[FF Freelance] Haeundae Beach In Love (Chapter 2 – END)

poster-haeundae-beach

|| Author : Kayot@xxoyot ||

|| Tittle : Haeundae Beach In Love part II (END) ||

|| Length : Two shoot ||

|| Rated : PG-15 ||

|| Main Casts : EXO’s Xi Lu Han and Im SeeAn (OC) ||

|| Other Casts : f(x)’s Krystal Jung, EXO’s Kim Jong In and SM Family ||

|| Theme : Romance, Angst ||

|| Previous: Chapter 1 ||

|| Credit Poster : ©CHDesign at wyfnexokingdom ||

|| Disclaimer : All casts are belong to God and their parents. Story and plot are all mine. Do not bashing and do not copy without author’s permission. ||

|| Author’s note :  Please leave your comment after you read this fanfiction^^ ||

Happy Reading *^^*~

 

***

[ Previous Part ]

Jongin dan Krystal sudah sampai di puncak Namsan Tower sekarang. Keduanya sama-sama kesal dan marah. Melihat secara dekat kejadian yang paling tidak ingin mereka berdua lihat dalam hidupnya. Dengan nafas yang masih memburu karena mereka berlari untuk sampai ke puncak tower.

 

“Im SeeAn!”

 

“Xi Lu Han!”

 

Teriak Krystal dan Jongin bersamaan. Mata mereka berempat saling berpandangan.

***

[ Part II ]

 

“Kim Jong In!”

“Krystal Jung!”

Sontak LuHan dengan sigap melepas pelukannya pada SeeAn, begitu pula dengan SeeAn, langsung memberi jarak pada LuHan.

5 menit. Ke empatnya terdiam. Terlalu shock dan larut dalam pemikiran masing-masing tentang apa yang telah di perbuat oleh LuHan dan SeeAn.

“Ehem.” Merasa suasana semakin awkward dan tidak mengenakkan, LuHan tiba-tiba berdehem, mencoba mencairkan suasana.

“SeeAn, perkenalkan ini tunanganku, Krystal Jung.” Kata LuHan sambil menunjuk yeoja berambut merah di depannya. Krystal tersenyum puas, melihat LuHan yang masih memperkenalkan dirinya sebagai tunangannya, paling tidak dia tidak berselingkuh, pikir Krystal.

“Ah? Annyeonghaseyo. Aku Im SeeAn.” Sedikit terkejut, SeeAn akhirnya memperkenalkan dirinya.

Ne, bangapseumnida. Kau? Temannya LuHan oppa?” Krystal sedikit ah, tidak, Krystal tepatnya terlalu banyak penasaran pada gadis yang sekitar 10 menit lalu berpelukan bersama tunangannya ini.

“Oh? Bukan, kami bahkan baru saja bertemu di Haeundae Beach beberapa hari yang lalu.” SeeAn tiba-tiba menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal. Bahkan sampai sekarang rasa sakit dan nyilu di hatinya masih ada. Entah apa penyebabnya.

LuHan hampir saja kaget saat SeeAn menganggapnya bukan seorang teman, lalu apa? Dia sudah terlalu banyak membantu SeeAn bukan? Bukan hanya satu atau dua kali. Saat dia minta ajari cara menggunakan kamera, makan malam dadakan itu, dan sekarang, bukankah LuHan yang sudah membawanya kesini? Jadi, dia harus berbuat kebaikan seberapa banyak lagi supaya bisa menjadi teman SeeAn? Pikir LuHan yang sudah mulai kacau sekarang.

“Lalu dia?” LuHan memicing tajam pada namja yang berada di depan SeeAn sekarang.

“Dia Kim Jong In, sahabatku.” Jawab SeeAn pada LuHan.

Oh, untunglah dia Cuma sahabat. Oh tidak! Ada apa denganku. Aku masih punya Krystal! Buru-buru LuHan menghilangkan pikiran gilanya itu dengan memeluk Krystal erat secara tiba-tiba.

DEG.

Jantung SeeAn tiba-tiba saja melemah, badannya lemas. Sakit dan perih rasanya melihat LuHan dan Krystal berpelukan di depan matanya sendiri.

Kring kring kring.

Oppa, chakkaman, ada telepon dari Amber. Mungkin dia sedang mencariku sekarang, karena tadi dia yang mengajakku kesini.” Krystal melepas pelukan LuHan.

“Baiklah.” LuHan tersenyum teduh pada Krystal. Seolah melupakan bahwa seminggu yang lalu mereka bertengkar bahkan tidak berhubungan sama sekali. Lalu Krystal menjauh sedikit dari JongIn, LuHan dan SeeAn untuk mengangkat telepon dari Amber.

“LuHan-ssi.” SeeAn memanggil LuHan.

“Ya?”

“Terimakasih sudah membantuku selama ini, aku tidak akan melupakannya. Sekarang, mungkin lebih baik aku pulang bersama JongIn saja. Sampai jumpa.” Dengan suara yang melemah dan nada suara yang rendah, SeeAn berpamitan pada LuHan, membungkuk 90 derajat padanya. Lalu turun meninggalkan tower. JongIn yang tau pasti SeeAn sedang bersedih sekarang, memasang mata yang mengarah ke LuHan tajam sebelum dia pergi menyusul SeeAn. LuHan yang juga tidak suka pada JongIn tak kalah mengeluarkan tatapan tajamnya pada namja itu.

SeeAn sedang kalut sekarang, hatinya sakit. Apa dia benar-benar jatuh cinta pada LuHan? Dia menuruni tangga tower itu satu persatu dengan lamban, badannya sangat lemas sekarang. Butiran-butiran air mata mengalir indah jatuh dari kelopak mata gadis itu. Terlalu sakit rasanya, bahkan untuk suatu hal yang dia belum tahu pasti apa penyebabnya.

JongIn berlari menuruni tangga Namsan Tower untuk menemukan SeeAn. Begitu dia sampai di bawah tower dia melihat gadis itu berjalan dengan lesu, Jongin langsung membalik tubuh gadis itu agar menghadap kearahnya. SeeAn menangis, hal paling terkutuk yang tidak ingin Jongin lihat selama hidupnya. Dia langsung memeluk erat SeeAn, yeoja yang sudah dicintainya selama bertahun-tahun. Tapi, Jongin terlalu lemah, dia tidak berani mengungkapkan perasaannya, dia takut kalau gadis itu tahu perasannya, mereka akan menjadi canggung dan tidak seakrab ini.

Tuhan, aku tahu dia tidak pernah jadi milikku, tapi aku mohon jagalah dia, berilah dia kebahagiaan dengan siapapun jodohnya nanti, doa Jongin dalam hati.

***

[1 Month Later]

 

“Apa kau yakin SeeAn-ah?” Jongin bertanya serius kepada SeeAn yang sedang mondar-mandir mengamil baju dari dalam lemarinya dan memasukkannya ke dalam sebuah koper besar berwarna tosca. Terlihat Jongin juga ikut-ikutan bolak-balik mengikuti SeeAn sambil terus bertanya.

“Kai-ah. Aku sudah besar. Aku seorang yang mandiri. Lagi pula aku di sana hanya selama seminggu, tidak lebih. Ayolah!” SeeAn menghentikan aktivitasnya lalu menatap Jongin yang terlihat ragu untuk melepas kepergiannya.

“Tapi kenapa harus ke pantai itu lagi? Bukankah tempat wisata yang lain masih banyak? Atau kau mau aku temani saja pergi kesana?” Jongin lagi-lagi bersikeras tidak membiarkan SeeAn pergi. SeeAn bilang dia ingin melepas stress, dia mengambil cuti bekerja selama satu minggu. Tapi sungguh, Jongin tidak tahu kalau tempat yang akan dikunjungi SeeAn adalah pantai itu. Pantai terkutuk itu, yang sudah membuat SeeAn menjadi pendiam selama satu bulan ini.

“Kau kenal aku sudah lama kan? Kau percaya aku kan? Aku juga butuh waktu sendiri, Kim Jongin. Bukan hanya aku, kau juga. Aku tidak ingin menjadi benalu bagimu. Aku juga ingin kita mempunyai waktu sendiri masing-masing, selama ini kita selalu berdua dan jarang sekali mempunyai waktu sendiri. Percayalah, hanya satu minggu. Aku mohon.” SeeAn meyakinkan Jongin sambil menggenggam kedua tangan Jongin.

“Tapi, aku takut kau akan bertemu namja brengsek itu lagi disana.” Jongin lagi-lagi mempunyai alasan. Dia tidak ingin SeeAn bertemu dengan namja brengsek yang sudah membuat SeeAn menangis bulan lalu. Dia tidak ingin yeoja-nya tersakiti lagi.

“Oh ayolah Kai! Waktu itu kami bertemu hanya kebetulan. Kebetulan tidak mungkin terulang dua kali, kecuali aku dan dia berjodoh, jadi kami tidak mungkin lagi bertemu disana. Dan satu lagi, namanya bukan namja brengsek.” Sangkal SeeAn sambil kembali memasukkan beberapa lembar baju ke dalam kopernya.

“Lalu siapa namanya?” Jongin memicingkan mata ke arah SeeAn. Sejujurnya, dia tidak ingin membahas namja ini lagi, apalagi bersama SeeAn. Tapi, entah kenapa kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutnya.

“Hal itu tidak penting.” Jawab SeeAn. Tanpa ia sadari kalimat itulah yang meluncur dari bibirnya. Kalimat persis yang di ucapkan LuHan saat ia menanyakan namanya. Tiba-tiba saja bayangan ia dan LuHan waktu di pantai menggerayangi pikirannya.

“SeeAn?” Jongin membuyarkan lamunan SeeAn.

Ne?” SeeAn setengah terkejut.

“Baiklah, SeeAn. Kali ini kau menang. Aku percaya padamu.”

SeeAn menutup kopernya lalu memeluk Jongin.

Gomawo, Kai.”

Cheonma.” Jongin membalas pelukan SeeAn.

***

Jam 12 siang. Saatnya jam makan siang. Semua meninggalkan aktifitas masing-masing untuk mengisi perut mereka yang sudah kelaparan sejak tadi, tak terkecuali LuHan. Dia sedang tidak ingin makan di kantin kantornya saat ini. Dia memilih makan di salah satu restoran favoritnya di daerah Gangnam, tak jauh dari rumahnya. Dia turun dari ruangannya di lantai dua dan langsung mengemudikan mobil sport favoritnya.

Setelah LuHan masuk ke restoran, matanya tertuju pada satu pemandangan yang sangat sangat tidak ingin dia lihat dalam hidupnya. Jika saat ini dia mempunyai satu permintaan, mungkin permintaannya adalah tutupi matanya dari kejadian menjijikkan itu. LuHan terdiam terpaku di depan pintu restoran. Mengamati gerak-gerik dua sejoli yang sangat ingin dia datangi detik ini juga.

Saranghae, Krystal Jung.”

Nado saranghae, Choi Minho.” Lalu Minho dan Krystal berciuman. Mereka sedang menghabiskan waktu makan siang bersama sekarang. Mereka sedang di mabuk asmara. Mereka tidak peduli bahwa ini tempat umum. Karena cinta bisa mengalahkan segalanya, termasuk rasa malu, karena mereka sekarang jadi pusat perhatian pengunjung restoran.

Krystal memicingkan matanya, lalu melepas ciumannya dengan Minho. Ya, dia menangkap sosok LuHan yang berlari meninggalkan restoran. Krystal lalu berlari untuk mengejar LuHan dan memberi penjelasan.

Oppa! Oppa!” Krystal menahan LuHan dengan cara menggapai tangan LuHan.

“Apa? Kau masih berani mendatangiku sekarang? Kau tidak malu, hah?!” LuHan melepas tangan Krystal secara kasar. Tabiat LuHan yang sangat menghargai perasaan yeoja sekarang sirna begitu saja. Dia terlalu marah, kecewa, dan emosi atas apa yang dilihatnya beberapa detik lalu.

Oppa, dengarkan penjelasanku dulu, aku mohon!”

“Penjelasan kau bilang?! Penjelasan apa lagi?! Sudah jelas sekali kau berciuman dan saling melemparkan kata cinta di restoran itu bersama namja yang aku kenal. Dan kau sangat tahu bahwa dia adalah sahabatku. Yeoja seperti apa kau ini, hah?! Dan…” LuHan meneliti ke jari-jari Krystal. Rasa kecewa LuHan sekarang berlipat-lipat ganda karena dia tidak menemukan cincin pertunangan mereka di jari Krystal.

“Mana cincin pertunangan kita?!” LuHan semakin geram dan tangis Krystal menjadi pecah. Entah apa yang ada di pikiran yeoja itu, dia menangis karena menyesal atau dia menangis karena LuHan yang sedang marah-marah seperti orang kesetanan. Karena LuHan tidak pernah semarah ini padanya, sebelumnya. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan LuHan, Krystal hanya bisa menangis.

“Oh, jika itu yang kau mau. Lihat ini.” LuHan melepas cincin pertunangannya dengan Krystal dan membuangnya ke sembarang tempat.

“Sekarang kau puas, Krystal Jung?” LuHan di titik termarahnya sekarang. Dia tidak pernah meluapkan amarahnya seperti ini sebelumnya.

Oppa.” Krystal memanggil LuHan sendu dalam tangisnya.

“LuHan! Berhenti memarahi dia. Dia tidak salah.” MinHo keluar restoran mendatangi Krystal dan LuHan. Melihat Krystal menangis, MinHo langsung membawa Krsytal ke dalam pelukannya.

“Cih. Kalian berdua sama saja. Jangan pernah menampakkan muka kalian lagi di hadapanku!” Cetus LuHan lalu pergi meninggalkan MinHo dan Krystal yang masih menangis dalam pelukan MinHo.

***

“Ingin kemana lagi kau, Xi LuHan?” Nyonya Xi melipat kedua tangannya di depan dada melihat LuHan, anaknya membawa koper besar dari kamarnya.

“Ingin mencari tunangan baru.” Kata LuHan sadar atau tidak, hanya saja kata-kata itulah yang ada di kepalanya. Jujur saja dia sangat kacau sekarang.

Mwo? Bagaimana dengan Krystal?” Nyonya Xi terkejut.

Eomma, ku mohon, mulai sekarang jangan menyebut atau membahas dia lagi. Aku sudah muak.”

“Jadi kau putus dengan dia? Lalu ingin kemana kau sekarang?”

“Haeundae beach.”

“Lagi?”

Ne. Ingin mencari tunangan baru, seperti kataku tadi.”

“Ada-ada saja kau ini. Baiklah, hati-hati di jalan, LuHan.”

Ne, eomma.”

***

Sudah 3 hari SeeAn berada di pantai ini. Dia sengaja menyewa villa milik bos-nya, Wu Yi Fan. Dia sudah mulai bisa melupakan bayang-bayang LuHan, walaupun sejujurnya sulit. Dia bahkan tidak tahu perasaan apa yang sedang menghantuinya sekarang. Tiba-tiba saja dia terus kepikiran namja itu.

SeeAn memilih melewati malam ini dengan duduk di tepi pantai. Persis dengan apa yang di lakukannya bulan lalu, di pantai yang sama. Hanya saja kemungkinan untuk bertemu dengan LuHan sekarang adalah 0 %.

Impossible.

SeeAn menuliskan kata itu dengan kayu kecil pada pasir pantai di hadapannya. Lalu meneggelamkan kepalanya di antara kedua kakinya.

“Apa yang tidak mungkin di dunia ini?” Tiba-tiba saja ada namja yang bersuara, lalu duduk disamping SeeAn.

“Lu―LuHan? Kau Xi LuHan?” SeeAn terkejut. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa namja yang menghantui pikirannya selama satu bulan ini tiba-tiba ada di hadapannya.

Great! Kau masih bisa mengingat nama lengkapku. Haha.” Lalu LuHan tertawa melihat tingkah polos SeeAn. Hanya SeeAn lah yang bisa membuat LuHan melupakan masalahnya dengan begitu cepat.

“Kau benar-benar LuHan, kan?” SeeAn masih terlihat tidak percaya.

“Ya! Tentu saja. Ini aku, Im SeeAn. Wae?”

Anhi. Hanya saja aku sangat senang. Karena, entah kenapa kau sudah memenuhi pikiranku selama satu bulan ini. Apa kau tau kenapa aku seperti ini?” Tanya SeeAn polos sambil menatap LuHan.

BABO! Secara tidak langsung kau sudah menyatakan cinta pada LuHan, Im SeeAn!

 

“Hmmm. Mungkin kau jatuh cinta padaku. Karena… Aku juga merasakan hal yang sama padamu.”

Mereka saling bertatapan. Mata mereka bertemu. LuHan kemudian mendekatkan wajahnya pada wajah SeeAn. And they’re kissing in the moonlight. Bulan, bintang dan Haeundae Beach menjadi saksi kisah cinta mereka yang rumit. Mungkin para cupid dan Ares sedang berpesta sekarang, karena berhasil menancapkan panah cinta pada dua sejoli ini.

***

Im SeeAn and Xi LuHan are in relationship right now. Setelah melewati beberapa hari di Haeundae beach, mereka pun pulang ke Seoul. SeeAn sudah mendapat jawaban dari hatinya yang kalut dan LuHan sudah mendapat tunangan yang baru, sesuai janjinya pada eomma-nya setelah dia pulang dari Haeundae beach.

Begitu sampai di apartemen-nya, SeeAn langsung mencari Kim Jongin. SeeAn ingin mentraktir Jongin untuk makan malam di salah satu restoran. Ketika SeeAn baru saja sampai di depan restoran, Jongin ternyata juga baru saja tiba.

“Hai. Selamat datang kembali, Im SeeAn.” Jongin melebarkan tangannya menghadap SeeAn. SeeAn langsung memeluk Jongin. Jongin terdiam lalu menyunggingkan senyuman di bibirnya karena SeeAn memeluknya sekarang.

“Aku sangat bahagia, Kai-ah.” Kata SeeAn sambil terus memeluk Jongin.

Wae geurae, SeeAn?”Jongin terlihat bingung.

“Aku baru saja menjadi sepasang kekasih dengan LuHan.” Kata SeeAn sumringah sambil melepas pelukan dari Jongin. Dia ingin membagi kebahagiaan bersama sahabatnya ini.

Oh tentu saja, muka Jongin berubah menjadi sendu. Siapa yang tidak sakit hati, melihat orang yang kau cintai selama bertahun-tahun ternyata sudah menjadi kekasih orang lain?

“K-kau kenapa, Kai?” SeeAn heran melihat perubahan di wajah Jongin. Bukankah harusnya Jongin ikut bahagia bersamanya? Pikir SeeAn.

A-Anhi, SeeAn-ah. Hanya saja aku tiba-tiba sakit perut sekarang. Mungkin makan bersamanya bisa kita tunda lain kali saja. Aku pergi dulu. Annyeong.” Jongin berlalu meninggalkan SeeAn yang masih heran dengan sikap Jongin.

“Ah, begitukah? Annyeong, Kai. Semoga cepat sembuh!” SeeAn sedikit berteriak karena Jongin sudah mulai berjalan jauh sekarang. Lalu SeeAn bergerak masuk menuju restoran itu sendirian.

***

3 bulan. 3 bulan sudah hubungan LuHan dan SeeAn. Dan rencananya minggu depan SeeAn dan LuHan akan melakukan pernikahan. Mereka rasa, 3 bulan sudah menjadi waktu yang cukup bagi mereka mengenal satu sama lain. Dan, sekarang saatnya mereka mengesahkan hubungan mereka di depan altar.

Selama 3 bulan juga Jongin menjaga jarak dari SeeAn. Bukan berarti dia berhenti mencintai SeeAn, mungkin rasa cintanya pada SeeAn tidak pernah habis di telan waktu, sampai kapanpun. Hanya saja Jongin tidak sanggup melihat kemesraan dari SeeAn dan LuHan. LuHan yang selalu menjemput dan mengantar SeeAn ke tempat kerja sudah membuat hati Jongin panas. Apalagi jika mereka sudah menikah nanti? Demi Tuhan, Jongin tidak sanggup melihatnya.

SeeAn bersama LuHan ingin mengantarkan undangan pernikahan mereka pada Wu Yi Fan, atasan SeeAn. Mereka berdua lalu masuk ke ruangan Wu Yi Fan.

“Selamat atas pernikahan kalian LuHan-ssi dan SeeAn-ssi. Aku pasti akan hadir pada acara pernikahan kalian nanti.” Ucap Wu Yi Fan setelah menerima undangan dari sahabat lamanya, LuHan dan karyawati kepercayaannya, SeeAn.

Ye. Xie xie, Wu Yi Fan.” Sahut LuHan menggunakan bahasa China. LuHan dan Wu Yi Fan, mereka bersahabat saat mereka masih sama-sama tinggal di China.

Geundae, tuan. Kemana Jongin? Sudah 2 hari ini aku tidak melihatnya di kantor. Telephone-nya juga tidak bisa dihubungi.” SeeAn mulai mengkhawatirkan sahabatnya, Jongin.

“Apa kau tidak tahu? Dia sudah tidak bekerja disini lagi. Dia kembali ke kampung halamannya di Busan untuk menjaga ibunya, yang sedang sakit-sakitan.” Terang Wu Yi Fan.

N-ne?” SeeAn tanpa sadar sudah menitikkan air mata. Dia tidak menyangka akan berpisah dengan Jongin. Dan, Jongin sama sekali tidak memberitahukannya. LuHan yang melihat SeeAn menangis langsung membelai pundak SeeAn, berusaha menenangkan tunangannya.

“Ah, chakkaman. Jongin menitipkan surat ini padamu. Jongin menyuruhku untuk memberikannya saat acara pernikahanmu sudah selesai, tapi, mumpung kau ada disini, lebih baik aku berikan padamu sekarang.” Ucap Wu Yi Fan, setelah mengambil surat dari laci mejanya.

Gamsahamnida, tuan.” SeeAn menerima surat Jongin itu.

***

SeeAn baru saja pulang bekerja. Setelah dia membersihkan badannya, dan bersiap untuk tidur. Dia teringat dengan surat Jongin yang di dapatnya melalui Wu Yi Fan tadi siang. SeeAn lalu duduk di ranjangnya sambil membaca surat itu.

Dear Im SeeAn.

 

Annyeong, Im SeeAn atau sekarang sudah menjadi Mrs. Xi? Selamat atas pernikahanmu dengan Xi LuHan. Aku yakin dia adalah laki-laki yang tepat, laki-laki yang memang Tuhan siapkan untukmu. Aku tidak menyangka bahwa kau mendahuluiku untuk berdiri di depan altar, hehe. Aku sekarang sudah pindah ke Busan, ibuku sedang sakit-sakitan disini. Ohiya, beliau menitipkan salam padamu. Ternyata ibuku sangat merindukanmu, Im SeeAn, hehe. Maaf aku pergi tanpa memberitahumu, karena aku tahu kau sedang sibuk menyiapkan pesta pernikahanmu. Dan aku bilang pada Wu Yi Fan agar dia menyerahkan surat ini setelah pernikahanmu, aku tidak ingin kau mengkhawatirkanku saat hari pernikahanmu nanti.Sudahlah SeeAn, jangan mengkhawatirkan aku. Aku akan hidup baik-baik disini. Kau juga harus hidup baik-baik disana bersama LuHan. Dan berikan aku keponakan yang lucu-lucu.

 

SeeAn menjeda membaca surat itu. Dia meneteskan air mata dari awal membaca surat itu. Dia merindukan Jongin. Setelah dirasa dirinya siap, SeeAn melanjutkan membaca surat itu lagi.

Hm, SeeAn. Ada satu hal yang harus kau ketahui. Aku tahu aku tidak seharusnya mengatakan ini sekarang, karena kau sudah menjadi istri orang lain. Tapi, i’m in limit. Aku sudah tidak sanggup menyimpan rahasia hati ini bertahun-tahun. Tapi aku tahu semuanya sudah terlambat. Karena aku yang terlalu pengecut.

 

Sebenarnya, aku menyukaimu SeeAn. Aku sudah menyukaimu saat kita masih di high school. Aku bahkan sudah lupa berapa lama aku menyukaimu. Yang pasti bertahun-tahun. Tapi, aku tidak mempunyai nyali yang cukup untuk mengatakannya padamu. Maafkan aku.

 

Sekarang kau sudah hidup bahagia. Tolong, jangan lupakan aku, Im seeAn. Sampai jumpa lain kali^^

 

From : Kim Jongin

 

Tubuh SeeAn melemas saat dia membaca surat dari Jongin itu. Dia langsung mengambil handphone-nya dan berjalan bolak-balik di kamarnya sambil terus mencoba menghubungi Jongin.

Babo, Kim Jongin! Babo-ya!!!”Sambil menangis, SeeAn merutuki Jongin. Tapi tetap saja, nomor Jongin sudah tidak bisa dihubungi lagi. SeeAn terduduk lemas di lantai sekarang.

“Jongin, mianhae. Jeongmal mianhae.” Sambil menangis SeeAn meminta maaf pada Jongin dan berharap Jongin mendengar permintaan maafnya. Tapi, tetap saja semua hal itu akan menjadi sia-sia.

***

[4 Month Later]

 

4 bulan sudah pernikahan antara LuHan dan SeeAn. SeeAn sedang hamil 3 bulan sekarang. Dan dia ingin sekali mengunjungi Jongin. LuHan tidak bisa mengindahkan permintaan dari SeeAn, walaupun dia takut karena LuHan tahu, Jongin mencintai SeeAn. Tapi SeeAn selalu saja merengek, dia bilang bukan SeeAn yang minta tapi bayinya. Kalau sudah seperti itu, LuHan mau tidak mau menuruti permintaan istrinya. Lalu mereka pun pergi ke Busan.

Setelah tiba di depan rumah Jongin, SeeAn langsung turun dari mobil sport LuHan, disusul oleh LuHan. SeeAn langsung memencet tombol di depan rumah minimalis milik Jongin di Busan. Seseorang membukakan pintu.

Annyeonghaseyo, omoni.” SeeAn menyapa eomma-nya Jongin. Lalu dia dan LuHan membungkukkan badan 90 derajat.

N-neo? Im SeeAn?” Eomma-nya Jongin terkejut.

N-ne. Saya Im SeeAn, omoni.” Mendengar itu, eomma-nya Jongin langsung memeluk erat SeeAn. Eomma-nya Jongin ini memang sangat menyayangi SeeAn, layaknya anaknya sendiri. SeeAn pun membalas dekapan eomma-nya Jongin.

“Dan kau? Suaminya SeeAn?” Tanya eomma-nya Jongin pada LuHan.

Nde, omoni.” LuHan mengiyakan.

“Kalau begitu silahkan masuk.”

Ne, omoni.” Kata SeeAn dan LuHan lalu mengikuti eomma-nya Jongin, masuk ke dalam rumah. Setelah LuHan dan SeeAn duduk di ruang tamu, eomma-nya Jongin memanggilkan Jongin.

Ne, eomma? Ada ap― SeeAn, LuHan?!” Jongin yang turun dari lantai dua rumahnya terkesiap melihat siapa yang sedang duduk bersama dengan eomma-nya di ruang tamu.

Annyeong, Kim Jongin.” SeeAn menyapa Jongin.

A-annyeong SeeAn dan LuHan.” Jongin yang masih terkejut mengambil tempat duduk di samping ibunya. Di depannya sudah ada pasangan LuHan dan SeeAn.

“Apa kabar, Kim Jongin?” Tanya LuHan.

“Baik. Kalian?” Jongin menatap bergantian LuHan dan SeeAn.

“Kami bertiga baik.” Jawab SeeAn.

“Bertiga?” Jongin bingung.

“Bersama keponakanmu, Kai.” SeeAn mengelus-elus perutnya.

“Kau hamil?” Jongin bertambah kaget.

Ne, hehe. Dan anda omoni? Bagaimana kabar anda? Apa anda masih sakit-sakitan?” Tanya SeeAn pada eomma-nya Jongin.

“Sudah mulai berkurang, berkat seorang dokter yang selalu rutin merawatku.”

“Selamat siang!” Tiba-tiba saja ada seorang perempuan berjas putih yang masuk tanpa persetujuan ke dalam rumah Jongin. Dari jasnya, kentara sekali bahwa dia adalah seorang dokter.

“Perkenalkan, ini dokter Victoria. Dia lah yang selama ini rutin merawat ibuku, dan dia adalah tunanganku.” Kata Jongin mengenalkan Victoria. Victoria langsung memberi salam dengan membungkuk 90 derajat pada SeeAn dan LuHan.

“Dan itu adalah LuHan, dan ini SeeAn. Mereka sahabatku saat di Seoul.” Cerita Jongin pada Victoria.

“Oh benarkah? Senang berkenalan dengan kalian.” Ucap Victoria.

“Senang berkenalan denganmu juga,Victoria-ssi.” Balas SeeAn.

“Jadi, kapan rencananya kalian akan menikah?” Tanya LuHan.

“Bulan depan.” Jawab Jongin.

“Benarkah, dimana acaranya?” Kali ini SeeAn yang bertanya.

“Di Haeundae Beach.” Jawab Victoria dan Jongin serempak.

“Mwo?!” Pekik LuHan dan SeeAn juga serempak.

Eomma-nya Jongin yang melihat itu hanya terkekeh.

――END――

 

Heyho! Gimana ending-nya? Maaf ya kalau ada yang kecewa, soalnya ini ff di tulisnya ngebut, di tengah-tengah waktu UTS. Nulisnya juga cuman 6 jam, jadi maaf kalau masih ada kalimat yang susah di mengerti T-T

Terimakasih buat kalian yang sudah meninggalkan jejak ya. Jika kalian menghargai saya, saya akan lebih menghargai kalian. Makanya saya usahakan menjawab semua comment dari kalian. Hehe. Ingat, jangan lupa comment setelah membaca<3

Ohiya, ini ada FF iseng juga yang aku buat.“Haundae Beach In Love (Kim Jongin’s side story)”. Klik aja disitu. Di FF itu bakal diceritain bagaimana perjuangan move on Jongin dari SeeAn dan juga perjalanan cinta dari Jongin dan Victoria.

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s