[FF Freelance] Behind The Library (Chapter 3)

req-trafalkid2

Author                 :        trafalkid

Length                  :        Multi Chapter

Genre                   :        Horor and Romance

Rating                   :        PG-15

Main Cast            :        Shim Hana (OC) and Park Chan Yeol

Other Cast          :        Jurina Matsui, Siwoo, Yu Barom, Byun Baek Hyun, and another ghost

Previous              :        Chapter 1, Chapter 2,

Disclaimer           :        FF ini uda aku posting di blogku, dan mungkin di beberapa blog juga dengan nama authorku ‘trafalkid’.

 

Hana side

Aku membanting keras pintu kamarku. Oh, haruskah ini terjadi lagi?

Aku melempar ranselku sembarangan. Kondisi kamarku memang kacau – lebih kacau dari kamar gadis manapun. Dan mungkin kondisi kamarku juga mempresentasikan kondisiku – kacau.

Aku melepas jasku. Kemudian aku melepas benda yang sedari tadi menutupi bibirku.

Kepalaku pening. Ya .. sebenarnya dari tadi pagi, tapi rasanya kepalaku makin tidak bersahabat ketika aku menginjakkan kakiku di rumah.

Suara bising di bawah sedikit menggangguku – ralat sangat mengganggu. Tidak bisakah aku beristirahat dengan tenang di rumahku sendiri?

Aku hendak mengistirahatkan tubuhku sejenak. Tapi aku lupa bahwa ini kamarku. Yang berarti walupun ini adalah kamarku tetap saja tidak ada zona nyaman disini.

Mataku beredar mengitari kamarku.

Nah. Ketemu.

Kakiku refleks berjalan mengikuti arah pandang mataku.

Aku memicingkan mataku. Ah, anak itu.. ia hobi sekali membuatku marah.

Aku memungut sebuah penggaris yang telah patah di bawah meja, lalu tanganku bergerak untuk mengenyahkan noda itu – sebuah permen karet berwarna pink di tembok kamarku.

Mungkin kalian akan jijik dengan hal itu, tapi tidak denganku. Aku sudah terbiasa dengan itu, bahkan yang lebih menjijikkan lagi. Pernah saat itu ketika aku hendak menggosok gigi aku mendapati bau aneh tercium dari sikat gigiku. Tentu aku segera membuangnya. Adikku yang nakal itu pasti telah mencelupkannya di toilet.

Dan.. pernah ketika keluargaku pergi ke mall adikku kembali berulah. Ia menambahkan bubuk cabe yang begitu banyak di takoyaki milikku. Well, aku memang penyuka pedas jadi itu bukan masalah. Permasalahannya adalah butiran pasir yang menempel di takoyakiku. Tak hanya itu, aku juga mencium bau rokok dari jajanku itu.

Itulah kelakuan adikku. Mesikpun wajahnya begitu menggemaskan tapi tingkah lakunya membuatku ingin segera mencekiknya.

Ah, iya. Aku segera meletakkan permen karet itu di kertas lalu membuangnya di trash bin di pojok kamarku.

Telingaku mengatakan bahwa ada beberapa perabotan yang pecah.

Samar-samar aku mendengar apa yang mereka bicarakan – ayah dan ibuku.

Harus kuakui.. aku tidak begitu suka dengan keberadaan ibuku itu. Ia selalu bersikap tidak fair padaku. Terlepas dari statusku yang bukan darah dagignya.. bisakah kau bayangkan 7 tahun kau hidup bersama dengannya dan ia tak kunjung bersikap manis padamu? Well, jika kalian merasa bahwa  hidupku seperti Cinderella yang menderita dengan ibu dan adik tiri yang .. tidak bisa bersikap manis padaku..  kalian benar.

Berbeda dengan adikku, ibuku bukan orang yang jahat sebenarnya. Hanya saja aku tidak merasakan kehangatan dalam nada bicaranya ketika ia berbincang-bincang denganku.

Adikku? Dia biasanya menyalahkan semua perbuatan ‘jahatnya’ padaku. Ia terus saja memfitnahku. Aku jelas bisa melihat seringainya tatkala ayah menghukumku karenanya.

Dan yang bisa kulakukan? Pasrah. Tentu saja. Pernah sekali aku membentak bocah SD itu. Hasilnya? Ayah menampar pipiku dan mengataiku dengan cukup parah. Anak itu pandai sekali mengarang cerita. Kurasa ia cocok berkecimpung di dunia sastra, oh dan jangan lupakan caranya menjilat ayah.

Sejak 1 tahun yang lalu hubungan ayah dan ibuku retak. Sebenarnya yang salah adalah ayahku. Dia adalah seorang psikopat – menurutku. Bagaimana bisa ia bersikap biasa saja ketika rekan kerjanya kedapatan tertidur 1 ruangan dengannya? Aku sebenarnya kasihan dengan ibuku, tapi ia tak pernah kasihan padaku. Posisiku di rumah ini adalah sebagai budak. Disuruh, tidak boleh melawan, tidak boleh bertindak gegabah pada ‘majikan kecilku’.

Aku mulai mual lagi. Aku segera berlari menuju kamar mandi di belakangku. Aku memuntahkan cairan pekat berwarna ungu itu. Rasanya benar-benar tidak enak.

Dari penjelasanku di atas kalian pasti sudah tahu betapa tidak menyenangkannya hidupku. Sejujurnya aku lelah dengan semua ini. Jadi jangan heran jika aku menerima dengan senang hati ‘kutukan’ itu.

Tepat ketika aku sedang mengelap bibirku ia datang.

“Sayang, apa kau tidak apa-apa?”.

Aku melihat dari sisi cermin. “Oh, hai mom. Aku tidak apa-apa”.

Ia terlihat sedih melihatku menderita seperti ini. “Apa kau tidak ingin memeriksakan kondisimu ke dokter?”.

Aku memutar  kran air di wastafel dan mencuci mukaku. “Aku tidak ingin ini menjadi konsumsi publik, mom. Jika seperti itu aku tidak akan mati dengan tenang”.

Aku melihat ekpresi yang menyedihkan dari ibu kandungku itu. “Kau tidak seharusnya melakukan hal itu”.

Tanganku bergerak meraih handuk yang di gantung. “Setidaknya nanti aku bisa menemanimu”.

Kini ia menundukkan kepalanya, aku tahu bagaimana perasaannya sekarang ini. Yah meski bagi sebagian orang akan susah melihat ekspresi sesungguhnya dari sesosok hantu.

Ah, aku belum menceritakan padamu? Ya.. orang dengan terusan berwarna biru ini adalah ibuku yang bergentayangan. Sesekali ia mampir ke rumahku. Tapi hanya aku yang bisa melihatnya, dan tentu saja berkomunikasi dengannya.

Kentara sekali bahwa ia mencoba bersikap biasa saja setelah ia mengintip ingatanku tentang kejadian semalan.

“Kau bisa menendangnya, tapi malah bernegosiasi dengannya”.

Bingung dengan pernyataan ibu tercintaku itu? Begini.. sedari kecil aku sudah terbiasa dengan keberadaan makhluk-makhluk astral seperti itu. Ya .. tidak sering sebenarnya, aku bukan orang yang mudah melihat ‘itu’. Aku biasanya bersikap cuek dengan keberadaan mereka. Tapi ketika mereka mencoba mengusikku aku tidak segan-segan meninju mereka. Terkadang aku bisa menyentuh mereka layaknya manusia. Sungguh. Aku tidak bohong. Tapi memang ada beberapa kasus ketika tinjuku menembus kepala mereka.

Oke, kita kembali pada sosok cantik di belakangku. Ibuku meninggal 2 tahun lalu. Kala itu ayahku begitu frustasi akibat kebodohannya menceraikan wanita cantik itu. Dan kecelakaan itu terjadi. Sebuah kebakaran besar di salah satu restoran di Busan. Ayahku menjadi depresi karenanya. Jelas-jelas ia mencintai ibuku, tapi ia malah menikahi ‘wanita yang tak pernah tersenyum’ itu. Ayahku terlalu gengsi untuk meminta rujuk pada ibu kandungku, jadi ketika ibuku sudah tidak ada ia memakan gengsinya itu.

Ibuku – meski telah bercerai dengan ayahku –  masih kerap kali menemaniku. Terkadang ayahku menasihatiku untuk tidak berlama-lama bersama ibu karena aku telah memiliki ibu baru. Dan ketika ia menjadi hantu ia juga menemaniku. Tidak sering memang karena ia .. sama seperti kodrat hantu pada umumnya.. selalu muncul tiba-tiba dan pergi tiba-tiba.

Mengingat beberapa peristiwa itu membuat emosiku berkecamuk. Kenangan-kenangan yang kurang indah dibanding dengan kenangan gadis remaja lain.

Tanpa teman, tanpa saudara, tanpa pacar, tanpa orang tua. Mungkin aku terkesan berlebihan.

Well, aku tidak punya teman yang begitu akrab denganku. Saudara? Aku adalah anak tunggal. Dan adikku hanya saudara tiriku yang sudah kalian tahu tingkah ‘lucu’nya seperti apa. Pacar? Oh tidak. Tidak ada yang mau mendekati pecundang sepertiku. Orang tua? Ibu kandungku sudah berpindah alam. Ayah kandungku seorang psikopat yang selalu membela bocah SD itu. Ibu tiri… dia tidak bersikap manis padaku.

Aku menoleh ke arah belakang. Tangisku pecah.

Ia memelukku. Mengelus-elus rambutku. Mencoba menenangkanku.

Tidak ada kata yang mengisi suasana memilukan ini. Baik aku maupun ibu lebih memilih diam.

Aku melampiaskan semua kesedihanku.

Aku bahkan tidak peduli ketika cairan berwarna ungu turun dari hidungku.

Aku melepas pelukanku. Kepalaku tertunduk. Aku menarik napas dalam-dalam, berharap semoga tidak menjadi cengeng lagi.

Aku menuju wastafel dan membersihkan bercak ungu di sekitar hidungku.

Ketika aku mendongakkan kepalaku aku tak melihatnya. Ia sudah pergi.

Hana side end

~~~

Chan Yeol berjalan santai menyusuri koridor sekolah. Earphone berwarna putih bertengger di kedua telinganya.

Sebelumnya ia beralasan pada guru di kelasnya bahwa ia ingin pergi ke kamar mandi.  Tapi bukan karena ia ingin buang air kecil. Alasan sesungguhnya ialah karena ia bosan berada dalam kelas.

Mendengarkan ocehan panjang lebar gurunya tentang manusia purba. Chan Yeol amat membenci pelajaran sejarah. Menurutnya hal seperti itu tidak ada gunanya. Toh ia bercita-cita menjadi atlet voli profesional, jadi cerita tentang tulang belulang itu tidak akan berguna.

Seorang gadis berjalan dari arah berlawanan dengan Chan Yeol.

Sekilas Chan Yeol memandanginya. Ia heran kenapa gadis itu menggunakan masker? Oh, mungkin dia flu, pikirnya.

Jarak antara mereka berdua semakin dekat. Chan Yeol melirik sekilas ke arahnya.

Dan ia benar-benar tertegun ketika menatap mata gadis itu.

Ia menghentikan langkahnya. Sepertinya ada sesuatu yang membuat Chan Yeol merasa aneh ketika melihat gadis itu.

“Sorot mata itu…”. Chan Yeol mencoba mengingat-ingat kapan ia pernah melihat tatapan tajam seperti itu. “Ah mungkin ia hanya ingin menggodaku makanya tadi ia menatapku seperti itu”.

Kaki Chan Yeol kembali bergerak maju. “Ada-ada saja cara para gadis untuk menarik perhatianku, haha”.

Ketika sampai di kamar mandi pria beberapa memori acak terputar di pikiran Chan Yeol. “Gadis itu…”.

“Ah, biarkan saja”.

~~~

Chan Yeol berhasil mencetak banyak skor untuk tim voli sekolahnya. Beberapa smash yang cukup tajam berhasil membuat tim lawan tak berkutik.

Chan Yeol dan teman-temannya melakukan selebrasi singkat untuk merayakan kemenangan mereka.

“Kukira kau akan segera dibawa dengan tandu”, goda Siwoo.

Chan Yeol meninju lengan Siwoo. “Bodoh, kau kira aku akan semudah itu mengaduh kesakitan. Huh”.

“Tapi kau baru saja sembuh”, imbuh Barom. “Tapi tak kusangka tenagamu tetap seperti biasanya, dan tadi itu smash yang menakjubkan, bung”.

Chan Yeol terkekeh mendengar pujian temannya itu. “Haha, kau juga hebat tadi”.

Barom tertawa kecil. “Wah wah, sebuah kehormatan mendapat pujian dari atlet olimpiade ini”.

Kali ini Chan Yeol meninju lengan Barom dengan sedikit keras. “Apa yang kau bicarakan? Atlet olimpiade? Mungkin beberapa tahun lagi, haha”.

“Oi, kau lupa memberi fanservice?”, tanya Siwoo.

Chan Yeol langsung melihat ke arah bangku penonton. Ia menunjukkan senyum lebarnya sembari memberikan bungkukan singkat.

Itu adalah hal yang sedari tadi ditunggu. Para gadis begitu terpesona oleh tindakan Chan Yeol itu.

Chan Yeol melambaikan tangannya. Dan itu memicu reaksi lebih dari para gadis.

“Kyaa! Yeolie!”.

“Dia begitu keren!”.

Chan Yeol bersalaman dengan tim lawan beserta wasit pertandingan. Kemudian ia melangkahkan kakinya mengikuti jejak temannya yang berjalan keluar dari lapangan voli itu.

Chan Yeol berbalik badan. Ia memberikan wink ke arah para gadis.

Sontak mereka menjadi lebih heboh dari sebelumnya.

Dan tanpa sengaja Chan Yeol melihat gadis bermasker itu..

Ia duduk di deretan paling belakang bangku penonton.

Ketika mengetahui bahwa Chan Yeol tengah memperhatikannya gadis itu mengambil tasnya dan melenggang pergi.

~~~

Chan Yeol melihat gadis bermasker itu lagi. Kali ini ia memakai hoodie hitam dan menutup kepalanya dengan tudung hoodie itu. Gadis itu berlari.

Chan Yeol memandangi kepergian gadis itu.

Ia merasa begitu penasaran dengan gadis itu.

Akhirnya ia memutuskan untuk mengejarnya.

Gadis itu berjalan menuju sebuah rumah.

Chan Yeol masih mengekor di belakangnya.

Entah kenapa Chan Yeol merasa tidak risih memasuki rumah itu tanpa memencet bel rumah itu lebih dulu.

Gadis itu memasuki sebuah tempat yang Chan Yeol tebak ialah sebuah gudang.

Ia menutup pintu itu.

Chan Yeol mempercepat langkahnya dan membuka pintu itu.

Namja itu terbatuk-batuk. Ruangan itu terasa begitu tua. Sarang laba-laba menghiasi sudut gudang itu. Beberapa perabotan kuno juga mengisi ruangan itu.

Chan Yeol mencoba mencari orang yang tadi ia ikuti.

Ia sedang bersandar pada tembok. Kakinya ia biarkan berselonjor lurus di atas sebuah kasur tua.

Chan Yeol mencoba mendekatinya.

Perlahan tapi pasti kini pria itu sudah berada di depan gadis itu. Ia mencoba duduk di kasur itu juga.

Rasa penasaran Chan Yeol makin menjadi-jadi. Gadis itu sedari tadi hanya diam. Bahkan ia tak mencoba mengusir pria yang lancang masuk ke rumahnya.

Chan Yeol sempat berpikir bahwa jika ia sudah bersikap lancang kenapa harus tanggung?

Ia meraih tudung hoodie itu, kemudian menurunkannya. Rambut gadis itu terlihat awut-awutan. Matanya juga terlihat sembab.

Sebenarnya Chan Yeol tidak tega dengan gadis itu.

Tapi ia memberanikan dirinya.

Ia melepas masker yeoja itu.

Chan Yeol mengingat benar siapa gadis itu.

Kemudian ingatan utuh itu menyebar ke sel-sel otak namja itu.

Sosok wanita berkimono yang secara mengejutkan di sampingnya tatkala ia sedang berkendara di jalanan.

Bahan kimia.

Sosok menyeramkan yang muncul ketika ia tengah sekarat.

Chan Yeol hendak membuka mulut dan menumpahkan segala ingatan itu lewat ucapannya.

“Pencuri!”.

Sesosok pria botak berlari menghampiri Chan Yeol. Ia membawa sapu ijuk dan berniat menghajar namja lancang itu.

Tapi..

Pria itu berubah.

Menjadi sosok wanita dengan kimono merah. Wajahnya …

Chan Yeol mematung.

Wajah wanita itu mirip dengan wajah wanita yang ada di sampingnya tepat beberapa saat sebelum kecelakaan naas itu menimpanya.

Wajahnya menjadi kian menyeramkan. Chan Yeol dapat melihat kuku-kuku yang panjang dan tajam dari lengan kimononya.

Wanita itu tertawa dengan begitu menyedihkan.

Bulu kuduk Chan Yeol berdiri. Ia begitu ketakutan. Keringat dingin membasahi t-shirt yang ia kenakan.

Dan secara mengejutkan kepala wanita itu terlepas dari tubuhnya. Berputar-putar tepat di depan muka Chan Yeol.

Mulut Chan Yeol terkunci rapat. Ia… ia ingin sekali berteriak sekencang mungkin. Tak peduli jika ia dipergoki sebagai seorang pencuri. Itu lebih baik daripada melihat pemandangan tidak lumrah ini.

Wanita itu berbicara dengan bahasa yang sepenuhnya tidak dimengerti oleh Chan Yeol.

Tubuh Chan Yeol bergerak mundur.

Ia menoleh ke arah gadis bermasker tadi.

Mukanya kini beribu kali lebih menyeramkan daripada sosok berkimono di depan Chan Yeol.

Ia dikepung oleh 2 wanita mengerikan.

Jantung Chan Yeol berdegup kencang dan makin tak karuan. Kini ia bisa bersuara. Hanya saja itu adalah suara napasnya yang menderu dengan tempo yang amat cepat.

Sosok berkimono itu tiba-tiba menyatu kembali dengan tubuhnya. Chan Yeol dapat melihat deretan gig tajam di balik tawa wanita itu.

Wanita itu mencoba menyentuh Chan Yeol dengan kuku runcingnya.

Mata Chan Yeol hampir tertutup.

“Hentikan!”.

Chan Yeol melihat gadis bermasker tadi menepis kasar tangan wanita berkimono itu.

Sempat terjadi cekcok dari kedua perempuan itu.

Wanita berkimono itu tampak begitu marah setelah perbincangan singkat mereka. Ia melirik ke arah Chan Yeol dan mencekiknya.

Ketakutan Chan Yeol tak terhindarkan lagi.

Kuku hantu itu menembus kulit di area lehernya. Kesakitan yang hebat menjalar ke sekujur tubuhnya

Darah segar berjatuhan di lantai.

Wanita bermasker tadi mulai menampakkan wujudnya yang semula. Seorang gadis muda yang dikenal Chan Yeol di perpustakaan.  Ia meninju dengan keras hantu di depannya.

Hantu itu menunjukkan senyum kejinya. Dan dengan kecepatan yang luar biasa hantu itu berhasil menancapkan kukunya tepat di dada gadis itu.

Gadis itu terjatuh begitu saja setelah serangan itu.

Hantu berkimono itu merobek kulit gadis itu dan mengeluarkan sesuatu..

Ia menggenggamnya, kemudian ia mengepalkannya dengan sangat erat. Dan serpihan-serpihan jantung milik gadis malang itu berceceran di lantai.

~~~

“Tidaaaaaaaaaaaak!”.

“Hah hah hah hah”.

Chan Yeol terbangun dari tidurnya. Mimpi itu terasa begitu nyata.

“Apa itu tadi?”, gumam Chan Yeol. Tubuhnya tak berhenti bergetar sejak tadi.

Ia menelan ludah, takut jika mimpi itu datang lagi.

Chan Yeol menengadahkan kepalanya, “Tuhan, apa aku berbuat salah?”.

~~~

Tepuk tangan yang begitu meriah.

Semua orang terlihat begitu senang.

Hana menghela napas panjang. Ia begitu nervous saat ini. Sesekali ia menoleh ke segala arah, memastikan bahwa ia bisa melakukannya dengan baik.

“Yak, Shim Hana. Silahkan maju ke depan”.

Hana bangkit dari kursinya. Ia mencoba menenangkan dirinya.

Ia sudah hampir sampai.. tapi.

“Ah, maaf sepertinya ada barangku yang ketinggalan”.

Hana mengambil barang yang ia maksud dan segera kembali ke tempatnya berdiri tadi.

Ia meraih microphone, mengeceknya apakah sudah berfungsi dengan baik atau belum.

Hana mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan.

….

~~~

“Hei, Baek”,panggil Chan Yeol.

“Hmm?”, jawab Baek Hyun. Ia masih sibuk memakan yoghurt strawberinya.

“Aku ingin ke kamar mandi. Temani aku”.

Baek Hyun menyendokkan sebuah sendok kecil pada cup yoghurtnya. “Pergi saja sendiri. Apa kau takut pergi ke kamar mandi sendirian? Tidak ada hantu di kamar mandi siang-siang begini”.

Chan Yeol tak menggubrisnya, ia menarik lengan Baek Hyun secara paksa.

“Yaaa! Baiklah. Tunggu. Jangan menarikku seperti itu. Kalau yoghurtku tumpah kau harus menggantinya dengan 10 cup”.

Chan Yeol menengok ke belakang. “Duh, makanya kau tidak pernah mendapatkan pacar. Kau perhitungan sekali”.

~~~

Sepanjang perjalanan kedua sahabat itu mata Chan Yeol terus saja melirik ke kanan dan kiri.

Baek Hyun mulai mencium gelagat aneh pria bertelinga ‘kurcaci’ itu. “Oh, jadi sekarang pahlawan sekolah kita mulai jelalatan”.

Chan Yeol berbalik melirik ke arah Chan Yeol.

“Eh?”, Baek Hyun terlihat takut mendapatkan tatapan mata mengerikan itu.

Chan Yeol kembali melanjutkan aktivitasnya. Tapi orang yang ingin ia temui tak kunjung muncul.

Chan Yeol menyerah. Mungkin ia sedang berada di kelas, atau ruangan lainnya, atau bisa juga kalau dia absen hari ini.

Seorang gadis dengan rambut dikuncir kuda berjalan menyalip mereka.

Baek Hyun sedikit terfokus pada gadis itu. “Hei, kau”.

Gadis itu mengacuhkannya.

“Hei, aku memanggilmu. Gadis dengan kuncir berwarna merah”.

Akhirnya gadis itu menoleh. “Ada apa?”.

Baek Hyun mendekati gadis itu. “Balik badan”.

Gadis itu menaikkan alisnya. Ia tidak ingin jika ada seorang namja yang bahkan tak ia kenal berbuat macam-macam dengannya.

Baek Hyun memegangi pundak gadis itu dan membaliknya tanpa persetujuannya.

Gadis itu nampak jengkel dengan perlakauan kurang ajar namja itu. Tapi ia tidak ingin segera mendampratnya.

Terdengar suara gemerisik dari balik tubuh gadis itu.

“Ini … kerjaan siapa?”, tanya Baek Hyun.

Gadis itu berbalik badan. Ia mendapati secarik kertas bertuliskan “I’m a nerd and weird girl”.

“Oh, kukira apa. Itu sudah biasa”. Kemudian gadis itu kembali melanjutkan langkahnya.

“Dimana harga dirimu? Kau tidak melawan bahkan meski dihina seperti ini?’, sindir Baek Hyun.

Gadis itu menghentikan langkahnya. “Aku memang seorang pecundang. Mereka tidak salah”.

Baek Hyun sepertinya ingin menghampiri gadis itu dan menasehatinya agar melawan pada orang yang menempel kertas itu dipunggung gadis itu.

Tapi  bel tanda istirahat berakhir.

Baek Hyun mendesah kesal. Sedangkan Chan Yeol tidak peduli  dengan hal itu.

Kedua namja tampan itu segera kembali ke kelas mereka.

“Chan Yeol, kau tidak mengenalku?”.

~~~

“Hai, apa kabar?”.

Jurina nampak kaget.

“Kau merindukanku? Haha”, goda Hana.

Jurina melayang mendekati gadis itu. “Untuk apa kau kesini?”.

Hana menarik sebuah kursi kayu yang penuh dengan debu. Ia membersihkannya. “Aku sedang mencari tempat yang nyaman untuk beristirahat”.

Jurina merasa ada yang ganjal. Tapi apa?

“Kau tidak mati?”.

Hana menduduki kursi kayu tadi. “Ya Tuhan, kau jahat sekali”.

Rambut hantu perempuan itu berkibar-kibar. “Kenapa kau tidak segera mati?”.

“Begitukah caramu menyambut tamu?”.

Jurina terlihat sedang berpikir. “Mungkin sebentar lagi…”.

“Oh, jadi kau senang jika aku cepat-cepat mati, huh?”.

“Maksudku… seharusnya kutukan itu…”.

Hana memandang dengan bosan hantu itu. “Kutukan itu mungkin memiliki efek yang berbeda setelah adanya pelimpahan itu”.

Jurina mengangguk kecil. “Mungkin saja”.

“Ah, iya.. apa keperluanmu hingga kau datang kemari?”.

Hana menyibakkan poninya. “Menemanimu kurasa..”.

“Kau tidak mati?”.

Hana menduduki kursi kayu tadi. “Ya Tuhan, kau jahat sekali”.

Rambut hantu perempuan itu berkibar-kibar. “Kenapa kau tidak segera mati?”.

“Begitukah caramu menyambut tamu?”.

Jurina terlihat sedang berpikir keras. Harusnya gadis di depannya itu sudah mati. “Mungkin sebentar lagi…”.

“Oh, jadi kau senang jika aku cepat-cepat mati, huh?”.

“Maksudku… seharusnya kutukan itu…”.

Hana memandang dengan bosan hantu itu. “Kutukan itu mungkin memiliki efek yang berbeda setelah adanya pelimpahan itu. Jadi aku tidak segera mati”.

Jurina mengangguk kecil. “Mungkin saja”.

“Ah, iya.. apa keperluanmu hingga kau datang kemari?”.

Hana menyibakkan poninya. “Menemanimu kurasa..”.

“Untuk a….”. Sebelum Jurina dapat menyelesaikan kalimatnya, suara jeritan yang mengerikan berhasil membuat si hantu dan Hana terdiam.

“Nah, sepertinya itu tamumu. Bersiap-siaplah”, ujar Jurina.

~~~

A/N : hai readers ^^ pertama-tama aku mau bilang terima kasih buat yang uda baca ff ini ^^ dan juga terima kasih banyak buat yang uda kasi komentar dan like ^^

Ah, iya. Disini aku nambahin anak-anak C-Clown jadi supporting castnya ^^ salah satu anak c-clown yang aku maksud disini adalah Rome (Yu Barom) sama Siwoo(Kim Taemin –ini nama aslinya doski loh)

8 thoughts on “[FF Freelance] Behind The Library (Chapter 3)

    • maaf ya dear baru sempet bales u.uv aku baru ngcek soalnya setelah sekian lama sibuk.
      iya nunggu diposting aja kok next chapnya ^^ atau kamu bisa cek di blog aku ^^
      makasi yaa ^^

    • maaf ya baru sempat bales u.uv
      haha, kayaknya cukup si jurin aja deh kalo buat ff ini ^^
      ada sih ntar ffku yg castnya salah satu dari 48fam juga ^^ dan jadi main cast ^^ tapi oneshot, hehe ._.

      • Oke deh thor! (y) 😀
        next chpaternya jngan lama2 yah thor, udah sebulan lebih nih sejak chapter 3 😀

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s