[FF Freelance] Mint Blossom

1394370102216

Title: Mint Blossom

Summary:

Mencoba sesuatu yang sama untuk yang kedua kali tidak ada salahnya bukan? Mungkin saja akan membawa hasil yang berbeda.

Scriptwriter: beautywolf (@beautywolfff) | Main Cast: Kim Jongin a.k.a Kai (EXO), f(Krystal), Sehun (EXO), f(Sulli)| Genre: Romance | Duration/Length: Vignette |Rating: PG-15

Disclaimer:

Dedicated for my ex-deskmate Mell! The idea of this fanfic is totally original by me.

Enjoy reading & cheers. No plagiarism and bash.

Comments & Likes are highly appreciated!

Check our other stories at: http://beautywolfff.wordpress.com

xoxo, stp.

***

Jantungnya bekerja dengan tidak benar, berdegup semakin cepat seiring dengan langkah kakinya pada karpet merah. Iringan lembut denting piano dan tatapan dari puluhan pasang mata sama sekali tidak membantu menenangkan dirinya. Gadis dengan bola mata hazel itu berjalan menuju altar sambil meremas bagian tepi gaun putihnya. Tatapannya fokus kedepan, fokus pada seorang pria dengan tuxedo hitam yang sedang menunggu calon istrinya datang padanya sambil tersenyum sangat lebar. Senyum penuh kebahagiaan. Gadis itu sendiri ikut tersenyum melihat ekspresi wajah pria itu. Hanya saja, senyum gadis itu lebih di dominasi oleh perasaan lega.

Gadis dengan bola mata hazel itu sudah sampai di depan altar. Sambil mendengarkan pastor berbicara, tiba-tiba saja benaknya lari meninggalkan raganya, lari pergi bermain dengan waktu, lari pergi ke masa lalu.

***

Krystal Jung adalah seorang gadis dengan buku pada genggaman, seorang gadis dengan cara berpakaian yang sederhana, seorang gadis dengan wangi lembut orangeblossom melekat pada tubuhnya. Krystal Jung adalah seorang gadis yang percaya bahwa laki-laki yang memesan coklat panas dengan mint dan tambahan topping marshmallow banyak-banyak adalah ‘calon pendamping hidupnya’. Entah ia mendapatkan keyakinan darimana, yang pasti Krystal mempercayai itu.Hal ini merupakan sesuatu yang tidak bisa dipahami dengan alasan.  

Krystal menghela nafas dalam-dalam, kepindahannya dari California ke Seoul benar-benar menguras pikiran dan tenaganya. Baru saja ia sampai di rumah barunya di Seoul, ia masih harus berhadapan dengan kardus dan koper besar yang berserakan di lantai kamarnya. Kamarnya yang baru masih sangat berantakan, lemari pakaian super besar yang masih kosong melompong, tempat tidur yang telanjang tanpa seprai, ditambah lagi dengan kardus dan koper besar berserakan di sana-sini. Namun, Krystal tidak peduli. Badannya terlalu capek—ia masih jetlag—yang Krystal butuhkan saat ini adalah menghempaskan dirinya  pada kasur empuk—tidak peduli walaupun masih tanpa seprai. Ia tidur terlentang, membuka kedua tangan dan kakinya lebar-lebar. Kedua bola mata hazelnya menatap langit-langit kamar yang penuh dengan stiker berbentuk bintang glow in the dark. ‘Mungkin milik seseorang yang menempati kamar ini dulu’ pikir Krystal. Kemudian ia mencoba untuk memejamkan kelopak matanya, merasakan aroma lembab yang bercampur dengan aroma orangeblossom—membentuk aroma baru yang segar sekaligus membawa sensasi memabukkan pada indra penciumannya. Tanpa sadar, sebuah senyuman terukir dibibir tipisnya.

 

Krystal belum sempat pergi berkeliling kota setelah satu minggu pindah ke Seoul, ia dan seluruh anggota keluarganya masih sibuk menata rumah. Baru hari ini ia bisa dengan sejenak mengambil nafas dan menghirup udara kota Seoul. Sepatu flat warna peach yang dikenakan Krystal bergesek dengan aspal, langkah panjangnya membawa gadis itu ke sebuah kedai kopi di ujung jalan. Terlihat ramai oleh para remaja seusianya. Dengan kantung besar berisi seragam sekolahnya yang baru pada genggaman tangannya, Krystal mendorong pintu kaca kedai dengan tangannya yang bebas.

Krystal duduk di samping jendela besar kedai ditemani secangkir green tea dan asapnya yang mengepul di udara. ‘Green tea memang enak dinikmati pada akhir musim dingin seperti ini’ pikir Krystal. Bulan ini bulan Maret dan salju sudah meleleh 5 hari yang lalu. Rantai pada ban mobil sudah tidak terlihat lagi di jalanan sekarang, dan sudah tidak ada lagi orang-orang yang berlalu lalang dengan sepatu boots. Krystal mengalihkan perhatiannya dari jendela ke bagaian dalam kedai. Banyak remaja seusianya yang duduk bersama teman-temannya—sekedar mengobrol sambil tertawa bersama, beberapa juga duduk sendirian sambil sesekali mengecek jam tangan—mungkin sedang menunggu seseorang. Satu yang menarik perhatiannya adalah seorang laki-laki yang duduk di bagian tengah kedai, menyesap coklat panas sambil menutup kedua kelopak matanya, dihadapan laki-laki dengan kulit gelap itu ada satu cangkir lagi yang tampaknya sudah kosong dan satu lagi cangkir berisi marshmallow.

Dengan itu, Krystal tersenyum sendiri melihat pemandangan yang baru saja ia temukan. Ia tidak bisa memikirkan yang lainnya.

 

Krystal memulai hari pertamanya di sekolah hari ini. Hari pertama bersekolah di negara yang berbeda, dengan bahasa yang berbeda, dengan kebudayaan yang berbeda, dengan semua lain-lain yang berbeda. Krystal berdiri didepan meja riasnya sambil menyemprotkan cologne dengan wangi orangeblossom kesukaannya, kemudian mengambil tas sekolahnya dan bergegas turun untuk sarapan bersama.

 

Bye Krys, have fun my cute lil sis!” dengan senyum menggoda, Jessica mengucapkan salamnya pada Krystal. Sedangkan yang diberi salam hanya mendengus sambil menutup pintu mobil kasar, Jessica hanya bisa tertawa kecil melihat ulah adik kesayangannya.

Jessica tahu Krystal tidak suka pindah ke Seoul. Menurut Krystal, Seoul tidak akan pernah menjadi sekeren California.

 

Koridor sekolahnya yang baru sudah ramai oleh siswa, banyak yang sudah menemukan kelasnya masing-masing dan berkenalan satu sama lain, membuat teman baru. Krystal mengecek namanya disetiap pintu yang ditempeli kertas berisi daftar siswa, dan ia baru menemukan namanya  pada kelas ke-2. Kelas 1-2.

Krystal baru saja hendak membuka pintunya saat tiba-tiba saja pintu kayu itu terbuka sendiri, menampakkan seorang laki-laki dengan kulit gelap dengan postur tubuh atletis. Keduanya sama-sama terlihat terkejut saat bertatapan. Setelah menghabiskan 7 detik bertatapan dengan ekspresi terkejut di wajah masing-masing, akhirnya laki-laki itu ber-ininsiatif untuk mundur dan memberikan jalan untuk Krystal.

Krystal berjalan melewati laki-laki itu begitu saja, tetap dengan wajahnya yang datar tanpa ekspresi, walaupun sebenarnya sangat berbanding terbalik dengan perasaannya.

Itu laki-laki yang ia temui di kedai beberapa minggu yang lalu.

Krystal senang bukan main mengetahui laki-laki idamannya ada di sekolah yang sama. Ia membalikkan badannya untuk melihat kemana perginya laki-laki itu, kemudian sudut bibirnya tertarik keatas sedikit saat ia melihat laki-laki itu masuk ke kelas 1-5.

Mungkin, Seoul dan juga sekolah tidak seburuk itu.

 

“Krystal Jung imnida.” Ia memperkenalkan diri. Seluruh tatapan teman sekelasnya terfokus pada Krystal yang berdiri di tempatnya. Teman-temannya mengamati Krystal—seorang gadis dengan bola mata hazel dan aksen Korea yang aneh—dengan tatapan penasaran yang jelas. Kang seonsaengnim yang menjadi wali kelas 1-2 tahun ini mengangguk pada Krystal, setelah itu mempersilahkan ia duduk kembali.

“Hei, aku Jinri. Choi Jinri.” Seorang gadis yang duduk disampingnya menyapa ramah, memperkenalkan diri. Senyum lebar tersungging ceria di wajah cantiknya. Gadis yang memperkenalkan diri dengan nama Jinri itu membiarkan rambut panjangnya terurai bebas, poninya rata, aroma lilac bercampur madu meneyeruak pada indra penciuman Krystal.

“Ya, aku sudah tahu.” Jawab Krystal dengan senyum kecil yang dipaksakan.

Jinri sedikit terkejut mendapat balasan seketus itu.

Krystal Jung sebenarnya bukan gadis dingin yang menarik dirinya dari dunia sosial. Krystal bukannya tidak bisa tersenyum ataupun tertawa, ekspresi dasarnya memang seperti itu. Poker face—kata orang-orang kebanyakan.

Krystal sebenarnya gadis yang menyenangkan kalau kau sudah mengenalnya dengan cukup baik, gadis itu bisa bicara panjang lebar, tersenyum dan tertawa, seperti gadis-gadis lain seusianya. Hanya saja kadang-kadang perkataannya bisa sangat ketus. Jangan juga coba-coba menganggunya saat ia sedang membaca. Krystal bisa menjadi benar-benar galak.

Sebenarnya, Krystal hanya butuh waktu untuk beradaptasi dan berteman.

Entah Jinri yang terlalu berfikir positif, atau dia memang bisa merasakannya, dia pikir Krystal Jung pasti tidak seburuk kesan pertama yang ia tampakkan.

Maka, sekali lagi Jinri menyunggingkan senyum cerah pada wajah cantiknya dan menyodorkan tangan.

“Mari kita berteman!” kata Jinri penuh semangat.

 

Ternyata pikiran positif Jinri memang benar, Krystal Jung tidak seburuk itu. Mereka berdua sudah 3 bulan berteman dan mereka baik-baik saja. Memang awalnya Krystal terlihat sangat menyebalkan dan arogan dengan nada ketus yang selalu ia gunakan. Tapi selain itu, Krystal Jung adalah gadis biasa. Ia tersenyum saat nilai ulangannya bagus, dan tertawa saat Youngjae terpeleset kulit pisang ditengah koridor. Krystal hanya terlalu sering menyibukkan dirinya dengan buku-buku dengan tulisan yang tidak Jinri mengerti. Ya, Krystal memang lebih sering menghabiskan waktunya dengan buku-buku ber-bahasa Inggris.

Hari ini hari Rabu dan itu artinya kelas olahraga. Krystal selalu menyukai kelas olahraga karena kelas 1-2 dan 1-5 mempunyai jadwal yang sama.

Dan itu artinya, ia bisa melihat laki-laki dengan kulit coklat dan tubuh atletis itu.

Ia ketahui dari teman barunya yang sangat cerewet (baca: Jinri) bahwa nama laki-laki dengan kulit coklat dan tubuh atletis itu bernama Kim Jongin. Krystal belum pernah berbicara sekalipun dengannya, tapi Jinri pernah. Sering malah.

Hari ini Han seonsaengnim menyuruh murid-muridnya untuk bermain voli, dan hal ini merupakan suatu kabar yang sangat buruk untuk Krystal. Krystal tidak bisa bermain voli, tapi ia jago main lompat tali.

 

Ouch!

Sudah diduga.

“Aku minta maaf, aku sudah berkata pada mereka untuk tidak membiarkan aku ikut main. Aku benar-benar minta maaf.” Krystal refleks memberondong siapa-pun itu yang baru saja terkena lemparan mautnya yang melenceng dengan permintaan maaf.

Kedua bola matanya membulat saat mengetahui sang korban adalah Kim Jongin.

“Ya, ya, tidak apa-apa. Aku tahu kau tidak sengaja.” Kata laki-laki itu.“Uh, hei. Kau gadis California itu kan?” lanjut Jongin.

“Eh?”

Krystal tidak akan melupakan momen ini.

 

Lalu 4 bulan kemudian, seantero sekolah dikejutkan dengan kabar ‘Kim Jongin berkencan dengan Krystal Jung!’

Yep itu benar, lemparan maut Krystal yang melenceng ternyata membuat mereka dekat. Dengan sedikit basa-basi dan beberapa bulan pendekatan akhirnya mereka berkencan. Krystal Jung berkencan dengan seseorang yang ia percaya sebagai calon pendamping hidupnya, dan hal itu tentu saja membuatnya benar-benar senang bukan kepalang.

Krystal baru menyadarinya, ada satu hal yang membuatnya sedikit penasaran, selama mereka pergi ke kedai kopi bersama, Krystal tidak pernah menemukan Jongin memesan coklat panas dengan mint dan tambahan topping marshmallow banyak-banyak lagi seperti saat ia pertama kali bertemu dengannya di kedai kopi dulu.

Well, Krystal tidak pernah membahasnya, bersama Jongin saja menurutnya sudah cukup.

***

Benaknya kembali tepat waktu saat ia mendengar sebuah suara berat yang mengucapkan “Aku bersedia” dengan penuh keyakinan. Dan selang beberapa detik kemudian, suara ramah yang dulu disambut Krystal dengan ketus itu membalas “Aku bersedia” dengan keyakinan yang sama.

Hari ini adalah hari pernikahan Kim Jongin dan Choi Jinri.

Ya, kau tidak sedang salah baca. Dan aku yakin aku menulisnya dengan benar. Choi Jinri. Bukan Krystal Jung. Krystal berjalan ke altar sebagai pendamping mempelai wanita, bukan sebagai sang mempelai wanita.

Sedikit melenceng dari perkiraanmu ya?

Uh..ehm..apa aku sudah pernah mengatakan bahwa kisah cinta remaja selalu penuh dengan kejutan? Sepertinya belum.

Siapa yang tahu kalau ternyata Jinri sudah memendam perasaan pada Jongin jauh lebih dulu daripada Krystal? Well, Krystal tidak tahu sebelumnya kalau Jinri sudah berteman dengan Jongin semenjak sekolah menengah pertama. Baru setelah Krystal, Jinri dan Jongin naik ke kelas 2, kemudian Krystal dan Jinri tak lagi menjadi teman sekelas. Namun yang ada Jinri dan Jongin lah yang menjadi teman sekelas.

Awalnya dimulai dengan celoteh riang Jinri yang mengatakan “Hey Krystal! Hari ini kekasihmu dihukum di depan kelas karena tidur saat pelajaran Choi seonsaengnim! Aigoo~” kemudian berlajut menjadi “Aku dan Jongin menjadi rekan satu team dalam tugas kelompok yang diberikan Do seonsaengnim, rencananya nanti sore kekasihmu akan pergi ke rumahku untuk memulai mengerjakannya.” Lalu dimulai dengan Jongin yang terus menerus membahas Jinri setiap kali kalian pergi berkencan, kemudian Jongin yang susah sekali dihubungi dan menjawab pesan teks mu dengan balasan “Aku sedang mengerjakan tugas kelompok dengan Jinri.”

Sampai kemudian Krystal menyadari bahwa sejak awal yang ada di mata Jongin adalah Jinri. Dan pada akhirnya hubungan keduanya pun harus diakhiri. Tidak ada dendam, ataupun benci terhadap satu sama lain. Mungkin rasa sakit itu ada dalam lubuk hati Krystal, dan segelintir rasa kecewa pada Jinri karena tak mengatakan perasaannya pada Jongin yang sebenarnya dari awal. Dan ada juga rasa bersalah yang menyelinap dalam hati Jinri saat tangan Jongin menggenggam tangannya erat. Tapi…apa mau dikata? Nasi sudah terlanjur menjadi bubur. Tidak ada yang bisa Krystal lakukan selain mengharapkan kebahagiaan untuk Jinri dan Jongin.

Mungkin bukan Jongin yang memesan coklat panas dengan mint dan tambahan topping marshmallow banyak-banyak waktu itu. Mungkin terjadi kesalahan. Karena Krystal masih percaya bahwa laki-laki yang memesan coklat panas dengan mint dan tambahan topping marshmallow banyak-banyak adalah ‘calon pendamping hidupnya.

 

Dan ternyata memang terjadi kesalahan,

Upacara pernikahan Jongin dan Jinri sudah bubar beberapa jam yang lalu, dan Krystal menemukan dirinya—masih dengan gaun putihnya sebagai pendamping pengantin—di depan kedai kopi yang sama saat ia bertemu dengan Kim Jongin beberapa tahun yang lalu.

Bukan. Bukannya Krystal tidak bisa move on dari Kim Jongin, hanya saja ia sedang mencoba peruntungannya lagi.

Ia mendapatkan tempat duduk yang sama seperti saat ia pertama kali kesini, di samping jendela besar kedai ditemani secagkir green tea yang sama dan asapnya yang mengepul diudara. Oke ini memang terlalu flashback. Tapi, mencoba sesuatu yang sama untuk kedua kalinya tidak ada salahnya bukan? Mungkin saja akan membawa hasil yang berbeda.

Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kedai. Banyak orang seusianya yang duduk bersama teman-temannya—mengobrol sambil tertawa bersama, beberapa juga duduk sendirian sambil sesekali mengecek jam tangan—mungkin sedang menunggu seseorang. Satu yang menarik perhatiannya adalah seorang laki-laki yang duduk di bagian tengah kedai dengan secangkir coklat panas dan satu cangkir lagi yang berisi marshmallow, dan Krystal tahu siapa pria itu.

Entah ini bisa disebut sengaja atau tidak, tapi pandangan mereka bertemu, dan secara refleks, pria itu melemparkan senyum pada Krystal, bangkit dari kursinya membawa serta kedua cangkir pada ganggaman tangannya dan berjalan menghampirinya.

“Kau terlihat seperti mempelai wanita yang sedang melarikan diri.” tanya pria itu dengan senyum menggoda.

“Dan kau juga terlihat seperti mempelai pria yang sedang melarikan diri.” balas Krystal melirik tuxedo pria itu dengan ekspresi canda.

“Oke kita satu sama.” Jawab pria bersurai pirang itu.

“Jadi apa aku boleh bergabung disini?” Lanjutnya.

“Tentu saja.”

“Jadi apa kabarmu Krys?”

“Aku baik-baik saja, sudah lama aku tidak bertemu dengan mu Sehun.”

“Ya, terakhir kali aku bertemu denganmu saat aku harus menjadi orang lalat dalam acara kencanmu dengan Jongin.”

“Ya, sudah lama sekali bukan?”

“Ngomong-ngomong kenapa aku tidak melihatmu di acara pernikahan Jongin ya tadi?”

“Eh? Masa? Mungkin karena kau datang terlalu terlambat Sehun!”

“Hehe, sepertinya begitu.”

***

 “Sehun, kau sudah tidak berusia 6 tahun lagi. Astaga!”

“Minum coklat panas dengan mint dan topping marshmallow tidak hanya dilakukan oleh bocah Jongin.” Kata Sehu sambil cemberut, memasukkan lebih banyak marshmallow pada cangkirnya.

“Terserah kau saja.” Balas Jongin akhirnya, menyerah dengan sepupu kesayangannya yang satu ini.

“Kau jadi tidak mau satu sekolah denganku?” lanjut Jongin, bertanya pada Sehun, mengalihkan topik pembicaraan.

“Hm. Sekolahmu terlalu jauh dari rumahku, aku bisa terlambat setiap hari kalau aku bersekolah disitu.” Jawab Sehun, kemudian menyesap kembali minumannya.

“Kau akan menyesal Oh Sehun! Sekolah ku memliki seragam yang benar-benar keren!” Cetus Jongin dengan semangat yang membara, bangga dengan sekolah barunya.

“Astaga!”

“Ada apa?” tanya Jongin.

Bukannya menjawab, Sehun malah buru-buru menghabiskan minumannya.

“Aku lupa mengambil seragamku hari ini!” Jawab Sehun, kemudian bangkit dan meninggalkan Jongin begitu saja dengan cangkir kosong miliknya.

“Aish dasar!” rutuk Jongin.

 

Saat pria dengan rambut pirang itu terburu-buru keluar dari kedai kopi, pintu kaca itu tiba-tiba saja terbuka sendiri, menampakkan seorang gadis dengan bola mata hazel dan sebuah kantung besar pada salah satu genggaman tangannya. Sehun melesat keluar, sedangkan gadis itu melenggang masuk ke kedai kopi itu.

***

Well, sepertinya Krystal memang bisa percaya bahwa laki-laki yang memesan coklat panas dengan mint dan tambahan topping marshmallow banyak-banyak adalah calon pendamping hidupnya.

 

-FIN-

18 thoughts on “[FF Freelance] Mint Blossom

  1. huwaa..~ nggak nyangka kalo endingnya bakal kaya gini. jadi yg dari awal mesen coklat panas dengan marshmallow itu sehun, ya angan angan yg -mungkin- jadi kenyataan
    manis walau rada shock di akhir. keren! aku suka

  2. Aaak beybi, ff ini akhirnya kepost juga hihi ><, as always gita selalu berhasil bikin cerita asik dengan gaya bahasa ala gita yang menurut w bener-bener asik, penjabarannya juga asik dan w seneng banget karena akhirnya krystal bisa ketemu sehun

  3. kaistal, diawal sestal dblkg /.\
    gpp lahh keep writing thor. ffnya keren ditunggu story nya yg lain.. pkek kaistal lagi yakk #jiwashipperkambuh*

  4. huaahh endingnya gak nyangka thor😀
    daebaak keren banget, tata bahasa nya bagus ^^
    keep writing thor, aku slalu menunnggu ff krystal yg lain😉

  5. unpredictable. huhuhu~~ my kaistal
    but, overall aku suka sama ceritanya. nyesek-nyesek manis gitu (?)
    aku juga suka penggambaran persahabatan mereka bertiga. juga penggambaran karakter soojung, yang masih bisa menerima nasib. hoho
    keep writing ^^

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s