[FF Freelance] Cotton Candy Boy (Chapter 1)

tumblr_n1ctt6Gg3e1sbd8nbo1_1280_2

Title                 : Cotton Candy Boy chapter 1

Author             : Quorralicious

Length             : multichapter

Rating             :PG 15+

Genre              : Romance Fluff

Main Cast        : Yoona SNSD dan Xiumin EXO

Pairing             : Yoona dan Xiumin

Quote              : boy, boy, oh boy! My cotton candy boy!

Disclaimer       : Cerita murni khayalanku dan cast hanya milik Tuhan dan Keluarganya

Credit Poster   : CSJ Choi Seungjin at yoongexo.wordpress.com

A.N                 : WARNING Typo bertebaran, SIDERS please go away, TRUE READERS yook merapat ^^ well, entah kenapa kalau Quorra bikin fanfic genre romance fluff itu selalu gak bisa, type orang yang tidak romantis jadi sulit sekali bikinnya, hoho.. So, maaf ya yang ngerasa ini fanficnya jelek banget.. huhu.. Maaf kalau gaje.

 

Xiumin, namja berkacamata tebal dan berambut keriting yang membuatnya terlihat culun dan kuper ini adalah seorang pewaris keluarga terpandang karena kekayaannya di Korea, siapa yang tahu dia akan meninggalkan semua itu untuk sementara demi mencari jati dirinya dan kemandirian dalam hidupnya, mencoba jauh dari segala hal mewah yang selalu disediakan oleh ayah dan ibunya. Dia tidak pernah kehilangan banyak cinta dari keluarganya, semua orang menyayanginya terlebih ayahnya Kim Heechul, seorang ayah yang protektif terhadap anak semata wayangnya sekaligus penerus dari perusahaan raksasanya itu. Sejak mengalami penculikan pada saat dia SD, Xiumin tidak pernah lagi menginjakan kakinya di sekolah, baik itu  SMP maupun SMA dia homeschooling dirumahnya, tentu saja hal ini merupakan sifat yang berlebihan dari ayahnya yang sangat ketakutan saat Xiumin hampir dibunuh oleh si penculik saat dia SD, pengawasan super ketatnya itu membuat Xiumin kurang pergaulan dan culun, dia terlihat sangat rapuh dan sangat bergantung pada semua fasilitas yang ayahnya berikan dirumah, selama dia masih dirumahnya ayahnya berpikiran bahwa semuanya akan aman dan baik-baik saja, hingga pada tahun ajaran baru musim panas ini.

.

.

 

”Ayah, aku sudah bosan dengan semua fasilitas yang ada ini, aku harus belajar mandiri dan kuliah diluar negeri adalah solusi satu-satunya agar aku bisa bertahan hidup, tahukah ayah? ayah tidak bisa selamanya menjagaku dalam kerangkeng ayah, aku harus mencoba dan mengalami kerasnya hidup atau setidaknya mencoba kehidupan orang biasa pada umumnya, karena takdir tidak ada yang tahu ayah, meski kita saat ini kaya tapi ingatlah roda kehidupan itu selalu berjalan, ada saatnya orang diatas dan tidak menutup kemungkinan ada saatnya juga dia ada dibawah,” jelas Xiumin panjang lebar saat ketiganya menyantap makan malam mereka, kontan saja ucapan yang terlalu dewasa dari mulut anaknya Xiumin yang selalu dia anggap masih anak-anak itu membuat Kim heechul terkejut, “Apa?!!” seru Junmyeon dengan nada meninggi dan panik akan permintaan anaknya yang dia pikir itu sangatlah berlebihan, meski memang untuk sebagian pendapat anaknya itu ada benarnya tapi Junmyeon tidak bisa mengijinkan anaknya kuliah di luar negeri begitu saja, untuk berkuliah didalam negeri saja Junmyeon masih memikirkan ulang apalagi jika dia harus mengirimkan anaknya pergi jauh ke luar negeri, sepertinya hal ini akan sulit.

 

”Tidak,” jawabnya atas permintaan Xiumin anaknya itu,”Appa tidak membiarkanmu pergi jauh, dunia ini tidak aman nak, percayalah,” ujarnya kemudian, jawaban ini cukup membuat Xiumin kecewa, Eommanya Sohee hanya bisa diam mendengar keputusan suaminya itu, sebenarnya dikarenakan dia juga khawatir sesuatu terjadi pada buah hatinya itu. Tubuh Sohee terlalu lemah untuk bisa melahirkan oleh karena itu perjuangan yang besar telah dia lewati untuk memberikan suaminya anak, tentu saja anak yang hampir meninggal saat diculiknya itu tidak akan dengan mudah mendapat ijin darinya juga.”Eomma setuju dengan appa mu, Xiumin-ah” tegasnya meski tangannya tetap sibuk memotongkan daging steak yang anaknya akan makan nanti, saat Sohee menyodorkan piring berisi daging steak yang sudah dipotongi Xiumin menolaknya,”Aku bisa memotongnya sendiri, jangan anggap aku masih anak kecil,” dengusnya kesal, Xiumin ingin sekali meninggalkan meja makan ini kalau saja bukan karena peraturan keluarganya yang sudah dia setujui yakni untuk menyelesaikan makan dan tidak menyisakan makan tentu saja sudah sejak tadi dia akan kembali ke kamar pribadinya tanpa menyelesaikan makan malamnya itu. Xiumin masih memanyunkan bibirnya menandakan dia masih kesal dan marah atas sikap orangtuanya yang terlalu protektif itu

 

Dua minggu sudah Xiumin melancarkan aksi bungkamnya itu, aksi mogok makannya gagal karena setelah dia melewatkan makan pagi, makan siang dan makan malam di hari pertama dia mogok makan, Sohee eommanya meraung-raung didepan kamarnya menangis dengan terisak karena khawatir anak semata wayangnya ini mati lemas karena tidak makan sejak terakhir dia menuturkan keinginannya untuk berkuliah di China. Pintu kamarnya diketok kembali oleh ibunya, saat ini bukan memohon padanya untuk menghentikan aksi bungkamnya, melainkan sesuatu yang lain yang selama ini ditunggu-tunggu oleh Xiumin yakni ijin dari appa dan eommanya yang super protektif itu untuk berkuliah di China.”Xiumin-ah, dengarkan eommaEomma sudah mencoba membujuk appa dan sepertinya eomma berhasil. Appa mu sudah mengijinkanmu untuk berkuliah disemester awal tahun ini di China tentunya, karena itulah keluarlah eomma sudah sangat merindukanmu selama dua minggu ini.” Ucap eommanya lembut, kontan Xiumin yang mendnegar hal ini sangat senang akhirnya pengalaman dan kesempatan langka ini terbuka untuknya.

 

Appa memang mengijinkanmu Xiumin-ah, berkat keras kepalanya dirimu. Namun ada satu syarat yang harus kau penuhi. Kau harus benar-benar menjadi mahasiswa biasa saja, kau harus mengganti namamu agar penjahat yang mengincarmu tidak bisa mencium keberadaanmu situasi saat ini kurang aman untukmu sebenarnya Xiumin-ah.” Lirih Junmyoen appanya seakan tidak bisa merelakan dan menyesali keputusannya itu. Mendengar hal itu membuat Xiumin terlonjak, bukan karena dia kaget melainkan karena dia begitu senangnya karena selain dari dia ingin berkuliah disana Xiumin juga menginginkan untuk mencoba kehidupannya sebagai mahasiswa biasa tanpa bodyguard yang mengelilinginya.

 

.

.

.

 

Setibanya di China Xiumin merasakan kebebasan untuk pertama kalinya meski dia sebenarnya harus kabur dari eommanya Sohee yang membuntutinya sampai ke China, ah susahnya menjadi anak laki-laki satu-satunya, gerutunya. Xiuminpun langsung pergi menuju apartmen yang sudah dibeli sebelumnya oleh appanya, dia tahu ada dua orang teman sekamamrnya di apartment itu, appanya sengaja menyewakan dua kamar lain di apartmen itu agar bisa dengan mudah mengawasi Xiumin melalui keduanya. “Ni Hao ma, namaku Xiu.. eh maksudku Kim Minseok aku dari Korea.” Sapa Xiumin saat tiba di apartmennya yang dibukakan oleh kedua teman barunya itu,”Ah, Ni hao juga Minseok-ah, wo tse Suho dan yang dibelakangku adalah Sehun.” Jawab seseorang namja berambut cokelat kehitam-hitaman yang membukakan pintu untuk Xiumin dan Xiumin melihat penampakan namja berperawakan jangkung yang bersembunyi dibelakang tubuh Suho yang lebih pendek darinya. “Ni Hao, keriting mata empat” ledek lelaki jangkung itu sambil memamerkan senyumannya.”Semoga kita bisa menjadi teman baik selama kuliah ini, please take care of me,”  Xiumin menjawab ledekan Sehun sambil membungkuk pada kedua teman barunya itu dan dibalas dengan bungkukan dari keduanya juga.

Diruangan kelas, Xiumin duduk diapit oleh kedua roomatenya Suho dan Sehun yang selama kuliah mereka tidak fokus, Suho yang terlihat pendiam dari penampilannya ternyata menghabiskan waktunya semalaman untuk menyelesaikan game barunya dikamar alhasil matanya tidak bisa berkompromi dengannya matanya terasa berat ingin sekali dia tidur jika saja bukan Prof. Xi yang terkenal sebagai Prof. Killer itu tentu saja dia sudah tertidur berbantalkan tangannya yang terlipat ditengah. Sedangkan Sehun, teman barunya yang lain itu sibuk sekali dengan matanya yang menatap genit pada mahasiswi yang juga menghadiri kelas yang sama, sering kali dia menengok ke belakang untuk tebar pesona dan senyumannya yang sangat mempesona itu. Xiumin kesal dengan keduanya karena menimbulkan suara yang berisik Sehun yang sibuk dengan godaannya dan Suho yang sibuk dengan rasa kantuknya membuat Xiumin tidak bisa fokus dengan mata kuliah yang diberikan Professor Xi yang menurutnya justru Professor terbaik, jantung Xiumin juga tidak henti-hentinya berdegup kencang, bukan karena ada tatapan manis dari seorang yeoja melainkan karena perasaannya yang was was takut dimarahi oleh Prof. Xi karena kedua temannya yang berisik itu.

 

Selesai mata kuliah tadi Xiumin langsung bergegas menuju kantin karena sedari tadi dia sangat kelaparan plus karena dia ingin menghindar dari teman-temannya yang menyebalkan dan membuatnya tidak bisa konsentrasi penuh selama perkuliahan, dia berjanji dia tidak akan mau diapit oleh kedua orang tadi. Dia membeli dua roti cokelat favoritenya dan susu strawberry satu kotak dia harus segera memakan habis semuanya karena sebentar lagi dia harus mengikuti kelas baru lainnya yang berbeda dengan Suho dan Sehun. Diruangan kelas Xiumin sengaja duduk dimeja yang berada disamping jendela ternyata dia datang terlalu cepat membuat dia hanya sendirian dikelas tadi, ah aku terlalu rajin gumam Xiumin pada dirinya sendiri yang mulai merasa kesepian tanpa Suho dan Sehun, beberapa menit kemudian datanglah seorang yeoja yang penampilannya sungguh menakutkan, Siapa yeoja itu sangat mengerikan wajahnya meski disapu oleh make up tetapi aura kelelakiannya sangat berat dan sepertinya dia berbahaya dan sangar, bisa terlihat dari eyeliner dan lipstick merah yang dia kenakan, tapi kenapa aku tertarik padanya ya? Gumam Xiumin sambil matanya tidak bisa lepas dari yeoja tersebut,”YAAH!!! Kau sedang liat apa??!!” hardik yeoja yang dia perhatikan tadi, hardikannya membuat Xiumin tersentak kaget belum juga dia menjawab dan membela dirinya sendiri kepalanya-yang berharga- merasakan jitakan dari kepalan yeoja tadi,”Ouh sakit tahu!!” seru Xiumin yang baru sadar dari rasa kagetnya itu,”Siapa suruh kau memandangiku seperti lelaki hidung belang, belum pernah kau melihat yeoja cantik seperti diriku hah? Pabo..” teriaknya tepat ditelinga kanan Xiumin disertai dengan kaki kirinya yang mulai dia naikkan dibangku Xiumin seolah menantangnya, yang membuat Xiumin semakin kaget yeoja itu memanggilnya Pabo, bukan karena dia senang dipanggil bodoh oleh yeoja itu tetapi dia justru merasa senang selama ini dia di China berusaha menggunakan bahasa China yang sudah dia kuasai sejak SMP itu dan saat dia kuliah di China dia akhirnya menemukan yeoja yang satu kebangsaan dengannya,”Annyeong, Kim Minseok imnida.” Sapa Xiumin menggunakan bahasa ibunya tanpa menghiraukan teriakan yeoja itu barusan. Yeoja tersebut juga merasa kaget dengan bahasa yang digunakannya, meski begitu yeoja tadi hanya menjawabnya dengan ketus,”Im Yoona imnida.” Sembari melangkahkan kakinya yang ditopang oleh high heelsnya yang sangat tinggi itu entah apa yang dipikirkan yeoja tersebut dia hanya melenggang duduk dikursinya kembali dengan wajahnya yang datar.

 

Xiumin POV

 

Yeoja itu sangat menarik, dia juga ternyata orang yang berasal dari Korea kalau saja dia tidak memakiku menggunakan bahasa Korea mungkin aku tidak akan mengetahuinya, karena bahasa China dia sangat fasih sepertinya dia sudah lama tinggal di China ujarku berbicara sendiri dalam pikiranku sambil pandangan mataku tidak berpindah dari yeoja yang tadi mengenalkan dirinya dengan nama Yoona itu, sesekali aku mengedarkan pandanganku berpura-pura tidak sedang memandanginya karena wajahnya yang judes itu selalu menatap tajam kearahku jika dia menangkap basah diriku yang sedang memandanginya. “Minseok, kamu sedang apa disini sendiri? Untung aku meminta Suho kesini dulu karena penasaran dengan kelas Budayamu, bukannya kelas Budaya sedang ditiadakan untuk hari ini saja ya?” seru Sehun didepan ruangan teriakannya sukses membuyarkan lamunanku tentang Yoona, yeoja yang membuat hatiku berdetak lebih kencang siang ini.

 

Yoona, yeoja cantik tetapi sikapnya sangat berbeda dari yeoja lainnya meski dia juga menggunakan make up dan high heels tetapi sikapnya sangat kasar, keras kepala, dan galak, tidak bisa membiarkan seseorang mendekatinya hingga dia tidak mempunyai teman. Yoona kebalikan dari Xiumin yang terlalu dipenuhi oleh kasih sayang yang melilitnya sendiri, keluarga Yoona sangatlah tidak mempedulikannya dia mempunyai sejarah keluarga yang agak rumit dimana ayahnya dulu sangat penyayang tetapi sangat miskin karena faktor ketidak beruntungan masa lalu di Korea, kemudian ayahnya pindah ke China dan menjadi seorang pebisnis yang sukses dan terkenal di China semuanya hasil dari kerja kerasnya menggunakan seluruh waktunya untuk bisnis, tidak ada waktu yang terbuang bahkan untuk seorang anak perempuan yang haus akan kasih sayangnya. Ibunya membantu membuat image ayahnya dengan melakukan banyak perkumpulan istri-istri pebisnis demi memperlihatkan keharmonisan keluarganya yang sebenarnya tidak terlalu harmonis. Dia mempunyai seorang adik yang bernama Im Hwayoung, seorang yeoja yang tidka mempedulikan lingkungan sekitarnya asal kebutuhannya terpenuhi dia tidak menuntut hal yang lain, kasih sayang atau perhatian kedua orangtuanya yang sibuk itu.

 

.

.

.

 

Tak lama setelah kemunculan Sehun yang tiba-tiba kepala Suhopun muncul dibalik pintu mengajakku untuk pulang karena kelas kami bertiga telah usai. Kulihat Yoona tidak mendengarkan pembicaraan kami karena dia menggunakan headset, akupun perlahan mendekati mejanya dan mengumpulkan keberanianku untuk membuka headset yang menutupi telinganya itu terdengar dentuman musik yang sangat keras dari arah headset sebelah kanannya, karena keasyikannya terganggu Yoona mulai kesal,”Mwo ya? Hah? Apalagi?!!” teriaknya kesal padaku yang telah mengganggunya padahal kan niatku baik ingin memberitahunya agar dia tidak usah menunggu kelas ini, dia menghentakkan kakinya untuk berdiri menghadapku tepat didepan wajahku dia berdiri dan mulai dengan cerocosan juteknya yang sangat tidak enak didengar,”Kau ini tidak suka ya melihat orang senang, kenapa kau membuka headsetku? Apa kau tidak ada kerjaan lain selain menggangguku,” aku hanya bisa menatapnya gemas karena wajahnya ketika marah sangatlah menawan, tentu saja menawan hatiku. Pidatonya yang sangat panjang tidak selesai begitu saja, tangannya yang sedari tadi berada dipinggangnya mulai naik keatas dan diapun menjitakku kembali,”AWW” akupun meringis karena kali ini jitakannya lebh kuat dan lebih sadis,”Dengarkan aku dulu..-“ belum juga kuselesaikan penjelasanku Yoona sudah pergi dari hadapanku dia membawa serta tas selendangnya dan melenggang keluar, Sehun dan Suho yang melihat peristiwa tadi hanya bisa diam melongo karena tadi kita berdua menggunakan bahasa Korea yang tentunya tidak bisa dimengerti kedua orang China itu.”Aku duluan ya, kalian pulanglah kerumah, “ sembari berlari mengikuti kemana arah Yoona melangkah. “Im Yoona..” panggilku, dia tidak menggubrisku dan terus saja melangkahkan kakinya dengan cepat menghentakkan high heelsnya sehingga berbunyi, dia kelihatan sangat kesal padahal maksudku baik, karena tidak ingin disalahpahami olehnya akupun tetap mengikutinya sembari menunggu kemarahan dia reda. Yoona sadar dia diikuti lalu,” Setelah menikmati tubuhku dengan matamu dan menggangguku diruangan kelas tadi apa maumu?! Pergi jangan pernah ikuti aku lagi!!!” hardiknya lagi sambil memandang tajam kearahku, saat dia akan melangkahkan kakinya masuk ke taksi yang sudah dia hentikan refleks tanganku menahan tangannya,”Jangan pergi dulu, dengarkan aku.” Ujarku lembut padanya, melihat sikapku yang seperti ini membuat dia diam dan membatalkan niatnya untuk menaiki taksi yang sudah dia hentikan barusan. “Baiklah aku akan mendengarkan penjelasanmu.” Akhirnya dia luluh dan mau mendengarkanku.

 

Yoona POV

 

Apa sih maunya lelaki culun itu, belum puas apa dia membuatku malu karena sejak tadi kitabertemu dia memandangiku terus menerus memangnya ada apa di wajahku ini, setelah aku membentaknya dan juga menjitak kepalanya sekeras mungkin dia bahkan semakin berani untuk curi-curi pandang kepadaku, apa maksud dia bergenit-genit ria padaku mungkinkah dia tidak tahu julukanku di kampus ini? Aku ini mahasiswa tahun kedua dikampus ini, ah iya mungkin dia mahasiswa tahun pertama jadi dia tidak tahu seluk belukku dan berani bersikap seperti itu didepanku pikirku saat Kim Minseok, namja itu terus saja mengikutiku dan memohon padaku untuk memberinya waktu menjelaskan, yah akupun menyerah aku mencoba untuk mendengarkan alasannya itu kalau alasan itu tidak mendasar akan kupukul lagi kepalanya itu, “Aku tadi hanya ingin memandangimu saja dalam lamunanku entah kenapa, bukannya aku memperhatikan tubuhmu Im Yoonassi, untuk yang kedua kalinya aku membuka headsetmu bukan karena ingin mengganggu keasyikanmu mendengarkan musik hanya saja aku tidak ingin menunggu mata kuliah budaya tadi, karena sepertinya mata kuliah itu untuk hari ini tidak ada.” Jelasnya padaku, Ouh alasannya sangat mendasar, aku sudah salah menilainya tetapi aku malu aku tak mau menerima bahwa aku yang salah paham padanya karena itulah sepertinya aku harus secepatnya menghindari namja ini pikirku, lalu setelah mendengar penjelasannya akupun melangkahkan kakiku kembali menyusuri trotoar untuk mencapai zebra cross yang letaknya tidak jauh dari gerbang kampus. “Kau sudah mendengar penjelasanku, kalau begitu maukah kau menjadi temanku.” Suara yang baru kukenali hari ini mulai memperdengarkan lagi suara itu yang terdengar polos dan tulus mengenai ajakannya untuk menjadi temanku, tapi… tapi.. aku tidak bisa berteman dengan siapapu semua mahasiswa dikampus ini menolak untuk menjadi temanku dan tidak mungkin lelaki culun ini bisa menjadi temanku karena aku takut dia akan dikucilkan sepertiku, bukan karena aku tidak mau menjadi temannya atau tidak meyakini ketulusannya untuk menjadi temanku.

.

.

.

“Yoona ssi, maafkan atas kelancanganku minggu kemarin, tetapi aku benar-benar ingin menjadi temanmu,” ujarnya lagi sesaat berdiri menghadapku yang baru saja sampai diruangan kelas budaya,”Aku tidak ingin menjadi temanmu.” jawabku dingin ekspresi Minseok terlihat sangat gelap, dia sedih pastinya saat aku menolak menjadi temannya. Padahal minggu kemarin jelas-jelas aku meninggalkannya sendirian di sore hari itu tanpa menjawab ajakan pertemanannya itu.”Ayolah kumohon jadi temanku, buing-buing” ujarnya lagi dengan gaya aegyonya tangannya membentuk huruf V dan dia meletakkannya diantara sudut mata kanannya, sumpah jika saja aku tidak ingin menjadi bahan tertawaan orang-orang sekitarku aku mungkin sudah tertawa terbahak-bahak karena aegyonya yang sangat lucu itu.

 

 

FLASHBACK OFF

 

“Minseok..jangan kau berani mengejar wanita tadi itu,” tegur Suho saat Xiumin memasuki apartmen dengan wajah lesu karena sikap Yoona yang acuh.”Ya Minseok, Yoona sunbae itu sangat kejam dan galak, aku mendengar dari senior tahun kedua dan ketiga kalau dia itu tidak mempunyai teman bahkan saat SMA aku seSMA dengannya dia sangat jahat dan auranya itu evil, jadi sebisa mungkin kau jangan dekati dia karena tidak ada yang mau menjadi temannya.” Jelas Sehun melanjutkan peringatan Suho tadi, mendengar hal itu bukannya merasa menyesal mengajak Yoona menjadi temannya Xiumin malah merasa kasihan dengan yeoja satu itu dia merasa pastinya yeoja itu sangat menderita dan kesepian Xiumin segera tahu saat melihat mata yeoja itu meski tatapan yang saat itu diberikan Yoona sangat tajam tapi dibalik tajam dan ketusnya sikap Yoona itu Xiumin yakin Yoona menyembunyikan perasaannya dan menutupinya dengan sikapnya yang kasar itu pada semua orang. Semua ini membuat Xiumin bertekad untuk mengajak Yoona menjadi temannya minggu depan, saat kuliah Budaya di hari Selasa.

FLASHBACK OFF

 

Xiumin POV

 

Aku akan menunggunya dikelas budaya, tekadku dalam hati.

 

Di hari Selasa siang yang panas dan matahari menyorot tajam…

”Ayolah kumohon jadi temanku, buing-buing” ujarku lagi dengan gaya aegyonya tanganku membentuk huruf V dan aku meletakkannya diantara sudut mata kananku, kuharap dia mau menerima aku menjadi temanku. Tetap saja dia tidak mau menerimaku menjadi temannya buktinya saat ini dia sudah menjauh melangkahkan kakinya menuju arah kantin, meskipun perkuliahan akan dimulai sepertinya dia memilih untuk bolos ketimbang kuliah bersamaku hari ini.

.

.

Seminggu kemudian…

Yeah hari ini aku menemukan informasi yang sangat penting mengenai Im Yoona, wanita itu. Bukan hanya kelas Budaya saja dia sekelas denganku rupanya untuk hari Rabu dan Kamispun aku bisa menemuinya, hari Rabu untuk kelas Bahasa Inggris dan hari Kamis untuk kelas Seni Rupa akhirnya aku diberi kesempatan yang lebih banyak untuk bertemu dengannya.

.

.

.

“Annyeong Yoona, apakabar? ” sapaku padanya menggunakan bahasa Korea saat kami bertemu kembali di kelas bahasa Inggris, “Maukah kau menjadi temanku?’ tanyaku tanpa basa basi lagi padanya, entah kenapa aku sungguh inginkan dia menjadi temanku, belum lama dari pertanyaanku kepadanya lalu terdengar ringtone handphonenya, eh?! Itu adalah suara OST anime favoriteku, Gundam? “Hei kau suka gundam juga rupanya?” tegurku padanya kulihat tangannya masih berkutat mencari handphonenya yang sejak tadi berdering,”Ya, aku mengerti,” ucapnya saat menjawab telpon.

Selain dari fakta dia juga orang korea, aku semakin menginginkan untuk jadi temannya kuyakin ringtone tadi adalah pertanda bahwa dia juga menyukai gundam, anime favoriteku yang berasal dari Jepang itu. Saat ini wajahnya tidak terlalu terlihat kesal, bahkan dia menjawab pertanyaanku saat dia menjawab telponnya,”Ya aku suka gundam, waah itu adalah anime favoriteku,” sahutnya penuh semangat, sepertinya dia memang sangat menyukai gundam sama sepertiku, ekspresinya sangat tulus dan terlihat bersemangat saat membicarakan gundam. Aku juga suka Gundam, Yoona..bisikku dalam hati, “Aku juga suka Gundam, Yoona,” bisikku padanya saat aku mendekatkan wajahku ditelinganya untuk berbisik, meski sebentar aku bisa melihat semburat merah merona di wajahnya ah mungkin telinganya terlalu sensitif membuat dia merah merona seperti itu, pikirku. “Jangan pikir aku akan mau jadi temanmu saat tahu kau juga menyukai gundam,” desis Yoona dia benar-benar telah membenciku, “Tapi aku ingin menjadi temanmu, kuyakin kita bisa menjadi teman baik,” ujarku lagi bersikukuh dengan keinginanku untuk berteman dengannya.

 

Yoona POV

Ada apa dengannya kenapa dia begitu keras kepala untuk menjadi temanku, aku tidak pantas menjadi temannya mereka pasti akan membencinya juga jika mereka tahu dia berteman denganku. Aku sangat kesepian, meski begitu aku tidak ingin namja baik seperti dia menjadi public enemy karena dia menjadi temanku. Karena itulah sebisa mungkin aku ingin menjauhinya, pikiranku melayang jauh mengingat pertemuanku dengannya saat kelas bahasa Inggris berlangsung, sore ini aku harus mengikuti kelas Seni Rupa tetapi karena kegiatan ekstraku sejak pagi aku sudah berada dikampus berlatih berenang, ya meskipun aku tidak disukai teman sekampus, setidaknya mereka tahu mereka membutuhkanku untuk memenangkan kejuaraan lomba berenang. Kaki kananku tiba-tiba tidak bisa kurasakan, “Awww..” seruku ditengah-tengah kolam renang yang dalam, aku baru menyadari bahwa tadi sebelum memasuki kolam aku belum melakukan pemanasan terlebih dahulu karena sibuk memikirkan Minseok dengan sikapnya yang keras kepala itu, di kedalaman 6 meter dengan kaki kananku yang tidak bisa kugerakkan aku sepertinya akan tenggelam karena tidak ada orang lain selain aku di kolam renang ini, gedung olahraga ini terpisah jauh dari gedung perkuliahan, akupun berteriak meminta tolong, kucoba menghentak-hentakkan kaki kiriku yang masih bisa kugerakkan, kuhentak-hentakkan dikedalaman air, Aku masih ingin hidup, kumohon seseorang tolonglah aku doaku dalam hati.

“Tolooong!!…. Tolong aku!!!. Tolong!!” aku berteriak meminta tolong setiap kali wajahku bisa kusembulkan dipermukaan air, kuharap ada seseorang yang mendengarnya, cukup lama aku bertarung dengan semua ini, kaki kiriku kehilangan tenaganya karena terlalu lama dihentakkan untuk menopang tubuhku, saat diriku mulai pasrah dan tenggelam, perlahan aku mulai kehilangan kesadaranku saat oksigen tidak bisa lagi masuk ketubuhku, yang bisa aku lakukan hanya menunggu keajaiban datang. Samar-samar aku bisa mendengar seseorang, saat aku memaksakan mataku untuk kubuka aku bisa melihat seseorang berenang kearahku, aku hanya bisa tersenyum melihatnya semoga aku masih bisa terselamatkan.

 

Author POV

“Ya, appa sebentar lagi aku kuliah, aku baru selesai bermain squash dengan temanku. Sudah dulu ya, aku jadi ditinggalkan mereka nih,” jawab Xiumin dalam telponnya, dia berjalan tidka jauh dari kolam renang yang Yoona pakai,”Toloongg..!” Xiumin mendengar teriakan itu lalu diapun mencari arah suara itu dan saat dia melihat seseorang yang tenggelam tanpa berpikir panjang diapun ikut terjun kedalam kolam renang.

.

.

Saat namja itu berenang kearah Yoona, seketika Yoona bisa menggerakkan kembalii kaki kanannya yang kram tadi,  Ah namja itu, bukannya dia membantuku dia malah ikut merepotkanku keluh Yoona sambil menggiring tubuh seorang namja yangsudah tidak sadarkan diri. Minseokkie? Pikir Yoona saat melihat dengan jelas namja yang masih tak sadarkan diri, “Minseok? Bangun Minseok!” ujar Yoona, mungkinkah namja ini tidak tahu caranya berenang? Lalu kenapa dia terjun begitu saja kearah kolam renang? Tanpa Yoona rasakan Jantungnya berdegup lebih kencang dari sebelumnya.

.

.

 

To Be Continue

p.s: ini baru cerita awal  jadi masih belum ada romance-romancenya hehehe, maaf kalau gaje nanti ceritanya makin complicated dengan adanya karakter baru. Terima kasih udah baca >,<

4 thoughts on “[FF Freelance] Cotton Candy Boy (Chapter 1)

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s