[FF Freelance] Nostalgic

1394874979781

Title: Nostalgic

Summary:

Pertemuan dan nostalgia singkat bersamanya tadi menambah satu kenangan manis di cuaca cerah pada musim semi kali ini.

Scriptwriter: beautywolf (@beautywolfff) | Main Cast: Chanyeol (EXO), f(Sulli)| Genre: Drama, Romance /? | Duration/Length: Vignette | Rating: PG-15

Disclaimer:

The idea of this fanfic is totally original by me.

Enjoy reading & cheers. No plagiarism and bash.

Comments & Likes are highly appreciated!

Check our other stories at: http://beautywolfff.wordpress.com

xoxo, stp.

***

Playlist: S.M The Ballad Vol.2 (Chen & Krystal) – When I Was…When U Were (On Repeat)

Hari ini kumpulan awan putih ditemani oleh tujuh bias warna pelangi pada langit biru. Cerah dengan semilir angin dan juga aroma lembab dari tanah basah akibat hujan semalam menyeruak diudara. Suatu awal yang bagus untuk memulai hari bagi masyarakat Seoul, Korea Selatan.

Namun sepertinya, hal ini tidak berlaku bagi Park Chanyeol.

Ia berlari keluar dari gedung apartemennya, tergesa-gesa memasukkan kunci pada lubang kontak motornya, mengenakan helm, dan kemudian memacu motor hitamnya secepat yang ia bisa. Tapi ternyata, pria jangkung dengan suara berat itu sedang tidak beruntung. Macet disana-sini membuatnya harus menurunkan kecepatan motornya. Sedikit-sedikit ia harus menurunkan kaki panjangnya sambil menggerutu dan melontarkan berbagai makian.

Park Chanyeol adalah seorang komposer muda lulusan Seoul National University atau yang biasa dikenal sebagai SNU. Chanyeol bekerja sebagai penulis lagu di sebuah perusahaan musik terkenal di Seoul, Korea Selatan.

Oh iya, hari ini Chanyeol ada rapat penting dengan produser besar, dan ia hampir terlambat. Benar-benar gawat!

.

.

Entah awan putih sedang tidak memberkati Chanyeol atau apa.

Macet di jalanan benar-benar parah! Chanyeol mengarahkan motornya ke parking spot di perusahaannya dengan kecepatan penuh, dan memaki petugas parking ticket karena bergerak terlalu lamban. Ia memarkirkan motornya sembarangan dan segera berlari masuk ke gedung perusahaan masih dengan helm yang terpasang di kepalanya beserta sarung tangannya. Keringat mengalir di pelipis Chanyeol dan tidak ada waktu baginya untuk sekedar menghapus peluh yang menetes.

Ketika ia sampai di depan lift, barulah Chanyeol ingat kalau dia belum melepas helm nya setelah mendapatkan pandangan aneh dari beberapa karyawan perusahaan. Chanyeol hanya bisa tersenyum garing sambil melepas helm dan sarung tangan yang ia kenakan.

Cobaan lain yang didapatkan Chanyeol hari ini adalah,

Ia harus berdesak-desakan di lift setelah menunggu datangnya lift selama kurang lebih 8 menit. Jangan coba-coba menyarankannya untuk naik tangga, karena dengan naik tangga hanya akan menyita waktu lebih lama. Chanyeol masih cukup cerdas untuk tidak melakukannya.

Setelah sampai di depan ruang rapat, Chanyeol menitipkan helm, sarung tangan, dan juga jaket kulitnya pada resepsionis yang menjaga di dekat pintu.

“Kenapa bisa terlambat sih?” tanya sang resepsionis-yang kebetulan, memang sudah kenal dengan Chanyeol.

“Jalanan macet total!” jawab Chanyeol, kali ini ia memberi dirinya sedikit waktu untuk menata penampilannya sebelum masuk ke ruang rapat.

“Cepat masuk! Rapat sudah dimulai sejak 15 menit yang lalu!”

.

.

Beruntungnya, tanah basah masih berpihak pada Chanyeol.

Produser besar itu masih mau bekerja sama dengan Chanyeol, pria paruh baya bernama Lee Sooman itu dengan besar hati memaklumi keterlambatan Chanyeol. Lagu-lagu yang dibuat Chanyeol susah payah beberapa bulan belakangan akhirnya tidak berakhir sia-sia. Lee Sooman mau membelinya dengan harga fantastis untuk dinyanyikan oleh artis perusahaannya sebagai soundtrack drama yang sedang ia produksi. Rapat hari ini berjalan mulus dan itu artinya Chanyeol akan mendapatkan bonus yang sangat besar pada gajinya bulan ini!

***

Pagi ini langit cerah dengan matahari yang mamancarkan sinarnya dengan semangat. Burung-burung berkicau dengan merdu seakan baru saja mendapatkan cacing besar untuk dimakan hari ini. Pohon sakura yang tumbuh di pekarangan gedung apartemen Chanyeol memekarkan bunganya. Angin sepoi-sepoi membawa serbuknya masuk ke jendela kamar Chanyeol yang tidak tertutup rapat.

Hari ini Chanyeol bangun dari tidur lelapnya dengan senyum yang mengembang secerah langit di luar sana. Hari ini cuaca bagus dan hari ini gaji Chanyeol keluar! Itu artinya ia bisa mebeli onderdil baru untuk ‘si hitam’—nama panggilan motor yang memang berwarna hitam kesayangannya.

Chanyeol bangun dari tempat tidur dan segera merapikan seprei kasurnya, melipat selimut dan menata kembali bantal gulingnya. Suatu hal yang sangat jarang sekali dilakukan oleh Chanyeol. Ia pergi keluar kamar dan kemudian melakukan ritual paginya yaitu, mandi dan sarapan pagi.

Masih dengan senyum lebar khas Chanyeol, ia mengenakan jaket kulitnya sambil menunggu lift bergerak turun ke basement—tempat dimana ia memarkirkan ‘si hitam’. Chanyeol mengenakan sarung tangan dan helm nya, kemudian menyalakan mesin dan melenggang pergi dari gedung apartemen nya. Bergabung dengan serbuk bunga yang bergerak bebas tertiup semilir angin musim semi.

Bilik dengan mesin ATM itu sudah di depan mata, Chanyeol hanya harus menunggu 99 detik lampu merah di pertigaan jalan dan ia akan segera sampai ke tempat mesin penyimpan uang itu. Para pejalan kaki yang bergerombol di sudut mulai melangkahkan kakinya, berjalan melewati aspal dengan garis-garis putih yang sudah memudar.

Seorang gadis dengan perawakan tinggi langsing berjalan di depan Chanyeol yang sedang memperhatikan digit angka di lampu merah. Chanyeol mengalihkan perhatiannya ke gadis yang berjalan melewainya barusan, sempat melongo karena pasalnya gadis itu terlalu familiar di mata pria jangkung itu. Ekor mata Chanyeol terus mengikuti gadis dengan sweater berwarna merah muda itu.

Mungkinkah dia…

Sebelum sempat Chanyeol menyelesaikan pikirannya, lampu merah sudah berganti hijau. Mau tidak mau Chanyeol menyalakan motornya dan berlalu pergi.

Ah tidak, mungkin aku salah orang. Putus pikirannya.

.

.

Senyum Chanyeol lenyap begitu saja saat ia menatap layar mesin ATM dan mengetahui gajinya belum masuk. Ia mengeluarkan ponsel, mengecek tanggal hari ini. Chanyeol memang tidak salah, hari ini tanggal 8 pukul 11 siang lebih 17 menit. Harusnya gajinya sudah masuk mulai jam 10.

Kesal, Chanyeol menekan-nekan ponsel nya dengan kasar, menekan tombol hijau pada sebuah nama staff keuangan.

Yoboseyo” sapa Joonmyeon di sebrang sana, suara berisik percakapan orang-orang mejadi latar pembicaraan mereka berdua.

“Ya Joonmyeon-ssi kenapa gaji ku belum masuk hah? Sekarang tanggal 8 dan seharusnya gajiku sudah masuk semenjak 1 jam yang lalu!” bukannya menyapa balik, Chanyeol langsung membrondong Joonmyeon dengan sederet kalimat protes.

Jeosonghabnida Park Chanyeol-ssi, mesin ATM yang digunakan untuk mentransfer gaji para karyawan sedang error. Kami masih berusaha mentransfer nya lewat mesin ATM yang lain. Tapi ternyata diluar sangat macet. Mungkin gajimu baru akan masuk sekitar pukul 3.” Walaupun sudah di protes begitu, Joonmyeon tetap menjawab dengan nada tenang dan sedikit nada bersalah.

Arraseo!” Suasana hati Chanyeol sudah terlanjur buruk, jadi ia tidak mau berkata apa-apa lagi.

Kesal, Chanyeol memasukkan kembali kartu ATM nya ke dompet dengan kasar, ia membuka pintu bilik dengan kaki panjangnya, sedangkan satu tangannya sibuk memasukkan dompetnya kembali ke saku jeans belel yang ia kenakan hari ini. Chanyeol sempat terkejut saat ia mendapati seorang gadis menunggunya keluar dari bilik. Gadis itu tampak sibuk dengan ponsel yang ia mainkan. Entah Chanyeol baru ngeh atau apa, tiba-tiba saja ia berkata “Choi Sulli?” dan gadis yang mengenakan sweater berwarna merah muda itu mendongak menatap kedua manik coklat milik Chanyeol dengan ekspresi terkejut.

.

.

Chanyeol tidak pernah mengira kalau ia akan bertemu dengan mantan kekasihnya di bilik mesin ATM saat ia sedang kesal menunggu gajinya yang tak kunjung keluar.

Yep, gadis yang terlalu familiar itu ternyata Choi Sulli, mantan kekasih Chanyeol saat di perguruan tinggi.

Dan saat ini mereka duduk berhadap-hadapan dengan pesanan mereka masing-masing di McDonald yang letaknya ada disebrang bilik mesin ATM.

Sulli masih terlihat sama seperti yang ada dalam ingatan Chanyeol. Wajah cantiknya masih sama, bibir tebal yang dulu sangat ia sukai itu juga masih sama. Hanya saja yang berbeda, rambut hitam panjang Sulli yang dulu sudah dipotong pendek dan dicat dengan warna coklat gelap.

Sulli tetap terlihat anggun seperti biasanya dengan sweater merah muda yang dipadukan rok pendek hitam dan tas tangan cantik berwarna ungu.

“Bagaimana kabarmu Sulli-ya?” ucap Chanyeol, memecah hening diantara mereka.

“Aku baik-baik saja Oppa. Kau sendiri?” jawab Sulli, dengan senyum lebar yang menjadi kesukaan Chanyeol.

“Aku juga baik-baik saja. Ngomong-ngomong, bagaimana kuliahmu?” Chanyeol berusaha menghilangkan rasa gugupnya dengan mulai memakan french fries yang tadi ia pesan.

“Skripsiku tertunda karena shooting drama kemarin. Aku sedang berusaha keras untuk menyelesaikannya dalam tahun ini.” Jawab Sulli sambil cemberut, kemudian mengikuti Chanyeol, ia mulai menyendok McFlurry miliknya.

“Baguslah.” Sahut Chanyeol singkat, tidak tahu harus berkomentar apa.

Waktu itu Chanyeol adalah mahasiswa jurusan Musik, sedangkan Sulli adalah mahasiswi jurusan Acting. Chanyeol adalah seorang senior tampan plus jenius yang terkenal di kampusnya, sedangkan Sulli adalah mahasiswi baru yang menarik perhatian seluruh pria di SNU, termasuk Chanyeol. Dan pada akhirnya memang Chanyeol-lah yang memenangkan hati Sulli. Mereka berdua berkencan cukup lama. Mereka berdua menjadi pasangan yang ditatap iri oleh orang lain.

“Sulli-ya.” Panggil Chanyeol.

“Ehm?”

Ragu-ragu Chanyeol akhirnya bersuara lagi, “Aku dengar kau berkencan dengan Choi Minho karena drama itu.”

Mendengar pertanyaan Chanyeol, Sulli hanya bisa tersenyum kemudian tertawa. “Jangan terlalu sering menonton acara gossip Oppa. Itu tidak benar.”

Chanyeol diam mendengar respon Sulli. Ada sedikit perasaan lega di dalam hatinya, kemudian Chanyeol meringis. Menampakkan deretan gigi putihnya.

Oppa.” Kali ini gantian Sulli yang memanggil Chanyeol.

“Ya?”

“Aku juga ingin makan french fries.” Kata Sulli dengan cengiran lebar.

Akhirnya mereka berdua membagi makanan yang mereka pesan sambil mengobrol. Menanyakan kabar satu sama lain dan bercerita hal-hal tidak penting yang telah dilewatkan oleh satu sama lain. Sulli bercerita mengenai adiknya yang ingin sekarang sudah berusia 6 tahun dan keluh kesahnya karena sibuk shooting film/drama. Sedangkan Chanyeol lebih banyak mengeluh tentang pekerjaannya.

“Kuliah memang lebih enak.” Kata Chanyeol sambil cemberut.

“Ya kau benar Oppa. Kau ingat waktu kita bolos kuliah untuk pergi makan eskrim di kedai dekat restoran Makchang?” tanya Sulli dengan ekspresi excited.

“Yaya, tentu saja aku ingat!”

.

.

Senja sudah mulai tiba, dan Sulli harus segera pergi.

Oppa, aku harus kembali sekarang. Kalau tidak eomma akan mengkhawatirkan aku.” Pamit Sulli.

“Mau kuantar?” tawar Chanyeol.

“Tidak perlu, aku bisa pulang dengan taksi.”

“Aku temani sampai kau dapat taksi ya.”

Mereka bangkit berdiri dan keluar dari restoran cepat saji dengan lambang M berwarna kuning itu. Berdiri berdampingan di trotoar sambil merasakan sejuknya angin musim semi.

“Sulli-ya.”

“Hm?”

“Kau tau aku masih menyayangi mu.” Kata Chanyeol tiba-tiba, dengan senyum kalem.

“Eo?” Sulli mendongakkan wajahnya, terkejut dengan pernyataan Chanyeol yang tiba-tiba.

Hubungan mereka berdua kandas saat Chanyeol diterima di perusahaan musik terbesar di Seoul, dan Sulli yang mendapatkan banyak tawaran bermain film/drama. Awalnya mereka bisa berusaha sekuat tenaga untuk menjaga hubungan mereka. Tapi tetap saja akhirnya gagal.

“Maafkan aku Oppa.” Lanjut Sulli akhirnya.

Chanyeol tersenyum ringan mendengar jawaban Sulli.“Dasar bodoh.” Katanya.

“Apa kau tidak tahu? Yang kuinginkan waktu itu tidak banyak. Cukup dengan dirimu yang selalu disampingku, ditengah padat nya jadwal shootingmu. Caramu berbicara dan tersenyum. Senyummu itulah yang membuatku juga ikut tersenyum, bodoh!” Lanjut Chanyeol, ia mengatakannya dengan senyum lebar, seakan kalimat yang ia ucapkan tidak berarti apa-apa.

Sulli tersenyum pahit mendengarkan kata demi kata yang keluar dari mulut pria itu. “Benarkah? Aku tidak pernah tahu. Karena kau tersenyum seperti orang yang sedang kesal. Aku berfikir kau mungkin sudah lelah menunggu ku Oppa.” Sulli mengatakannya sambil menatap kedua manik coklat yang terbingkai kacamata itu.

“Sudah setahun Oppa, sudah sangat lama berlalu. Tapi aku juga tidak bisa melupaka suara tawamu yang garing itu.” Lanjut Sulli, kali ini dibarengi tawa kecil.

“Benarkah? Aku tidak pernah tahu. Kau selalu terlihat capek saat bertemu denganku, cemberut dan marah setiap aku tertawa.” Chanyeol melengos, kemudian melanjutkan “Kau tahu? Kadang-kadang aku masih sering mendengar suara tawamu di telingaku saat aku sedang terfokus membuat lagu.” Chanyeol tergelak.

Sulli memasang senyum terbaik yang bisa ia sunggingkan saat ini dan berkata “Jadi..aku akan bertanya lagi Oppa. Bagaimana kabarmu?”

Tidak mau kalah, Chanyeol juga memasang senyum lebar-lebar. Senyum lebar khas Park Chanyeol “Aku yang bertanya lebih dulu tadi Sulli-ya.”

“Aku…baik-baik saja.” Jawab Sulli.

“Berhenti berbohong Choi Sulli.”

“Bagiku aku baik-baik saja Oppa, karena sekarang aku tahu kau masih peduli padaku. Paling tidak, aku tahu kau masih mencari gossip tentangku di internet.” Sulli menjawabnya dengan gurauan, memberi kerlingan menggoda saat mengatakannya.

Senyum lebar penuh canda milik Chanyeol berubah menjadi senyuman hangat saat mendengar sahutan Sulli. “Dengarkan aku Choi Sulli, walaupun musim terus berganti, ketahuilah aku masih peduli padamu. Dan semua akan baik-baik saja.” Pesan Chanyeol, mengulurkan satu tangannya untuk menggengam tangan Sulli.

“Ya aku tahu Oppa, semua akan baik-baik saja.” Sulli tersenyum, menampilkan deretan giginya yang putih, Chanyeol sendiri juga ikut tersenyum lebar.

Kemudian satu taksi lewat di hadapan mereka, Chanyeol melepaskan genggamannya pada tangan Sulli dan mengarahkannya pada taksi itu.

“Hati-hati Sulli!” kata Chanyeol, membukakan pintu taksi untuk mantan kekasihnya itu.

“Ya, terimaksih Oppa.

Kemudian taksi itu melesat pergi.

***

Pertemuan dan nostalgia singkat bersama Sulli tadi menambah satu kenangan manis di cuaca cerah pada musim semi kali ini. Tapi satu yang masih membuat hati Chanyeol kesal bukan main.

Sekarang sudah pukul 4.30 dan gajinya belum masuk juga.

“Kim Joonmyeon!”

-FIN-

 

A/N: Ini apa. Ganyambung. Yaudahlah. Jadi ceritanya ini terinspirasi dari lagu When I Was…When You Were… yang dinyanyiin sama Chen&Krystal. Conversation Chanyeol dan Sulli itu sebenernya arti lagu itu. Tapi kayanya ganyambung sama gaji Chanyeol yang belum keluar. Gatau lah hehe._. Maaf kalau ada typo juga, udah di check berulang kali tapi mungkin aja masih ada yang lolos/?-_-v

Jangan lupa tinggalkan komentar ya! xoxo

 

4 thoughts on “[FF Freelance] Nostalgic

  1. huuuuuu~ manisnya, walaupun mereka kayanya gak nyambung lagi tapi aku suka cara mereka bernostalgia
    dan masalah gaji yg belum masuk itu membuat feel manisnya berubah ngakak haha
    keren. nice ff

  2. sequel sequel!!! kyaaaa, ceritanya ngefeel.. bahasanya mudah dimengerti.. bagus deh pokoke.. daebak..
    need sequel banget yaa authornim yg baikkk.. ^_^

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s