pas baca ini eonni nggak susah bayangin dia kyk gitu.🙂

      • kekeke, iya juga ya xD

        TAPI TAPI YANG NO MORE YOU ITU NYESEK BANJET UNNI! xO ya walopun akunya baru baca awal-awal, tapi itu udah bikin nyesek heu T^T jadi ngga tega mau nerusin. Apalagi itu ada adegan sayat-sayatan yakan yakaan? Seru sih kayaknya .__. *plok. Terus juga pake cast GTOP lagi uwaw! xD Couple terhot sepanjang masa di hatiku hahaha! xD #slapped
        Tapi sayang banget aku belum sempet ngelanjutin baca aaaa maafkan dongsaengmu ini, unn T^T”

        Eh iyakah? tapi kenapa akunya susah banget bayangin muka tabi kayak orang nelangsa gitu? oke, sepertinya aku harus lebih banyak ngayal tentang dia huhu -_-

      • Sayat2an?? Nggak ada saeng,, ada juga tabi digebukin,, haha iya gpp klo emang nggak kuat iman,,, :p
        Mungkin klo kamu udah liat alumni kamu lbh bisa bayangin muka nelangsanya tabi,, 71 into fire juga klo

      • Eh iyaaa maksudnya itu, gebuk-gebukan :p mungkin mataku yg sliwer kali ya ngiranya ada sayat2an .___.v
        WOT? Alumni filmnya udah keluar unn?? O,o KOK AKU NGGA TAU SIH HEU T^T AKU BELUM LIAAAT~ klo 71 into the fire sih udh unn. Tpi sayangnya unn, aku ngga ngerasa klo dia itu nelangsa di 71 ._. malah dia itu coool mameeen~ #plakk -_-

      • Udah dari kapan kali saeeengg,, taun kemareenn,, ah kamu,,😛 eonni aja udah nonton 3x lebih nggak bosen2 [dan sekarang jadi pengen nonton lagi]
        iya sih keren, tapi bingunya juga keliatan, pas mati kasian kali ahmm,,

      • Iya,, dia mah klo ngambil film hobi mati mulu,, ada aktor kyk dia,, -_- moga2 tazza 2 dia gk mati lagi,, -_-

      • Tapi klo eonni lbh gampang mungkin juga gara2 emang sering nulisnya genre2 yg dark yg notabene sering main2 sama cast yg wataknya sad, dingin, depresed gitu kali ya,,🙂

  3. Eonn sumpah ya ffnya keren bgt, perannya pas bgt sm seunghyun oppa.. Tapi kasian dianya:(
    Nextnya ditunggu lohh eonn, jangan lama2 dan happy end;;) fighting^o^

    • Makasiih farraa😀 iya, dia emang kasian sih. Sayanya aja ngga tega nistain dia kyk begitu ._.
      But, sekali lagi makasih ya udah baca. Semoga happy end😛 Fighting juga buat kamu!😀

      • Yahh eonn jangan semogalah, hrs kudu wajib happy end :]x
        Nextnya ditunggu yaaa… semangka eonn^^

  4. keren, ga bisa bayangin tabi di keadaan spt itu

    sedih T.T Saya rela kok jadi perawatnya😉 hueheheh /plak/ salah fokus

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s