[FF Freelance] Stay The Night

PicsArt_1394085639400

①        Title: STAY THE NIGHT

②        Author: xbabywolfx

③        Rating FF: PG-15

④        Length: Ficlet

⑤        Genre: Drama, Hurt/Comfort, Angst

⑥        Main Cast: Kai EXO, Minzy 2NE1

⑦        Support Cast: –

⑧        Disclaimer: This fanfic is mine. Dibuat berdasarkan pengalaman sendiri. DON’T COPY MY OWN STORY!

 

 

 

“Kita putus.” kata Minzy saat dihari jadi hubungannya yang ke-2 tahun. Kai terkejut, pasalnya selama ini ia merasa ia tidak ada masalah dengan Minzy.

 

Namun, berbeda dengan Minzy. Ia sudah mencium gelagat yang aneh dari Kai sejak lama. Bahkan saat umur hubungan mereka masih seumur jagung.

 

“Kenapa?” cicit Kai sambil memegang tangan Minzy.

“Entahlah, aku lelah dengan semua kebohonganmu, Kai. Kau..kau berbeda beberapa bulan terakhir ini.” kata Minzy sambil memalingkan mukanya.

 

Kai terhenyak. Apa selama ini gelagatnya telah diketahui Minzy? Jujur, selama ini ia bosan dengan sifat Minzy yang tidak pernah berubah sejak pertama mereka bertemu.

 

Minzy yang pemarah, Minzy yang keras kepala, Minzy yang egois, dan banyak lagi sifat buruk Minzy yang ia tak bisa terima.

 

Padahal, Minzy mau menerima semua perlakuan buruk Kai saat ia marah. Minzy tak pernah meminta lebih. Ia hanya ingin ia diperhatikan oleh Kai. Bukan hanya Kai yang butuh perhatiannya, tapi Minzy juga butuh perhatian Kai.

 

Tapi, setiap Minzy mengadu pada Kai, ia hanya menanggapi sekedarnya. Minzy sedih, apa artinya ia dimata Kai?

 

“Aku tak pernah berbohong padamu, Minzy.. Ayolah, ini hari jadi kita yang ke-2 dan kau masih tidak percaya padaku?”

“Karena kau memang sering berbohong, Kai.”

“Demi Tuhan, tidak Minzy! Sudah berapa kali aku bilang padamu aku tidak pernah berbohong padamu?”

“Entah, namun gelagatmu itu berbeda. Sangat berbeda.”

“Tapi- ARgh! Kapan sih kau akan percaya padaku, Min?” teriak Kai frustasi sambil menarik rambutnya.

 

Minzy hanya menatap datar si calon mantan kekasihnya, Kai.

Sebagian hatinya berkata ia harus mempercayai Kai sekali-kali, namun sebagian besar hatinya menolak untuk kembali percaya pada Kai.

 

“Saat aku mulai percaya padamu, kau berbohong. Saat aku putuskan untuk tidak mempercayaimu lagi, kau bilang kau tidak berbohong. Apa maumu sih?” ucap Minzy dengan nada datarnya.

 

Kai hanya menatapnya tajam. Kemudian, ia meninggalkan Minzy sendiri ditengah taman favoritnya.

 

Minzy menangis dalam diam, sebenarnya, apa langkah yang ia ambil untuk melupakan Kai itu salah?

 

 

Kai meninju pintu kamarnya hingga retak. Jarinya berdarah dan ia tidak peduli. Ia masih menyayangi Minzy, sangat amat menyayanginya. Tapi Minzy tidak pernah mengerti dirinya yang ingin selalu diperhatikan.

 

“Am I still not good enough for you, Minzy?” ucapnya lirih sambil menahan tangisnya.

 

Ia mengambil sebuah benda dari laci miliknya, dan mulai menghisapnya. Ia menutup matanya dan mulai merasakan sensasi yang menggantikan rasa stress dikepalanya.

 

Entah sejak kapan ia menghisap batang ini, namun hanya ini yang mampu menggantikan rasa lelahnya.

 

Sedangkan dilain tempat, Minzy sedang menyayatkan gunting tajam kearah lengan tangannya. Dan dari situ pula lah, Minzy dapat melampiaskan amarah yang ia tahan sejak bersama Kai.

 

 

Minzy bangun dengan rasa perih ditangannya yang disayat tadi malam. Namun, rasa perih itu tak sama dengan perih dihatinya.

 

Satu pesan muncul di ponselnya, dari Kai. Namun, kali ini ia hanya mengirimkan pesan bernada ancaman, bukan ucapan selamat pagi yang biasa ia ucapkan untuk Minzy.

 

“JIKA KAU MASIH INGIN BERPACARAN DENGANKU, TOLONG, UBAH SIKAPMU YANG KEKANAKAN ITU.”

 

Minzy mengenyitkan dahinya. Siapa yang kekanakan? Dia? Apa ia tak salah baca? Selama ini ia sudah cukup bersikap dewasa untuk menghadapi sikap egois Kai dan ia dibilang ia yang kekanakan?

 

Ia langsung melempar hpnya ke kasur dan mencuci mukanya dikamar mandi. Ia terlihat kacau. Sangat kacau. Matanya bengkak, wajahnya terlihat kering dengan airmata. Jelas saja, ia menangis semalaman tadi.

 

Namun, ia bertekad untuk tidak merubah sikapnya agar Kai tak kembali padanya. Karena ia tak ingin kembali dibohongi.

 

 

 

Sesampainya disekolah, Minzy lihat seseorang sudah menduduki bangkunya.

 

Kai?

 

Untuk apa ia menduduki bangkunya? Sepagi ini?

 

“Ada apa?” tanya Minzy saat ia menghampiri bangkunya.

“Apa keputusanmu?”

“Tidak, aku tidak akan berubah. Aku tak ingin kembali dibohongi olehmu.”

“Terserah. Aku menyetujui keputusanmu.” ucap Kai meninggalkan Minzy.

 

Minzy hanya terdiam. Ia kembali meremas tangannya. Rasa sakit ditangannya kembali terasa. Sayatannya ada yang terlalu dalam, sehingga kembali mengeluarkan darah.

 

Di lain tempat, Kai kembali menghisap benda itu lagi. Minzy belum mengetahui kebiasaan buruknya yang satu ini.

 

 

 

 

“Kai?” panggil Minzy saat ia melihat Kai menghisap rokoknya diatap sekolah.

Kai terkejut, kelabakan menghilangkan jejak rokoknya.

 

Minzy hanya tersenyum, dan berkata, “Harusnya aku mengetahui hal ini sejak dulu, jadi aku tak harus merasakan sakit seperti ini.”

 

Lalu, ia meninggalkan Kai tanpa meminta penjelasan. Satu kebohongan Kai lagi-lagi terungkap.

 

 

 

Sesungguhnya, masalah diantara mereka hanyalah hilangnya rasa kepercayaan antara satu sama lain. Dan melampiaskan dengan cara yang salah.

 

 

 

E N D.

3 thoughts on “[FF Freelance] Stay The Night

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s