DATING FOR 12 HOURS

DATING FOR 12 HOURS

Author: Anditia Nurul||Rating: PG-13 ||Length: Oneshot||Genre: Romance,Fluff||Main Characters: (Secret) Sunhwa & (BAP) Zelo||Additional Character: (VIXX) Sanghyuk & OCs|| DiscIaimer: ni adalah sebuah cerita fiksi. Jika ada kesamaan nama/judul/karakter/tempat/adegan dengan FF lain, hal itu tidak disengaja. Plot is mine. The characters belong to God, himself/herself, his/her parents and his/her agency||Warning: FF ini sudah diedit, tapi mungkin masih ada typo(s) yang nyempil. (Mungkin) Ada karakter yang OOC. Mohon maaf jika alurnya tidak jelas dan ceritanya membosankan. Don’t like the pairing? Don’t read! Don’t like the plot? Just stop reading dan please don’t leave a bashing.

HAPPY READING \(^O^)/

-Sunhwa’s POV-

“Tok! Tok! Tok!”

Lagi dan lagi aku mendengar suara pintu kamarku diketuk. Dan pasti pelakunya adalah Sanghyuk, adikku. Aissh, apa Sanghyuk tidak bisa menyuruh bocah itu pulang? Aku sama sekali tidak berminat untuk menemui bocah itu!

“Sunhwa Noona! Noona temui saja anak itu! Dia sejak siang tadi menunggumu!” teriak Sanghyuk.

Bocah yang kumaksud di sini adalah seorang siswa SMA berumur 17 tahun bernama Choi Zelo. Adikku, Sanghyuk, bahkan lebih tua darinya. Awalnya aku memang dekat dengan anak ini karena dia sempat menjadi salah satu pelanggan setia di warnet tempatku bekerja sampingan sebagai operator. Tapi, semuanya berubah ketika suatu hari dia mengatakan hal yang sangat-sangat-sangat menakutkan untuk kubayangkan.

-Flashback-

Seperti biasa, sepulang kuliah aku langsung bekerja di sebuah warnet yang cukup besar di sekitar rumahku. Tempatku mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan kami—aku dan adikku—sehari- hari. Tiap harinya, aku menjadi operator yang mengawasi 20 komputer. Tidak terlalu sulit melakukan pekerjaan ini. Aku hanya perlu duduk di bangku operator, menerima uang atau membantu pelanggan yang kesulitan.

Aku melirik jam yang terpasang di dinding. Astaga, sudah jam 20.47?! Aku melirik ke layar komputer khusus operator. Ah, masih ada 2 orang pelanggan, Bambam dan Zelo. Hmm, 2 bocah ini termasuk pelanggan setia di sini. Mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk bermain game online. Dasar!

“Noona-ya, berapa yang haru kubayar kali ini?” tanya Bambam. Dia sudah offline rupanya.

“3000 Won,” jawabku. Bambam segera memberikanku sejumlah uang.

“Gamsahamnida,” ucapku. Bambam tersenyum lalu berjalan menuju pintu keluar. Sekarang tinggal 1 orang lagi, Zelo.

20 menit kemudian….

“AISSH! SIAL!” Terdengar teriakan Zelo dari boks nomor 5. Hah! Pasti dia kalah bermain game. Tak lama setelah itu, Zelo offline dan berjalan menuju tempatku.

“Sunhwa Noona, berapa?” tanyanya.

“5.000 won,” jawabku. Zelo segera memberiku selembar uang 5.000 won.

“Gamsahamnida,” ucapku lagi. Hhh, sekarang aku harus bersiap-siap untuk segera pulang.

“Noona mau pulang?” tanya Zelo padaku. Aku yang sedang memasukkan buku pelajaran yang beberapa saat lalu kubaca, menoleh ke arah Zelo, lalu mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaannya.

“Mau aku antar?” tawarnya.

Aku menggeleng. “Tidak, Zelo-ssi. Gamsahamnida. Kau sudah sering mengantarku. Sebaiknya kau cepat pulang, orang tuamu pasti mencarimu,” tolakku halus. Kulihat raut wajah kecewa dari anak yang mengenakan seragam sekolah Paran High School itu. Sepersekian detik kemudian, ia mengangguk paham, lantas pamit pulang.

Aku segera mengambil tas dan buku-buku yang tidak muat lagi masuk di dalam tasku. Setelah memastikan semua komputer dalam keadaan off, aku segera keluar dan mengunci warnet ini, lalu aku beranjak ke apotek sebelah, apotik dari pemilik warnet.

“Moon Ajumma, aku sudah selesai,” kataku kepada Moon Ahjumma yang sedang duduk menjaga apoteknya. Kuserahkan kunci warnet padanya.

“Ne, gamsahamnida, Sunhwa-ya. Hati-hati, ya?!” ucap Moon ahjumma.

Aku tersenyum singkat, lalu mengangguk. “Ne, Ajumma.”

Usai pamit kepada Moon Ajumma, aku bergerak menuju halte bis. Memeluk erat 3 buah buku yang masing-masing setebal sekitar 200 halaman untuk mengurangi rasa dingin yang pelan-pelan menjalari tubuhku. Kupercepat langkahku menuju halte, berharap aku tidak ketinggalan bis.

Dari kejauhan, bis yang aku tuju telah tampak. Sepi sekali di sana. Hanya ada… seseorang yang tengah duduk di bangku halte, juga ada sebuah motor yang terparkir tidak jauh dari halte. Tapi…, tunggu dulu! Sepertinya aku mengenal seseorang itu.

“Zelo-ssi?! Apa yang kau lakukan di sini? Kau belum pulang?” tanyaku begitu tiba di halte. Benar dugaanku, orang yang aku lihat sedang duduk di bangku halte adalah Zelo.

“Aku menunggu noona…,” jawabnya, sukses membuatku terkejut.

“Menungguku? Untuk apa?” tanyaku bingung.

“Ada sesuatu yang ingin aku katakan kepada noona…,” jawab Zelo lalu berdiri dari duduknya. Aku merasa tidak punya utang pada Zelo, jadi tidak mungkin ia duduk di sini untuk menagih utang. Barang milik Zelo pun tidak ada yang ketinggalan di warnet, jadi tidak mungkin dia menanyakan hal itu. Lantas apa? Apa yang ingin dikatakan anak ini padaku?

Zelo lantas beringsut mendekatiku, membuatku mulai berpikir yang tidak-tidak. Begitu ia berdiri tepat di hadapanku, tanpa meminta izin,  Zelo meraih kedua tanganku dan menggenggamnya erat. Aku menelan ludah. Mau apa anak ini, eoh!? Dia mabuk?

“Ze-Zelo-ssi? K-Kau mau apa?, tanyaku berusaha tenang sembari menatapnya. Aku terpaksa harus mendongak karena Zelo lebih tinggi dariku. Aku sedikit takut dengan tingkahnya. Jangan-jangan dia mau—HUWAAA!!!

Zelo semakin mengenggam erat tanganku dan membuat jantungku berdegup kencang. Ditambah lagi matanya menatap mataku dengan tatapan yang hangat dan dalam. Jantungku serasa ingin melompat keluar. Zelo lantas menghela nafas panjang dan menghembuskannya, seolah ada beban yang keluar bersamaan dengan hembusan nafasnya itu.

“Sunhwa Noona…,” ucapnya menggantung. “Saranghaeyo~”

“WHAAATT???” Aku berteriak saking kagetnya. DIA? BOCAH INI MENCINTAIKU? TIDAK SALAH? Sempat kulihat Zelo terkejut karena teriakanku. “K-Kau serius??” tanyaku memastikan. Tuhan, mudah-mudahan tadi aku hanya salah dengar.

“Aku serius, Noona. Sangat serius!” ucap Zelo mantap. “Jadi…, noona mau kan menjadi kekasihku?” Aku semakin kaget. SINTING! Bocah ini sedang mabuk, overdosis narkoba atau stress karena tugas dari sekolahnya, eoh!? Bisa-bisanya dia memintaku menjadi kekasihnya! Astaga! Dia tidak sadar apa, aku ini 6 tahun lebih tua darinya.

Aku melepas genggamannya perlahan. “Mianhae, Zelo-ssi, aku tidak bisa…,” ujarku.

“Kenapa, Noona?? Aku tahu noona belum memiliki kekasih, kan?”! tanyanya sambil memegang kedua pundakku.

“Ne, tapi—” Aissh! Bagaimana aku harus mengatakannya?! Aku tidak mau karena… karena alasan usia. Astaga, apa aku harus mengatakan hal itu?

“Karena aku lebih muda dari noona. Itukah alasannya?” tebak Zelo. Ia seolah tahu apa yang sedang aku pikirkan.

“Noona, tolong jawab aku!” desaknya. Aissh! Bocah ini benar-benar!!

“IYA! ITU ALASANNYA!” sahutku, tegas.

“Aku bisa buktikan kalau aku jauh lebih dewasa dari apa yang noona bayangkan!” elaknya meyakinkanku.

“Zelo-ssi…, aku benar-benar tidak bisa, mengerti?”

“Noona! Alasan noona itu sama sekali tidak masuk akal. Memang kenapa kalau kita pacaran? Tidak ada yang salah, kan?”

“Zelo-ssi, kau belum mengerti, eoh!? Aku ini lebih tua darimu. 6 tahun lebih tua darimu! Lebih baik kau mencari gadis seusiamu, eoh!? Banyak gadis seusiamu yang jauh lebih menarik dariku.”

“Tapi, aku tidak menyukai mereka, Noona! Aku hanya menyukai Sunhwa Noona. Ayolah, Noona, tolong beri aku satu kesempatan. Aku bisa mem—” Aku tidak ingin berdebat dengan bocah ini lagi. Untunglah bis yang kutunggu telah tiba. Lebih baik aku segera naik ke bis. Yah! Mungkin aku jahat karena telah meninggalkan anak orang sendirian di halte bis. Tapi sudahlah. Toh, dia laki-laki dan sudah biasa pulang malam.

-End Of Flashback-

“Hei! Noona-ya, cepat keluar! Kau tidak kasihan pada anak itu?” teriak Sanghyun

“Iya! Iya! Suruh dia menunggu sebentar. Aku akan menemuinya,” balasku. Ugh! Dasar bocah keras kepala!! Mau apa lagi dia?

-End Of Sunhwa’s POV-

-Zelo’s POV-

Entah sudah berapa lama aku duduk di teras, menunggu Sunhwa Noona keluar dari rumahnya. Apa dia marah padaku karena kejadian beberapa hari lalu? Dia bahkan sudah 2 hari tidak masuk di warnet tempatnya bekerja. Ah, apa aku salah karena telah jatuh cinta pada wanita yang lebih tua dariku?

“CKLEK!”

Seseorang membuka pintu dan ternyata dia adalah Sunhwa Noona. Aku segera berdiri, lalu mengukir seulas senyum di wajahku.

“Kau mau apa, Zelo-ssi?” tanyanya dengan nada sinis. Sepertinya ia terpaksa menemuiku. Ah, biar saja! Yang penting aku bisa melihat wajahnya.

“Aku… aku benar-benar ingin noona menjadi kekasihku!” ucapku mantap walau awalnya aku agak ragu.

Sunhwa Noona mendengus. “Aish! Zelo-ssi, kau ini keras kepala sekali! Aku kan sudah mengatakan padamu kalau aku tidak bisa menjadi kekasihmu. Harus berapa kali aku katakan hal itu agar kau mengerti, eoh!?” sungut Sunhwa Noona.

Jebal, noona. Aku mohon. Aku menyukai noona. Aku mencintai noona. Noona harus percaya itu!” tegasku sekali lagi.

Kulihat Sunhwa Noona memutar kedua bola matanya jengah. “Hei! Sebaiknya kau pulang dan mengerjakan pekerjaan rumahmu,” usirnya. Ia hendak beranjak masuk ke dalam rumah, namun… aku segera berlutut sebelum ia benar-benar masuk.

“Sunhwa Noona,” panggilku. Ia berhenti, lantas membalik tubuhnya menghadapku. Bisa kulihat kedua matanya membulat begitu melihatku berlutut di teras rumahnya.

“Ze-Zelo-ssi, apa yang kau lakukan?!” paniknya. Ia menoleh ke kanan dan kiri, takut ada tetangga atau siapa pun yang melihatku melakukan hal ini di rumahnya, apalagi di hadapannya.

Geurae. Kalau noona tidak bisa menjadi kekasihku, bisakah noona berkencan denganku? Hanya selama 12 jam,” tawarku. Ia terlihat sedang berpikir. “Jebal, Noona. Aku ingin hari terakhirku di Seoul bisa aku habiskan bersama noona…,” tambahku. Ayolah, Noona. Tolong katakan noona bersedia.

“Hari terakhir di Seoul?!” ulangnya. “Kau mau pindah?” tanyanya.

Masih dalam keadaan berlutut, aku mengangguk. “Ne. Lusa aku akan pindah ke Incheon. Jadi, noona mau menerima permintaanku?”

Ia menghela nafas. “Hhh… Baiklah. Hanya 12 jam! Hanya 12 jam dan setelah itu kita tidak ada hubungan apa-apa lagi!” tegasnya. Berhasil!

Seketika aku langsung berdiri dengan wajah yang berseri-seri. “Besok! Besok aku menjemput noona jam 09.00 pagi.” Ia mengangguk kecil, lalu masuk ke dalam rumah dan menutup pintu.

“Sunhwa Noona…Gamsahamnida! Saranghae…!” Aku berteriak saking senangnya.

“BERISIK! DASAR BOCAH!” Tiba-tiba adik Sunhwa Noona keluar. “Kau sudah bertemu dengan noona-ku, kan!? Sana pulang!” usirnya. Bergegas aku berlari meninggalkan rumah Sunhwa Noona. Woo, dia punya adik yang galak.

-End Of Zelo’s POV-

@@@@@

-Author’s POV-

“TIIIIIIINNNN….”

Zelo membunyikan klakson motornya sebagai penanda bahwa ia sudah ada di depan rumah Sunhwa. Beberapa saat kemudian, Sunhwa keluar dari rumahnya dan menghampiri Zelo. Ketika Sunhwa tiba di hadapan Zelo, lelaki berusia 17 tahun itu malah melihat-lihat penampilan Sunhwa mulai dari ujung kaki sampai ujung kepala.

“Hei! Apa yang kau lihat, Bocah Tengik?” tegur Sunhwa. Ia merasa risih karena diperhatikan oleh Zelo.

Zelo melihat ke arah Sunhwa, tersenyum. “Kalau noona berdandan seperti ini, kita malah keliatan seumuran!” pujinya,  sementara Sunhwa hanya memutar bola matanya jengah. Ya, Sunhwa hari ini memang tampak layaknya remaja yang masih berumur belasan tahun. Loose blouse pink dengan motif kotak-kotak dan skinny jeans serta flat shoes.

“Sudahlah. Kau tidak usah berkomentar. Sebaiknya kita mulai sekarang,” balas Sunhwa ketus.

“Tapi…, sebelum mulai, aku ada satu permintaan lagi untuk noona,” ujar  Zelo.

Sunhwa mendengus. “Apa lagi, Zelo-ssi?”

“Aku… aku ingin selama 12 jam atau selama kita berkencan, noona memanggilku dengan kata ‘jagiya’ dan bersikap seolah kita benar-benar pacaran.”

“Apa? Tidak mau! Seharusnya kau bersyukur aku sudah mau memenuhi permintaanmu untuk kencan selama 12 jam. Sebaiknya kau jangan minta macam-macam lagi atau kencan selama 12 jam itu BA-TAL!” tegas Sunhwa.

Noona-ya, jebal~ Hanya 12 jam saja, Noona. Tidak lebih…,” pinta Zelo sambil menunjukkan puppy eyes-nya kepada Sunhwa. Untuk beberapa hal, Sunhwa luluh terhadap puppy eyes Zelo.

“Hhh… baiklah,” pasrah Sunhwa, sementara sebuah senyuman mengembang di wajah manis Zelo.

Zelo segera naik ke motornya, memakai helm dan menyalakan mesin. “Ayo, noona naik,” perintah Zelo. Sunhwa segera naik ke boncengan motor Zelo.

“Ugh! Dasar bocah sialan! Awas kalau nanti kau minta macam-macam lagi, tak ada ampun bagimu!” gumam Sunhwa dalam hati.

1 menit kemudian…

“Ya! Kenapa kau belum menjalankan motormu? Apa kau hanya ingin menghabiskan waktu dengan duduk di motor ini?” tanya Sunhwa kesal.

Noona lupa janji noona?” Zelo malah balik bertanya.

“Janji apa?” tanya Sunhwa, berusaha sebisa mungkin untuk menahan amarahnya. Belum cukup 10 menit bersama Zelo hari ini, tapi emosinya sudah hampir mencapai ubun-ubun.

“Bukannya noona sudah berjanji bahwa hari ini noona akan memanggilku jagiya dan bersikap layaknya orang berpacaran sungguhan?!” kata Zelo mengingatkan. Sunhwa menghembuskan nafasnya.

Jagiya, ayo kita jalan…,” ucap Sunhwa dengan nada yang sedikit dipaksakan.  Zelo menyunggingkan senyum mendengar kalimat itu keluar dari mulut Sunhwa, tapi… ia tetap belum melajukan motornya.

“Hei! Kenapa kau belum menjalankan motormu?” gerutu Sunhwa, entah untuk keberapa kalinya. Ia benar-benar jengkel pada Zelo pagi ini.

Noona belum bersikap seperti orang yang berpacaran sungguhan,” jawab Zelo.

“Lalu, apa maumu, eoh!?”

“Peluk pinggangku.”

Sunhwa melototkan matanya. “A-Ap—Aish!”

Noona sudah janji tadi. Ingat noona, janji adalah utang,” ujar Zelo.

Dengan terpaksa Sunhwa memeluk pinggang Zelo yang ramping. Zelo pun mulai senyam-senyum sendiri. “Berhasil lagi, hehehe,” tawanya dalam hati. Dengan segera Zelo menjalankan motornya.

@@@@@

Hal pertama yang mereka lakukan adalah pergi ke pusat perbelanjaan di Seoul, Myeong-dong. Dengan santainya Zelo mengenggam tangan kanan Sunhwa sambil mengayun-ayunkannya, sementara Sunhwa hanya bisa menekuk wajahnya.

“Bocah ini benar-benar membodohiku!”gerutu Sunhwa dalam hati.

Zelo dan Sunhwa kemudian masuk ke salah satu toko aksesoris. Kemudian Zelo segera berjalan menuju etalase kalung sambil tetap memegang tangan Sunhwa.

Jagiya, bagaimana menurutmu?” tanya Zelo sambil menunjukkan sebuah kalung ukir kepada Sunhwa.

“Jelek!” jawab Sunhwa sekenanya.

“O,ya? Padahal menurutku ini bagus,” kata Zelo sambil melihat kalung itu sekali lagi.

“Ah, lebih baik kalian membeli couple necklace ini~” usul sang penjual sambil memperlihatkan sebuah kalung pasangan yang terbuat dari besi putih.

“Ah, tidak. kekasihku tidak menyukainya…,” tolak Zelo. Lelaki itu lantas menarik Sunhwa keluar dari toko itu.

“Hei! Kenapa kau tidak membeli kalung itu? Bukankah kau menyukainya?” tanya Sunhwa begitu keduanya keluar dari toko. Berjalan menyusuri pelataran toko.

Ne, aku memang menyukai kalung itu. Tapi, noona mengatakan kalung itu jelek, jadi untuk apa aku membelinya!?”

-End Of Author’ POV-

-Sunhwa’s POV-

Ah! Dasar bocah! Kalau kau suka, ya beli saja! Kenapa kau mesti menuruti kata-kataku?! Lagi pula, kau berhak memiliki apa pun yang kau sukai. Ehm, kecuali AKU!

Jagiya, kenapa melihatku seperti itu?” tegur Zelo. Sial! Rupanya dia sadar bahwa sejak kita berjalan dari toko itu, aku terus memperhatikannya.

“Tidak. Tidak ada apa-apa.”

Aku dan Zelo terus berjakan-jalan di sekitar Myeong-dong sambil terus berpegangan tangan. Beberapa kali kami memasuki toko tapi keluar dengan tangan kosong. Ya, itu karena Zelo selalu mengikuti apa yang aku katakan. Hh~ dia benar-benar bocah penurut yang senang membodohi orang.

Jagiya, kita masuk ke toko itu…,” ajaknya entah untuk keberapa kalinya sambil menarikku memasuki toko yang ia maksud.

Kali ini dia melepas genggamannya, lalu pergi ke etalase parfum. Sementara aku hanya melihat-lihat jepitan rambut. Ah, bukan saatnya lagi aku memakai jepitan rambut. Ingat Sunhwa-ya, kau sudah kepala 2!

Jagiya~” panggil Zelo. Aku menoleh dan mendapati Zelo berjalan ke arahku sambil memegang sebotol parfum.

“Bagaimana menurutmu wangi parfum ini?” tanya Zelo seraya menyodorkan pergelangan tangan kanannya tepat ke depan hidungku.

Aku mencium wangi yang terdapat pada permukaan pergelangan tangannya. “Mm… wangi.”

“Ah, baiklah. Aku akan membelinya…,” ucap Zelo, lalu berjalan ke arah kasir. Kuletakkan penjepit rambut yang sempat aku pegang ke tempatnya semula, lantas menyusul Zelo. Setelah berhasil mendapatkan parfum itu,  Zelo pun mengajakku beranjak dari toko.

“Berapa sisa waktuku, Noona?” tanya Zelo ketika kami berada di luar toko. Kulihat jam tangan berwarna merah marun yang melingkar di pergelangan tangan kananku.

“Waktumu tinggal 10 jam 47 menit lagi…,” jawabku.

“Ah, masih lama…”

“Lalu kita mau kemana lagi?” tanyaku kemudian.

“Taman hiburan!” serunya. Aku mengangguk.

“Tapi, noona tunggu di sini sebentar!”

“Memangnya kau mau ke—”

Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku,  Zelo masuk ke toko  tempat ia membeli parfum. Ish! Dia mau beli apa lagi, eoh?! Aku berdiri menunggu Zelo yang entah membeli apa di dalam. Berdiri sambil melipat kedua tanganku di depan dada. Zelo-ya, cepat keluar!

Beberapa saat kemudian, Zelo keluar sambil membawa sepasang jepitan rambut berwarna ungu. Jepitan berwarna ungu yang tadi aku pegang. Uh? Tunggu! Apa… tadi Zelo melihat aku memegang benda itu, eoh!?

“Ze-zelo-ya, itu—” Tanpa meminta izin,  Zelo segera memasang 2 jepitan lucu itu di rambutku.

Noona tampak lebih cantik seperti ini…,” pujinya. Sadar atau tidak, aku merasa pipiku bersemu merah. Untuk lelaki seumuran dia, aku rasa dia cukup pandai memuji wanita.

“Ayo. Kita segera ke taman bermain~,” ajak Zelo, lantas menarikku menuju tempat ia memarkir motornya.

@@@@@

Sekitar beberapa belas menit kemudian, kami tiba di sebuah taman bermain. Aah, rasanya sudah lama aku tidak berkunjung ke tempat ini. Hari ini pun cukup ramai. Mungkin karena hari ini adalah hari Minggu. Zelo menarik tanganku, mengajakku menaiki salah satu wahana di taman ini. Kincir angin.

Setelah beberapa menit mengantri, sekarang giliranku dan Zelo untuk naik. Aku dan Zelo duduk berhadapan di dalam keranjang kincir angin. Perlahan, kincir angin ini pun berputar. Tapi aneh, Zelo tidak bertingkah seperti tadi. Sekarang dia hanya diam sambil melihat pemandangan di bawah. Dia tidak mengajakku berbicara sama sekali. Apa anak ini sedih karena besok ia akan pindah ke Incheon?

Ja-Jagiya~” panggilku. Zelo mengalihkan pandangan ke arahku. “Apa kau sakit?” tanyaku lembut.

Ia menggeleng pelan.

“Lalu kenapa kau diam saja?” tanyaku lagi. Ia menggeleng lagi, lalu menundukkan kepalanya. Hah! Terserah! Aku bodoh karena memperhatikanmu. Aissh, kenapa waktu berjalan begitu lambat??

“Maaf~,” ucapnya tiba-tiba sembari menatapku.

Aku menatapnya heran. “Untuk?”

“Karena aku memaksa noona untuk pergi denganku hari ini. Aku benar-benar minta maaf, Noona. Sepertinya aku sangat-sangat menjadi beban untuk noona. Aku hanya ingin membuat banyak kenangan bersama noona sebelum aku pindah ke Incheon…,” jelas Zelo. Dari nada bicaranya, anak ini benar-benar meminta maaf padaku.

“Kenapa kau pindah ke Incheon?” tanyaku. Ia menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.

Appa dan eomma bercerai. Aku ikut eomma ke Incheon, sedangkan kakakku bersama appa di Seoul…,” jawabnya lirih. Aaah, kasihan juga anak ini. Dia terpaksa pindah karena kedua orang tuanya bercerai. “Aku tidak ingin meninggalkan Seoul. Banyak hal yang kusukai di sini…,” tambahnya,  mengalihkan pandangannya ke arah luar. “Teman-temanku, guru-guruku, dan—” Ia mengalihkan pandangannya ke arahku, “—Sunhwa Noona,” lanjutnya. Aku sedikit merasa tidak enak saat ia menyebut namaku.

Apa aku salah karena menolak anak ini? Sepertinya dia benar-benar menyukaiku. Aku bisa melihat semua dari caranya menatapku, caranya menggenggamku, caranya berbicara padaku, semuanya menunjukkan bahwa ia sungguh-sungguh dengan perasaannya. Aissh, Zelo-ssi, kenapa kau mesti lahir setelah aku? Seandainya kau lebih tua dariku, aku pasti menerimamu.

Noona-ya?” Zelo memanggilku.

N-Ne?”

“Sekarang kenapa kau yang diam?” tanyanya. Aku menggeleng.

Zelo menghela nafas. “Baiklah, sebaiknya kita tidak usah menghabiskan waktu 12 jam itu. Noona bisa mengakhiri semuanya setelah kita tu—”

“Jangan!” Entah kenapa mulutku berkata begitu. Reflek kedua tanganku membekap mulutku.

“Ha?” Zelo menatapku aneh.

“M-Maksudku, kita habiskan saja 12 jam itu. Lagi pula, itu sudah menjadi kesepakatan kita! Tidak usah memikirkan aku. Aku akan baik-baik saja hari ini,” ucapku. Zelo mengangguk. Ya, sebaiknya aku menghabiskan 12 jam itu.

Wahana ini berhenti. Zelo keluar duluan, lalu aku. Kami berdua berjalan sejajar sambil berbicara santai menikmati suasana di taman. Tiba-tiba aku melihat sebuah bangku kosong di tepi kolam. Aku mengajak Zelo untuk duduk di bangku itu sekaligus beristirahat.

Noona tunggu disini sebentar, ya?!” pintanya begitu aku duduk.  Bocah itu lantas pergi meninggalkanku. Dia pergi kemana lagi? Aissh!

Beberapa saat kemudian,  Zelo muncul di hadapanku dengan kedua tangannya masing-masing memegang  cone es krim, coklat dan strawberry. Dia memberiku es krim strawberry. Aneh! Kenapa anak ini bisa tahu kalau aku lebih suka strawberry dibanding coklat?

“Hei! Kenapa kau bisa tahu kalau aku suka es krim rasa strawberry? Rata-rata orang kan menyukai rasa coklat?, tanyaku, lalu menjilat es krim di tanganku sebelum meleleh. Ia tersenyum ,lalu menjilat es krimnya.

“Aku hanya menebak…,” jawabnya santai.

Aku tersenyum saja mendengar jawabannya itu. “Kau mau mencobanya, hm?” Aku menyodorkan es krimku ke depan wajah Zelo. Zelo mengangguk dan mulai menjulurkan lidahnya.

“PLOK…”

“HAHAHAHAHA! Kau terlihat sangat tampan, Jagiya~” Aku sengaja mengerjainya. Cukup banyak es krim yang menempel di hidungnya yang mancung.

Noonaya,” gerutunya. Aku berusaha menahan tawaku dengan membekap mulutku tapi tidak bisa. Aissh, wajahnya saat marah sangat lucu! Oh, astaga! Akhirnya, aku bisa membalas anak ini padaku. Hahaha… astaga, Zelo-ya, wajahmu sungguh lucu.

Beberapa saat kemudian, tawaku mereda sementara Zelo berusaha mengelap es krim di hidungnya. Ia terlihat agak kesal. Hihi.

“Sini aku bantu.” Aku menolehkan wajahnya menghadapku agar aku lebih mudah membersihkan hidungnya dengan tisu. Tapi…

DEG!

Jantungku berdegup kencang. Jika dilihat lebih dekat, wajah Zelo terlihat sangat manis dan lugu. Aissh! Sunhwa-ya, apa yang kau pikirkan?

“Sudah bersih!” ucapku kasar, lantas memberikan tisu yang aku gunakan tadi kepadanya.

“Ternyata noona jahil juga,” komentarnya, lalu terkekeh. “Oh ya, jam berapa sekarang??”, tanyanya tiba-tiba. Aku melirik jam tanganku.

“11.57.”

“Mm… sebaiknya kita makan siang dulu,” sahutnya. “Noona pasti lapar, kan!?”

Aku mengangguk.

@@@@@

Zelo mengajakku makan di sebuah kafe yang katanya sering ia kunjungi bersama orang tua dan kakaknya. Sebuah kafe yang sederhana, tapi menurut Zelo, makanan di sini sangat enak dibanding restoran mahal di luar sana.

Saat aku dan Zelo memasuki kafe, alunan suara merdu dari penyanyi di kafe ini menyambut kami. Zelo mengajakku duduk di dekat panggung agar lebih menikmati lantunan lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi kafe ini. Tidak lama, seorang pelayan mendatangi meja kami dan memperlihatkan daftar menu. Aku biarkan Zelo memilihkan makanan untukku. Aku ingin tahu seperti apa selera makanannya. Setelah pelayan pergi, tiba-tiba Zelo beranjak dari tempatnya. Ia segera naik ke panggung dan membisikkan sesuatu ke telinga penyanyi cafe. Mau apa lagi anak itu?

Annyeonghaseo yeoreobeun. Nan Zelo imnida. Siang ini saya akan menyanyikan sebuah lagu untuk seorang wanita yang sangat berharga untuk saya,” ujar Zelo, lalu melirik ke arahku. Pengunjung yang ada di sekitarku pun melihatku. Aaah! Dasar bocah menyebalkan! Kau benar-benar mempermalukanku hari ini!

Perlahan mulai terdengar intro lagu yang akan dinyanyikan oleh Zelo dan…

Noona neomu yeppeo-so~ (Kakak, kau sangat cantik)
Namjadeul-i gaman andweo~” (Para lelaki tidak akan membiarkanmu sendiri)

A-apa? Anak ini—Ah, baboya! Kenapa dia malah menyanyikan lagu ini? Apa kata orang kalau tahu aku jalan dengan seorang anak SMA? Awas kau Zelo! Aku benar-benar menyesal telah menemanimu hari ini! Kau sialan!

Ama geunyeoneun naega beudang seureo eungabwa (Mungkin kau mencemaskan umurku yang muda)
Nal paraboneun nunbitchi, malhaejeujanah?” (Tapi lihat ke dalam mataku, apa yang mereka katakan padamu?)

Aku terus memperhatikan Zelo di atas panggung. Sebenarnya, suara cukup merdu walaupun tidak semerdu suara penyanyi kafe tadi. Tapi entah kenapa, aku merasa terhanyut nyanyiannya. Apa karena dia menyanyikan lagu ini untukku?

Noona neomu yeppeo (Kakak, kau sangat cantik)
Geunyereul boneun naneun michyeo (Melihatmu, aku hampir gila)
Ha hajiman ijen jichyeo (Tapi sekarang aku lelah)
Replay, replay, replay
Cheueoki nae maemeul halkweo (semua kenangan memukul hatiku)
A Apaseo ijen maemeul geochyeo (itu sangat menyakitkan ketika aku akan menambal perasaanku)
Da dagareul ibyeoli nan (mendekatnya hari yang amat penting dari selamat tinggal*?*)
Replay, replay, replay~”

Beberapa saat kemudian, ia berhasil menyelesaikan lagu itu. Setelah mengucapkan terima kasih, ia segera turun sambil terus memandangiku diiringi tepuk tangan pengunjung lain. Tidak lupa ia memamerkan senyumnya. Arrgghh! Bisa-bisanya dia turun dari panggung dengan wajah tanpa dosa!

“Bagaimana, Noona?” tanyanya sesaat setelah ia merapatkan pantatnya pada kursi di hadapanku. Ia menumpu kedua tangannya di meja untuk menopang dagunya. Dia ini sok imut atau gayanya memang begitu?

“Jelek! Jika disuruh memilih antara suara kambing dan suaramu, maka aku memilih suara kambing!” ucapku ketus.

Jeongmal? Padahal aku pernah menjadi juara 2 pada lomba menyanyi di porseni sekolah…,” ucapnya. Sejujurnya, suara Zelo memang bagus. Tapi, nanti anak ini ke-GR-an kalau aku berkata yang sebenarnya.

“Mungkin telinga gurumu rusak!” balasku. “Oh ya, lain kali, kau jangan melakukan hal seperti tadi. Kalau kau berani melakukannya lagi, kau akan merasakan ini!” ancamku sambil mengacungkan pisau yang tergeletak di atas meja.

Beberapa saat kemudian, seorang pelayan membawakan pesanan kami. 2 porsi steak dan 2 gelas rainbow juice. Dengan telaten pelayan itu menghidangkan makanan di hadapan kami.

“Anda yang menyanyi tadi, ya?” tanya pelayan itu kepada Zelo setelah ia meletakkan semua pesanan kami di atas meja. Zelo mengangguk sambil tersenyum.

“Ah~, suara Anda bagus. Mungkin lain kali Anda bisa menggantikan penyanyi café ini. Aku bosan mendengar dia menyanyi di sini…hehehe,” canda sang  pelayan. Sekali lagi, Zelo tersenyum.

Gamsahamnida~,” balas Zelo. Hah! Dia pasti GR sekarang!

Ne. Selamat menikmati,” ucap sang pelayan, lalu beranjak meninggalkan meja kami.

Zelo lantas melihat ke arahku. “Noona dengar kan kata-kata pelayan tadi? Sepertinya yang rusak adalah telinga noona…,” ucapnya lalu menyengir lebar. Grrr…

Aku menggembungkan kedua pipiku. “Sudah! Kau jangan bicara lagi dan makan saja steak-mu, mengerti?” gertakku. Ia hanya mengangguk, kemudian mulai mengiris steak-nya. Hah~

@@@@@

Tidak terasa waktu 12 jam yang aku berikan kepada Zelo sekarang tersisa 4 jam 21 menit. Sore ini kami hanya menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan di dalam sebuah mall sambil meminum softdrink.

Jagiya, bagaimana kalau kita mencoba itu.” Zelo menunjuk sebuah photobox di dekat eskalator. “Jebal, untuk kenang-kenangan…,” tambahnya. Aku mengangguk. Dengan cepat Zelo menarikku menuju photobox.

Di dalam box, aku dan Zelo menyalurkan bakat kami sebagai seorang foto model yang kurang beruntung. Begini-begini, jika aku sudah dihadapkan dengan kamera maka jiwa kenarsisanku akan keluar. Tidak peduli siapa yang memotret dan dimana aku dipotret.

“Ahh~ Noona rupanya senang berfoto juga~” ucap Zelo setelah kami mengambil gambar yang ke-9.

So what?! Kau juga begitu, kan?” balasku.

“Ehm~ untuk foto yang terakhir, aku mau foto yang mesra dengan noona…,” pinta Zelo malu-malu.

MWO? SHIREO!” bentakku. Enak saja! Aku hendak melangkahkan kakiku keluar box, tapi Zelo segera menarikku kuat-kuat dan aku langsung masuk ke dalam pelukannya.

“HEIII!!!” jeritku, lalu segera menjauhkan tubuhku darinya.

Melihat responku yang seperti itu, Zelo mengalah. “Baiklah. Kita foto biasa saja,” ucapnya pasrah.

Aku dan Zelo mulai mengambil pose lagi.

Hana… dul… set… utseyo!”

“CHUP~~”

“CKREK!”

“Gyaaa! Apa yang kau lakukan?” Marahku pada Zelo. Dasar bocah kurang ajar! Berani-beraninya dia mencium pipiku!

“Aku hanya mencium pipi noona. Waeyo? Apa tidak boleh?” ucapnya tanpa nada berdosa.

“Tentu saja tidak boleh! Arrrgghh, aku tidak mau melanjutkan ini lagi. Kau lanjutkan saja sendiri!”tegasku sambil mendorongnya sampai tubuhnya bersandar di dinding. Aku segera keluar dari box dan segera berlari menuju escalator.

Jagiya! Hei! Noona jamkanmam!” teriaknya sambil mengejarku. Aku terus berlari menuju tangga escalator.

“GREP!”

SIAL! Dia berhasil memegang tangan kananku sebelum aku melangkahkan kakiku menuruni tangga escalator. Aku segera membalik badanku dan menatapnya.

“Kau mau apa, hah? Aku kan sudah bilang, kau lanjutkan permainan ini sendiri tanpa aku! Sekarang lepaskan tanganku!” gertakku.

Beberapa orang yang hendak menuruni tangga escalator memperhatikan kami. Tiba-tiba Zelo berlutut di hadapanku sambil menundukkan kepalanya.

Mianhae. Jeongmal mianhae, Noona. Aku janji aku tidak akan mengulanginya lagi. Mianhae, Noona. Jebal~” ucapnya lirih.

Aku menjadi salah tingkah karena orang-orang di sekitarku menatapku dengan tatapan apa-yang-kau-lakukan-pada-anak-ini? Atau kau-tega-membiarkan-kekasihmu-menangis-di-tempat-umum? Atau kekasih-macam-apa-kau-ini? Arrggh! Kenapa mereka semua sepertinya menyalahkanku? Tanpa babibu aku langsung menarik Zelo ke suatu tempat.

“Hei! Kenapa kau melakukan hal bodoh itu? Kau suka mempermalukan aku, hah? Kau tidak liat orang-orang tadi berkata apa padaku?” tanyaku emosi.

Mianhae.” Hanya itu yang bisa dia ucapkan.

“Aissh! Cukup! Kali ini aku masih berbaik hati, kalau kau melakukan hal itu sekali lagi, aku tidak akan bicara denganmu lagi, mengerti?!” tegasku entah untuk keberapa kalinya. Ia mengangguk. Aku melirik jam tanganku. Sudah hampir pukul 18.00.

“Hei! Waktumu tinggal 3 jam 10 menit. Kau mau kemana lagi sekarang?” tanyaku.

“Pantai…,” jawabnya.

@@@@@

Aku dan Zelo baru saja tiba di sebuah pantai di pinggir kota Seoul. Tidak begitu ramai di sini. Hanya ada beberapa orang selain aku dan Zelo serta penjual ubi bakar. Ya, mungkin karena pantai ini letaknya di pinggiran.

Aku dan Zelo berjalan mendekati bibir pantai kemudian duduk di atas pasir putih sambil memandang ke arah pantai. Sungguh pemandangan yang sangat indah. Baru kali ini aku bisa melihat sunset lagi setelah beberapa tahun. Neomu areumdawo. Aaah, pilihan Zelo tepat. Rasanya semua kekesalanku padanya tadi seolah menghilang seiring terbenamnya matahari.

“Ubi bakar~ ubi bakar~” Seorang penjual ubi bakar berteriak menjajakan jualannya di dekat kami.

“Mm… Noona mau makan ubi bakar?” tanya Zelo kepadaku.

Ne,” jawabku singkat.

Zelo segera berdiri kemudian berjalan menuju penjual ubi bakar. Aku memperhatikannya sebentar, kemudian kembali memandangi pantai. Aneh! Kenapa aku tidak bisa marah dalam waktu lama kepada bocah ini? Bahkan pada Sanghyuk, aku kadang tidak berbicara padanya selama berhari-hari kalau ia membuatku kesal. Tapi pada Zelo? Dia berkali-kali membuatku kesal hari ini, tapi aku bisa mentolerir semuanya. Aneh, kan?

Noona~~, maaf membuatmu menunggu…,” ucap Zelo riang sambil membawa bungkusan ubi bakar yang masih panas. Zelo duduk di sampingku, kemudian meletakkan bungkusan itu diatas pasir. Setelah itu mengambil satu ubi bakar, lantas membelahnya menjadi dua bagian.

“Ini~ awas, masih panas…,” kata Zelo seraya memberiku setengah ubi bakar yang masih mengepulkan asap. Mmm..baunya membuatku tidak sabar ingin segera mencicipinya.

“Aaaw~ panas… panas… panas…,” ringisku. Ubi bakar yang tadi aku cicipi tanpa sengaja terjatuh ke atas pasir.

Noona-ya, kan tadi aku bilang masih panas. Kenapa tidak ditiup dulu?” ujar Zelo. Ia kemudian meniup-niup ubi bakar bagiannya, sementara aku hanya bisa melihat.

“Ini~ noona makan yang ini saja…,” ucapnya sambil menjulurkan ubi bakar bagiannya kepadaku. Aku melihat ubi bakar yang masih ditangannya.

“Hei! Kenapa noona hanya melihatnya. Ayo ambil…,” kata Zelo. Aku mengambil ubi bakar itu dari tangannya dan lagi-lagi aku hanya memandang ubi itu.

“Hei! Noona jangan khawatir. Nafasku tidak bau, kok!” celetuknya.

“Hei! Bukan begitu maksudku…,” balasku.

“Lalu, kenapa tidak dimakan?” tanyanya.

“Baiklah…, akan kumakan… Nyam… kau senang sekarang?” tanyaku dengan mulut penuh dengan ubi bakar. Zelo tertawa. DEG! Jantungku! Kenapa jantungku berdegup kencang lagi? Aissh. Segera aku palingkan wajahku dari Zelo sambil tetap menikmati ubi bakar pemberiannya.

Beberapa saat kemudian…

Noona-ya, jam berapa sekarang?” tanya Zelo setelah kami berdua menghabiskan 5 buah ubi bakar. Aku melirik jam tanganku.

“18.43….”

“Ah, waktuku masih tersisa 2 jam 17 menit…”

“Lalu?”

“Kita makan malam dulu…,” Aku mengangguk.

(Author: FF ini banyak adegan makannya… hehe ^^v. Sengaja sih, biar Zelo gemukan dikit setelah main di FF ini. *plak)

@@@@@

Untuk makan malam, Zelo mengajakku ke sebuah café di dekat pantai. Suasana romantis sangat terasa di café ini. Alunan biola yang dipadu dengan dentingan piano mengalun merdu. 3 buah lilin yang menyala terdapat di setiap meja. Juga beberapa tangkai mawar merah untuk menambah keindahan dekorasi meja. Terasa seperti candle light dinner… hehe.

Seorang pelayan membawakan makanan yang telah kami pesan sebelumnya. Setelah pelayan itu pergi, aku dan Zelo segera mencicipi makanan kami masing-masing. Aah, makanan ini terasa sangat lezat di mulutku. Di tambah tiupan semilir angin malam membuatku benar-benar menikmati makan malam di café ini.

Setelah hampir 20 menit waktu kami habiskan untuk makan malam, Zelo mengajakku ke tempat terakhir yang ingin dia kunjungi untuk terakhir kalinya, Sungai Han.

“Hei! Kenapa kau ingin ke sini?” tanyaku ketika kami tiba di tepi Sungai Han. Aku memegang pagar pembatas Sungai Han sambil melihat pemandang Sungai Han di malam hari. Zelo juga begitu.

“Aku hanya suka dengan tempat ini. Tiap kali aku ke sini, hatiku terasa nyaman. Karena itu, setiap hatiku terasa kacau, aku pasti datang ke tempat ini…”

“Jadi, hatimu sedang kacau sekarang?” tanyaku. Zelo menoleh padaku kemudian tersenyum.

“Tidak.”

“Heh? Tadi katamu kau datang ke tempat ini jika hatimu sedang kacau. Kenapa kau malah berkata tidak?”

Ia kemudian memandang ke Sungai Han dan dari jembatan tiba-tiba tersembur air. Hal ini yang semua warga Seoul suka dari Sungai Han. Semburan air dari jembatan itu terlihat sangat cantik apalagi di malam hari seperti sekarang.

“Aku… aku hanya ingin noona tau bahwa sekacau apapun hatiku, jika aku berada di sampingmu maka kekacauan itu hilang. Meskipun aku tidak datang ke tempat ini…,” jawabannya membuat hatiku merasa ada sesuatu yang menyerang.

Hening…

Entah sudah berapa lama waktu yang terbuang di tempat ini. Dan selama itu kami hanya diam sambil memandangi sungai han.

Aku…Aku hanya ingin noona tau bahwa sekacau apapun hatiku, jika aku berada di sampingmu maka kekacauan itu hilang”

Kata-kata Zelo itu terus berputar di kepalaku. Aaarrggh!

Noona, jam berapa sekarang?” tanya Zelo memecah keheningan.

“20.45…”, jawabku.

“15 menit lagi. Sebaiknya aku antar noona pulang sekarang…,” kata Zelo.

Waeyo? Kau tidak ingin menghabiskan 15 menit itu di sini?” tanyaku. Ia menggeleng.

“Baiklah…,” ucapku.

@@@@@

Aku dan Zelo telah tiba di depan rumahku. Sekarang sisa waktu yang dimiliki Zelo adalah 5 menit. Aku dan Zelo hanya berdiri di depan rumah, menunggu 5 menit itu habis dan semua selesai.

4 menit….

3 menit…

2 menit…

“1 menit lagi…,” ucap Zelo sambil tersenyum padaku.

Aneh! Lagi-lagi aku merasa aneh. Kenapa? Kenapa aku merasa tidak ingin waktu 12 jam itu berakhir? Aku merasa waktu 12 jam itu terlalu singkat untuk semua ini. Aku merasa ingin mengulang waktu 12 jamku yang terbuang untuk menemani Zelo hari ini. Mengapa? Mengapa perasaanku seperti itu? Perasaan apa ini?

“10… 9… 8… 7… 6… 5… 4… 3… 2… 1… selesai,” ucap Zelo.

Selesai? Semua sudah selesai?

Noona-ya, terima kasih karena noona sudah bersedia kencan denganku selama 12 jam. 12 jam ini akan menjadi 12 jam paling indah dalam hidupku. Maaf jika aku membuat noona marah. Jeongmal mianhae…,” ucap Zelo, lalu membungkuk padaku.

Ne.”Hanya itu yang mampu kuucapkan.

“Baiklah. Noona masuklah ke rumah. Di sini dingin…,” perintah Zelo.

Neo?”

“Aku akan pulang ke rumah. Eomma pasti menungguku…,” jawabnya. Ia hendak naik kembali ke atas motornya, tapi refleks tanganku meraih tangannya.

“Ada apa, Noona?” tanyanya bingung.

“Ti-tidak. Maaf. Sebaiknya kau pulang…”

Ne. Semoga lain kali kita bisa bertemu lagi, Noona…,” ucapnya sambil tersenyum, lalu melajukan motornya. Perlahan air mataku menetes dan dadaku terasa sesak. Apa yang aku rasakan?

@@@@@

Keesokan harinya seperti biasa setelah pulang kuliah aku langsung bekerja. Aku merasa hari ini beda dari hari-hari biasanya. Apa karena Zelo tidak akan pernah datang lagi ke tempat ini? Aissh, Sunhwa-ya, kenapa kau masih memikirkan bocah itu? Dia sudah di Incheon sekarang.

Eonni-ya, apa masih ada tempat yang kosong?” tanya seorang siswi SMA kepadaku. Dia terlihat sangat manis dengan potongan rambut pendeknya. Tubuhnya pun sangat tinggi untuk seorang anak perempuan. Aku melirik komputer di hadapanku.

Box nomor 5 masih kosong…,” jawabku. Biasanya box nomor 5 ditempati oleh bocah kerempeng sialan itu. Siswi itu segera berjalan menuju box nomor 5.

Waktu terus berlalu dan aku merasa sangat bosan. Aku mengutak-atik akun FB-ku. Aissh, tidak ada yang menarik. Aku mengunjungi akun twitter-ku. Aarrgghh, sama saja!

Aku… Aku hanya ingin noona tau bahwa sekacau apapun hatiku, jika aku berada di sampingmu maka kekacauan itu hilang.”

Tiba-tiba aku mengingat kembali kata-kata Zelo semalam. Hh… sepertinya aku memang merindukan bocah tengik itu. Ah! Tiba-tiba aku teringat akan jepitan yang ia belikan untukku waktu itu. Sepasang jepitan lucu berwarna ungu. Aku meraih tasku dan mengeluarkan jepitan itu. Kemudian aku memasang jepitan itu di rambutku.

Neomu yeppeo!” puji seseorang. Aku kaget dan tersipu malu. Rupanya yang memuji adalah gadis SMA tadi.

Gomawo. Mm, kau sudah selesai?” tanyaku. Dia mengangguk, lalu memberiku selembar uang 10 ribu won. Hmm…masih kembali 8.000 Won.

“Kelihatannya eonni sangat suka jepitan itu. Itu jepitan pemberian kekasih eonni?” tanyanya. Aku merasa pipiku memerah.

“Tidak. Ini pemberian temanku…,” jawabku sambil memberikan uang kembalian padanya.

Jeongmal? Berarti dia teman istimewa eonni, ya?! Eonni sepertinya sangat senang memakai jepitan itu,” komentarnya. Aissh, anak ini mau tahu saja! Seandainya dia bukan pelanggan di sini, aku pasti membentaknya. Aaah, Sunhwa-ya, sabar!!

Ne,” jawabku seadanya. Dia tersenyum kemudian pamit.

Waktu semakin cepat berlalu dan tanpa terasa sebentar lagi jam kerjaku berakhir. Uughh… hari ini benar-benar membosankan. Aku melirik komputer di hadapanku. Syukurlah… pelanggan terakhirku log off. Setelah pelanggan terakhir itu membayar, aku memastikan semua komputer dalam keadaan off. Kemudian aku segera mengambil tasku dan mengunci warnet.

Setelah semua selesai, aku berjalan menuju halte bis. Dari kejauhan terlihat seorang yeoja yang masih memakai seragam sekolah. Hei! Bukankah dia adalah siswi SMA yang tadi bertanya macam-macam padaku. Aku semakin dekat dengan halte dan benar, dia memang siswi SMA yang tadi.

“Hei! Kau masih di sini?” tanyaku kaget. Dia telah meninggalkan warnet sejak 1,5 jam yang lalu dan dia masih berdiri di halte? Apa bis menuju rumahnya tidak ada?

“Aku menunggu Eonni…,” jawabnya.

Aku mengernyit heran. “Hah? Menungguku? Kau ada perlu apa denganku?” tanyaku bingung. Sepertinya aku pernah mengalami kejadian seperti ini.

“Apa… eonni tidak mengenaliku?” Dia malah balik bertanya. Aku memandangi wajah anak ini dengan teliti. Yaah, memang wajah anak ini memang mirip seseorang. Tapi, tidak mungkin anak perempuan semanis ini adalah orang itu.

“Hei! Sebaiknya kau bilang padaku siapa dirimu sebenarnya?!” ujarku dengan nada tinggi. Dia tersenyum, lalu perlahan mendekatiku.

“Apa eonni ingat ini?”

“CHUP~”

Dia mencium pipiku dan setelah itu ia melepas rambut di kepalanya. Aigoo, ternyata itu wig?! Dan jelaslah dia sekarang. DIA TERNYATA BOCAH KEREMPENG SIALAN YANG SUKA MEMBODOHI ORANG, CHOI ZELO???!!!

“KAUUUU!!!”

Ia terkekeh. “Noona kaget, ya?!”

“Hei! Kau? Kenapa kau masih di sini? Seharusnya kau di Incheon, kan?” tanyaku kaget.

“Semua itu hanya cerita karanganku saja agar noona mau kencan denganku…,” jawabnya enteng. Dia berani membohongiku? Grrr…

“Kau—jadi orang tuamu bercerai itu juga bohong?”,tanyaku lagi. Dia mengangguk. Aisshh, anak ini benar-benar.

“Aku hanya ingin mengetes noona karena aku yakin sebenarnya noona punya perasaan yang sama sepertiku. Daaann, sepertinya aku benar. Iya kan, Han Sunhwa Noona?” tanyanya. Terbersit sedikit nada mengejek pada ucapannya itu.

“Kau

Noona sebaiknya jujur saja. Noona jangan membohongi kata hati noona sendiri, mengerti?”, nasihatnya.

Hah? Benarkah aku jatuh cinta pada anak ini? Benarkah? Mungkinkah itu sebabnya aku tidak bisa marah terlalu lama padanya? Apa itu sebabnya jantungku berdegup kencang saat aku melihatnya tertawa? Itukah penyebabnya? Itu semua disebabkan karena aku jatuh cinta padanya?

NE. AKU RASA MEMANG ITU JAWABANNYA !

Ne, aku akui. Aku mencintai Choi Zelo, bocah kerempeng sialan yang suka membodohi orang!” teriakku. Zelo tersenyum lebar, lalu memelukku erat. Dia kemudian membisikkan sesuatu di telingaku.

“Sejauh apapun jarak usia, jika cinta telah berbicara maka semua itu tidak menjadi masalah,” kata-kata itu membuat pipiku memerah.

-THE END \(^_^)/-

Anditia Nurul ©2014

-Do not repost/reblog without my permission-

-Do not claim this as yours-

-Original version is casted by (SHINee) Taemin & OC-

-Have been posted at my personal blog (noeville.wordpress.com) & School Of Fanfiction-

 

 

One thought on “DATING FOR 12 HOURS

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s