Just One Day

HeenaPark

 Just One Day

 

|| Storyline by Hoyagan ||

Kim Seokjin & Bang Minah

|| AU, Sad || Ficlet ||

Inspired & Recommended song :

Bangtan Boys – Just One Day

Jin – Gone

{ First thanks for  HeenaPark helped the poster. Bangtan boys members is totally mine. I hope the genre will be true /kicks/ }

.  .  .

 

Aku hanya ingin satu hari bersama Seokjin oppa

.  .  .

 

“Yoboseyo”

 

“Oppa”

 

“Ada apa?”

 

“Kau tidak merindukanku?”

 

“Aku merindukanmu. Kau bisa hubungi aku nanti. Saranghaeyo”

 

 

PIP….

 

Sambungan terputus secara sepihak, air mata itu tidak lagi dapat dibendung. Menahan isakan tangis yang sekarang sudah memenuhi ruangan pun mustahil. Rasa rindu yang melampaui batas mendorong untuk selalu berusaha menghubungi laki-laki yang setiap harinya hanya berkata “Kau bisa hubungi aku nanti” di telepon.

 

Sudah hampir satu bulan, Seokjin –laki-laki dalam telepon itu– tidak pernah mengunjungi kamar rumah sakit yang saat ini bertuliskan nama kekasihnya di daftar pasien.

 

 

“Kau bohong” ucap gadis itu menangis.

 

“Kau tidak merindukanku, Oppa”

 

Mengungkapkan keinginan walaupun hanya dinding rumah sakit yang mampu mendengarnya. Hanya mampu menangis, sepanjang malam. Meratapi penyakit jantung kronis yang merenggut kebahagiannya membuat ia sangat takut jika Seokjin tidak pernah muncul lagi dihadapannya. Walaupun Seokjin tak sepenuhnya pergi, namun mereka hanya bertemu dalam pesan singkat yang terbatas paling lama satu jam.

 

 

Menunggu kedatangan lelaki yang ia harapkan senyum manisnya. Menunggu kedatangan lelaki yang ia harapkan pelukan hangatnya. Menunggu lelaki yang ia harapkan dapat menghiburnya disaat harus merasakan sakit yang merenggut jantungnya. Dan menunggu kedatangan lelaki yang berjanji akan bersamanya di hari terakhir untuknya nanti.

 

 

.  .  .

 

Memandangi pintu masuk stasiun kereta, ragu untuk masuk kedalamnya. Minah terpaksa harus berbohong kepada sang ibu demi bertemu dengan Seokjin. Ia memang takut jika pergi sendirian ke luar kota–karena ia selalu pergi bersama Keluarganya ataupun Seokjin.

 

Namun tekadnya yang sudah bulat membuat langkah kaki itu akhirnya menuntun untuk masuk kedalamnya, mendekati tujuan awal pergi ke Busan untuk bertemu dengan kekasihnya.

 

 

Selama berbulan-bulan Minah berada di rumah sakit, ia bahkan lupa cara bersosialisasi dengan baik. Ataupun merasa keasingan berlebih ketika menatap wajah orang-orang yang berlalu-lalang disekitarnya dan sampai menabraknya. Apa perduli, asalkan ia bisa bertemu dengan Seokjin.

 

 

 

 

Busan Town

 

Berdiri di depan sebuah gedung besar dengan ketinggian mencapai langit, gadis itu berhasil menemukan tempat yang ia cari. Memang tidak pernah salah baginya untuk memilih Seokjin sebagai lelaki yang mendampinginya. Laki-laki itu menepati ucapannya yang menyebutkan bahwa suatu hari nanti akan menjadi laki-laki berdasi, yang duduk di depan komputer dengan berkas-berkas yang akan menghasilkan uang banyak, dan ia akan membahagiakan Minah nantinya.

 

 

“Seokjin oppa, aku datang”

 

 

Tersenyum melihat gedung di langit terang, Minah mulai memasuki gedung itu mencari kebenaran yang ia harapkan. Berbicara dengan beberapa orang yang berjaga di dekat pintu masuk, senyum merekah seketika di wajah gadis itu mendengar Seokjin benar ada di dalam gedung itu.

 

Menunggu berjam-jam hingga orang yang diharapkan menampakkan diri, Minah memandangi lelaki yang sedang berbicara –tentang bisnis– disana dengan rasa bahagia yang melebihi batas. Beban dalam hatinya perlahan membaik melihat senyum Seokjin ketika sedang berbincang dengan orang-orang disekitarnya. Sampai akhirnya, manik hitam lelaki berdasi itu bertemu dengan iris penuh harapan milik gadisnya.

 

 

Setelah menjabat tangan pria paruh baya itu dan mengakhiri pertemuan mereka, Seokjin mendekati Minah yang sedang berdiri menunggu kedatangannya. Seokjin melihat mata Minah yang berbinar dari jarak dekat, hal yang sangat ia rindukan. Secara tiba-tiba menarik tangan gadis yang berniat ingin memeluknya itu. Tidak hanya terkejut, sepenuhnya Minah senang pada tangan hangat yang kini menggenggamnya. Mencairkan rasa rindu akan hal tersebut.

 

 

Seokjin membawa Minah hingga ke sebuah taman yang tak jauh disana. Masih dengan balutan jas dan kemeja yang membuat Seokjin nampak sempurna dimata Minah, kebahagiaan gadis itu sudah ia dapatkan lebih dari yang ia bayangkan sebelumnya akan terasa sulit. Seokjin berhenti melangkah, melepaskan genggaman tangannya dan berbalik menatap gadisnya yang sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Minah menangkap tatapan mata Seokjin yang tajam, dan ia berpikir bahwa Seokjin akan memeluknya saat itu juga.

 

“Untuk apa kau datang?” Bentak Seokjin sesaat menatap gadis dihadapannya. Senyum yang terukir diwajah gadis itu dengan cepat menghilang pergi, terkejut dengan sikap kekasihnya.

 

Seokjin bermaksud sangat mengkhawatirkan gadis itu. Perjalanan dari Seoul ke Busan bukan hal yang mudah untuk seseorang yang sedang sakit seperti Minah. Tapi kekasihnya itu justru membantah apa yang pernah Seokjin ucapkan padanya.

 

 

“Aku sudah mengatakan padamu akan segera pulang. Kenapa kau tetap memaksa datang?”

 

“Aku hanya ingin satu hari bersama Seokjin oppa”

 

Mencoba tetap tersenyum walaupun jantungnya berdetak kencang ketika Seokjin membentaknya. Namun sebodoh apapun Seokjin, 3 tahun mengenal Minah bukanlah waktu yang sebentar baginya untuk dapat menghafal semua tentangnya, bahkan merasakan isi hati gadis itu.

 

Sulit bagi Seokjin ketika Minah tak mengindahkan ucapannya. Mengacak rambutnya kesal, dan ingin sekali lagi meluapkan amarahnya pada gadis itu. Tetap saja, semua gagal ketika Minah mulai menitihkan air mata. Senyum kekasihnya yang selalu menjadi penenang bagi Seokjin meluluhkan hati kecil itu setiap kalinya. Lelaki itu pun memeluk gadis yang kini menangis di bahunya.

 

 

Seokjin memang merindukan Minah, sangat merindukan Minah. Tapi pekerjaan yang setiap hari datang dan tidak pernah berhenti mengharuskannya merelakan waktu untuk bertemu gadis yang sepenuhnya ia cintai itu. Terlebih Minah yang harus tinggal dirumah sakit, membuat gadis itu tidak mampu pergi menemuinya setiap hari, seperti kekasih dari rekan-rekan kerja Seokjin yang selalu datang membawa makanan ketika jam makan siang tiba.

 

Rasa takut dan cemas yang mendalam dan setiap jamnya menghantui mereka berdua tidak dapat mengalahkan kenyataan yang harus mereka hadapi dalam jarak. Minah menangis sejadinya. Membuat Seokjin mampu merasakan ketakutan yang Minah luapkan lewat tangisannya. Hanya mampu berbicara pada hatinya–

 

 

‘Aku berhasil karenamu. Meninggalkanmu sama saja seorang pengecut’

 

.  .  .

 

 

“Oppa”

 

Panggil Minah pada lelaki yang dengan senang hati memberikan bahunya sebagai sandaran. Mereka kini sedang duduk dipinggir sungai. Menikmati air yang mengalir tenang barang menunggu surya terbenam.

 

 

“Apa kau… mencintaiku?” Seokjin tersenyum mendengar pertanyaan gadisnya itu.

 

“Kau bahkan setiap malam mendapatkan jawabannya”

 

“Bukan itu…”

 

Nada bicara Minah semakin merendahkan, semakin menunjukkan rasa takutnya terhadap sesuatu yang tidak dapat Seokjin tafsirkan.

 

“Apa kau… benar-benar mencintaiku?”

 

“Kenapa kau bertanya seperti itu?” Minah menghela nafas panjang untuk menjawab pertanyaan terakhir dari Seokjin.

 

“Bebanku untuk bertemu denganmu sudah terwujud. Aku rasa, sudah tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi”

 

 

“Jika aku harus meninggalkanmu nanti, aku berharap kau tidak memaksakan kehendakmu untuk tetap mencintaiku. Aku sadar, tak selamanya aku akan berada disampingmu”

 

 

“Seperti yang pernah kau katakan, Jangan pernah memaksakan kehendakmu semampu apapun kau. Aku berharap kau melakukannya seperti biasa dirimu”

 

 

Minah menatap Seokjin hangat. Senyumnya kembali terukir kala menatap Seokjin yang hanya mampu terdiam, menahan rasa sakit dihatinya ketika Minah mengucapkan hal tadi. Seokjin tidak mungkin melepaskan Minah begitu saja, terlebih jika Tuhan yang memanggil gadisnya itu. Tapi Seokjin juga tidak mungkin melakukan apapun tentang hal ini. Sekuat tenaga hanya mampu menahan air matanya yang bersih keras ingin jatuh.

 

 

“Aku merindukan Seokjin oppa yang menyebutku Gendut ketika terpaksa harus menggendongku”

 

Minah tertawa kecil ketika mengatakan itu. Seokjin ikut terkekeh agar Minah tak menyadari kesedihannya. Tidak ada pilihan lain, yang bisa Seokjin lakukan hanya menunjukkan rasa sayangnya yang amat kepada Minah. Seokjin tersenyum dan mencium puncak kepala Minah. Kemudian bangkit sambil mengulurkan tangan pada gadisnya. Seokjin menggendong tubuh Minah yang ia rasa semakin kurus, sehingga ia pun tidak dapat menyebutkan bahwa Minah masih Gendut. Seokjin membawa Minah berkeliling sepanjang sungai yang cukup sepi sambil menggendongnya.

 

 

“Oppa” Panggil Minah lagi. Seokjin menengok kecil menandakan ia mendengarnya.

 

“Maaf, aku selalu membantah ucapanmu. Tapi, itu semua kulakukan hanya ketika aku merindukanmu”

 

“Aku berjanji, tidak akan membantah ucapanmu lagi untuk kesekian kalinya. Kau juga harus berjanji padaku untuk melakukannya”

 

Sekedar mengangguk dan tersenyum kecut, karena Seokjin yakin Minah justru akan khawatir mendengar isakannya jika ia mengucapkan barang satu kata.

 

 

“Terima kasih sudah mencintaiku selama 3 tahun. Aku pikir dengan penyakit yang aku derita ini, tidak akan mungkin ada laki-laki yang menginginkan jadi kekasihku. Karena suatu hari nanti aku pasti akan meninggalkannya”

 

“Tapi kau datang, merubah semuanya. Yakin dengan sepenuh hati mencintaiku, bahkan punya mimpi untuk memberikanku uang yang banyak. Sekarang kau sudah mendapatkannya. Kau berhasil. Itu berarti, aku tidak perlu lagi memarahimu ketika kau malas melakukan sesuatu”

 

“Dan kau telah menepati semuanya. Bahkan menepati permintaanku yang ingin bersamamu selama satu hari ini. Kau memang hebat. Tidak salah bagiku mempercayaimu. Aku Mencintaimu, Seokjin Oppa”

 

 

Minah memeluk leher Seokjin semakin erat. Menutup kedua matanya dan tersenyum menikmati wangi tubuh Seokjin yang sangat ia rindukan. Hingga lama-kelamaan, Seokjin berhenti berjalan untuk menghela nafas panjang. Merasakan tubuh Minah yang semakin memberat, dan akhirnya lagi tak lagi seperti terasa. Air matanya jatuh layak air terjun mendengar suara Minah untuk terakhir kalinya, dibalik punggungnya.

 

 

 

Aku berhasil menjadi seperti sekarang karenamu. Aku mempunyai cita-cita besar karenamu. Aku belajar mencintai dengan tulus karenamu. Sampai kapanpun aku adalah milikmu.

Bang Minah, Aku mencintaimu.

 

FIN

 

Special Thanks for everybody get da feel!

Pas nulis bagian akhir aku gatau ini bakalan sedih apa enggak karena sekaligus disetelin Video Bangtan yang bikin ngakak ;_;

Dan akhirnya kesampean juga bikin pairing ini dari tahun lalu kepengen. Sekian curhatnya. Tinggalin Komen ya….

11 thoughts on “Just One Day

  1. huaaaa! kok sedih kok nyesek kok jadi pengen nangis gini ya
    jin yang tabah ya, minah juga bahagia disana~
    keren! nice ff..

  2. Hwaa ff nya bagus 😥 sampek nangis bacanya thor, sumpah ini ff nyesek abis
    Keep writing ya thor ^_^

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s