[Ficlet] Two Names

two-names

Two Names

A fiction by Yoo

Lee Junghwan/Sandeul B1A4 – Kwan Jiyoo – Lee Jaehwan/Ken VIXX

Ficlet | General | Sad

© 2014

.

“Jangan memaksaku menghapus satu dari dua nama yang terpahat dalam diriku.”

.

– March 14th, 2014 –

Ia kembali termenung.

Tenggelam dalam pikirannya sendiri. Bibirnya terkatup. Lidahnya terasa kelu. Matanya menatap nanar sebuah bingkai foto yang dipegangnya. Sebuah foto tiga anak manusia dengan senyuman cerah terukir di setiap parasnya. Sebuah foto yang membawa dirinya kembali ke masa lalu. Mengingat kenangan yang terus bersarang dalam hati. Dan jiwanya.

Ia meremas pelan tepian bingkai. Menahan hasrat untuk menitikkan cairan bening yang membendung di kedua kelopak mata.

Tidak, ia tidak boleh menangis. Tidak lagi. Tidak akan.

Tapi sisi lain dirinya menolak. Ia harus menangis. Setidaknya untuk membebaskan secuil beban jiwa. Dan airmata pun tak bisa lagi dibendungnya. Cairan itu meleleh tanpa kuasa.

 “Jiya.”

Suara itu menyusup celah daun telinganya. Memanggil namanya dengan lembut, seperti dulu.

“Jaeya.”

Ia membalas. Tercekat. Terlalu terpaku pada sosok yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Berdiri menatapnya teduh.

Ini nyata? Benarkah yang nampak di matanya saat ini adalah sebuah kebenaran? Bukan hanya halusinasi seperti yang sering muncul beberapa bulan belakangan.

“Yooya.”

Suara lainnya kembali terdengar. Nada riang yang selalu terselip, layaknya bunyi lonceng gereja.

“Junga.”

Lagi-lagi ia membalas. Pada sosok berbeda yang kini muncul di sudut lain. Sama-sama berdiri memandangnya lurus, dengan cengiran lebar yang ia rindukan.

Seperti orang bodoh, Jiyoo tak bisa menahan derasnya bulir bening yang mendesak keluar dari balik kantung airmata. Suara tangisnya bahkan terdengar tercekat. Rasa sesak kembali menyerangnya, menimbulkan perih di dada.

“Hei, kenapa menangis?” Junghwan mengerutkan dahinya. Kendati matanya menyorotkan kekhawatiran.

Jiyoo membisu, menahan isaknya.

“Jiya, kau baik-baik saja?” Jaehwan bergerak mendekat. Mengayunkan kakinya dua langkah, sebelum terhenti dengan tangan terulur yang seolah hendak meraih sosok gadis itu.

Jiyoo masih mengatup bibir. Sekuat tenaga menahan isaknya hingga membuat dadanya semakin terasa sesak.

Tapi percuma, semakin ia menahannya semakin sesak itu menusuk. Dan ia pun menengadah, memberanikan diri mengarahkan manik cokelatnya pada dua sosok pemuda yang masih terlihat berdiri di depannya.

Dua sahabat kecilnya, yang melewati masa kanak-kanak hingga beranjak dewasa bersamanya. Yang menjadi tempatnya berbagi cerita, tawa dan tangis.

Junghwan dan Jaehwan. Dua nama yang terpatri jelas dalam jiwanya. Dua nama yang selalu ada di tiap deru napasnya. Dua nama yang mengalir dalam denyut nadinya. Dua nama yang mengisi relung hatinya sekian lama.

Dan dua nama yang menyayat batinnya begitu dalam ketika tiba saat dimana ia harus memilih.

‘Di antara kami berdua, siapa yang akan kau pilih?’

Tentu saja, Jiyoo masih ingat kalimat yang terlontar dari mulut kedua pemuda itu. Tepat di pertengahan musim gugur lalu. Awalnya ia berpikir itu hanyalah lelucon yang mereka buat, tapi mereka berdalih jika itu bukanlah sekedar candaan. Mereka serius menanyakan pertanyaan itu, mereka serius memintanya memilih satu di antara dua. Dan ketika tak ada jawaban yang terlontar dari bibirnya, mereka memutuskan memberinya jeda untuk berpikir dan tidak menemuinya hingga gadis itu menemukan jawaban pasti.

Keputusan sebelah pihak, karena Jiyoo sama sekali tidak meminta mereka untuk memberikan waktu. Bahkan hingga tidak menemuinya untuk jangka waktu yang ia sendiri pun tak tahu. Jadi, jika ia tidak lekas memberi jawaban, apakah mereka akan terus-menerus menghindarinya seperti ini?

Tidakkah mereka mengerti, ini semua  hanya membuatnya tersiksa. Tidak bisa menemui mereka, tidak bisa mendengar suara mereka, tidak bisa berbagi tawa dengan mereka. Tidakkah mereka sadar itu justru membuatnya terluka?

Jiyoo tidak bisa memilih. Bukan hanya tak sanggup, juga karena ia tidak memahami perasaannya sendiri. Keduanya memiliki arti yang sama baginya. Keduanya memiliki tempat yang sama di hatinya. Bagaimana bisa ia memilih jika keduanya ibarat oksigen yang selalu memenuhi rongga dadanya?

“Jangan memaksaku menghapus satu dari dua nama yang terpahat dalam diriku,” Jiyoo berucap, lirih. Bersamaan dengan tetesan bening yang kembali jatuh mengalir dari pelupuk mata, dan kedua sosok pemuda di depannya yang kini mulai menghilang bersama tiupan angin senja.

-FIN-

Halo!! 😀

Saya author baru disini dan ini ff pertama saya disini sebagai author tetap. Semoga bisa menikmati ff ini, walaupun sejujurnya ide dari ff ini terlalu absurd. Salam kenal & enjoy! Jangan lupa tinggalkan jejak! 😀

7 thoughts on “[Ficlet] Two Names

    • makasi udah baca & komen 😀
      wah makasi banyak buat pujiannya, baru ini cover abal saya dipuji, jadi terharu ;_; hehe. makasi banyak ya 🙂

  1. Annyeong ^^/
    Selamat bergabung di RFF, ya~
    Salam kenal. Nurul imnida, author tetap juga di sini. ^^

    Btw, FF-nya bagus banget. Sedih. Kedua cowoknya agak egois gitu, ya, maksa Jiyoo milih. Kasihan Jiyoo-nya. Tapi kalo aku jadi Jiyoo-nya, aku pilih Sandeul/Junghwan *bias *dor!

    Nice FF. Keep writing, ya~ ^^9

    • halo nurul! 😀
      salam kenal juga ya ^^
      makasi lho sudah baca ff ini, haha kalo aku jadi jiyoo juga pastinya milih sandeul dia ultimate bias sih *gelindingan*
      terimakasih dukungannya! 😀

  2. Aku suka banget cover judul nya keyen, tapii ceritaanya kurang seru nih thor entar buat ff yg selanjutny tolong dong peran utama nya hongbin sama taeyeon oke deh baiii :))

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s