[Oneshot] Somewhere Without You

somewhere without you

Somewhere Without You

A fiction by Yoo

Kim Seokjin and You

Oneshot | General | Angst

©2014

.

.

“I want to life in another world, without you.”

.

.

Seoul, 2003

Gadis kecil itu berkali-kali memijat keningnya. Pandangannya mulai kabur. Kepalanya sudah terlalu pening. Namun, ia tetap memaksa matanya terfokus pada buku pelajaran yang tengah tergeletak di atas meja belajar, tepat di hadapannya. Berusaha mengeja kata demi kata, meski rasa mual mulai menyergapnya.

Sejujurnya, ia ingin sekali berhenti. Tidak membaca buku itu lagi, tidak berusaha mengeja kata-kata yang seolah sedang berputar menyebalkan di sekitar kepalanya. Tapi ingatannya tak kunjung beranjak dari kejadian siang tadi, ketika ayahnya marah besar setelah melihat hasil rapornya yang didominasi angka merah. Bukan hanya sekali itu ayahnya memarahinya atas kebodohannya, bahkan ia sudah terlalu sering menelan amukan ayahnya tiap kali gagal melafal abjad ataupun angka. Tak jarang pula, telinganya mendengar selentingan buruk dari tetangga yang membicarakan kekurangannya, mengolok anak bungsu keluarga Kim dan memandangnya seperti idiot. Hanya karena di usianya yang sudah beranjak 10 tahun ini, ia belum juga lancar membaca dan menulis, juga lemah dalam berhitung. Bahkan ia kerap salah menggambar kubus menjadi trapesium.

Pada akhirnya, gadis kecil itu kembali memfokuskan diri pada buku di depannya. Mencoba mengacuhkan sakit di kepalanya dan mual yang makin menjadi.

“Hei.”

Suara itu membubarkan fokusnya, membuat gadis kecil itu refleks menggeser matanya ke pemilik suara.

“Kau masih belajar? Ini sudah hampir jam sebelas malam,” anak laki-laki yang berselisih umur setahun di atasnya itu kini beringsut mendekat. Tampak jelas kepulan uap dari mug yang digenggamnya.

“Aku harus giat belajar, kan?”

Seokjin anak laki-laki itu tidak menggubris perkataan adik kandungnya tersebut. Lantas meletakkan mug berisi cokelat panas yang semula dipegangnya ke atas meja, lalu menutup buku pelajaran adiknya. Sontak terdengar erangan dari bibir gadis kecil itu, “Oppa!”

“Lihat dirimu, mukamu pucat seperti hantu,” Seokjin menggeser mug-nya lebih dekat pada adiknya, “minumlah, Ibu sengaja membuatkannya untukmu.”

Gadis kecil itu mengulurkan tangan mungilnya dan meraih cokelat panasnya, lantas bergumam, “Ibu belum tidur?”

“Ibu bilang akan menunggumu sampai kau selesai belajar.”

Gadis kecil itu mengangguk samar, sementara bibirnya mulai bersirobok dengan tepi mug. Ada rasa bersalah ketika mendengar kalau ibunya masih terjaga hingga selarut ini hanya untuk menunggunya selesai belajar.

Seokjin mendesah, “Jangan terlalu memaksakan diri.”

Gadis itu masih menempelkan bibirnya dengan tepian mug. Menolak untuk berkomentar.

Lagi-lagi Seokjin menghela napas pelan, “Cepat habiskan cokelatmu, lalu segera tidur. Akan kutunggu di sini sampai kau pulas. Ah, apa kau ingin kunyanyikan lagu tidur untukmu?”

Gadis itu menjauhkan mug-nya dan mulai mengerang, “Oppa, aku bukan bayi lagi. Aku  sudah kelas 4 SD.”

“Tapi di mataku kau masih terlihat seperti bayi.”

“Ugh,” gadis itu menggerutu dalam hati, lalu beralih pada cokelat panasnya lagi. Meneguknya sampai habis tak bersisa, sebelum beranjak dari kursinya menuju ranjang di sudut kiri ruang kamar. Terkadang ia sebal dengan sikap kakaknya yang selalu memperlakukannya seperti bayi, tapi tak bisa dipungkiri lagi jika ia menikmati setiap perhatian itu.

Sesuai kata-katanya tadi, Seokjin masih tidak beranjak keluar dari kamar adiknya. Ia membuntuti gadis kecil itu hingga berbaring di ranjang. Perlahan Seokjin menarik selimut hingga menutupi sebagian badan adiknya, sebelum duduk di tepi ranjang.

Oppa, keluar saja.”

“Sudah kubilang aku akan menyanyikan lagu tidur untukmu, kan?”

“Ugh, tidak perlu,” gadis itu memutar tubuhnya ke samping, berlawanan dengan Seokjin. Lalu dengan gesit menarik selimutnya hingga menutupi sekujur badan.

Ia bisa mendengar kakaknya terkekeh, dan juga bisa merasakan tepukan lembut di puncak kepalanya. Sebelum suara anak laki-laki itu mendendangkan sebuah lagu tidur.

Ia baru saja hampir terlelap ke dalam dunia mimpi, terlalu hanyut dalam alunan nada yang dinyanyikan kakaknya, ketika tiba-tiba Seokjin menghentikan lagunya dan bertanya, “Jika kau sudah besar nanti, kau ingin menikah dengan lelaki seperti apa?”

Gadis kecil itu tidak lekas menjawab. Pertanyaan kakaknya barusan terlalu sulit untuk dibayangkan. Hei, bukankah terlalu dini untuk memikirkan dengan lelaki seperti apa dirinya akan menikah nanti?

“Hei, kau sudah tidur?”

Mau tak mau, gadis itu membuka suara dari balik selimut, “Kenapa Oppa bertanya seperti itu, sih?”

“Tidak tahu,” Seokjin bergumam, “sudahlah, jawab saja.”

Butuh waktu beberapa detik hingga gadis kecil itu melontarkan jawaban.

“Seperti Oppa.”

***

Club Mansion, Hongdae

February 12th 2014

Setelah memesan vodka martini pada bartender, kau kembali melayangkan pandangan ke penjuru kelab malam tempatmu berada saat ini. Seperti biasa, kau hanya duduk sendirian di kursi bar. Menyesap batang tembakau dan menikmati sensasi asap yang masuk melewati kerongkongan sebelum keluar melalui celah hidung. Beberapa hari ini, setelah selesai bekerja di kafe milik senior kenalanmu sewaktu sekolah menengah atas, kau selalu menyempatkan diri kemari. Sekedar untuk menghilangkan beban pikiran, dan menyendiri dengan vodka martini favoritmu.

Kau mengangguk sekilas, tak lupa mengucapkan terimakasih ketika sang bartender memberikan pesananmu. Tanganmu yang bebas terulur pada gelas kaca itu, memutar-mutarnya perlahan, tanpa buru-buru meminumnya. Kau memilih membiarkan dirimu kembali hanyut dalam pikiran kacaumu.

Kembali teringat pada sosok pemuda yang selalu kau panggil kakak. Pemuda bernama Kim Seokjin. Pemuda yang dua hari lagi akan bertunangan dengan gadis yang ia sebut sebagai kekasihnya.

Tentu saja kau mengingat nama gadis itu. Jung Eunji. Gadis yang sudah dikencani Seokjin sejak tiga bulan yang lalu. Gadis yang dikenalkannya padamu sehari setelah Seokjin memintanya menjadi pacarnya. Gadis yang hampir tiap hari datang berkunjung ke rumah bersama Seokjin.

Gadis yang sebentar lagi resmi menjadi tunangan kakak laki-lakimu.

Kau mematikan rokokmu di asbak keramik yang tersedia di hadapanmu. Lalu menghabiskan vodka martini pesananmu dalam sekali teguk. Kau meletakkan gelas kaca yang telah kosong itu ke atas meja bar dengan kasar, seraya mengangkat tangan sekilas untuk memanggil bartender. Satu vodka martini tidak cukup untuk menenangkan pikiran kalutmu.

Wajah pemuda itu kembali menyusup dalam benakmu. Senyumnya, matanya, bibirnya, segala tentangnya. Seolah berputar dalam kotak ingatanmu.

Kim Seokjin. Kakak yang paling kau sayangi. Tidak, bukan hanya seorang kakak bagimu. Lebih dari itu, ia adalah sosok yang memiliki arti penting dalam hidupmu. Sosok yang selalu memberimu kekuatan untuk tetap tegap berdiri ketika dunia memandangmu rendah. Sosok yang selalu ada di sampingmu dan siap menjadi sandaran kala keterpurukan membayangimu.

Dan ia satu-satunya orang yang pertama kali memelukmu saat dokter mengklaim dirimu mengidap disleksia. Sebuah gangguan otak yang yang menyebabkan pengidapnya kesulitan dalam membaca maupun menulis serta berhitung, juga menghambat pengembangan  sistem motorik. Alasan mengapa kau selalu kesulitan dalam memahami abjad maupun angka, bahkan konsep ruang. Yang membuatmu dipandang sebagai anak idiot, mendapat cemoohan dari banyak orang, termasuk tetangga dekatmu, gurumu dan teman-temanmu, bahkan amukan ayahmu yang selalu menudingmu sebagai anak bodoh.

Kau tertawa mengejek pada orang-orang yang berbalik memandangmu bersimpati. Juga pada ayahmu yang merasa gagal menjadi orang tua yang baik. Setelah semua sikap mereka yang terus menyudutkanmu selama ini, kau tidak dengan mudah memberi maaf. Mereka yang harus bertanggungjawab penuh atas dirimu saat ini, dirimu yang berhati keras dan memandang dunia sebagai neraka.

Kau juga masih mengingat bagaimana ibumu memelukmu dengan airmata yang berurai. Merasa bersalah karena selalu bungkam setiap orang menatapmu layaknya anak yang tak seharusnya dilahirkan ke dunia.

Kini setelah kenyataan terungkap ke permukaan, semua orang yang dulunya meninggalkamu di belakang, satu per satu berbalik menghampirimu. Karena rasa iba? Tidak, kau tidak membutuhkan setitik rasa iba dari mereka.

Yang kau butuhkan hanyalah sosok Kim Seokjin. Orang yang selalu ada bersamamu. Namun, kini pemuda itu malah bersiap untuk berbalik meninggalkanmu.

Baru saja pesananmu datang, seseorang menahan tanganmu yang hendak meraih minuman beralkohol itu.

“Jangan minum lagi.”

Pemuda itu membuka suara, memandangmu serius. Namun, kau bisa melihat tatapan lelahnya.

Kau menepis tangannya cukup kasar, membuang muka dan berkata, “Kenapa kau kemari?”

Seokjin tidak menghiraukan pertanyaanmu, ia hanya mendesah pelan. “Ayo pulang.”

“Tidak mau.”

“Ini sudah larut, ayo kita pulang,” ujarnya lagi. Seokjin sempat melirik bekas rokok di asbak di depanmu. Pemuda itu lagi-lagi mendesah lambat, memejamkan kedua matanya. Mungkin terlalu lelah dengan sikapmu yang semakin menjadi belakangan ini. “Berhentilah merokok.”

Kau mendengus, “Tidak usah mengaturku. Kau bukan suamiku, Kim Seokjin.”

Seokjin hanya membisu, raut wajahnya terlalu lelah untuk sekedar membalas ucapan kasarmu.

“Pulanglah. Oppa hanya menganggu.”

Seokjin meraih lenganmu, manik legamnya meminta penjelasan dari sikapmu, “Sebenarnya ada apa denganmu?”

Sekali lagi kau menepis tangannya. Matamu berkilat penuh amarah. Berusaha kau tahan emosi yang mendadak membuncah dari dalam dadamu, mengepalkan tangan kuat-kuat dan menggertakkan rahang.

“Kenapa kau seperti ini?” tanya Seokjin lirih, memandangmu sendu.

Oppa bertanya kenapa aku seperti ini?” desismu, nyaris menjerit, “coba pikir sendiri mengapa aku seperti ini! Kau tidak pernah mengerti tentang perasaanku. Kau selalu bersikap bodoh dan berpura-pura tidak memahami apa yang kurasakan!”

“Aku tidak mengerti apa yang kau mak—“

“Sudah cukup, Oppa! Jangan bersikap seolah kau mengkhawatirkanku, dan berhenti memberiku perhatian di luar batas seorang kakak kepada adik kandungnya!” Kau kehilangan kontrol. Kau berteriak. Mengeluarkan emosimu yang sedari tadi tertahan.

“Apa yang kau bicarakan?” Seokjin memandangmu nanar.

“Mulai sekarang, berhentilah mencariku. Kau tidak perlu repot-repot mengurusi masalahku, urus saja dirimu sendiri dan juga gadismu itu.”

Kata-katamu berhasil membuat Seokjin mematung. Sementara kau berbalik dan melangkah pergi. Namun, sejenak kau berhenti, lalu menoleh ke belakang, dimana Seokjin masih berdiri membeku. Tanganmu lagi-lagi terkepal. Menahan perihnya luka di hatimu.

“Selamat atas pertunanganmu, Oppa.”

***

Piano Cafe, Hongdae

February 13th 2014

Iris cokelatmu menyusuri sudut kafe yang dulu sering kau datangi bersama Seokjin. Pemuda itu yang pertama kali mengajakmu kemari dan memperkenalkan kafe yang didominasi interior kayu namun tetap tak kehilangan nuansa elegan ini, ditambah iringan piano yang memanjakan telinga. Pernah suatu hari di saat hari ulangtahunmu yang ke-17, Seokjin membawamu kemari dan pemuda itu memainkan piano khusus untukmu. Beberapa pengunjung kala itu sempat beranggapan jika kau dan Seokjin adalah sepasang kekasih, alih-alih kakak beradik. Namun, kau buru-buru menyangkal — dengan pacu jantung yang berdegup diam-diam— ketika seorang pengunjung wanita terang-terangan memuji kepiawaian Seokjin memainkan piano dan berujar jika ia iri padamu yang memiliki pacar seromantis dirinya. Sementara Seokjin hanya tertawa renyah menanggapi komentar wanita asing itu.

Kejadian manis itu telah berlalu cukup lama, tapi masih tersimpan rapi dalam kotak memorimu. Senyummu akan merekah bak bunga di musim semi tiap kali teringat masa itu. Meski sekarang situasinya mulai berbeda. Di balik senyummu, ada rasa rindu dan keinginan untuk memutar balik waktu ke hari itu. Saat kau dan dirinya masih bisa tertawa lepas bersama. Tanpa bayang-bayang orang lain.

Kau menunduk. Merutuki diri karena membiarkan perasaan ini tumbuh lebih dalam kian hari. Perasaan yang tak selayaknya ada.

Terkadang kau merasa diliputi dosa, mencintai kakak kandungmu sendiri. Merasa cepat atau lambat Tuhan akan menghukummu. Tapi meski berkali-kali mencoba lari menjauh dari perasaan ini, kau akan kembali ke titik awal.

“Bodoh,” gumammu lirih.

Untuk sepersekian detik, suaramu tercekat ketika manik matamu menangkap sosok pemuda, yang sejak tadi menginterupsi pikiranmu, tengah berjalan memasuki pintu utama kafe. Sudut-sudut bibirnya tertarik membentuk garis lengkungan menawan. Sorot matanya terus terpaku pada gadis yang berjalan di sampingnya.

Mereka terlihat sangat bahagia, dengan senyum yang mengembang di wajah keduanya. Berbeda denganmu yang merasakan aliran darahmu membeku. Dan denyut jantungmu yang seolah berhenti berpacu.

Kim Seokjin. Ya, pemuda itu. Yang kini melingkarkan tangan jenjangnya di sekeliling pundak gadisnya, Jung Eunji.

Bodoh. Lagi-lagi kau mengumpat dalam hati, merutuk dirimu yang seperti seorang idiot.

Laki-laki itu sudah bahagia dengan gadis lain. Kau melihat parasnya yang berbinar, dengan senyuman terukir sempurna di wajah tampannya, juga sorot matanya yang memandang Eunji lembut. Sudah terlalu cukup bukti yang terpampang jelas. Seokjin bahagia dengannya. Seokjin bahagia tanpamu.

Jadi, untuk apa kau masih bertahan di sudut hampa ini? Untuk apa kau bertahan di titik yang tidak akan dijangkau olehnya? Untuk apa kau berharap ia akan berbalik, menghampirimu dan meraihmu?

Bodoh.

Kau pun mendorong kursimu ke belakang hingga menimbulkan bunyi decitan, sebelum bangkit dan melangkah cepat meninggalkan kafe itu. Kau tidak peduli ketika berpapasan dengan Seokjin maupun Eunji yang langsung membatu melihat sosokmu. Kau juga mengacuhkan gadis itu saat ia mencoba melempar senyumnya untuk menyapa. Kau pun tak menghiraukan Seokjin yang berkali-kali memanggil namamu. Kau hanya ingin segera menjauh dari tempat mereka berada.

“Berhenti!” Sayup-sayup kau mendengar suara pemuda itu dari belakang punggungmu. Kau sudah berhasil keluar dari kafe itu, ketika Seokjin berhasil menggapai lenganmu dan memaksamu menghentikan langkah.

“Lepaskan!” Kau berontak, mencoba lepas dari cengkeramannya. Tapi percuma. Tangannya terlalu kuat menahanmu.

“Tidak akan kulepas,” tegas Seokjin sembari menatapmu lekat, seolah meminta penjelasan, “sebelum kau menjelaskan alasan mengapa kau tidak pulang sejak kemarin malam!”

Kemarin setelah kau meninggalkan Seokjin di kelab, kau sama sekali tidak berniat untuk kembali ke rumah. Tidak jika kau harus melihat pemuda itu lagi di sana. Jadi, kau memilih pergi ke minimarket 24 jam nonstop sebagai persinggahan semalam. Bahkan hingga pagi menjelang, kau tetap menolak kembali ke rumah.

Kau mendesis kasar, “Bukan urusanmu!”

Yaa!”

“Sudah kubilang berhenti mencariku!” pekikmu, merutuk airmata yang kini menggenang di pelupuk mata. “Aku lelah dengan sikapmu yang seperti ini, Oppa. Bisakah kau mengacuhkanku saja? Mungkin lebih baik untukku jika kau tidak memedulikanku dan tidak memberikan perhatianmu yang berlebihan padaku. Apa kau tidak tahu sikapmu yang seperti ini malah membebaniku?!”

Tangan Seokjin yang mencengkeram lenganmu, lambat laun merenggang.

“Kau terus menyiksaku dengan perhatianmu itu,” kini kau benar-benar menangis. Tidak peduli pada beberapa sorot mata pejalan kaki yang terarah padamu. “Aku selalu berpikir untuk pergi ke tempat lain yang jauh darimu. Ke tempat dimana tidak ada kau di sana.”

Seokjin membisu. Bibirnya terkatup rapat. Irisnya menatapmu nanar. Sementara kau terus berbicara dan terisak.

“Besok kau akan bertunangan,” ujarmu lirih. Kau meringis mengingat kenyataan pahit itu. “Kau akan meninggalkanku dengan gadis lain. Gadis yang lebih cantik dariku, lebih pintar dariku, lebih bisa membahagiakanmu daripada aku. Aku tahu, pilihanmu sangat tepat, Oppa. Kau beruntung mendapat gadis sesempurna Jung Eunji. Setidaknya, dia bukan pengidap disleksia sepertiku.”

Kau bisa melihat Seokjin yang mengatupkan rahangnya kuat-kuat.

“Kau tahu, Oppa? Selama ini aku seperti orang bodoh. Oh, benar, aku memang bodoh, pengidap disleksia yang benar-benar idiot,” lagi-lagi kau tertawa getir. “Kau tahu seberapa bodohnya aku menyukaimu? Kau tahu seberapa idiotnya aku mengharapkan kakak kandungku sendiri sebagai pria yang akan menyambut tanganku di depan pendeta di hari pernikahanku nanti?”

Seokjin mematung. Mungkin saat ini jantungnya mencelos setelah mendengar tiap kata yang terucap dari bibirmu. Tiap kata yang mewakili perasaanmu yang telah lama tersimpan jauh dalam lubuk hati.

“Aku menyukaimu, Oppa,” kau mengucapkan kalimat itu amat lirih, dengan deraian airmata yang makin deras. “Aku mencintaimu, Kim Seokjin.”

Kau menunduk, menggigit bibir bawahmu kuat-kuat hingga kau bisa menyicip rasa amis dari setitik cairan merah pekat milikmu sendiri.

“Tidak perlu mencemaskan perasaanku ini. Aku tidak ingin membebanimu lagi. Aku ingin kau bahagia bersamanya di duniamu, sementara aku akan mencari kebahagiaan di duniaku sendiri. Dunia tanpamu.”

Kau membiarkan sesak memenuhi rongga dada. Tidak berusaha menengadah untuk menatap wajah kakak kandung yang kau cintai, dan berlari meninggalkannya mematung sendiri. Kau terus berlari, beberapa kali hampir menabrak pejalan kaki yang berpapasan denganmu. Hatimu mencelos saat suara pemuda itu sayup-sayup menyelinap di telingamu. Bertanya-tanya apakah ia mengejar sosokmu. Namun, suaranya yang berteriak memanggil namamu menjadi bukti jika ia tengah berlari mengejarmu.

Otakmu menyuruhmu untuk tetap berlari. Meski hati kecilmu memohon padamu untuk berhenti dan berbalik. Kali ini mana yang harus kau pilih? Menuruti akal sehatmu, ataukah mengikuti kata hati yang selama ini selalu menjerumuskanmu lebih dalam ke jurang kehampaan?

Pada akhirnya, kau memilih menuruti otakmu. Berlari menjauh dari pemuda itu.

Tapi hatimu kembali menjerit, memaksamu untuk menghentikan langkah ketika suara laki-laki itu tak terjangkau pendengaran. Seperti menghilang terbawa angin malam.

Kau melambatkan langkahmu, perlahan namun pasti, berhenti di satu titik. Dan ketika kau berbalik, tepat saat kau menggeser arah pandangmu ke belakang, suara mengerikan yang memekakan telinga membuat seluruh syarafmu mati rasa. Sorot lampu mobil itu terlalu menyilaukan mata, dan bunyi rem yang berdecit menakutkan berhasil membuat kakimu melemas hingga jatuh bersimpuh.

Untuk kesekian kalinya, cairan bening meleleh dari balik kantung airmatamu. Kali ini kau tidak berusaha untuk menyekanya. Tidak, ketika matamu tak bisa lepas dari sosok yang terbujur kaku di jalanan dengan lautan kecil berwarna merah pekat yang mengelilinginya.

***

February 14th, 2014

Pagi itu mentari menolak menampakkan diri pada dunia. Ia memilih bersembunyi di balik awan mendung yang mendominasi langit. Membiarkan rintik hujan mengguyur permukaan bumi, yang seolah menemanimu menangis dalam kesendirian.

Irismu menatap lekat pusara itu. Tempat laki-laki itu berbaring kini. Apakah ia tertidur lelap di sana?

Hari ini seharusnya menjadi hari bahagia untuk kakakmu. Hari yang sudah ditetapkan menjadi hari pertunangannya. Meski takdir berucap lain. Mengubah hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia untuk pemuda itu, menjadi hari dimana harus ia meninggalkan dunia fana.

Kau menahan isakmu, meski airmata tak ingin berkompromi dan terus mendesak keluar.

Ingatan malam itu kembali berkelebat dalam benakmu. Berputar layaknya video acak. Ketika pertengkaran kalian dimulai, ketika ia mengejarmu, ketika kau melihatnya terbaring lemah di tengah jalanan. Kejadian itu terlalu cepat, terlalu sulit untuk diterima. Kenyataan pahit ini begitu tiba-tiba dan menghantammu begitu dalam.

Seokjin yang mengejarmu kala itu, memilih berhenti ketika melihat seorang gadis cilik yang tengah berusaha menyusul anjing kecilnya yang terlepas di tengah jalan. Dan kejadian selanjutnya, begitu jelas terekam di matamu. Saat pemuda itu berusaha menyelamatkan gadis cilik itu, mendorongnya ke tepi trotoar dan tak bisa menyelamatkan dirinya sendiri dari hantaman mobil yang melaju kencang ke arahnya.

Bayangan Seokjin yang berbaring penuh darah kembali menghantam dirimu.

Kau yang mengatakan akan pergi ke dunia dimana tidak ada sosoknya, namun ia yang pergi meninggalkanmu dari dunia ini. Mengapa takdir sangat kejam?

Seseorang menyodorkan payung padamu, menutupimu dari rintikan hujan. Kau pun mendongak, mendapati Jin Hyosang —sahabat kakakmu— mengulurkan sebuah payung. “Ambillah,” ujarnya, saat kau masih bergeming di tempat, lantas menyerahkan payung itu padamu.

Hyosang menggeser manik matanya ke arah pusara putih itu. Raut mukanya tak bisa dideskripsikan. Rahangnya mengeras, sorot matanya menyiratkan keterpukulan yang amat dalam.

“Kau ingin aku membocorkan satu rahasia Seokjin padamu?”

Lagi-lagi kau menengadahkan kepala ke arah Hyosang. Kau tidak menyahut, hanya diam sambil terus menatapnya. Menunggunya melanjutkan kalimat.

“Gadis yang selama ini dia cintai bukanlah Eunji.”

“Apa katamu?”

“Seokjin menyayangi Eunji, tentu saja. Jika tidak, dia tidak akan memintanya untuk menjadi tunangannya,” Hyosang melanjutkan, kemudian menatapmu sendu dengan sebuah senyuman lemah, “tapi gadis yang mengisi hatinya bukanlah Eunji, melainkan orang lain.”

Kau tercekat, “Siapa?”

Hyosang mendesah pelan, berkata lirih sembari memandang lekat pusara sahabatnya.

“Dia mencintai adik kandungnya.”

***

Tree Shade Cafe, Gangnam

September 9th, 2013

“Kau harus segera mencari gadis lain.”

Seokjin yang semula memandang kopinya tanpa minat akhirnya mendongak. Ia melempar tatapan berisyarat meminta penjelasan dari maksud perkataan Hyosang sahabat karibnya itu yang baru saja terlontar.

Hyosang menatap pemuda itu penuh simpati. Oh, tentu ia tahu apa yang menjadi beban pikiran Seokjin. Ia bahkan bisa menebaknya dari awal. Sesuatu yang terus menggelayuti hati pemuda itu hingga membuatnya kacau.

“Kau tidak bisa terus-menerus menyimpan perasaan seperti itu pada adikmu sendiri.”

Punggung Seokjin menegak. Tangannya meremas ujung meja. Sakit. Perih itu kembali terasa di ulu hati.

Hyosang mencondongkan tubuhnya lebih dekat, memandang lekat-lekat sahabatnya itu, “Serius, Seokjina, kau harus mencari gadis lain.”

Rahang Seokjin mengeras. Ia memejamkan kedua matanya. Ya, ia mencoba meresapi kata demi kata yang Hyosang ucap. Perasaannya tidak boleh terus berkembang. Perasaannya ini bukanlah sesuatu yang seharusnya terjadi. Jika ia terus membiarkannya, cepat atau lambat ini akan membunuhnya secara perlahan. Dan mungkin saja bisa melukai hati gadis yang ia sayangi itu. Gadis yang tak lain adalah adik kandungnya sendiri.

Hanya satu pertanyaan yang masih menghantui Seokjin. Apakah ia mampu melenyapkan perasaan yang sudah ada sejak lama ini?  

“Tapi aku mencintainya, Hyosanga. Sangat mencintainya.”

-End-

FF cast Jin pertama saya, dan sengaja pengen mengangkat konflik percintaan antar saudara haha. Trus di sini saya nyempilin Eunji & Kidoh (Jin Hyosang) sebagai cameo di ff ini, er, tapi mereka juga bukan sekedar cameo sih. Ya gitulah, pokoknya semoga readers bisa menikmati karya ini, maaf kalau masih ada banyak kekurangan, dan jangan lupa tinggalkan jejak!🙂

Salam damai,

Yoo

9 thoughts on “[Oneshot] Somewhere Without You

  1. Hyosaaaaaaaang~ #salahfokus
    apapun Jin, kamu harus ketemu aku biar lurus hehe
    ga cukup banyak sih tema brother-complex tp ini kerens❤

  2. Alur yang susah ditebak
    Aku pikir juga mungkin mereka bukan adik kaka kandung
    Siapa tau bisa jadi sama sama..
    Tp ternyata jin malah pergi
    Hua sukes banget bikin gw nangis malem malem

  3. Doohhh miris.. Aaahhhh seokjinaaaa :’) saranghae, jeongmal saranghae *nggaknyambung*
    Baguss thor.. Semangat ya buat karya yg lain..
    Hehe

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s