[FF Freelance] Behind The Library (Chapter 2)

req-trafalkid2

Author                 :        trafalkid

Length                  :        Multi Chapter

Genre                   :        Horor and Romance

Rating                   :        PG-15

Main Cast            :        Shim Hana (OC) and Park Chan Yeol

Other Cast          :        Jurina Matsui, Grandma, Chan Yeol’s Parents, and Other Exo’s Member

Previous              :        Chapter 1,

Disclaimer           :        FF ini uda aku posting di blogku, dan mungkin di beberapa blog juga dengan nama authorku ‘trafalkid’.

 

Hana begitu terkejut.

Ia melirik ke arah Chan Yeol.

Keadaan namja itu sangat mengenaskan. Kepalanya dibalut oleh perban, tangan kanannya di gips, dan infus mengalir di tangan kirinya.

Beberapa luka bakar mewarnai wajah tampannya.

“Namja ini memiliki banyak fans ternyata”, ujar seorang suster.

“Mereka sungguh mengerikan. Sepertinya mereka punya jiwa sasaeng dalam diri mereka”, timpal suster lain.

Ting. Pintu lift terbuka.

Suster-suster itu segera melarikan Chan Yeol ke ruang ICU. Di luar sana para fans fanatik Chan Yeol bergerombol tak karuan dan masih menimbulkan kebisingan.

Hana mengikutinya.

Ia bagaikan seorang semut di tengah semak belukar. Ia tak bisa mengintip lewat jendela kamar ICU.

Lalu terlihat seorang wanita dan pria – sepertinya sepasang suami istri sedang terisak di luar kamar.

“Anakku! Hiks”, tangisan wanita itu terdengar begitu pilu.

Hana prihatin dengan wanita itu. Sepertinya dia ibu Chan Yeol.

Para fans Chan Yeol mulai bertindak anarkis. Mereka berusaha masuk ke dalam kamar ICU. Mereka mengancam para suster dan satpam yang lalu lalang demi menghentikan aksi mereka.

Hana bergerak mundur. “Mengerikan sekali fans dari namja itu”.

Yeoja itu sejenak menundukkan kepalanya. “Tidak ada yang bisa kulakukan sekarang”, gumamnya.

“Tapi… “. Hana mengepalkan tangannya.

Ia menengok ke arah jendela kamar ICU itu. “Park Chan Yeol, aku berdoa untuk kesembuhanmu”.

~~~

Jemari Hana bergerak menelusuri rak-rak buku.

Ketemu.

Ia melihat cover buku itu. Sangat usang.

Ia mencoba membuka halaman demi halaman.

Ketemu. Sebuah foto keluarga.

Hana menutup buku itu.

Ia berkata pada tantenya yang seorang pustakawan untuk membawa buku itu pulang.

Tante Hana menyetujuinya.

~~~

Hana stress dibuatnya.

Ia sudah berjam-jam menelusuri internet untuk mencari informasi tentang Jurina Matsui ataupun penjajahan Jepang di Korea.

Memang ada beberapa artikel yang menyebutkan tentang penjajahan itu. Tapi tak satupun mengarah pada Jurina Matsui ataupun kutukan ruangan di belakang perpustakaan sekolahnya.

Hana menyudahi kegiatannya itu.

Ia merebahkan diri di ranjang. Dan tertidur.

~~~

Chan Yeol masih belum sembuh.

Hal itu membuat Hana makin menabahkan dirinya sendiri.

Hana berjalan menuju  ruang tamu.

Ia duduk di sofa.

Bayangannya tentang kata-kata Matsui terus terekam di otaknya.

“Ah, anak muda. Apa kau memiliki keperluan denganku?”, tanya seorang nenek.

Hana bangkit dari sofa. Ia memberikan bungkukan kecil pada nenek itu. “Maaf mengganggu waktu anda, nek”.

Wanita paruh baya itu tertawa kecil, “Haha, tidak tidak. Kau tidak menggangguku sama sekali. Aku suka sekali dengan gadis muda sepertimu. Modern tapi masih punya tata krama”.

Kemudian sang nenek mempersilahkan Hana untuk duduk kembali.

“Perkenalkan. Saya Shim Hana. Saya dari majalah sekolah”, ujar Hana.

“Apa kau berasal dari sekolah milik anakku?”, tanya nenek.

Hana mengangguk.

“Oh, baiklah. Apa kau ingin mewawancarai anakku?”, tanya nenek lagi.

Hana menggeleng. “Saya ingin mewawancarai nenek”.

Nenek itu sedikit terkejut. “Wow, sudah lama sekali sejak seseorang mewawancaraiku”.

Hana menelaah kata-kata wanita di depannya itu. “Kapan terakhir kali anda diwawancarai, nek?”.

Nenek menghela napas panjang. “Beberapa tahun setelah perang dunia kedua berakhir. Waktu itu aku masih berumur 10 tahun”.

Hana menganggap ini sebagai kesempatan emas. “Jadi nenek sudah hidup selama itu. Pasti nenek memiliki banyak pengalaman hidup yang berharga ya”.

“Haha, iya tentu saja”, jawab nenek itu.

Bagus. Sepertinya wanita itu sudah mulai masuk dalam permainan Hana.

“Saya dengar bahwa nenek adalah pendiri dari sekolah kami”, imbuh Hana.

“Ah, bukan”, nenek itu mengibaskan tangannya. “Suamiku yang mendirikannya”. Wanita tua itu sedih ketika terlintas di ingatannya tentang almarhum suaminya.

Hana cepat merespon. “Maaf, nek. Bukan maksud saya untuk menyinggung hal itu”.

Nenek menyeka air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya. “Tidak apa-apa”.

Hana pintar menilai situasi.

“Begini.. apakah nenek bisa menceritakan perihal berdirinya sekolah kami? Saya rasa itu bagus untuk kolom ‘mengenal lebih dekat sekolah kita’”.

Nenek berdehem pelan. “Baiklah. Mmm, mulai dari mana ya? Aah iya”.

“ Waktu itu suamiku mengajakku untuk berjalan-jalan. Kami bersepeda bersama di jalan. Lalu suamiku melihat seorang anak kecil yang membaca buku di sebuah gang kecil. Penampilannya terlihat lusuh. Suamiku menghentikan laju sepedanya. Kami memperhatikan anak itu. Tak lama datanglah gerombolan anak kecil. Mereka terlihat seperti ingin mengganggu anak itu. Mereka merampas buku milik anak itu. Anak itu mencoba mengambil bukunya kembali. Tapi ia dihajar oleh salah satu anak dari gerombolan itu. Seorang anak bertubuh gemuk menyobek buku itu. Gerombolan anak itu menyudutkan pemilik buku. Mereka hendak menyerang anak itu. Beruntung suamiku mencegahnya dan…”.

“Maaf”, potong Hana. “Apakah anak itu menjadi cikal bakal keinginan suami anda untuk membangun sekolah?”. Tentu saja Hana memotongnya. Ia tidak betah berlama-lama mendengarkan dongeng panjang.

Nenek itu merasa sedikit kesal akibat interupsi Hana tadi. “Ya. Singkatnya seperti itu. Anak itu kemudian kami adopsi”.

“Apakah anak itu berdarah Jepang?”, tanya Hana.

“Huh, tentu saja tidak. Ia murni berdarah Korea”, jawab nenek.

Hana terlihat lesu dengan jawaban nenek itu.

“Bicara tentang Jepang, aku jadi ingat sesuatu”.

Ucapan nenek barusan  membuat Hana mempertajam pendengarannya.

“Suamiku menemukan kompleks perumahan kuno beserta puing-puingnya. Tidak salah lagi arsitektur bangunannya bergaya Jepang. Lalu suamiku memutuskan untuk membelinya. Akhirnya dibangunlah sekolahmu”, papar nenek.

Hana menelan ludah. “Jadi suami anda membongkar rumah-rumah itu?”.

“Ne”.

Hana merasa kecewa. Tidak seperti yang diinginkan. Ada yang masih belum dikatakan oleh nenek di depannya tersebut.

“Tapi harus kuakui, arsitek yang membangun sekolah itu benar-benar luar biasa. Ia bisa membuat sekolahmu terlihat sangat bagus dan eksklusif pada waktu itu”, lanjut sang nenek.

“Arsitek?”, pikir Hana dalam hati. “Pasti dia tidak membongkar semuanya. Ia menyisakan ruangan itu. Salah satu pekerjanya pasti mendapat kutukan itu. Jadi arsitek tersebut memutuskan untuk menyembunyikan ruangan itu. Tanpa sepengetahuan kakek dan nenek pendiri sekolah”.

“Yaah, sekarang memang gaya bangunan pada zamanmu sekarang sudah kental dengan nuansa modern. Tapi tetap keren kok”, goda nenek.

Mendadak nenek teringat sesuatu. “Tunggu sebentar”.

Lalu nenek melenggang meninggalkan Hana.

Hana teringat Chan Yeol. Bocah jangkung yang malang.

Obsesi bodohnya yang membuahkan malapetaka bagi dirinya sendiri.

Namja yang menyusahkan.

“Ini”, nenek mendadak datang dan menyodorkan sesuatu pada Hana.

Album foto.

“Foto-foto di album itu diambil ketika suamiku hendak mendirikan sekolahmu”.

Hana sepertinya tak menggubris pernyataan nenek itu. Ia membolak-balik foto demi foto.

Ketemu.

Jari Hana menunjuk seorang pria dalam foto. “Apakah pria ini suami anda, nek?”.

Nenek melihat pria yang ditunjuk Hana. “Iya. Dia begitu tampan bukan? Hahaha”. Nenek jelas-jelas menyembunyikan kesedihannya akibat teringat suaminya yang telah tiada itu.

Hana memperhatikan foto itu. Foto itu bukan hanya menunjukkan keberadaan suami nenek, tetapi juga para pekerja konstruksi beserta sang arsitektur.

“Maaf nek, sudah saatnya minum obat”, seru seorang nanny.

Nenek berjengit. “Nah, kau lihat-lihat saja album itu. Nenek mau minum obat dulu”.

Hana tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.

Hana membolak-balik beberapa foto.

Ia mengeluarkan ponsel dari celananya. Kemudian ia memotret foto ‘itu’.

~~~

Park Chan Yeol telah siuman.

Semua orang menjadi lega karenanya.

Sayangnya namja itu tidak bisa banyak bergerak.

“Beristirahatlah, sayang”, ujar ibu Chan Yeol.

Chan Yeol menatap ke arah langit-langit.

Sepertinya telah terjadi sesuatu.

Mendadak namja itu terbatuk-batuk. Batuknya terdengar keras sekali. Dan dari batuknya terdapat.. darah.

“Cepat panggil dokter, Yah!”, perintah Ibu Chan Yeol dengan histeris.

Hana dapat mendengarnya. Keributan yang terjadi makin menambah kelam suasana hati Hana saat ini.

Hana berbalik badan. Ia segera menuju lift.

Ia hendak menuju suatu tempat.

~~~

Seorang gadis menatap nanar ke arah sekelilingnya.

“Aku perlu bicara padamu”, ujar gadis lain.

Gadis dengan yukata itu berpendar. “Lelaki itu?”.

“Ya”, jawab Hana seraya berjalan mendekati hantu itu.

Hantu itu mendekati Hana. “Sepertinya kau cukup peduli dengannya. Kau pasti salah satu penggemarnya”.

Hana mengepalkan tangannya. “Tidak. Aku baru saja mengenalnya secara langsung. Aku bukan tipe yeoja yang mudah tergiur oleh lelaki tampan. Aku hanya kasihan kepadanya”.

“Kasihan?”, tanya Jurina.

Hana merenggangkan kepalan tangannya. “Dia memiliki banyak orang yang mencintainya, yang membutuhkannya. Ia membuat harum nama sekolah ini. Tidak adil jika orang seperti itu mengalami nasib yang mengerikan hanya karena masuk ke dalam ruangan ini”.

Hantu itu terlihat bosan dengan embel-embel seperti itu. Toh dia juga tak bisa melakukan apa-apa bahkan untuk mengurangi efek kutukan itu. “Kutukan itu tidak bisa memilih. Tak peduli seberapa baik dia, seberapa penting kedudukannya, seberapa banyak orang yang mencintainya. Memang sudah takdir pria itu untuk mengalaminya”.

Hana meresapi kata-kata itu. Percuma saja.

Mendadak ia merasa ada yang janggal di saku celananya. Jemarinya bergerak untuk memeriksa hal itu. Kemudian ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan menunjukkannya pada Jurina.

Meski ia sudah menjadi hantu tapi tetap saja ia tak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya.

“Ini kau ‘kan?”, tanya Hana.

Hantu itu mendadak memberikan tatapan tajam pada Hana. “Darimana kau menemukan ini?”.

Hana berdeham. “Hmm. Itu tidak penting. Dan di foto ini … ini keluargamu ‘kan?”.

Mulut Jurina menganga. Perlahan ia menatap foto itu lalu sesekali melihat Hana.

Segera saja hantu itu berhasil menjatuhkannya, “Apa maumu?”.

Hana terbatuk-batuk. Entah kenapa tiba-tiba hantu itu menabraknya. Well, dia memang hantu tapi bukan berarti dia tidak bisa menghempaskan tubuh yeoja fana itu.

“Aku ingin kutukan itu dilimpahkan padaku”, jawab Hana dengan tegas,

Terlihat kekesalan memuncak pada diri Jurina. “Aku tidak bisa berbuat apa-apa dengan kutukan itu!”.

Hana bangkit. “Pasti ada cara. Keluargamu yang memulai kutukan ini, jadi kau pasti bisa mengakhirinya.”.

Jurina menundukkan kepalanya. Selama sisa hidupnya yang ia habiskan dengan bergentayangan di perpustakaan ini tak ada kasus seperti ini. Melimpahkan kutukan? Yang benar saja. Tidak ada orang waras yang mau melakukannya.

Hana menjatuhkan kedua kakinya. “Aku mohon padamu. Tolonglah”.

“Masa bodoh!”.

Hana masih tetap pada posisinya. “Aku tahu kau masih mempunyai nurani, jadi kau pasti tahu bagaimana perasaanku saat ini. Aku adalah pihak yang patut untuk disalahkan atas kecelakaan bocah itu”.

“Dan..”, sambungya. “Jika bocah itu mati pasti akan menyebabkan kehebohan bagi seantero sekolah. Menilik kronologis kematiannya yang tidak wajar pasti banyak yang akan menaruh curiga. Mereka akan mencari  tahu apa penyebab kematian bocah itu. Memang yang orang tahu ia hanya mengalami kecelakaan semata, tapi pasti.. ada yang aneh dengan kecelakaan itu. Dan jika itu terjadi.. mereka akan menemukanmu disini”.

Jurina enggan berkomentar terhadap gertakan Hana.  “Aku sudah berkata padamu. Tidak ada yang bisa kulakukan untuk kutukan ini. Tugasku hanya menjaga ruangan ini”.

“Tanteku adalah seorang paranormal berdarah Brazil. Mungkin ia akan melakukan ritual pengusiran hantu ketika aku menceritakan masalah ini. Ah, sepertinya aku sendiri bisa melakukannya. Mmm, kurasa bahan utamanya adalah darah ayam yang masih segar dan…”.

Kemarahan Jurina sudah mencapai ubun-ubun. “Kau! Mengancamku? Oh, pergilah gadis bodoh!”.

Ini tidak seperti yang diinginkan Hana.

Sepertinya ada sesuatu yang lupa Hana tunjukkan pada sang hantu. Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah ponsel.

Setelah berkali-kali menggeser ponsel layar sentuhnya itu ia berkata, “Mungkin kau tertarik dengan ini”. Kemudian ia menunjukkan sebuah foto.

Jurina masih marah tentunya, tapi agaknya ia penasaran dengan apa yang ditunjukkan oleh Hana. Hantu itu terlihat  tengah berpikir.

“Ada yang mati, ada yang tahu tentang tempat ini. Benar bukan?”, tanya Hana.

Jurina terlihat melayang-layang itu artinya  emosinya sedang tidak baik dan ia berusaha mengontrolnya. “Itu sudah lama sekali. Dan… yah.. yang kau katakan memang benar”.

“Arsitek itu.. apa ia masih hidup?”.

Jurina menghentikan kegiatannya barusan. “Maaf? Oh, sepertinya aku harus mengatakannya padaku. Aku tidak tahu dan aku tidak peduli akan hal itu!”.

Hana memasukkan lagi ponselnya ke dalam saku. “Baiklah, kurasa itu tidak membuatmu nyaman”.

Dari ekspresinya saja sudah terlihat bahwa hantu itu memang terlihat jengkel. Jurina bergerak mendekati Hana. “Tapi kau sampai mencari hal-hal tidak jelas itu. Itu menandakan keseriusanmu. Kalau aku jadi kau lebih baik aku berpura-pura tidak tahu perihal kutukan itu”.

Hana memiringkan sedikit sudut bibirnya. “Kau sudah mengerti tentang keseriusanku. Jadi..?”

Hantu itu berpikir sejenak. Sesekali ia menatap yeoja itu.

Jurina akhirnya mengalah. Ia bergerak mundur. “Aku tidak pernah  mencoba ini sebelumnya. Kalau kau memaksa bisa jadi kau dan pria itu bisa mati”.

Hana tersenyum. “Jika belum dicoba hasilnya tidak akan diketahui”.

Jurina mengangkat kedua tangannya. Ia mengarahkannya pada gadis itu. Sebuah pusaran berwarna ungu ia alirkan pada Hana.

Hana menggigit bibirnya untuk menahan rasa sakit yang luar biasa itu.

Tidak bisa.

Akhirnya ia memutuskan untuk menggigit lidahnya sendiri. Karena terlalu kuat maka darah mulai keluar.

Terlalu menyakitkan.

Menyerah dengan kesakitan itu akhirnya Hana menjerit.

Sebuah jeritan yang memecah keheningan malam di sekolah itu.

Jeritan yang terdengar amat memilukan.

Kemudian Hana terjatuh. Matanya terpejam.

~~~

Chan Yeol terbangun dari komanya.

Beberapa kali ia mengerjapkan matanya. Ia mencoba untuk duduk.

Begitu mengetahui anaknya siuman orang tua Chan Yeol segera memeluk eratnya.

Chan Yeol sekilas terlihat bingung. “Ada apa?”.

“Syukurlah kau sadar, nak”, ucap eomma Chan Yeol penuh haru.

“Dokter bilang sangat sedikit kemungkinan persentase kau hidup”, timpal appa Chan Yeol.

Chan Yeol masih tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan kedua orang tuanya. “Jadi.. aku sakit?”.

Eomma Chan Yeol menyudahi pelukannya pada namja jangkung itu. “Kau mengalami kecelakaan yang cukup fatal. Lihat tanganmu”.

Chan Yeol menurut. Ia menatapi lengannya yang dibalut oleh gips.

“Dan kepalamu”.

Chan Yeol meraba-raba kepalanya. Ada perban. Tapi itu tidak terasa sakit. Sungguh.

“Jangan banyak bergerak. Kau butuh istirahat yang banyak”, seru appa Chan Yeol. “Ah, dan sebaiknya kau tidur saja. Beberapa tulang rusukmu hancur kata dokter”.

Chan Yeol sedikit terkekeh mendengar penuturan ayahnya itu. Jika memang benar terjadi seperti apa yang dikatakan beliau.. mengapa ia tidak merasa sakit ketika mencoba duduk tadi? Chan Yeol akhirnya buka suara, “Aku tidak merasakan sakit pada tubuhku ayah”.

Appa dan eomma Chan Yeol saling melirik. “Apa kau yakin?”, tanya eommanya. “Lihatlah wajahmu nak, luka bakar itu…”.

Eomma Chan Yeol membungkam mulutnya sendiri. “Tidak mungkin”. Luka bakar yang sempat menghiasi beberapa anggota tubuh namja itu mulai memudar, termasuk luka bakar di wajahnya.

Chan Yeol makin heran dengan kelakuan orang tuanya. Ia mengamati kondisi sekitarnya. Lalu ia membawa kantong yang berisi cairan infus dan mulai turun dari ranjang.

Ia berjalan menuju cermin. “Aku tetap tampan seperti biasanya”.

Appa Chan Yeol menggeleng tidak percaya. “Kau…”.

“Apa terjadi sesuatu denganku?”. Kali ini Chan Yeol bergerak mendekati kedua orang tuanya.

“Tunggu.. apa kau mengenal kami?”, tanya eomma Chan Yeol.

Chan Yeol mengembangkan senyumnya, deretan giginya jelas terlihat. “Kalian adalah orang tuaku. Untuk apa bertanya lagi?”.

“Mustahil”, appa Chan Yeol begerak mundur. “Kau divonis mengalami gegar otak. Dan … dan… sekarang…”.

Eomma Chan Yeol menepuk pundak suaminya. “Mungkin ini keajaiban Tuhan”.

Sejujurnya Chan Yeol masih tidak mengerti tentang apa yang telah terjadi padanya hingga membuat kedua orang tuanya begitu khawatir.

Tak lama kemudian Chan Yeol merasa risih dengan teriakan-teriakan yeoja. Ia mengintip di balik tirai.

“Oh, tidak”.

~~~

Keesokan harinya Chan Yeol mulai masuk sekolah. Semua orang menyambutnya dengan hangat. Dan berita tentang keajaiban Tuhan yang menyembuhkan sang pahlawan sekolah sudah tersebar luas.

Chan Yeol duduk di kursi favoritnya di kelas.

Baek Hyun menepuk keras punggung sahabatnya itu. “Oi, sudah sembuh kau? Kenapa kau tidak mati saja, haha”.

Chan Yeol tertawa mendengar perkataan Baek Hyun barusan. “Haha, akui saja kau sebenarnya cukup khawatir ketika aku sakit”.

Baek Hyun menyeret sebuah kursi dan mulai duduk di sebelah Chan Yeol. “Ya.. sedikit”.

Lay yang baru datang sedikit terkejut dengan kedatangan namja bertelinga khas itu. “Loh, sudah masuk?”.

Tao yang sedari tadi diam mulai ikut bergabung dalam pembicaraan mereka. “Keajaiban Tuhan? Haha, kau benar-benar orang yang dikasihi oleh-Nya. Bersyukurlah karena banyak orang mendoakan kesembuhanmu, bung”.

Seulas senyum simpul terlukis di bibir namja itu. “Hehe, iya. Aku sangat berterima kasih karena itu.

Bak semut yang sudah menemukan bongkahan gula, beberapa anak mulai mengerumuni pria jangkung itu. Mereka turut senang dengan kesembuhan namja itu, dan beberapa kali mereka melontarkan pertanyaan padanya. Chan Yeol tidak dapat mengingat itu semua. Ia berdalih bahwa semua itu terjadi begitu cepat sehingga ia tidak bisa mengingat detailnya.

“Harusnya kau beristirahat saja di rumah. Walaupun kau sudah merasa dirimu sehat, tetap saja kau baru mengalami beberapa kejadian yang  membuat tubuhmu sakit”, nasehat Lay.

Sayangnya Chan Yeol tidak seiya dengan ucapan Lay. “Beristirahat? Berarti tidak melakukan apapun? Huh, pasti sungguh membosankan”.

Lay tertawa kecil mendengarnya, “Sudah kuduga. Tidak mempan untuk menasehati bocah bandel sepertimu”.

“Hahaha”, Chan Yeol tidak bisa menahan tawanya. “Lagipula aku baik-baik saja. Sungguh. Aku tidak merasakan sakit pada anggota tubuh manapun”.

“Yah… kembali lagi. Itu adalah keajaiban Tuhan. Bersyukurlah”, ujar Tao.

Chan Yeol melirik namja alim itu. “Iya. Kau sudah mengatakannya tadi. Jangan membuatku bosan dengan mendengarkan ceramah yang sama berulang kali”.

Tao menghembuskan napasnya dalam-dalam. “Aku hanya mengingatkanmu untuk tidak jauh-jauh dari Tuhan. Itu saja”.

Chan Yeol sepertinya tidak ingin meneruskan topik pembicaraan Tao itu. “Ah, besok ada lomba voli tingkat provinsi. Kalian semua datang ya? Dukung aku, haha”.

“Bodoh. Kau baru sembuh sudah sesumbar seperti itu. Tidak tidak”, larang Baek Hyun.

Chan Yeol mulai mendekati Baek Hyun. Kepalanya ia gerakkan berulang-ulang bak kucing manja di lengan Baek Hyun, “Oh, ayolah”.

“Yaa! Menjijijikkan! Pergi sana!”, usir namja bermata kecil itu.

Seorang gadis memperhatikan sekilas kondisi kelas itu dari balik jendela.

Dibalik maskernya itu ia mengulas sebuah senyuman. Ia bahagia dengan kesembuhan namja itu.

Deg. Deg.

Seketika ia merasakan sensasi aneh merayapi jantungnya. Sakit. Sungguh.

Beruntung gadis itu memakai masker, jadi orang yang lalu lalang di sekitarnya tidak menyadari bahwa mulut gadis itu terbuka dan..

mengeluarkan darah..

berwarna ungu.

~~~

 

5 thoughts on “[FF Freelance] Behind The Library (Chapter 2)

  1. Brarti mulutnya kyak kuchisake onna (hantu jepang klo gak slah) hehehehe.. Tpi idolaku si Matsui Jurina kok jdi hantu?
    Tak apelah, good job thor. Lanjutkan!!😉

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s